Anda di halaman 1dari 11

Kata pengantar

Puji syukur serta shalawat dan salam kita panjatkan kehadirat


Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga
kida dapat hadir dalam acara diskusi pada hari ini dengan keadaan
sehat.
Berkat rahmat Allah yang maha esa,kami diberi kekuatan dan
kesabaran sehingga kami dapat mengerjakan tugas PKN mengenai
masalah-masalah yang ada dalam sistem politik yang mana selaku
pembimbing materi yaitu Ibu Sri Esti .

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA
PENGANTAR.1
DAFTAR
ISI..2

BAB 1 (PENDAHULUAN)
.3
a.
Rumusan masalah

1.

Pelaksanaan demokrasi di Indonesia sejak Orde lama,Orde baru,dan reformasi


2.
Demokrasi Liberal (17 Agustus 1950-5 Juli 1959)
3.
Demokrasi Terpimpin (5 Juli 1959-1965)
4.
Demokrasi Pancasila pada masa Orde baru (1966-1998)
5.
Demokrasi Era Reformasi

BAB 2 (PEMBAHASAN)4

1.
2.
3.

Pengertian demokrasi
Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Lama
Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Baru
Demokrasi di Indonesia Era Reformasi

4.

A.
B.

BAB 3 (PENUTUP)
Kesimpulan
Daftar pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Negara Kestuan Republik Indonesia merupakan negara yang terdiri dari
belasan ribu pulau,negara yang kaya akan sumber daya dan budaya,negara
dengan penduduk terpadat ke-3 di dunia,negara yang makmur, aman dan
tentram,negara yang merupakan tanah air kita yang selalu kita cintai dan
banggakan dimanapun kita berada,karena kita adalah putra putri Indonesia.
Bangsa Indonesia dengan segala keanekaragamanya merupakn suatu ciri
khas yang tidak dimiliki oleh negara lain.Kita memiliki idologi dan dasar
hukum yang sama,tujuan yang sama dan jiwa yang sama,semuanya terkandung
dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.Semua yang kita yakini dan kita
laksanakan semata mata agar sesuai dengan kehidupan berbangsa dan bernegara
yang baik.
Dalam dasar negara juga tercantun kedaulatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,yang kita amalkan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai dewan perwakilan,perwakilan
inilah yang merupakan jembatan penghubung antara penguasa dan asal dari
kekuasaan itu sendiri yaitu rakyat.Dalam pemerintahan Indoesia rakyat adalah
aspek terpenting dalam kekusaan karena sistem pemerintahan Indonesia yang
berlaku saat ini merupakan Demokrasi.
Dengan dibuatnya makalah ini sebagai penilaian untuk UKD III sekaligus
dapat menuangkan pengetahuan tentang apa itu demokrasi dan bagaimana
pelaksaanaan demokrasi di Indonesia dengan mengkaji tentang Pelaksanaan
demokrasi di Indonesia sejak masa Orde Lama,Orde Baru dan Orde Reformasi.

RUMUSAN MASALAH
Untuk menghidari adanya kesimpangsiuran dalam penyusunan makalah ini,
maka penulis membatasi masalah-masalah yang akan di bahas diantaranya:

1.

Pelaksanaan demokrasi di Indonesia sejak Orde lama,Orde baru,dan


2.
Demokrasi Liberal (17 Agustus 1950-5 Juli 1959)
3.
Demokrasi Terpimpin (5 Juli 1959-1965)
4.
Demokrasi Pancasila pada masa Orde baru (1966-1998)
5.
Demokrasi Era Reformasi

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Demokrasi

reformasi

Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan


pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi
langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan).
Istilah demokrasi berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena
Kuno pada abad ke-5 SM. Kata demokrasi berasal dari dua kata, yaitu demos
yang berarti rakyat dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat
diartikan sebagai pemerintahan rakyat. Istilah demokrasi diperkenalkan pertama
kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan
yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat).
Abraham Lincoln dalam pidato Gettysburgnya mendefinisikan demokrasi
sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Hal ini
berarti kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi ada di tangan rakyat dan
rakyat mempunyai hak, kesempatan, dan suara yang sama di dalam mengatur
kebijakan pemerintahan. Melalui demokrasi, keputusan yang diambil
berdasarkan suara terbanyak.(Moh.Mahfud MD.2000:9)
Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan
dalam suatu negara (umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias politica)
dengn kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.Prinsip semacam trias politica ini
menjadi sangat penting untuk diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah
mencatat kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak
mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan kekuasaan
absolut pemerintah seringkali menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi
manusia.
Secara umum terdapat dua bentuk demokrasi yaitu demokrasi langsung
dan demokrasi perwakilan. Demokrasi langsung merupakan suatu bentuk
demokrasi dimana setiap rakyat mewakili dirinya sendiri dalam memilih suatu
kebijakan sehingga mereka memiliki pengaruh langsung terhadap keadaan
politik yang terjadi. Sedangkan dalam demokrasi perwakilan, seluruh rakyat
memilih perwakilan melaui pemilihan umum untuk menyampaikan pendapat
dan mengambil keputusan bagi mereka.

B. Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Lama


Pada masa orde lama ada dua pelaksanaan
1.
Masa demokrasi leberal
2.
Masa demokrasi terpimpin
1.
Masa demokrasi liberal
Demokrasi yang dipakai adalah demokrasi parlementer atau demokrasi liberal.
Demokrasi pada masa itu telah dinilai gagal dalam menjamin stabilitas politik.

Ketegangan politik demokrasi liberal atau parlementer disebabkan hal-hal


sebagai berikut
2.
Dominanya politik aliran maksudnya partai politik yang sangat
mementingkan kelompok atau alirannya sendiri dari pada mengutamakan
kepentingan bangsa
3.
Landasan sosial ekonomi rakyat yang masih rendah
4.
Tidka mampunya para anggota konstituante bersidang dalam mennetukan
dasar negara.
Presiden sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang berisi 3
keputusan yaitu:
1) Menetapkan pembubaran konstituante
2) Menetapkan UUD 1945 berlaku kembali sebagai konstitusi negara dan
tidak berlakunya UUDS 1950
3) Pembentukan MPRS dan DPRS
Dengan turunnya dekrit presiden berakhirlan masa demokrasi parlementer atau
demokrasi liberal(www.wikibooks.org)
Pada massa ini kekuatan demokrasi belum tampak karena demokrasi dan
pemerintahan masih berpusat pada bangsawan dan kaum terpelajar,sehingga
rakyat kebanyakan tidak mengerti apa itu demokrasi,mengingat usia
kemerdekaan Indonesia yang masih muda saat itu dan keadaan sosial politik
yang belum stabil setelah penggantian konstitusi,maka tak ayal banyak rakyat
Indonesia yang terutama berada di bawah garis kemiskinan lebih memikirkan
kelangsungan hidupnya daaripada harus memikirkan tentang demokrasi dan
pemerintahan.

C. Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Baru


Pemerintahan Orde Lama berakhir setelah keluar Surat Perintah
Sebelas Maret 1966 yang dikuatkan dengan Ketetapan MPRS No.
IX/MPRS/1966. Sebagai pengganti masa Orde Lama, maka muncul
pemerintahan Orde Baru dengan dukungan kekuatan TNI-AD sebagai kekuatan
utama.
Pelaksanaan demokrasi masa Orde Baru ditandai perbedaan, yaitu
dilaksanakan pemilihan umum dengan asas langsung, umum, bebas, dan rahasia
lebih dari lima kali untuk memilih anggota DPRD tingkat I, DPRD tingkat II,
dan DPRD. Pemilihan tersebut kemudian membentuk MPR yang bertugas
menetapkan GBHN dan memilih Presiden dan Wakil Presiden.(Kacung
maridjan,2010:64)

Dari hasil pemilu 1971 sampai pemilu 1997, pucuk pemerintahan


tidak pernah mengalami pergantian, hanya pejabat setingkat menteri yang silih
berganti.Pucuk kekuasaan tidak pernah digantikan orang lain,Soeharto menjabat
32 tahun karena pada massa itu belum dikenal adanya pembatasan kekuasaan
presiden tentang periode jabatan.
Namun terjadi kemajuan pesat di bidang pembangun secara fisik
dengan bantuan dari negara asing yang memberikan pinjaman lunak. Oleh
karena besarnya pinjaman yang menjadi beban pemerintah, bersamaan dengan
krisis ekonomi maka pemerintahan menjadi goyah.Kita melepaskan PT.Freeport
dengan sisitem pembagian saham,dan lebih parahnya lagi mayoritas atau hampir
bisa dikatakan seluruh keuntungan PT.Frepoort mengalir ke devisa Amerika
sebagai negara kreditur kita. Selain itu, dalam pelaksanaan penyelenggaraan
pemerintahan negara pada rezim orde baru kurang kosekuen dalam pelaksanaan
Pancasila dan UUD 1945. Tanggal 21 Mei 1998 presiden resmi mengundurkan
diri.
Kekuasaan Orde Baru sampai tahun 1998 dalam ketatanegaraan
Indonesia tidak mengamalkan nilai-nilai demokrasi. Praktik kenegaraan
Orde Baru dijangkiti korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Dengan demikian dapaat dikatakan bahwa demokrasi pada masa orde
baru hanya sekedar formalitas belaka,toh pada ahirnya rezim yang berkuasa
akan tetap menekan kita untuk memilihnya kembali menjadi penguasa di negeri
ini,

D.

Demokrasi di Indonesia Era Reformasi

Gerakan reformasi membawa perubahan-perubahan dalam bidang


politik dan usaha penegakkan kedaulatan rakyat, serta meningkatkan peran serta
masyarakat dan mengurangi dominasi pemerintah dalam kehidupan
politik.Dengan pengangkatan BJ Habibie sebagai presiden baru berubah juga
pola otoriter penguasa yang selama 32 tahun kita rasakan ketika massa
pemerintahan Soeharto.(Soehino,2010:108)
Pelaksanaan demokrasi pada masa reformasi pada dasarnya adalah
demokrasi dengan mendasarkan pada UUD 1945 yang telah diamandemen oleh
MPR. Dengan penyempurnaan pelaksanaannya, meningkatkan peran lembagalembaga negara dengan menegakkan fungsi, wewenang dan tanggung jawab
yang mengacu pada prinsip pemisahan kekuasaan, (check and balance system )
yang jelas antar lembaga-lembaga eksekutif, legislative, dan yudikatif dan yang
lebih jelas tidak ada kekuasaan berlebih pada salah satu lembaga, seperti berikut
:
1.
Presiden dan wakil Presiden dipilih dengan masa jabatan 5 tahun dan
dapat dipilih kembali satu kali jabatan yang sama.

2. DPA dihapuskan
3. Anggota MPR terdiri dari anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu.
Demokrasi Indonesia saat ini telah dimulai dengan hasil pemilu. Nuansa
demokrasi sangat terasa dalam era reformasi ini, terutama dalam hal
penegakkan HAM dan usaha recovery ekonomi dan kemandirian bangsa.

Demokrasi Liberal Periode 17 Agustus 1950 5 Juli 1959 di Indonesia


Sistem politik pada periode ini, Indonesia menggunakan UUDS RI 1950, yang
merupakan perubahan dari Konstitusi RIS yang diselenggarakan sesuai dengan
piagam persetujuan antara pemerintah RIS dengan pemerintah RI (Yogyakarta)
pada tanggal 19 Mei 1950.
1) Bentuk Negara dan Bentuk Pemerintahan
Pasal 1 UUDS RI 1950 menyatakan:
a) RI yang merdeka dan berdaulat ialah suatu negara hukum yang demokratis
dan berbentuk kesatuan,
b) kedaulatan RI adalah di tangan rakyat dan dilakukan oleh pemerintah
bersama-sama DPR.
Berdasarkan pasal 1 ayat (1) UUDS 1950 tersebut, negara Indonesia berbentuk
kesatuan, artinya di dalam negara Indonesia tidak ada negara-negara bagian dan
hanya mengenal satu pemerintah yakni pemerintah pusat. Kepada daerah
diberikan otonomi seluas-luasnya oleh pemerintah pusat untuk mengurus rumah
tangganya sendiri. Dengan demikian, negara RI adalah negara kesatuan yang
menggunakan sistem desentralisasi. Dalam pasal itu pula ditegaskan bentuk
pemerintahan republik.
2) Sistem Pemerintahan
Alat-alat perlengkapan negara yakni presiden, menteri-menteri, DPR, MA, dan
Dewan Pengawas Keuangan. Sistem pemerintahan yang dianut oleh UUDS
1950 adalah parlementer dengan menggunakan Kabinet Parlementer yang
dipimpin oleh seorang perdana menteri. Para menteri bertanggung jawab kepada
DPR (parlemen). Presiden tidak dapat diganggu gugat artinya tidak dapat
dimintai pertanggungjawaban terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
Pada saat mulai berlakunya UUDS 1950 badan legislatif yang ada adalah DPR
sementara yang terdiri dari gabungan DPR RIS ditambah dengan anggota dan
ketua BPKNIP ditambah dengan anggota atas penunjukan presiden.
Pemilu yang pertama kali di Indonesia diselenggarakan berdasarkan UU No. 7
Tahun 1953. Pemungutan suara dilaksanakan pada tanggal 29 September 1955
untuk memilih anggota DPR. Dalam melaksanakan tugasnya, DPR mempunyai
hak bertanya, hak interpelasi, hak angket, hak inisiatif, hak amandemen, dan
hak budget. Hak interpelasi adalah hak untuk meminta keterangan kepada
pemerintah.

3) Dekrit Presiden 5 Juli 1959


Pada akhirnya aspirasi politik di dalam Keanggotaan Badan Konstituante yang
dipilih dalam pemilu 1955 terbagi dalam dua kelompok, yakni golongan
nasionalis dan golongan agama. Karena perbedaan di antara mereka tidak dapat
diatasi, Presiden Soekarno mengajukan usul dalam sidang Konstituante untuk
kembali ke UUD 1945. Sesudah ada pembicaraan, kedua belah pihak dapat
menerima.
Akan tetapi golongan agama ingin menerima UUD 1945 dengan amandemen,
yaitu bahwa rumusan Piagam Jakarta dicantumkan di dalamnya, sedangkan
golongan nasionalis menerimanya tanpa amandemen. Setelah diadakan
pemungutan suara, hasilnya tidak seperti yang ditentukan dalam UUDS 1950,
bahkan Badan Konstituante tidak melanjutkan sidang-sidangnya. Untuk
menyelamatkan negara, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli
1959. Dekrit itu berisi antara lain:
a) Pembubaran Konstituante
b) Berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950
c) Pembentukan MPR Sementara dan DPA Sementara.
Dengan adanya dekrit inilah yang kemudian menjadi sumber hukum dan
penyelenggaraan pemerintahan.

MASA DEMOKRASI TERPIMPIN 1959 1965


Pada masa ini, Presiden Soekarno mengeluarkan sebuah Dekrit yang dinamakan
Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dikeluarkannya dekrit tersebut disebabkan karena
ketidakmampuan konstituante untuk menyusun Undang-Undang Dasar yang
baru bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun demikian di dalam praktik ketatanegaraannya dalam sistem Demokrasi
Terpimpin ini tidak dilaksanakan secara konsekuen, bahkan justru sebaliknya,
karena di dalam praktiknya sangat jauh dan menyimpang dari arti yang
sebenarnya, realisasinya justru yang memimpin demokrasi ini bukan Pancasila
tetapi dipimpin oleh Presiden Soekarno. Akibatnya demokrasi yang dijalankan
tidak lagi berdasarkan keinginan luhur bangsa Indonesia dengan menggunakan
Pancasila sebagai pedomannya, akan tetapi didasarkan kepada keinginankeinginan atau ambisi-ambisi politik Presiden Soekarno.
Sebelum mempelajari kegiatan belajar berikutnya peserta didik diharapkan
mempelajari demokrasi terpimpin.
1. Kondisi Politik Masa Demokrasi Terpimpin
Demokrasi Terpimpin adalah suatu paham yang tidak didasarkan atas paham
liberalisme, sosialisme, nasionalisme, fasisme dan komunis, akan tetapi suatu

paham demokrasi yang didasarkan kepada keinginan-keinginan luhur bangsa


Indonesia seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 45 yang menuju pada
suatu tujuan mencapai masyarakat adil dan makmur yang penuh dengan
kebahagiaan material dan spiritual sesuai dengan cita-cita proklamasi 17
Agusturs 1945.
Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden, Kabinet Karya dibubarkan dan
diganti dengan Kabinet Kerja yang langsung dipimpin oleh Presiden Soekarno.
Presiden sekaligus bertindak sebagai perdana menteri, sedang Ir. Djuanda
diangkat sebagai menteri pertama. Program pokok kabinet meliputi
penyelesaian masalah keamanan dalam negeri, pembebasan Irian Barat dan
masalah sandang pangan. Pada periode ini Presiden Soekarno hampir
memegang seluruh kekuasaan. Presiden menciptakan sistem politik yang
dinamakan Demokrasi Terpimpin. Presiden kemudian mengeluarkan Penetapan
No. 7 Tahun 1959 untuk mengatur kehidupan partai politik di Indonesia, yang
antara lain menyebut bahwa hanya partai-partai yang dapat menerima Pancasila
yang akan diberi hak hidup.
2. Kondisi Ekonomi Pada Masa Terpimpin
Dekrit Presiden yang dikeluarkan 5 Juli 1959 juga membawa perubahan dalam
bidang ekonomi. Presiden kemudian mengeluarkan Deklarasi Ekonomi (Dekon)
yang antara lain menyebutkan bahwa penyelenggaraan ekonomi harus
dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah. Kebijaksanaan pemerintah dalam
ekonomi terutama nampak dalam kebijaksanaan moneternya.
Untuk membendung inflasi Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pengganti
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1959 yang mulai berlaku 25 Agustus 1959.
Peraturan itu dimaksudkan untuk mengurangi banyaknya uang yang beredar.
Untuk itu nilai uang kertas pecahan Rp 500,00 dan Rp 1.000,00 diturunkan
nilainya masing-masing menjadi Rp 50,00 dan Rp 100,00. Di samping itu juga
dikeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun
1959 tentang pembekuan sebagian dari simpanan pada bank-bank. Hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi banyaknya uang yang beredar, terutama dalam
tahun 1957 dan 1958.
Sementara perdagangan ekspor-impor dan perdagangan dalam negeri juga
mengalami kemerosotan sehingga penghasilan negara juga merosot. Dengan
demikian defisit anggaran belanja menjadi meningkat, dan hanya sebagian kecil
saja yang dapat ditutup dengan pinjaman-pinjaman dari luar negeri.

Pancasila di Era Orde Baru


Era Orde Baru dalam sejarah republik ini merupakan masa pemerintahan yang
terlama, dan bisa juga dikatakan sebagai masa pemerintahan yang paling stabil.
Stabil dalam artian tidak banyak gejolak yang mengemuka, layaknya keadaan

dewasa ini. Stabilitas yang entah semu atau memang riil tersebut, diiringi juga
dengan maraknya pembangunan di segala bidang. Era pembangunan, era penuh
kestabilan, yang saat ini menimbulkan romantisme dari banyak kalangan di
negara ini, ditandai dengan semakin gencarnya campaign piye kabare di
seantero pelosok nusantara. Menariknya, dua hal yang menjadi warna Indonesia
di era Orde Baru, yakni stabilitas dan pembangunan, serta merta tidak lepas dari
keberadaan Pancasila. Pancasila menjadi alat bagi pemerintah (baca: Soeharto)
untuk semakin menancapkan kekuasaan di Indonesia. Pancasila begitu diagungagungkan; Pancasila begitu gencar ditanamkan nilai dan hakikatnya kepada
rakyat; dan rakyat tidak memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang
mengganjal, kala itu tentunya.
Gencarnya penanaman nilai-nilai Pancasila di era Orde Baru salah satunya
dilatarbelakangi hal bahwa rakyat Indonesia harus sadar jika dasar negara
Indonesia adalah Pancasila itu sendiri. Masyarakat pada masa itu memaknai
pancasila sebagai hal yang patut dan penting untuk ditanamkan, ujar Hendro
Muhaimin, peneliti di Pusat Studi Pancasila UGM. Selain itu menurutnya pada
era Orde Baru semua orang menerima Pancasila dalam kehidupannya, karena
Pancasila sendiri adalah produk dari kepribadian dalam negeri sendiri, dan yang
menjadi keprihatinan khalayak pada masa itu adalah Pemerintahnya, bukan
Pancasilanya.
Hendro Muhaimin juga menambahkan bahwa Pemerintah di era Orde Baru
sendiri terkesan menunggangi Pancasila, karena dianggap menggunakan dasar
negara sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan. Pada dasarnya, yang
salah bukanlah Pancasila, karena Pancasila dibuat dari penggalian kepribadian
bangsa ini, dari cerminan bangsa Indonesia, maka para pemegang kekuasaan
pada rezim itu, yang mengg