Anda di halaman 1dari 6

5.

Hormon BST (Bovine Somatotrophin)

Dengan rekayasa genetika dihasilkan hormon pertumbuhan hewan yaitu BST.


Caranya adalah:
a. Plasmid bakteri E.Coli dipotong dengan enzim endonuklease
b. Gen somatotropin sapi diisolasi dari sel sapi
c. Gen somatotropin disisipkan ke plasmid bakteri
d. Bakteri yang menghasilkan bovin somatotropin ditumbuhan dalam tangki
fermentasi
e. Bovine somatotropin diambil dari bakteri dan dimurnikan.
Hormon ini dapat memicu pertumbuhan dan meningkatkan produksi susu. BST
ini mengontrol laktasi (pengeluaran susu) pada sapi dengan meningkatkan
jumlah sel-sel kelenjar susu. Jika hormon yang dibuat dengan rekayasa genetika
ini disuntuikkan pada hewan, maka produksi susu akan meningkat 20%.
Pemakaian BST telah disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration), lembaga
pengawasan obat dan makanan di Amerika. Amerika berpendapat nsusu yang
dihasilkan karena hormon BST aman di konsumsi tapi di Eropa hal ini dilarang
karena penyakit mastitis pada hewan yang diberikan hormon ini meningkat 70%.
Selain memproduksi susu, hormon ini dapat memperbesar ukuran ternak
menjadi 2 kali lipat ukuran normal. Caranya dengan menyuntik sel telur yang
akan dibuahi dengan hormon BST. Daging dari hewan yang diberi hormon ini
kurang mengandung lemak. Sehingga dikhawatirkan hormon ini dapat
mengganggu kesehatan manusia.
Hormon pertumbuhan pada sapi (bovine somatotropin)
Pertumbuhan sapi dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan factor genetis. Faktor
lingkungan meliputi: pakan, baik hijauan maupun konsentrat, air, iklim dan
fasilitas pemeliharaan yang lain. Pengaruh pertumbuhan yang disebabkan faktor
lingkungan ini tidak diturunkan kepada anakan. Sedangkan faktor genetis yang
dikendalikan oleh gen akan diturunkan kepada keturunannya. Pertumbuhan
dikendalikan oleh beberapa gen, baik yang pengaruhnya besar/utama (major
gene) sampai yang pengaruhnya kecil (minor gene). Salah satu gen yang diduga
merupakan gen utama dalam mempengaruhi pertumbuhan adalah gen
pengkode hormon pertumbuhan yang mempengaruhi sekresi hormone
pertumbuhan.
Gen hormon pertumbuhan sapi (bovine growth hormone gene) telah dipetakan
terletak pada kromosom 19 dengan lokasi q26-qtr (Hediger etal., 1990). Sekuen
gen ini terdiri dari 1793 bp yang terbagi dalam lima ekson dan dipisahkan oleh 4

intron. Intron A, B, C dan D berturut-turut terdiri dari 248 bp, 227 bp, 227 bp dan
274 bp.
Mekanisme kerja hormone bovine somatotropin
Hormon Somatotropin sapi merupakan polypeptida bercabang yang mempunyai
416 asam-amino. Hormon ini mempunyai efek terhadap membran sel. Fungsi
hormon ini diantaranya sebagai pemicu untuk membentuk dan meningkatkan
konsentrasi cAMP sebagai proses terjadinya utusan kedua (second messenger)
yang diikuti oleh proses-proses biologis lainnya; meningkatkan asam-amino ke
dalam otot, ginjal dan fibroplast dan juga dapat menyebabkan lypolysis pada
jaringan lemak yang dibantu oleh hormon lain seperti tiroksin dan glucocorticoid.
Mekanisme kerja Somatotropin dalam memperbaiki performans laktasi yaitu
dengan perubahan pembagian penyerapan zat makanan (partitioning of
absorbed nutrients), pertambahan lemak dikurangi, mobilisasi lemak
ditingkatkan dan penggunaan glukosa oleh jaringan peripheral dan oksidasi
glukosa dan asam-amino dikurangi . Akibatnya glukosa dan asam-amino menjadi
tersedia untuk sintesis komponen susu serta cadangan lemak digunakan sebagai
sumber energi. Selain itu respons ternak terhadap bST (bovine somatotropin)
adalah peningkatan pengeluaran darah dari jantung (cardiac out put ) dan laju
aliran darah ke ambing (mammary blood flow). Respons-respons ini yang
menyebabkan peningkatan pemasukan zat makanan (nutrient). Breier et al .
(1991).
BAB II
PEMBAHASAN

Metode dalam mengisolasi hormone bovine somatotropin


Sampel darah diambil secara venepuncture, menggunakan venoject. Darah yang
diperoleh dimasukkan ke dalam 50 ml tabung reaksi berisi heparin yang
berfungsi sebagai antikoagulon. Sepuluh mililiter darah ini di ambil dan disimpan
pada suhu 70oC untuk referensi dikemudian hari, sedangkan sisanya
digunakan langsung dalam untuk diekstrak sel darah putihnya. Sel darah putih
kemudian diekstrak menggunakan teknik Buffy coat. Total darah dimasukkan ke
dalam tabung sentrifus, dan kemudian disentrifugasi pada kecepatan
1500 rpm selama 15-20 menit. Buffy coat yang diperoleh kemudian diambil
dengan menggunakan pipet, dipindahkan ke dalam 20mL tabung sentrifus dan
dipenuhi dengan larutan buffer TE1, dan kemudian disentrifugasi pada
kecepatan 2000 g selama 10-15 menit. Pellet yang diperoleh kemudian
diresuspensikan dalam 1mL bufer TE2, dan kemudian dipindahkan ke dalam
tabung penyimpan (Nunc) untuk disimpan pada suhu 80oC sampai saat
digunakan untuk proses .selanjutnaya.
Ekstraksi DNA

DNA diekstraksi dari sel darah putih dengan menggunakan teknik Wizard
Genomic Purification System (Promega, Madison USA).
PCR-RFLP
DNA yang diperoleh langsung digunakan untuk reaksi PCR yang dilakukan dalam
mesin PCR (thermocycler Perkin Elmer 2400/ 9700). Reaksi ini digunakan untuk
mengamplifikasi 2 gen homon pertumbuhan. Reaksi dilakukan dalam suatu
volume
campuran sebanyak 25L yang berisi 200M dari masing-masing dNTPs, 2mM
MgCl2, 10x bufer dan 1,5 unit Taq DNA polymerase dalam 0.6ml tabung PCR.
Amplifikasi gen hormone pertumbuhan
Lokus 2 gen hormon pertumbuhan (GH-L2), yang terdiri dari 329bp meliputi Exon
III dan IV diamplifikasi dengan PCR menggunakan primer GH5/GH6 (Sutarno,
1998) dengan urutan oligonukleotida sebagai berikut:
GH5:
5-CCCACGGGCAAGAATGAGGC-3
GH6:
5-TGAGGAACTGCAGGGGCCCA-3
Kondisi reaksi amplifikasi PCR adalah: satu tahap reaksi denaturasi awal pada
suhu 94oC selama 5 menit, diikuti dengan 30 siklus amplifikasi yang masingmasing siklus terdiri dari: denaturasi pada 94oC selama45 detik, annealing pada
60o
C selama 45 detik, dan extension pada 72oC selama 1 menit; diikuti dengan satu
tahap polymerasi final pada 72oC selama 5 menit.
RFLP analisis
Hasil amplifikasi PCR digunakan dalam reaksi digesti dengan menggunakan
enzim AluI untuk mengidentifikasi situs polimorfisme AluI pada lokus 1,
sedangkan lokus 2 didigesti menggunakan enzim MspI. Hasil digesti kemudian
dielektroforesis pada bak elektroforesis horizontal dengan menggunakan gel
yang terbuat dari 1-2% agarose dalam bufer TAE. Elektroforesis dilakukan
dengan menggunakan gel horisontal selama 90 menit pada 55 volt. Lama waktu
sangat tergantung pada konsentrasi gel dan voltase. Agar hasil elektroforesis
dapat divisualisasi, ethidium bromida disertakan pada saat pembuatan gel
dengan konsentrasi final 0,12 g/mL. Setelah elektroforesis selesai, DNA
divisualisasi dibawah sinar ultra violet dalam ruang gelap, dan diambil
gambarnya menggunakan film Polaroid ukuran 57 dengan filter merah.
Manfaat hormone bovine somatotropin

Hormon pertumbuhan pada sapi (bovine growth hormone) mempunyai peran


utama pada pertumbuhan, laktasi dan perkembangan kelenjar susu
(Cunningham,, 1994; Hoj et al., 1993). Tidak diragukan lagi semua penelitian
pemberian bST pada sapi perah memberikan hasil adanya peningkatan produksi
susu, kualitas susu, memperbaiki persistensi laktasi serta meningkatkan efisiensi
konversi pakan. Peningkatan produksi susu bervariasi hingga mencapai 5.4 kg
per hari (Moallem et al., 2000) ,
Moallem et al. ( 2000 ), pada penelitian menggunakan dosis 500 mg ZnSometribove (bST) yang disuntikkan setiap 14 hari dan diberikan pada hari ke-10
hinggga ke 150 menunjukkan bahwa produksi susu FCM (Fat Corrected Milk)
meningkat 5.4 kg per hari per ekor. Demikian juga hasil yang dilaporkan oleh
Phipps et al., (1997) dan Luna-Dominguez et al. ( 2000 ) memperlihatkan
produksi susu yang signifikan. Bauman et al. (1999) telah melakukan penelitian
selama 8 tahun (1990-1999) , membandingkan 4 tahun periode sebelum bST
disetujui FDA (1994) dan 4 tahun setelah disetujui. Penelitian ini dilakukan pada
340 peternakan dan tidak kurang 200.000 ekor sapi laktasi dan telah dilakukan 2
juta test memperlihatkan respons yang konsisten 4 tahun setelah disetujui,
lemak susu dan protein meningkat dan persistensi laktasi diperbaiki.
Dampak Penggunaan Bovine Somatotropin
Sampai sejauh ini belum ada peneliti yang melaporkan dapak negatif dari
penggunaan bST (bovine somatotropin). Kekhawatiranakan adanya penurunan
bobot badan cukup beralasan terutama penggunaan bST pada awal laktasi. Hal
ini berhubungan dengan kondisi sapi yang sedang mengalami keseimbangan
energi yang negatif. Penggunaan bST menyebabakan penurunaan bobot badan
pada kondisi yang memprihatinkan. Karena penggunaan bST akan memobilisasi
cadangan lemak tubuh. Pada awal laktasi hingga menjelang puncak laktasi,
bobot badan cendrung menurun. Keadaan ini dapat diatas dengan penggunaan
bST setelah puncak laktasi. Setelah 50 hari laktasi (Phipps et al., 1997, LunaDominguez et al., 2000) atau dengan pemberian pakan yang baik (Moallem et al.
2000).
Hasil penelitian Scarda dan Mader (1991) Menunjukkan penggunaan bST tidak
menunjukkan gejala toxic syndrome, tidak ada perubahan tingkah laku atau
gangguan penyakit metabolik. Berdasarkan rekomendasi Kementrian Pertanian
dan Nutrisi dan Kementrian Kesehatan Amerika, sertifikat aman untuk
somidobove 4 April 1989 telah dikeluarkan. Keamanan untuk konsumen yang
mengkonsumsi produk susu dan daging dari pemberian bST pada sapi perah
berdasarkan penelitian dan pengetahuan yang ada yaitu ;
(1) Komposisi susu, flavor dan pertumbuhan biakan Starter asam laktat tidak
dipengaruhi oleh bST,
(2) BST (bovine somatotropin) tidak mempunyai aktivitas biologis pada manusia,
dan sebagai susu protein bST dicerna semuanya bila dikonsumsi.

Satu penelitian yang menunjukkan adanya indikasi terjadinya mastitis dengan


meningkatnya jumlah sel somatic (SCC) pada pemberian bST. (Van Den
Berg,1991). Akan tetapi hasil penelitian Bauman. (1999) SCC tidak dipengaruhi
oleh adanya pemberian bST. Dijelaskan bahwa et al umumnya mastitis dan
problem penyakit yang lain sering terjadi pada 45 hari setelah beranak. Resiko
peningkatan mastitis klinis meningkat seiring meningkatnya produksi susu
(Oltenacu dan Eskebo, 1994). Akan tetapi hasil penelitian Hoeben et al (1999)
memperlihatkan bahwa pemberian bST. pada sapi yang terinfeksi oleh
Streptococcus uberis dapat mencegah penurunan produksi susu, perubahan
komposisi susu seperti laktosa, protein, lemak, Na+, K+ dan Cl-. Sedangkan
menurut Bauman et al (1999) pada peternakan di Michigan pengobatan mastitis
klinis dan culling pada sapi diberi perlakuan bST tidak terjadi.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam penyuntikan bovine somatotropin
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikann di antaranya dosis yang
digunakan, kapan atau pada hari keberapa setelah beranak, apakah sebelum
atau setelah puncak laktasi. Kemudian kondisi atau persyaratan apa yang perlu
disiapkan pada sapi seperti pakan, kondisi kesehatan, kandang dan peternak itu
sendiri.
Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan ada beberapa dosis yang
digunakan, mulai 167, 250, 334, 500 dan 640 mg per 14 hari. (Phipps et al.,
1997; Luna-Dominguez et al. 2000; Moallem et al. 2000 ; Fontes JR et al., 1999
dan Torazon-Herrera et al, 1999 ). Ternyata dosis 345 dan 500 mg per 14 hari
yang memberikan hasil yang terbaik. Namun penelitian Phipps et al. (1997) di
Kenya dosis 354 dan 500 mg tidak memperlihatkan produksi susu yang
signifikan. Hasil lain yang berbeda dilaporkan oleh peneliti Malaysia ternyata
dosis 250 mg per 14 hari merupakan dosis yang paling ekonomis. Kondisi ini
berbeda mungkin disebabkan adanya perbedaan berat badan (Azizah et al ,
1993 ).
Pemberian dosis per 14 hari didasarkan bahwa respons bST mulai terjadi selama
24 jam dan respons maksimal terjadi selama satu minggu. Dengan dilakukan
penyuntikan setiap dua minggu, ikut mengurangi penderitaan (stress) yang
terjadi akibat penyuntikan yang dilakukan terus menerus dalam tempo yang
singkat. Hal ini sangat menjadi concern pada penyayang binatang yang
berhubungan dengan Isue Animal Welfare.
Demikian juga dalam hal kapan pemberian bST yaitu umumnya diberikan setelah
puncak laktasi setelah 50 hari (Phipps et al. 1997; Fontes JR et al. , 1997; LunaDominguez et al. 2000), sepanjang laktasi (Bauman et al. 1999) atau awal
hingga pertengahan laktasi (10-150 hari)( Moallem et al. 2000). Ternyata
pemberian setelah laktasi memberikan respons terbaik. Hal ini berhubungan
dengan kondisi sapi sebelum puncak laktasi yang memberikan kondisi
keseimbangan energi yang negatif yang akan menimbulkan gangguan pada sapi
penurunan bobot badan dan nurunnya Body Condition Score (BCS) sapi,
sehingga kerentanan terhadap beberapa penyakit meningkat. Sapi pada
pertengahan laktasi atau akhir laktasi keseimbangan pakannya umumnya positif.

Kondisi lain adalah hampir semua memerlukan dukungan energi yang cukup
sesuai kebutuhan sapi untuk berproduksi sesuai dengan kemampuannya. Karena
penggunaan bST meningkatkan produksi susu yang membutuhkan makanan
untuk sintesis susu tersebut. Tetapi penelitian Phipps et al. (1997) menyimpulkan
bahwa penggunaan bST tidak perlu mengubah manajemen dan kualitas sumber
pakan yang ada di daerah tersebut. Selain itu dari beberapa penelitian ternyata
hasil yang didapat lebih baik pada sapi multiparous (beranak lebih dari satu kali)
dari pada primiparous (beranak pertama kecil) ( Luna-Dominguez et al. 2000,
Rose dan Obara, 2000). Hal ini berhubungan dengan makin meningkatnya bobot
badan setelah laktasi pertama. Demikian pula perlu perhatian khusus oleh
peternak pada sapi yang mendapat perlakuan bST seperti kondisi kandang dan
lain-lain.
KESIMPULAN
Penggunaan Bovine Somatotropin (bST) dapat meningkatkan produksi susu,
kualitas susu, memperbaiki persistensi laktasi dan efisiensi konversi pakan.
Sejauh ini belum ada efek buruk dari penggunaan bST.
Dari uraian diatas penggunaan bST dapat dilakukan di Indonesia. Sehingga dapat
digunakan sebagi alternative umum dalam memenuhi kebutuhan susu di
Indonesia. Penggunaan bST dapat dilakukan terutama pada perusahan
peternakan sapi perah dan peternakan rakyat serat hanya diberikan pada sapi
yang berproduksi tinggi.
Dosis yang digunakan adalah 250 mg atau 354 mg per 14 hari dan diberikan 50
hari setelah laktasi hingga kurang lebih hari ke 200, serta harus didukung
dengan pakan yang cukup berkualitas. Disamping itu perlu dilakukan
pengontrolan yang ketat.