Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH POLIFENOL BUAH TIN (Ficus carica) TERHADAP KADAR LDL (Low

Density Lipoprotein) TIKUS (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR YANG DIBERI DIET
ATEROGENIK
Retty Ratnawati*, Rita Rosita**, Harnanik Puji Riswati***
Abstrak
Peningkatan kadar LDL kolesterol merupakan salah satu faktor resiko penyakit jantung
dan dapat dicegah dengan mengkonsumsi bahan makanan mengandung antioksidan. Buah
tin mengandung antioksidan tinggi berupa polifenol yang memiliki mekanisme kerja oksidatif.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak polifenol buah tin (Ficus
carica) terhadap kadar LDL kolesterol tikus wistar yang diberi diet aterogenik. Study
eksperimental ini menggunakan Postest Only Control Group Design pada hewan coba tikus
Rattus Novergicus Strain Wistar selama 65 hari. Hewan coba dibagi menjadi 5 kelompok
yaitu kelompok diet normal, diet atherogenik, diet atherogenik + ekstrak polifenol
4,5mg/200gram/hari, diet atherogenik + ekstrak polifenol 9mg/200gram/hari dan diet
atherogenik + ekstrak polifenol 18 mg/200gram/hari . Untuk mengetahui perbedaan dari
masing-masing perlakuan digunakan uji statistik Kruskal Wallis, sedangkan untuk
mengetahui dimana letak perbedaan tersebut dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Hasil
penelitian menunjukkan kadar LDL kolesterol tikus pada pemberian diet normal (Kn) sebesar
12,86 mg/dl, pemberian diet aterogenik (Kp) sebesar 13,72 mg/dl, pemberian diet aterogenik
dengan ekstrak polifenol 4,5mg/200gram/hari (P1) sebesar 13,80 mg/dl, pemberian diet
aterogenik dengan ekstrak polifenol 9mg/200gram/hari 13,33 mg/dl dan pemberian diet
aterogenik dengan ekstrak polifenol 18 mg/200gram/hari (P3) 12,84 mg/dl. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa polifenol cenderung menurunkan kadar LDL dengan nilai p = 0,729
.

Kata Kunci : Polifenol Buah Tin, Diet Aterogenik, Kadar LDL


Abstract
The increasing of LDL cholesterol level is one of risk factor for cardiovascular
disease that could be prevented by food with contain antioxidant. Figs content high
antioxidant named polyphenol which have oxidative mechanism. The objective of this
research is to determine figs extract (Ficus carica) to decrease of LDL cholesterol on Wistar
Rats. The experimental study used Post test Only Control Group Design on Rats (Rattus
novergicus strain wistar) for 65 days. The experimental animal were divided into 5 groups :
Normal diet, Atherogenic diet, Atherogenic diet + figs extract 4,5mg/200gram/day,
Atherogenic diet + figs extract 9mg/200gram/day, Atherogenic diet + figs extract
18mg/200gram/day. Statistically difference from each other group used Kruskal Wallis and
Mann Whitney test. The result of this research showed that rats given normal diet have LDL
cholesterol level 12,86% mg/dl, rats given atherogenic diet 13,72% mg/dl, rats given
atherogenic diet + figs extract 4,5mg/200gram/day 13,80% mg/dl, rats given atherogenic diet
+ figs extract 9mg/200gram/day 13,33% mg/dl and rats given atherogenic diet + figs extract
18mg/200gram/day 12,84% mg/dl. It is concluded that polyphenol from figs fruit tend to
decrease the LDL cholesterol with p value = 0,729.

Keywords : Polyphenol Figs Extract, Atherogenic Diet, LDL Level


* Laboratorium Ilmu Faal FKUB
** Laboratorium Anatomi FKUB
*** Program Studi Pendidikan Dokter FKUB

PENDAHULUAN

(Ficus carica), diperlukan penelitian lebih


lanjut untuk mengetahui pengaruh spesifik
polifenol buah tin terhadap patogenesis
aterosklerosis. Oleh karena itu, penelitian
ini dirancang untuk mengetahui pengaruh
polifenol pada buah tin (Ficus carica)
terhadap kadar LDL tikus putih galur
wistar (Rattus norvegicus) dengan diet
aterogenik.
Manfaat dari penelitian ini untuk
meningkatkan ilmu pengetahuan dan
untuk memperkenalkan buah tin sebagai
obat herbal untuk mencegah dan
mengobati aterosklerosis, juga sebagai
variasi konsumsi buah di Indonesia.

Penyakit
kardiovaskular
merupakan penyebab utama kecacatan
dan kematian awal (premature death) di
seluruh dunia.1 Saat ini penyakit jantung
dan pembuluh darah menjadi pembunuh
nomor satu di Indonesia dan jumlah
penderitanya terus bertambah. Bahkan,
Badan
Kesehatan
Dunia
(WHO)
memperkirakan
bahwa
penyakit
kardiovaskular akan menjadi penyebab
terbesar kasus kematian di seluruh dunia
pada tahun 2020.2 Menurut WHO, patologi
utama penyakit kardiovaskuler adalah
aterosklerosis.
Aterosklerosis merupakan penyakit
yang banyak mendapat perhatian. Sekitar
39% kematian penduduk di UK dan 12
juta di US disebabkan oleh penyakitpenyakit yang ada hubungannya dengan
aterosklerosis. Berdasarkan penelitian
WHO diperoleh data bahwa 20% kasus
kematian di seluruh dunia diakibatkan oleh
penyakit yang didasari oleh aterosklerosis
seperti stroke, myocard infark (ischemic
heart disease). Dilaporkan bahwa lebih
dari separo kematian setiap tahun di
Amerika disebabkan oleh aterosklerosis,
dan lebih dari 500.000 orang meninggal
setiap tahun karena infark miokardial. Di
Indonesia dilaporkan angka kematian
yang disebabkan oleh penyakit-penyakit
kardiovaskuler semakin meningkat setiap
tahunnya.3
Pencegahan aterosklerosis dapat
dilakukan dengan menghambat oksidasi
LDL dan peningkatan HDL. Antioksidan
merupakan salah satu senyawa yang
dapat memperlambat dan mencegah
aktivitas radikal bebas dalam proses
oksidasi LDL.4 Antioksidan yang banyak
diteliti adalah antioksidan fenol. Banyak
bukti mengenai efek menguntungkan dari
antioksidan fenol (termasuk monofenol
dan polifenol) terhadap penyakit jantung
dan kanker. 5
Pada buah tin sendiri telah
diketahui bahwa kandungan fenolnya
dapat meningkatkan lipoprotein di plasma
dan memproteksi terhadap oksidasi.
Setelah mengkonsumsi buah tin yang
dikeringkan, kapasitas antioksidan pada
plasma meningkat secara signifikan.5
Melihat banyaknya manfaat buah tin

METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan
adalah eksperimental laboratorik karena
terdapat perlakuan dan kelompok kontrol
pada
hewan
coba
tikus
(Rattus
norvegicus) wistar serta menggunakan
randomisasi dengan menggunakan desain
penelitian Control Group Post Test
Design.6 Dalam penelitian ini yang diukur
adalah kadar LDL tikus wistar yang telah
diberi perlakuan selama 65 hari.
Kelompok tediri dari kelompok diet normal
(Kn), kelompok diet aterogenik (Kp),
kelompok diet aterogenik + polifenol 4,5
mg/200gram/hari,
kelompok
diet
aterogenik + polifenol 9 mg/200gram/hari,
dan kelompok diet aterogenik + polifenol
18 mg/200gram/hari. Kemudian dianalisis
untuk mencari ada tidaknya efek
penurunan kadar LDL oleh ekstrak
polifenol buah tin. Penelitian dilakukan di
laboratorium
Farmakologi
FKUB,
pengukuran kadar LDL dilakukan di
laboratorium Kawi Malang. Polifenol buah
tin yang didapat dari ekstraksi buah tin
kering, yang dilakukan Laboratorium Kimia
Organik
FMIPA
Institus
Teknologi
Bandung. Polifenol yang digunakan
adalah senyawa murni flavonoid hasil
ekstraksi dari buah tin kering yang didapat
dari Libya. Buah tin kering disonikasi
dengan pelarut methanol, kemudian di
ekstraksi dengan n-heksana, etil asetat,
dan n-butanol, sehingga didapatkan
ekstrak butanol yang larut dalam air.
Ekstrak butanol memiliki aktivitas sebagai
antioksidan dengan nilai IC50 = 827 ppm.7
Dosis yang digunakan mengacu pada

rekomendasi konsumsi harian polifenol


yaitu
500mg/hari,8
yang
kemudian
dikonversi ke dosis tikus menggunakan
tabel perbandingan luas permukaan
hewan coba. Analisis menggunakan
SPSS, yaitu dengan menggunakan Uji
Kruskal Wallis untuk melihat perbedaan
kadar LDL (Low Density Lipoprotein) pada
tiap
taraf
perlakuan.
Sebelumnya
dilakukan uji normalitas Shapiro-Wilk
untuk mengetahui sebaran data. Dan
dilakukan uji Lavene untuk mengetahui
homogenitas varian. Untuk mengetahui
adanya
perbedaan,
maka
dapat
dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney
untuk
mengetahui
dimana
letak
perbedaan dari 5 perlakuan yang
diberikan. Uji statistik dilakukan pada
derajat kepercayaan 95% dengan =
0,05. Hasil uji statistik dinyatakan
bermakna bila p < 0,05.9

Gambar 1. Kadar rata-rata kadar LDL

HASIL PENELITIAN
Setelah
dilakukan
perlakuan selama 65 hari pada tiap
kelompok, tikus dibedah, diambil
darah dari aorta dan diukur kadar LDL
dengan
menggunakan
alat
spektrofotometer. Hasil pengukuran
kadar LDL sebagai berikut :

Proses
analisis
data
dan
pengolahan data dilakukan dengan
menggunakan program SPSS 16 for
windows. Analisis data kadar LDL tikus
wistar menggunakan uji komparatif One
way Anova atau Kruskal Wallis, karena
pada penelitian ini skala pengukuran
variabel yang digunakan adalah numerik
dengan lebih dari 2 kelompok tidak
berpasangan. Pada uji normalitas Shapiro
Wilk didapatkan hasil. Terdapat beberapa
kelompok menunjukkan hasil dengan p <
0,05 pada kelompok kontrol negatif dan
perlakuan dosis 4,5 mg/200gram/hari
yang artinya sebaran datanya tidak
normal.
Hasil uji homogenitas varian data
yang
diperoleh
dari
uji
Lavene
menunjukkan nilai p=0,093 (p>0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa
varians data adalah sama.
Karena sebaran data tidak normal
maka digunakan uji Kruskal Wallis yang
menghasilkan nilai p=0,720 (p>0,05) yang
berarti tidak terdapat perbedaan signifikan
antarkelompok. Selanjutnya dilanjutkan uji
Mann-Whitney
untuk
mengetahui
kelompok mana yang berbeda dan
hasilnya sebagai berikut :

Tabel 1. Hasil Pengukuran Kadar LDL


Kelompok
LDL
(mg/dl)SD
Kn
12,86 4,30
Kp
13.72 6,32
P1
13,80 5,56
P2
13,33 2,48
P3
12,84 0,88

Nila
ip
Kn
Kp
P1
P2
P3

Tabel 2. Hasil uji Mann-Whitney


Kn
Kp
P1
P2
0,754
0,530
0,327
0,249

0,754
0,530
0,462
0,600

0,530
0,530
0,462
0,293

0,327
0,462
0,462
0,806

Kadar LDL pada kelompok tikus


aterogenik
(Kp)
ini
meningkat
dibandingkan dengan kelompok kontrol
negatif (Kn). Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh karena pada kelompok
diet aterogenik (Kp) diberikan diet yang
mengandung kadar tinggi lemak sehingga
kadar kolesterol meningkat. Akan tetapi
peningkatan
ini tidak signifikan,
kemungkinan disebabkan karena LDL
sebagian besar telah dioksidasi. Pada
sebuah penelitian disebutkan bahwa
pada kelompok orang dengan penyakit
kardiovaskular terjadi perubahan yang
lebih cepat pembentukan kadar LDL
oksidasi yang diakibatkan oleh ROS.
Sehingga kadar LDL native dalam
sirkulasi relatif menurun. 13 Pada
kelompok Kp ini, masing-masing individu
tikus juga relatif lebih banyak mengalami
aktivitas pergerakan fisik. Aktivitas fisik
dilihat dari tikus lebih sering bergerak
sepanjang hari dibanding kelompok lain.
Peningkatan aktivitas gerak fisik yang
berlebihan juga meningkatkan sumber
radikal bebas dalam tubuh sehingga
meningkatkan LDL yang dioksidasi.
Peningkatan kadar LDL oksidasi
ini juga dibuktikan dengan adanya
pembentukan foam cell (sel busa) pada
penelitian
ini.14
LDL
teroksidasi
meningkatkan produksi faktor kemotaktik
seperti protein-1 kemotaktik monosit
(MCP-1) oleh sel endotelial dan
meningkatkan
endotelial
untuk
mengeluarkan
molekul
adhesi
sel
intraseluler (ICAM-1) dan molekul adhesi
sel vaskuler (VCAM-1) yang memfasilitasi
rekrutmen monosit. Oksidasi mengubah
LDL menjadi bentuk yang cepat
didegradasi oleh makrofag. Akumulasi
LDL dalam makrofag akan mengubah
makrofag menjadi cell foam (sel busa)
tersebut.15 Kadar LDL pada tikus dengan
pemberian diet aterogenik + ekstrak
polifenol buah tin (Ficus carica)
4,5mg/200gram/hari (P1) lebih tinggi
dibandingkan tikus dengan pemberian
diet tinggi lemak (Kp), akan tetapi
peningkatan tersebut tidak signifikan. Hal
ini kemungkinan disebabkan
karena
dosis yang diberikan pada P1 belum
adekuat untuk menurunkan kadar LDL.
Pada kelompok P1 ini menggunakan
dosis kebutuhan harian yaitu sebesar 4,5

P3
0,249
0,600
0,293
0,806
-

Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney


didapatkan semua hasil p>0,05 sehingga
dapat disimpulkan bahwa tidak ada
perbedaan signifikan antar dua kelompok
perlakuan.
PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui pengaruh pemberian ekstrak
polifenol buah tin (Ficus carica) terhadap
kadar LDL pada tikus strain Wistar yang
diberi diet aterogenik. Pemberian diet
aterogenik selama 65 hari bertujuan
untuk mengkondisikan tikus dalam kondisi
hiperkolesterolemia.
Dalam
sebuah
penelitian selama minimal 8 minggu
pemberian
diet
aterogenik
dapat
menyebabkan
peningkatan
kadar
kolesterol darah tikus secara bermakna.
10

Dalam penelitian ini, kadar LDL


pada tikus dengan pemberian diet
aterogenik (Kp) lebih tinggi dibandingkan
dengan diet normal (Kn). Tikus pada Kp
terjadi peningkatan jumlah kolesterol
akibat komposisi dari makanannya. Hal ini
terjadi karena kolesterol dalam tubuh
dipengaruhi oleh kadar kolesterol dari
eksogen.
Peningkatan
kadar
LDL
kolesterol dipengaruhi oleh asupan lemak
dari luar (eksogen) yang berasal dari
makanan yang terangkut kedalam
jaringan bersama atau oleh kilomikron.11
Pada diet aterogenik ini mengandung
banyak asam lemak jenuh yang
menyebabkan terbentuknya partikel VLDL
berukuran lebih kecil yang mengandung
kolesterol relatif lebih banyak serta
digunakan oleh jaringan ekstrahepatik
secara lebih lambat daripada partikel
yang lebih besar. Hal ini cenderung dapat
bersifat aterogenik.12

mg/200gram/hari, sehingga efek polifenol


belum adekuat jika dibandingkan dengan
kebutuhan
harian
tikus
sebesar
9mg/200gram/hari.
Pada kelompok dengan diet
aterogenik dan dosis 4,5mg/200gram/hari
(P1) mengalami peningkatan kadar LDL
dibandingkan
dengan
kelompok
aterogenik (Kp) dapat disebabkan karena
efek
lain.
Hal
ini
kemungkinan
disebabkan karena dosis yang diberikan
pada P1 mempunyai efek yang lebih kecil
dibandingkan dengan faktor lain yang
mempengaruhi kadar LDL. Kadar LDL
kolesterol dipengaruhi juga oleh hasil
metabolisme kolesterol dari dalam
(endogen) yang disintesa sendiri oleh
jaringan tubuh, khususnya oleh hepar
yang diedarkan keseluruh tubuh melalui
VLDL kolesterol.11 Sintesis triasilgliserol
hati merupakan stimulus langsung untuk
pembentukan dan sekresi VLDL. Asamasam lemak yang digunakan mungkin
berasal dari dua sumber, yaitu sintesis
didalam hati dari asetil-KoA yang
terutama berasal dari karbohidrat dan
penyerapan asam lemak bebas di
sirkulasi.
Faktor-faktor
yang
meningkatkan
sintesis
triasilgliserol
maupun sekresi VLDL oleh hati
mencakup keadaan kenyang (bukan
lapar),
mengkonsumsi
diet
kaya
karbohidrat ( terutama jika mengandung
sukrosa
atau
fruktosa)
sehingga
lipogenesis dan esterifikasi asam lemak
meningkat, tingginya kadar asam lemak
lemak bebas dalam darah, menkonsumsi
etanol, adanya insulin dengan kadar
tinggi dan glukagon dengan kadar rendah
yang
meningkatkan
sintesis
dan
esterifikasi
asam
lemak
serta
menghambat oksidasinya.12
Kadar LDL pada tikus dengan
pemberian diet aterogenik + polifenol
buah
tin
(Ficus
carica)
4,
5mg/200gram/hari (P1) secara frekuensi
paling tinggi dibandingkan tikus dengan
pemberian diet aterogenik + ekstrak
polifenol buah tin (Ficus carica)
9mg/200gram/hari (P2) dan tikus dengan
pemberian
diet
aterogenik
+
18mg/200gram/hari
(P3).
Hal
ini
dikarenakan pemberian dosis polifenol
pada P1 paling sedikit dibandingkan
dengan P2 dan P3. Berdasarkan

penelitian efek polifenol Cocoa powder


tergantung dengan pada dosis dan waktu
paparan. Semakin tinggi dosis polifenol
Cocoa powder yang diberikan, semakin
menurun kadar LDL yang ada.16
Pada kelompok tikus dengan
pemberian aterogenik dan dosis polifenol
9mg/200gram/hari
terjadi
penurunan
kadar LDL dibanding dengan kelompok
dengan
dosis
4,5mg/200gram/hari.
Meskipun penurunan ini tidak signifikan
(p=0,462),
akan tetapi kemungkinan
penurunan ini disebabkan karena efek
dari polifenol buah tin (Ficuc carica). Buah
tin memiliki kandungan polifenol yang
dapat bersifat sebagai antioksidan.
Kemampuan antioksidan menurunkan
kadar LDL ini diduga terjadi karena
mekanisme
menghambat
absorpsi
kolesterol
dalam
pencernaan
dan
meningkatkan ekskresi keluar tubuh
melalui feses. Pada biosintesis kolesterol
endogen, polifenol berperan dalam
menurunkan aktivitas/ekspresi enzim
HMG KoA sintase, HMG-KoA reduktase,
dan asyl-CoA:cholesterol acyltransferase
(ACAT). Selain itu, polifenol juga mampu
mensupresi sekresi apolipoprotein B-100
dan meningkatkan ekspresi reseptor LDL
pada hepar.16
Pada kelompok P2 ini dilakukan
pengurangan jumlah tikus yang dilakukan
dalam uji statistik. Jumlah tikus yang ada
pada awal penelitian berjumlah 5 ekor.
Tetapi, pada waktu penelitian terdapat
satu ekor tikus yang mengalami sakit
berat dan tidak mau mengkonsumsi
makanan. Hal ini sesuai dengan kriteria
eksklusi, sehingga pada penghitungan
statistik pada kelompok P2 berjumlah 4
ekor tikus. Pada tikus yang mengalami
sakit berat dan tidak mau makan, intake
makanan menjadi sangat berkurang dan
akan berpengaruh pada perlakuan
pemberian diet aterogenik.
Pada
kelompok
dengan
pemberian diet atherogenik dan dosis
polifenol 18 mg/200gram/hari (P3) terjadi
penurunan kadar LDL dibanding dengan
kelompok diet aterogenik dan dosis
polifenol 4,5mg/200gram/hari (P1) serta
kelompok aterogenik dan dosis polifenol
9mg/200gram/hari (P2). Pada kelompok
P3 ini merupakan kelompok dengan
kadar LDL terendah dikarenakan pada

DAFTAR PUSTAKA

kelompok ini diberikan perlakuan dengan


dosis polifenol tertinggi. Efek antioksidan
terhadap kadar LDL menjadi semakin
meningkat sehingga kadar LDL menjadi
semakin menurun. Dosis polifenol
menentukan kapasitas total antioksidan.
Kapasitas antioksidan ditentukan oleh
kereaktivan antioksidan terhadap radikal
peroksil dan konsentrasi atau dosis dari
antiosidan.
Penurunan kadar LDL pada
kelompok aterogenik dan dosis polifenol
9mg/200gram/hari (P2) serta pada
kelompok aterogenik dan dosis polifenol
18mg/200gram/hari (P3) tidak signifikan.
Kemungkinan ini disebabkan pada dosis
tersebut efek dari antioksidan yang ada
pada ekstrak polifenol buah tin (Ficus
carica) belum cukup mampu untuk
menyeimbangkan efek prooksidan yang
disebabkan oleh diet aterogenik.
Hasil yang tidak signifikan ini
kemungkinan disebabkan karena ekstrak
polifenol yang dipakai menggunakan
buah tin kering. Buah tin yang kering
kemungkinan
memiliki
kandungan
polifenol yang lebih sedikit dibanding
polifenol dari buah tin segar. Berdasarkan
penelitian ini ekstrak polifenol buah tin
(Ficus carica) dengan dosis yang
disebutkan
diatas
belum
mampu
menurunkan kadar LDL secara signifikan.

1.

2.

3.

4.
5.

6.

7.

8.

KESIMPULAN
1.

Pemberian diet tinggi lemak pada


tikus wistar selama 65 hari tidak dapat
meningkatkan kadar LDL secara
signifikan.
2. Pemberian polifenol buah tin (Ficus
carica) kering berbagai dosis selama
65 hari pada tikus jantan yang diberi
diet
aterogenik
cenderung
menurunkan kadar LDL dengan nilai p
= 0,729 .

9.

WHO.
2007.
Prevention
of
cardiovascular disease : guideline for
assessment and management of
cardiovascular risk
Yulianto,
A.
2007.
http://agungy.blogspot.com/2007/08/
mencegah-timbulnya-penyakitjantung-dan-stroke.html. Diakses 29
September 2010
Atinia,
S.M.
2010.
http://koranpdhi.com/buletinedisi8/edisi8-chlamydia.htm . Diakses
6 Januari 2011
H.J.Heinz. 2005. Lycopene Content.
www.Lycopene.org
Vinson, Joe A., Zubik., Ligia., Bose.,
Pratima., Samman., Najwa., Proch.,
John. Dried Fruits : Excellent in Vitro
and in Vivo Antioxidant. Journal of
The American College of Nutrition,
Vol. 24, No.1, 44 50 (2005)
Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta. PT
Rineka Cipta. Hal 165
Dewi LP, Ciptati. 2011. Isolasi
Senyawa Antioksidan dari Buah Tin
(Ficus carica Linn.).

Williamson, G, Holst, B. Dietary


reference intake (DRI) value for
dietary polyphenols: are we
heading in the right direction?
British Journal of Nutrition (2008),
99, Suppl. 3, S55S58.

Sopiyudin, 2001. Statistik Untuk


Kedokteran
dan
Kesehatan.
Bandung: Salemba medika.
10. Murwani, S., Mulyohadi A., Ketut M.,
Diet Aterogenik pada Tikus Putih
(Ratus novergicus strain Wistar)
Sebagai
Model
Hewan
Aterosklerosis. Jurnal Kedokteran
Brawijaya, Vol XXII, No 1, April 2005
11. Supardan,
1999.
Metabolisme
Lemak.
Laboratorium
Biokimia
Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya. Malang. hal 10-12.
12. Murray, Robert K., Granner, Daryl K.,
Rodwell, Victor W. 2006. Harper
sIllustrated Biochemistry 27th edition.
McGraw-Hill Companies

Saran
Perlu dilakukan penelitian mengenai
dosis polifenol buah tin (Ficus carica)
segar yang cukup untuk memberikan efek
terhadap kadar LDL tikus wistar.

13. Colpo,
Anthony.
2005.
LDL
Cholesterol : Bad Cholesterol, or
Bad Science
14. Purborisanti, D. 2011. Pengaruh
Polifenol Buah Tin (Ficus carica)
Terhadap Cell Foam Tikus Wistar
yang
Diberi
Diet
Atherogenik.
Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya : Malang
15. Safitri, R. 2004. Sayuran dan Buahbuahan Pencegah Penyakit Jantung.
www.pikiranrakyat.com/Info
Penelitian
Cakrawala
Suplemen
Pikiran Rakyat.htm.

16. Seigo, B., Natsume,M., Yasuda, A.,


Nakamura, Y., Tamura, T., Osakabe,
N., Kanegae, M., Kondo, K. Plasma
LDL and HDL Cholesterol and
Oxidized LDL Concentration Are
Altered
in
Normoand
Hypercholesterolemic Humans after
Intake of Different Levels of Cocoa
Powder (2007) 137:1436-1441

Menyetujui,
Pembimbing I

Dr. dr. Retty Ratnawati, M.Sc


NIP. 19550201 198503 2 001