Anda di halaman 1dari 3

Pengantar Editor

Memahami “Multi-Wajah” Hukum


K.Kopong Medan & Mahmutarom HR

Sosiologi hukum merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mencoba mengamati dan
menganalisis hukum dari perpektif sosial atau dengan kata lain mengkaji hubungannya dengan
realitas sosial. Konsep substansi hukum dengan aliran non doktrinal itu didebat oleh kelompok
aliran pemikiran doktrinal dari paham hukum murni sejak abad ke 19. Keadaan tersebut terjadi
baik di Eropa (sociology of law) yang dimotori oleh Karl Max, Henry S.Maine, Emile Durkheim
dan Max Weber, maupun di Amerika (sociological jurisprudence) yang dimotori oleh Oliver W
Holmes, Benjamin Nathan Cardozo, dan Roscoe Pound. Perbedaannya adalah di Eropa
berkembang dalam ranah sosiologi sedangkan di Amerika dalam ranah ilmu hukum.

Multi-Wajah Hukum
Konsep hukum aliran doctrinal berlandaskan pada logika normative yang menampilkan
hukum sebagai sebuah norma sehingga menampilkan tipologi wajah yang beragam yaitu wajah
yang sarat dengan asas moral keadilan, wajah yang sarat dengan norma yang dipositifkan melalui
peraturan perundang-undangan dan wajah yang judgemade atau yang tampil dalam putusan-
putusan hakim. Tipologi wajah hukum itu merupakan bagian dari ajaran tentang bagaimana
hukum harus ditemukan atau diciptakan untuk menyelesaikan perkara.

Konsep hukum aliran non doctrinal berlandaskan pada logika nomologik atau nomos
(logika sosial). Konsep hukum itu menampilkan wajahnya sebagai pola-pola perilaku
(regularities) yang terjadi di alam pengalaman dan/atau sebagaimana yang tersimak di dalam
kehidupan sehari-hari (sine ira et studio). Tipologi wajah hukum yang regularities itu
mempunyai wajah yang tampil sebagai intitusi sosial yang riil dan fungsional di dalam sistem
kehidupan masyarakat dan juga dapat tampil sebagai makna-makna simbolik sebagaimana
termanifestasi dan tersimak dalam aksi-aksi serta interaksi masyarakat.

Dikotomi yang Saling Menyapa


Bangunan pranata hukum yang “multi wajah” tidak dapat dilihat hanya dari satu sudut
pandang saja sehingga dengan semua kelebihan dan kekurangan setiap perspektif dapat
digunakan untuk saling menyapa dalam melihat wajah hukum.

”Virus mau menang sendiri” dan studi hukum normative dan sosiologis sebaiknya tidak
mencapai tingkat menegasi dan menghancurkan karier akademik salah satu pihak. Keadaan itu
dicerminkan pada langkah strategis dinamika studi hukum di Program Doktor Ilmu Hukum
Universitas Diponegoro yang “multi-entry”, sehingga memungkinkan untuk menampilkan wajah
hukum yang sesungguhnya melalui pengembangan studi-studi normative, sosiologis,
antropologis, psikologis, politik, ekonomi, dan sebagainya sesuai dengan minat mahasiswa.
Penggalan-penggalan wajah hukum yang dikemukakan kemudian disatukan menjadi satu
kesatuan wajah hukum yang utuh.

Perpaduan dan saling menyapa antara berbagai perpestif dalam memahami pranata hukum
sebagai objek studi tersebut merupakan contoh baik untuk menjelaskan idealisme Edward O.
Wilson tentang “penyatuan ilmu pengetahuan” dalam bukunya yang berjudul Consilience : The
Unity of Cnowledge. Bagi Wilson penyatuan ilmu pengetahuan merupakan “suatu lompatan
bersama dengan mempertalikan atau mempersatukan fakta-fakta dan teori-teori di seluruh
disiplin ilmu untuk menciptakan suatu dasar penalaran yang sama dalam memberikan penjelasan
tentang sebuah objek studi”. Berangkat dari pemikiran Wilson itu maka sudah saatnya kita tidak
perlu mempelebar dikotomi antara kedua kubu tetapi sebaiknya berkolaborasi untuk menemukan
sebuah tampilan wajah hukum yang sempurna.

Fokus kajian buku ini

Buku “Pranata Hukum : Sebuah Telaah Sosiologis” yang merupakan kumpulan tulisan
Prof. Dr. Esmi Warassih, SH. MS menggunakan kerangka berpikir non doctrinal walaupun ada
tulisan yang cenderung memasuki ranah sociological juripridence dalam kajian doktrinal karena
besik ilmunya adalah ilmu hukum bukan sosiologi. Oleh karena itu kedua ranah studi baik
sociology of law maupun sociological jurisprudence saling menyapa dalam buku ini untuk
menyampaikan hukum yang “sosiologis”.

Untuk menampilkan secara koheren dan sistematik pokok-pokok pikiran Prof. Esmi
maka tim editor membagi buku ini dalam tiga bagian utama dengan sub judul 1) Cita Hukum, 2)
Budaya Hukum dan 3) Hukum dan Kebijaksanaan Publik. Awal dari pembahasan ketiga sub
judul itu ditampilkan juga “prolog” dengan judul “Basis Sosial Hukum: Pertautan Ilmu Hukum
dan Ilmu Pengetahuan Sosial”. Selanjutnya, pembahasan dalam buku ini diakhiri dengan
“epilog” berjudul “Pendekatan Interdisipliner terhadap Hukum : Sebuah Keniscayaan”.

Pada prolog Prof. Esmi ingin menegaskan isi buku ini berada pada aras sosiologis yang
memberikan dasar pemahaman tentang pranata hukum dalam konteks sosial yang lebih luas.
Konteks itu mengingatkan para penstudi hukum dan pengguna hukum harus menyadari bahwa
hukum itu tidak begitu saja jatuh dari langit tapi dibuat dan selalu berada dalam lingkungan
sosial tertentu. Dengan meminjam kata-kata Sinzheimer, Prof Esmi menegaskan, bahwa “hukum
tidaklah bergerak dalam ruang hampa dan berhadapan dengan hal-hal yang abstrak. Melainkan,
ia selalu berada dalam suatu tatanan sosial tertentu dan dalam lingkup manusia-manusia yang
hidup”.

Bagian pertama buku ini membahas secara khusus “Cita Hukum” yang berfokus pada
perwujudan cita atau ide hukum dalam kehidupan sosial yang terus berubah dari waktu ke waktu.
Hukum sebagai suatu sistem norma diperlukan untuk sarana pengarah dalam merealisasikan
kebijaksanaan negara dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan
nasional demi membangun kehidupan masyarakat yang demokratis. Pada kenyataannya hukum
sering disalahgunakan terutama untuk status quo dan kepentingan-kepentingan kelompok
tertentu (terutama masa Orde Baru) karena paradigma pembangunan hukum saat itu lebih
berorientasi pada kekuasaan.

Prof. Esmi menyarankan agar terjadi suatu perubahan paradigma yang dipakai dari
paradigma kekuasaan menjadi paradigma moral yang dipakai dalam pembangunan hukum di
Indonesia. Paradigma moral yang diidealkan itu memiliki seperangkat nilai yang egalitarian,
demokratis, pluralities, dan professional untuk membangun “masyarakat madani” (civil society).
Perubahan paradigma ini penting untuk memulihkan dan mengembalikan otentisitas hukum
“sebagai sarana untuk memberikan kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang”.
Otentisitas hukum demikian itu terdapat secara harfiah yang dirumuskan dengan kata-kata pada
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Bagian kedua buku ini secara khusus memuat ide memberdayakan “budaya hukum”
dalam membangun sebuah tatanan hukum yang sejalan dengan konteks sosialnya. Titik tolak
pemahaman terhadap hukum tidak sekedar sebagai rumusan “hitam-putih (blue print) yang
ditetapkan pada berbagai bentuk perturan perundang-undangan, melainkan harus dilihat juga
sebagai suatu gejala yang dapat diamati di dalam masyarakat antara lain melalui tingkah laku
warga masyarakat. Budaya hukum merupakan suatu komponen penentu penerimaan masyarakat
terhadap suatu substansi hukum maupun tatanan proseduralnya. Lawrence M. Friedman
mengaskan bahwa “ komponen budaya merupakan motor penggerak bagi sebuah tatanan
hukum”.

Bagian ketiga buku ini menguraikan hal lebih konkrit yaitu prinsip dasar membuat atau
merumuskan suatu kebijakan publik yang baik. Secara eksplisit dipaparkan masalah
kebijaksanaan pembangunan pada umumnya, terutama tentang masalah perlindungan hukum
terhadap pasien dalam kasus malpractice.

Menurut Prof. Esmi hukum dan kebijaksanaan pemerintah memiliki keterkaitan yang
sangat erat, karena semua perencanaan dan implementasi kebijaksanaan pemerintah selalu
dilakukan dalam “bingkai” hukum. Hal itu menyebabkan penampilan pranata hukum selalu
terlingkup dalam berbagai aspek yang harus dilihat dari seluruh dimensinya untuk mendapatkan
suatu tampilan wajah hukum secara utuh. Berdasarkan hal tersebut maka bagian epilog
menampilkan tulisan yang menggunakan pendekatan interdisipliner untuk melihat hukum secara
lengkap.

Catatan penutup

Oleh karena tim editor merasa masih kurang sempurna dalam menghantar buku ini dan
mungkin ada hal yang membias dari keinginan penulis maka semua pembaca dapat memberikan
interpretasi yang akan diterima sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari buku ini.