Anda di halaman 1dari 10

Havara Kausar Akbar

Aurat Laki-laki dan Perempuan


Definisi Aurat
Menurut pengertian bahasa (literal), aurat adalah al-nuqshaan wa al-syai al-mustaqabbih
(kekurangan dan sesuatu yang mendatangkan celaan). Diantara bentuk pecahan katanya adalah
awara`, yang bermakna qabiih (tercela); yakni aurat manusia dan semua yang bisa menyebabkan
rasa malu. Disebut aurat, karena tercela bila terlihat (ditampakkan).
Imam al-Raziy, dalam kamus Mukhtaar al-Shihaah hal 461, menyatakan, al-aurat: sau`atu alinsaan wa kullu maa yustahyaa minhu (aurat adalah aurat manusia dan semua hal yang
menyebabkan malu.
Dalam Syarah Sunan Ibnu Majah juz 1/276, disebutkan, bahwa aurat adalah kullu maa yastahyii
minhu wa yasuu`u shahibahu in yura minhu (setiap yang menyebabkan malu, dan membawa aib
bagi pemiliknya jika terlihat).
Imam Syarbiniy dalam kitab Mughniy al-Muhtaaj, berkata, Secara literal, aurat bermakna alnuqshaan (kekurangan) wa al-syai`u al-mustaqbihu (sesuatu yang menyebabkan celaan).
Disebut seperti itu, karena ia akan menyebabkan celaan jika terlihat.
Dalam kamus Lisaan al-Arab juz 4/616, disebutkan, Kullu aib wa khalal fi syai fahuwa
aurat (setiap aib dan cacat cela pada sesuatu disebut dengan aurat). Wa syai` muwirun au
awirun: laa haafidza lahu (sesuatu itu tidak memiliki penjaga (penahan)).
Imam Syaukani, di dalam kitab Fath al-Qadiir, menyatakan;
Makna asal dari aurat adalah al-khalal (aib, cela, cacat). Setelah itu, makna aurat lebih lebih
banyak digunakan untuk mengungkapkan aib yang terjadi pada sesuatu yang seharusnya dijaga
dan ditutup, yakni tiga waktu ketika penutup dibuka. Al-Amasy membacanya dengan huruf
wawu difathah; awaraat. Bacaan seperti ini berasal dari bahasa suku Hudzail dan Tamim.
Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan
pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya
kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind:
jilbab)nya ke dadanya (Annur:31)
Keterangan :
Ayat ini menegaskan empat hal:

a. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh ALLOH SWT.
b. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.
c. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak.Para ulama
mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota
badan tempat perhiasan tersebut. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk
ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Sekarang marilah kita perhatikan
penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata kecuali yang biasa nampak
dalam ayat tersebut. Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan
telapak tangan. Begitu pula menurut Atho, Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. Hanya saja
beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Ibnu Masud RA.
mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. Said bin Jubair RA.
mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Dari penafsiran para sahabat dan para
ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan
kedua telapak tangan. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja.
d. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar
yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan
bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Berarti tidak
cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke
belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.
2. Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh
SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:Hai
Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak
ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR.
Abu Daud dan Baihaqi).
Keterangan :
Hadis ini menunjukkan dua hal:
a. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
b. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan
dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib.
Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai
dosa. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada
semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.
http://assunah.wordpress.com/2008/09/05/menutup-aurat-yuk/
Batas-batas Aurat.
Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan batas aurat, karena perbedaan penafsiran
terhadap ayat tentang aurat.
Para ulama telah sepakat bahwa antara suami dan isterinya tidak ada aurah, berdasarkan firmanNya:
Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya
mereka dalam hal ini tiada tercela. (Al-Muminun (23): 6). (As-Sabuniy, 1971, II: 154).
Maka yang dibahas di sini adalah aurat laki-laki dan perempuan terhadap orang lain.
1. Aurat Laki-laki Terhadap Laki-laki. Menurut jumhur ulama, aurat laki-laki terhadap laki-laki
antara pusat perut hingga lutut, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Jurhud al-Aslamiy,
ia berkata: Rasulullah saw duduk di antara kita dan paha saya terbuka, kemudian beliau
bersabda:
Ketahuilah bahwa paha adalah aurat. (Ditakhrijkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmuziy, dari
Jurhud al-Aslamiy).
2. Aurat Perempuan Terhadap Perempuan. Jumhur ulama berpendapat bahwa aurat perempuan
terhadap perempuan adalah sama dengan aurat laki-laki terhadap laki-laki.
3. Aurat Laki-laki Terhadap Perempuan. Jumhur ulama berpendapat bahwa aurat laki-laki
terhadap perempuan adalah dari pusat perut hingga lutut, baik terhadap mahram maupun
bukan mahram. (As-Asbuniy, 1971, II: 153).
4. Aurat Perempuan Terhadap Laki-laki. Para ulama berbeda pendapat tentang aurat perempuan
terhadap laki-laki, dan di antara pendapat-pendapat tersebut ada dua pendapat yang diikuti
oleh orang banyak, yaitu:

a. Asy-Safiiyyah dan al-Hanabilah berpendapat bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat,
dengan alasan:
1. Firman Allah: Walaa Yubdiina Ziinatahunna (damn janganlah mereka menampakkan
perhiasannya) (an-Nur (24): 31).
Ayat tersebut dengan tegas melarang menampakkan perhiasannya. Mereka membagi zinah
(perhiasan) menjadi dua macam:
Pertama zinah khalqiyyah (perhiasan yang berasal dari ciptaan Allahj), seperti wajah, ia
adalah asal keindahan dan menjadi sumber fitnah. Kedua zinah muktasabah (perhiasan yang
dibuat manusia), seperti baju, gelang dan pupur.
Ayat tersebut mengharamkan kepada wanita menampakkan perhiasan secara mutlak, baik
perhiasan

khalqiyyah

maupun

perhiasan

muktasabah.

Maka haram bagi wanita

menampakkan sebagian anggota badannya atau perhiasannya di hadapan orang laki-lai.


Mereka menawilkan firman Allah: Illaa maa zahara minha (kecuali apa yang biasa tampak
daripadanya), bahwa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah: menampakkan tanpa
sengaja, seperti tersingkap karena angin, baik wajah atau anggota badan lainnya, sehingga
makna ayat tersebut menjadi sebagai berikut: Janganlah mereka menampakkan
perhiasannya selama-lamanya.
2. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. ia menceriterakan bahwa Nabi saw
memboncengkan al-Fadl ibnul Abbas pada hari Nahr di belakangnya,dia adalah orang
yang bagus rambutnya, dan berkulit putih. Ketika itu datanglah seorang wanita minta
fatwa kepada beliau, kemudian al-Fadl melihatnya dan wanita itu pun melihat al-Fadl.
Kemudian Rasulullah saw memalingkan wajah al-fadl ke arah lain.. (Ditakhrijkan oleh
Al-Bukhariy, dari Ibni Abbas, Bab Hajji wada).
3. Apabila keharaman melihat rambut dan kaki telah disepakati oleh para ulama, maka
keharaman melihat wajah adalah lebih pantas disepakati, sebab wajah adalah asal
keindahan dan juga sumber fitnah, maka bahaya memandang wajah adalah lebih besar.
b. Iman Malik dan Abu Hanifah berpendapat, bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali
wajah dan dua tapak tangan, dengan alasan:
1. Bahwa firman Allah SWT: Wa laa yubadiina ziinatahunna illa ma zahara minhaa (dan
janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak dari padanya)
(an-Nur (24): 31), ayat tersebut mengecualikan apa yang biasa tampak, yang

dimaksudkannya ialah wajah dan dua tapak tangan. Pendapat tersebut dinukil dari
sebagian sahabat dan tabiin. Said bin Jabir juga berpendapat bahwa yang dimaksudkan
dengan apa yang biasa tampak adalah wajah dan dua tapak tangan, demikian pula Ata.
(At-Tabariy, Tafsir at-Tabariy, XVIII: 118).
2. Mereka menguatkan pendapat tersebut dengan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah
yang berbunyi teksnya sebagai berikut:
Bahwa Asma binti Abi Bakr masuk ke tempat Rasulullah saw dengan memakai baju yang
tipis, kemudian Rasulullah saw berpaling daripadanya dan bersabda: Hai Asma
sesungguhnya apabila wanita itu sudah sampai masa haid, tidaklah boleh dilihat sebagian
tubuhnya kecuali ini dan ini, dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua tapak tangannya
(Ditakhrijkan oleh Abu Dawud, dari Aisyah).
3. Mereka mengatakan, di antara dalil yang memperkuat pendapat bahwa wajah dan dua
tapak tangan adalah bukan aurat, ialah bahwa dalam melakukan salat dan ihram, wanita
harus membuka wajah dan dua tapak tangannya. Seandainya kedua anggota badan
tersebut termasuk aurat, niscaya tidak diperbolehkan membuka keduanya pada waktu
mengerjakan salat dan ihram, sebab menutup aurat adalah wajib, tidak sah salat atau
ihram seseorang jika terbuka auratnya. (As-Sabuniy, 1971, II:.155)
Demikian pendapat para imam tentang aurat wanita; Asy-Syafiyyah dan Hanabilah
berpendapat bahwa seluruh anggota badan adalah aurat, termasuk wajah dan kedua tapak tangan.
Adapun imam Malik dan imam Abu Hanifah berpendapat bahwa wajah dan dua tapak tangan
tidak termasuk aurat.
Al-Qasimiy mengutip pendapat as-Siyutiy dalam Al-Iklil: Ibnu Abbas, sebagaimana
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, berpendapat bahwa wajah dan dua tapak tangan adalah bukan
aurat. Pendapat inilah yang dijadikan alasan bagi orang yang memperbolehkan melihat wajah
dan tapak tangan wanita selama tidak menimbulkan fitnah. (Al-Qasimiy, 1978, XII: 195).
Jika dihubungkan dengan sebab nuzul ayat 30-31 surat an-Nur dan ayat 59 surat al-Ahzab,
perintah menutup seluruh tubuh bagi para wanita, karena kekhawatiran yang mendalam akan
adanya fitnah, karena di Madinah pada waktu itu masih banyak orang fasik yang beradat
kebiasaan jahiliyyah, dan suka mengganggu para wanita. Kekhawatiran Rasulullah saw pada
waktu itu sangat masuk akal, karena beliau sangat paham terhadap adat istiadat jahiliyyah.

Kekhawatiran akan adanya fitnah pada masa kini pun masih menghantui kita, apalagi pengaruh
dari berbagai bangsa di dunia ini, yang tidak mengenal norma-norma Islamiyyah sangat besar.
Maka menurut hemat penulis, menutup wajah dan dua tapak tangan adalah sangat terpuji,
sekalipun penulis tidak lebih cenderung kepada pendapat Im,an Malik dan Imam Abu Hanifah,
yang mengatakan bahwa wajah dan dua tapak tangan adalah bukan aurat, dan yang paling
penting, menutup aurat dengan libasut taqwa (pakaian taqwa) adalah yang paling baik.
Sumber:
Suara Muhammadiyah
Edisi 16 2002
Batasan Aurat bagi Wanita
Batasan Aurat Menurut Madzhab Syafiiy
Di dalam kitab al-Muhadzdzab juz 1/64, Imam al-Syiraaziy berkata;
Hadits yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khuduriy, bahwasanya Nabi saw bersabda, Aurat
laki-laki adalah antara pusat dan lutut. Sedangkan aurat wanita adalah seluruh badannya,
kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Mohammad bin Ahmad al-Syasyiy, dalam kitab Haliyat al-Ulama berkata;
.. Sedangkan aurat wanita adalah seluruh badan, kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Al-Haitsamiy, dalam kitab Manhaj al-Qawiim juz 1/232, berkata;
..Sedangkan aurat wanita merdeka, masih kecil maupun dewasa, baik ketika sholat,
berhadapan dengan laki-laki asing (non mahram) walaupun di luarnya, adalah seluruh badan
kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Dalam kitab al-Umm juz 1/89 dinyatakan;
.Aurat perempuan adalah seluruh badannya, kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Al-Dimyathiy, dalam kitab Iaanat al-Thaalibiin, menyatakan;
..aurat wanita adalah seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.
Di dalam kitab Mughniy al-Muhtaaj, juz 1/185, Imam Syarbiniy menyatakan;
Sedangkan aurat wanita adalah seluruh tubuh selain wajah dan kedua telapak tangan

Batasan Aurat Menurut Madzhab Hanbaliy


Di dalam kitab al-Mubadda, Abu Ishaq menyatakan;
Aurat laki-laki dan budak perempuan adalah antara pusat dan lutut. Hanya saja, jika warna
kulitnya yang putih dan merah masih kelihatan, maka ia tidak disebut menutup aurat. Namun,
jika warna kulitnya tertutup, walaupun bentuk tubuhnya masih kelihatan, maka sholatnya sah.
Sedangkan aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuh, hingga kukunya. Ibnu Hubairah
menyatakan, bahwa inilah pendapat yang masyhur. Al-Qadliy berkata, ini adalah pendapat
Imam Ahmad; berdasarkan sabda Rasulullah, Seluruh badan wanita adalah aurat [HR.
Turmudziy, hasan shahih].Dalam madzhab ini tidak ada perselisihan bolehnya wanita
membuka wajahnya di dalam sholat, seperti yang telah disebutkan. di dalam kitab al-Mughniy,
dan lain-lainnya.
Di dalam kitab al-Mughniy, juz 1/349, Ibnu Qudamah menyatakan, bahwa
Mayoritas ulama sepakat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan mereka juga
sepakat; seorang wanita mesti mengenakan kerudung yang menutupi kepalanya. Jika seorang
wanita sholat, sedangkan kepalanya terbuka, ia wajib mengulangi sholatnya.Abu Hanifah
berpendapat, bahwa kedua mata kaki bukanlah termasuk aurat..Imam Malik, Auzaiy, dan
Syafiiy berpendirian; seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali muka dan kedua telapak
tangan. Selain keduanya (muka dan telapak tangan) wajib untuk ditutup ketika hendak
mengerjakan sholat
Di dalam kitab al-Furuu juz 1/285, karya salah seorang ulama Hanbaliy, dituturkan sebagai
berikut;
Seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat kecuali muka, dan kedua telapak tangan ini
dipilih oleh mayoritas ulama..
Batasan Aurat Menurut Madzhab Malikiy
Dalam kitab Kifayaat al-Thaalib juz 1/215, Abu al-Hasan al-Malikiy menyatakan, Aurat
wanita merdeka adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan kedua telapak tangan...
Dalam Hasyiyah Dasuqiy juz 1/215, dinyatakaN, Walhasil, aurat haram untuk dilihat meskipun
tidak dinikmati. Ini jika aurat tersebut tidak tertutup. Adapun jika aurat tersebut tertutup, maka
boleh melihatnya. Ini berbeda dengan menyentuh di atas kain penutup; hal ini (menyentuh aurat
yang tertutup) tidak boleh jika kain itu bersambung (melekat) dengan auratnya, namun jika kain

itu terpisah dari auratnya, sedangkan aurat wanita muslimah adalah selain wajah dan kedua
telapak tangan
Dalam kitab Syarah al-Zarqaaniy, disebutkan, Yang demikian itu diperbolehkan.Sebab, aurat
wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan
Mohammad bin Yusuf, dalam kitab al-Taaj wa al-Ikliil, berkata, .Aurat budak perempuan
adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan dan tempat kerudung (kepala)
Untuk seorang wanita, boleh ia menampakkan kepada wanita lain sebagaimana ia boleh
menampakkannya kepada laki-laki menurut Ibnu Rusyd, tidak ada perbedaan pendapat dalam
hal ini-, wajah dan kedua telapak tangan..
Batasan Aurat Menurut Madzhab Hanafiy
Abu al-Husain, dalam kitab al-Hidayah Syarh al-Bidaayah mengatakan;
Adapun aurat laki-laki adalah antara pusat dan lututnyaada pula yang meriwayatkan bahwa
selain pusat hingga mencapai lututnya. Dengan demikian, pusat bukanlah termasuk aurat.
Berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Syafiiy ra, lutut termasuk aurat. Sedangkan
seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan
Dalam kitab Badaai al-Shanaai disebutkan;
Oleh karena itu, menurut madzhab kami, lutut termasuk aurat, sedangkan pusat tidak termasuk
aurat. Ini berbeda dengan pendapat Imam Syafiiy. Yang benar adalah pendapat kami,
berdasarkan sabda Rasulullah saw, Apa yang ada di bawah pusat dan lutut adalah aurat. Ini
menunjukkan bahwa lutut termasuk aurat.
Aurat Wanita; Seluruh Tubuh Selain Muka dan Kedua Telapak Tangan
Jumhur ulama bersepakat; aurat wanita meliputi seluruh tubuh, kecuali muka dan kedua telapak
tangan. Dalilnya adalah firman Allah swt:





Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan

janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau puteraputera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka
miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan
kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian
kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.[al-Nuur:31]
Menurut Imam Thabariy dalam Tafsir al-Thabariy, juz 18/118, makna yang lebih tepat untuk
perhiasan yang biasa tampak adalah muka dan telapak tangan. Keduanya bukanlah aurat, dan
boleh ditampakkan di kehidupan umum. Sedangkan selain muka dan telapak tangan adalah aurat,
dan tidak boleh ditampakkan kepada laki-laki asing, kecuali suami dan mahram. Penafsiran
semacam ini didasarkan pada sebuah riwayat shahih; Aisyah ra telah menceritakan, bahwa Asma
binti Abu Bakar masuk ke ruangan wanita dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah saw. pun
berpaling seraya berkata;



Wahai Asma sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas menampakkan
tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.[HR. Muslim]
Imam Qurthubiy Tafsir Qurthubiy, juz 12/229; Imam Al-Suyuthiy, Durr al-Mantsuur, juz 6/178182; Zaad al-Masiir, juz 6/30-32; menyatakan, bahwa ayat di atas merupakan perintah dari Allah
swt kepada wanita Mukminat agar tidak menampakkan perhiasannya kepada para laki-laki
penglihat, kecuali hal-hal yang dikecualikan bagi para laki-laki penglihat. Selanjutnya, Allah swt
mengecualikan perhiasan-perhiasan yang boleh dilihat oleh laki-laki penglihat, pada frase
selanjutnya. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat mengenai batasan perhiasan yang boleh
ditampakkan oleh wanita. Ibnu Masud mengatakan, bahwa maksud frase illa ma dzahara
minha adalah dzaahir al-ziinah (perhiasan dzahir), yakni baju. Sedangkan menurut Ibnu Jabir
adalah baju dan wajah. Said bin Jabiir, Atha dan Auzaiy berpendapat; muka, kedua telapak
tangan, dan baju.
Menurut Imam al-Nasafiy, yang dimaksud dengan al-ziinah (perhiasan) adalah semua yang
digunakan oleh wanita untuk berhias, misalnya, cincin, kalung, gelang, dan sebagainya.
Sedangkan yang dimaksud dengan al-ziinah (perhiasan) di sini adalah mawaadli al-ziinah

(tempat menaruh perhiasan). Artinya, maksud dari ayat di atas adalah janganlah kalian
menampakkan anggota tubuh yang biasa digunakan untuk menaruh perhiasan, kecuali yang biasa
tampak; yakni muka, kedua telapak tangan, dan dua mata kaki
Perintah Mengenakan Khimar
Pakaian yang telah ditetapkan oleh syariat Islam bagi wanita ketika ia keluar di kehidupan umum
adalah khimar dan jilbab. Dalil yang menunjukkan perintah ini adalah firman Allah swt;


Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya..[al-Nuur:31]
Ayat ini berisi perintah dari Allah swt agar wanita mengenakan khimar (kerudung), yang bisa
menutup kepala, leher, dan dada.
Imam Ibnu Mandzur di dalam kitab Lisaan al-Arab menuturkan; al-khimaar li al-mar`ah : alnashiif (khimar bagi perempuan adalah al-nashiif (penutup kepala). Ada pula yang menyatakan;
khimaar adalah kain penutup yang digunakan wanita untuk menutup kepalanya. Bentuk
pluralnya adalah akhmirah, khumr atau khumur.
Khimar (kerudung) adalah ghitha al-rasi ala shudur (penutup kepala hingga mencapai dada),
agar leher dan dadanya tidak tampak.
Dalam Kitab al-Tibyaan fi Tafsiir Ghariib al-Quran dinyatakan;
Khumurihinna, bentuk jamak (plural) dari khimaar, yang bermakna al-miqna (penutup
kepala). Dinamakan seperti itu karena, kepala ditutup dengannya (khimar)..
Ibnu al-Arabiy di dalam kitab Ahkaam al-Quran menyatakan, Jaib adalah kerah baju, dan
khimar adalah penutup kepala . Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Aisyah ra,
bahwasanya ia berkata, Semoga Allah mengasihi wanita-wanita Muhajir yang pertama. Ketika
diturunkan firman Allah swt Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke
dada mereka, mereka membelah kain selendang mereka. Di dalam riwayat yang lain
disebutkan, Mereka membelah kain mereka, lalu berkerudung dengan kain itu, seakan-akan
siapa saja yang memiliki selendang, dia akan membelahnya selendangnya, dan siapa saja yang
mempunyai kain, ia akan membelah kainnya. Ini menunjukkan, bahwa leher dan dada ditutupi
dengan kain yang mereka miliki.
sumber:http://hizbut-tahrir.or.id/2009/06/12/ancaman-bagi-wanita-yang-membuka-auratnya/