Anda di halaman 1dari 3

Minuman Keras Oplosan dan solusi tuntas dalam islam

Minuman keras (miras) oplosan yang telah merenggut banyak korban jiwa di sejumlah daerah
kian meresahkan masyarakat. Pihak yang berwajib pun menggencarkan razia di berbagai
tempat guna mengantisipasi peredaran miras oplosan. Berbagai bahan berbahaya dicampur
ke dalam minuman tersebut, mulai dari lotion anti nyamuk hingga jamur kotoran sapi untuk
mendapatkan efek yang diinginkan.
Salah satu bahan yang umum digunakan untuk mencampur miras adalah methyl alcohol atau
metanol. Biasanya metanol digunakan dalam dunia industri atau dijumpai sebagai penghapus
cat atau lebih dikenal sebagai tiner.
Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI dr Eka Viora SpKJ mengatakan, metanol sering
digunakan dalam minuman keras oplosan. Yang mengonsumsinya akan menyebabkan
alcohol poisoning atau keracunan metanol hingga berujung kematian.
"Bayangkan kalau minum metanol sama dengan kita minum formalin. Reaksinya dapat
merusak jaringan saraf pusat, otak, pencernaan, hingga kasus kebutaan," jelas dr Eka saat
acara Bahaya Miras Oplosan, di Ruang Mahar Marjono, Kantor Kementerian Kesehatan,
Jalan Rasuna Said, Jakarta, Kamis (11/12/2014).
Pemerintah mengaku kesulitan untuk membasmi minuman keras oplosan di kalangan
masyarakat. Pasalnya, penegakan hukum terkait minuman keras oplosan masih jalan di
tempat.
Secara keseluruhan maraknya peredaran minuman keras disekitar kita telah mencapai
tingkatan yang amat memprihatinkan. Kebiasaan mengkonsumsi barang haram ini demikian
meluas, bukan hanya pada orang dewasa melainkan juga anak-anak remaja telah banyak yang
kecanduan miras. Padahal mengkomsumsi minuman alkohol secara berlebihan bagi kalangan
remaja dapat mempengaruhi kondisi perilaku perubahan psikologis mereka, serta kehilangan
daya konsentrasi mereka dalam belajar yang menyebabkan menurunnya prestasi belajar
mereka di sekolah. Kasus perkelahian antar pelajar yang kini marak terjadi, disebabkan oleh
perilaku mereka mengkomsumsi miras yang menyebabkan daya emosi mereka tak terkendali.
Disamping itu, kebiasaan mengkonsumsi miras dapat mengundang banyak penyakit
berbahaya seperti sirosis hepatis, kanker hati, penyakit jantung dan pembuluh darah serta
gangguan daya ingat dan berbagai penyakit saraf lainnya.
Laporan WHO mengenai Alkohol dan Kesehatan 2011 menyebutkan sebanyak 320.000 orang
usia 15-29 tahun meninggal di seluruh dunia setiap tahun karena berbagai penyebab terkait
alkohol. Jumlah itu mencapai sembilan persen dari kematian usia tersebut. Di Indonesia
sendiri setidaknya 18.000 orang setiap tahunnya juga kehilangan nyawa karenanya.
Beberapa kalangan berpendapat bahwa maraknya miras oplosan disebabkan pelanggaran
produksi miras. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok salah satunya. Bahkan Gubernur DKI
Jakarta ini meminta produksi miras berizin dibebaskan atau dengan kata lain Ahok ingin
melegalisasi produksi miras. Pernyataan kontoversial ini segera menuai kritik dari berbagai
pihak. Pasalnya disaat produksi miras belum lagi berizin secara resmi, berbagai kerusakan
yang diakibatkan menenggak minuman ini telah amat meresahkan dan tidak diragukan lagi
bahwa miras adalah pangkal kejahatan. Mulai dari pembunuhan, tawuran, hingga
pemerkosaan. Belum lagi kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena pengendara yang mabuk.

Ketua PBNU Prof KH Said Aqil Siradj menilai maraknya peredaran minuman keras (miras)
lantaran tidak ada tindakan tegas dari pemerintah dan aparat hukum dalam menghukum
pelakunya. Menurut beliau, banyak peraturan daerah dan hukum yang mengatur miras,
namun tak satu pun yang dapat mencegah dan memberikan efek jera terhadap pelaku,
meskipun sudah menelan banyak korban jiwa.
Permasalahan miras di Indonesia sesungguhnya berpangkal dari penerapan sistem
kapitalisme. Sistem tersebut dinilai selalu membuka ruang bermunculannya bisnis haram
termasuk miras. Prinsipnya, selama ada permintaan pasar, menguntungkan bagi pengusaha
dan ada pemasukan buat negara, maka bisnis apapun termasuk yang merusak masyarakat
akan difasilitasi. Padahal merupakan tugas Negara untuk melindungi seluruh rakyatnya dari
berbagai produk yang berbahaya, terlebih lagi miras yang jelas-jelas merupakan sumber
utama kriminalitas dan kerusakan moral generasi bangsa, meskipun secara ekonomi bernilai
tinggi.
Islam sendiri dengan tegas mengharamkan miras (khamr), Allah SWT berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, berkorban untuk
berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah
perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. al-Maidah : 90)
Demikian pula Rasulullah SAW telah memperingatkan bahaya miras dalam hadits :
Jauhilah khamr, karena sesungguhnya ia adalah kunci semua keburukan (HR. al-Hakim dan
al-Baihaqi)
Islam juga mengharamkan semua hal yang terkait dengan khamr (miras), termasuk produksi,
penjualan, kedai serta uang/penghasilan yang didapat dari bisnis ini. Rasul saw bersabda:
Allah melaknat khamr dan melaknat orang yang meminumnya, yang menuangkannya, yang
memerasnya, yang minta diperaskan, yang membelinya, yang menjualnya, yang
membawakannya, yang minta dibawakan, yang makan harganya (HR. Ahmad)
Karena itu sistem Islam akan melarang produksi khamr (miras), penjualannya, tempat-tempat
yang menjualnya, peredarannya dsb. Orang yang melanggarnya berarti melakukan tindakan
kriminal dan dia harus dikenai sanksi. Dengan semua itu, syariah Islam menghilangkan pasar
miras, membabat produksi miras, penjualan, peredarannya dan tempat penjualannya di tengah
masyarakat. Dengan itu Islam telah menutup pintu dari banyak keburukan. Islam
menyelamatkan masyarakat dari semua bahaya yang mungkin timbul karena miras.
Sejarah mencatat, Daulah Khilafah Islamiyah sebagai satu-satunya institusi yang menaungi
umat Islam, meskipun memiliki cakupan wilayah yang amat luas, namun angka
kriminalitasnya amat rendah. Catatan pengadilan yang berumur ratusan tahun, yang
mendokumentasikan prestasi sistem sanksi syariah Islam sejak zaman Khilafah hingga saat
ini di Timur Tengah, menunjukkan betapa rendahnya tingkat kriminalitas. Selama ratusan
tahun syariah diterapkan, tercatat hanya beberapa ratus pencuri yang dihukum. Sementara itu
dalam masyarakat Kapitalis sekarang ini, tindak pencurian dan bentuk kejahatan lain bisa
terjadi tiap beberapa menit saja. Allah SWT berfirman :

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik
daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS Al Maidah : 50)
Allahu Alam