Anda di halaman 1dari 9

Munir Said Thalib

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Halaman ini memerlukan pemutakhiran informasi.
Anda dapat membantu memutakhirkan informasi yang ada dan menghapus templat ini setelah selesai

Munir Said Thalib

Lahir
Meninggal
Kebangsaan
Pekerjaan

8 Desember 1965
Malang
7 September 2004 (umur 38)
Jakarta-Amsterdam
Indonesia
aktivis HAM

Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 meninggal di Jakarta
jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab yang
juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga
Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.
Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang
hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban
penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan
pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.
Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu.
Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar
mengungkap kasus pembunuhan ini.

Daftar isi

1 Pembunuhan

2 Film dokumenter

3 Peringatan

4 Biografi
o

4.1 Karier terpenting

4.2 Organisasi

4.3 Penghargaan terpenting

4.4 Kasus-kasus penting yang pernah ditangani

5 Pranala luar

6 Rujukan

Pembunuhan
Munir Said Thalib, akan melanjutkan studi S2 bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht,
Belanda. Pukul 21.30 WIB. Melalui pengeras suara, seluruh penumpang pesawat Garuda
Indonesia nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam dipersilakan petugas bandara naik ke
pesawat.
Rombongan orang kulit putih bergegas, banyak dari mereka adalah warga negara Belanda. Saat
akan memasuki pintu pesawat, Munir bertemu Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang
biasa dipanggil Polly. Status Polly dalam penerbangan ini adalah extra crew, yaitu kru yang
terbang sebagai penumpang dan akan bekerja untuk tugas lain. Mereka bertemu di dekat pintu
masuk kelas bisnis. Sebagai penumpang kelas ekonomi, Munir sebenarnya akan lebih dekat
dengan tempat duduknya bila masuk melalui pintu belakang. Diawali percakapan dengan Polly,
Munir berakhir di tempat duduk kelas bisnis, nomor 3K. Kursi 3K adalah tempat duduk Polly,
sementara milik Munir adalah 40G. Polly selanjutnya naik ke kokpit di lantai dua untuk
bersalaman dan mengobrol dengan awak kokpit yang bertugas. Saat pesawat mundur dan siap
tinggal landas, Polly dipersilakan oleh purser Brahmanie untuk duduk di kelas premium karena
banyak tempat duduk yang kosong di kelompok termahal itu. Purser adalah pimpinan kabin yang
bertanggung jawab atas kenyamanan seluruh penumpang, termasuk kepindahan tempat duduk
mereka. Lelaki berseragam pilot kemeja putih dan celana biru dongker itu pun duduk di 11B.
Ada dua cerita tentang kepindahan Munir ke kelas bisnis itu, yaitu menurut kisah brahmanie dan
polly. Dalam sidang PN (Pengadilan Negeri) Jakarta Pusat, Brahmanie bersaksi, Saat sedang di
depan toilet bisnis, saya berpapasan dengan Saudara Polly. Lalu, Saudara Polly, sambil
memegang boarding pass warna hijau, bertanya dalam bahasa Jawa, Mbak, nomer 40G nang
endi? Mbak, aku ijolan karo kancaku, (Mbak, nomor 40G di mana? Mbak, saya bertukar tempat
dengan teman saya.) tanpa menyebutkan nama temannya. Karena nama temannya tidak
disebutkan, saya ingin tahu siapa teman Saudara Polly. Lalu, saya datangi nomor 3K, dan
ternyata yang duduk di sana Saudara Munir, yang lalu saya salami. Saudara Polly tidak duduk di

40G, tapi di premium class nomor 11B atas anjuran saya karena banyak tempat duduk yang
kosong. Sementara itu, dalam wawancara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Polly
bercerita, Saya ketemu Munir di pintu pesawat Garuda Indonesia, di bandara Jakarta. Dia tanya
di pintu bisnis, Tempat duduk ini di mana? Saya bilang, Wah Bapak ini di ekonomi, cuma
tempat duduknya yang mana saya tidak hafal. Kemudian, itu kan antre, ada banyak penumpang
lain mau masuk, saya persilakan duluan. Saya sebagai kru lebih baik ngalah, toh sama-sama naik
pesawat, nggak mungkin ditinggal. Setelah itu, karena saya mau masuk ke ruang bisnis, mau
melangkah ke dalam pesawat, saya bilang kepada Munir, Saya duduk di bisnis, kalau Bapak
mau di sini, ya Bapak tanya dulu sama pimpinan kabin, kalau diizinkan ya silakan, bila tidak ya
mohon maaf. Bahasa saya seperti itu. Sudah, itu saja. Sebelum pesawat tinggal landas, di kelas
bisnis, Yeti Susmiarti menyajikan welcome drink. Penumpang diminta mengambil gelas berisi
sampanye, jus jeruk, atau jus apel. Munir memilih jus jeruk. Selesai minuman pembuka,
pramugari senior itu membagikan sauna towel (handuk panas), yang biasa digunakan untuk
mengelap tangan, lalu memberikan surat kabar kepada penumpang yang ingin membacanya.
Semua layanan itu disajikan Yeti sendiri, dengan bantuan Oedi Irianto, pramugara senior, yang
menyiapkan segala keperluannya di pantry. Pukul 22.02 WIB pesawat yang dikendalikan Kapten
Pilot Sabur Muhammad Taufik itu tinggal landas. Untuk mengukur waktu tinggal landas dan
mendarat secara tepat, industri penerbangan menggunakan istilah block off dan block on. Block
off adalah waktu yang menunjukkan saat ganjal roda pesawat di bandara dilepas dan pesawat
mulai bergerak untuk terbang. Block on digunakan sebagai penanda waktu kedatangan pesawat
di bandara tujuan, yaitu saat ganjal roda pesawat dipasang.
Sekitar 15 menit setelah tinggal landas, pramugari menawarkan beberapa pilihan makanan dalam
kemasan yang masih panas di atas nampan. Di kursi 3K, Munir memilih mi goreng. Selesai mi,
Yeti kembali memberi tawaran minuman, kali ini lebih banyak pilihan daripada welcome drink.
Pilihannya adalah minuman beralkohol (wiski, gin, vodka, red wine, white wine, dan bir), soft
drink, jus apel serta jus jeruk Buavita, jus tomat Berry, susu putih Ultra, air mineral Aqua, teh,
dan kopi. Munir kembali memilih jus jeruk. Setelah mengarungi langit pulau Jawa, Sumatera,
dan laut di sekitarnya selama 1 jam 38 menit, pesawat GA 974 mendarat di Bandara Changi,
Singapura pukul 00.40 waktu setempat. Zona waktu Singapura satu jam lebih awal ketimbang
WIB. Awak kabin memberi penumpang waktu untuk jalan-jalan atau kegiatan apa saja di
Bandara Changi selama 45 menit.
Karena keluar dari pintu bisnis, Munir pun lebih cepat mencapai Coffee Bean dibanding jika
keluar dari pintu ekonomi. Usai singgah di kedai itu, dia kembali menuju ke pesawat melaui
gerbang D 42. Di perjalanan menuju pintu Garuda, dia disapa oleh seorang laki-laki. Anda Pak
Munir, ya? Iya, Pak. Saya dr. Tarmizi dari Rumah Sakit Harapan Kita. Pak Munir ngapain ke
Belanda? Saya mau belajar, mau nge-charge satu tahun. Di mana? Utrecht. Wah,
Indonesia kehilangan, dong. Anda kan orang penting? komentar dr. Tarmizi. Ya ini perlu
untuk saya, Pak, timpal Munir sambil tersenyum. Anda kan pernah nulis tentang Aceh.
Bagaimana sih, bisa beres nggak tuh? tanya dokter lagi, sambil keduanya berjalan. Ah, itu
tergantung niat, Dok. Maksudnya? Kalau niatnya membereskan, tiga bulan juga beres.
Kemudian, dokter kelahiran Sumatera Barat itu mengeluarkan dompet dan memberi Munir kartu
namanya sambil berkata, Kapan-kapan, bila perlu, silakan menghubungi saya. Munir
menerima kartu nama dr. Tarmizi Hakim, lalu keduanya berpisah. Si dokter masuk ke kelas
bisnis, Munir menuju pintu bagian belakang pesawat dan duduk di kursi 40G kelas ekonomi,

sebagaimana tercantum di boarding pass-nya. Karena Polly hanya sampai Singapura, Munir pun
kembali ke tempat duduk aslinya untuk penerbangan Singapura-Amsterdam. Total waktu transit
di Changi (antara block on dan block off) adalah 1 jam 13 menit, jumlah waktu yang digunakan
pesawat untuk pengisian bahan bakar, penggantian seluruh awak kokpit dan kabin, serta
penambahan penumpang dari Singapura.
Pesawat tinggal landas dari Changi pukul 01.53 waktu setempat. Penerbangan menuju Schipol
ini dipimpin oleh Kapten Pantun Matondang, dengan purser Madjib Nasution sebagai
penanggung jawab pelayanan penumpang. Sebelum pesawat mengangkasa, pramugari Tia
mengecek kesiapan penumpang untuk tinggal landas. Saat melakukan kewajibannya, dia
dipanggil oleh Munir yang meminta obat Promag. Pramugari bernama lengkap Tia Dewi Ambara
itu meminta Munir menunggu sebentar karena pesawat akan tinggal landas dan seluruh awak
kabin harus duduk di tempat masing-masing. Kira-kira 15 menit kemudian, setelah pesawat di
ketinggian aman, Tia mulai membagikan selimut dan earphone, dilanjutkan dengan makanan
pengantar tidur. Saat Tia sampai di 40G, lelaki berkaus abu-abu dan bercelana jins hitam itu
sedang tidur. Tia membangunkannya dan bertanya, Apa Bapak sudah dapat obat dari teman
saya? Belum. Maaf, kami tidak punya obat. Tia lalu menawarkan makanan, yang ditolak
oleh Munir. Namun, lelaki ini meminta teh hangat. Tia pun menyajikan teh panas yang
dituangkan dari teko ke gelas di atas troli. Munir menerima uluran minuman itu, lengkap dengan
gula 1 sachet. Ketika Tia melanjutkan melayani penumpang lain, Munir melewatinya di gang
menuju toilet. Ini kali pertama Munir pergi ke toilet, sekitar 30 menit setelah tinggal landas.
Tiga jam sudah pesawat besar itu terbang dan sedang berada di langit India saat Munir semakin
sering pergi ke toilet. Ketika berjalan di gang kabin yang hanya diterangi oleh lampu baca, dia
berpapasan dengan pramugara Bondan Hernawa. Dia mengeluhkan sakit perut dan muntaber
kepada Bondan, serta memintanya memanggilkan dr. Tarmizi yang duduk di kelas bisnis. Munir
juga memberinya kartu nama dokter itu. Sesuai prosedur untuk situasi semacam ini, Bondan pun
melapor kepada purser Madjib Nasution yang berada di Purser Station. Bang, ini Pak Munir
penumpang kita sakit. Buang-buang air, muntah-muntah. Ini ada kawannya, dokter, tapi saya
tidak tahu duduk di mana. Tolong carikan tempat duduknya, ujar Bondan sambil menyerahkan
kartu nama dr. Tarmizi. Madjib mencari penumpang atas nama dr. Tarmizi Hakim di Passenger
Manifest dan menemukannya di kursi nomor 1J. Belum sempat dia beranjak, Munir sudah
berada di depan Purser Station. Sambil memegangi perut, Munir berkata, Saya sudah buangbuang air, pakai muntah juga. Mungkin maag saya kambuh. Seharusnya tadi tidak minum jeruk
waktu dari Jakarta-Singapura. Munir pun melanjutkan perjalanannya ke toilet. Madjib dan
Bondan lalu mendatangi 1J dan mendapati dr. Tarmizi sedang tidur di 1K, kursi sebelah
kanannya yang, karena dekat jendela dan dia dapati kosong, lalu dia duduki. Dokter, dokter,
Madjib berusaha membangunkan. Keduanya mengulanginya beberapa kali dengan suara lebih
keras, tapi tidur dokter bedah itu tetap tak terusik. Madjib kembali berjumpa Munir di gang dan
memintanya membangunkan dr. Tarmizi sendiri, sementara Bondan pergi ke pantry untuk
melaksanakan tugas terjadwalnya. Akhirnya, dr. Tarmizi bangun. Munir menjelaskan kondisi
tubuhnya yang saat itu tampak sangat lemah dengan berkata, Saya sudah muntah dan buang air
besar enam kali sejak terbang dari Singapura. Dr. Tarmizi mengusulkan kepada Madjib supaya
Munir pindah tempat duduk ke nomor 4 karena tempat itu kosong dan dekat dengannya. Munir
pun duduk di kursi 4D. Dr. Tarmizi mengambil posisi di samping kirinya. Pak Munir makan apa
saja dua hari terakhir ini? tanya dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular itu. Munir hanya

diam, mungkin akibat nyeri perutnya. Pertanyaan itu disambut oleh Madjib, Pak Munir tadi
sempat minum air jeruk, padahal Pak Munir tidak kuat minum jeruk karena punya maag. Munir
tetap diam, tidak berkomentar. Kalau maag tidak begini, kata si dokter, yang lalu bertanya
kepada Munir, Anda makan apa? Biasa saja. Kemarin? Biasa saja. Kemarinnya lagi?
Biasa saja. Dokter itu melakukan pemeriksaan secara umum dengan membuka baju pasiennya.
Dia lalu mendapati nadi di pergelangan tangan Munir lemah. Dokter berpendapat Munir
menunjukkan gejala kekurangan cairan akibat muntaber.
Munir kembali lagi ke toilet, diikuti dokter, pramugara, dan pramugari. Setelah muntah dan
buang air, dia pulang ke kursi 4D, sambil terus batuk-batuk berat. Dr. Tarmizi meminta seorang
pramugari mengambilkan Doctors Emergency Kit yang dimiliki setiap pesawat terbang. Kotak
itu dalam keadaan tersegel. Setelah melihat isinya, dia berpendapat obat yang tersedia sangat
minim, terutama untuk kebutuhan Munir. Dr. Tarmizi memerlukan infus, tapi tidak ada. Tidak
ada obat khusus untuk sakit perut mulas, juga obat muntaber biasa. Si dokter pun mengambil
obat dari tasnya sendiri. Dia memberi Munir obat diare New Diatabs serta obat mual dan perih
kembung Zantacts dan Promag. Dua tablet untuk yang pertama dan masing-masing satu tablet
untuk dua terakhir. Dr. Tarmizi lalu meminta seorang pramugari membuatkan teh manis dengan
sedikit tambahan garam di dalamnya. Namun, lima menit setelah meminum teh hangat itu, Munir
kembali ke toilet. Munir rampung setelah lima menit dan membuka pintu. Dr. Tarmizi lalu
membimbing Munir berjalan menyusuri gang sambil berkomentar kepada purser Madjib,
Mengapa infus saja tidak ada padahal perjalanan sejauh ini? Di kotak obat pesawat terdapat
cairan Primperam, obat antimual dan muntah, yang kemudian disuntikkan dr. Tarmizi ke tubuh
Munir sejumlah 5 ml (dosis 1 ampul). Injeksi di bahu kiri ini cukup berpengaruh karena Munir
kemudian tidur. Penderitaannya reda selama 2-3 jam.
Munir bangun dan kembali masuk ke toilet. Dia cukup lama berada di dalamnya, kira-kira 10
menit, dan pintunya pun tidak tertutup dengan sempurna. Madjib memberanikan diri melongok
lewat celah yang ada dan mengetuk pintu, tapi tidak ada respons dari orang yang sedang
menderita di dalam sana. Madjib membuka pintu lebih lebar dan melihat laki-laki 38 tahun itu
sedang bersandar lemas di dinding toilet. Purser Madjib langsung memanggil dokter yang selama
setengah jam terakhir paling tahu kondisi penumpangnya itu. Dr. Tarmizi mengajak Madjib dan
pramugara Asep Rohman mengangkat Munir kembali ke kursi 4D. Setelah didudukkan di kursi,
Munir menjalani pemeriksaan oleh dr. Tarmizi, dalam gelapnya kabin pesawat yang hanya
diterangi lampu baca. Kegelapan ini keadaan yang tak bisa mereka atasi sebab demikianlah
aturan penerbangan. Pertama pergelangan tangan, lalu perut. Saat perutnya diketuk oleh si
dokter, Munir mengeluh, Aduh, sakit, sambil memegang perut bagian atas. Madjib
menyarankannya untuk ber-Istighfar, disambut Munir dengan menyebut, Astaghfirullah
Haladzim, La Illaha Illa Llah, sambil tetap memegangi perut. Pramugari Titik Murwati yang
berada di dekat situ berinisiatif memberi balsem gosok, tindakan yang dia harap bisa membantu
meredakan derita penumpangnya. Atas persetujuan dr. Tarmizi, Titik menggosok perut Munir
dengan balsem yang bisa memberikan rasa hangat. Munir berkata dia ingin istirahat karena
capek. Dr. Tarmizi membuka kotak obat lagi dan mengambil obat suntik Diazepam. Kali ini,
dokter menyuntikkan 5 mg di bahu kanan, juga dengan bantuan purser Madjib. Jarak antara
kedua suntikan sekitar 4-5 jam. Sesudah suntikan obat penenang itu, Munir masih merasakan
mulas di perut. Lima belas menit berlalu dan Munir ke toilet lagi, ditemani dokter, purser, serta
pramugari. Di dalamnya, Munir muntah, diikuti buang air. Kembali ke tempat duduk, Munir

berkata dirinya ingin tidur telentang. Purser dan seorang anak buahnya membentangkan sebuah
selimut sebagai alas di lantai depan kursi 4D-E dan sebuah bantal di atasnya. Dia pun berbaring
di sana, dengan dua selimut lagi diletakkan di atas tubuhnya agar hangat. Dr. Tarmizi berkata
kepada awak kabin itu supaya Munir dijaga, dan bahwa dirinya ingin istirahat karena besok kerja
(dia akan melakukan operasi jantung di rumah sakit di Swole), sambil minta dibangunkan bila
terjadi apa-apa dengan Munir. Juga, dia berpesan agar mereka memastikan dokter dari
Amsterdam yang besok masuk ke pesawat membawa infus. Setelahnya, si dokter kembali ke
kursi di 1K dan tidur. Munir kembali bisa tidur, tapi sering berubah posisi, dan posisi itu selalu
miring, tidak pernah telentang atau tengkurap. Madjib terus setia menjaga Munir sampai sekitar
3 jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, saat awak kabin menyiapkan makan pagi
penumpang.Madjib berjalan ke tempat duduk dr. Tarmizi dan bertanya apakah perlu dirinya
membangunkan Munir untuk sarapan, yang dijawab dengan anjuran untuk membiarkan Munir
tetap istirahat. Madjib pun melakukan tugas rutinnya mengawasi lingkungan pesawat.
Sekitar dua jam sebelum pesawat mendarat, jam 05.10 GMT atau 12.10 WIB, ketika sarapan
masih berlangsung dan lampu kabin masih menyala, Madjib kembali melangkahkan kaki
mengunjungi tempat tidur Munir. Di depan kursi 4D-E, dia melihat tubuh Munir dalam posisi
miring menghadap kursi, mulutnya mengeluarkan air liur tidak berbusa, dan telapak tangannya
membiru. Dia memegang tangan Munir dan mendapati rasa dingin. Madjib yang kaget bergegas
menuju kursi sang dokter. Dokter memegang pergelangan tangan Munir sambil dengan tangan
satunya menepuk-nepuk punggung. Dia berulang-ulang berujar, Pak Munir Pak Munir.
Akhirnya, memandang purser Madjib, dr. Tarmizi berkata pelan, Purser, Pak Munir
meninggal Kok secepat ini, ya. Kalau cuma muntaber, manusia bisa tahan tiga hari. Purser
Madjib meminta Bondan dan Asep membantunya mengangkat tubuh kaku Munir ke tempat yang
lebih baik: lantai depan kursi 4J-K. Munir berbaring di atas dua lembar selimut, kedua matanya
dipejamkan oleh Bondan, tubuhnya ditutupi selimut.
Bondan dan Asep membaca surat Yassin di depan jenazah Munir Said Thalib, empat puluh ribu
kaki di atas tanah Rumania.
Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik
Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi
oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang
menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.
Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara
atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda
yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik
pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus
menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen
senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden Susilo juga membentuk tim
investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.
Pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr, yang kebetulan juga orang dekat Prabowo
Subianto dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia
adalah otak pembunuhan Munir[1]. Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah

padanya[2].Namun demikian, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis ini sangat
kontroversial dan kasus ini tengah ditinjau ulang, serta 3 hakim yang memvonisnya bebas kini
tengah diperiksa[3].

Film dokumenter
Untuk memperingati satu tahun kepergian Munir, diluncurkan film dokumenter karya Ratrikala
Bhre Aditya dengan judul Bunga Dibakar di Goethe-Institut, Jakarta Pusat, 8 September 2005.
Film ini menceritakan perjalanan hidup Munir sebagai seorang suami, ayah, dan teman. Munir
digambarkan sosok yang suka bercanda dan sangat mencintai istri dan kedua anaknya. Masa
kecil Munir yang suka berkelahi layaknya anak-anak lain dan tidak pernah menjadi juara kelas
juga ditampilkan. Munir dibunuh di era demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya
sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai berkembang. Semangat inilah yang ingin
diungkapkan lewat film ini.
Sebuah film dokumenter lain juga telah dibuat, berjudul Garuda's Deadly Upgrade hasil kerja
sama antara Dateline (SBS TV Australia) dan Off Stream Productions.
Pada peringatan tahun kedua, 7 September 2006, di Tugu Proklamasi diluncurkan film
dokumenter berjudul "His Strory". Film ini bercerita tentang proses persidangan Pollycarpus dan
fakta-fakta yang terungkap di pengadilan.

Peringatan
Sejak 2005, tanggal kematian Munir 7 September, oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai
Hari Pembela HAM Indonesia.

Biografi

Lahir: Malang, 8 Desember 1965


Jabatan: Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia Imparsial

Pendidikan: S1 FH Universitas Brawijaya(Unibraw) (1990)

Karier terpenting

Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia Imparsial


Ketua Dewan Pengurus KONTRAS (2001)

Koordinator Badan Pekerja KONTRAS (16 April 1998-2001)

Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998)

Wakil Ketua Bidang Operasional YLBHI (1997)

Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996)

Direktur LBH Semarang (1996)

Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995)

Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya (1992-1993)

Ketua LBH Surabaya Pos Malang

Relawan LBH Surabaya (1989)

Organisasi

Sekretaris BPM FH Unibraw (1988)


Ketua Senat Mahasiswa FH Unibraw (1989)

Anggota HMI Komisariat Hukum Unibraw

Ketua Umum Komisariat Hkukum Unibraw HMI Cabang Malang

Sekretaris Al Irsyad Kabupaten Malang (1988)

Divisi Legal Komite Solidaritas untuk Marsinah

Sekretarsi Tim Pencari Fakta Forum Indonesia Damai.

Penghargaan terpenting

Right Livelihood Award 2000, Penghargaan pengabdian bidang kemajuan HAM dan
kontrol sipil terhadap militer (Swedia, 8 Desember 2000)
Mandanjeet Singh Prize, UNESCO, untuk kiprahnya mempromosikan Toleransi dan
Anti-Kekerasan (2000)

Salah satu Pemimpin Politik Muda Asia pada Milenium Baru (Majalah Asiaweek,
Oktober 1999)

Man of The Year versi majalah Ummat (1998).

Suardi Tasrif Awards, dari Aliansi Jurnalis Independen, (1998) atas nama Kontras

Serdadu Awards, dari Organisasi Seniman dan Pengamen Jalanan Jakarta (1998)

Yap Thiam Hien Award (1998)

Satu dari seratus tokoh Indonesia abad XX, majalah Forum Keadilan

Kasus-kasus penting yang pernah ditangani

Penasehat Hukum dan anggota Tim Investigasi Kasus Fernando Araujo, dkk, di Denpasar
yang dituduh merencanakan pemberontakan melawan pemerintah secara diam-diam
untuk memisahkan Timor-Timur dari Indonesia; 1992

Penasehat Hukum Kasus Jose Antonio De Jesus Das Neves (Samalarua) di Malang,
dengan tuduhan melawan pemerintah untuk memisahkan Timor Timur dari Indonesia;
1994

Penasehat Hukum Kasus Marsinah dan para buruh PT. CPS melawan KODAM V
Brawijaya atas tindak kekerasan dan pembunuhan Marsinah, aktifis buruh; 1994

Penasehat Hukum masyarakat Nipah, Madura, dalam kasus permintaan


pertanggungjawaban militer atas pembunuhan tiga petani Nipah Madura, Jawa Timur;
1993

Penasehat Hukum Sri Bintang Pamungkas (Ketua Umum PUDI) dalam kasus subversi
dan perkara hukum Administrative Court (PTUN) untuk pemecatannya sebagai dosen,
Jakarta; 1997

Penasehat Hukum Muchtar Pakpahan (Ketua Umum SBSI) dalam kasus subversi,
Jakarta; 1997

Penasehat Hukum Dita Indah Sari, Coen Husen Pontoh, Sholeh (Ketua PPBI dan anggota
PRD) dalam kasus subversi, Surabaya;1996

Penasehat Hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan dalam kasus perburuhan PT. Chief
Samsung; 1995

Penasehat Hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo,
Jawa Timur; 1993

Penasehat Hukum DR. George Junus Aditjondro (Dosen Universitas Kristen


Satyawacana, Salatiga) dalam kasus penghinaan terhadap pemerintah, Yogyakarta; 1994

Penasehat hukum Muhadi (seorang sopir yang dituduh telah menembak polisi ketika
terjadi bentrokan antara polisi dengan anggota TNI AU) di Madura, Jawa Timur; 1994

Penasehat Hukum dalam kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta; 19971998

Penasehat Hukum dalam kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di


Tanjung Priok 1984; sejak 1998

Penasehat Hukum kasus penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi Semanggi I dan


II; 1998-1999

Anggota Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timor Timur; 1999

Penggagas Komisi Perdamaian dan Rekonsiliasi di Maluku

Penasehat Hukum dan Koordinator Advokat HAM dalam kasus-kasus di Aceh dan Papua
(bersama KontraS)