Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

Penentuan Potensi Antibiotika

Kelompok 10 (Selasa Pagi)


Farmasi Reguler 2012
Defira Metha Diandra (1206257746)
Michael Prajanto (1206257733)
Zahra Adiyati (1206257670)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
2013
POTENSI ANTIBIOTIK
Hari, tanggal praktikum : Selasa, 22 Oktober 2013

Waktu

: Pukul 09.00-11.50 WIB

Tempat

: Laboratorium Mikrobiologi lantai 3


Fakultas Farmasi Universitas Indonesia

I.

Dasar Teori
Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme
terutama fungi, yang dapat menghambat atau mematikan mikroba jenis lain.
Banyak antibiotika sekarang ini yang dibuat secara semisintetik atau sintetik.
Namun, dalam penggunaan kesehariannya banyak ditemukan antibiotika yang
tidak diturunkan dari produk mikroba juga digolongkan sebagai antibiotika,
contohnya sulfonamid dan kuinolon.
Antibiotika juga biasa disebut antimikroba, yaitu obat pembasmi
mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia. Obat yang digunakan
untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada manusia harus memiliki
sifat toksisitas selektif setinggi mungkin. Artinya obat tersebut haruslah
bersifat sangat toksik untuk mikroba tetapi relatif tidak toksik untuk hospes,
yaitu manusia. Namun, sifat toksisitas selektif yang absolut belum atau
mungkin juga tidak akan diperoleh.
Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang bersifat
menghambat

pertumbuhan

mikroba

yang

dikenal

sebagai

aktivitas

bakteriostatik dan ada juga yang bersifat membunuh mikroba yang dikenal
sebagai aktivitas bakterisid. Dalam percobaan ini antibiotik berupa
amoxicilin diuji potensinya apakah memenuhi standar dalam kegunaannya
untuk membunuh mikroba. Bila perhitungan potensi antibiotik berada pada
kisaran 90% -120% berarti antibiotik amoxicillin yang diujikan dapat
menghambat pertumbuhan kuman dengan baik.

II.

Tujuan
1. Mengetahui potensi antibiotika yang digunakan untuk membunuh
mikroba.
2. Mengetahui

cara-cara

perhitungan

dalam

penentuan

potensi

antibiotik.

III.

Alat
1. Pipet ukur 10 ml
1

2. Pipet ukur 5 ml
3. Pipet tetes
4. Pipet 10 l
5. Tabung reaksi ( 10 buah)
6. Lampu spiritus
7. Pematik api
8. Vortex
9. Ose
10. Filter bakteri
11. Labu takar 50 ml (2 buah)
12. Labu takar 25 ml (2 buah)
13. Inkubator
14. Suntikan
15. Rak tabung reaksi
16. Stiker label
17. Cawan Petri (7 buah)
18. Pinset
19. Spidol
20. Cakram kertas
21. Jangka sorong

IV.

Bahan
1. Kuman standar Staphylococcus aureus ATCC 25923
2. Bahan pembantu : - Buffer fosfat pH 8,0
- Larutan NaCl fisiologis (0,9%)
3. Medium padat : - Nutrient agar (base layer) = medium 2
- Medium antibiotik (seed layer) = medium 11
- Agar miring
4. Medium cair :

- Kaldu tioglikolat
- Kaldu B H I

5. Antibiotika standar.
6. Antibiotika uji (amoksisilin trihidrat).

V.

Cara Kerja
A. Teori Kerja
a) Pembuatan inokulum
1. Disediakan biakan kuman standar dalam agar miring pada 37 0C
selama 10-24 jam.
2. Disiapkan 4 buah tabung reaksi secara berderet dan diberi label
109, 108, 107, dan 106.
3. Diisi tabung dengan NaCl fisiologis, tabung 109 2 ml, tabung 108,
107, 106 masing-masing 9 ml.
4. Diisi tabung 109 dengan suspensi kuman menggunakan ose sesuai
dengan Mc Farland III, mengocoknya sampai homogen.
5. Diambil 1 ml dari tabung 109 dan dimasukkan kedalam tabung 108,
lalu dikocok (di vortex) sampai homogen.
6. Diambil 1 mL dari tabung 108 dan dimasukkan kedalam tabung
107, lalu dikocok (di vortex) sampai homogen.
7. Diambil 1 mL dari tabung 107 dan dimasukkan kedalam tabung
106, lalu dikocok ( di vortex) sampai homogen. Sehingga diperoleh
pengenceran 10x, 100x, 1000x (setara dengan 106 kuman per
mililiter).
b) Pembuatan larutan stok amoksisilin standar
1. Ditimbang 5,74 mg amoksisilin standar.
2. Dilarutkan dengan larutan buffer fosfat pH 8,0 hingga volumenya
50 ml.
3. Disediakan 1 labu ukur 50 ml dan 2 labu ukur 25 ml.
4. Diambil 4,5 ml larutan kemudian diencerkan dengan larutan
buffer

pH 8,0 sampai volumnya 50 ml, sehingga didapat

konsentrasi 9 g/ml (larutan S1)


5. Larutan disaring dengan filter bakteri.
6. Diambil 3 mL larutan kemudian diencerkan dengan larutan dapar
fosfat pH 8,0 sampai volumnya 25 mL, sehingga didapat
konsentrasi 12g/mL (larutan S2).

7. Larutan disaring dengan filter bakteri.


8. Diambil 4 mL larutan kemudian diencerkan dengan larutan dapar
fosfat pH 8,0 sampai volumnya 25 mL, sehingga didapat
konsentrasi 16 g/mL (larutan S3).
9. Larutan disaring dengan filter bakteri.
c) Pembuatan larutan stok amoksisilin uji
1. Ditimbang sampel (antibiotik dalam kapsul) 5,0 mg amoksisilin
yang akan diuji.
2. Dilarutkan dengan larutan dapar fosfat pH 8,0 hingga volumnya
50 mL
3. Diambil 4,5 mL larutan kemudian diencerkan dengan larutan
dapar fosfat pH 8,0 sampai volumnya 50 mL, sehingga didapat
konsentrasi 9 g/mL (larutan U1).
4. Larutan disaring dengan filter bakteri.
5. Diambil 3 mL larutan kemudian diencerkan dengan larutan dapar
fosfat pH 8,0 sampai volumnya 25 mL, sehingga didapat
konsentrasi 12g/mL (larutan U2).
6. Larutan disaring dengan filter bakteri.
7. Diambil 4 mL larutan kemudian diencerkan dengan larutan dapar
fosfat pH 8,0 sampai volumnya 25 mL, sehingga didapat
konsentrasi 16 g/mL (larutan U3).
8. Larutan disaring dengan filter bakteri
d) Pembuatan lapisan dasar (base layer).
1. Disiapkan 6 cawan petri steril.
2. Diisi setiap cawan dengan 10 ml lapisan dasar.
3. Diratakan lapisan agar menutupi seluruh permukaan atas cawan
petri dengan cara memutar-mutar cawan petri ke kanan dan ke kiri
dengan hati-hati di atas bidang rata.
4. Dibiarkan beberapa saat hingga membeku.
e) Pembuatan lapisan perbenihan (seed layer).
1. Disediakan 6 tabung reaksi steril.

2. Diisi masing-masing tabung dengan 4 ml lapisan pembenihan


(medium antibiotik) yang telah dicairkan.
3. Setelah suhu mencapai 45-600C dimasukkan 1ml suspensi kuman
yang setara dengan 106 kuman/ml.
4. Divortex larutan hingga homogen, setelah itu dituangkan pada
setiap cawan petri yang sudah berisi lapisan dasar.
5. Diratakan pada seluruh permukaan lapisan dasar, dengan
menggoyangkan cawan petri ke kanan dan ke kiri beberapa kali
dengan hati-hati.
6. Dibiarkan beberapa saat hingga membeku.
f) Meneteskan antibiotika standar (S) dan antibiotika uji (U) pada
cakram kertas.
1. Diambil 6 buah cakram kertas secara aseptis.
2. Disusun kedalam cawan petri.
3. Diteteskan larutan U1 pada keenam cakram kertas, masingmasing sebanyak 20 l menggunakan pipet mikro (ependor).
4. Dipindahkan cakram kertas ke dalam seed layer sesuai dengan
pola yang telah dibuat.
5. Diulangi langkah 1-3 untuk larutan U2, U3, S1, S2, dan S3.
6. Dibiarkan beberapa saat sampai cawan kertas melekat sempurna
pada seed layer.
7. Dimasukkan keenam cawan petri tersebut dalam inkubator untuk
diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 370C.

B. Skema Gambar
a) Pembuatan Inokulum

Pindahkan
biakan kuman
dengan ose

Setarakan
Biakan S.aureus

Kekeruhan

Larutan Mc
Farland III (109
kuman/ml)

2 ml
NaCl 0.9%

1 ml

1 ml

1 ml

9 ml lar
NaCl
0,9%

Larutan
Mc Farland III

1 ml

9 ml lar
NaCl
0,9%

9 ml lar
NaCl
0,9%

109 kuman/ml
Kuman uji
setara dengan
109 kuman/ml

setara dengan
106 kuman/ml

b) Pembuatan Antibiotik

Encerkan dengan buffer fosfat pH 8 hingga 50 ml

Timbang 5,74 mg amoksisilin standar atau setara dengan 5,0 mg amoksisilin uji
Konsentrasi 100 g/ml
Saring dengan filter bakteri

4,5 ml

50 ml
U1=S1

9 g/ml

3 ml

25 ml

U2=S2

12 g/ml

4 ml

25 ml

U3=S3

16 g/ml

Pembuatan Seed Layer


vortex

1ml
Seed Layer

4 ml Seed Layer
Base Layer

1ml

Base Layer

vortex
Seed Layer

4 ml Seed Layer

Base Layer

Base Layer

1ml
vortex

Base Layer
Inokulum 106
400-500

4 ml Seed Layer

1ml

Seed Layer
Base Layer

vortex
Seed Layer

Base Layer

Base Layer

4 ml Seed Layer
vortex

1ml
Base Layer

Seed Layer
Base Layer

4 ml Seed Layer

1ml

vortex
Seed Layer

Base Layer

Base Layer

4 ml Seed Layer

c) Penetesan Antibiotik pada Cakram Kertas


Pipet Mikro

Teteskan 20 l U1
pada setiap cakram

U1
U1

U1

Pindahkan Cakram Kertas

kertas
U1

U1

dengan pinset

U1

20l

Antibiotik
U1

Cawan yang berisi


Base Layer dan Seed
Layer

Ulangi langkah di atas pada antibiotik U2, U3, S1, S2, S3. Letakan U2, U3, S1, S2,
S3 seperti gambar di bawah ini :

U1
S2

U1
S3

S2

U2

U3

U2

U3
S1

U1
S3

S2

U2

U3

S1

VI.

S3

S1

U1

S2

3
U2

U3

S1

S2

S3

1
U3

U1

U1
S3

S2

U2

U3

S3

U2

S1

S1

Hasil Pengamatan

Cawan
1
2
3
4
5
6

S1
0,80
0,77
0,95
0,86
1,02
0,97
5,37

S2
1,00
0,99
1,05
0,97
1,09
1,18
6.28

S3
1,15
1,07
1,17
1,14
1,21
1,26
7,0

U1
0,64
0,6
0,68
0,61
0,65
0,76
3,94

U2
0,79
0,67
0,76
0,65
0,72
0,95
4,54

U3
0,95
0,89
0,99
0,79
0,96
0,99
5,57

S = 2,95+2,83+3,17+2,97+3,32+3,41 = 18,65
U = 2,38+2,16+2,43+2,05+2,33+2,7 = 14,05

10

Gambar 4. Cawan berisi larutan antibiotik uji (U) dan standar (s) yang siap
dihitung.

VII.

Hasil Perhitungan
Perhitungan :
Jumlah zona kadar rendah
Jumlah zona kadar tengah
Jumlah zona kadar tinggi
Jumlah sediaan

Standar (S)
S1 = 5,37
S2 = 6,28
S3 = 7,0
S = (S1+S2+S3)

Uji (U)
U1 = 3,94
U2 = 4,54
U3 = 5,57
U = (U1+U2+U3)

Kontras linier

= 18,65
Ls = S3 - S1

= 14,05
Lu = U3 - U1

= 1,63

= 1,63

i=logS1logS2=logS2logS3
= log 5,37 log 6,28 = log 6,28 log 7,0
= -0,06798

b=

= -0,04714

(diambil harga yang terbesar)

Ls+ Lu
( d1 ) inh
1,63 + 1,63
( 3 1 ) x ( - 0,04714 ) x 6 x 2

11

= - 2,881

Ys=

S
nd

= 18,65
18
= 1,036

= 14,05
18
= 0,781
Mu=

YuYs
b

= 0,781 1,036
- 2,881
= 0,0885
Rasio Potensi Ru = antilog Mu
= antilog 0,0885
= 1,226
Potensi Ru x 100 % = 1,226 x 100% = 122,6%
Keterangan :
B = slope regresi zona log kons. Semua sediaan
D = banyaknya ragam konsentrasi setiap sediaan = 3
H = banyaknya sediaan termasuk standar = 2
N = banyaknya penggandaan tiap perlakuan = 6
I = interval log konsentrasi berdampingan
Dari hasil perhitungan didapat bahwa potensi antibiotik adalah
122,6%.

VIII.

Pembahasan
12

Cakram kertas S1 berisi antibiotika standar yang memiliki


konsentrasi paling kecil diantara S2 dan S3, yaitu : 9g/ml. Dari data
tampak bahwa zona yang terbentuk oleh S1 rata-rata lebih kecil dari S2
dan S3. Begitu pula yang terjadi pada antibiotik uji U1 yang memiliki
konsentrasi paling kecil diantara U2 dan U3 menghasilkan zona yang lebih
kecil.
Setelah zona yang dihasilkan diukur diameternya, maka dapat
dicari persentase potensi antibiotik uji. Berdasarkan Farmakope 4,
amoksisilin dikategorikan baik jika memiliki potensi menghambat
pertumbuhan bakteri berada pada kisaran 90% - 120 %.Berdasarkan hasil
perhitungan potensi antibiotik pada percobaan ini adalah 122,6% Jadi,
antibiotik yang digunakan dalam percobaan ini dikategorikan baik dan
layak digunakan karena berada dalam kisaran yang tertera sesuai pada
Farmakope 4.

IX.

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa antibiotik yang
diuji memiliki potensi yang baik dalam menghambat pertumbuhan kuman
Staphylococcus aureus karena memiliki potensi 122,6%

X.

Daftar Pustaka

Radji, Dr. Maksum, M.Biomed. 2004. Penuntun Praktikum Mikrobiologi


Farmasi. Depok : Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia.

13