Anda di halaman 1dari 5

Gawat darurat adalah Suatu keadaan yang terjadinya mendadak mengakibatkan

seseorang atau banyak orang memerlukan penanganan / pertolongan segera dalam arti
pertolongan secara cermat, tepat dan cepat. Apabila tidak mendapatkan pertolongan
semacam itu maka korban akan mati atau cacat / kehilangan anggota tubuhnya
seumur hidup.
Perawatan kedaruratan meliputi pertolongan pertama, penanganan transportasi
yang diberikan kepada orang yang mengalami kondisi darurat akibat rudapaksa,
sebab medik atau perjalanan penyakit di mulai dari tempat ditemukannya korban
tersebut sampai pengobatan definitif dilakukan di tempat rujukan.
Penyebab kegawatan
Segala sesuatu bisa berupa penyakit maupun trauma yang menyebabkan ancaman
terhadap fungsi-fungsi vital tubuh antara lain :

Jalan nafas dan fungsi nafas


Fungsi sirkulasi
Fungsi otak dan kesadaran

Dalam kegawatdaruratan diperlukan 3 kesiapan, yakni :

Siap mental, dalam arti bahwa emergency can not wait. Setiap unsur yang
terkait termasuk perawat harus menghayati bahwa aritmia dapat membawa
kematian dalam 1 2 menit. Apnea atau penyumbatan jalan napas dapat

mematikan dalam 3 menit.


Siap pengetahuan dan ketrampilan. Perawat harus mempunyai bekal
pengetahuan teoritis dan patofisiologi berbagai penyakit organ tubuh penting.

Selain itu juga keterampilan manual untuk pertolongan pertama.


Siap alat dan obat. Pertolongan pasien gawat darurat tidak dapat dipisahkan
dari penyediaan/logistik peralatan dan obat-obatan darurat.

INFEKSI/SEPSIS

Sepsis adalah suatu infeksi di dalam aliran darah. Sepsis selalu dikaitkan dengan
kejadian infeksi apapun penyebabnya, apakah bakteri, virus, jamur atau parasit.
Sepsis adalah respon infalmasi sistemik terhadap infeksi. Sistem pertahanan tubuh
penjamu terhadap invasi bakteri merupakan suatu proses yang rumit yang bertujuan
untuk melokalisasi dan mengontrol infeksi dan menginisiasi perbaikan jaringan yang
rusak.
Proses inflamasi yang normal diikuti dengan aktifasi sel-sel fagositik dan pembetukan
mediator pro dan anti-inflamasi. Sepsis terjadi ketika respon terhadap ini terjadi
secara menyeluruh dan meluas sehingga mengakibatkan sel-sel normal lain yang
terletak jauh dari lokasi awal jejas atau infeksi mengalami kerusakan. Sepsis adalah
sebuah sindrom klinik yang sebagai penyulit infeksi berat dan mewakili respon
sistemik terhadap infeksi. Hal ini ini ditandai dengan inflamasi sistemik dan
kerusakan jaringan yang luas.
Definisi ini membutuhkan bukti adanya infeksi dan tanda respon inflamasi sitemik
(systemic inflammatory response syndrome/ SIRS).
SIRS adalah respons inflamasi yang luas terhdap berbagai gangguan klinis yang
berat. Sindroma ini ditandai dengan adanya dua atau lebih tanda-tanda sebagai
berikut :

Temperatur >38C atau <36C


Frekuensinad >90 denyut/menit
Frekuensinafas>20nafas/meniT
Leukosit > 12.000 sel/mm3, 4000 sel/mm3 atau > 10% bentuk batang muda

Singkat kata sepsis adalah SIRS dengan infeksi. Ada berbagai istilah lain seperti
sepsis berat yaitu sepsis yang disertai dengan satu atau lebih disfungsi organ akut,
hipoperfusi atau hipotensitermasuk asidosis laktat, oligouria dan penurunan
kesadaran. Sepsis dengan hipotensi adalah sepsis yang disertai dengan penurunan
tekanan darah sistolik <90 mmHg atau penurunan tekanan darah sistolik >40 mmHg

dari biasanya dan tidak ditemukan penyebab hipotensi lainnya. Syok / renjatan sepsis
adalah sepsis dengan hipotensi, meskipun telah diberikan resusitasi cairan yang
adekuat tidak teratasi atau memerlukan vasopressor untuk mempertahankan tekanan
darah atau perfusi organ.
Keadaan sepsis ini sering sekali dihadapi di rumah sakit, tanpa adanya pengenalan
dini akan tanda-tanda sepsis dan penatalaksanaan yang tepat dan terpadu maka sepsis
menjadi salah satu penyebab kematian tersering di rumah sakit.

B.PENYEBAB
Sepsis merupakan akibat dari suatu infeksi bakteri di bagian tubuh manusia.
Yang sering menjadi sumber terjadinya sepsis adalah infeksi ginjal, hati atau kandung
empedu, usus, kulit (selulitis) dan paru-paru (pneumonia karena bakteri).
Faktor resiko terjadinya sepsis:
1. Pembedahan di bagian tubuh yang terinfeksi atau di bagian tubuh dimana secara
normal tumbuh bakteri (misalnya usus)
2. Memasukkan benda asing ke dalam tubuh, misalnya kateter intravena, kateter air
kemih atau selang drainase
3. Penyalahgunaan obat terlarang yang disuntikkan
4. Penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya akibat terapi anti kanker).
DIAGNOSA
1. Diagnosis sepsis ditegakkan jika seorang penderita infeksi tiba-tiba mengalami
demam tinggi.
2. Jumlah sel darah putih dalam darah biasanya sangat tinggi.
3. Biakan darah dibuat untuk menentukan organisme penyebab infeksi. Tetapi bakteri
mungkin tidak tumbuh dalam biakan darah terutama bila penderita mendapat terapi

antibiotik. Untuk itu perlu dibuat biakan sampel dari dahak, air kemih, luka atau dari
bagian tubuh dimana kateter dimasukkan.

Pengelolaan Sepsis/Syok Septik


Tujuan pengelolaan adalah :
1. Menghilangkan/mereduksi kuman penyebab infeksi dengan cara pemberian
antibiotik yang adekuat, diperlukan walaupun belum ada hasil mikrobiologi
mengingat sepsis merupakan infeksi dengan resiko bahaya kematian bagi penderita
yang cukup tinggi.
2. Melakukan drainase eksudat, eksisi jaringan nekrosis, pengeluaran benda asing dan
tindakan bedah lainnya untuk menghilangkan sumber infeksi .
3. Mengembalikan perubahan hemodinamik yang terjadi dan mengembalikan agar
perfusi jaringan berlangsung baik, dengan cara pemberian cairan, pemberian cairan
ini berdasarkan pada perubahan fisiologis yang terjadi pada penderita dehidrasi akibat
diare, yaitu : 10 20 ml/kg BB dalam 20 menit.
4. Mempertahankan dan memulihkan fungsi organ tubuh yang terganggu :
1. Memperbaiki jalan nafas : oksigenasi cukup, jalan nafas harus baik (bebas
obstruksi).
2. Pemberian cairan yang adekuat : guna mempertahankan volume darah , hal ini
diperlukan untuk mengembalikan fungsi homeostasis.
3. Perawatan intensif pasca bedah yang baik.
4. Evaluasi pasca bedah untuk mengetahui sumber infeksi lain yang tidak terdrainase
sehingga memerlukan pembedahan kedua.
5. Pemberian Kortikosteroid
Pemberian Kortikosteroid masih menjadi suatu hal yang kontroversial, beberapa ahli
beranggapan pemberian kortikosteroid diharapkan dapat memutuskan proses
patofisiologi, yang merupakan respon tubuh terhadap infeksi sistemik. Obat ini
memberikan efek antara lain : stabilisasi membran sel dan lisosom, inhibisi agregasi

granulosit, inhibisi proses cascade yang terjadi, diaktifasinya sistem komplemen,


pengeluaran radikal oksigen bebas dan mengurangi produksi TNF oleh makrofag.