Anda di halaman 1dari 18

TUGAS

PENGANTAR ILMU FARMASI

Nama : Ana Hulliyyatul Jannah


NIM : 1013015042

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2010

PERATURAN PEMERINTAH NO.51


Tanggal 10 April 2010 Pemerintah secara resmi telah mengeluarkan
Peraturan Pemerintah No 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian.
Bagi para apoteker Indonesia, lahirnya PP tersebut benar-benar bernilai
strategis karena secara spesifik pekerjaan kefarmasian dan ketentuan
pelaksanaannya

secara

legal

formal

telah

ditetapkan.

Dalam PP No 51 Tahun 2009 pekerjaan kefarmasian didefinisikan


sebagai pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi,
pengamanan,

pengadaan,

penyimpanan

dan

pendistribusi

atau

penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter,


pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan
obat

tradisional.
Pelaksanaan pekerjaan kefarmasian meliputi pekerjaan kefarmasian

dalam pengadaan sediaan farmasi; pekerjaan kefarmasian dalam produksi


sediaan farmasi; pekerjaan kefarmasian dalam distribusi atau penyaluran
sediaan farmasi; dan pekerjaan kefarmasian dalam pelayanan sediaan
farmasi.
Pekerjaan

kefarmasian

hanya

dapat

dilakukan

oleh

tenaga

kefarmasian yaitu apoteker dibantu tenaga teknis kefarmasian baik


sarjana farmasi, ahli madya farmasi, analis farmasi dan asisten apoteker.
Tujuan pengaturan pekerjaan kefarmasian adalah untuk :
(1) Memberikan perlindungan kepada pasien dan masyarakat dalam
memperoleh dan/atau menetapkan sediaan farmasi dan jasa kefarmasian;
(2) Mempertahankan dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pekerjaan
kefarmasian

sesuai

dengan

perkembangan

ilmu

teknologi serta peraturan perundangan-undangan; dan

pengetahuan

dan

(3) Memberikan kepastian hukum bagi pasien, masyarakat dan Tenaga


Kefarmasian.
Dengan dikeluarkannya PP 51/2009 ini maka peran dan kedudukan
apoteker dalam sistem kesehatan sudah sangat jelas. Obat yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari sistem kesehatan adalah domain
apoteker.
Tanggungjawab apoteker terbentang sejak proses produksi sampai
obat dikonsumsi. Dalam bahasa populer apoteker bisa disebut sebagai
pelindung konsumen obat.
Keluarnya PP 51/2009 bukanlah akhir tetapi lebih merupakan awal
dari proses reinventing profesi apoteker di Indonesia. Berhasil atau
tidaknya implementasi PP ini selain tergantung pada law enforcement
juga

dipengaruhi

langsung

oleh

komitmen

para

apoteker

untuk

melaksanakannya.
Disahkan dan diterbitkannya PP 51 mengundang reaksi dari Civitas
Akademika Fakultas Farmasi, Unpad sehingga telah dilaksanakan Diskusi
panel dan membahasnya. Diskusi panel ini dihadiri oleh Dekan Fakultas,
para Pembantu Dekan, Dosen dan Mahasiswa tingkat profesi. Hasil diskusi
panel menghasilkan beberapa poin keuntungan dan kerugian sebagai
berikut :
Keuntungan
1. Apoteker yang telah melakukan registrasi akan mendapatkan Surat
Tanda Registrasi Apoteker (STRA) sehingga memudahkan mapping untuk
apoteker seluruh indonesia (Pasal 1 (20), pasal 39 (1) dan (2)).
2. Posisi yang harus diisi Apoteker di Industri farmasi bagian pemastian

mutu/quality assurance (QA) (Pasal 9 (1)). Sebelum PP 51 : posisi QA boleh


non-farmasi.
3. Industri Obat Tradisional (IOT) dan pabrik kosmetika harus memiliki
minimal 1 orang apoteker sebagai penanggung jawab (Pasal 9 (2)).
Sebelum PP 51 : tidak diharuskan penanggung jawab seorang apoteker.
4. Apoteker dapat menjalankan pelayanan kefarmasian di Puskesmas
(Pasal 19). Kondisi tersebut memungkinkan bagi Apoteker yang bekerja di
Puskesmas untuk meningkatkan jabatannya menjadi Kepala Puskesmas.
Sebelum PP 51 : tidak mengatur pelayanan kefarmasian di Puskesmas.
5. Keberadaan Apotek Rakyat (yang berada di sekitar jalan Pramuka) bisa
menjadi ilegal karena bertentangan dengan PP 51 Pasal 21 (1) dan (2),
pasal 51 (1).
6. Apoteker dapat mengangkat seorang apoteker pendamping sehingga
pelayanan kefarmasian dapat terjaga kualitasnya sesuai dengan Standar
Prosedur Operasional (Pasal 24). Sebelum PP 51 : tidak ada apoteker
pendamping.
7. Peluang pekerjaan bagi apoteker bertambah dengan adanya poin 2, 3
dan

4.

8. Masuknya Apoteker asing ke Indonesia harus menjadi motivasi dalam


meningkatkan pelayanan kefarmasian.

Kerugian :

1. Kewajiban mengurus STRA menambah pengeluaran bagi setiap


apoteker (Pasal 39).
2. Dokter dan dokter gigi masih melakukan dispensing pada daerah
terpencil (Pasal 22). Definisi daerah terpencil harus diperjelas supaya
dispensing yang dilakukan dokter dan dokter gigi menjadi tepat.
3. Substitusi obat merek dagang dengan obat merek dagang lainnya akan
menciptakan monopoli perdagangan (Pasal 24 (b)).
4. Masuknya Apoteker asing ke Indonesia akan mempersempit lahan
pekerjaan

(Pasal

42).

Pembinaan dan pengawasan pelaksanaa pekerjaan Kefarmasian tidak


melibatkan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) (Pasal 58).

PHARMACEUTICAL CARE (PC)


Konsep PC : tujuan akhir dari pelayanan farmasis adalah masyarakat
harus lah aman dalam menggunakan obat
PC adalah : tanggung jawab dalam menetapkan terapi obat dengan
mencapai tujuan outcome yang nyata kearah peningkatan kualitas hidup
pasien
Therapeutic Outcome
1. menyembuhkan penyakit
2. mereduksi/mengeliminasi gejala
3. menahan/memperlambat perkembangan penyakit
4. mencegah penyakit/gejala

yang lain :
1. Tidak ada komplikasi atau gangguan lain yangn dimunculkan
penyakit
2. menghindarkan atau meminimalkan eso dari treatment
3. menyediakan terapi yang hemat
4. memelihara kualitas hidup pasien
PC menggunakan suatu proses dengan cara farmasis bekerjasama dengan
pasien

dan

professional

kesehatan

yang

lain

dalam

mendisain,

menetapkan, dan memonotor rencana terapi untukmenghasilkan outcome


terapi yang spesifik untuk pasien.
Fungsi FC
1. Mengidentifikasikan DRP yang potensial dan actual
2. memecahkan DRP yang actual
3. Mencegah DRP yang potensial
DRPs adalah suatu peristiwa atau keadaan yang menyertai terapi obat
yang actual atau potensial bertentangan dengan kemampuan pasien
untuk mencapai outcome medik yang optimal
Macam DRPs
1. Ada indikasi yang tidak diterapi
2. Pemilihan obat yang salah
3. dosis subterapi
4. Gagal dalam menerima obat
5. over dosage
6. ADR
7. Interaksi obat

8. Penggunaan obat tanpa indikasi


5 tahap proses PC
1. Hubungan yang professional dengan pasien harus terbangun
2. Informasi medik yang spesifik dari pasien haruslah dikumpulkan,
diorganisasi, direkam, dipelihara
3. Informasi medik yang spesifik dari pasien haruslah dievaluasi dan
rencana terqpi dibangun dengan kerjasama dengan pasien
4. Farmasis harus memastikan bahwa pasien mempunyai semua
persediaan, informasi, pengetahuan yangn dibutuhkan untuk keluar
dari perencanaan terapi/sembuh.
5. Farmasis harus meninjau ulang, memonitor dan memodofikasi
rencana terapetik sebagaimana yang diperlukan dan sesuai/tepat,
dengan persetujuan pasien dan tim kesehatan yang lain.

SISTEM DISTRIBUSI OBAT


Secara umum sistem distribusi obat di rumah sakit yaitu :
a.

Sistem resep individu (Individual Prescription)


Resep individu adalah resep yang ditulis dokter untuk tiap
penderita. Sistem ini biasanya digunakan oleh rumah sakit kecil
dan atau rumah sakit pribadi, karena memudahkan cara untuk
menarik pembayaran atas obat yang digunakan pasien dan
memberikan pelayanan kepada pasien secara perorangan. Tapi
meningkatkan kebutuhan personel bagian farmasi untuk tugas
melayani

resep

perorangan.

Keuntungan

sistem

Individual

Prescription :
1) Semua pesanan obat langsung diperiksa oleh farmasis.

2) Memungkinkan interaksi antara farmasis, dokter, perawat, dan


pasien.
3) Meningkatkan pengawasan obat-obatan dengan lebih teliti.
4) Memberikan cara yang cocok melaksanakan pembayaran obatobatan yang digunakan pasien (Ray, 1983).
b. Sistem persediaan lengkap di ruangan (ward floor stock)

Pada sistem ini hampir semua obat-obatan dapat di suplai, kecuali


yang jarang dipakai atau yang sangat mahal sekali disediakan
pada setiap pos perawatan dan tidak ada pengembalian obat yang
tidak terpakai. Akan tetapi pengawasan obat oleh farmasis
menjadi sangat berkurang terutama dalam hal penyimpanan obat
yang baik, pemberian obat yang benar ke pasien dan sangat
memungkinkan untuk terjadinya kerusakan bahkan pencurian
obat. Pada sistem ini pekerjaan dan tanggung jawab perawat
menjadi lebih besar dalam menangani obat-obatan (Ray, 1983).
Keuntungan sistem floor stock :
1) Adanya persediaan obat-obatan yang siap pakai untuk pasien.
2) Pengurangan transkrip pesanan obat bagi farmasi.
3) Pengurangan jumlah personil farmasi yang dibutuhkan (Ray,
1983).
Sedangkan kerugian pada sistem floor stock :
1) Kesalahan pemberian obat bertambah besar karena farmasis
tidak memeriksa ulang pesanan obat.
2) Meningkatkan persediaan obat disetiap pos perawatan.
3) Meningkatkan kemungkinan kerusakan obat dan pencurian
obat.
4) Meningkatkan biaya dalam hal menyediakan fasilitas tempat
penyimpanan obat yang memadai pada tiap pos perawatan.
5) Dibutuhkan

tambahan

waktu

kerja

bagi

perawat

menangani obat-obatan (Ray, 1983).


c. Kombinasi Floor Stock dan Individual Prescription

untuk

Sistem

ini

umumnya

digunakan

oleh

rumah

sakit

yang

menggunakan sistem penulisan resep pesanan obat secara


individual sebagai sarana utama untuk penjualan obat tetapi juga
memanfaatkan sistem floor stock secara terbatas (Ray, 1983).
d. Unit Dose Dispensing (UDD)
Pada sistem ini obat didistribusikan ke ruang perawatan untuk
setiap

pasien

dalam

kemasan

persekali

minum/per

sekali

pemakaian.
Keuntungan sistem Unit Dose Dispensing :
1) Interaksi antara farmasis dengan dokter dan perawat dapat
lebih intensif,
2) Resep dapat dikaji oleh Farmasis,
3) Farmasis dapat melakukan Therapeutic Drug Monitor,
4) Farmasis mendapat profil pengobatan pasien dengan lengkap,
5) Efisiensi ruang perawatan dalam penyimpanan obat,
6) Mengurangi beban perawat dalam penyiapan obat, sehingga
perawat mempunyai waktu lebih untuk merawat pasien,
7) Meniadakan obat berlebih dan menghindari kerusakan obat,
8) Menciptakan sistem pengawasan ganda, yaitu oleh farmasis
ketika membaca resep sebelum dan sesudah menyiapkan obat,
serta perawat ketika membaca formulir instruksi obat sebelum
memberikan obat kepada pasien, hal ini akan mengurangi
kesalahan pengobatan,
9) Pasien hanya membayar obat yang telah dipakai (Ray, 1983).
e.

One Daily Dose (ODD)


Dalam metode ini pasien mendapat obat yang sudah dipisahpisah untuk pemakaian sekali pakai, tetapi obat diserahkan untuk
sehari pakai pada pasien.

CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK (CPOB)


Bagi orang farmasi tentu tidak asing lagi mendengar istilah CPOB,
namun bagi masyarakat umum belum tentu tahu apa itu CPOB. CPOB
sendiri kepanjangan dari Cara Pembuatan Obat yang Baik. CPOB secara
singkat dapat didefinisikan suatu ketentuan bagi industri farmasi yang
dibuat untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai
persyaratan yang ditetapkan dan tujuan penggunaannya. Pedoman CPOB
disusun sebagai petunjuk dan contoh bagi industri farmasi dalam
menerapkan cara pembuatan obat yang baik untuk seluruh aspek dan
rangkaian proses pembuatan obat. CPOB mencakup seluruh aspek
produksi dan pengendalian mutu.

Industri Farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai


dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum
dalam dokumen izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang
membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak
bertanggung jawab. Untuk pencapaian tujuan ini melalui Kebijakan
Mutu, yang memerlukan komitmen dari semua jajaran di semua
departemen di dalam perusahaan, para pemasok dan para distributor.
Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan,
diperlukan manajemen mutu yang di desain secara menyeluruh dan
diterapkan secara benar.

Pada pembuatan obat, pengendalian menyeluruh adalah sangat


penting untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu
tinggi. Pembuatan obat secara sembarangan tidak dibenarkan bagi
produk yang digunakan untuk menyelematkan jiwa, atau memulihkan
atau memelihara kesehatan.

Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan

penerapan sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan


obat yang benar. Oleh sebab itu industri farmasi bertanggung jawab untuk
menyediakan personil yang terkualifikasi dalam jumlah yang memadai
untuk melaksanakan tugas. Tiap personil hendaklah memahami prinsip
CPOB dan memperoleh pelatihan awal dan berkesinambungan termasuk
instruksi mengenai higiene yang berkaitan dengan pekerjaan.

Berikut ini beberapa persyaratan mendasar dari CPOB:

1. Semua proses pembuatan obat dijabarkan dengan jelas, dikaji secara


sistematis berdasarkan pengalaman dan terbukti mampu secara konsisten
menghasilkan obat yang memenuhi persyaratan mutu dan spesifikasi
yang telah ditetapkan.

2. Prosedur dan instruksi ditulis dalam bentuk instruksi dengan bahasa


yang jelas, tidak bermakna ganda, dapat diterapkan secara spesifik pada
sarana

yang

tersedia.

Operator memperoleh pelatihan untuk menjalankan prosedur secara


benar.

3. Tersedia semua sarana yang diperlukan dalam CPOB antara lain:


personil yang terkualifikasi dan terlatih, bangunan dan sarana dengan
luas yang memadai, peralatan dan sarana penunjang yang sesuai, bahan,
wadah dan label yang benar.

CPOB adalah hal wajib yang harus dilakukan oleh setiap Industri
Farmasi, karena produk obat bersentuhan langsung dengan keselamatan
manusia, sehingga produk obat yang dikonsumsi oleh manusia harus
dijamin mutu dan keamanannya.

IKATAN APOTEKER INDONESIA ( IAI )


Profil Organisasi
Bahwa para Apoteker Indonesia merupakan bagian dari masyarakat
Indonesia yang dianugerahi bekal ilmu pengetahuan dan teknologi serta
keahlian di bidang kefarmasian, yang dapat dimanfaatkan sebesarbesarnya bagi kemanusiaan, bagi peningkatan kesejahteraan rakyat, bagi
pengembangan

pribadi

Warga

Negara

Republik

Indonesia,

untuk

mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, berdasarkan Pancasila


dan Undang-Undang Dasar 1945.
Bahwa Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia merupakan satu-satunya
organisasi para Apoteker Indonesia, yang merupakan perwujudan dari
hasrat murni dan keinginan luhur para anggotanya, yang menyatakan
untuk menyatukan diri dalam upaya mengembangkan profesi luhur
kefarmasian di Indonesia pada umumnya dan martabat anggota pada
khususnya.
Nama Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia ditetapkan dalam Kongres
VII Ikatan Apoteker Indonesia di Jakarta pada tanggal 26 Februari 1965
dan merupakan kelanjutan dari Ikatan Apoteker Indonesia yang didirikan
pada tanggal 18 Juni 1955, untuk jangka waktu yang tidak ditentukan
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia mempunyai fungsi :

Sebagai wadah berhimpun para Apoteker Indonesia.

Menampung, memadukan, menyalurkan dan memperjuangkan


aspirasi Apoteker Indonesia.

Membina

para

anggota

dalam

rangka

meningkatkan

mengembangkan Profesi Farmasi dan IPTEK kefarmasian

dan

Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia mempunyai Tugas Pokok :


a. Mengadakan serta menyelenggarakan program kegiatan melalui
pertemuan ilmiah yang bersifat lokal, nasional dan internasional;
b. Mengadakan dan membina hubungan dan kerjasama dengan organisasi
nasional yang berkaitan dengan kefarmasian, kedokteran dan organisasi
internasional serupa;
c. Meningkatkan mutu pelayanan anggota kepada kemanusiaan dan
masyarakat luas;
d. Memantapkan peran anggota dalam usaha :
1. Melindungi masyarakat terhadap pencemaran profesi, bahaya narkotika
dan penyalahgunaan obat-obatan.
2. Pengawasan kesehatan lingkungan, pemanfaatan dan pengamanan
obat-obatan, makanan, minuman, kosmetika serta obat tradisional.
e. Memberikan advokasi kepada anggota berkaitan dengan masalah
yurisprudensi;
f.

Mengadakan berbagai kegiatan lain yang dipandang perlu untuk

mencapai Visi dan Misi Organisasi


Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia mempunyai Lambang, Bendera
dan Hymne. Lambang atau Atribut Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia
adalah Ular dan Cawan berwarna Merah di dalam Inti Benzena
berwarna Hitam dan di bagian bawahnya tertulis ISFI berwarna Hitam.

Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia memiliki Bendera yang terbuat


dari kain berwarna Kuning Emas dengan Lambang Ikatan Sarjana
Farmasi Indonesia di tengah-tengah dan Padi berbulir 17 (tujuh
belas) serta Bunga-bunga Kapas berjumlah 8 (delapan) di kiri dan

kanannya dengan tulisan IKATAN SARJANA FARMASI INDONESIA di


bawahnya.
(1) Anggota Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia adalah Apoteker Warga
Negara Republik Indonesia lulusan Perguruan Tinggi dalam atau luar
negeri yang ijazahnya diakui oleh Departemen Pendidikan Nasional,
dengan cara mengajukan permintaan menjadi anggota serta memenuhi
syarat yang ditentukan dalam Anggaran Rumah Tangga dan Peraturan
Organisasi. Bagi Sarjana Farmasi yang sudah terdaftar sebagai anggota
sebelum

Anggaran

Rumah

Tangga

ini

ditetapkan,

tidak

gugur

keanggotaannya;
(2) Anggota Muda Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia adalah Sarjana
Farmasi Warga Negara Republik Indonesia lulusan Perguruan Tinggi
dalam atau luar negeri yang ijazahnya diakui oleh Departemen
Pendidikan Nasional, dengan cara mengajukan permintaan menjadi
Anggota Muda serta memenuhi syarat yang ditentukan dalam Anggaran
Rumah Tangga dan Peraturan organisasi;
(3) Anggota luar biasa Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia adalah Apoteker
WNA yang diangkat oleh Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia karena berjasa dalam perkembangan IPTEK Farmasi dan atau
profesi kefarmasian di Indonesia;
(4) Anggota Kehormatan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia adalah Warga
Negara Republik Indonesia bukan Apoteker atau Sarjana Farmasi, yang
diangkat oleh Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia karena
berjasa dalam perkembangan IPTEK Farmasi atau profesi kefarmasian di
Indonesia
Sejarah Organisasi
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia adalah satu-satunya Organisasi
Profesi Kefarmasian di Indonesia yang ditetapkan dengan Surat Keputusan
Menteri Kesehatan RI No. 41846/KMB/121 tertanggal 16 September
1965.Nama Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia ditetapkan dalam Kongres

VII Ikatan Apoteker Indonesia di Jakarta pada tanggal 26 Februari 1965


dan merupakan kelanjutan dari Ikatan Apoteker Indonesia yang didirikan
pada tanggal 18 Juni 1955, untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
Pada Kongres XVIII Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia di Jakarta pada
tanggal 07-09 Desember 2009, nama organisasi Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia (ISFI) berubah menjadi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

VISI
Terwujudnya

Profesi

Apoteker

yang

paripurna,

sehingga

mampu

mewujudkan kualitas hidup sehat bagi setiap manusia.


MISI
1. Menyiapkan Apoteker yang berbudi luhur, profesional, memiliki
kesejawatan yang tinggi dan inovatif serta berorientasi ke masa
depan;
2. Membina, menjaga dan meningkatkan profesional-isme Apoteker
sehingga

mampu

menjalankan

praktek

kefarmasian

secara

bertanggung jawab;
3. Melindungi Anggota dalam menjalankan profesinya.

PERSATUAN AHLI FARMASI INONESIA (PAFI)


Persatuan Ahli Farmasi Indonesia, yang selanjutnya disingkat PAFI
adalah organisasi yang menghimpun seluruh rakyat Indonesia yang bhakti
dan karyanya dibidang farmasi khususnya tenaga ahli farmasi profesi
Asisten Apoteker (AA). Enam bulan setelah Proklamasi Negara Republik
Indonesia yang kita cintai ini, dibentuklah secara nasional PAFI. Yaitu

tepatnya pada tanggal 13 Pebruari 1946 di Hotel Merdeka Jogyakarta dan


sebagai anggota pendiri yang berjasa diangkatlah KetuaPAFI pertama,
Bpk. Zainal abidin.
Pada awal kemerdekaan terjadi peperangan dengan Pasukan
Belanda yang bertujuan ingin merebut kembali tanah jajahan mereka.
Sebagai

Ketua

PAFI

pertama

Bpk.

Zainal

Abidin

bersama

Bpk.

Kasiomendapat tugas untuk memindahkan perbekalan farmasi dan mesinmesin yang berada di Manggarai (Jakarta) ke Jogyakarta, Tawangmangu
dan Ambarwinangun dengan menggunakan sarana tranportasi kereta api.
Bpk. Zainal Abidin dan teman-teman Asisten Apoteker lainnya pun
akhirnya berhasil memindahkan perbekalan farmasi dan mesin-mesin
tersebut, yang kemudian diberikan kepada para pejuang Republik
Indonesia yang membutuhkannya.
PAFI merupakan organisasi farmasi tertua di Indonesia, bahkan
Profesi Asisten Apoteker lebih dahulu muncul keberadaannya daripada
profesi apoteker. Hal ini disebabkan karena pada masa pemerintahan
Kolonial Belanda, hanya pendidikan Asisten Apoteker yang mampu
dijalankan, bahkan rintisannya harus dididik langsung di Negeri Belanda.
Kepengurusan PAFI Pusat: (Sumber: http://pafikotabandung.com)
Sekarang Kepengurusan PAFI Pusat periode tahun 2009-2014
dipegang oleh, Drs. Sriyanto sebagai ketua Umum dan Drs. Hendro Tri
Pancoro sebagai Sekretaris jenderal.
Visi
PAFI adalah organisasi profesi yang bersifat kekaryaan dan pengabdian,
dan mempunyai I visi PAFI sebagai organisasi farmasi terdepan yang
profesional dan mandiri 2011. Serta, mempunyai misi untuk :
Misi

Melaksanakan konsolidasi organisasi;

Memberdayakan anggota;

Meningkatkan kualitas SDM anggota;

Menjalin kemitraan bersama pemerintah dan non pemerintah.

Tujuan
Tugas pokok PAFI adalah untuk meningkatkan pelayanan farmasi dan
mengembangkan farmasi di Indonesia. Tugas khusus PAFI adalah:

Terwujudnya manajemen dan jaringan yang kuat serta profesional


dari

Pengurus

Pusat,

Pengurus

Daerah,

Pengurus

Cabang

Kabupaten/ Kota, Penguru Cabang Khusus, dan Pengurus Komisariat;

Terlaksananya

pendidikan

Asisten

Apoteker/

Tenaga

Teknis

Kefarmasian sesuai perkembangan dan ilmu teknologi;

Tertatanya Asisten Apoteker/ Tenaga Teknis Kefarmasian disemua


sarana kefarmasian melalui peraturan pemerintah.

PIOFAMUL ( Pusat Informasi Obat Fakultas


Farmasi Universitas Mulawarman )
PIOFAMUL sebagai salah satu unit penelitian dan pengabdian dari
Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman yang bertujuan menyediakan
dan

memberikan

informasi

yang

diuraikan

secara

ilmiah

dan

terdokumentasi mencakup farmakologi, toksikologi, dan penggunaan


terapi obat yang berorientasi kepada masyarakat sebagai pengguna obat
dilanjutkan dengan proses evaluasi dan pembandingan obat dari sumbersumber yang terseleksi dan komprehensif bagi masyarakat, para dokter,
dokter gigi, dokter hewan, perawat, tenaga kesehatan, maupun non
tenaga kesehatan.