Anda di halaman 1dari 35

RESPIRATORY INFECTIONS

Blok 5 Mikro1
Dr. Edhie Djohan Utama, SpMK

RESPIRATORY INFECTIONS

Infeksi pada sistem pernapasan bisa terbagi atas


ISPA (Bagian Atas) dan ISPB (Bagian Bawah).
Secara anatomis sistem pernapasan terdiri atas :

hidung
pharynx,
Dan struktur rongga telinga tengah dan sinus-sinus

Pada bagian atas tersebut diatas terdapat sistem


pertahanan tubuh :
Cilia yang bergerak kearah dunia luar dan membran
mucosa yang mucus.
Infeksi sangat mudah terjadi sebab berbatasan dengan
dunia luar.

Bagian Bawah sistem terdiri dari trachea, bronhus


dan alveolus. Infeksi disini akibat dari kelembaban
dan supply nutrisi yang kaya.

Di hidung terdapat Rambut-rambut halus dan


selaput lendir yang berfungsi untuk menyaring
udara yang masuk ke hidung agar udara
tersebut bersih dan tidak kotor.

Pada tenggorokan terdapat batang tenggorokan,


di batang tenggorokan tersebut terdapat katup
yang berfungsi untuk membuka dan menutup
saluran pernapasan.Batang tenggorokan
kemudian terbagi menjadi dua yang disebut
dengan bronkus, bronkus berfungsi sebagai
jalannya udara menuju paru-paru.

Di paru-paru, bronkus bercabang menjadi lebih


banyak, atau disebut juga bronkiolus.
Bronkiolus berakhir alveolus atau gelembung
paru-paru.

Alveolus atau gelembung paru-paru terjadi


pertukaran oksigen dan karbondioksida.
Alveolus sang mudah robek.

Flora Normal Sistim Respirasi

Normal Flora :
Resident flora :These species are life-long members
of the body's normal microbial community
Transient flora : Transient microbes are just passing
through. But they may attempt to colonize the
same areas of the body as do resident microbiota,
transients are unable to remain in the body for
extended periods of time.

Opportunists : Opportunistic Pathogens


Usually cause no disease.
Conditions allow them to cause disease

Normal Flora

Terdapat banyak mikroorganisme di bagian


saluran pernapasan bagian atas yang potensial
menjadi patogen.
Akan tetapi normal flora yang terdapat
didaerah itu akan berkompetisi dan menekan
mikroorganisme patogen itu sedemikian
sehingga orang itu tidak jatuh sakit.
Most members of the normal bacterial flora
prefer to colonize certain tissues and not
others. This "tissue specificity" is usually due to
properties of both the host and the bacterium.
Usually, specific bacteria colonize specific
tissues by one or another of these mechanisms.

Disadvantage of Normal Flora

Potential for spread into sterile parts


of body
Intestine may perforate
Skin broken
Extraction of tooth
Perianal skin flora enters urinary
tract

Normal Flora ISPA

Coccus Gram (+)


Staphylococcus epidermidis
Streptococcus salivarius
Streptococcus mutans
Streptococcus mitis
Neisseria sp.
Enterococcus faecalis

Batang Gram (+)


Corynebacteria

Upper respiratory tract


Anatomical Location

Predominant bacteria

Nares
(nasal membranes)

Staphylococci and
Corynebacteria

Pharynx (throat)

Streptococci, neisseria,
Gram-negative rods and
cocci

Sometimes pathogens such as Streptococcus


pneumoniae, Streptococcus pyogenes, Haemophilus
influenzae and Neisseria meningitidis colonize the
pharynx.

Lower respiratory tract none

Modes of Transmission

Airborne
Tiny droplet nuclei vs large droplets
Dust particles
Suspended in air dont fall
More likely to reach lower resp tract
Resistant to drying

TB, measles and chicken pox

Spread rapidly in crowded conditions

Droplet

Large droplets, short distances


Mucous droplets -coughing ,
sneezing
Pertussis, influenza, SARS
Talking less transmission

Susceptible Host

Imunocompromised
Old age or young
Not vaccinated
Large inoculum

MIKROORGANISM PATHOGENS OF
UPPER RESPIRATORY SYSTEM
PATHOGENS

DISEASE

PATHOGENESIS

Streptococcus pyogenes

Streptococcal pharyngitis
(sore throat)

Inflamed mucous
membrane of the throat.

Erythrogenic toxin of
Streptococcus pyogenes

Scarlet fever

Exotoxin cause skin and


tongue reddening,
pleeling of the skin

Corynebacterium
diphtheriae

Diphtheria

Exotoxin interferes protein


synthesis; damage heart,
kidney and other

=Staphylococcus aureus
=Streptococcus pneumoniae
=Haemophylus influenze

Otitis media

Pus in middle ear, painful


pressure on eardrum

1. Streptococcus pyogenes

Coccus Gram (+), tersusun spt rantai


Beta haemolytic
Katalase tes (-)
Peka terhadap
Bacitrain disc
Tidak larut cairan
empedu

Streptococcus beta haemolytic group A resisten


terhadap phagositosis, menghasilkan streptokinase
dan streptolysin (cytotoxic to tissue cells, red and
bloodcell.

Scarlet fever

Exotoxin cause skin and tongue reddening,


pleeling of the skin
Exotoxin causes kinkish red skin rash
Probably the skins hypersensitivity reaction to
toxin and high fever.
The tongue has a spotted, strawberrylike
appearance.
Affected skin peels off.

PATHOGENESIS STREPTOCOCCUS
GROUP A : Streptococcus pyogenes
Menyebabkan penyakit dengan 3 mekanisme :
= Inflamasi : karena enzyme yg dihasilkannya
(Streptokinase, DNase, Hyaluronidase)
= Produksi exotoksin : Erythrogenic toxin, Streptolysin
O, Streptolysin S, Pyrogenic toksin dan Exotoxin B
= Immunogenik : terjadi komplek AgAb yg menyebabkan rusaknya jaringan tubuh.
GROUP B : Streptococcus agalactiae, menimbulkan
kolonisasi sekitar alat kelamin wanita, menyebabkan neonatal meningitis dan sepsis.

2. Diphtheria

Penyebabnya Corynebacterium diphtheriae


Corynebacterium diphtheriae, Batang Gram(+),
nonspore forming, aerobik,
pleomorfic, club shaped.
Pewarnaan : Neisser & Pew.
Albert. Pew. Gram bisa juga.
Kultur pada media khusus
Loffler Media, membentuk
koloni.

Exotoxin interferes protein synthesis; damage heart, kidney and


other

3. Staphylococcus aureus

Coccus Gram (+), tersusun spt buah anggur.


Tumbuh pada Manitol Salt Agar dan memfermentasi manitol (MSA mengandung garam
cukup tinggi (7,5%) sehingga kebanyakan
bakteri tidak bisa tumbuh
pada media ini)
Katalase tes (+)
Hemolisa pada agar
darah.

Sebagai salah satu penyebab


otitis media

Tes Katalase

Staphylococcus sp. menghasilkan ezyme


katalase yang kuat :
2H2O2 ----> 2H2O + O2

Tes katalase dilakukan pada kaca objek


yang bersih. Dibuat suspensi
Staphylococcus sp. dari koloni,
dicampurkan pada 3% H2O2. Gelembung
gas O2 keluar : tes positip.
Bisa juga meneteskan H2O2 langsung pada koloni, tapi
jangan koloni pada Agar Darah (darah mengandung
katalase).

S.aureus dapat menggumpalkan


plasma darah (20% plasma kelinci /
manusia).

Artinya tes coagulase (+)

Streptococcus faecalis dapat juga


menggumpalkan plasma tetapi tes
katalase Streptococcus sp itu
negatip.
Slide tes & tube tes.

Tes Coagulase :
A. Slide Test :

Emulsikan koloni Staphylococcus pada


setetes aqua pada kaca objek yang
bersih.

Tambahkan plasma kelinci (plasma


citrat)

Aduk dengan ose selama 10 detik

Bila ada penggumpalan ---> tes positip

B. Coagulase Tube test


1.

2.

3.

4.

5.

Biakkan Staphylococcus sp. pada 1 cc


media cair yang sesuai.
Tambahkan 0,5 cc larutan plasma
citrat (20%)
Inkubasi pada suhu 37oC selama 4
jam di- dalam waterbath.
Perhatikan penggumpalan plasma (1-4
jam).Jika digunakan plasma steril
Boleh diinkubasikan 24 jam.
(dibandingkan dengan strain kontrol)

Diagnose Staphylococcus aureus

Diagnose ditegakkan dengan :


Dapat hidup pada MSA dan
memfermentasi manitol.
Menghemolisa agar darah / alpha
hemolitik
Memberi tes coagulase (+)
Katalase test (+)
bentuk coccus, Gram (+), susunan
seperti buah anggur

Staphylococcus aureus

S.aureus menyebabkan penyakit akibat dari produksi


toksin dan karena tumbuh dan berkembang di dalam
jaringan dan menyebabkan inflamasi.

S.aureus menyebabkan secara klinis 3 hal


1. Exotoksin : enterotoksin : menimbulkan
muntah muntah
dan diarrhae
2. Toxic shock syndrome : timbul shock terutama pada wanita
yg memakai tampon menstruasi dan tampon buat hidung
untuk mencegah pendarahan.
3. Exfoliatin : menyebabkan scalded skin

Inflamasi oleh Staph. aureus

Infeksi pada kulit :

impetigo, furuncle, cellulitis,


infeksi pada luka operasi,
blepharitis dan
mastitis.

Septicemia (sepsis)
Endocarditis
Osteomyelitis
Pneumonia
Abscess di otrgan organ tubuh setelah
sutau bacteriemia.

Toksin dari Staph. aureus

Food poisoning karena enterotoksin (masa


inkubasi 1-8 jam)

Toxic shock syndrome : demam, hypotensi,


rash pada kulit yang diffuse, macular dan
seperti terbakar dan selanjutnya kulit tersebut
mengelupas.

Scalded skin syndrome : dimana lapisan kulit


superfisial dari epidermidis jadi kering dan
mengelupas.

S. epiderdimidis dan S. saprophyticus

Kedua Staphylococcus ini tes coagulase (-)

Tidak menimbulkan food poisoning dan tidak


menebabkan toxic shock syndrome.

Tetapi bisa menyebabkan infeksi pyogenik

S.epidermidis bisa menyebabkan infeksi


pyogenik pada prostetik implant seperti pada
katub jantung dan sambungan tulang pinggul.

4. Streptococcus pneumoniae
= Sebagai salah satu penyebab otitis media
= Coccus Gram (+), tersusun spt rantai
pendek.
= Disebut juga Diplococcus pneumoniae
atau Pneumococcus.
= Katalase tes (-), larut dalam cairan
empedu, peka cakram optochin.

PNEUMOCOCCUS

Sinonimnya Streptococcus pneumoniae atau


Pneumococcus. Kultur pada Agar Darah atau media cair
serum.

Pneumococcus larut dalam cairan empedu (bile), peka


terhadap Optochin disc, dan tes katalase positip.

Bisa mempunyai kapsul pada kultur primer. Gram (+)


bentuk lanset, dua-dua, atau bisa membentuk rantai
pendek.

Koloni pada Agar Darah sulit dibedakan dengan koloni


Streptococcus viridans, karena sama sama alpha
hemolitikus.

PERBEDAAN PNEUMOCOCCUS
DENGAN S.VIRIDANS
Perbedaan
1. Betuk Koloni
2. Mikroskopis
3. Cairan empedu
4. Optochin disc
5. Kapsul

Pneumococcus
umbilicated (draughtnaut)
diplococcus, bentuk lanset
larut
peka
bisa berkapsul

S. viridans.
convex
rantai panjang
tidak larut
tidak peka
tidak

Optochin disc adalah cakram yang mengandung


optochin (ethyl-hydrocuprin).
Sodium deoxycholate(2%) dapat melisiskan
Pneumococcus.
Reaksi Quellung menggunakan antisera (polivalent)
terhadap antigen kapsul (antipo-lysaccharida serum)
maka kapsul akan membengkak.

VIRUS PENYEBAB ISPA

Common cold : Lebih dari 50% infeksi


pada ISPA disebabkan oleh virus common
cold yaitu Coronavirus, Rhinovirus.
Terdapat 113 serotype Rhinovirus
sehingga vaksin yang ada kurang efektip
untuk mencegah common cold.
Nasal discharge banyak dan hidung
tumpat menyusahkan pasien.
Infeksi bisa menjalar ke ISPB,
menyebabkan infeksi telinga tengah dan
laryngitis.

MIKRO - 2
BAKTERI PENYEBAB ISPB

Bakteri
penyebab
ISPB
PATHOGENS
DISEASE
PATHOGENESIS
Bordetella pertussis

Pertussis

Cilia diinaktivasi, akumulasi mucus, batuk


yang keras untuk mengeluarkan mucus.

M. tuberculosis

tbc

Tubercle bacilli berhasil susvive terhadap


phagositosis oleh macrophage.

Strepto. pneumoniae

Pneumococcal Infeksi alveoli, berisi cairan,


pneumoniae
menyebabkan terganggu oxygen uptake

Haemophilus influenzae Haem.Influen. Infeksi alveoli, berisi cairan,


pneumoniae
menyebabkan terganggu oxygen uptake
Mycoplasma
pneumoniae

Mycoplasmal
pneumoniae

Legionella pneumophila Legionellosis

Mild persistent respiratory symptom Low


fever, cough, headache.
Potentially fatal pneumonia.
(Airconditioning)

Chlamydia
pneumoniae

Chlamydal
pneumonia

Infeksi saluran napas ringan mirip


infeksi oleh Mycoplasma

1. Bordetella pertussis

B. pertussis : small Gram(-)


coccobacillus, obligat aerob, strain
virulen mempunyai kapsul.
Merusak sel sel cilia pada trachea
karena menghasilkan toksin
(tracheal cytotoxin).

Diagnose Bordetella pertussis

Nasophariyngeal swab dikultur pada


Media Bordet Gengou plus 20-30%
darah.
Pemeriksaan specific antiserum
dengan Fluorescent antibody staining
technic.

2. Mycobacterium tuberculosis

M.tuberculosis adalah batang kurus


panjang, obligat aerobik.
Tumbuh pada media khusus (Lowen
Jensen agar dengan sangat lambat ( 4
6 minggu baru membentuk koloni)
Pewarnaan khusus : Acid fast staining
Ziehl Neelsen memperlihatkan batang
tahan asam berwarna merah pink.