Anda di halaman 1dari 71

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan zaman, pertumbuhan ekonomi masyarakat dari tahun ke


tahun mengalami peningkatan sehingga tuntutan kebutuhan hidup semakin meningkat
dimulai dari sandang pangan dan papan. Di era globalisasi sekarang ini kemajuan
dibidang IPTEK khususnya didalam pembuatan produk makanan, yang terdiri dari
makanan siap saji dan makanan kemas semakin berkembang, yang dalam pembuatannya
menggunakan mesin-mesin dengan tambahan bahan pengawet yang merupakan
karsinogenik. Pola hidup yang kurang sehat dibuktikan dengan kurangnya berolah raga,
kebiasaan merokok, pola diet yang salah, kebiasaan mengkonsumsi daging merah dan
kegemukan dianggap sebagai factor resiko yang sifatnya eksternal. Selain itu sebagian
besar gaya hidup masyarakat di perkotaan lebih banyak memilih untuk mengkonsumsi
makanan/ minuman yang siap saji, sedangkan kandungan nutrisi yang terdapat dalam
makanan siap saji tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti:rendah serat,
tinggi lemak dan tinggi protein dimana kondisi yang seperti ini bisa mempengaruhi
fungsi dari system pencernaan yang banyak diakibatkan oleh adanya zat karsinogenik
seperti halnya kanker.

2
Kolon (termasuk rektum) merupakan tempat keganasan saluran cerna yang paling
sering. Kanker kolorectal merupakan penyebab ketiga dari semua kematian akibat
kanker.
Di Amerika Serikat, baik pada pria maupun wanita (American Cancer Society, 2001).
Kanker usus besar biasanya merupakan penyakit yang terjadi pada orng tua, dengan
insidensi puncak pada usia 60 dan 70 tahun. Kanker kolon jarang ditemukan dibawah
usia 40 tahun, kecuali pada orang yang memiliki riwayat keluarga pernah mengidap
kanker kolorektal, pernah mengidap polip di usus, dianggap sebagai faktor resiko yang
sifatnya internal. Sekitar 60% dari semua kanker usus terjadi pada bagian kolon
desenden dan rektosigmoid, sehingga dapat teraba pada pemeriksaan rektum atau terlihat
pada pemeriksaan sigmoidoskopi. Sekum dan kolon asendens merupakan tempat
berikutnya yang paling sering terserang. Kolon transversa dan fleksura adalah bagian
yang memiliki kemungkinan terserang paling kecil atau jarang.

Data yang diperoleh dari www.republika.co.id. Jumat 13 Juli 2007, menyebutkan


bahwa, di seluruh dunia, 9,7 % pria penderita kanker terkena kanker kolorektal,
sedangkan pada wanita angkanya mencapai 9,4 % dari total jumlah penderita kanker.
Lebih parah lagi, diperkirakan lebih dari 50 % penderita kanker rektal meninggal karena
penyakit ini.

Di Indonesia di Rumah Sakit Dharmais terdapat 16 orang yang mengalami kanken kolon
rektal dari 8500 penderita kanker yang berobat ke rumah sakit Dharmais sejak tahun
1994.

3
Sedangkan data yang didapat dari catatan medical record lantai IV bedah RSPAD Gatot
Soebroto Jakarta dari bulan April Juni 2007, pasien yang dirawat berjumlah 305
penderita, jumlah penderita kanker kolon sebanyak 57 penderita atau 18,68 % dari.
Jumlah keseluruhan, atau 24,56 % dari penderita kanker pencernaan, dan 50 % dari
penderita kanker kolon.

Pada umumnya penderita kanker kolon ditandai dengan gejala perubahan kebiasaan
defekasi, darah pada faeces, konstipasi, perubahan dalam penampilan faeces, anemia,
perdarahan rektal. Gejala-gejala dari penyakit lebih lanjut meliputi adanya massa yang
teraba, obstruksi, mual, BB menurun, nyeri dan adanya tekanan pada rektum. Apabila
tidak ditagani secara baik akan menimbulkan komplikasi antara lain pertumbuhan tumor
dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap, metastase ke organ sekitar
melalui hematogen, limfogen dan penyebaran langsung, pertumbuhan dan ulserasi dapat
juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon yang menyebabkan hemoragi, perforasi
usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses, peritonitis dan atau sepsis
dapat menimbulkan syok. Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, peran perawat
sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan yang tepat sesuai dengan
standar-standar praktik keperawatan, diantaranya: pertama promosi kesehatan dimana
perawat memberikan penyuluhan kesehatan agar pengetahuan pasien bertambah tentang
segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakitnya, kedua pencegahan penyakit
(preventif), dimana peran perawat sangat penting untuk mempertahankan kesehatan
pasien agar penyakit pasien tidak bertambah parah, ketiga kuratif dimana perawat
berperan dalam memberikan pengobatan pada pasien dan keempat rehabilitatif yakni
pemulihan dimana perawat berperan dalam pemulihan penyembuhan pasien.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dengan melihat data angka kejadian yang tinggi,
masalah-masalah dan komplikasi yang ada maka penulis perlu dan ingin mengetahui.
Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Tn. E dengan Post Op Kolostomi EC
Kanker kolorecti di lantai V Bedah RSPAD Gatot Soebroto Jakarta dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan.

B.

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dalam pembuatan makalah ini adalah:


1.

Tujuan Umum

Untuk mendapatkan gambaran / pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan


keperawatan pada pasien kanker kolorecti dengan menggunakan pendekatan proses
keperawatan.
2.

Tujuan Khusus

Untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam:


a.

Melakukan

pengkajian

pada

pasein

kanker

kolorecti.
b.

Menganalisa data yang ditemukan pada pasien


kanker kolorecti untuk merumuskan diagnosa keperawatan.

c.

Membuat rencana keperawatan pada pasien kanker


kolorecti.

d.

Melaksanakan rencana keperawatan yang telah di


susun pada pasien Kanker kolorecti.

5
e.

Mengevaluasi asuhan keperawatan pada pasien


kanker Kolorecti.

f.

Membuat pendokumentasian pada pasien kaker


kolorecti.

g.

Mengidentifikasi

adanya

kesenjangan

asuhan

keperawatan antara teori dan kasus nyata serta alternatif pemecahan masalah dari
kesenjangan yang ditemukan.

C.

Ruang Lingkup

Makalah ilmiah ini akan membahas mengenai asuhan keperawatan pada pasien Tn .E
dengan post Op Kolostomi EC Kanker KoloRecti di lantai V Bedah RSPAD Gatot
Soebroto Jakarta yang dilaksanakan mulai tanggal 27 Mei 2009 sampai dengan 29 Mei
2009.

D.

Metoda Penulisan

Metoda yang digunakan dalam penyusunan makalah ilmiah ini adalah:


1.

Metoda deskriptif, tipe studi kasus yaitu dengan mengambil salah satu kasus klien

dengan kanker kolorecti dan melakukan asuhan keperawatan dengan pendekatan proses
keperawatan. Tehnik yang digunakan dalam pengumpulan data dengan cara wawancara,
observasi dan pemeriksaan fisik. Sumber data yang di gunakan adalah data primer yang
diperoleh langsung dari pasien Tn.E, data sekunder diperoleh dari keluarga (istri)

6
sedangkan data tersier diperoleh dari tenaga kesehatan, dengan melihat dokumentasi
keperawatan dan hasil pemeriksaan penunjang.
2.

Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku-buku sumber yang berhubungan dengan

asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien Tn.E Post Op Kolostomi EC kanker
kolorecti.

E.

Sistematika Penulisan

Bab satu : Pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup,
metoda penulisan, dan sistematika penulisan. Bab dua : Konsep asuhan keperawatan
pada pasien dengan kanker kolon yang terdiri dari pengertian, potofisologi,
penatalaksanaan, pengkajian, diagnosa keparawatan, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi.
Bab tiga : Tinjauan kasus terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi. Bab empat : Pembahasan yang dimulai dari pengkajian,
diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Bab lima: Penutup yang
terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
1. Neoplasma / Kanker adalah pertumbuhan baru (atau tumor) massa yang tidak normal
akibat proliferasi sel-sel yang beradaptasi tanpa memiliki keuntungan dan tujuan.
Neoplasma terbagi atas jinak atau ganas. Neoplasma ganas disebut juga sebagai kanker
(cancer). (SylviaA Price, 2005).
2. Karsinoma atau kanker kolon ialah keganasan tumbuh lambat yang paling sering
ditemukan daerah kolon terutama pada sekum, desendens bawah, dan kolon sigmoid.
Prognosa optimistik; tanda dan gejala awal biasanya tidak ada. (Susan Martin Tucker,
1998).
3. Kanker kolorektal adalah tumbuhnya sel-sel ganas dalam tubuh di dalam permukaan
usus besar atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel
yang tidak ganas biasa disebut adenoma yang dalam stadium awal membentuk polip (sel
yang tumbuh sangat cepat). (www.republika.co.id).

8
4. Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk dari
pengeluaran sebagian bentuk kolon (usus besar) ke dinding abdomen (perut), stoma ini
dapat bersifat sementara atau permanen. (Brunner and Suddarth, 2001).

Dari beberapa pengertian diatas penulis menyimpulkan kanker kolon adalah tumbunhya
sel-sel ganas di permukaan dalam usus besar (kolon) atau rektum.
Lokasi tersering timbulnya kanker kolon adalah di bagian sekum, asendens, dan kolon
sigmoid, salah satu penatalaksanaannya adalah dengan membuat kolostomi untuk
mengeluarkan produksi faeces.

B. PATOFISIOLOGI
Penyebab jelas kanker usus besar belum diketahui secara pasti, namun makanan
merupakan faktor yang penting dalam kejadian kanker tersebut. Yaitu berkorelasi
dengan faktor makanan yang mengandung kolesterol dan lemak hewan tinggi, kadar
serat yang rendah, serta adanya interaksi antara bakteri di dalam usus besar dengan asam
empedu dan makanan, selain itu dapat juga dipengaruhi oleh minuman yang beralkohol,
khususnya bir.

Kanker kolon dan rektum terutama berjenis histopatologis (95%) adenokarsinoma


(muncul dari lapisan epitel dalam usus = endotel). Munculnya tumor biasanya dimulai
sebagai polip jinak, yang kemudian dapat menjadi ganas dan menyusup, serta merusak;
jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitarnya. Tumor dapat berupa masa
polipoid, besar, tumbuh ke dalam lumen, dan dengan cepat meluas ke sekitar usus
sebagai striktura annular (mirip cincin). Lesi annular lebih sering terjadi pada bagi

9
rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan
kolon asendens.

Tumor dapat menyebar melalui :


1. Infiltrasi langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih
(vesika urinaria).
2. Penyebaran lewat pembuluh limfe limfogen ke kelenjar limfe perikolon dan
mesokolon.
3. Melalui aliran darah, hematogen biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah
balik ke sistem portal.

Gejala klinis kanker usus besar yang paling sering adalah perubahan pola defekas
adanya perdarahan per anus, nyeri, anemia, anoreksia dan penurunan berat badan tanda
dan gejala penyakit ini bervariasi sesuai dengan letak kanker, dan sering menjadi kanker
yang mengenai bagian kanan dan kiri usus besar .

Stadium pada pasien kanker kolon menurut Syamsu Hidyat (1197) diantaranya:
1. Stadium I bila keberadaan sel-sel kanker masih sebatas pada lapisan dinding usus
besar (lapisan mukosa).
2. Stadium II terjadi saat sel-sel kanker sudah masuk ke jaringan otot di bawah lapisan
mukosa.
3. Pada stadium III sel kanker sudah menyebur ke sebagian kelenjar limfe yang banyak
terdapat di sekitar usus.
4. Stadium IV terjadi saat sel-sel kanker sudah menyerang seluruh kelenjar limfe atau
bahkan ke organ-organ lain.

10

Klasifikasi
Klasifikai kanker kolon dapat ditentukan dengan sistem TNM (T = tumor, N = kelenjar
getah bening regional, M =jarak metastese).

Tumor primer

TO

Tidak ada tumor

TI

Invasi hingga mukosa atau sub mukosa

T2

Invasi ke dinding otot

T3

Tumor menembus dinding otot

Kelenjar limfa

N0

tidak ada metastase

N1

Metastasis ke kelenjar regional unilateral

N2

Metastasis ke kelenjar regional bilateral

N3

Metastasis multipel ekstensif ke kelenjar regional

Metastasis jauh

MO

Tidak ada metastasis jauh

MI

Ada metastasis jauh

Komplikasi pada pasien dengan kanker kolon yaitu:


1.

Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap.

2.

Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan penyebaran


langsung.

11
3.

Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar kolon
yang menyebabkan hemorragi.

4. Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses.


5.

Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok.

Pencegahan Kanker Kolon.


1. Konsumsi makanan berserat. Untuk memperlancar buang air besar dan menurunkan
derajat keasaman, kosentrasi asam lemak, asam empedu, dan besi dalam usus besar.
2.

Asam lemak omega-3, yang terdapat dalam ikan tertentu.

3.

Kosentrasi kalium, vitamin A, C, D, dan E dan betakarotin.

4.

Susu yang mengandung lactobacillus acidophilus.

5. Berolahraga dan banyak bergerak sehingga semakin mudah dan teratur untuk buang
air besar.
6.

Hidup rileks dan kurangi stress.

C. PENATALAKSANAAN (Medis, Keperawatan, Diet)


Penatalaksanaan Medis
1. Pengobatan.
Bila sudah pasti ditemukan karsinoma kolorektal, maka kemungkinan pengobatannya
adalah:
a. Pembedahan Reseksi.

12
Satu-satunya pengobatan definitif adalah pembedahan reseksi dan biasanya diambil
sebanyak mungkin dari kolon, batas minimal adalah 5 cm di sebelah distal dan
proksimal dari tempat kanker. Untuk kanker di sekum dan kolon asendens biasanya
dilakukan hemikolektomi kanan dan dibuat anastomosis ileo-transversal. Untuk kanker
di kolon transversal dan di pleksura lienalis, dilakukan kolektomi subtotal dan dibuat
anastomosis ileosigmoidektomi. Pada kanker di kolon desendens dan sigmoid dilakukan
hemikolektomi kiri dan dibuat anastomosis kolorektal transversal. Untuk kanker di
rektosigmoid dan rektum atas dilakukan rektosigmoidektomi dan dibuat anastomosis.
Desenden kolorektal. Pada kanker di rektum bawah dilakukan proktokolektomi dan
dibuat anastomosis kolorektal.

b. Kolostomi
Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk dari
pengeluaran sebagian bentuk kolon (usus besar) ke dinding abdomen (perut), stoma ini
dapat bersifat sementara atau permanen.

Tujuan Pembuatan Kolostomi adalah.


Untuk tindakan dekompresi usus pada kasus sumbatan / obstruksi usus. Sebagai anus
setelah tindakan operasi yang membuang rektum karena adanya tumor atau penyakit
lain. Untuk membuang isi usus besar sebelum dilakukan tindakan operasi berikutnya
untuk penyambungan kembali usus (sebagai stoma sementara).

Jenis-Jenis Kolostomi.
1.

Jenis kolostomi berdasarkan sifatnya:

13
a.

Sementara

Indikasi untuk kolostomi sementara :


1). Hirschprung disease
2). Luka tusuk atau luka tembak
3). Atresia ani letak tinggi
4). Untuk mempertahankan kelangsungan anastomosis distal usus setelah tindakan
operasi (mengistirahatkan usus).
5). Untuk memperbaiki fungsi usus dan kondisi umum sebelum dilakukan tindakan
operasi anastomosis.

b.

Permanen

Indikasi untuk kolostomi permanen :


Penyakit tumor ganas pada kolon yang tidak memungkinkan tindakan operasi reseksianastomosis usus.

2. Jenis kolostomi berdasarkan letaknya :

14

3. Jenis kolostomi berdasarkan tekhnik pembuatan :


a.

Single Barreled Colostomy

b.

Double Barreled Colostomy

c.

Loop Colostomy

Perawatan Pasca Operasi Kolostomi


1. Keseimbangan cairan dan elektrolit.
Asenden colostomy atau colostomy yang diikuti dengan reseksi mungkin faecesnya cair
diperlukan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
2. Perawatan kulit.
Jika ada iritasi kulit harus dikaji secara tepat guna sehingga tindakan yang diambil tepat.
Prinsip pencegahan kulit sekitar stoma :
a. Pencegahan primer bertujuan untuk proteksi : Bersihkan dengan perlahan- lahan,
gunakan skin barier, ganti segera kantong bila terjadi kebocoran / rembes atau penuh.
b. Pencegahan sekunder / penanganan kulit yang sudah terjadi kerusakan. Kulit dengan
eritema : ganti kantong kolostomi setiap 24 jam, bersihkan ku1it dengan air hangat pakai
kapas dan keringkan, gunakan kantong kolostomi yang tidak menimbulkan alergi ku1it
yang erosi, sama dengan eritema tetapi setelah dibersihkan olesi daerah erosi dengan zalf
misalnya zinksalf.

3. Diet.

15
Dianjurkan mengkonsurnsi diet yang seimbang terutama dengan stoma permanen. Diet
yang dikonsurnsi sifatnya individual asal tidak menyebabkan diare, konstipasi dan
menimbu1kan gas.

4. Irigasi kolostomi bertujuan untuk:


a. Mengeluarkan faeses, gas dan lendir/mukus yang memenuhi kolon.
b. Membersihkan saluran pencernaan bagian bawah.
c. Menetapkan suatu pengeluaran sehingga dapat melakukan aktivitas normal.
5. Membantu pasien stoma.
a. Pertemuan grup
b. Penyuluhan untuk pasien dan keluarga serta, support mental
c. Radioterapi
Setelah dilakukan tindakan pembedahan perlu dipertimbangkan untuk melakukan radiasi
dengan dosis adekuat. Memberikan radiasi isoniasi pada neoplasma. Karena pengaruh
radiasi yang mematikan lebih besar pada sel-sel kanker yang sedang proliferasi, dan
berdiferensiasi buruk, dibandingkan terhadap sel -sel normal yang berada di dekatnya,
maka jaringan normal mungkin mengalami cidera da1am derajat yang dapat ditoleransi
dan dapat diperbaiki, sedangkan sel-sel kanker dapat dimatikan, selanjutnya dilakukan
kemoterapi.

d.

Kemoterapi

Kemoterapi yang diberikan ialah 5-flurourasil (5-FU). Belakangan ini sering


dikombinasi dengan leukovorin yang dapat meningkatkan efektifitas terapi. Bahkan ada
yang memberikan 3 macam kombinasi yaitu: 5-FU, levamisol, dan leuvocorin. Dari

16
hasil penelitian, setelah dilakukan pembedahan sebaiknya dilakukan radiasi dan
kemoterapi.

Penatalaksanaan Keperawatan
1. Dukungan adaptasi dan kemandirian.
2. Meningkatkan kenyamanan.
3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.
4. Mencegah komplikasi.
5. Memberikan informasi tentang proses/ kondisi penyakit, prognosis, dan kebutuhan
pengobatan.

Penatalaksanaan Diet
1. Cukup mengkonsumsi serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Serat dapat
melancarkan pencemaan dan buang air besar sehingga berfungsi menghilangkan kotoran
dan zat yang tidak berguna di usus, karena kotoran yang terlalu lama mengendap di usus
akan menjadi racun yang memicu sel kanker.
2.

Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari)

3. Menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi terutama
yang terdapat pada daging hewan.
4. Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik, karena hal tersebut
dapat memicu sel karsinogen / sel kanker.
5.

Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.

6.

Melaksanakan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.

17
Prognosis pasien yang terkena kanker kolon lebih baik bila lesi masih terbatas pada
mukosa dan submukosa pada saat operasi; dan jauh lebih buruk bila telah terjadi
penyebaran di luar usus (metastasis) ke kelenjar limfe, hepar. paru, dan organ-organ lain.

D. PENGKAJIAN
Pengkajian pada pasien dengan kanker kolon menurut Marilynn E. Doenges (1999)
diperoleh data sebagai berikut sbb:
Aktivitas/istirahat
Pasien dengan kanker kolorektal biasanya merasakan tidak nyaman pada abdomen
dengan keluhan nyeri, perasaan penuh, sehingga perlu dilakukan pengkajian terhadap
pola istirahat dan tidur.
Sirkulasi
Gejala: Palpitasi, nyeri dada pada pergerakan kerja. Kebiasaan: perubahan pada tekanan
darah. Integritas ego
Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stress
( misalnya merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius/
spiritual)
Masalah tentang perubahan dalam penampilan misalnya, alopesia, lesi, cacat,
pembedahan.
Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak
merasakan, rasa bersalah, kehilangan.
Tanda : Kontrol, depresi.
Menyangkal, menarik diri, marah.

18
Eliminasi
Adanya perubahan fungsi kolon akan mempengaruhi perubahan pada defekasi pasien,
konstipasi dan diare terjadi bergantian. Bagaimana kebiasaan di rumah yaitu: frekuensi,
komposisi, jumlah, warna, dan cara pengeluarannya, apakah dengan bantuan alat atau
tidak adakah keluhan yang menyertainya. Apakah kebiasaan di rumah sakit sama dengan
di rumah.
Pada pasien dengan kanker kolerektal dapat dilakukan pemeriksaan fisik dengan
observasi adanya distensi abdomen, massa akibat timbunan faeces.
Massa tumor di abdomen, pembesaran hepar akibat metastase, asites, pembesaran
kelenjar inguinal, pembesaran kelenjar aksila dan supra klavikula, pengukuran tinggi
badan dan berat badan, lingkar perut, dan colok dubur.
Makanan/cairan
Gejala: kebiasaan makan pasien di rumah dalam sehari, seberapa banyak dan komposisi
setiap kali makan adakah pantangan terhadap suatu makanan, ada keluhan anoreksia,
mual, perasaan penuh (begah), muntah, nyeri ulu hati sehingga menyebabkan berat
badan menurun.
Tanda: Perubahan pada kelembaban/turgor kulit; edema

Neurosensori
Gejala: Pusing; sinkope, karena pasien kurang beraktivitas, banyak tidur sehingga
sirkulasi darah ke otak tidak lancar.

Nyeri/kenyamanan

19
Gejala: Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misalnya ketidaknyamanan ringan
sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit)

Pernapasan
Gejala: Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seorang perokok).
Pemajanan asbes

Keamanan
Gejala: Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen. Pemajanan matahari lama/berlehihan.
Tanda: Demam.
Ruam ku1it, ulserasi

Seksualitas
Gejala: Masalah seksual misalnya dampak pada hubungan peruhahan pada tingkat
kepuasan. Multigravida lebih besar dari usia 30 tahun
Multigravida, pasangan seks multipel, aktivitas seksual dini, herpes genital.

Interaksi sosial
Gejala: Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung
Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan, atau bantuan)
Masalah tentang fungsi/ tanggungjawab peran penyuluhan/pembelajaran
Gejala: Riwayat kanker pada keluarga misalnya ibu atau bibi dengan kanker payudara
Sisi primer: penyakit primer, tangga ditemukan didiagnosis

20
Penyakit metastatik: sisi tambahan yang terlibat; bila tidak ada, riwayat alamiah dari
primer akan memberikan informasi penting untuk mencari metastatik.
Riwayat pengobatan: pengobatan sebelumnya untuk tempat kanker dan pengobatan yang
diberikan.

Pemeriksaan Penunjang.
1. Endoskopi. Pemeriksaan endoskopi perlu dikerjakan, baik sigmoidoskopi maupun
kolonoskopi. Gambaran yang khas karsinoma atau ulkus akan dapat dilihat dengan jelas
pada endoskopi, dan untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi.
2. Radiologi. Pemeriksaan radiologi yang dapat dikerjakan antara lain adalah : foto dada
dan foto kolon (barium enema). Pemeriksaan foto dada berguna selain untuk melihat ada
tidaknya metastasis kanker pada paru juga bisa digunakan untuk persiapan tindakan
pembedahan. Pada foto kolon dapat dapat terlihat suatu filling defect pada suatu tempat
atau suatu striktura.
3. Ultrasonografi (USG). Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi ada tidaknya
metastasis kanker kelenjar getah bening di abdomen dan di hati.
4. Histopatologi/ Selain melakukan endoskopi sebaiknya dilakukan biopsi di beberapa
tempat untuk pemeriksaan histopatologis guna menegakkan diagnosis. Gambaran
histopatologi karsinoma kolorektal ialah adenokarsinoma, dan perlu ditentukan
differensiasi sel.
5. Laboratorium. Tidak ada petanda yang khas untuk karsinoma kolorektal, walaupun
demikian setiap pasien yang mengalami perdarahan perlu diperiksa Hb. Tumor marker
(petanda tumor) yang biasa dipakai adalah CEA. Kadar CEA lebih dari 5 mg/ ml
biasanya ditemukan karsinoma kolorektal yang sudah lanjut. Berdasarkan penelitian,

21
CEA tidak bisa digunakan untuk mendeteksi secara dini karsinoma kolorektal, sebab
ditemukan titer lebih dari 5 mg/ml hanya pada sepertiga kasus stadium III. Pasien
dengan buang air besar lendir berdarah, perlu diperiksa tinjanya secara bakteriologis
terhadap shigella dan juga amoeba.

6. Scan (misalnya, MR1. CZ: gallium) dan ultrasound: Dilakukan untuk tujuan
diagnostik, identifikasi metastatik, dan evaluasi respons pada pengobatan.
7. Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum): Dilakukan untuk diagnostik banding dan
menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui sum-sum tulang, kulit, organ
dan sebagainya.
8. Jumlah darah lengkap dengan diferensial dan trombosit: Dapat menunjukkan anemia,
perubahan pada sel darah merah dan sel darah putih: trombosit meningkat atau
berkurang.
9. Sinar X dada: Menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
Diagnosa keperawatan berdasarkan analisa data menurut Marilynn E. Doenges (1999),
Brunner and Suddarth (2001), dan Lynda Juall Carpenito (1997).
1.

Ansietas / ketakutan berhubungan dengan krisis situasi (kanker)

2. Nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder
akibat kanker usus besar.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status
hipometabolik berkenaan dengan kanker.

22
4. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang
masukan cairan
5. Keletihan berhubungan dengan perubahan kimia tubuh: efek samping obat- obatan,
kemoterapi.
6. Risiko tinggi terhadap kerusakan kulit / jaringan berhubungan dengan insisis bedah,
pembentukan stoma dan kontaminasi.
7. Risiko tinggi terhadap konstipasi / diare berhubungan dengan karsinoma kolon.

F. PERENCANAAN
1. Diagnosa Keperawatan 1 : Ansietas/ ketakutan berhubungan dengan krisis
situasi (kanker)
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan ansietas dapat berkurang atau dapat
dikontrol
Kriteria Evaluasi : (1) Menunjukkan rentang yang tepat dari perasaan dan berkurangnya
rasa takut, (2) Dapat mengungkapkan rasa takutnya, (3) Tampak rileks dan melaporkan
ansietas berkurang, ( 4) Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif, ( 5)
Dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Intervensi :
1.

Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.

2.

Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman.

3.

Pertahankan kontak sering dengan pasien.

4.

Bantu pasien/ orang terdekat dalam mengenali rasa takut

5.

Tingkatkan rasa tenang dan lingkungan tenang

2. Diagnosa Keperawatan 2 : Nyeri (akut) berhubungan dengan terputusnya


kontinuitas jaringan kulit sekunder terhadap tindakan pembedahan.

23
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat melaporkan
penghilangan nyeri maksimal/kontrol dengan pengaruh minimal
Kriteria Evaluasi: (1) Mengungkapkan nyeri hilang atau berkurang secara bertahap, (2)
Mengungkapkan rasa nyerinya, (3) Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan, (4)
Mendemonstrasikan ketrampilan relaksasi, (5) Dapat melakukan tekhnik relaksasi nafas
dalam jika nyeri timbul dan tekhnik pengalihan lainnya.

Intervensi
1. Tentukan riwayat nyeri, misalnya lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas, serta
tindakan penghilang yang dilakukan.
2.

Berikan tindakan kenyamanan dasar dan aktivitas hiburan.

3. Dorong ketrampilan manajemen nyeri misalnya teknik relaksasi napas dalam


(dengan cara tarik nafas melalui hidung tahan sampai hitungan sepuluh lalu hembuskan
pelan -pelan melalui mulut sambil dirasakan), tertawa, musik, dan sentuhan terapetik.
4.

Evaluasi penghilangan nyeri/ kontrol.

3. Diagnosa Keperawatan 3 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker .
Tujuan:

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

diharapkan

pasien

dapat

mendemonstrasikan berat badan stabil.


Kriteria Evaluasi: (1) Pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan
adekuat, (2) Berpartisipasi dalam intervensi spesifik, (3) Menunjukkan peningkatan
berat badan secara bertahap, ( 4) Tidak menunjukkan gejala mual dan muntah.

24

Intervensi :
1.

Pantau masukan setiap hari.

2.

Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi.

3. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori dan kaya nutrien dengan masukan
cairan adekuat.
4.

Dorong pasien untuk makan dengan porsi kecil tetapi sering.

5.

Ciptakan suasana makan yang menyenangkan.

6.

Identifikasi pasien yang mengalami mual/muntah yang diantisipasi.

4. Diagnosa Keperawatan 4 : Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan


berhubungan dengan kurang adekuatnya masukan cairan.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kekurangan volume cairan
tidak terjadi.
Kriteria Evaluasi: (1) Menunjukkan keseimbangan adekuat dibuktikan oleh tanda-tanda
vital stabil, membran mukosa lembab. turgor kulit baik, (2) TTV dalam batas normal :
TD 120/80 mmHg N 80-88 x/mnt RR 16-24 x/mnt S 36-37 oC. (3) intake dan out put
seimbang.

Intervensi :
1.

Pantau masukan dan keluaran dan berat jenis.

2.

Timbang berat badan sesuai indikasi

3.

Pantau TTV

4.

Dorong peningkatan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi


individu.

25
5.

Kaji turgor kulit dan membran mukosa

5. Diagnosa Keperawatan 5: Keletihan berhubungan dengan perubahan kimia A


tubuh: efek samping obat-obatan, kemoterapi.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat melaporkan
perbaikan rasa berenergi.
Kriteria Evaluasi: ( 1) Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan pada tingkat
kemampuan, (2) Melakukan aktivitas secara bertahap, (3) Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Intervensi :
1.

Rencanakan perawatan untuk memungkinkan periode istirahat.

2.

Buat tujuan aktivitas realistis dengan pasien.

3.

Dorong pasien untuk melakukan apa saja bila mungkin.

4.

Pantau respons fisiologis terhadap aktivitas

5.

Dorong masukan nutrisi.

6. Diagnosa keperawatan 6 : Risiko tinggi terhadap kerusakan kulit/jaringan


berhubungan dengan penurunan imunologis
Tujuan: Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

diharapkan

pasien

dapat

mengidentifikasi pelaksanaan yang tepat untuk kondisi khusus.


Kriteria

Evaluasi:

(1)

Berpartisipasi

dalam

teknik

untuk

mencegah

komplikasi/meningkatkan penyembuhan cepat, (2) Tidak terdapat tanda-tanda kerusakan


integritas kulit.

Interverensi :
1. Kaji keadaan kulit dengan sering terhadap efek samping terapi kanker.

26
2. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan.
3. Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering.
4. Baliklah/ubah posisi dengan sering.
5. Anjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun, salep, dan bedak kecuali
diizinkan dokter.

7. Diagnosa Keperawatan 7 : Risiko tinggi terhadap konstipasi/diare berhubungan


dengan karsinoma kolon.
Tujuan:

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

diharapkan

pasien

dapat

mempertahankan konsistensi/pola defekasi umum.


Kriteria Evaluasi : (1) Mengungkapkan pemahaman tentang faktor dan intervensi/solusi
yang tepat berkenaan dengan situasi individu, (2) BAB dalam batas normal 1-2 x/hari,
(3) Menghindari makanan yang dilarang misalnya tinggi lemak, tinggi protein dan
rendah serat
Interverensi :
1. Pastikan kebiasaan eliminasi umum.
2. Kaji bising usus dan pantau gerakan usus termasuk frekuensi dan konsistensi.
3. Pantau masukan dan keluaran serta berat badan.
4. Dorong masukan adekuat, berikan makanan sedikit tapi sering dengan makanan
rendah serat.
5. Pastikan diet yang tepat; hindari makanan tinggi lemak.

27
G. PELAKSANAAN
Pekasanaan atau tindakan keperawatan yang merupakan komponen dari proses
keperawatan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang
diperlukan untuk mencapai hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan
dan diselesaikan. Pelaksanaan merupakan rencana tindakan yang telah dilakukan,
dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Pelaksanaan mencakup:
melakukan, membantu atau mengarahkan kinerja aktifitas kehidupan sehari-hari,
memberikan arahan perawatan untuk mencapai tujuan yang berpusat pada pasien,
menyelia dan mengevaluasi kerja anggota staf, dan mencatat serta melakukan pertukaran
informasi yang relevan dengan perawatan kesehatan pasien yang berkelanjutan.
Komponen pelaksanaan dari proses keperawatan klien dengan Ca Kolon:
Untuk Diagnosa Keparawatan
Pelaksanaannya adalah : Mendorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan,

memberikan

lingkungan

terbuka

dimana

pasien

merasa

aman,

mempertahankan kontak sering dengan pasien, membantu pasien/orng yang terdekat


mengenali rasa takut, meningkatkan rasa tenang dan lingkungan yang tenang.
Diagnosa Keperawatan
Pelaksanaannya adalah : Menentukan riwayat nyeri, misalnya lokasi nyeri, frekuensi,
durai, dan intensitas, serta tindakan yang dilakukan, mendorong keterampilan
manajemen nyeri misalnya tehnik relaksasi nafas dalam (dengan cara tarik nafas melelui
hidung tahan sampai hitungan sepuluh lalu hembuskan pelan-pelan melalui mulut sambil
dirasakan), tertawa, musik dan sentuhan terampik, evaluasi penghilangan nyeri/kontrol.

28
Diagnosa Keperawatan
Pelaksanaannya adalah : Memantau masukkan setiap hari, menimbang berat badan
setiap hari atau sesuai indikasi, mendorong pasien untuk makan diet tinggi kalori dan
kaya nutrien dengan masukkan cairan adekuat, mendorong pasien untuk makan dengan
porsi

kecil

tapi

sering,

menciptakan

suasana

makan

yang

menyenangkan,

mengidentifikasi pasien yang mengalami mual/muntah yang diantisipasi.


Diagnosa Keperawatan
Pelaksanaannya adalah : Memantau masukkan dan keluaran berat jenis, menimbang
berat badan sesuai indikasi, memantau TTV, mendorong peningkatan masukkan cairan
sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi individu, mengkaji turgor kulit dan membran
mukosa.

Diagnosa Keperwatan
Pelaksanaannya adalah : Merencanakan perawatan untuk memungkinkan periode
istirahat, membuat tujuan aktivitas realistis dengan pasien, mendorong pasien untuk
melekukan apasaja bila mungkin, memantau respon fisiologis terhadap aktivitas,
mendorong masukan nutrisi.
Diagnosa Keperwatan
Pelaskanaannya adalah: Mengkaji kulit dengan sering terhadap efek samping terapi
kanker, memandikan dengan air hangat dan sabun ringan, mendorong pasien untuk
menghindari, menggaruk dan menepuk kulit yang kering, merubah posisi dengan sering,

29
menganjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun, salep dan bedak kecuali
diijinkan dokter.
Diagnosa Keperwatan
Pelaksanaannya : adalah memastikan kebiasaan eliminasi umum, mengkaji bising usus
dan pantau gerakan usus termasuk frekuensi dan konsistensi, memantau masukan dan
keluaran serta berat badan, mendorong masukan adekuat, berikan makanan sedikit tapi
sering dengan makanan rendah sisa, memastikan diet yang tepat, hindari makanan tinggi
lemak.

H. EVALUASI
Evaluasi adalah proses penilaian tujuan serta pengkajian ulang rencana keperawatan.
Evaluasi juga merupakan proses yang mengukur seberapa jauh tujuan yang telah
ditetapkan dapat tercapai berdasarkan standar / kriteria yang telah ditetapkan. Selama
evaluasi perawat kearah terbaik untuk memenuhi kebutuhan pasien.

Perawat harus menyadari bahwa evaluasi adalah dinamis dan berubah terus, bergantung
pada diagnosa keperawatan dan kondisi pasien.

Prinsip evaluasi diantarnya adalah obyektifitas : mengukur keadaan yang sebenarnya,


dimana keputusannya sama dengan keputusan orang banyak. Realibilitas : ketepatan,
hasil ukuran yang diperoleh bila diulang oleh orang lain hasil itu tetap sama. Validitas :

30
mengukur dengan tepat, mengukur apa yang akan diukur sesuai dengan tujuan yang
akan dicapai dan menggunakan kriteria pengukur yang tepat.
Evaluasi terhadap tindakan diagnosa keperawatan : Ansietas/ketakutan berhubungan
dengan krisis

situasi (kanker)

Kriteria evaluasi : (1) Menunjukkan rentang yang tepat dari perasaan dan berkurangnya
rasa takut, (2) Dapat mengungkapkan rasa takutnya, (3) Tampak rileks dan melaporkan
ansietas berkurang, (4) Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif, (5)
Dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Evaluasi terhadap tindakan diagnosa keperawatan nyeri (akut) berhubungan dengan
terputusnya kontinuitas jaringan skunder terhadap tindakan pembedahan.
Kriteria evaluasi: (1) Mengungkapkan nyeri hilang atau berkurang secara bertahap, (2)
Mengungkapkan rasa nyerinya, (3) Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan, (4)
Mendemonstrasikan ketrampilan relaksasi, (5) Dapat melakukan tekhnik relaksasi nafas
dalam jika nyeri timbul dan tekhnik pengalihan lainnya.

Evaluasi terhadap tindakan diagnosa keperawatan: Perubahan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker.
Kriteria evaluasi: (1) Pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan
adekuat, (2) Berpartisipasi dalam intervensi spesifik, (3) Menunjukkan peningkatan
berat badan secara bertahap, ( 4) Tidak menunjukkan gejala mual dan muntah.

Evaluasi terhadap tindakan diagnosa keperawatan: Risiko tinggi terhadap kekurangan


volume cairan berhubungan dengan kurang masukan cairan.
Kriteria evaluasi: (1) Menunjukkan keseimbangan adekuat dibuktikan oleh tanda-tanda
vital stabil, membran mukosa lembab. turgor kulit baik, (2) TTV dalam batas normal :

31
TD 120/80 mmHg N 80-88 x/mnt RR 16-24 x/mnt S 36-37 oC. (3) intake dan out put
seimbang.

Evaluasi terhadap tindakan diagnosa keparawatan: Keletihan berhubungan dengan


perubahan kimia A tubuh: efek samping obat-obatan, kemoterapi.
Kriteria evaluasi: (1) Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan pada tingkat
kemampuan, (2) Melakukan aktivitas secara bertahap, (3) Kebutuhan nutrisi terpenuhi.

Evaluasi terhadap tindakan diagnosa keperawatan: Risiko tinggi terhadap kerusakan


kulit/jaringan berhubungan dengan penurunan imunologis
Kriteria

evaluasi:

(1)

Berpartisipasi

dalam

teknik

untuk

mencegah

komplikasi/meningkatkan penyembuhan cepat, (2) Tidak terdapat tanda-tanda kerusakan


integritas kulit.

Diagnosa Keperawatan 7 : Risiko tinggi terhadap konstipasi/diare berhubungan dengan


karsinoma kolon.
Kriteria evaluasi: (1) Mengungkapkan pemahaman tentang faktor dan intervensi/solusi
yang tepat berkenaan dengan situasi individu, (2) BAB dalam batas normal 1-2 x/hari,
(3) Menghindari makanan yang dilarang misalnya tinggi lemak, tinggi protein dan
rendah serat.

32

BAB III
TINJAUAN KASUS

Dalam bab ini akan menguraikan tentang laporan kasus. Asuhan keperawatan pada klien
dengan post operasi laparatomi dengan pemasangan kolostomi EC Kanker Kolorecti di
LV/Bedah RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, memberikan asuhan keperawatan selama 3
hari, mulai dari tanggal 27 Mei 2009 sampai dengan tanggal 29 Mei 2009.

Asuhan keperawatan yang diberikan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang


terdiri dari:
Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi.

A. PENGKAJIAN

33
Pengkajian dilakukan pada tanggal 27-Mei-2009, klien masuk ke L V/Bedah RSPAD
Gatot Soebroto pada tanggal 17 Mei 2009 dengan No. Register 32-73-76, dengan
Diagnosa Medis Kanker Kolorecti.
1. Identitas Klien
Klien bernama Tn. E, jenis kelamin laki-laki, usia 38 tahun, status perkawinan menikah,
beragama Islam, suku bangsa Jawa, pendidikan teakhir SMA, bahasa. Yang digunakan
Bahasa Indonesia, pekerjaan TNI AD, beralamat di Asrama Yonif L 501 Jl. Kamboja
No.23 Madiun Jawa Timur. Dengan sumber biaya pasien berhak TNI AD, sumber
informasi yang didapat berasal dari klien dan juga keluarga (istri).

2.
a.

Riwayat Keperawatan
Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien masuk rumah sakit melalui instalasi gawat darurat RSPAD Gatot Soebroto rujukan
dari RS Kesdam Yonif L 501 dengan keluhan utama nyeri pada daerah perut kiri bawah
sampai ke belakang, dengan skala nyeri 6.Dan BAB mengeluarkan Darah kurang lebih 2
bulan .Upaya mengatasi Istirahat dan Berobat di Bumi Pengobatan HT namun tidak ada
perubahan lalu langsung dirujuk ke RSPAD Gatot Soebroto
b.

Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat alergi, baik terhadap obat-obatan, makanan,
binatang maupun lingkungan. Klien tidak punya riwayat kecelakaan.Klien belum pernah
dirawat . Tidak ada riwayat pemakaian obat

34
c.

Riwayat kesehatan keluarga (Genogram dan Keterangan tiga generasi dari klien)
9
2

51

4
7

17

1
5

13

Keterangan :
: laki-laki
: Perempuan
: Klien
: Meninggal
: Tinggal satu rumah
d. Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang menjadi factor tesiko :
Ibu klian merupakan factor resiko karena meninggal disebabkan CA Ovarium

e.

Riwayat Psikosial dan Spiritual

Orang yang terdekat dengan klien adalah istrinya. Interaksi dalam keluarga pola
komunikasi dua arah, pembuat keputusan dalam keluarga adalah klien selaku kepala
keluarga, kegiatan kemasyarakatan sebelum sakit tidak ada. Dampak penyakit klien

35
terhadap keluarga setelah klien sakit istri dan anak-anak menunggu di rumah sakit yang
jauh dari rumah, keluarga akan menjadi cemas tetapi keluarga menerima dan pasrah
terhadap penyakitnya. Masalah yang mempengaruhi klien saat ini tidak bisa beraktivitas
seperti biasanya. Mekanisme koping terhadap stress yang klien lakukan adalah
pencegahan masalah dengan cara bermusyawarah dengan seluruh anggota keluarga dan
mencari jalan keluarnya. Persepsi klien terhadap penyakitnya. Hal-hal yang sangat
dipikirkan klien saat ini ingin cepat sembuh dan dapat kembali bekerja seperti biasanya.
Perubahan yang dirasakan klien setelah jatuh sakit segala aktivitasnya berkurang dan
terbatas, tidak bisa menjalankan kegiatan sebagaimana mestinya. Sistem nilai
kepercayaan, tidak ada nilali-nilai yang bertentangan dengan kesehatan, aktivitas
agama/kepercayaan yang dilakukan berdoa dan Sholat 5 waktu.

f. Kondisi lingkungan rumah klien tinggal di asrama yang jauh dari keramaian, tempat
pembuangan sampah, dan pabrik.

g.

Pola kebiasaan sehari-hari (sebelum sakit dan saat ini)

1)

Pola Nutrisi

Sebelum sakit frekuensi makan 3x sehari, nafsu makan baik, makan habis 1 porsi, tidak
ada makanan yang tidak disukai, tidak ada makanan yang membuat alergi, makanan
pantangan tidak ada, makanan diet tidak ada, penggunaan obat-obat sebelum makan
tidak ada.Setelah sakit frekwensi makan 3x/hari, Kurang nafsu makan karena mual

36
makan habis porsi diet ML TKTP tidak menggunakan obat-obatan sebelum makan
tidak menggunakan alat bantu (NGT dll).
2)

Pola Eliminasi

Sebelum sakit klien buang air kecil 5-6 kali sehari, warna kuning jernih, tidak ada
keluhan, tidak menggunakan alat bantu (Kateter dan lain-lain), klien buang air besar
tidak teratur Feases bercampur darah selama 2 bulanan konsisten padat, nyeri bila BAB
menggunakan dulcolak supp kalau 3-4 hari tidak BAB.
Saat ini klien BAK 5-6kali/hari, warna kuning jernih, tidak ada keluhan, tidak
menggunakan alat bantu (Kateter dan lain-lain) sebelum operasi klien BAB tidak
berbentuk BAB setelah operasi pasang kolostomi BAB tidak menentu konsistensi cair
wrna kecoklatan, keluhan klien tidak bisa BAB secara normal lewat anus, klien tidak
menggunakan laxatif.
3)

Pola Personal Hygiene

Sebelum sakit, klien mandi 2x/hari, waktu pagi dan sore, menggosok gigi 3x/hari, waktu
pagi, sore dan mau tidur, cuci rambut 3x/seminggu.
Saat ini klien mandi 2x/hari waktu pagi dan sore hari dibantu istri dan perawat ,
menggosok gigi 2x/hari waktu saat mandi dan mau tidur malam dan belum cuci rambut
sudah dua hari post operasi.

4)

Pola istirahat dan tidur

Sebelum sakit klien tidak pernah tidur siang, lama tidur malam + 7 jam, kebiasaan
sebelum tidur berdoa saat ini lama tidur siang klien 2-3 jam/hari, lama tidur malam 5
jam/hari tidur terganggu karena tidur tidak nyaman dengan kantung colostomy yang
fesesnya keluar tidak tentu , kebiasaan sebelum tidur berdoa.

37
5)

Pola aktivitas dan latihan

Sebelum sakit klien suka berolah raga, jenis polly frekuensi 1x/seminggu dan tidak ada
keluhan dalam beraktivitas.
Saat ini klien tidak bias berolah raga, dan dalam beraktivitasnya sehari-hari klien dibantu
oleh istrinya. Segala aktivitas dan kegiatan klien dilakukan diatas tempat tidur dengan
cara miring kanan dan miring kiri.
6) Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Baik sebelum dan sesudah sakit klien tidak merokok dan minum-minuman keras
maupun tidak menggunakan NABZA.

3. Pengkajian Fisik
a.

Pemeriksaan Fisik Umum

Berat badan klien saat ini: 65 Kg, sebelum sakit BB: 70 Kg, tinggi badan: 165 cm,
tekanan darah: 110/70 MmHg, nadi 100x/menit. Frekuensi nafas 20x/menit, suhu tubuh
365 0C, keadaan umum lemah, tidak ada pembebasan kelenjar getah bening.
b.

Sistem Penglihatan

Posisi mata simetris, kelopak mata tidak ptosis, pergerakan bola mata bisa mengikuti
gerakan cahaya, konjungtiva merah muda, kornea putih jernih tidak ada kelainan, sklera
anikteik, pupil isokor ukuran 2/2 , tidak ada kelainan otot-otot mata fungsi penglihatan
baik tidak terdapat tanda-tanda radang (bengkak, merah dan panas), klien tidak
menggunakan kaca mata dan lensa kontak, reaksi terhadap cahaya kanan dan kiri positif.
c.

Sistem Pendengaran

38
Daun telinga simetris dapat digerakkan, tidak ada serumen pada telinga, kondisi telinga
tengah normal tidak terdapat cairan dari telinga, tidak ada perasaan penuh di telinga,
tidak ada tinitus, fungsi pendengaran baik, tidak terdapat gangguan keseimbangan dan
tidak menggunakan alat bantu dengar.
d.

Sistem Wicara

Sistem wicara tidak ada kelainan, bicara jelas dan lancar.


e.

Sistem Pernafasan

Jalan nafas bersih tidak ada sumbatan, pernafasan tidak sesak, tidak menggunakan alat
bantu nafas, frekuensi 20x/menit. Irama teratur, jenis pernafasan spontan, klien tidak ada
batuk, tidak ada sputum, suara nafas vesikuler, tidak nyeri saat bernafas, tidak
menggunakan alat bantu nafas.
f.

Sistem Kardiovaskuler

Sirkulasi peripher nadi: 100x/menit, irama teratur, denyut nadi kuat, tekanan darah
110/70 mmHg, tidak ada distensi vena jugularis kanan dan kiri, tempaeratur kulit hangat,
warna kulit agak pucat, tidak terdapat edema.
Pengisian kapiler 3 detik, kecepatan denyut apical 100x/menit, irama teratur tidak ada
kelainan bunyi jantung dan tidak ada sakit dada.
g.

Sistem Hematologi

Kulit klien agak pucat, tidak ada pendarahan seperti ptikie, mimisan, pendarahan gusi.

h.

Sistem Syaraf Pusat

Tingkat kesadaran compos mentis, GCS: 15 (Eye: 4, Motorik: 6, Verbal:5) tidak ada
tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial tidak ada gangguan system persyarafan
reflek fisiologis normal ,tidak ada reflek patologis.

39
i.

Sistem Pencernaan

Keadaan mulut klien bersih, gigi tidak karies, tidak menggunakan gigi palsu, tidak ada
stomatitis, lidah tidak kotor, salifa normal, bising usus 12x/menit, faeces dikeluarkan
lewat kolostomi tidak terkontrol, warna faeces kuning kecoklatan, konsistensi faeces
cair + 200 cc tiap BAB, hepar tidak teraba, tidak konstipasi klien terpasang kolostomi,
jenis doble barrel, pada abdomen kiri bawah, dan kantong kolostomi, terpasang di
bagian perut kiri bawah.stoma berwarna merah ,kulit sekitar stoma tidak merah tidak
bengkak, nyeri tekan epigastrium ada skala nyeri 6 dan lecet
j.

Sistem Endokrin

Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, nafas tidak berbau keton, tidak terdapat luka
gangren.
k.

Sistem Urogenital

Balance cairan 2500 cc/24 jam, output urine 2300 cc. Buang air kecil warna kunig
jernih, tidak mengalami distensi kandung kemih, klien mengeluh dengan daerah pantat
sakit terutama anus, skala nyaeri 7.
l.

Sistem Integumen

Turgor kulit baik, temperatur kulit hangat, warna kulit agak pucat, keadaan kulit di
daerah sekitar kolostomi tidak merah, lecet dan sakit, tidak bengkak, infus RL 20 tts/
menit kondisi kulit pemasangan infuse tidak merah tidak bengkak dan tidak nyeri,
keadaan rambut tekstur baik, kebersihan baik.klien 2 hari belum cuci rambut.

m.

Sistem Muskuloskektal

Klien mengalami sedikit kesulitan dalam pergerakan karena adanya kolostomy didaerah
perut kiri bawah dan sakit bilah bergerak, tidak sakit pada tulang dan sendi , tidak ada

40
kelainan bentuk tulang sendi, tidak ada kelainan struktual tulang belakang seperti
skoliosis, kiposis
Kekuatan otot
5 5 5 5
5 5 5 5

5 5 5 5
5 5 5 5

4. Data Tambahan
Klien mengatakan telah mengetahui tentang sakit yang dialaminya yaitu CA
Colorecti dari dokter dan petugas RS tapi klien tidak/belum mengetahui cara
perawatan kolostomy dan cara mengganti kantung kolostomi bila penuh nanti bilah
dirumah, klien dan keluarga pasrah menerima penyakitnya.

5. Data Penunjang
Hasil laboratorium tanggal 22 mei 2009
Hematologi
Hb

: 10,7 g/dl (13-8 g/dl)

HT

: 30% (42-52%)

Eritmosit

: 4,4 juta/ul (4,8-8,2 juta/ul)

Leukosit

: 17.700/ul (5-10.000/ul)

Trombosit

: 400.000/ul (<150-400.000/ul)

MCV

: 78 FC (80-96 FC)

MCN

: 25 PG (27-32 PG)

MCHC

: 33 g/dl (32-39 g/dl)

Boding time

: 1 menit 30 detik

Cloting time

: 2 menit 40 detik

41
KIMIA

Protein total

: 6,2 g/dl (6-86 g/dl)

Albumin

: 2,9 g/dl (3,5-5 g/dl)

Globulin

: 3,3 g/dl (2,6-3,5 g/dl)

Urium

: 21 Mg/dl (20-50 Mg/dl)

Kreatinin

: 1,4 mg/dl (0,6-1,5 Mg/dl)

Bilirubin total : 0,7 mg/dl (1,5 mg/dl)


SGPT

: 13 u/l (7-32 ul)

SGOT

: 14 u/l (7-25 ul)

Natrium

: 134 Meq/ul (135-145 Meq/ul)

Kalium

: 5,6 Meq/ul (3,5-5 Meq/ul)

Klorida

: 97 Meq/ul (100-106 Meq/ul)

GDS

: 105 Mg/dl (<140 Mg/dl)

URINALISA:
Protein

: (-)

(negatif)

Glubulin

: (-)

(negatif)

Bilirubin

: (-)

(negatif )

Eritrosit

: 1-0-1 (<2/LPB)

Leukosit

: 2-3-3 (<5/LPB)

AGD :
PH

; 7,341 (

PCO2

: 33,2

PO2

: 17,6

HCO3

: 21

42
BE

: -7,1

O2 SAT

: 97,6

Hasil pemeriksaan USG Abdomen tanggal 20/05/2009


Kesan : Tidak tampak metastasis pada daerah hepar dan organ abdomen lainnya

Hasil pemeriksaan scanning abdomen tanggal 20/05/2009


Kesan : Neoplasma maligna mengelilingi dinding rectum tidak tampak metastasis pada
hepar atau organ abdomen lainnya.

Hasil pemeriksaan Thorax photo tanggal 22/05/2009


Kesan : coor dalam batas normal, tidak ada gambaran metastase.

Hasil pemeriksaan kolon in loof tanggal 19/05/2009


Kesan : Masa rectum sigmoid suspek ganas bagian kolon lainnya normal, non filiari
Appendik

6. Penatalaksanaan
a. Therapi obat yang diberikan:
Injeksi Ciprofloxacin 2 x 1 gr/12 jam/ IV
Injeksi Tramadol 2 x 100 mg/12 jam/ IV
Injeksi Ranitidin 2 x 40 mg/12 jam/ IV
Infus RL 20 tetes/menit
c. Terapi diit: Makan Lunak TKTP

43

7. Resume
Klien bernama Tn.E, berusia 38 tahun, klien masuk RSPAD Gatot Soebroto Jakarta
rujukan dari RS Kesdam Yonif L 501 pada tanggal 17/05/2009. Melalui instalasi gawat
darurat dengan keluhan BAB Berdarah +/- 2 bulan nyeri perut kiri bawah terasa ada
yang mengganjal. Di gadar telah dilakukan tindakan pemeriksaan TTV, pemeriksaan
darah lengkap pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan di sekitar anus, saat ini klien
dirawat di L V Bedah. Pada tanggal 25-05-2009 klien dilakukan operasi pemasangan
kolostomi di kuadran kiri bawah.setelah operasi klien masuk IMCU untuk observasi post
oprasi. Klien masuk kembali keruangan lantai V bedah tanggal 27/05/2009.Masalah
yang ditemukan adalah nyeri, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, risiko kerusakan
integritas kulit.Defisit perawatan diri dan risiko infeksi .Tindakan yang dilakukan adalah
mengajarkan tekhnik relaksasi nafas dalam,mengukur TTV, membantu kebutuhan
perawatan diri klien (mandi,perawatan mulut,cuci rambut), mengajarkan cara
membersihkan dan mengganti colostomy bag , menganjurkan klien makan dalam porsi
kecil tapi sering dalam keadaan masih hangat,Melakukan perawatan colostomy setiap
hari (pagi), membantu membersihakandan mengganti colostomy setiap kali penuh,
memberikan obat analgetik injeksi tramadol 100 mg IV/12 jam, memberikan obat
Antibiotik Injeksi Ciprofloksasin 1 Gram IV/12 jam,memberikan injeksi ranitidin 40
mgIV/12 jam .Dari kelima diagnosa yang ditemukan semua masalah belum teratasi.

8. Data Fokus
a. Data Subyektif

44
Klien mengatakan:
Nyeri pada daerah perut kiri bawah sampai sekitar anus skala nyeri 7,nyeri bila
beraktivitas klien tidak nafsu makan karena mual (+) muntah (-),BAB tidak terkontrol
dan sering konsistensi cair warna kuning kecoklatan, BB sebelum sakit 70 kg ,sulit bila
bergerak, segala aktivitas dilakukan di tempat tidur dibantu istri dan perawat,terpasang
colostomy didaerah perut bawah (25/05/2009) badan terasa lemas,
b. Data obyektif
Keadaan umum klien lemah
Kesadaran compos mentis GCS (E-4, M-6, V-5, tampak lemas, TTV, TD, 110/70 mmHg,
nadi 100 x/ menit, suhu 3650C, RR 20 x/menit.
Tampak terpasang kolostomi dibagian perut bawah sebelah kiri, sejak tanggal 25-052009 jenis doble barrel, daerah pemasangan kolostomi tidak merah, lecet di bagian yang
sakit tidak bengkak dan tidak panas. Ekspresi wajah klien tampak meringis kesakitan,
tampak memegang bagian yang sakit terutama bila beraktivitas,BAB cair + 200cc sering
warna kuning kecoklatan
BB klien sebelum sakit : 70 Kg, TB klien : 165 cm, saat ini BB 65 Kg,
Makan habis porsi dari yang disajikan
Hasil laboratorium tanggal 22/05/2009
Leukosit

: 17.700/ul

(5-10.000/ul)

Albumin

: 2,9 g/dl

(3,5 g/dl)

Hb

: 10,7 g/dl

(13-18 g/dl)

SGPT

: 13 u/l

(7-32 ul)

SGOT

: 14 u/l

(7-25 ul)

Natrium

: 134 MEq/ul (135-145 MEq/ul)

45
Kalium

: 5,6 MEq/ul (135-145 MEq/ul)

Klorida

: 97 MEq/ul

GDS

: 105 MEq/ul (<140 Mq/dl)

(100-106 MEq/ul)

Terapi obat yang diberikan:


Injeksi Ciprofloxacin 2 x 1 gr/12 jam/ IV
Injeksi Tramadol 2 x 100 mg/12 jam/ IV
Injeksi Ranitidin 2 x 40 mg/12 jam/ IV
Terpasang infuse RL 20 tetes/menit daerah penusukan infuse tidak merah, tidak
bengkak, dan tidak sakit.

9. Analisa Data
NO
1.

DATA
DS:
-

Klien mengatakan sakit pada daerah

MASALAH
Nyeri akut

ETIOLOGI
Terputusnya
kontinuitas

perut kiri bawah sampai di bagian sekitar

jaringan kulit

anus

skunder terhadap

Skala nyeri 7

DO

tindakan
pembedahan

Keadaan umum klien lemah

Kesadaran compos mentis

Klien tampak memegang bagian


yang sakit

46
-

Ekspresi

wajah

klien

tampak

meringis kesakitan
-

Tampak terpasang kolostomi di


bagian perut bawah kiri (25/05/2009)
jenis dable barrel

TTV: TD 110/70 mmg, nadi : 100


x/menit, RR: 20x/menit, suhu 3650C
-

Terapi obat yang diberikan Injeksi

Tramadol 2 x 100 mg/12 jam/ IV

2.

DS:
-

Risiko
Klien

mengatakan

terpasang kerusakan

kolostomi sejak tanggal 25-05-2009 jenis integritas kulit


doble berral pada perut kiri bawah.
-

Klien
pemasangan

mengatakan
kolostomi

daerah

tidak

merah,

lecet,di daerah yang sakit dan tidak


bengkak
DO:
-

Kesadaran klien compos mentis

Keadaan umum klien lemah

Daerah

sekitar

pemasangan

Tindakan operasi
pemasangan
kolostomi

47
kolostomi tidak merah, tidak lecet, tidak
bengkak dan sakit
-

Tampak terpasang kolostomi di


bagian

perut

bawah

sebelah

kiri

(25/05/2009) jenis dable barrel


-

Leukosit tanggal 22/05/2009 yaitu


17.700/ul

48
3.

DS:
-

Risiko
Klien

mengatakan

tidak

Intake yang tidak

nafsu perubahan

makan

nutrisi

adekuat (mual dan

kurang anorexia serta

Mual (+) muntah (-)

dari kebutuhan output yang tidak

Badan terasa lemas

tubuh

Bab tidak terkontrol dan sering


konsistensi cair warna kuning kecoklatan

DO:
-

Keadaan umum klien lemah

Kesadaran klien compos mentis

Klien tampak lemas

Diet ML TKTP

Makan habis porsi

BB saat ini: 65 Kg

BB sebelum sakit: 70 Kg

TB : 165 cm

Hasil albumin tanggal 25-05-2009


2,9 g/dl (3,5-5 g/dl) HB: 10,7 g/dl (14-18
g/dl) GDS : 105 mg/dl (< 140 mg/dl)
-

obat

yang

diberikan

Injeksi

Ranitidin 2 x 40 mg/12 jam/ IV

terkontrol

49
4

DS
-

Defisit

Keterbatasan

klen mengatakan sulit bila bergerak perawatan

diri mobilitas fisik

dan mengatakan segala aktivitas (mandi,

oral sekunder terhadap

dilakukan di tempat tidur di bantu hygiene,

cuci tindakan

keluarga dan perawat

rambut,

DO

pembedahan

personal

keadaan umum tampak lemah

hygiene

Kesadaran Composmentis

perawatan

Klen bila melakukan aktivitas di colostomy)

dan

tempat tidur segala keperluan di


bantu keluarga dan perawat
-

Tampak terpasang kolostomi di


bagian perut bawah sebelah kiri
(25/05/2009) jenis dable barrel

TTV, TD, 110/70 mmHg, nadi 100


x/ menit, suhu 3650C, RR 20
x/menit.

Operasi

laparatomy

dan

pemasangan colostomy hari ke 3


5

DS

Risiko infeksi

DO

Masuknya MO
sekunder terhadap

Tampak terpasang colostomy dable

tindakan infasif

barrel (25/05/2009) diperut kiri

pembedahan

bawah daerah sekitar colostomy

(colostomy) dan

50

tidak merah tidak bengkak ada lecet

tindakan

didaerah yang sakit

pemasangan

Terpasang infuse RL 20 tetes/menit

infuse

ditangan kiri daerah penusukan


tidak ada tanda-tanda infeksi seperti
(merah,bengkak,panas,nyeri)
-

TTV, TD, 110/70 mmHg, nadi 100


x/ menit, suhu 3650C, RR 20
x/menit.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil pengkajian dan analisa data maka
disusun diagnosa keperawatan berdaarkan skala prioritas sebagai berikut:
1.

Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan kulit sekunder


terhadap tindakan pembedahan(colostomy)

2.

Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tindakan operasi


pemasangan kolostomi

3.

Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


Intake yang tidak adekuat (mual (+) dan anorexia serta output yang tidak terkontrol
)

51
4.

Defisit perawatan diri (mandi,oral hygiene,cuci rambut,perawatan colostomy b.d


keterbatasan mobilitas fisik skunder terhadap tindakan pembedahan.

5.

Risiko infeksi b.d masuknya MO skunder terhadap tindakan infasif pembedahan


colostomy dan pemasangan infus

C. RENCANA KEPERAWATAN
1. Nyeri (akut) b.d terputusnya kontinuitas jaringan kulit sekunder terhadap
tindakan pembedahan.
Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri
berkurang atau hilang.
Kriteria hasil: 1. Skala nyeri berkurang 1-3; 2. spresi wajah klien tampak rileks; 3 TTV
dalam batas normal, TD 110/70-12/80 mmHg, H.80-88xmenit, suhu 36-37 0C, RR 1624x/menit; 4 Dapat mengungkapkan nyeri berkurang, 5. Klien dapat melakukan tekhnik
relasasi nafas dalam bila timbul nyeri dan tekhnik pengalihan.
Perencanaan : 1. Kaji skala nyeri meliputi karakteristik dan intensitas dengan skala 1-10;
2. Kaji faktor yang dapat menurunkan dan meningkatkan nyeri; 3. Anjurkan klien untuk
mengungkapkan rasa nyerinya, dan dengarkan keluhan klien; 4. Anjurkan

teknik

relaksasi nafas dalam bila timbul nyeri dengan cara menarik nafas dalam melalui hidung
tahan selama beberapa detik dan hembuskan melalui mulut perlahan-lahan; 5. Untuk
TTV tiap 8 jam; 6. Berikan obat analgetik: injeksi tramadol 100 mg /IV/12 jam
Pelaksanaan: Tanggal 27/05/2009
Jam 08.00 mengobservasi keadaan umum klien hasil : keadaan umum klien lemah,
kesadaran compos mentis, jam 09.00 mengukur TTV. Hasil : TD 110/70 mmHg,
N 100x/ menit, suhu 3650C, RR 20x/menit, jam 09.30 Mengkaji skala nyeri. Hasil :
skala nyeri 7 didaerah perut kiri bawah, jam 09.45 Menganjurkan klien untuk melakukan

52
tekhnik relaksasi nafas dalam, jam 14.30 Mengukur TTV. Hasil : TD 110/70 mmHg,
nadi 88x/menit, suhu 360C, RR 20x/menit, jam 18.00 Mengkaji skala nyeri. Hasil skala
nyeri 5, jam 18.30 Menganjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi. Nafas dalam
jika timbul nyeri. Hasil : klien nampak melakukannya, jam 20.00 Memberikan obat
analgetik sesuai program. Hasil : injeksi tramadol 100 mg/ IV obat masuk tidak ada
reaksi alergi.
Pelaksanaan tanggal 28/05/2009
Jam 06.30 Mengkaji skala nyeri. Hasil skala nyeri 5, pukul 08.00 memberikan injeksi
tramadol 100 mg obat masuk tidak ada tanda-tanda alergi., jam 09.00 Mengukur TTV.
Hasil TD 120/80 mmHg, suhu 3650C, nadi 84x/menit, RR 20x/menit, jam 11.00
Menganjurkan klien untuk melakukan teknik relaksaasi nafas dalam. Hasil klien
melakukannya, diberikan, jam 15.00 Mengukur TTV. Hasil : TD 120/80 mmHg, suhu
3650C, nadi 88x/menit, RR 20x/menit, jam 18.00 Mengkaji skala nyeri. Hasil skala nyeri
5, jam 18.30 Menganjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam jika
timbul nyeri. Hasil : klien tampak melakukannya, jam 20.00 Memberikan obat
analegetik sesuai porgam injeksi tramadol 100 mg/IV, obat masuk klien tidak alergi
Pelaksanaan tanggal 29/05/2009
Jam 06.00 Mengkaji skala nyeri, hasil skala nyeri 6, jam 08.00 Memberikan obat
analgetik sesuai program. Hasil : injeksi tramadol 100 mg/ IV obat masuk tidak ada
reaksi alergi.
09.00 Mengukur TTV. Hasil TD 120/70 mmHg, suhu 365 0C nadi 84x/menit, RR
20x/menit, jam 10.00 Mengkaji skala nyeri, hasil skala nyeri 5, jam 10.30. Memberikan
klien untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam. Hasil klien nampak melakukannya,
diberikan,

53
Evaluasi:
Tanggal 29/05/2009
S Klien mengatakan masih sakit di daerah sekitar anus, dengan skala nyeri 5
O Klien tampak meringis kesakitan bila melakukan aktivitas
Ekspresi wajah klien tampak meringis kesakitan
Klien tampak memegang bagian yang sakit
A Tujuan belum tercapai, masalah belum teratasi
P

2.

Tindakan keperawatan dilanjutkan pada no. 1, 4, 5, 6

Resiko kerusakan integritas kulit b.d tindakan operasi pemasangan


kolostomi

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak
terjadi risiko integritas kulit.
Kriteria hasil: 1. Daerah sekitar st oma tidak terjadi peradangan (merah, bengkak dan
sakit), 2. Keadaan kulit tetap utuh pada area pemasangan kolostomi, 3. Tidak terdapat
rasa gatal dan terbakar, lecet pada area kolostomi, 4. Klien dapat melakukan perawatan
kolostomi.
Perencanaan 1. Kaji keadaan kulit, catat adanya iritasi atau kemerahan, 2. Anjurkan
klien tidak menggaruk pada area stoma, 3. Observasi adanya keluhan rasa gatal, di
sekitar stoma, 4. Lakukan perawatan kulit atau kolostomi dengan cara membersihkan
area di sekitar kolostomi setiap pagi atau bila kolostomi bag penuh kepada klien dan
libatkan keluarga dalam perawatan kolostomi.
Pelaksanaan: 27/05/2009

54
Jam 10: Melakukan pengobatan kolostomi dengan menggunakan teknik septik dan
antiseptik dengan cairan Nacl 0,9% dicampur betadin 10%. Hasil stoma tampak bensin
dan balutan stoma diganti, jam 11 Mengobservasi daerah stoma, hasil daerah stoma tidak
merah, gatal dan sakit, jam 12 Mengajarkan kepada klien dan keluarga tentang cara
perawatan kolostomi yang benar hasil: klien dan keluarga mengerti, jam 18 melakukan
perawatan kolostomi dengan menggunakan teknik.
Aseptik dan anti septik dengan cairan NACL 0,9% dan betadin 10%. Hasil stoma
tampak bersih dan balutan stoma diganti, jam 19 Menganjurkan pada klien agar tidak
menggaruk pada daerah stoma hasil klien.
Pelaksanaan 28/05/2009
Jam 09 Melakukan perawatan kolostomi dengan menggunakan tekhnik aseptik dan
antiseptik dengan cairan Nacl 0,9%, hasil stoma tampak bersih dan balutan stoma
diganti, jam 10 Mengobservasi daerah stoma hasil : daerah stoma tidak gatal, tidak
merah dan tidak sakit, jam 12 Menganjurkan klien agar tidak menggaruk pada bagian.
Stoma, hasil klien mengerti, jam 18 Melakukan perawatan kolostomi dengan
menggunakan teknik septik dan anti septik dengan cairan NACL 0,9% dan betadin 10%.
Hasil stoma tampak bersih dan balutan stoma diganti, jam 19 Mengobservasi daerah
stoma, hasil tidak ada gatal, merah dan sakit.

Pelaksanaan 29/05/2009
Jam 09.00 Melakukan perawatan kolostomi dengan menggunakan teknik septik dan
antiseptik dengan menggunakan cairan Nacl 0,9% dicampur betadin 10%. Hasil stoma
tampak bersih dan balutan, Jam 10.00 Mengobservasi dengan stoma, hasil tidak ada

55
gatal, merah di sekitar stoma, jam 12 Menganjurkan pada klien agar tidak menggaruk
pada daerah stoma. Hasil klien mengerti,
Evaluasi
Tanggal 29/05/2009
S

Klien mengatakan tidak terasa gatal dan lecet pada area kolostomi.
Klien mengatakan akan melakukan perawatan kolostomi sendiri

Klien sudah dapat melakukan perawatan kolostomi


Tidak terdapat lecet/kemerahan pada area kolostomi
Stoma tampak merah dan lembab.

Tujuan tercapai sebagian, masalah belum teratasi

Tindakan keperawatan dilanjutkan no. 2, 3, 4.


3. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat mual (+), muntah (-) dan anoreksiadan
output yang tidak terkontrol

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan
nutrisi terpenuhi.
Kriteria Hasil: 1. Mual, tidak ada, 2. Nafsu makan klien meningkat secara bertahap, 3.
Wajah klien tampak ceria, 4. Badan terlihat segar, 5. Berat badan klien naik kg selama
3 hari.6. makan habis 1 porsi
Perencanaan: 1. Kaji kebutuhan nutrisi dan kemampuan klien setiap hari, 2. Catat dan
laporkan perasaan mual, muntah (Anoreksia), 3. Timbang berat badan setiap 2 hari
sekali, 4. Berikan diet ML TKTP tinggi serat dalam porsi kecil tapi sering dalam
keadaan masih hangat.5. control cairan yang masuk dan cairan yang keluar dan catat.
Pelaksanaan Tanggal 27/05/2009

56
Jam 11.00 Memberikan ekstra snack dan teh manis hasil: klien mau makan snack dan
minum tehh manis 1 gelas. Jam 12.00 Memberikan makan siang ML TKTP tinggi serat,
hasil: klien makan habis porsi. Jam 18.00 Memberikan makan sore ML TKTP tinggi
serat, hasil: klien mau makan habis porsi. Jam 19.00 Mengajarkan klien untuk makan
sering dengna porsi kecil dalam keadaan makanan masih hangat, hasil: klien mengerti
dan mau mengikutinya anjuran perawat. Jam 06.00 Memberikan makan pagi diet ML
TKTP tinggi serat, hasil: klien makan mau habis porsi.
Pelaksanaan tanggal 28/05/2009
Jam 10.30 Memberikan ekstra buah pisang dan teh manis, hasil: klien mau makan buah
pisang dan teh manis 1 gelas. Jam 12.30 Memberikan makan siang ML TKTP tinggi.
Serat, hasil: klien mau makan siang habis porsi tidak muntah. Jam 18.00 Memberikan
makan sore habis porsi sebelumnya Injeksi ranitidine 40 mg/IV obat masuk klien
tidak alergi .
Pelaksanaan tanggal 29/05/2009
Jam 06.00 Memberikan makan pagi MB tinggi serat, hasil: klien mau makan habis
porsi sebelumnya Injeksi ranitidine 40 mg/IV obat masuk klien tidak alergi , jam 10.30
Memberikan ekstra buah pepaya dan termanis, hasil: klien mau makan buah pepaya dan
teh manis 1 gelas. Jam 12.30 Memberikan makan siang MB tinggi serat, hasil: klien mau
makan siang habis porsi.
Evaluasi
Tanggal 29/05/2009
S

Klien mengatakan masih mual, nafsu makan sudah


mulai ada

Berat badan saat ini 65 kg,


Turgor kulit sedang

57
Makan habis porsi
A

Tujuan tercapai sebagian, masalah belum teratasi

Tindakan keperawatan dilanjutkan dengan memberikan diet ML TKTP tinggi serat


dan
timbang berat badan 2 hari sekali.
4. Defisit

perawatan

diri

(mandi,oral

hygiene,cuci

rambut,perawatan

colostomy b.d keterbatasan mobilitas fisik skunder terhadap tindakan


pembedahan
5. Risiko terjadinya infeksi berhubungan dengan masuknya M.O. sekunder
terhadap luka insisi pembedahan dan tindakan infasif pemasangan infus .
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak
terjadi tanda-tanda infeksi.
Kriteria hasil : 1) Daerah luka colostomy tidak ada tanda-tanda infeksi seperti merah,
bengkak, panas, sakit. 2) Stoma merah, pus (-), darah (-). 3) TTV dalam batas
normal,terutama :Suhu :36 - 37o C. 4) Leukosit dalam batas normal (4400-11300/ul) 5)
kaji daerah pemasangan infuse tidak ada tanda- tanda infeksi tidak merah tidak bengkak
tidak nyeri dan tidak panas
Perencanaan

: 1) Kaji daerah luka dan kondisi balutan klien dari pus dan darah. 2)

Ukur TTV klien tiap 8 jam terutama Suhu. 3) Pertahankan teknik septik dan antiseptik
dalam melakukan perawatan luka pada colostomy dan pada perawatan infus setiap hari.
4) Lakukan perawatan luka dengan menggunakan Betadine 10 % dan Supratul 1 hari
sekali sesuai program. 5) Berikan obat-obatan antibiotik seperti Ciprofloxacin 2 x1 g
atau pada pukul 08.00 wib dan pukul 20.00 wib sesuai program.

58
Pelaksanaan
27/05/2009
Pkl 07.30 mengukur TTV klien, hasil : S= 36,5 0C,N= 96 x/mnt, RR=22 x/mnt,
TD=130/80 mmHg. Pkl 08.00 memberikan klien obat injeksi Ciprofloxacin 1g/IV, hasil :
obat masuk tidak ada tanda-tanda alergi . Pkl 08.40 mengobservasi daerah luka operasi
klien, hasil daerah balutan luka tampak kering dan bersih stoma merah colostomy bag
terpasang dengan baik. Pkl 14.00 mengukur TTV klien, hasil : TD= 120/80 mmHg, S
=36,7 0C, RR=20 x/mnt, N = 88x/mnt. Pkl 20.00 memberikan klien obat injeksi
Ciprofloxacin 1g/IV, hasil : obat masuk tidak ada tanda-tanda alergi . Pkl 21.00
mengukur TTV klien, hasil : S= 36,5 0C,N= 80 x/mnt, RR=20 x/mnt, TD=120/80
mmHg.
28/05/2009
Pkl 07.30 mengukur TTV klien, hasil : S= 36,7 0C,N= 92 x/mnt, RR=22 x/mnt, TD
=120/80 mmHg. Pkl 08.00 memberikan klien obat injeksi Ciprofloxacin 1 g/IV, hasil :
obat masuk klien tidak alergi . Pkl 08.30 melakukan perawatan luka pada klien
menggunakan betadin dan supratul, hasil luka klien tampak bersih dan kering, pus (-),
darah (-),stoma merah colostomy bag terpasang dengan baik . Pkl 14.00 mengukur TTV
klien, hasil : TD= 120/90 mmHg, S=36,5 0C, RR=20 x/mnt, N = 90x/mnt. Pkl 20.00
memberikan klien obat injeksi Ciprofloxacin 1 g/IV, hasil : obat masuk tidak ada tanda
alergi . Pkl 21.00 mengukur TTV klien, hasil : S= 36 0C,N= 88 x/mnt, RR=18 x/mnt,
TD=120/80 mmHg.

59
29/05/2009
Pkl 07.30 mengukur TTV klien, hasil : S= 37 0C, N= 90 x/mnt, RR=20 x/mnt, TD
=130/80 mmHg. Pkl 08.00 memberikan klien obat Injeksi Ciprofloxacin 1 g/IV, hasil :
obat masukklien tidak alergi. Pkl 08.30 melakukan perawatan luka pada klien
menggunakan Betadin 10 % dan supratul, hasil luka klien tampak bersih dan kering, pus
(-), darah (-), , luka tidak ada tanda-tanda perdarahan melakukan perawatan infuse
dengan menggunakan betadine 10% dengan menggunakan tehnik aseptic dan antiseptic .
Evaluasi
29/05/2009
S

: Klien mengatakan daerah bekas operasi dan daerah sekitar colostomy tidak
sakit, panas atau gatal.

:Daerah luka klien tampak bersih, kering, pus (-), darah (-),, tidak terdapat tandatanda infeksi seperti merah, bengkak, panas pada luka klien. TTV klien suhu 36
0

C, klien post operasi hari ke 17, leukosit klien 10.900 /ul.

: Tujuan tercapai sebagian, masalah belum teratasi.

: Tindakan keperawatan dilanjutkan sesuai dengan perencanaan no 1,2,3,4,5 dan


didelegasikan pada perawat diruangan.

60

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas tentang kesenjangan antara teori dan kasus
meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

A.

Pengkajian

Pada tahap pengkajian, ditemukan adanya kesenjangan. Pada teori ditemukan perdarah
peranus sedangkan pada kasus tidak ditemukan adanya perdararahan peranus karena
klien sudah dilakukan kolostomi pada tanggal 25/05/2009. Pada teori ditemukan adanya
faktor stress sedangakan pada kasus tidak ada karena klien sudah dapat menerimanya.
Pada teori terdapat edema dan perubahan turgor kulit. Tapi pada kasus tidak ditemukan
edema dan perubahan turgor kulit karena kebutuhan cairan klien terpenuhi dan
seimbang. Sedangkan yang ada pada kasus dan tidak ada pada teori, yaitu pada kasus
terdapat pemasangan kolostomi dan daerah pemasangan kolostomi tidak bengkak dan
merah. Hal ini dikarenakan pada kasus klien sudah dilakukan laparotomi dan
pemasangan kolostomi. Pemerikasaan penunjang yang sudah dilakukan pada Tn. E
adalah pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan urinalisasi, pemeriksaan colon inloop
dan pemeriksaan Scanning Abdomen dan Foto Thorax USG Abdomen,
Sedangkan pemeriksaan penunjang yang ada pada teori dan tidak ada pada kasus adalah
Endoskopi, Radiologi, Histopatologi. Pada saat pengkajian penulis tidak mendapatkan
hambatan karena klien dan keluarga sangat kooperatif memberikan informasi yang
dibutuhkan.

61

B.

Diagnosa Keperawatan

Dignosa keperawatan pada teori ditemukan 7 diagnosa keperawatan, sedangkan pada


kasus hanya ditemukan 5 diagnosa keperawatan. Diagnosa yang ditemukan diteori dan
tidak ada pada kasus adalah sebagai berikut:
1.

Ansietas/ ketakutan berhubungan dengan krisis situasi


(kanker). Diagnosa ini tidak diangkat karena klien tidak cemas dan dapat menerima
keadaanya.

2.

Resiko tinggi

terhadap kekurangan volume

cairan

berhubungan dengan kerusakan masukan cairan. Diagnosa ini tidak diangkat karena
masukan cairan klien terpenuhi dan masih seimbang.
3.

Keletihan berhubungan dengan perubahan kimia tubuh.


Efek samping obat-obatan kemoterapi. Diagnosa ini tidak diangkat karena klien
belum dilakukan kemoterapi.

4.

Resiko tinggi terhadap konstipasi atau diare berhubungan


dengan karsinoma kolon.

Diagnosa ini tidak ditemukan karena klien sudah dipasang kolostomi.


Pada diagnosa keperawatan tidak ditemukan hambatan, karena diagnosa dirumuskan
berdasarkan data yang ada sebagai respon klien terhadap penyakitnya.

C.

Perencanaan

Menurut teori langkah-langkah perencanaan meliputi prioritas masalah, menetapkan


tujuan dan kriteria evaluasi, serta menyusun rencana tindakan. Prioritas masalah pada

62
kasus berbeda dengan teori. Pada kasus masalah yamg penulis prioritaskan pertama
adalah nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan kulit skunder
terhadap tindakan pembedahan karena nyeri pada klien dan harus segera diatasi dengan
cepat. prioritas kedua yaitu resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
tindakan operasi pemasangan kolostomi. Karena jika hal ini tidak segera ditangani akan
menimbulkan masalah baru bagi klien (lecet) jadi harus ditangani dengan segera.
Prioritas ketiga yaitu resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh,
berhubungan dengan mual, dan Anoreksia serta tidak terkontrolnya output pada
colostomy karena mual pada klien tidak sering dan klien masih dapat menghabiskan
porsi makanan yang disajikan.prioritas keempat defisit perawatan diri bisa dilakukan
keluarga dan klien secara bertahap sedangkan prioritas kelima adalah risiko infeksi
berhubungan dengan masuknya mikroorganisme skunder terhadap tindakan pembedahan
colostomy dan tindakan infasif pemasangan infus ini bisa dicegah dengan menggunakan
tehnik septik dan antiseptik.

Pada penetapan tujuan juga ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus teori
tidak ada batasan waktu dalam mengatasi masalah, sedangkan pada kasus penulis
menetapkan batasan waktu sebagai patokan dalam mengukur pencapaian tujuan akhir.
Pada kasus untuk mencapai tujuan terhadap masalah klien ditetapkan 3x24 jam, karena
penulis diberikan kesempatan memberikan asuhan keperawatan selama 3 hari. Hal ini
berdampak pula pada penetapan kriteria disesuaikan dengan waktu yang diberikan
dalam memberikan asuhan keperawatan.

63
Pada perencanaan tindakan pada kasus disesuaikan dengan diagnosa keperawatan yang
ditemukan pada klien. Dalam menyusun rencana tindakan disusun secara sistematis,
operasional, agar rencana yang dibuat dapat ditindaklanjuti oleh perawat.
Yang dinas selanjutnya. Dalam perencanaan penulis tidak mengalami hambatan karena
setiap rencana disusun sesuai dengan kondisi klien dan mengacu pada teori serta
mendapat dukungan dan kerjasama dari klien dan perawat ruangan.

D.

Pelaksanaan

Pada pelaksanaan semua rencana tindakan dapat dilaksanakan sesuai rencana yang telah
disusun dan disesuaikan dengan kondisi klien. Semua tindakan yang dilakukan dan
respon klien terhadap setiap tindakan untuk mengatasi diagnosa keperawatan yang
ditemukan didokumentasikan pada catatan keperawatan. Selain itu juga setiap perawat
yang melakukan dokumentasi dengan mencatat semua tindakan yang diintervensi, waktu
pelaksanaan tindakan dan menandatangani catatan pcrawatan yang dilakukan.

Faktor penghambat yang penulis dapatkan adanya perawatan luka menggunakan set
perawatan luka yang pada prinsipnya steril tetapi kurang maksimal karena set luka
hanya satu dan dipakai untuk beberapa pasien. Selain itu juga perawat dinas sore dan
dinas malam belum mendokumentasikan tindakan dan respon klien secara lengkap
sehingga menyulitkan penulis untuk mengetahui tindakan yang dilakukan serta
bagaimana respon klien terhadap tindakan tersebut. Upaya yang dilakukan penulis untuk
mengatasi hambatan tersebut adalah dengan melakukan desinfeksi terhadap alat yang
digunakan langsung kepada klien dan berusaha mendahulukan perawatan luka bagi klien
post operasi. Sedangkan untuk mengatasi kendala dalam pendokumentasian penulis

64
menanyakan langsung kepada perawat yang bertanggung jawab pada saat dinas sore atau
dinas malam. Faktor pendukung dalarn memberikan asuhan keperawatan pada klien ini
adalah klien dan keluarga sangat kooperatif dan mau menerima tindakan keperawatan.
Yang diberikan penulis. Faktor penghambat lain adalah tidak tersedianya bag kolostomi
yang sesuai standar, selanjutnya kolostomi yang dipakai adalah kolostomi bag yang
dibuat oleh keluarga menggunakan kantong plastik ukuran 1 Kg dan lem perekat, untuk
itu penulis menghubungi perawat yang spesialis menangani perawatan klien kolostomi
untuk merekomendasikan pengadaan kolostomi bag yang sesuai standar.

E.

Evaluasi

Setelah melakukan tindakan keperawatan, maka langkah yang terakhir adalah evaluasi
terhadap diagnosa keperawatan yang ditemukan pada klien. Dari 5 diagnosa
keperawatan yang ditemukan pada klien, belum ada diagnosa keperawatan yang teratasi.

Dalam evaluasi penulis mengalami hambatan khususnya dalam melakukan evaluasi


proses dan evaluasi hasil. Hal ini disebabkan karena pendokumentasian yang dilakukan
terhadap respon tindakan belum optimal dilakukan. Misalnya bagaimana kondisi klien
setelah dilakukan tindakan keperawatan. Untuk mengatasi hal tersebut perawat
bekerjasama dengan penanggung jawab ruangan dan klien serta keluarga, sehingga
penulis dapat melakukan evaluasi terhadap setiap diagnosan keperawatan yang
ditemukan. Faktor penunjang, klien dan keluarga serta perawat diruangan dapat
bekerjasama dengan penulis sehingga asuhan keperawatan dapat dilaksanakan sesuai
dengan perencanaan yang telah disusun.

65

BAB V
PENUTUP

Pada bab ini penulis akan menyimpulkan hasil pembahasan yang telah dilakukan. Untuk
selanjutnya memberikan masukan berupa saran yang nantinya dapat bermanfaat bagi
rumah sakit, perawat, klien dan keluarga.

A. Kesimpulan
Setelah memberikan asuhan keperawatan dan melakukan pembahasan antara teori dan
kasus, maka penulis dapat membuat keseimpulan sebagai berikut:

1. Pada pengkajian, data yang ditemukan sesuai dengan respon klien terhadap
penyakitnya sehingga data yang ditemukan tidak selalu sesuai dengan teori. Hal ini
memberikan pengalaman bagi penulis bahwa respon klien terhadap penyakit berbeda
tergantung tingkat keparahan dan penerimaan klien terhadap penyakitnya. Selain itu
kerjasama dengan klien dan keluarga sangat membantu sehingga dalam pengkajian tidak
menemukan hambatan.

2. Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada kasus tidak selalu sama dengan diagnosa
pada teori, karena diagnosa keperawatan pada kasus disesuaikan dengan data yang

66
diperoleh pada pengkajian sebagai respon klien terhadap penyakitnya, sehingga pada
kasus hanya ditemukan tiga diagnosa keperawatan yang perlu diatasi oleh perawat.
Hal ini memberikan pengalaman pada penulis bahwa diagnosa keperawatan dirumuskan
berdasarkan data yang diperoleh sebagai respon klien terhadap penyakitnya.

3. Perencanaan dibuat sesuai dengan kondisi k1ien, mulai dari penentuan prioritas,
penetapan tujuan dan kriteria evaluasi, serta menyusun rencana tindakan. Pada
penetapan tujuan ditentukan waktu pencapaian tujuan sebagai dasar untuk melakukan
evaluasi hasil. Rencana tindakan dibuat sisternatis dan operasional agar dapat
dilaksanakan oleh perawat dinas sore dan dinas malam atau perawat yang akan
menindak lanjuti asuhan yang diberikan.

4. Pelaksanaan pada kasus disesuaikan dengan rencana yang telah dibuat, dan semua
tindakan yang dilakukan didokumentasikan pada catatan keperawatan yang meliputi
nomor diagnosa yang dilakukan tindakan, waktu, tindakan dan respon klien serta tanda
tangan perawat yang melaksanakan tindakan. Pada pelaksanaan hambatan yang
ditemukan adalah penyediaan alat set luka yang terbatas, kantong kolostomi yang tidak
standar dan pendokumentasian di ruangan belum optimal.

5. Evaluasi asuhan keperawatan dari lima diagnosa yang ditemukan, belum ada diagnosa
yang teratasi. Sedangkan satu diagnosa tercapai sebagian, karena kondisi klien yang
masih berisiko untuk terjadi masalah tersebut.

67
B. Saran
Setelah penulis menguraikan dan menyimpulkan, penulis dapat mengidentifikasi
kelebihan dan kekurangan yang ada, maka selanjutnya penulis akan menyampaikan
saran yang ditujukkan pada perawat ruangan, klien dan keluarga sebagai berikut :

1. Kerjasama dengan klien dan keluarga tetap dipertahankan dan ditingkatkan agar
asuhan keperawatan yang diberikan pada klien akan lebih optimal

2. Untuk perawat hendaknya dalam melakukan perawatan luka, set perawatan luka satu
kali pakai. Serta mengajukan kepada instalasi untuk menyediakan set luka sesuai dengan
jumlah klien dan dilengkapi fasilitas bag kolostomi yang sesuai standar.

3. Untuk

perawat

supaya

setiap

kali

melakukan

tindakan

keperawatan

mendokumentasikan semua tindakan dan respon klien terhadap tindakan yang dilakukan
agar dapat melakukan evaluasi secara akurat.

68

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, E. Marilynn. (1999). Nursing Care Plan Guidelines For Planning and
Documenting Patient Care. (I Made Kariasa : Penerjemah). Philadelphia : F.A
Davis Company. (Sumber asli diterbitkan 1993)
Gale, Danielle Jone Charette. (1992). Oncology Nursing Care Plans (I Made Kariasa :
Penerjemah). Texas : Skidmore-Roth. (Sumber asli diterbitkan 1995).
Price, A Sylvia. Anderson. (1997). Pathophysiology Clinical Concepts Of Desease
Processes Vol. 2/6 ed. (Brahm U Pendit : Penerjemah). Philadelphia : Mosby Year
Book. (Sumber asli diterbitkan 1996).
R. Syamsu Hidayat, Wim De Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Susan (2001. Brunner and Suddarth Textbook of Medical Surgical Nursing.
Agung Wahyu : Penerjemah). Philadelphia : Lipincott-Raven Publishers. (Sumber
asli diterbitkan 1996).
Tucker, M Susan. (1998). Standar Perawatan Pasien Vol.4 Ed 5. Jakarta : EGC. (731733)
http : //www.republika.co.id.Republika Online, Jumat 13 Juli 2007

69

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN


POST OP KOLOSTOMI EC KANKER KOLON
DI RUANG LANTAI IV BEDAH
RSPAD GATOT SOEBROTO
JAKARTA

OLEH :
MUSTAIN
NIM 08.120

RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GOTOT SOEBROTO


AKADEMI KEPERAWATAN
JAKARTA 2009

70

PATOFISIOLOGI

Faktor demografi, genetik/keturunan, riwayat keluarga dengan tumor, kebiasaan makan


tinggi serat, makanan rendah serat, diet tinggi lemak, riwayat ulserative, polip pada
kolon dan rektal, obesitas, kurang aktivitas, riwayat peminum alkohol.

Meningkatkan asam empedu sekunder bersifat co carsinogen transit di kolon dalam


jangka lama.

Kontak karsinogen pada mukosa kolon dan rektal.

Lesi pada mukosa kolon dan rektal.

Kanker kolon dan rektal.

Nyeri daerah abdomen, kembung, perubahan pergerakan rektum, teraba massa pada
abdomen, perdarahan pada rektum, anemia.

Kematian.

71