Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kromatografi merupakan suatu metode pemisahan yang dewasa ini telah
banyak digunakan. Dibandingkan metode lain seperti destilasi, kristalisasi,
pengendapan, ekstraksi dan lain lain mempunyai keuntungan dalam pelaksanaan
yang lebih sederhana. Penggunaan waktu yang singkat terutama, mempunyai
kepekaan yang tinggi serta mempunyai kemampuan memisahkan yang tinggi.
Metode ini dapat digunakan, jika dengan metode lain tidak dapat dilakukan
misalnya karena jumlah cuplikan sangat sedikit atau campurannya kompeks.
Istilah kromatografi mula mula ditemukan oleh Michel Tswett (1903),
seorang ahli botani Rusia. Ia menggunakan kromatografi untuk memisahkan
klorofil dan pigmen - pigmen lain dari ekstrak tanaman dengan cara ini. Nama
Kromatogtrafi diambil dari bahasa Yunani (Chromos = penulisan) dan (Grafe =
warna). Kromatografi berarti penulisan dengan warna. Saat ini telah dikenal
berbagai macam kromatografi, namun istilah kromatografi sebenarnya sudah tidak
tepat lagi, karena dengan kromatografi juga dapat dipisahkan senyawa senyawa
yang tidak berwarna termasuk gas.
Meskipun dasar dari kromatografi adalah suatu pemisahan, namun banyak
di antara cara ini dapat digunakan untuk analisis kuantitatif dan analisis kualitatif
adalah kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi kolom,
kromatografi gas, dan kromatografi cair kinerja tinggi. Kromatogrfi kertas dan
KLT umumnya lebih bermanfaat untuk tujuan identifikasi, karena lebih mudah
dan sederhan. Kromatografi kolom memberikan pemilihan fase diam yang lebih
luas dan berguna untuk pemisahan campuran secara kuantitatif. Kromatografi gas
dan kromatografi cair kinerja tinggi kedua duanya membutuhkan peralatan yang
lebih rumit dan umumnya merupakan metode dengan resolusi tinggi yang dapat
digunakan untuk identifikasi serta penerapan secara kuantitatif bahan dalam
jumlah yang sangat kecil.

38

Dalam prinsipnya kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang


didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut di antara
dua fase yaitu fase diam (stasionery) dan fase bergerak (mobile). Fase diam dapat
beupa zat padat atau zat cair, sedangkan fase bergerak dapat berupa zat cair atau
gas. Dalam teknis kromatografi, sampel yang merupakan campuran dari berbagai
macam komponen ditempatkan dalam situasi dinamis dalam sistem yang terdiri
dari fase diam dan fase bergerak. Semua pemisahan pada kromatografi tergantung
pada gerakan relatif dari masing masing komponen di antara kedua fase
tersebut. Senyawa atau komponen yang tertahan (lebih lemah) oleh fase diam
akan bergerak lebih cepat daripada komponen yang tertahan lebih kuat. Perbedaan
gerakan (mobilitas) antara komponen yang satu dengan lainnya disebabkan oleh
perbedaan dalam adsorbsi, partisi, kelarutan atau penguapan di antara dua fase.
Jika perbedaan perbedaan ini cukup besar, maka akan terjadi pemisahan secara
sempurna. Oleh karena itu dalam kromaografi, pemilihan terhadap fase bergerak
maupun fase diam perlu dilakukan sedemikiannya sehingga semua komponen
dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda beda agar dapat terjadi proses
pemisahan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa kromatografi adalah suatu proses
migrasi diferensial dinamis dalam sistem dimana komponen komponen cuplikan
ditahan secara selektif oleh fase diam.
Prinsip kromatografi adalah cara pemisahan pemurnian yang didasarkan
atas pebedaan distribusi dan kompoen campuran tersebut diantara dua fase yaitu
fase diam dan fase bergerak. Untuk mengetahui penerapannya dari praktikum
kromatografi yang penerapannya sangat banyak ditemukan dalam kehidupan
sehari hari.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui sifat sifat pelarut
Untuk memisahkan suatu campuran berdasarkan migrasi
Dapat menerapkan metode sederhana dalam praktikum kimia, dalam hal
ini ialah kromatografi ketas.

39

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Kromatografi dapat digolongkan berdasarkan pada jenis fase fase yang
gunakan. Dalam kromatografi fase gerak dapat berupa gas atau zat cair dan fase
diam dapat berupa zat padat atau zat cair, maka berdasarkan fase bergerak - fase
diam terdapat empat macam sistem kromatografi, yaitu : kromatografi gas cair,
kromatografi gas padat, kromatografi cair padat dan kromatografi cair cair.
Kromatografi

juga

dapat

didasarkan

atas

prinsipnya,

misalnya

kromatografi partisi (partition chromatography) dan kromatografi serapan


(adsorbtion chromatography), sedangkan menurut teknis kerja yang digunakan,
misalnya kromatografi kolom, kroamtografi lapis tipis (KLT), dan kromatografi
kertas juga kromatografi gas. Selain itu ada juga yang digabung, misalnya
kromatografi partisi gas cair, kromatografi partisi cair cair, kromatografi
adsorbsi cair padat, dan lain lain. Juga dikenal kromatografi penukar ion dan
kromatografi filtrasi gel yang prinsipnya berbeda dari prinsip kromatografi yang
telah disebutkan sebelumnya.
Dalam kromatografi hubungan suatu molekul komponen sampel yang
tertahan (teradsorbsi) atau terdistribusi di antara fase diam dan fase gerak dapat
dilukiskan dengan berbagai istilah. Istilah istilah yang sering dijumpai dalam
kromatografi dinyatakan sebagai berikut :
a. Kesetimbangan Distribusi
Kesetimbangan yang terjadi pada kromatografi bersifst dinamis. Molekul
sampel atau zat terlarut berada bolak balik di antara fase diam dan fase
bergerak sehingga konsumsi rata- ratanya mengikuti hukum distribusi.
Kd =

Cs
Cm

Kd = koefisien distribusi atau partisi


Cs = konentrasi zat terlarut dalam fase diam
Cm = konsentrasi zat terlarut dalam fase bergerak

40

Persamaan diatas memperlihatkan bahwa jika harga koefisien distribusi (Kd)


besar berarti jumlah molekul yang berada dalam fase diam lebih banyak
dalam fase bergerak dan akan tinggal lebih lama dalam fase diam.
b. Faktor Reterdasi
Faktor reterdasi (Rf), merupakan parameter karakteristik kromatografi kertas
dan kromatografi lapis tipis. Harga Rf merupakan ukuran kecepatan migrasi
suatu komponen pada kromatogram dan pada kondisi tetap merupakan
peranan karakteristik dan produksibel. Rf didefinisikan sebagai perbandingan
jarak yang ditempuh komponen terhadap jarak yang ditempuh pelarut (fase
bergerak).
Jarak yang ditempuh komponen
Rf =

Jarak yang ditempuh pelarut

Hubungan ini berlaku jika Kd dan penampang lintang tidak tetap sepanjang
lintasan zat terlarut
c. Fraksi waktu
Fraksi waktu (R) tunggal dalam molekul dalam fase bergerak dinyatakan
sebagai perbandingan molekul dalam fase bergerak terhadap jumlah total
molekul.
R=

CmVm
CmVm + CsVs

1 + Kd Vs
Vm

1+K

K disebut faktor kapasitas atau kapasitas kolom yang menyatakan


perbaningan jumlah molekul dalam fase diam dan fase bergerak.
K = Kd

=
( Vs
Vm )

Cs.Vs
Cm.Vm

d. Kecepatan
Bila fraksi waktu (R) dikalikan dengan kecepatan alir fase bergerak , maka
cecepatan alir molekul, diberikan :

41

Kecepatan :

1
1+K

Persamaan ini menunjukan bahwa terjadinya perbedaan kecepatan bergerak di


antara komponen komponen dalm campuran disebabkan oleh perbedan
koefisien distribusinya. Jika perbedan Kd besar, masing masing komponen
akan terpisah secara sempurna.
e. Waktu Retensi
Pada kromatografi gas dan semua percobaan kromatografi kolom, hasil
pemisahan diberikan dalam harga waktu. Waktu retensi (tR) adalah waktu yang
dibutuhkan oleh molekul komponen untuk melintasi suatu kolom ynag
panjangnya L.
panjang kolom

tr =

kecepatan

( 1 + K )=

tm ( 1 + K )

f. Volume Retensi
Volume retensi merupakan besaran pokok yang diukur dalam kromatografi
gas. Volume retensi adalah volume gas pembawa yang diperlukan untuk
menggerakan pita komponen pada keseluruhan panjang suatu kolom.
Jika kecepatan fase bergerak (Fc) diukur dalam suatu volume per satuan luas
(Fc = Vm/ tm) adalah tetap, maka volume retensi (VR) diberikan :

VR = tR.Fc
= tM (1 + K)

= VM (1 + K)
( Vs
tM )

atau
VR = VM + Kd .Vs

g. Retensi Relatif
Pengukuran tR dan VR dipengaruhi oleh bentuk kolom dan pengoprasiannya,
sehingga tidak karakteristik untuk suatu komponen. Agar pengaruh tersebut
dapat dieliminir dapat dilakukan perbandingan waktu retensi komponen

42

dengan senyawa yang sudah diketahui dengan senyawa yang telah dikeahui
pada kondisi pengukuran yang sama.

Retensi relatif =

tR - tM
tR* - tM

VR-Vm
VR* - VM

K
=

K*

TM adalah waktu retensi fase bergerak atau komponen yang inert seperti udara
yang tidak ditahan suwaktu melintasi kolom. Tanda (*) berlaku untuk senyawa
pembanding (standar).
Pada kromatografi kolom ialah kromatografi yang menggunakan kolom
sebagai alat untuk memisahkan kompoen komponen dalam cmpuran. Alat
tersebut berupa pipa gelas yang dilengkapi suatu kran di bagin bawah kolom
untuk mengendalikan aliran zat cair. Ukuran kolom tergantung dari banyaknya
zat yang akan dipisahkan. Secara umum perbandingan panjang dan diameter
kolom sekitar 8 : 1, sedangkan jumlah penyerapannya adalah 25 23 kali berat
bahan yang akan dipisahkan. Untuk mrnahan penyerap (adsorben) di dalam kolom
dapat digunakan gelas 1000 L atau kapas adsorbennya dapat digunakan adsorben
anorganik seperti alumina, bauksit, magnesium silikat, silikat gel dan tanah
diatome. Sedangkan adsorben organik seperti arang gula, karbon aktif paling
sering digunakan.
Pemisahan kolom adsorbsi didasarkan pada adsorbsi komponen
komponen campuran afinitas berbeda beda terhadap permukaan fase diam. Pada
kromatografi adsorbsi, besarnya koefisien distribusi sama dengan konsentrasi zat
terlarut pada fase teradsorbsi dibagi konsentrasinya pada fase larutan.
Kebergantungan jumlah zat terlarut yang teradsorbsi terhadap konentrasi zat
terlarut dalam larutan dinyatakan dengan isoterm adsorbsi Langmuir.
Hubungan tersebut diberikan oleh persamaan :
a=

K1.C
1 + K2.C

a = isoterm adsorbsi dalam g/ cm2 atau dalam g (atau mol)/ g adsorb

43

c = konsentrasi larutan
K1 dan K2 merupakan suatu tetapan yang pada suhu tertentu tergantung pada sifat
jenisadsorben dan sifat zat zat yang diadsorbsi.
Teknik pemisahan kromatografi kolom ialah sejumlah cuplikan yang dilarutkan
dalam sedikit pelarut, dituangkan melalui sebelah atas kolom dan dibiarkan
mengalir ke dalam adsorben. Komponen komponen dalam campuran diadsorbsi
dari larutan secara kuantitatif oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada
permukaan atas kolom. Dengan penambahan pelarut (eluen) secara terus
menerus, masing masing komponen akan bergerak turun melalui kolom dan
pada bagian atas kolom akan terjadi keseimbangan baru antara bahan penyerap,
komponen campuran dan eluen. Kesetimbangan dikatakan tetap bila suatu
komponen dengan lainnya bergerak ke bagian bawah kolom dengan waktu dan
kecepatan berbeda beda sehingga terjadi pemisahan.
Pembentukan zona pada kromatografi kolom, haruslah sedemikian rupa
sehingga bagian satu zat dari zat yang sama meninggalkan fase diam pada
berbagai waktu yang berbeda. Waktu ini mengikuti distribusi statistik sesuai
dengan hukum Gauss. Pertama tama baian cuplikan yang akan dipisahkan
tergantung konsentrasinya dan afinitasnya akan diadsorbsi secara bolak balik
(reversibel) dalam lapisan adsorbsi bagian atas. Dengan penambahan fase
bergerak bagian yang kurang kuat terikat seluruhnya atau bertahap akan larut
kembali dari permukaan adsorben. Akan terjadi kesetimbangan antara bagian zat
yang diadsorbsi dan bagian yang larut.
Hasil pemisahan diantaranya dipengaruhi oleh pemilihan terhadap kedua
fase yang digunakan. Fase diam (adsorbsen) harus berukuran partikel seragam,
bersifat inert terhadap zat uji dan cukup aktif sehingga memungkinkan
perambatan zat uji. Adanya zat pengotor dapat menyebabkan adsorbsi tidak
reversibel atau talling pada senyawa yang akan dipisahkan. Pemisahan yang lebih
baik akan diperoleh dengan mengolah terlebih dahulu adsorben dengan suatu
senyawa yanng dapat teradorbsi kuat sebagai dasar digunakan adsorben yang
polaritasnya sama dengan zat uji

44

Teknik pemisahan kromatografi kolom partisi sangat mirip dengan kromatografi


kolom adsorbsi. Perbedaan utamnya terletek pada sifat dari penyerap yang
digunakan. Pada kromatografi kolom partisi penyerapnya berupa materi padat
berpori seperti hieselguler, selulosa, atau silika gel yang permukaannya dilapisi
dengan zat cair (biasanya air). Dalam hal ini zat padat hanya berperan sebagai
penyangga (penyokong) dan zat cair sebagai fase diamnya.
Fase diam zat cair umumnya adsorbsikan pada penyangga padat yang
sejauh mungkin inert terhadap senyawa senyawa yang akan dipisahkan. Zat
padat yang penyokong harus menyerap dan menahan fase diam seta harus
membuat permukaannya seluas mungkin untuk mengalirnya fase bergerak. Dalam
kromatografi partisi fase bergeraknya dapat berupa zat cair atau gas yang mengalir
membawa komponen komponen campuran sepanjang kolom. Jika fase
bergeraknya dari zat cair, akan diperoleh kromatografi partisi cair cair.
Teknik ini banyak digunakan untuk pemisahan senyawa senyawa baik
organik maupun anorganik. Kromatografi partisi terutama dilakukan pada
kromatografi kertas. Pada kromatografi partisi pemisahan tergantung pada
kelarutan komponen yang lebih larut dan fase diam akan bergerak lebih lambat
dalm kolom daripada yang kurang kelarutannya. Selama bergerak komponen
komponen dari campuran mengalami partisi akibat adanya perpindahan
komponen di antra kedua fase.
Dalam kromatografi partisi cair cair drajat partisi suatu senyawa tertentu
di antara kedua fase dinyatakan sebagai koefisien partisi atau distribusi (Kd). Bila
suatu zat terlarut dikocok dalam sistem dua pelarut yang tidak saling bercampur,
maka zat terlarut akan terdistribusi di antara kedua fase dan jika kesetimbangan
tercapai maka koefisien partisinya :
Konsentrasi zat terlarut pada pelarut A
Kd =

Konsentrasi zat terlarut pada pelarut B

Teori dasar kromatografi partisi mirip dengan teori destilasi bertingkat. Persamaan
yang menghubungkan laju pergerakan suatu wilayah (zona) dengan koefisien
partisi diberikan persamaan.

45

Am

Rf =

Am + Kd.As

dengan AM dan AS masing masing adalah luas wilayah fase bergerak dan luas
wilayah fase diam. Rf adalah perbandingan jarak yang ditempuh zat terlarut
terhadap jarak yang ditempuh pelarut.

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Gelas kimia 100 ml
Corong kaca
Beker gelas
Penggaris
Pensil
Gunting
Oven
3.1.2 Bahan
Tinta hijau
Tinta merah
Tinta biru
Tinta cumi
Ekstrak pandan
Ekstrak mawar
Aquades
Etanol
Dietil eter

46

Kertas saring
3.2 Prosedur Percobaan
3.2.1 Dalam Aquades
Dipotong kertas persegi panjang dengan ukuran 10 x 7 cm dari batas
bawah kertas.
Diberi garis sekitar 1 cm dari batas bawah kertas.
Diberi noda (titik) tinta hijau, biru, merah, ekstrak mawar, eksterak
pandan, dan tinta cumi.
Dimasukan kertas tersebut ke dalam gelas kimia yang telah diisi
aquades yang tingginya sekitar 0,5 cm.
Dibiarkan air merembes naik hingga 1 cm di bawah batas atas
kertas, diambil, dan dikeringkan.
Diukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen noda yang
dipisahkan.
Dihitung harga Rf masing masing noda.
3.2.2 Dalam Etanol
Dipotong kertas persegi panjang dengan ukuran 10 x 7 cm dari batas
bawah kertas.
Diberi garis sekitar 1 cm dari batas bawah kertas.
Diberi noda (titik) tinta hijau, biru, merah, ekstrak mawar, eksterak
pandan, dan tinta cumi.
Dimasukan kertas tersebut ke dalam gelas kimia yang telah diisi
etanol yang tingginya sekitar 0,5 cm.
Dibiarkan air merembes naik hingga 1 cm di bawah batas atas
kertas, diambil, dan dikeringkan.
Diukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen noda yang
dipisahkan.
Dihitung harga Rf masing masing noda.

47

3.2.3 Dalam Dietil Eter


Dipotong kertas persegi panjang dengan ukuran 10 x 7 cm dari batas
bawah kertas.
Diberi garis sekitar 1 cm dari batas bawah kertas.
Diberi noda (titik) tinta hijau, biru, merah, ekstrak mawar, eksterak
pandan, dan tinta cumi.
Dimasukan kertas tersebut ke dalam gelas kimia yang telah diisi
dietil eter yang tingginya sekitar 0,5 cm.
Dibiarkan air merembes naik hingga 1 cm di bawah batas atas
kertas, diambil, dan dikeringkan.
Diukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen noda yang
dipisahkan.
Dihitung harga Rf masing masing noda.

48

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tinta
Hijau

Biru

Merah

Eks. Mawar

Eks. Pandan

Pelarut
Aquades

Jarak Noda
0 cm

Jarak Pelarut
8,5 cm

Rf
0

Etanol

0 cm

5 cm

Dietil eter

0 cm

5,5 cm

Aquades

0 cm

8,5 cm

Etanol

4,3 cm

5 cm

0,86

Dietil eter

5,3 cm

5,5 cm

0,96

Aquades

0 cm

8,5 cm

Etanol

3,8 cm

5 cm

0,76

Dietil eter

5,3 cm

5,5 cm

0,96

Aquades

2,8 cm

8,5 cm

0,33

Etanol

4 cm

5 cm

0,8

Dietil eter

0 cm

5,5 cm

Aquades

0 cm

8,5 cm

3,4 cm

5 cm

0,68

Dietil eter

0 cm

5,5 cm

Aquades

0 cm

8,5 cm

Etanol

0 cm

5 cm

Etanol
Tinta Cumi

49

Dietil eter

0 cm

5,5 cm

4.2 Perhitungan
4.2.1 Noda Tinta Hijau
Pada Aquades
Rf =

Jarak Noda
Jarak Pelarut

0
8,5

= 0
Pada Etanol
Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
0

5
= 0

Pada Dietil eter


Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
0

5,5
= 0

4.2.2 Noda Tinta Biru


Pada Aquades
Rf =

Jarak Noda
Jarak Pelarut

50

0
8,5

= 0
Pada Etanol
Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
4,3

5
= 0,86

Pada Dietil Eter


Rf =

Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
Jarak Noda
Jarak Pelarut
5,3

5,5
= 0,96

4.2.3 Noda Tinta Merah


Pada Aquades
Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
0

8,5
= 0

Pada Etanol

51

Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
3,8

5
= 0,76

Pada Dietil Eter

Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
5,3

5,5
= 0,96

4.2.4 Noda Ekstrak Mawar


Pada Aquades

Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
2,8

8,5
= 0,33

Pada Etanol

Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
4

5
= 0,8

Pada Dietil Eter

52

Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
0

5,5
= 0

4.2.5 Noda Ekstrak Pandan


Pada Aquades
Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
0

8,5
= 0

Pada Etanol

Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
3,4

5
= 0,68

Pada Dietil Eter


Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
0

5,5
= 0

4.2.6 Noda Tinta Cumi


Pada Aquades

53

Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
0

8,5
= 0

Pada Etanol
Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
0

5
= 0

Pada Dietil Eter


Rf =
=

Jarak Noda
Jarak Pelarut
0

5,5
= 0

4.3 Pembahasan
Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan atas
perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut di antara dua fase, yaitu
fase diam (stasionery) dan fase bergerak (mobile). Fase diam dapat berupa zat
padat atau zat cair, sedangkan fase bergerak dapat berupa zat cair atau gas.
Kromatografi dapat digolongkan berdasarkan pada jenis fase fase yang
digunakan. Dalam kromatografi fase bergerak dapat berupa gas atau zat cair dan
fase diam dapat berupa zat padat atau zat cair, maka berdasarkan fase bergerak
fase diam terdapat empat macam sistem kromatografi, yaitu : kromatografi gas
cair, kromatografi gas padat, kromatografi cair padat dan kromatografi cair
cair. Pada Kromatografi gas - padat mempunyai prinsip adsorbsi, kromatografi
cair padat mempunyai prinsip kerja adsorbsi dan partisi, teknik kerjanya

54

berdasarkan kromatografi kolom KLT, dan kromatografi kertas, pada kromatografi


cair cair mempunyai prinsip partisi, yang teknik kerjanya berdasarkan
kromatografi kolom, KLT, dan kromatografi kertas. Sedangkan pada kromatografi
gas cair mempunyai prinsip partisi, yang teknik kerjanya berdasarkan
kromatografi gas cair tersebut.
Selain itu ada juga yang digabung misalnya kromatografi partisi gas cair,
kromatografi cair cair, kromatografi adsorbsi, kromatografi penukar ion,
kromatografi filtrasi gel, dan lain lain.
Pada kromatografi kertas, tekniknya diperkenalkan oleh Lonsen, Gordon
dan Martin yang menggunakan kertas saring sebagai penunjang fase diam. Cairan
fase bergerak yang biasanya berupa campuran dari pelarut organik dan air, akan
mengalir membawa noda cuplikan yang didepositkan pada kertas dengan
kecepatan berbeda. Pemisahan terjadi berdasakan partisi masing masing
komponen di antara fase diam dan fase bergeraknya. Kromatografi kertas
digunakan baik digunakan baik untu analisa kualitatif maupun analisa kuantitatif.
Senyawa senyawa yang dipisahkan kebanyakan bersifat sangat polar, misalnya
asam asam amino, gula gula atau pigmen pigmen alam. Terdapat tiga metode
pengembangan pada kromatografi kertas yaitu metode penaikan (ascending),
metode penurunan (descending), dan metode mendatar (radial).
Fase diam (stationary) ialah fase yang berupa zat padat atau zat cair ini
merupakan media dalam kromatografi, misalnya dalam percobaan kromatografi
kertas yang menjadi fase diam ialah kertas saring tersebut. Fase bergerak (mobile)
ialah fase yang berupa zat cair atau gas ini merupakan senyaw atau campuran
cuplikan yang akan dianalis, misalnya tinta, ekstrak mawar, ekastrak pandan, dan
lain lain.
Sifat kepolaran suatu pelarut didasarkan pada tingkat kelarutan suatun zat
tersebut, pada percoban yang menggunakan noda tinta hijau tidak ada sama sekali
noda yang mengalami perpindahan, hal ini disebabkan karena perbedaan kecepaan
zat terlarut, dalam hal ini kecepatan zat terlarutnya tidak ada sama sekali,
sehingga tidak ada komponen yang mengalami perpindahan. Pada noda tinta biru
hanya pelarut aquades yang tidak dapat mengakibatkan perpindahan pada sampel,

55

hal ini dikarenakan aquades merupakan pelarut polar.etnol merupakan larutan


semipolar, dietil eter merupakan larutan nonpolar, dan aquades merupakan larutan
polar. Sama halnya dengan noda tinta merah hanya pada pelarut aquades yang
tidak mengalami perpindahan pada sampel. Sedangkan pada ekstrak mawar hanya
pada dietil eter tidak mengalami perpindahan ini dikerenakan eksterak mawar
larutan polar sehingga mengalami perindahan dengan aquades, juga pada etanol.
Pada eksatrak pandan hanya pada etanol yang mengalami perpindahan, ini
disebabkan karena ekstrak pandan merupakan larutan nonpoalar sehingga dapat
berpindah neggunakan etanol. Dan pada tinta cumi tidak ada sama sekali
mengalami perpindahan, ini disebabkan tinta cumi sangat cepat terserap atau
teradsorbsi terlebih dahulu oleh kertas saring tersebut, sehingga tidak ada sama
sekali mengalami perpindahan komponen komponennya.
Harga nilai Rf sudah tertulis pada perhitungan yaitu harga nilai masing
masing noda tinta hijau, tinta biru, tinta merah, dan ekstrak mawar, ekastrak
pandan, tinta cumi.
Aplikasi kromatografi dalam kehidupan sehari hari ialah proses
menyerapnya minyak tanah oleh sumbu kompor pada larutan minyak tanah,
proses penyerapan air dan zat zat hara oleh pembuluh kayu dan pembuluh tapis
pada tumbuhan dari akarnya, merembes air dari dinding kamar mandi, penyerapan
sari sari makanan pada sistem pencernaan manusia oleh unsur unsur halus,
terjadinya siklus air, naiknya air dari dalam tanah ke permukaan tanah, proses
pemisahan udara yang berupa oksigen disaring pada sistem pernafasan manusia,
terjainya pasang dan surutnya air laut, menghitung polusi udara dan air,
memurnikan obat dan kosmetik, menentukan residu pestisida pada buah dan
sayuran.
Like dissolves like ialah suatu zat yang terlarut akan menyukai atau akan
cocok dengan pelarutnya. Misalnya suatu senyawa polar akan menyukai pelarut
yang bersifat polar juga. Sedngkan senyawa non polar akan menyukai pelarut
yang nonpolar juga.

56

Faktor kesalahan yang mungkin terjadi ialah pada saat pengukuran jarak
noda yang tidak tepat. Hal ini menyebabkan ketidaktelitian harga Rf, sehingga
harga Rf menjadi berubah.
Faktor reterdasi (Rf) merupakan parameter karakteristik kromatografi
kertas. Harga Rf merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu kompoen pada
kromatogram dan pada kondisi tetap merupakan besaran karakteristik dan
reproduksibel.
Rf didefinisikan sebagai perbandingan jarak yang ditempuh komponen
terhadap jarak yang ditempuh pelarut (fase gerak).
Faktor yang mempengaruhi harga Rf adalah jarak noda, jarak pelarut dan
luas penampang (fase diam).
Fase diam adalah kertas saring dan fase gerak adalah pelarutnya.

57

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Sifat pelarut etanol adalah semipolar, pelarut dietil eter adalh nonpolar,
dan pelarut air adalah polar.
Pada hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa teknik kromatografi
merupakan

metode

pemisahan

campuran

dimana

cuplikan

berkesetimbangan di antra dua fase, fase gerak yang membawa cuplikan


dan fase diam yang menahan cuplikan secara selektif.
Metode kromatografi yang paling sederhana dan dapat dipraktikumkan
kapan saja adalah kromatografi ketas, karena bahan bahan yang
dibutuhkan sangat mudah didapat, seperti yang sudah dilakukan pada
percobaan kali ini.

5.2 Saran
Hendaknya dilakukan percobaan dengan menggunakan analisa kromatografi
kolom, agar dapat membandingkan hasilnya dengan kromatografi kertas.

58

DAFTAR PUSTAKA

Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press


Marra, Tine. 2004. Sains Kimia. Jakarta : Bumi Aksara
Sastrohamidjojo, H. 1985. Kromatografi. Yogyakarta : Liberty
Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisika Untuk Paramedis. Yogyakarta : Andi Offsec

59