Anda di halaman 1dari 5

24

Fenomena dan Penjelasan Ilmiah Hujan Darah di India


Berikut sekilas penjelasan tentang Hujan Darah di India, Lebih 500.000 meter
kubik air hujan berwarna merah membasahi ke bumi. Pada awalnya para ilmuwan
hanya mengira air hujan berwarna merah itu dikarenakan polusi oleh pasir gurun,
tetapi para Ilmuwan menemukan sesuatu yang mengejutkan, unsur merah darah di
dalam air hujan tersebut adalah kumpulan berjuta sel hidup, sel yang bukan
berasal dari bumi tapinya!
Hujan Darah yang pertama jatuh di distrik Kottayam dan Idukki di wilayah
selatan India. Tidak hanya hujan berwarna merah, sebelumnya tepat 10 hari
pertama dilaporkan adanya turun hujan berwarna kuning, hijau lalu pernah hujan
berwarna hitam. Setelah 10 hari berulah intensitas curah hujan aneh tersebut
mereda hingga September.
Contoh air hujan darah tersebut langsung dibawa untuk diteliti oleh pemerintah
India dan ilmuwan setempat. Salah satu ilmuwan independen India yang
melakukan penelitian yang bernama Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari
Universitas Mahatma Gandhi. Mereka telah mengumpulkan lebih dari 120 laporan
dari para penduduk India setempat dan mengumpulkan contoh air hujan darah dari
wilayah sepanjang 100 km.
Berdasarkan klaim Godfrey Louis, hujan ini memiliki sampel yang jelas biologis.
Ia mengajukan penjelasan yang berbasis pada teori Panspermia, yaitu kehidupan
yang berasal dari komet atau mungkin asteroid. Asteroid pembawa agen biologis
tersebut mengalami kontak di atmosfer bumi dan kebetulan jatuh di atas Kerala.
Hal ini didukung oleh pengamatan adanya suara ledakan sebelum hujan tersebut
turun.
Hasil penelitian Godfrey mengungkapkan kalau zat padat berwarna merah
kecoklatan dari hujan merah ini terdiri dari 90 persen partikel merah bulat.
Partikel dalam suspensi air hujan ini menyebabkan warna merah tersebut.
Terdapat juga partikel putih dan kuning cerah, abu abu kebiruan dan hijau.
Partikel ini berdiameter antara 4 hingga 10 mikron dan berbentuk bola atau oval.
Citra mikroskop elektron mengungkapkan kalau partikel ini memiliki bagian
tengah yang cekung, mirip dengan sel darah merah. Pencitraan yang lebih detil
menunjukkan struktur dalam yang cukup rumit.
Jadi memang hujan ini biologis, tapi kehidupan luar bumi bukanlah satu-satunya
penjelasan. Departemen Sains dan Teknologi India pada bulan November 2001,
bekerja sama dengan Pusat Studi Sains Kebumian dan Lembaga Penelitian dan
Kebun Raya membuat penelitian gabungan dan kesimpulan mereka adalah:

Warna ini disebabkan adanya sejumlah besar spora ganggang pembentuk lumut
kerak milik genus Trentepohlia. Pemeriksaan menunjukkan kalau di daerah
kejadian memang banyak tumbuh lumut kerak demikian. Sampel lumut kerak
yang diambil dari Changanacherry, saat dibiakkan dalam medium ganggang, juga
menunjukkan keberadaan spesies ganggang yang sama. Kedua sampel (dari air
hujan dan dari pohon) menghasilkan jenis ganggang yang sama, dan ini
menunjukkan kalau spora yang terlihat dalam air hujan paling mungkin berasal
dari daerah lokal.
Masih ada penjelasan lain. Ilmuan K.K. Sasidharan Pillai, dari Departemen
Meteorologi India, mengajukan penjelasan kalau hujan tersebut membawa debu
dan materi asam dari letusan gunung berapi Mayon di Philipina. Teorinya di
dukung bukti adanya dedaunan yang terbakar setelah hujan turun.
api dukungan kemudian muncul pada pihak Godfrey. Patrick McCafferty
melakukan pendekatan lain yaitu pendekatan historik. Ia menjelajah catatan
sejarah mengenai adanya fenomena hujan berwarna dan turunnya meteor. Ia
menemukan kalau enam puluh (36 persen) kejadian terkait dengan aktivitas
meteor atau komet. Namun hubungan ini tidak selalu signifikan. Kadang hujan
merah turun setelah ledakan meteor di udara, kadang hujan turun hanya dalam
tahun yang sama dengan munculnya komet.
Masih belum mau kalah, Godfrey bersama ahli astrobiologi, Santhosh Kumar,
melakukan penelitian lanjutan tahun 2008. Kesimpulan dalam papernya
mengatakan : Sel merah yang ditemukan dalam hujan merah di Kerala, India
mungkin disebabkan bentuk kehidupan luar bumi. Sel ini mengalami replikasi
cepat bahkan pada suhu sangat tinggi yaitu 300 derajat Celsius. Mereka juga dapat
dibiakkan dalam beraneka substrat kimia yang tidak biasa. Walau begitu,
komposisi molekul dari sel-sel ini masih belum dapat ditentukan.
Kita masih menunggu penelitian lebih lanjut. Tapi fakta-fakta ilmiah yang ada
sekarang tampaknya lebih kuat pada teori spora lumut kerak. Bisa juga yang benar
adalah teori panspermia, letusan gunung berapi, teori debu gurun, atau yang
lainnya. Sebelum ada kepastian, sejauh ini kita bisa melihat indahnya perdebatan
teori dan fakta ilmiah dalam sains, dan betapa sedikitnya pengetahuan kita
sekarang mengenai alam semesta.
Sepanjang sejarah, hujan merah sering kali turun. Di Inggris, India dan Kolumbia.
Beberapa bertepatan dengan saat meteor besar turun atau komet melintas.

Fenomena Alam: Hujan Ular, HUjan Daging, Hujan


Ikan
Published on August 10, 2010 by admin No Comments
Seputarkita.com,-Kalau ada yang mengatakan hujan, yang terpikir dan terbayang
oleh banyak orang adalah hujan air, hujan es atau yang paling ekstrim hujan batu
yang mungkin terjadi karena ada gunung meletus dan lain sebagainya. Namun
pernahkah anda tahu, kalau di beberapa negara ada hujan katak, hujan ikan, hujan
ular?
Seperti diberitakan di erabaru, pada 1578, tikus kuning besar berjatuhan dari
langit di atas Bergen, Norwegia.
Pada Januari 1877, prestisius ilmuwan Amerika mencatat adanya hujan ular yang
ukurannya mencapai 20 inci di Memphis, Tennessee.
Pada Februari 1877, serpihan benda berwarna kuning berjatuhan di Penchloch,
Jerman. Benda tersebut dilaporkan memiliki ukuran tebal, beraroma dan melesat
seperti anak panah, bijih kopi serta bulatan cakram.
Pada Desember 1974, hujan telur rebus terjadi selama beberapa hari pada sebuah
sekolah dasar di Berkshire, Inggris.
Pada 1969, hujan darah dan daging terjadi di sebagian besar wilayah Brasil.
Pada 1989, boneka kayu dengan kepala terbakar atau terpotong jatuh dari langit di
atas kota Las Pilas, Cantabria.
Pada 2007, hujan anak katak terjadi di Alicante, Spanyol dan hujan laba-laba
turun di Cerro San Bernardo, Salta, Argentina. Seorang pembaca Epoch Times
telah mengambil foto dari peristiwa tersebut.
Pada 31 Juli 2008, hujan darah (laporan yang telah ditetapkan berdasarkan analisa
laboratorium) di kota Choco, Kolumbia.
Hujan Ikan di Australia
Sebuah laporan Northern Territory News telah memberikan bukti bahwa makanan
yang jatuh dari langit lebih dari sekedar legenda. Dilaporkan bahwa pada 25 dan
26 Februari, hujan ikan terjadi di Lajamanu, Australia, 200 mil dari pantai.
Ikan tersebut yang diyakini sebagai jenis ikan kecil putih bernama Spangled
Perch, yang umumnya terdapat di Australia bagian utara. Menurut Balmer, ikan
itu masih hidup ketika berjatuhan.

Beberapa penduduk dari Lajamanu, Maningrida dan Hermannsburg telah


mengungkapkan pengalaman mereka tentang hujan ikan tersebut kepada Northern
Trreitory News. Salah satu dari mereka mengatakan, ketika ia masih kanak-kanak,
sejumlah temannya pergi memancing di sebuah oval (lapangan sepak bola
Australia) saat terjadi hujan ikan.
Penduduk desa Yoro, Honduras, telah terbiasa mempersiapkan wadah seperti
ember dan baskom untuk menadah hujan ikan yang turun dari langit setiap tahun
antara bulan Mei dan Juli.
Meskipun tidak ada kasus lain sebagai siklus dan terjadi berulang-ulang seperti di
Yoro, hujan hewan air, amfibi dan lainnya yang lebih aneh telah terjadi di wilayah
lain.
Ilmuwan AS, Charles Fort (1874-1932) selama bertahun-tahun mempelajari
terjadinya hujan aneh. Ia mengumpulkan sekitar 60.000 kliping dari surat kabar,
majalah serta sumber lain tentang sejumlah kejadian luar biasa. Sepanjang
karirnya, Fort berhasil mencatat berbagai fenomena hujan seperti hujan koin, ular,
perangko China kuno, darah, katak, serangga, kapas, minyak dan zat cair.
Staf senior Biro Meteorologi Australia, Ashley Patterson seperti dikutip Northern
Territory News, mencoba menjelaskan terjadinya hujan ikan di Australia. Teorinya
tidak jauh berbeda dari sejumlah ilmuwan yang meyakini bahwa ikan
kemungkinan disedot ke awan oleh twister, waterspout atau tornado, yang dibawa
oleh awan, kemudian jatuh seperti hujan.
Kencangnya gulungan angin ke udara, [ikan dan air dapat ditarik] hingga 60.000
atau 70.000 kaki, ujar Petterson. Atau [hal itu] kemungkinan terjadi akibat
tornado pada perairannamun kami belum memiliki laporan,
Akan tetapi, sebagian besar kasus, teori ini nampaknya tidak menjelaskan
mengapa hanya hewan atau benda tertentu yang jatuh dari langit. Mengapa arus
angin mampu mengangkat benda seperti katak dari sebuah danau tanpa
menyertakan air, lumpur, ganggang maupun spesies lain dari ekosistem yang
sama?
Penjelasan tersebut menjadi kurang masuk akal ketika seperti dalam kasus hujan
ikan di Australia, di dekat area itu tidak ditemukan danau, laut maupun sungai dan
tidak pula terjadi badai maupun tornado yang tercatat pada saat atau selama
beberapa hari sebelumnya.
Sebagian juga mencoba menjelaskan sebagai hujan buatan manusia dari sebuah
pesawat tanpa sepengetahuan siapapun.
Dalam banyak kasus, orang-orang cenderung menghubungkan fenomena tersebut
akibat eksperimen makhluk asing atau dimensi persimpangan, di mana kejadian

itu tiba-tiba muncul maupun lenyap dari langit. Dalam beberapa kasus, fenomena
ini telah di sangakal.
Hingga kini, hujan material itu sudah tidak diragukan lagi, karena peristiwa ini
telah tercatat dalam sejumlah dokumen seperti Alkitab serta dalam tulisan-tulisan
Mesir kuno.
Apakah ini penyedot air yang selektif? Apakah merupakan fenomena cuaca yang
dapat dijelaskan secara sempurna? Apakah ini merupakan isyarat para Dewa?
Apapun masalahnya, pada masa mendatang bila langit nampak gelap sebaiknya
anda berhati-hati; mungkin saja hal tersebut bukan hujan air.Seputarkita.com, .... ....
....
....