Anda di halaman 1dari 10

NAMA : KURNIA KRISTIANTON LAHAGU

KELAS : XII/KEP-1

SEJARAH PEKABARAN INJIL DI NIAS


Pekabaran Injil di Nias dimulai dengan satu nama yang seolah-olah terukir indah dengan
tinta mas dalam lembaran sejarah gereja di Pulau Nias. Nama itu ialah ERNST LUDWIG
DENNINGER, salah seorang lulusan Bassel Missions Seminarie tapi sebelumnya ia hanya
bekerja sebagai tukang cerobong asap. Ia diutus oleh RMG (Rheinische Missions Gesselschaft)
dan tiba di Pelabuhan Gunungsitoli Nias pada hari Rabu, tanggal 27 September 1865, jam 9
pagi. Hingga sekarang tanggal kedatangannya inilah yang dianggap sebagai permulaan datangnya
Berita Injil di Nias.
Memang ada informasi lain, bahwa Pekabaran Injil di Nias telah dimulai pada tahun
1822/1823 oleh dua orang pastor dari Gereja Roma Katolik,

yang diutus oleh Mission

Estrangers de Paris yaitu Pastor Pere Wallon dan Pastor Pele Barart, tetapi ternyata
pekerjaan mereka tidak berhasil. Setelah mereka tiga hari tinggal di Lasara Gunungsitoli,
seorang diantaranya meninggal dunia, demikian pula yang lainnya juga meninggal dunia tiga
bulan kemudian. Sebab itu Pendeta Evangelis ERNST LUDWIG DENNINGER-lah yang diakui
dan diterima sebagai Rasul Pertama di tengah-tengah Suku Nias.
Hasil pelayanan ERNST LUDWIG DENNINGER mengabarkan Injil di Nias sudah dapat
dilihat dan dirasakan sekarang ini. Dengan tekun Ia telah melakukan tugas pengutusannya,
sampai ia meninggal dunia pada tahun 1876 karena suatu penyakit dan dimakamkan di Batavia
(Kota Jakarta masa kini).

Masa Permulaan Yang Sulit (1865 1890)


Kira-kira 50 tahun setelah Tuhan Yesus

naik ke sorga dan memerintahkan Amanat

Agung Pekabaran Injil, Paulus dan para rasul sudah memberitakan Injil meliputi Asia Kecil,
bahkan sampai di Eropa. Setelah lama kemudian, kira-kira pada tahun 1700 keadaan terbalik, di
mana orang-orang Eropah mulai berusaha mengirim para misionaris ke Asia. Perubahan besar ini
terjadi sebagai dampak munculnya aliran Pencerahan dan Revival / Pietisme di Eropa pada
abad ke 18.

Page | 1

NAMA : KURNIA KRISTIANTON LAHAGU


KELAS : XII/KEP-1

Demikianlah halnya RMG di Barmen, Jerman, yang didirikan pada tahun 1828, salah satu
lembaga Pekabaran Injil yang berasal dari Gereja Uniert, yaitu gabungan Gereja Lutheran, dan
Gereja Reformiert (pada tahun 1817), mulai mengutus beberapa orang missionaris ke Pulau
Borneo (Kalimantan) bagian selatan yang tiba pada tahun 1836. Namun selama 20 tahun
mereka mengalami kesulitan-kesulitan yang luar biasa. Yang berhasil dibabtis baru 261 orang.
Apalagi dengan terjadinya pemberontakkan Suku Dayak yang dipimpin oleh Pangeran Al Hidayat
pada tahun 1859, yang berusaha mengusir dan membebaskan Borneo Selatan dari pengaruh
Bangsa Kulit Putih, sehingga tercatat 9 orang keluarga missionaris menjadi korban pembunuhan
(4 orang missionaris beserta 3 orang wanita dan 2 orang anak).
Para missionaris lainnya melarikan diri ke Batavia (Pulau Jawa), akibat pemberontakkan
itu, dan salah seorang diantaranya adalah ERNST LUDWIG DENNINGER. Pengurus RMG di
Barmen menyuruhnya pergi ke Tanah Batak, tetapi karena istrinya sakit maka ia terpaksa
tinggal di Padang, Sumatera Barat. Bahkan anaknya perempuan disuruh datang dari Jerman ke
Padang untuk merawat ibunya.
Di Padang ERNST LUDWIG DENNINGER bertemu dengan orang-orang suku Nias
(sekitr 3000 orang), kebanyakan bekerja sebagai buruh, yang berbeda bahasa, budaya dan
adat istiadatnya. Ia tertarik lalu mulai belajar bahasa dan cara hidup mereka. Ia senang
bergaul serta menjalin

hubungan dengan para buruh pekerja dari Nias tersebut. Dulu

sebelum Ia diutus ke Borneo, Ia pun bekerja sebagai tukang sapu cerobong asap rumah-rumah
di Berlin.
Mula-mula ERNST LUDWIG DENNINGER bermaksud membentuk satu jemaat bagi
orang-orang Nias di Padang, namun ia menyadari bahwa mereka hanya perantau yang sering
berpindah-pindah, sehingga akhirnya Ia memutuskan untuk datang langsung ke Pulau Nias.
Dengan mudah ia mendapat persetujuan dari RMG dan Pemerintah Hindia Belanda, sebab
sebelumnya sudah ada permintaan pemerintah kepada RMG agar diutus Pendeta Penginjil ke
Pulau Nias. Alasannya, karena orang-orang di Nias terkenal jahat, suka memberontak dan
mengayau kepala orang.

Page | 2

NAMA : KURNIA KRISTIANTON LAHAGU


KELAS : XII/KEP-1

Lalu tibalah waktunya Denninger sekeluarga meninggalkan Padang menuju Pulau Nias.
Keluarga missionaris tersebut mendarat di Pelabuhan Gunungsitoli pada jam 9 pagi hari Rabu,
27 September 1865. Dari pelabuhan mereka diantar langsung ke rumah Salawa Yawaduha di
Hilinaa. Dan pada hari itu juga Denninger mulai mengabarkan Injil kepada penduduk yang
datang berkumpul melawat mereka. Kemudian mereka menyewa salah satu rumah di
Gunungsitoli untuk tempat tinggal mereka.
Bersumber dari penuturan beberapa orang tua yang sekarang semuanya sudah meninggal
dunia, untuk menarik perhatian orang banyak supaya mau belajar Firman Tuhan dan nyanyiannyanyian gereja, Denninger lebih dahulu membagikan tembakau untuk rokok dan ramuan sirih.
Dalam masa permulaan yang sulit itu, Denninger berusaha mengajar beberapa pemuda agar
dapat membaca dan menulis. Permulaan sekolah ini hanya diselenggarakan di rumah penduduk,
dan ternyata berhasil, sehingga pemuda-pemuda inilah yang mampu menjadi pembantupembantu Denninger untuk mengajar anak-anak di sekitar Gunungsitoli pada tahun 1866.
Selain itu Denninger juga telah berhasil menterjemahkan Injil Yohanes dan Injil Lukas
ke dalam bahasa Nias. Karyanya ini sangat berarti, baik bagi orang-orang Nias yang dapat
membaca maupun bagi para missionris yang datang kemudian.
Pada tahun 1872, tujuh tahun setelah kedatangan Denninger di Pulau Nias, datang pula
missionaris kedua dari RMG yaitu Pendeta J.W. Thomas. Ia belajar bahasa Nias dari
Denninger, kemudian melayani di Pos Pekabaran Injil yang baru di Omblata.
Sesudah itu

pada tahun 1873 datang lagi missionaris kegita bernama Kramer. Ia

ditempatkan di Gunungsitoli bersama dengan istrinya yang terkenal sangat rajin berkunjung
kepada keluarga-keluarga di Kampung Hilinaa, sehingga pada hari paskah tahun 1874 berhasil
dilaksanakan Baptisan pertama kepada 25 orang penduduk Kampung Hilinaa, termasuk
Yawaduha, Salawa/kepala kampung Hilinaa.
Hasil pekabaran Injil berikutnya yakti pembaptisan 6 orang penduduk Omblata, tempat
Pdt. J.W. Thomas melayani, dan pada tahun 1876 menyusul lagi pembaptisan 32 orang penduduk
Faechu (2 km dari Omblata). Pada tahun 1876 itu pula berdirilah Gedung Gereja yang

Page | 3

NAMA : KURNIA KRISTIANTON LAHAGU


KELAS : XII/KEP-1

pertama di Nias, yaitu di Omblata, dan pada tahun 1880 disusul lagi berdirinya gedung Gereja
yang kedua, yaitu di Faechu.
Satu tahun sebelum meninggal dunia, yaitu pada tahun 1875, Denninger pergi berobat
ke Batavia. Dan Pada tahun 1876 tiba di Nias missionaris keempat bernama Dr. W.H.
Sundermann. Setelah dua tahun bersama Kramer di Gunungsitoli, Doktor Theologia ini merasa
matang berbahasa Nias, lalu membuka Pos Pekabaran Injil

di Dahana, namun di sana ia

berhadapan dengan penyembahan berhala yang begitu kuat. Sebab itu Ia beralih ke bidang
pendidikan dan menghimpun dan mengajar para pemuda setempat. Usahanya inilah yang
merupakan cikap bakal berdirinya Sekolah Guru di Nias.
Pada tahun 1881 datang lagi misionaris kelima bernama J.A. Fehr. Dia ini yang
mengantikan J.W. Thomas di Omblata pada tahun 1883, sebab J.W. Thomas pergi berusaha
membuka pos Pekabaran Injil di Saua, meskipun usahanya itu ternyata gagal.
Dalam 25 tahun masa permulaan ini, 5 orang pendeta penginjil dari RMG Jerman telah
bekerja di Nias. Namun usaha Pekabaran Injil banyak kesulitan, seperti pengaruh agama suku
yang sangat kuat, gangguan keamanan, pengayauan, wabah penyakit, keadaan geografi dan lainlain. Daerah yang dicapai hanya di sekitar Gunungsitoli saja, dengan 3 Pos Pekabaran Injil yaitu
Gunungsitoli, Omblata, dan Dahana. Usaha Denninger (yang dibantu oleh Kodding dan Mohri)
di Onolimbu (Muara sungai Idan Mola) pada tahun 1867, Sunderman di Tugala Lahmi-Sirombu
tahun 1875/1876, J.W. Thomas di Saua tahun 1885, tetapi semua itu baru bersifat
penjajakan.
Walaupun banyak kesulitan yang dialami serta jangkauan Pekabaran Injil yang dapat
dicapai tidak begitu luas, namun dalam periode ini telah berhasil dibaptis sebanyak 699 orang
(148 orang di Gunungsitoli, 348 orang di Omblata dan 203 orang di Dahana). Juga diantara
mereka telah dipilih beberapa orang menjadi penatua.

Page | 4

NAMA : KURNIA KRISTIANTON LAHAGU


KELAS : XII/KEP-1

Masa Perluasan / Penyebaran (1890-1914)


Usaha Pekabaran Injil pada periode ini ternyata mengalami kemajuan dibandingkan
dengan periode sebelumnya. Pada periode ini berhasil masuk di Nias bagian Tengah sampai ke
Nias bagian Barat, Pantai sebelah Timur sampai di Nias bagian Selatan, Nias bagian Utara dan
di Pulau-pulau Batu.

Masuknya Injil di Nias bagian Tengah dan Nias Bagian Barat


Dr. W.H. Sundermann telah berusaha menyebarkan Injil di Dahana, tetapi masih belum
menarik perhatian penduduk di sana. Maka pada tahun 1896 ia pindah ke Llwua dan membuka
pos pekabaran injil di situ. Di Llwua ini Sundermann berhasil menterjemahkan Alkitab ke
dalam Bahasa Nias, ditambah dengan Katekhismus Luther yang disebut Lala Wangorifi.
Sementara itu E. Fries yang baru tiba di Nias membuka pos pekabaran injil di
Sifaoroasi pada tahun 1905. Di sana ia mengalami kesulitan karena adanya perselisihan dan
perkelahian antara kelompok-kelompok penduduk, pengayauan, kemiskinan penduduk, wabah
penyakit yang telah merenggut banyak jiwa termasuk dua orang anaknya sendiri. Namun 4
tahun setelah kedatangannya di sana, tepatnya tanggal 26 Desember 1909 di Sifaoroasi dapat
dilaksanakan pembaptisan yang pertama sekaligus dengan peresmian Gedung Gereja yang
pertama di situ.
Di Nias bagian Barat H. Lagemann bersama A. Lett telah berhasil tiba di Sirombu pada
tahun 1892, dan membuka Pos Pekabaran Injil di situ di bawah asuhan A. Lett. Satu tahun
kemudian (tahun 1893) H. Lagemann juga berhasil membuka Pos Pekabaran Injil di Lahagu.
Menyusul lagi pada tahun 1899 Pendeta Sporket membuka Pos Pekabaran Injil di Llmboli
Moro. Demikian pula bersamaan dengan itu Pendeta w. Hoffman membuka pos pekabaran injil
di Hinako.
Berikutnya pada tahun 1903 Pendeta L. Hipponstiel menetap di Llwau. Dua tahun
kemudian (1905) Pendeta A. Pilgenroder membuka Pos Pekabaran Injil di Tugala Oyo, dan pada
tahun 1806 Pendeta Bassfeld membuka pos pekabaran injil di Llmoyo, Mandrehe. Akhirnya
Pendeta Bassfeld ini dipindahkan di Lawelu pada tahun 1919. Kemudian pekerjaannya di sana
diteruskan oleh Pendeta Uffer, Kreck dan Alfred Schneider.

Page | 5

NAMA : KURNIA KRISTIANTON LAHAGU


KELAS : XII/KEP-1

Masuknya injil di Pantai bagian Timur sampai di Nias bagian Selatan


Usaha pekabaran injil di Nias bagian Selatan baru dapat dibuka kembali pada tahun
1908, yaitu setelah pemerintah Hindia Belanda berhasil menduduki ri Maenaml. Sehingga
Pendeta H. Rabeneck berhasil membuka pos pekabaran Injil di sana pada tahun 1909 dengan
dibantu oleh dua orang tenaga guru yaitu Faedog di Hiligeo dan Fangaro di Hilisatar.
Baptisan pertama di sana baru terjadi pada tahun 1916. Berita Injil baru masuk di
Hilisimaetan pada tahun 1911, yaitu dengan datangnya Pendeta B. Borutta di sana. Masuknya
Injil di Nias bagian Selatan menghadapi cukup banyak tantangan dan kesukaran.
Pada tahun 1903 Pendeta Noll membuka Pos Pekabaran Injil di Bous. Orang-orang yang
datang dan pergi melalui Bous ini mempercepat tersiarnya berita Injil di kalangan penduduk
di Nias Bagian Utara, sehingga pada tahun 1910 Tuhenri Ama Deali yang bergelar Samasiniha
dari Hilindruria bersama 3 orang Salawa datang meminta kepada Poendeta Noll agar membuka
pos Pekabaran Injil di Hilimaziaya. Pada tahun 1911 Pendeta Schlipkoter membuka Pos
Pekabaran Injil di hilimaziaya. Kemudian berita Injil tersiar mulai dari Hilimaziaya dan dari
Tugala Oyo sampai di Afulu dan Lahewa. Akhirnya pada tahun 1922 Pendeta Skubina membuka
pos pekabaran injil di Lahewa.

Masuknya Injil di Pulau-Pulau Batu


Masuknya injil di Pulau-pulau Batu bukan atas usaha RMG tetapi atas usaha Luthersche
Zendings Genotschap dari Negeri Belanda. Setelah mendapat izin dari Pemerintah Hindia
Belanda di Padang, Pendeta Johannes Kersten yang sebelumnya telah belajar bergaul dengan
orang-orang Nias di Padang akhirnya berlayar menuju Pulau Tello dan tiba pada tanggal 25
Februari 1889. Seperti halnya di daratan Pulau Nias, Pendeta Johannes Kersten di sana juga
menghadapi wabah penyakit dan permusuhan antar kelompok penduduk. Pada akhir tahun itu
datang pula Pendeta C.W. Frickenshmit, dan tidak lama kemudian menyusul P. Landwer yang
berhasil membuka pos pekabaran injil di Sigala pada tahun 1896.
Mula-mula mereka berusaha membuka sekolah-sekolah di pulau-pulau yang berdekatan,
jadi dari situ diteruskan usaha pekabaran injil. Dengan cara ini pada tahun 1912 dapat dibuka

Page | 6

NAMA : KURNIA KRISTIANTON LAHAGU


KELAS : XII/KEP-1

Pos pekabaran injil di Pulau Mari, pada tahun 1913 di Pulau Betua, tahun 1914 di Pulau Sifika
dan tahun 1916 di Pulau Lora.
Gereja yang pertama didirikan di Pulau-pulau Batu disebut BKP (Banua Keriso Protestan)
dan akhirnya menggabungkan diri dengan BNKP Pada Persidangan Majelis Sinode BNKP pada
tahun 1960 di Omblata.

Berdirinya Gereja BNKP


Setelah Injil masuk ke Nias, terjadilah suatu gerakan pertobatan massal yang disebut
Fangesa Dd Sebua. Peristiwa ini terjadi selama 14 tahun (tahun 1916 1930), walaupun
kadang-kadang terputus. Terjadinya mula-mula di Jemaat Helefanicha, Humene, ketika
Pendeta Otto Rudersdorf berkhotbah dalam Kebaktian Perjamuan Kudus pada bulan April 1916.
Salah seorang jemaat yang mengikuti kebaktian bernama Filema mengakui semua dosa dan
kesalahannya sehingga sangat susah, gelisah, gemetar dan menangis.
Setelah Pendeta mendoakan serta memberi petunjuk agar ia mohon pengampunan dari
Tuhan dan meminta pengampuan dari setiap orang dengan siapa Ia bersalah, ia melakukan
semuanya itu, akhirnya ia merasa damai dan bahagia. Tetapi anehnya orang-orang kepada siapa
ia meminta pengampunan itu juga semua mengalami pula gejala yang sama, sehingga pertobatan
itu berkembang kepada seluruh jemaat, bahkan sampai ke Gunungsitoli, Sogaeadu, Llwua,
Nias Tengah dan Nias Barat.
Meluasnya gejala ini dapat melalui kunjungan kepada kaum keluarga, mengikuti
persekutuan doa, kebaktian pemahaman alkitab, dan sebagainya. Pertobatan massa ini ternyata
sangat mempengaruhi perkembangan anggota jemaat sampai 415%. Dari 699 orang sampai
tahun 1890 naik menjadi 17.795 orang tahun 1915, emudian menjadi 83.905 orang.
Disamping pertobatan massal, juga dengan adanya pembinaan pelayan-pelayan gereja
yang melayani pekabaran Injil. Pendidikan tenaga pendeta yang telah dimulai sejak tahun 1905
telah berkembang dan memungkinkan berdirinya gereja. Sampai tahun 1940 telah ditahbiskan
25 orang pendeta dari Suku Nias.

Page | 7

NAMA : KURNIA KRISTIANTON LAHAGU


KELAS : XII/KEP-1

Pada tanggal 18 sampai dengan 25 November 1936 di Gunungsitoli diadakan Persidangan


Majelis Sinode pertama, sehingga berdirilah BNKP sebagai gereja di Nias, walaupun anggaran
dasarnya baru disahkan pemerintah pada tahun 1938. Sinode BNKP itu dipimpin oleh Ephorus
A. Luck dari RMG sampai tahun 1940.
Tetapi pada bulan Mei 1940 terbentuklah anggota Pimpinan

Sinode BNKPO sebagai

berikut :
Voorzitter (Ketua)

: Atofna Harefa

Wakil Voorzitter

: Fonehe Mendrfa

Sekretaris

: Andreas Larosa

Bendahara

: Tandrombr Hulu

Komisaris I

: Karrwa Telaumbanua

Komisaris II

: Taobini Zebua

Atas prakarsa Komisi Pekabaran Injil (yang sekarang bernama KMO), BNKP juga pernah
mengutus tenaga pendetanya ke Tanah Karo yaitu Pendeta Fons. Gul yang melayani di
Kabanjahe dan Munthe dari tahun 1967 sampai dengan 1970. Namun pengutusan ini terpaksa
berhenti karena kesulitan dana. Baru pada bulan September 1996, melalui kerjasama dengan
OMF, BNKP telah mengutus pendekta Masrial Zebua, STh untuk mengabarkan Injil di tengahtengah Suku Manobo, pulau Mindanao Filipina Selatan. Dan seterusnya atas kerjasama dengan
WEC juga telah diutus Pendeta Destalenta Zega, STh yang didampingi suaminya Max Ay, untuk
melayani di Kirgistan, Rusia. Selain kedua wanita yang diutus BNKP ke luar negeri tersebut,
juga tercatat satu orang yang bertugas melayani di Tasikmalaya dan sekitarnya, yaitu Pendeta
Charisda Hulu.
Hingga Maret 2008, dari sebanyak 275 orang Pendeta BNKP yang aktif melayani,
terdapat 110 orang diantaranya adalah Wanita.
Sebagai dampak datangnya Injil dan usaha pekabaran injil di Nias, maka berdirilah
Gereja BNKP yang melembaga sebagai satu sinode pada tanggal 18 November 1936. BNKP
adalah satu gereja beraliran reformasi di Indonesia, yang telah menjelma di Pulau Nias sejak
kedatangan Missionaris pertama Ernst Ludwig Denninger di Pulau Nias pada hari Rabu, tanggal

Page | 8

NAMA : KURNIA KRISTIANTON LAHAGU


KELAS : XII/KEP-1

27 September 1865. Dalam perkembangannya tercatat bahwa BNKP berasal dari hasil
pemberitaan Injil

para utusan Rheinische Missions Gessellschaft (RMG) dan pasra utusan

Netherlands Luthers Genootschap Voor en ellitendige Zending dan selanjutnya diteruskan oleh
para pemberita Injil Ono Niha.
BNKP mempunyai dasar Alkitab dan Tata Gereja BNKP, dan tujuan BNKP adalah
menyaksikan Injil Yesus Kristus kepada semua makhluk bagi kemuliaan Allah dan keselamatan
manusia. Pada hakekatnya BNKP adalah persekutuan orang-orang kudus yang telah dibaptis
dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus sebagai perwujudnyataan dari Tubuh Kristus.
Tuhan Yesus memerintah dan mengembalakan BNKP melalui Firman dan Sakramen dengan kuat
Kuasa Roh Kudus.
Penataan BNKP secara organisatoris, sebagai satu lembaga gereja memberlakukan
sistem Presbiterial Sinodal, maksudnya jemaat-jemaatnya sebagai basis operasional dinamika
pelayanannya, sehingga terhindri dari dominasi sinodal yang kaku, statis dan otoriter.
Sedangkan pada sisi lain menggaris bawahi peranan hubungan sinodal sehingga terhindar dari
bahaya memutlakkan jemaat setempat (Kongregasionalisme). Itulah BNKP sebagai gereja
Reformasi.
Sampai akhir tahun 2007, jumlah anggota BNKP tercatat 355.136 orang, yang terbagi
dalam 7 resort, 114 distrik, dan 993 Jemaat. Keseluruhan Jemaat ini dilayani oleh 8.500 orang
penatua, 795 orang Guru Jemaat, dan 275 orang Pendeta (165 Laki-laki dan 110 perempuan,
ditambah dengan 18 orang vikar/calon pendeta. Selain unsur pelayanan khusus tersebut, BNKP
mempunyai beberapa unit pelayanan, yakni 10 Komisi, 5 Lembaga dan 3 Yayasan/Proyek.
Dalam hubungan kerjasama oikumenis, BNKP telah menjadi anggota PGI (1952), CCA
(1964), WCC (1972), VEM (1993) dan LWF (2001).

Gereja-gereja di samping BNKP


Pada tahun 1933 gerekan Faawosa (=persekutuan) mulai memisahkan diri dari pimpinan
zending (kemudian BNKP), karena penganutnya menganggap harus mematuhi suara yang
langsung diterimanya dari Roh lebih daripada aturan gerejawi. Setelah melepaskan diri dari
induk maka kelainan-kelainan yang muncul tidak mungkin lagi diimbangi pengaruh dari saudara

Page | 9

NAMA : KURNIA KRISTIANTON LAHAGU


KELAS : XII/KEP-1

Kristen yang berpendapat lain; akibatnya dalam gerakan Faawosa itu (yang kemudian pecah
menjadi beberapa kelompok) unsur-unsur agama Kristen semakin tercampur dengan unsurunsur Islam dan agama suku. Pada tahun 1946 berdirilah kelompok lain, yaitu Angowuloa Masehi
Idanoi Niha (kemudian namanya diubah menjadi: Agama Masehi Indonesia Nias, kemudian lagi:
Gereja Angowuloa Masehi Indonesia Nias, AMIN juga).
Akar perpecahan ini bukanlah gerakan kebangunan, melainkan soal wewenang para kepala
suku di dalam gereja, yang muncul pada tahun 1936 itu. Dalam gereja AMIN pengaruh kepala
suku itu besar. Hal ini mengingat kita akan bentuk gereja dalam lingkungan suku-suku German
di Eropa (tahun 500-1000). Pada tahun 1950 sekali lagi segolongan orang Kristen di Nias Barat
memisahkan diri dari BNKP, dengan nama Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP). Dalam hal ini
soal kedaerahan memainkan peranan disamping unsur kebangunan. Di Nias Selatan, unsur
kedaerahan itu ditampung juga oleh misi Katolik Roma, yang mulai bekerja di situ pada tahun
1939. Baik ONKP maupun gereja Katolik Roma kemudian meluas ke seluruh wilayah pulau Nias
sambil menyaingi BNKP. Namun, pada akhir abad ke-20 BNKP tetap merupakan gereja
mayoritas penduduk Nias, dengan jumlah anggota 325.000 (60% penduduk pulau Nias). Di
antara gereja-gereja yang telah memisahkan diri dari BNKP, tiga telah diterima menjadi
anggota PGI, yaitu AMIN (18.000 anggota), ONKP, dengan 60.000 anggota, dan Gereja
Angowuloa Faawosa Kho Yesu (AFY, 32.000 anggota). Gereja Katolik Roma di Nias berjumlah
90.000 jiwa.

Demikianlah Sejarah Pekabaran Injil di Nias. Tuhan Memberkati. Amin

Page | 10