Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS GEJALA PERALIHAN PADA RANGKAIAN RLC

Alfian Fajar Darmawan


1109100040
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
E-mail: alfian10@mhs.physics.its.ac.id
ABSTRAK
Percobaan analisis gejala peralihan pada rangkaian RLC bertujuan untuk membandingkan sinyal output
dengan sinyal input. Pada percobaan ini digunakan osiloskop dan berbagai rangkaian yang terdiri dari Resistor,
Kapasitor, dan induktor. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan perbedaan sinyal input dan output.
Hal ini disebabkan karena terjadinya gejala transien (adanya proses mengalir tidaknya arus pada rangkaian), selain
itu osiloskop dapat menggambarkan sniyal keluaran sumber tegangan, dan osiloskop dapat menggambarkan
amplitudo dan frekuensi sinyal input dan output.
Kata Kunci : Rangkaian RLC, Osiloskop, gejala transien.
1. Pendahuluan
Dalam rangkaian listrik, terdapat komponen
komponen elektronik, seperti resistor, inductor, dan
kapasitor. Ketiga komponen tersebut akan menunjukkan
gejala yang berbeda ketika dirangkai dengan rangkaian
yang tidak sama. Gejala ini dapat diamati dengan
menggunakan osiloskop. Akan terjadi perbedaan gambar
sinyal jika tanpa resistor/ inductor/ kapasitor. Oleh
karena itu praktikum ini dilakukan untuk mengamati
sinyal keluaran dari tegangan output. Osiloskop
digunakan dalam praktikum ini untuk mengetahui
sinyal keluaran dari sumber tegangan. Arus dapat
mengalir akibat adanya beda potensial. Beda potensial,
dapat digambarkan dalam suatu sinyal litrik oleh
beberapa alat. Salah satunya adalah osiloskop. Dalam
osiloskop. tegangan output berupa garis sinyal dalam
suatu diagram kartesian dengan hubungan antara
tegangan dan waktu. sniyal / gambar yang terbentuk
dalam osiloskop, tergantung pada sumber tegangannya,
AC atau DC .
2. Dasar Teori
2.1 Gejala Peralihan (Transien)
Gejala transien adalah periode peralihan selama
arus-arus cabang dan tegangan-tegangan elemen
berubah dari nilai semula menjadi nilai baru akibat dari
perubahan sumber tegangan atau perubahan elemenelemen rangkaian. Dan stelah transien berlalu, keadaan
rangkaian disebut tunak (steady state). Pada saat terjadi
transien, komponen-komponen dalam sistem tenaga
listrik mengalami tekanan yang sangat besar berupa arus
dan tegangan. Tegangan yang ditimbulkan berupa
tegangan lebih transien dan magnitudenya dapat
mengakibatkan kerusakan pada komponen sistem. [1]

Gambar 1.1 Gejala Transien pada kapasitor


2.2 Arus Transien dalam Rangkaian RC

Gambar 2.1 Rangkaian RC


Menurut Hukum Kirchoff dalam rangkaian diatas
berlaku:
Dan dengan penurunan secara matematis diperoleh:

Seperti yang kita lihat nanti, konstanta

ini adalah

arus awal atau arus pada t=0, sehingga:

Dengan I0 merupakan arus maksimum yang nilainya


menurut Hukum Ohm adalah E/R. Persamaan terakhir
ini menggambarkan bagaimana perilaku arus listrik jika
dalam rangkaian terdapat kapasitor. Semakin lama arus

akan semakin kecil, proses ini disebut arus transien


(sementara). Arus transien terjadi karena kapasitor
membutuhkan waktu untuk memenuhi dirinya dengan
muatan dan sebaliknya juga terjadi dalam proses
mengosongkan dirinya dari muatan.
2.3 Arus Transien dalam Rangkaian RL
Skema Rangkaian
1. Rangakaian RL
R1

100

L1
2.5mH
2

Gambar 2.3 Rangkaian RL


Sesuai dengan Hukum Kirchoff II maka berlaku

2. Rangkaian RC

persamaan:

R2

tanda negatif pada induktor menunjukkan bahwa


tegangan induksi pada induktor berlawanan dengan arah
polarisasi (arah kutub + dan ) baterai, dengan demikian
kita peroleh perubahan arus listrik terhadap waktu dalam
rangkaian RL diatas sebagai berikut:

100

C1
10uF
5

3. Rangkaian RLC
11 R4
L3 100
2.5mH

12

13
C2
10uF

14

4. Rangkaian RLC
8

R3
100
10

5. Rangkaian RLC

3. Metodologi
Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini
diantaranya sebuah osiloskop, dua buah resitor 100 ohm,
sebuah induktor 2,5 mH dan sebuah kapasitor 10F,
generator function, serta beberapa kabel penjepit buaya.
Percobaan dibagi menjadi 6 rangkaian, dimana untuk
tiap rangkaian dapat dilihat pada analisa data. Frekuensi
sinyal input dan V input diatur pada frekuensi 500 Hz
dan amplitudo 5 Volt dengan menggunakan sinyal
generator, kemudian sinyal masukan dihubungkan ke
Ch.1 osiloskop dan sinyal keluaran ke Ch.2, lalu diukur
pembacaan sinyal input Vin dan sinyal output V0ut pada
osiloskop dan frekuensi dari sinyal tersebut.

L2
10uF
2.5mH

bila persamaan diferensial ini diselesaikan dengan syarat


awal t = 0, i = 0, makadiperoleh persamaan:

2.2 Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur besaran listrik yang
dapat memetakan sinyal listrik. Pada kebanyakan
aplikasi, grafik yang ditampilkan memperlihatkan
bagaimana sinyal berubah terhadap waktu.[3] Gelombang
listrik yang dihasilkan biasanya tercata secara visual
pada layar. osiloskop ada dua macam, yakni osiloskop
tipe analog (ART-analog real time oscilloscope) dan
osiloskop tipe digital (DSO-digital storage oscilloscope)
[4]
.

C3

15
R5
100

C4

16

10uF

L4
2.5mH
17

6. Rangkaian RLC
21

L5

18

2.5mH
R6
100

C5
10uF

19
R7
100

20

4. Analisa Data dan Pembahasan


Data hasil percobaan dapat dilihat pada lampiran.
Pembahasan
1.Rangkaian RL
Diperoleh gambar sinyal masukan berbentuk
sinyal kotak hal ini dikarenakan sumber sinyal masukan
yang digunakan adalah arus AC dengan Vin 5 volt dan
frekuensi 500 Hz, Ketika dilewatkan pada resistor dan
Induktor sinyal keluaran menghasilkan sinyal dengan
bentuk sinyal yang menurun secara fungsi eksponensial,
Pada rangkaian ini terjadi High pass filter yaitu tapis
lolos tinggi, Hal ini diakibatkan dari sifat inductor yang
menghasilkan Induktansi kumparan, arus yang mengalir
dalam kumparan tidak hanya dihambat oleh reaktansi
induktif melainkan resistivitas dari kawat kumparan

juga. Pada inductor, ketika ada arus yang melalui


kumaparan inductor tersebut, timbul medan magnet
yang dapat menghasilkan arus bolak balik dalam
kumparan tersebut, sehingga pada rangkaian ini terdapat
tambahan arus dari inductor. Hubungan antara arus dan
tegangan adalah hubungan yang berbanding lurus
sehingga tegangan output pada rangakaian ini semakin
besar. Hal inilah yang menyebabkan data amplitodu dan
frekuensi pada rangkaian RL ini lebih besar dari pada
tegangan input. Adapun besar konstanta waktu pada
percobaan ini adalah R/L yang bernilai 4.10 4 nilai ini
bila di eksponensialkan akan menghasilkan nilai yang
sangat besar. Pergeseran fase dan arus tergantung dari
frekuensi inductor dan resistivitas dalam kumparan,
semakin besar frekuensi, besar R tidak berpengaruh.
Berdasarkan gambar rangkaian RL kita dapat
menghitung berapa besar arus yang masuk mula-mula
dalam rangkaian ini sebagai Im= 0.05 Ampere. Besar
arus ini dikarenakan arus baru masuk melalui resistor
baru kemudian menuju inductor. Karena nilai
-3

=7.854 . nilai ini sangat kecil

sekali bila dibandingkan dengan nilai dari resistor. Sudut


fase impedansi terhadap arus sebesar

Karena sudut fase antara impedansi terhadap arus


hamper mendekati nol berarti pada rangkaian ini yang
berpengaruh adalah resistor saja. Reaktansi induktif
bergantung secara linier pada frekuensi . berarti pada
percobaan ini frekuensi yang digunakan termasuk
frekuensi rendah karena nilai XL yang mendekati nol.
Sehingga besarnya arus maksimun yang digunakan oleh
rangkaian ini sebesar IL=

Ampere. Nilai

arus yang sangat besar sekali.nilai arus yang besar


tersebut dapat dijelaskan dengan menganalisa inductor
sebagai kumparan yang dapat menyimpan energy
magnet yang dapat menambahnya besarnya arus bolakbalik dalam inductor tersebut. Energy yang tersimpan
dalam inductor tersebut sebesar E =

=5x10-4 Watt

2. Rangkaian RC
Rangkaian 2 ini menggambarkan Low pass filter
atau tapis lolos rendah, Pada frekuensi rendah besar
tegangan output hampir sama dengan tegangan input.
Dan jika frekuensi naik, bagian input yang diteruskan ke
output akan berkurang. Sinyal input yang semula
berbentuk sinyal kotak berubah menjadi sinyal segitiga,
hal ini dikarenakan sifat dari kapasitor yang mampu
menyimpan muatan. Pada saat itu kapasitor mengalami

proses pengisian dan pelucutan muatan keadaan ini


disebut gejala transien.
Pada rangkaian ini diperoleh tegangan output
yang ebih kecil dari pada tegangan input, hal ini
dikarenakan secara fungsi matematis kita dapat
menganalisis tegangan output menjadi lebih kecil
daripada tegangan input berdasarkan grafik fungsi
eksponensial yang semakin menurun dan mendekati nol.
Adapun konstanta waktu yang positif memberikan
respon amplitude tegangan positif. Amplitudo yag
timbul semakin besar bila konstanta waktunya semakin
kecil. Dengan besar konstanta waktu pada percobaan ini
adalah 1 / RC yang bernilai 1000
3.Rangkaian RLC
Berdasarkan gambar rangkaian arus masuk
menuju resistor dan inductor, pada inductor arus yang
masuk mengalami penambahan arus dari gejala GGL
pada inductor, GGL inilah yang menyebabkan amplitude
tegangan menjadi tinggi, pada saat arus melewati
resistor, besarnya arus ini tidak mengalami perubahan
yang signifikan karena sifat resistor sebagai
penghambat. Ketika arus melewati kapasitor, sebagian
arus ada yang disimpan dalam bentuk energy, hal ini
mengakibatkan bentuk sinyal output seperti pada
gambar. Amplitude tegangan yang semula meningkat
secara signifikan pada amplitude maksimum kemudian
menurun tetapi pada nilai tertententu amplitude tersebut
menggambarkan nilai saturasi, baru kemudian menurun
dan kembali membentuk sinyal periodik.
Frekuensi tidak mengalami perubahan yang
signifikan pada rangkaian ini. Tegangan output pada
rangkaian ini sangat kecil yaitu sebesar 0.148 Volt. Hal
ini dimungkinkan akibatnya timbulnya factor redaman
pada rangkaian tersebut.
Pada rangkaian ini arus yang masuk terbagi, ada
yang menuju kapasitor dan inductor, lalu bersatu
kembali dan melalui resistor. Pada sinyal output dari
rangkaian ini menghasilkan sinyal yang hampir sama
dengan sinyal rangkaian 3. Frekuensi output hanya
sedikit mengalami perubahan, nilainya naik sedikit.
Sedangkan pada tegangan output, nilai nya lebih besar
dari pada rangkaian 3. Nilainya berkisar 1.1 Volt
Rangkaian RLC merupakan rangkaian lolos pita atau
band pass filter. Pada rangkaian ini nilai arus bergantung
pada impedansi dan

. Z =102.8 . Dan = 1000.

Sehingga arus maksimum Im=0.048 Ampere.


sudut fase
Pada rangkaian RLC yang lain, dibedakan dengan
mengganti letak komponen tersebut dalam rangkaian..
Pada rangkaian ini frekuensi output tidak mengalami
perubahan yang besara terhadap frekuensi input. Akan ,
tetapi tegangan output, tetap kecil yaitu sekitar 1.12
Volt. Menurunya tegangan output ini dikaitkan dengan
adanya factor redaman pada rangkaian RLC, baik itu

rangkaian RLC seri maupun parallel. Tinggi sinyal pada


rangkaian ini hanya bergantung pada harga R untuk
eksitasi amplitude konstan, lebar kurva dan kecuraman
sisi-sisinya tergantung pada harga kapasitor dan
inductor.
Daftar pustaka

[1]

Marhunadi A.R, 1990, Teori Rangkaian ( Dasar


Dasar ), Penerbit Erlangga, Jakarta.
[2]
Sutrisno. 1987. Elektronika Teori dan Penerapannya.
ITB. Bandung
[3]
Wilianto,Edi.1990. Elektronika. Jurusan Fisika FMIPA
ITS. Surabaya
[4]
Laboratorium Instrumentasi dan Elektronika Jurusan
Fisika, (2011), Modul praktikum Analisis
Gejala
Peralihan pada Rangkaian RLC, Fisika ITS.