Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1

Penyakit Thalassemia

2.1.1 Definisi
Thalassemia berasal dari kata talassa yang berarti laut dan haima yang
berarti darah dalam bahasa Yunani, hal ini dikarenakan pada awalnya penyakit
thalassemia di temukan didaerah laut tengah atau mediterania. Penyakit
Thalassemia ditemukan oleh Thomas B. Cooley. Thalassemia sendiri merupakan
penyakit genetik yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya secara autosom
resesif berdasarkan hukum Mendel. Berdasarkan gejala klinisnya, thalassemia
dibedakan atas thalassemia minor atau thalassemia trait (bentuk heterozigot) dan
thalassemia mayor (bentuk homozigot). Bentuk heterozigot dikarenakan oleh
salah satu orang tua yang mengidap thalassemia sedangkan bentuk homozigot
diakibatkan oleh kedua orang tua yang mengidap thalassemia.(4)
Thalassemia adalah kelainan herediter yang disebabkan oleh kecacatan
pada produksi hemoglobin. Kecacatan ini dapat mempengaruhi rantai globin
sehingga menyebabkan perubahan berupa penurunan atau ketiadaan mRNA bagi
satu atau lebih rantai globin atau pembentukan mRNA yang tidak sempurna. Hal
ini mengakibatkan penurunan sintesis rantai polipeptida Hb. Thalassemia
merupakan penyakit hemolitik dan memerlukan transfusi darah secara berulang.
Transfusi darah berulang menyebabkan penimbunan zat besi dan dapat
menyebabkan gangguan pada hati karena hati merupakan tempat penyimpanan
utama cadangan besi.(3)
2.1.2 Epidemiologi
Thalassemia carrier banyak ditemukan di daerah Asia Tenggara, Cina,
bagian selatan India, Yunani, Mediterania dan Italia. Umunya di daerah Asia
Tenggara (Thailand, semenanjung Melayu dan Indonesia), Mediterania dan Afrika
Barat banyak dijumpai penderita Thalassemia . Pada daerah Mediterania dan
sebagian dari Timur Tengah , India, Pakistan dan Asia Tenggara tersebar
Thalassemia .(6)

Di Indonesia sendiri, kasus thalassemia banyak ditemukan dengan pendapat


diakibatkan karena penduduk Indonesia banyak bermigrasi dan terjadi
pencampuran penduduk. Penduduk yang berasal dari Cina Selatan bermigrasi
sebanyak dua periode, yang pertama sekitar 3500 tahun yang lalu yang disebut
Protomelayu (Melayu awal) sedangkan yang kedua sekitar 2000 tahun yang lalu
yang disebut Deutromelayu (melayu akhir). Para transmigran ini mendiami daerah
Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Sumatra, Sumba, Nias dan Flores (4)
Sementara itu, menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2010, Aceh
merupakan provinsi dengan persentase thalassemia tertinggi di Indonesia 13,8%.
Namun saat ini, hanya sekitar 167 pasien thalassemia yang melakukan pengobatan
secara rutin.(7)
2.1.3 Patogenesis
Hemoglobin terdiri dari dua pasang rantai globin yang terikat dengan heme.
Hem terdiri dari Fe (zat besi) dan globin terdiri dari rantai polipeptida.
Hemoglobin pada manusia dewasa normalnya terdiri dari dua rantai alfa () da
dua rantai beta () yang terdiri dari HbA (22 = 97%), lalu HbA2 (22 = 2,5%)
dan sisanya HbF (22) kurang lebih 0,5%. Sintesa globin diawali dari masa
embrio masih dalam kandungan kemudian berlanjut sampai 8 minggu kehamilan
hingga akhir kehamilan. Organ yang berperan dalam sintesa globin ini adalah hati,
limpa dan sumsum tulang.(4)
Pada umumnya, yang mempunyai arti klinis hanya gen dan gen . Gen
berjumlah 2 pasang dan gen berjumlah 1 pasang. D proses pewarisannya akan
muncul kombinasi gen yang bervariasi. Bila dijumpai kelainan pada keempat gen
tersebut maka akan timbul masalah dan masalah yang ditimbulkan gen lebih
kompleks dibandingkan masalah yang dihasilkan gen karena jumlah gen lebih
banyak. Kerusakan pada rantai disebut dengan thalassemia dan kerusakan
pada rantai disebut thalassemia . (4)
Pada thalassemia yang berat, hemoglobin homotetramer terbentuk secara
abnormal (4 atau 4)

tetapi susunan polipeptida globin memiliki struktur

normal. Namun sebaliknya, Hb b abnormal juga menyebabkan perubahan


hematologi menyerupai thalassemia. Untuk membuat tanda ekspresi sejumlah gen

thalassemia, tanda huruf (superscript) digunakan untuk membedakan thalassemia


yang menghasilkan rantai globin yang bisa diperlihatkan walau pada jenjang yang
menurun (misalnya thalassemia +), dari bentuk awal tempat sintesis rantai globin
yang terkena tekanan secara total (misalnya thalassemia-).(5)
Manusia memiliki kromosom yang jumlahnya berpasangan, jika hanya satu
gen globin yang mempunyai kelainan maka penderita dikatakan sebagai carrier
thalassemia. Namun jika kelainan terdapat pada kedua kromosom maka disebut
sebagai thalassemia mayor. Pada kedua orangtua yang menderita thalassemia trait
(pembawa sifat thalassemia) anak yang dilahirkan sebagai carrier thalassemia
kemungkinan besar 50% karena anak tersebut memperoleh gen thalassemia dari
salah satu orang tuanya, sedangkan kemungkinan sebanyak 25% untuk anak yang
mendapat gen thalassemia dari kedua orang tuanya akan menderita thalassemia
mayor dan 25% anak yang mendapat gen globin normal dari orangtua nya akan
dalam keadaan normal.(6)
2.1.4 Klasifikasi
A.

Thalassemia
Thalassemia dimiliki oleh orang-orang yang tidak mampu menghasilkan

rantai globin . Berdasarkan jumlah gen globin yang hilang, maka thalassemia
dibagi atas:
a. Silent carrier
Kondisi ini diakibatkan karena salah satu dari empat globin
mengalami kecacatan. Biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan
yang signifikan karena jumlah yang hilang amat sedikit sehingga tidak
menyebabkan anemia.(4) Kurang lebih 25% orang Amerika-Afrika
memiliki bentuk thalassemia ini. (5)
b. Thalassemia trait
Thalassemia ini terjadi karena mutasi dari sepasang globin . Penderita
akan mengalami anemia ringan yang kronis.(8) Penderita yang biasanya
bayi baru lahir, sejumlah kecil Hb Barts (4) bisa didapatkan di
elektroforesis Hb namun lewat umur satu bulan, Hb ini tidak terlihat
lagi dan kadar Hb A2 dan Hb F tampak normal. Thalassemia ini

biasanya bersifat asimptomatis dan diagnosis biasanya dilakukan saat


pemeriksaan kesehatan secara umum dan saat pemeriksaan antenatal. (5,8)
c. Penyakit Hb H
Penyakit Hb H biasanya ditemukan pada pasien yang mengalami mutasi
tiga rantai globin .(6) Pasien yang menderita Hb H biasanya mengalami
splenomegali dan ini merupakan komplikasi dari hipersplenisme, yaitu
keadaan dimana terjadi peningkatan aktivitas ginjal.(8) Biasanya
pemeriksaan

elektroforesis

normal

tetapi

kadang

didapatkan

hemoglobin H didalam eritrosit. (6)


d. Thalassemia mayor
Penyakit ini disebabkan karena tidak adanya keempat gen globin dan
tidak ada sintesis rantai sama sekali. Hb F, Hb A dan Hb A2 memiliki
rantai sehingga tidak satupun dari mereka yang terbentuk, hingga Hb
Barts (4) yang tersisa. Hb barts memiliki afinitas oksigen yang tinggi
sehinggabayi-bayi yang menderita penyakit ini mengalami hipoksia
berat. Kebanyakan bayi yang mengalami kelainan ini akan meninggal.
Bayi-bayi ini hidropik dan memiliki gagal jantung kongestif dan edema
anasarka berat.(5)

Gambar 2.1 Bayi dengan sindrom hidropik Hb Barts (8)

B.

Thalassemia (beta)

Thalassemia terjadi apabila terdapat kelainan dari salah satu atau


sepasang gen globin pada tubuh manusia. Pada thalassemia jenis ini, harapan
hidup pasien bergantung pada transfusi darah. Thalassemia dibagi atas:
a. Thalassemia trait (minor)
Thalassemia ini diakibatkan karena salah satu dari dua globin
mengalami kecacatan.(4) Kadar Hb biasanya sekitar 8-10 gr/dl.(9)
Thalassemia jenis ini biasanya asimptomatik namun terkadang
penderitanya mengalami anemia ringan. Jika kedua orang tua penderita
merupakan carrier, maka pada kehamilannya penderita beresiko
melahirkan anak dengan thalassemia homozigot sebanyak 25%.(10)
b. Thalassemia Intermedia/ Thalassemia sedang
Penderita thalassemia intermedia memiliki anemia yang lebih ringan
dari thalassemia mayor dan tidak membutuhkan transfusi darah, namun
ada kalanya penderita thalassemia intermedia juga membutuhkan
transfusi darah jika dalam keadaan yang buruk atau mengalami infeksi
yang disebabkan oleh anemia. Pada thalassemia jenis ini terdapat
kecacatan pada kedua jenis globin, namun masih bisa memproduksi
globin walau dalam jumlah yang sedikit. Kadar Hb penderita
thalassemia intermedia biasanya 6-7 gr/dl.(9,10)
c. Thalassemia Mayor
Pada thalassemia jenis ini, pasien hanya memiliki sangat sedikit globin
pada di dalam tubuhnya. Penderita thalassemia mayor
menggantungkan harapan hidupnya terhadap transfusi darah secara
berkala. Setelah transfusi pasin harus mempertahankan keadaan Hb
hingga 9,5-10,5 gr/dl . Biasanya transfusi berlangsung dengan frekuensi
2-3 minggu yang diselingi dengan perawatan kesehatan yang rutin
karena anemia yang berat.(6,10) Akibat dari transfusi darah secara terus
menerus ini maka dapat mengakibatkan kelebihan zat besi yang
tertumpuk pada hati. Pada penderita penderita yang tidak mendapat
transfusi secara berkala, terjadi hipertrofi pada jaringan eritropoetik
pada sumsum tulang, mengakibatklan tulang-tulang semakin tipis dan
terjadi resiko fraktur patologis. Gejala klinis pada pasien berupa facies

cooley (penonjolan tulang kraniofasial), pucat dan ikterus. Lalu juga


dapat mengakibatkan pembesaran pada limfa dan hati, hemosiderosis,
hipersplenisme sekunder, pubertas terlambat karena kelainan endokrin,
dan gagal jantung kongestif kronis akibat siderosis miokardium.(4)
2.1.5 Pengobatan
1. Transfusi darah
Transfusi darah merupakan pengobatan yang paling penting untuk penderita
thalassemia, khususnya thalassemia mayor. Kadar hb harus dipertahankan diatas
10 gr/dl. Pemberian darah diberikan dalam bentuk PRC (packed red cell) dan
dilakukan rutin dengan selang waktu 2-3 minggu. (6) Dikarenakan transfusi secara
terus menerus, maka dapat menyebabkan penumpukan zat besi sehingga pasien
mengalami hemosiderosis. Oleh karenanya pasien memerlukan terapi kelasi besi
untuk mencegah terjadinya hal tersebut. (10)
2. Medikamentosa
1. Terapi kelasi besi
Terapi kelasi besi digunakan untuk mengeluarkan zat besi tubuh penderita
thalassemia akibat terus menerus mendapatkan transfusi darah, sehingga dapat
mencegah terjadinya hemosiderosis (penumpukan zat besi) didalam tubuh
penderita. Ada 3 jenis obat yang umum digunakan yaitu:
a. Deferoxamine
Deferoxamine adalah obat berbentuk cairan yang diberikan dengan
menggunakan alat melalui lapisan kulit.(6) Obat ini memiliki berat molekul
yang rendah dan mengandung asam hidroksamik. Asam tersebut berikatan
dengan besi untuk menghasilkan ikatan yang kuat dan lebih stabil
dibanding dengan ikatan besi dan transferin, sehingga akan terbentuk
feroxamine yang selanjutnya diekskresikan ke urin dan empedu. Menurut
penelitian, kombinasi penggunaan deferoxamine dengan deferiprone
meningkatkan jumlah pengeluaran kelebihan zat besi pada pasien yang
mengalami penimbunan zat besi. Obat ini diberikan setelah kadar ferittin
mencapai 2000 ng/l dan saturasi ferittin serum lebih dari 50 %.(2) Dosis
untuk obat ini adalah 25-55 mg/kgBB/hari dalam waktu 8-12 jam dan

diberikan minimal selama 5 hari berturut-turut saat sudah diberikan


transfusi darah.(6)
b. Deferasirox
Deferasirox adalah obat untuk mengatasi kelebihan zat besi kronis.
(11)

Obat ini memiliki efek samping yaitu adalah sakit kepala, nause,

muntah diare dan lelah.(12)


c. Deferiprone
Deferiprone adalah obat oral yang digunakan untuk mengurangi
kelebihan zat besi. Namun belakangan ini, obat ini jarang digunakan
karena dalam sebuah observasi, obat ini menyebabkan fibrosis hepatik
kepada penggunanya. Selain itu, obat ini juga dapat menyebabkan arthritis
dan neutropenia. Meskipun begitu, dalam beberapa penelitian obat ini
dapat bekerja baik saat di berikan bersamaan dengan pemberian
deferoxamine.(13)
2. Asam Folat
Asam folat diberikan untuk sintesis DNA dan pada penderita thalassemia
asam folat diperlukan untuk proses regenerasi sel. Dosis yang dianjurkan adalah 1
mg per hari.(14)
3. Vitamin C
Vitamin C dapat membantu kerja dari deferoxamine untuk pengeluaran besi
hingga dua kali lipat, namun disisi lain, vitamin C juga ditemukan dapat
meningkatkan absorbsi besi. Oleh karena nya, dianjurkan pemberian dalam dosis
rendah sebanyak 100-250 mg/hari atau 3mg/kgBB/hari, kemudian dapat diberikan
desferoxamine.(14)
4. Vitamin E
Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan yang dapat memperpanjang umur
sel eritrosit. Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 200-400 IU
/kgBB/kali. Antioksidan lainnya adalah vitamin A, seng dan selenium yang juga
berguna sebagai perlindungan sel dari efek peroksidasi besi pada membran sel.(9,14)
5. Transplantasi sumsum tulang (atau transplantasi hemapoetik sel induk)

Untuk menjalani prosedur ini, pasien membutuhkan donor dari HLA


(Human Leukocyte Antigen) yang cocok dan sehat, kemungkinan bisa didapatkan
dari keluarga. Darah pasien dan pendonor akan diperiksa untuk melihat
kecocokan. Namun terdapat beberapa resiko dalam prosedur ini, diantaranya
adalah kematian, kegagalan atau ketidakcocokan HLA dan reaksi penolakan dari
tubuh. Selain itu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk bisa mendapatkan
pengobatan jenis ini. (2,15)
2.1.6 Pencegahan
a. Edukasi
Terdapat cukup banyak carrier thalassemia di Indonesia sehingga sangat
penting adanya edukasi thalassemia yang dimulai dari gejala awal, cara penyakit
ini diturunkan dan juga pencegahannya. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dari
banyak pihak seperti dokter, peneliti, perawat, psikolog, pekerja sosial, organisasi
yang berkompeten dan juga media massa. (4,16)
b. Konseling genetika
Thalassemia dapat diturunkan dari orang tua dengan tanpa gejala jika kedua
orang tua merupakan carrier. Diagnostik pasti merupakan kunci dari konseling
terhadap orang tua atau pasangan yang memiliki resiko. Konselor adala dokter
dan ahli hematologi yang kemudian akan mengkaji pasangan yang memiliki
resiko tersebut, mulai dari perjalanan genetik atau kemungkinan mereka memiliki
anak yang terinfeksi. Orang tua yang beresiko dapat memutuskan untuk tetap
memiliki anak atau menunda terlebih dahulu sampai evaluasi pre-natal. Evaluasi
pre-natal memiliki tujuan untuk mengetahui sedini mungkin apakah janin yang
dikandung menderita thalassemia mayor. Pemeriksaan dilakukan dengan
menggunakan USG saat akhir trimester pertama dan dilakukan dengan
menggunakan biopsi vili korialis.(16)
c. Skrining carrier
Skrining carrier bertujuan untuk menjaring carrier thalassemia dalam sebuah
populasi dan mengidentifikasi individu dan pasangan carrier, kemudian
memberitahukan kemungkinan mereka memiliki anak dengan thalassemia dan
memberitahukan pilihan yang dapat dilakukan untuk menghindarinya. (16)

Pemeriksaan untuk skrining adalah sebagai berikut:


1. Hematologi rutin
2. Darah tepi
3. Ferittin serum
4. Analisis hemoglobin
5. Analisis DNA (6)
2.1.7 Komplikasi
Transfusi darah biasanya diberikan sampai kadar Hb mencapai 12,5 g/dl
dan kadar sebelum transfusi tidak boleh kurang dari 10 g/dl. Pemberian transfusi
darah secara berulang dapat mengakibatkan penimbunan zat besi diberbagai
jaringan dan organ tubuh, misalnya sel Retikulum Endotelial (RE), hati, limpa,
sumsum tulang, otot jantung, ginjal, tiroid dan lain sebagainya.(9)
Efek yang sering timbul adalah hemosiderosis. Hemosiderosis adalah
penimbunan hemosiderin (cadangan zat besi) didalam jaringan. Terdapat 4 jenis
hemosiderosis, yaitu hemosiderosis lokal, hemosiderosis hemolitik atau
transfusional,

hemosiderosis

nutrisional

dan

hemakromatosis

primer.

Hemosiderosis transfusional terjadi akibat transfusi darah berulang. Awalnya,


hemosiderin berakumulasi di sel MPS, namun dalam berbagai kasus dan kondisi,
sel parenkim yang ada di hati ataupun jantung juga mengalami overload akibat
hemosiderin. (17)

Gambar 2.2 Manajemen thalassemia dan pengobatan untuk komplikasinya (3)


2.2 Serum Feritin dan Fungsi Hati
2.2.1 Definisi
Hati memiliki banyak fungsi dan beberapa fungsi yang dimilikinya saling
berkaitan antara satu dengan yang lain. Beberapa fungsi hati antara lain:
1. Penyaringan dan penyimpanan darah
2. Metabolisme karbohidrat, protein, lemak, hormon dan zat kimia asing
3. Pembentukan empedu
4. Penyimpanan vitamin dan besi
5. Pembentukan faktor koagulasi(18)

10

2.2.2 Hati Sebagai Penyimpanan Zat Besi dalam Bentuk Feritin


Jumlah total besi rata-rata dalam tubuh sebanyak 4-5 gram, dan kira-kira 65
persennya ditemukan dalam bentuk hemoglobin. Sejumlah 4% dalam bentuk
mioglobin, 1% dalam bentuk berbagai senyawaheme yang dapat memicu oksidasi
intrasel, 0,1% bergabung bersama protein transferin yang terdapat dalam plasma
darah, dan 15-30% disimpan untuk penggunaan selanjutnya. (18)
Besi diabsorbsi dari usus halus, kemudian besi tersebut bergabung
bergabung dalam plasma darah dengan beta globin, yaitu apotransferin untuk
membentuk transferin, dan selanjutnya dibawa dalam plasma. Besi berikatan
longgar didalam transferin dan menyebabkan ia terlepas ketiap sel jaringan dalam
tubuh. Kelebihan dari zat besi ini disimpan paling banyak di hepatosit tulang dan
sisanya di sel retikulo-endotelial sumsum tulang. Dalam sitoplasma sel, besi
bergabung dengan suatu protein bernama apoferitin untuk membentuk feritin.(18)
Berat molekul dari apoferitin adalah sekitar 460.000, dan sebagai tempat
bergabungnya berbagai kelompok radikal besi dikarenakan molekul yang dimiliki
besar, oleh sebab itu feritin tidak mengandung terlalu banyak besi. Besi yang
disimpan dalam feritin ini disebut besi cadangan. Ditempat penyimpanan, juumlah
besi yang disimpan lebih sedikit dan tidak larut, yang disebut hemosiderin.
Hemosiderin membuat sebuah kelompok besar dalam sel yang dapat dilihat secara
mikroskopis dalam bentuk partikel besar, sementara feritin memiliki partikel yang
sangat kecil dan jumlahnya menyebar sehingga hanya bisa dilihat dengan
menggunakan mikroskop elektron.(18)
Bila jumlah besi dalam plasma sangat rendah, maka sejumlah besi yang
terdapat di tempat penyimpanan feritin dan diangkut dalam bentuk transferin
didalam plasma ke bagian tubuh yang membutuhkan. Kemudian bersama dengan
besi yang terikat, feritin masuk kedalam eritoblas dengan cara endositosis.
Kemudian transferin melepaskan besi ke mitokondria . Pada orang yang tidak
memiliki jumlah transferin yang cukup, kegagalan pengangkutan besi ke eritoblas
dengan cara tersebut dapat mengakibatkan anemia hipokrom, yaitu sel darah
merah mengandung hemoglobin lebih sedikit dibandingkan dengan yang normal.
(18)

11

Gambar 2.3 Algoritma Penimbunan Zat Besi (19)

12

2.2.3 Serum Feritin Pada Penderita -Thalassemia Mayor


Molekul feritin merupakan gugus protein intraseluler yang berongga yang
terdiri dari 24 subunit yang mengelilingi sebuah inti besi yang mengandung
sebanyak 4000-45000 atom unit besi. Pada bagian tubuhnya, sedikit jumlah dari
ferittin disekresikan kedalam plasma. konsentrasi plasma ferittin secara positif
dikorelasikan dengan jumlah badan besi total tanpa adanya peradangan. Jumlah
serum ferittin yang rendah menggambarkan penyimpanan zat besi yang sudah
mulai habis, tetapi belum tentu sampai terjadi penipisan saat hal tersebut
berlangsung. Kadar normal feritin tergantung dari usia dan jenis kelamin. Kadar
serum tertinggi dimulai saat kelahiran, meningkat sampai usia dua bulan dan
kemudian turun ketika bayi. Pada umur satu tahun, kadar serum meningkat dan
terus berlanjut hingga dewasa. Pada saat remaja, pria memiliki jumlah kadar
serum yang lebih tinggi daripada wanita, hal ini berlangsung sampai saat dewasa.
Puncak kadar serum pada pria diantara usia 30-39 tahun dan kemudian konstan
sampai 70 tahun. Sementara pada wanita, kadar serum ferittin relatif rendah
sampai menopause dan kemudian meningkat. (20)
Akibat eritropoesis yang tidak efektif maka absorbsi besi meningkat melalui
saluran cerna. Akibat peningkatan absorbsi besi karena penimbunan besi ditambah
dengan transfusi darah secara berulang dapat menyebabkan berbagai kerusakan
organ tubuh. Organ yang paling terganggu adalah hati. Penimbunan besi yang
kronis

menyebabkan

penyakit

yang

terbagi

atas

kelompok,

yaitu

hemokromatosis primer dan hemokromatosis sekunder. Penimbunan besi yang


disebabkan oleh thalassemia termasuk pada hemokromatosis sekunder.(3)
Berdasarkan penelitian Shamsiraz et al , kadar ferittin serum rata-rata pada
kelompok thalassemia usia 10-14 tahun lebih rendah dibanding kelompok usia
lebih dari 15 tahun. Kadar normal ferittin adalah 40-340 ng/ml pada laki-laki dan
perempuan 15-150 ng/ml.(21)
Interpretasi kadar serum ferittin dapat dipengaruhi berbagai faktor yang
yang menyebabkan perubahan konsentrasi beban besi tubuh, yang termasuk
kedalamnya adalah defisiensi asam askorbat, panas, infeksi akut, inflamasi kronis,
kerusakan hati, hemolisis dan eritropoesis yang tidak efektif, yang kesemuanya
dapat terjadi pada pasien -thalassemia mayor. (9)

13

2.3 Pemeriksaan Fungsi Hati


Hati memiliki fungsi yang dapat dibedakan atas fungsi sintesis , ekskresi,
detoksifikasi, penyimpanan vitamin dan mineral, filtrasi zat toksik, dan
katabolisme. Untuk uji fungsi sintesis terdapat albumin serum, elektroforesis
albumin serum, aktivitas enzim kolineterase dan uji massa protombin. Bila ada
gangguan funsi sintesis hati, maka akan terjadi penurunan kadar albumin serum,
sementara, fraksi albumin pada elektroforesis menurun sehingga kadar albumin
akan lebih banyak daripada kadar globulin. Selain itu akan terjadi penurunan
aktivitas enzim koliniterase dan penurunan faktor-faktor koagulasi.(22,23)
Untuk melihat fungsi ekskresi, terdapat bilirubin serum yang meliputi
bilirubin direk (terkonjugasi), bilirubin indirek (tidak terkonjugasi), dan
urobilinogen urine. Kadar bilirubun direk akan meningkat jika terdapat gangguan
pada bilirubin terkonjugasi. Kadar urobilinogen urine akan berkurang jika terdapat
gangguan pada ekskresi empedu dan akan meningkat saat jumlah yang diproduksi
melebihi batas kemampuan hati untuk mengekskresi kembali, misalnya pada
ikterus hemolitik.(24)
Selain itu, juga terdapat pemeriksaan fungsi serum hati. Aktivitas serum
dalam darah ini dapat menunjukkan adanya suatu kelainan hati. Enzim serum ini
terdiri dari AST (SGOT), ALT (SGPT), LDH, fosfatase alkali dan uji sekretinCKK.

AST (Aspartate aminotransferase) atau serum glutamic oxsaloasetic

transminase (SGOT) dan ALT (alanine aminotransferase) atau serum glutamic


pyruvic transaminase (SGPT) dan LDH (lactic dehidrogenase) adalah enzim
intrasel yang berada di jantung, hati dan jaringan skelet. Enzim tersebut
dilepaskan dari jaringan yang rusak. Enzim-enzim tersebut akan meningkat pada
sel hati dan infark miokard. Fosfatase akali dibentuk di tulang, hati, ginjal, usus
halus dan dieksresikan ke dalam empedu. Kadar normalnya adalah 2-4 unit/dl dan
akan meningkat pada obstruksi biliaris, penyakit tulang dan metastasis hati. Uji
sekretin-CKK dilakukan dengan pengumpulan isi duodenum. Terdapat juga uji
imunologik yang biasanya dilakukan untuk memeriksa apakah terdapat hepatitis
virus.(24)
Terdapat banyak pemeriksaan uji fungsi hati, namun pada praktik nya
pemeriksaan fungsi hati dilakukan sesuai dengan indikasi dan bertahap. Untuk

14

deteksi awal pada umumnya dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin total dan
direk, SGPT, SGOT, AIP, GGT, albumin, globulin dan masa protombin. Untuk
kerusakan fungsi hati biasanya dilakukan SGOT dan SGPT karena dinilai lebih
sensitif dan dapat mendeteksi kerusakan hepatosit seminimal mungkin.(22,25)
2.4

SGPT dan SGOT


Pemeriksaan enzim SGOT dan SGPT merupakan pemeriksaan yang paling

populer karena dianggap praktis dan cukup spesifik dan sensitif untuk melihat
gangguan fungsi hati.(26) SGOT dan SGPT merupakan enzim yang terdapat di hati,
namun selain itu, SGOT juga terdapat di otot jantung, otak, ginjal dan otot-otot
tulang rangka. Oleh karena itu, peningkatan nilai SGOT juga dapat
memperlihatkan adanya kerusakan pada otot jantung, otak maupun tulang. Kadar
SGOT juga bisa meningkat pada orang yang mengkonsumsi obat-obatan, seperti
obat TB dan antibiotik.(27)
SGOT dan SGPT terdapat di sitosol dari sel hati. SGOT juga terdapat di
mitokondria. Kadar SGPT di jaringan hati lebih tinggi dibanding dengan kadar
SGOT. Baik SGPT dan SGOT adalah enzim yang berguna dalam pemeriksaan
maupun pemantauan untuk menilai tingkat inflamasi dan nekrosis pada hati, yang
dapat mengakibatkan pelepasan dari enzim tersebut kedalam sirkulasi, sehingga
meningkatkan permeabilitas dari membran sel atau kerusakan sel. SGPT lebih
spesifik dalam hati, dimana SGOT juga mengalami peningkatan jika terdapat
kerusakan di jaringan lain, misalnya infark miokard, nekrosis otot, kerusakan
ginjal, kerusakan jaringan pada otak dan hemolisis intravaskular. Pada penyakitpenyakit tersebut, kadar SGOT meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan
SGPT. Disamping itu, pada penyakit hati umumnya kadar SGPT lebih meningkat
dibandingkan dengan SGOT. Dalam beberapa kasus dari nekrosis hati akut, serum
SGOT dan SGPT bisa jadi hanya mengalami sedikit peningkatan yang
kemungkinan dikarenakan jaringan hati tidak cukup baik untuk tetap melepaskan
enzim ke dalam sirkulasi.(28)
Serum SGOT dan SGPT juga berguna dalam penegakan diagnosa hepatitis
virus akut. Hasil pemeriksaan serum ini juga dapat membedakannya dengan
penyakit obstruksi jaundice. Pada penyakit hepatitis virus akut, terdapat

15

peningkatan yang sangat signifikan pada kadar SGOT dan SGPT, yaitu mencapai
30-50 kali lipat dari kadar normal, bahkan hingga 100 kali lipat dari kadar normal,
dengan kadar SGPT lebih tinggi dibandingkan dengan kadar SGOT. Pada
penyakit obstruksi jaundice maupun penyakit hati lain, didapatkan peningkatan
sedang antara 10-15 kali lipat dari nilai normal, dengan rasio perbandingan SGOT
dan SGPT lebih tinggi atau sedikit lebih rendah dari 1. Perhitungan rasio SGOT
dan SGPT memungkinkan diagnosis yang benar dalam 95 sampai 98 persen kasus
hepatitis virus akut, dan 90 sampai 95 persen dari kasus obstruksi jaundice.(28)
Nilai normal SGOT adalah 0-40 IU/L dan SGPT adalah 5-40 IU/L. (29)
Sementara itu, menurut Gowda et al (2009), nilai normal SGOT adalah 7-56
IU/L.(30) Selain itu, menurut Mariana Lazo et al (2008) nilai SGOT dikatakan
meningkat jika lebih dari 37 IU/L untuk laki-laki dan 31 IU/L untuk perempuan
dan nilai SGPT dikatakan meningkat jika lebih dari 40 IU/L untuk laki-laki dan
lebih dari 33 untuk perempuan.(31) Menurut Abbot Laboratories, nilai normal
SGOT adalah 0-35 IU/L dan SGPT adalah 7-46 IU/L. (32) Baik SGOT maupun
SGPT dianggap abnormal jika nilai hasil pemeriksaan 2-3 kali lebih besar
dibandingkan dengan nilai normal.(27)

16