Anda di halaman 1dari 35

Perubahan Luas dan Kerapatan Hutan

Mangrove di Pesisir Timur Surabaya


Menggunakan Citra Landsat

Maulana Dwi Prasetya 2010.02.4.0005


Supriyatno Widagdo, S.T.,M.Si.
Anang Dwi Purwanto, S.T.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia memiliki mangrove yang terluas di dunia yaitu sekitar
4,25 juta Ha (Nontji, 2005).
Salah satu lokasi mangrove di Indonesia adalah kawasan Pesisir
Timur Surabaya, namun hutan mangrove di kawasan pesisir Timur
Surabaya seiring berjalannya waktu mengalami perubahan
luasan.
Teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis telah
banyak digunakan dalam menduga luas hutan mangrove.
Akurasi informasi yang diperoleh dari pengolahan citra satelit
salah satunya ditentukan oleh resolusi dari citra yang digunakan
(Danoedoro, 2012). Untuk wilayah pesisir dengan cakupan
wilayah yang relatif luas, citra resolusi menengah seperti ASTER,
Landsat dan ALOS sangat sesuai untuk digunakan (Muhsoni dan
Hidayah, 2008).

Rumusan Masalah
Bagaimana data citra satelit dapat digunakan untuk
menganalisis perubahan luas dan kerapatan hutan mangrove
melalui pendekatan pengindraan jauh.

Tujuan dan Manfaat


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan luasan
dan kerapatan hutan mangrove di kawasan pesisir Timur
Surabaya.
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan
rujukan dalam merancang suatu kebijakan pengembangan
wilayah pesisir berbasis lingkungan yang ideal dan sesuai
dengan keadaan geografis di wilayah esisir Timur Surabaya.

METODE DAN
HASIL

Waktu dan Lokasi Kerja Praktik

Kerja praktik yang dilaksanakan pada 17 Maret hingga 18 April


2014, yang berlokasi pada Pusat Pemanfaatan Penginderaan
Jauh, Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional. Yang
beralamat di Jalan Kalisari no 8, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Waktu dan Lokasi Kajian

Gambar 3.2 Lokasi Penelitian

Metode
Dalam kerja praktik ini yang digunakan data citra Landsat 7 ETM
perekaman tahun 2002 dan Landsat 8 perekaman 2013 yang di
download melalui http://www.usgs.gov yang kemudian diolah
menggunakan sofware Er-Mapper 7

Komposit Band

Proses Penggabungan (komposit) band ini dapat dilakukan


untuk proses klasifikasi
Pemilihan kombinasi band untuk pengamatan daerah vegetasi
mangrove menggunakan komposit False Color dengan
kombinasi RGB 453 untuk landsat 7 sedangkan untuk landsat 8
kombinasi RGB 564
Langkah langkah untuk melakukan komposit band yaitu sebagai
berikut
1. Membuka sofware ER Mapper 7 kemudian klik icon Edit
Algoritm

2. Duplicate layer sesuai band yang digunakan

3. masing-masing layer di rename sesuai band yang digunakan

4. load dataset pada setiap layer sesuai band.

5. Save as file tersebut dengan nama baru, files of type diubah


menjadi ER Mapper Raster Dataset, klik OK

Croping

Cropping dimaksudkan untuk membatasi daerah analisis


sehingga sesuai dengan kebutuhan yaitu dengan memfokuskan
pengamatan pada suatu daerah dengan data spasial atau
spektralnya.
Langkah langkah untuk melakukan cropping yaitu sebagai
berikut
1. Buka citra yang sudah dikomposit
2. Pada citra pertama menjadi pesuodo layer, citra kedua
diubah menjadi kombinasi RGB
3. Zooming daerah yang akan dikaji pada citra kombinasi RGB,
kemudian klik kanan diastas citra dan pilih quick zoom-set
geolink to window

4. klik kanan pada tampilan citra pseudo layer, dipilih quick


zoom lalu klik set geolink to window

Klasifikasi

Klasifikasi unsupervised akan mengkategorikan semua piksel


menjadi kelas-kelas dengan menampakan spektral atau
karakteristik spektral yang sama namun belum diketahui
identitasnya

proses reclass dilakukan untuk mengubah 200 kelas menjadi 4


kelas.
Langkah-langkah untuk melakukan reclass
1. File yang sudah diklasifikasi unsupervised dibuka.
2. Klik pada formula editor

4. File tersebut dibuka menggunakan wordpad kemudian


hapus text Regioninfo Begin sampai Regioninfo End dari
ClassNumber 5 sampai ClassNumber 200 sehingga hanya
menyisahkan 4 kelas
5. Save

Mengitung luas tiap kelas


Tahap awal untuk menghitung luas yaitu file yang sudah
terklasifikasikan harus di Calculate Statistic terlebih dahulu

Tahun 2002

Tahun 2013

Koreksi Radiometrik
Koreksi Radiometrik bertujan untuk memperbaiki nilai piksel supaya
sesuai dengan yang seharusnya yang biasanya mempertimbangkan
faktor gangguan atmosfer sebagai sumber kesalahan utama.

Langkah langkah untuk melakukan koreksi radiometrik


1. membuka file citra yang sudah di cropping

data type diubah menjadi IEEE4byteReal lalu klik ok

Formulasi NDVI
NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) merupakan
pengukuran keseimbangan antara energi yang diterima dengan energi
yang dipancarkan oleh obyek di bumi.
indeks tersebut menetapkan nilai untuk mengetahui seberapa hijau
suatu area yang dapat mengekspresikan jumlah keberadaan vegetasi
dan tingkat kesehatan atau kekuatan pertumbuhannya
Langkah langkah untuk formulasi NDVI
1. Buka file yang sudah terkoreks geometrik

Overlay
Overlay dilakukan untuk menggabungkan dua citra hasil koreksi
radiometrik dengan hasil citra formulasi NDVI.
Langkah langkah melakukan overlay

gabungkan
Aplikasikan
formula
(if i1=2 then i2
else null)
Save

Klasifikasi kerapatan
langkah-langkah untuk melakukan klasifikasi keraptan adalah sebagai
berikut
1

Nilai NDVI

Tingkat kerapatan

0,50 < NDVI < 0,75

Kerapatan tajuk lebat

0,25 < NDVI < 0,50

Kerapatan tajuk sedang

0,00 < NDVI < 0,25

Kerapatan tajuk jarang

Setelah didapat klasifikasi kerapatan, aplikasikan formula pada citra


yang sudah di overlay
if i1>0 and i1<=0.25 then 1 else
if i1>0.25 and i1<=0.5 then 2 else
if i1>0.5 and i1<=0.75 then 3 else null

File tersebut dibuka menggunakan wordpad kemudian text Regioninfo


Begin sampai Regioninfo End dari ClassNumber 1 dihapus sehingga
hanya menyisahkan 3 kelas

mulyorejo

mulyorejo
Sukolilo

Sukolilo

Rungkut

Rungkut

Gunung Anyar

Gunung Anyar

2013

2002

Hasil
Ekosistem hutan mangrove di wilayah pesisir Timur Surabaya
tersebar di beberapa lokasi pesisir, antara lain Gunung Anyar,
Rungkut, Sukolilo dan Mulyorejo.
Hasil pengolahan data luas hutan mangrove pada tahun 2002
adalah 583,110 Ha, luas hutan mangrove pada tahun 2013
adalah 921,69.
Berdasarkan klasifikasi indeks NDVI terlihat bahwa sebagian
besar hutan mangrove di pesisir Timur Surabaya memiliki
kerapatan tinggi (lebat), sebaran mangrove yang didominasi
warna merah menunjukan nilai NDVI 0.50-0.75 yang termasuk
dalam klasifikasi lebat.

Simpulan
Data citra landsat 7 ETM dan Landsat 8 yang diolah
menggunakn software ER Mapper cukup efektif untuk
menganalisis luas dan kerapatan hutan mangrove di pesisir Timur
Surabaya.
Dari hasil penggolahan citra landsat yang di lakukan di Pusat
Pemanfaatan Penginderaan Jauh, Lembaga Penerbangan
Antariksa Nasional, dapat disimpukan

Luas hutan mangrove di pesisir Timur Surabaya pada tahun 2002


sebesar 583,110 Ha
Luas hutan mangrove di pesisir Timur Surabaya pada tahun 2013
sebesar 921,690 Ha
Tingkat kerapatan dari tahun 2002 dan 2013 didominasi tingkat
kerapatan lebat.
Berdasarkan hasil penggolahan citra landsat di pesisir Timur
Surabaya menggalami penambahan luas hutan mangrove
sebesar 339,59 Ha dan tingkat kerapatan tidak mengalami
perubahan yang signifikan.