Anda di halaman 1dari 14

Johanes Putra

2013-061-106

BAB I
Pendahuluan
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara
morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen Kesehatan
dari tahun 2000 s/d
2010 terlihatseperti
kecenderungan
insidens
naik. Pada
tahun 2000
IR penyakit Diare
301/masih
1000 penduduk, tahun
berkembang
di Indonesia,
karena
morbiditas
dan mortalitas-nya
yang
2003 naik menjadi 374 /1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000
penduduk. Kejadian
Luar Survei
Biasa (KLB)
diare juga
seringoleh
terjadi,
dengan
CFR
yang masihKesehatan
tinggi. Pada
tinggi.
morbiditas
yangmasih
dilakukan
Subdit
Diare,
Departemen
daritahun 2008 terjadi
KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB di 24
tahun
2000
s/d 5.756
2010 terlihat
kecenderungan
naik.
Pada
tahun 2000
IR penyakit
Kecamatan dengan
jumlah
kasus
orang, dengan
kematianinsidens
100 orang
(CFR
1,74%),
sedangkan
tahun 2010 terjadi KLB
diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang (CFR 1,74 %.)

Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374 /1000 penduduk, tahun 2006

Salah satu langkah dalam pencapaian target MDGs (Goal ke-4) adalah menurunkan kematian anak
naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk. 1 menjadi 2/3 bagian dari
tahun 1990 sampai pada 2015. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Studi Mortalitas dan Riset Kesehatan
Dasar dari tahun ke tahun diketahui bahwa diare masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia. Penyebab
utama kematian akibat diare
adalah
tataklinis
laksana
yang
tidak
tepat baik
rumah maupun
sarana kesehatan. Untuk
Prevalensi
diare
adalah
9,0%
(rentang:
4,2%di- 18,9%),
tertinggi di
di Provinsi
menurunkan kematian karena diare perlu tata laksana yang cepat dan tepat.

NAD (18,9%) dan terendah di DI Yogyakarta (4,2%). Beberapa provinsi mempunyai

A. Gambaran BerdasarkanSurvei dan Penelitian

prevalensi diare klinis >9% (NAD, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah,

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)


Banten,
Nusa Tenggara
Barat,
Nusa
Tengara Timur,
Selatan,didiagnosis
Sulawesi diare oleh tenaga
Prevalensi diare dalam
Riskesdas
2007 diukur
dengan
menanyakan
apakahKalimantan
responden pernah
kesehatan dalam satu bulan terakhir. Responden yang menyatakan tidak pernah, ditanya apakah dalam satu bulan tersebut
Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Papua Barat dan Papua) yang dapat dilihat pada
pernah menderita buang air besar >3 kali sehari dengan kotoran lembek/cair. Responden yang menderita diare ditanya apakah
minum oralit atau cairan
garam.ini. Sedangkan DKI Jakarta memiliki prevalensi diare klinis sebesar 8%
gambargula
di bawah
Prevalensi diare klinis
adalah 9,0%
(rentang:Kesehatan
4,2% - 18,9%),
tertinggi
Provinsi
NAD
(18,9%)
dan terendah
dan menurut
Kementrian
RI, pada
tahun di
2007
Jakarta
Utara
memiliki
Insidens di DI Yogyakarta
(4,2%). Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah,
1
diare sebesar
1000. Timur,
Banten, Nusa Tenggara
Barat, 11,12
Nusa per
Tengara
Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo,
Papua Barat dan Papua) yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Sumber : Riset Kesehatan Dasar tahun 2007


Gambar 1. Prevalensi Diare Menurut Provinsi

Bila dilihat per kelompok umur diare tersebar di semua kelompok umur dengan
prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Sedangkan
menurut jenis kelamin prevalensi laki-laki dan perempuan hampir sama, yaitu 8,9% pada

Johanes Putra
2013-061-106
laki-laki dan 9,1% pada perempuan. Prevalensi diare menurut kelompok umur dapat

Bila dilihat per kelompok umur diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita
(1-4 tahun) yaitu dilihat
16,7%.pada
Sedangkan
gambar menurut
dibawah jenis
ini: 1 kelamin prevalensi laki-laki dan perempuan hampir sama, yaitu 8,9% pada
laki-laki dan 9,1% pada perempuan. Prevalensi diare menurut kelompok umur dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Sumber : Riset Kesehatan Dasar tahun 2007


Gambar 2. Prevalensi Diare Menurut Kelompok Umur

Prevalensi diare lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan, yaitu sebesar 10% di perdesaan dan 7,4 % di perkotaan
Diare cenderung lebih tinggi
pada SDKI
kelompok
dan bekerja
sebagai
dan buruh yang dapa
Dari hasil
2007pendidikan
didapatkan rendah
13,7% balita
mengalami
diarepetani/nelayan
dalam waktu dua
dilihat pada gambar di bawah ini.

minggu sebelum survei, 3% lebih tinggi dari temuan SDKI 2002-2003 (11 persen).

Prevalensi diare tertinggi adalah pada anak umur 12-23 bulan, diikuti umur 6-11 bulan
dan umur 23-45 bulan seperti pada Gambar 5. Dengan demikian seperti yang diprediksi,
diare banyak diderita oleh kelompok umur 6-35 bulan karena anak mulai aktif bermain
dan berisiko terkena infeksi. 1

Sumber : Riset Kesehatan Dasar tahun 2007


Gambar 3. Prevalensi Diare Menurut Pendidikan

Sumber : SDKI tahun 2007 Persentase balita yang diare dua minggu sebelum survei,
berdasarkan kelompok umur
Penyakit diare termasuk dalam 10 penyakit yang sering menimbulkan kejadian
Sumber
: Riset
Kesehatan Dasar
tahunSurveilans
2007
luar
biasa.
Berdasarkan
laporan
Terpadu Penyakit bersumber data KLB (STP
Gambar 4. Prevalensi Diare Menurut Pekerjaan

KLB) tahun 2010, diare menempati urutan ke 6 frekuensi KLB terbanyak setelah DBD,
2

Johanes Putra
2013-061-106
Chikungunya, Keracunan makanan, Difteri dan Campak. Keadaan ini tidak berbeda jauh
dengan tahun 2009, menurut data STP KLB 2009 , KLB diare penyakit ke 7 terbanyak
yang menimbulkan KLB. 1
Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan CFR yang
masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah kasus 8133
orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan
dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan
tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan
kematian 73 orang (CFR 1,74 %.)1
Grafik di bawah ini menggambarkan frekuensi KLB diare pada tahun 2010, lebih
terjadi di provinsi Sulawesi Tengah (27 kali) dan Jawa Timur (21 kali). Hal ini
Grafik di bawah inibanyak
menggambarkan
frekuensi KLB diare pada tahun 2010, lebih banyak terjadi di provinsi Sulawesi Tengah (27
berbeda dengan tahun 2009 dimana KLB diare lebih banyak terjadi di provinsi Jawa
kali) dan Jawa Timur (21 kali). Hal ini berbeda dengan tahun 2009 dimana KLB diare lebih banyak terjadi di provinsi Jawa Barat
kali) dan Jawa Timur (5 kali). 1
(33 kali) dan JawaBarat
TImur(33
(5 kali).

Sumber : Subdit Surveilans dan Respon KLB Ditjen PP dan PL


Gambar 21.Frekwensi KLB Diare Menurut Provinsi Tahun 2010

Sumber : Subdit Surveilans dan Respon KLB Ditjen PP dan PL Frekwensi KLB Diare
Menurut Provinsi Tahun 2010

Sumber
: Subdit Surveilans dan Respon KLB Ditjen PP dan PL
Gambar 21.Frekwensi KLB Diare Menurut Provinsi Tahun 2010

Johanes Putra
2013-061-106

Sumber
: Subdit Surveilans dan Respon KLB Ditjen PP dan PL
Gambar 22. Frekwensi KLB Diare Menurut Provinsi Tahun 2009

Sumber : Subdit Surveilans dan Respon KLB Ditjen PP dan PL


Jumlah kasus KLB Diare pada tahun 2010 sebanyak 2.580 dengan kematian sebesar 77 kasus (CFR 2.98%). Hasil ini berbeda
Frekuensi
KLBpada
DiareKLB
Menurut
Provinsi 3.037
Tahunkasus,
2009 kematian sebanyak 21 kasus (CFR 0.69%). Perbedengan tahun 2009
dimana kasus
diare sebanyak
daan ini tentu saja perlu dilihat dari berbagai faktor, terutama kelengkapan laporannya. Selain itu faktor perilaku kesadaran dan
pengetahuan masyarakat, Tatalaksana
ketersediaan sumber
air bersih, ketersediaan
jamban
keluarga
dan jangkauan
dan penanganan
khusus untuk
diare
dibutuhkan
karenalayanan
masihkesehatan
perlu dipertimbangkan juga sebagai faktor yang mempengaruhi kejadian luar biasa diare.
tingginya kejadian diare di Indonesia. Selanjutnya akan dibahas bagaimana tatalaksana

program diare dan indikator apa saja yang harus diperhatikan sebagai tolak ukur
keberhasilan program diare di Indonesia

Sumber
: Subdit Surveilans dan Respon KLB Ditjen PP dan PL
Gambar 23. Jumlah Kasus dan CFR KLB Diare, Tahun 2009 - 2010

10

Johanes Putra
2013-061-106

BAB II
A.Pedoman Tatalaksana Menurut WHO
Untuk penatalaksanaan penyakit diare, hal pertama yang harus dilakukan adalah
menentukan derajat dehidrasi. Tatalaksana yang diterapkan pada pasien diare ditentukan
oleh derajat dehidrasi. Berikut adalah gejala-gejala yang ditemukan pada pasien sesuai
derajat dehidrasi yang diderita.2

Penilaian

1. Lihat :
Keadaan Umum

Baik, sadar

* Gelisah

* Lesu, lunglai atau tidak sadar

Mata

Normal

Cekung

Sangat cekung dan kering

Rasa Haus

Minum biasa

* Haus, ingin

* Malas minum atau tidak bisa minum

tidak haus

minum banyak

Kembali

* Kembali lambat

* Kembali sangat lambat

Tanpa

Dehidrasi

Dehidrasi berat

dehidrasi

ringan/sedang

Bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau

bila ada 1 tanda *

lebih tanda lain

2. Periksa turgor kulit

cepat
3. Derajat dehidrasi

ditambah 1 atau
lebih tanda lain
4. Terapi

Rencana

Rencana terapi B

Rencana terapi C

terapi A
Tabel 1 Cara menilai derajat dehidrasi
Derajat dehidrasi dinilai sesuai dengan tanda dan gejala yang mencerminkan jumlah
cairan yang hilang:

Pada tahap awal dehidrasi, tidak ada tanda-tanda atau gejala.

Sesuai dengan derajat dehidrasi yang meningkat, tanda-tanda dan gejala

Johanes Putra
2013-061-106
berkembang. Awalnya termasuk: rasa haus, gelisah atau perilaku pemarah, turgor
kulit menurun, mata cekung, dan fontanel cekung (pada bayi).

Pada dehidrasi berat, efek ini menjadi lebih jelas dan berkembang menjadi tandatanda syok hipovolemik, termasuk: hilang kesadaran, kurangnya urin, lembab
dingin ekstremitas, denyut nadi yang cepat dan lemah denyut (nadi a. radialis
mungkin tidak terdeteksi), rendah atau tidak terdeteksinya tekanan darah, dan
sianosis perifer. Dapat terjadi kematian yang cepat jika tidak dimulai rehidrasi
dengan cepat.
Kekurangan cairan pada anak dapat diperkirakan sebagai berikut :

Pengukuran

Kekurangan Cairan (%) Berat

Kekurangan Cairan dalam ml/Kg

Badan

Berat Badan

Tidak Dehidrasi

<5%

<50ml/kg

Diare Sedang

5-10%

50-100 ml/kg

Diare Berat
>10%
>100 ml/kg
Tabel 2 Hubungan Derajat Dehidrasi Dengan Perkiraan Jumlah Cairan yang Hilang
Rencana terapi A untuk diare tanpa dehidrasi
-

Memberi cairan lebih banyak dari biasanya selama 2 minggu.


Memberikan 5 bungkus oralit untuk dibawa pulang.
Meneruskan pemberian ASI terutama bayi < 6 bulan.
Memberikan tablet zinc, untuk bayi < 6 bulan diberi tablet/hari dan bayi > 6
bulan diberi 1 tablet / hari.
Membawa anak kembali ke petugas kesehatan jika tidak membaik dalam 3 hari
bila BAB cair lebih sering, muntah berulang, rasa haus nyata, makan / minum

sedikit, demam, tinja berdarah. 2


Rencana terapi B : untuk diare dengan dehidrasi ringan / sedang
Memberikan oralit sebanyak 75 ml/kgBB dalam 3 jam pertama kemudian dinilai
kembali derajat dehidrasi penderita, kemudian memilih Rencana Terapi A, B,

atau C untuk melanjutkan terapi.


Memberikan tablet zinc, untuk bayi < 6 bulan diberi tablet/hari dan bayi > 6
bulan diberi 1 tablet / hari.

Johanes Putra
2013-061-106
-

Membawa anak kembali ke petugas kesehatan jika tidak membaik dalam 3 hari
bila BAB cair lebih sering, muntah berulang, rasa haus nyata, makan / minum

sedikit, demam, tinja berdarah. 2


Rencana terapi C : untuk diare dengan dehidrasi berat
Memberikan oralit (5 ml/ kgBB/ jam) dan cairan IV Ringer Laktat (100
ml/kgBB). Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak), melakukan penilaian kembali
terhadap derajat dehidrasi, kemudian memilih Rencana Terapi A, B, atau C

untuk melanjutkan terapi.


Memberikan tablet zinc, untuk bayi < 6 bulan diberi tablet/hari dan bayi > 6
bulan diberi 1 tablet / hari. 2
Membawa anak kembali ke petugas kesehatan jika tidak membaik dalam 3 hari
bila BAB cair lebih sering, muntah berulang, rasa haus nyata, makan / minum
sedikit, demam, tinja berdarah.

B.LINTAS Diare ( Lima Langkah Tuntaskan Diare )


1.Berikan Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga
dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan
rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit saat ini yang beredar di
pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi
rasa mual dan muntah. Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk
mengganti cairan yang hilang. Bila penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke
sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan melalui infus.3
Derajat dehidrasi dibagi dalam 3 klasifikasi :
a) Diare tanpa dehidrasi
Tanda diare tanpa dehidrasi, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih :

- Keadaan Umum

: baik

Johanes Putra
2013-061-106

- Mata

: normal

- Rasa haus

: normal, minum biasa

- Turgor kulit

: kembali cepat

Dosis oralit bagi penderita diare tanpa dehidrasi sebagai berikut :

Umur < 1 tahun


: 14 - 12 gelas setiap kali anak mencret
Umur 14tahun:
:12-1gelas setiapkali anak mencret
Umur diatas 5 Tahun :1 112 gelas setiap kali anak mencret

b) Diare dehidrasi Ringan/Sedang


Diare dengan dehidrasi Ringan/Sedang, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih:
Keadaan Umum
Mata

: Gelisah, rewel

: Cekung

Rasa haus

: Haus, ingin minum banyak

Turgor kulit

: Kembali lambat

Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya diteruskan
dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.
c) Diare dehidrasi berat
Diare dehidrasi berat, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih:
Keadaan Umum

: Lesu, lunglai, atau tidak sadar

Mata

: Cekung

Rasa haus

: Tidak bias minum atau malas minum

Turgor kulit

: Kembali sangat lambat (lebih dari 2detik)

Johanes Putra
2013-061-106
Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk di
infus.
2. Berikan obat Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat
menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini
meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan
dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama
kejadian diare.
Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat
keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta
menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Penelitian di Indonesia
menunjukkan bahwa Zinc mempunyai efek protektif terhadap diare sebanyak 11 % dan
menurut hasil pilot study menunjukkan bahwa Zinc mempunyai tingkat hasil guna
sebesar 67 % .Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak
mengalami diare. 3
Dosis pemberian Zinc pada balita:
-Umur<6bulan: 12 tablet ( 10 Mg ) per hari selama 10 hari
-Umur>6bulan: 1 tablet ( 20 mg) per hari selama 10 hari.
Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti.Cara pemberian tablet
zinc :Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, sesudah larut berikan
pada anak diare.
3. Pemberian ASI / Makanan :
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada
penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya
berat badan. Anak yang masih minum Asi harus lebih sering di beri ASI. Anak yang
minum susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau

Johanes Putra
2013-061-106
lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan
yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih sering. Setelah diare
berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu
pemulihan berat badan. 3
4. Pemberian Antibiotika hanya atas indikasi
Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare
pada balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita
diare dengan darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera.
Obat-obatan Anti diare juga tidak boleh diberikan pada anak yang menderita diare
karena terbukti tidak bermanfaat. Obat anti muntah tidak di anjurkan kecuali muntah
berat. Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan status gizi anak,
bahkan sebagian besar menimbulkan efek samping yang bebahaya dan bisa berakibat
fatal. Obat anti protozoa digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh parasit (amuba,
giardia). 3
5. Pemberian Nasehat
Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi nasehat
tentang cara memberikan cairan dan obat di rumah dan kapan harus membawa kembali
balita ke petugas kesehatan bila :
0

Diare lebih sering

Muntah berulang

Sangat haus

Makan/minum sedikit

Timbul demam

Tinja berdarah

Johanes Putra
2013-061-106
Tidak membaik dalam 3 hari.

C.Indikator Program Diare


1.

Target penemuan penderita: Target penemuan penderita dimasukan sebagai


indikator dengan tujuan untuk mengetahui insiden penyakit diare di wilayah
program kerja. 3
a. Semua umur

Angka kesakitan diare semua umur berdasarkan hasil kajian

morbiditas diare tahun 2012: 214/1000 penduduk.


Perkiraan penderita diare yang datang ke sarana kesehatan: 10%
Perkiraan penderita diare semua umur= 214/1000 x jumlah penduduk
Target penemuan penderita diare semua umur= 10% x perkiraan
penderita4

b. Balita
Perkiraan jumlah balita (estimasi)= 10%x jumlah penduduk.
Perkiraan Penderita diare balita adalah angka kesakitan diare balitax

2.

jumlah balita dalam satu tahun.


Angka kesakitan diare balita berdasarkan hasil kajian morbiditas diare
pada tahun 20012: 900/1000 balita per tahun
Perkiraan Penderita Diare Balita= 900/1000 x jumlah balita
Perkiraan Penderita diare balita yang datang kesarana keshatan: 20%
Target penemuan penderita diare balita=20%x perkiraan penderita4

Cakupan pelayanan: Cakupan pelayanan sebagai indicator memiliki tujuan untuk


mengevaluasi program yang berjalan apakah memiliki tingkat cakupan yang luas
atau tidak. Bila suatu program memiliki cakupan yang luas tentunya akan
memiliki dampak hasil yang luas pula. Sehingga penangan terhadap diare dapat
terlaksana dengan baik.
a. Semua Umur
Persentase jumlah penderita diare semua umur yang dilayani dalam satu tahun
dibagi target penemuan penderita semua umur pada tahun yang sama
Jumlah penderita diare semua umur dilayani dalam satu tahun x100%
Target penemuan penderita diare semua umur
b. Balita

Johanes Putra
2013-061-106
Persentase jumlah penderita diare balita yang dilayani dalam satu tahun dibagi
target penemuan penderita balita pada tahun yang sama. 4
Jumlah Penderita Diare Balita Dilayani dalam 1 tahun x 100%
Target penemuan penderita diare balita
3.

Kualitas Pelayanan: Kualitas pelayanan sebagai indicator dengan tujuan untuk


mengetahui kualitas pelayanan dari kinerja program DBD. Selain cakupan
pelayanan, kualitas pelayanan juga merupakan indicator yang penting. Karena
cakupan yang luas namun bila tidak diikuti oleh pelayanan yang berkualitas tidak
memiliki dampak hasil yang baik pula. 4
Untuk mengetahui kualitas pelayan di suatu saran pelayanan kesehatan dapat
dilihat pada komponen berikut:
a. Proporsi penderita diare balita
Jumlah penderita diare balita dilayani
Jumlah penderita diare semua umur dilayani
b. Rata-rata penggunaan oralit
Jumlah oralit yang digunakan
x 100%
Jumlah penderita diare dilayani

x 100%

c. Proporsi penderita diare pada balita yang diberi zinc


Jumlah penderita diare balita diberi zincX 100%
Jumlah penderia diare balita dilayani
d. Proprosi tatalaksana standar
Jumlah Penderita diare mendapat tatalaksana sesuai standar x 100%
Jumlah penderita diare dilayani
e. Proporsi cakupan pelayanan oleh sarana dan kader
1. Proporsi cakipan pelayanan oleh sarana
Jumlah penderita diare dilayani oleh sarana kesehatan x 100%
Jumlah penderita diare dilayani
2. Proporsi cakupan pelayanan kader
Jumlah penderita diare dilayani oleh kader x 100%
Jumlah penderita diare dilayani
f. Proporsi penderita diare menurut derajat dehidrasi
1. Proporsi penderita diare tanpa dehidrasi
Jumlah penderita diare tanpa dehidrasi
x 100%
Jumlah Penderita diare dilayani
2. Proposi penderita diare dehidrasi ringan-sedang

Johanes Putra
2013-061-106
Jumlah penderita diare dehidrasi ringan-sedang x 100%
Jumlah penderita diare dilayani
3. Propoporsi penderita diare dehidrasi berat x 100%
Jumlah penderita diare dilayani
g. Proporsi penderita diare diinfus
Jumlah penderita diare diinfus x 100%
Jumlah penderita diare dilayani
h. Proporsi kematian diare meninggal saat KLB (CFR)
Jumlah penderita diare meninggal saat KLB x 100%
Jumlah penderita diare saat KLB

DAFTAR PUSTAKA

Johanes Putra
2013-061-106
1.Situasi Diare di Indonesia. Subdit Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran
Pencernaan Kemenkes RI. Jakarta: 2011
2. Diarrhoea Treatment Guidelines. WHO. USA:2005
3. Buku Saku Petugas Kesehatan. Depkes RI Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta: 2011
4. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare. . Subdit Pengendalian Diare dan
Infeksi Saluran Pencernaan Kemenkes RI. Jakarta 2013.