Anda di halaman 1dari 14

TUGAS PROBLEM BASED LEARNING

ASMA BRONKIALE

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan dokter


Stase Ilmu Penyakit Paru

OLEH :
MEIRA OKA BIASRIE/ J500070013

PEMBIMBING:
dr. AGUS SUHARTO B, Sp.P

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011

STATUS PASIEN
I.

II.

IDENTITAS
Nama Pasien
No.RM
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Pekerjaan
Status Perkawinan
Agama
Suku
Tanggal Periksa RS
Tanggal Pemeriksaan

: Tn. Sun
: 0256xx
: 45 tahun
: laki-laki
: bibis jongke karanganyar
: Swasta
: Kawin
: Islam
: Jawa
: 14 Desember 2011
: 14 Desember 2011

ANAMNESIS
A. Keluhan Utama
Sesak nafas
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli Non TB BPKPM Surakarta dengan
keluhan utama sesak nafas. Sesak nafas sudah dirasakan
sejak satu minggu yang lalu. Sesak disertai bunyi ngik-ngik
Ketika pasien sering kehujanan dan kecapekan. Dalam satu
minggu pasien merasakan sesak sudah 3 kali. Selain sesak
pasien juga mengeluh dada pasien terasa berat saat bernafas
di seluruh lapang pandang. Sesak nafas pasien kambuh ketika
pasien menghirup debu, asap, dan kedinginan. Hal ini
dirasakan sejak kecil. Sesak yang dirasakan pasien tersebut
menyebabkan pasien tidak dapat bekerja dan terbangun saat
tidur pada malamnya. Pasien mengeluh sesak semakin berat
bila pasien beraktivitas yang berat. Apabila beristirahat sesak
sedikit berkurang. Sesak berkurang ketika pasien meminum
obat napasin. Pasien merasa lebih nyaman ketika tidur
menggunakan bantal yang tebal. Dada pegal (+), batuk (+),
muntah (-), demam (-), Bb turun (-), keringat malam (-)
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Pengobatan dengan OAT : disangkal

Riwayat Komorbid lain : HT (-), DM (-), Peny.Ginjal (-),

Peny.Jantung (-), TB (-) liver (-), keganasan (-).


Riwayat Alergi : debu, asap, dingin
Riwayat Operasi : disangkkal
Riwayat Opname : disangkal
Riwayat kontak dengan penderita TB : disangkal
Riwayat trauma : disangkal

D. Riwayat Pribadi
Merokok : disangkal
Minum minuman beralkohol : disangkal

Riwayat pengobatan rutin (OAT) disangkal

Adanya penderita batuk darah disangkal

E. Riwayat Keluarga
Riwayat komorbid keluarga : HT (-), DM (-), Peny.Ginjal (-),

Peny.Jantung (-), TB (-), peny. Liver (-), keganasan (-).


Riwayat atopi di keluarga : ayah pasien (alergi dingin)

F. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien bekerja sebagai karyawan di sebuah toko. Pasien
bekerja dari pukul 07.00-15.00 Penghasilan dirasakan cukup
untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dirumah pasien tinggal
dengan istri, dan 2 orang anak.
G. Riwayat Kesehatan Lingkungan
-

Pasien bekerja sebagai karyawan di toko di solo yang


letaknya jauh dari rumah yang kemungkinan terpapar
dengan polutan kendaraan bermotor. Ditempat bekerja
banyak rekan kerja yang merokok sehingga pasien adalah
perokok pasif. Rumah pasien berada di pemukiman yang
jauh dari jalan raya. Disekitar rumah pasien banyak
pepohonan.

PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan Umum
KU
: Tampak baik
Kesadaran: Compos mentis (GCS 15 : E4 V5 M6)
Gizi
: Cukup
B. Vital Sign
TD
: 130 / 80 mmHg
N

: 83 x / menit

RR

: 28 x / menit

: 36,5 o C

C. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-), nafas
Leher

cuping hidung (-).


: Retraksi suprasterna

(-),

deviasi

trakea

(-),

peningkatan JVP (-), Pembesaran kelenjar limfe (-).


Thoraks : Paru
-

Inspeksi : simetris ka ki, ketinggalan gerak (-),

retraksi intercosta (+).


Palpasi : - ketinggalan gerak
depanbelakang
-

Fremitus
depan
N
N
N

N
N
N

belakang
N
N
N

N
N
N

Perkusi depanbelakang
S
S
S

S
S
S

S
S
S

S
S
S

Auskultasi : suara dasar vesikuler


depan
belakang

V
V
V
V
V
wh V
Wh
V
V
V
V
Suara tambahan Wheezing (-/+), Ronkhi (-/-)
Jantung
-

Inspeksi : iktus cordis tampak


Palpasi : iktus cordis kuat angkat
Perkusi : dalam batas normal
Auskultasi: Bunyi jantung I-II reguler,
Bising jantung (-).

Abdomen
- Inspeksi : simetris, tinggi dinding perut = dinding dada
- Auskultasi : peristaltik (N)
- Perkusi : Tympani
- Palpasi : Nyeri tekan (-), Hepar & Lien dalam batas normal
Ekstremitas
III.

Clubbing finger (-), Oedem (-), Akral hangat

PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Radiologi ( Rontgen Toraks PA )

Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada


waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru
paru yaitu radiolusen yang bertambah dan pelebaran rongga
intercostalis, serta diafragma yang menurun.
IV.

RESUME / DAFTAR MASALAH

1. Anamnesis :
a.

keluhan utama sesak nafas. Sesak nafas sudah dirasakan sejak


satu minggu yang lalu.

b. Sesak disertai bunyi ngik-ngik


c. Sesak timbul saat kehujanan dan kecapekan

d. Dada terasa berat ketika bernafas.


e. Dalam satu minggu pasien merasakan sesak sudah 3 kali
f. Sejak kecil pasien sering sesak karena debu, asap, dan udara
dingin.
g. Pasien bekerja sebagai karyawan letaknya jauh dari rumah yang
kemungkinan terpapar dengan polutan kendaraan bermotor
2. Pemeriksaan Fisik
a. Thoraks
i.
ii.
iii.
iv.

: a.) Paru

Inspeksi : retraksi intercosta (+).


Palpasi : dalam batas normal
Perkusi : dalam batas normal
Auskultasi: wheezing pada sisi kiri.

3. Pemeriksaan Penunjang
V.

ASSESMENT

DIAGNOSIS

KERJA

DAN

DIAGNOSIS

BANDING
Asma bronkiale
PPOk
VI.

POMR (Problem Oriented Medical Record)


N

Assesment

O.
1.

Asma
bronkiale

Planning

Planning

Planning

diagnosa
- Faal Paru
- Tes Lab

terapi
Aminofilin

monitoring
-keadaan

(Eosinofil,

(100 mg x 3- umum
-faal paru
4x/ hari)

IgE spesifik)
2.

PPOK

Faal paru
Tes Lab

-Oksigen 2-4 Keadaan

fag lebih

(100 mg x 3-

spesifik)

4x/ hari)

liter
(netrofil,makro -Aminofilin

Tinjauan Pustaka

umum
Faal paru

A. Definisi 5
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran nafas yang melibatkan
banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan
hiperesponsif jalan nafas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa
mengi, sesak nafas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam atau
dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan nafas yang
luas, bervariasi dan sering bersifat reversible dengan atau tanpa pengobatan.
B.

Klasifikasi asma 4
Perbedaan
-mulai terjadinya
-kadar IgE serum
-mekanisme terjadinya

Asma eksentrik
(alergik)
-saat kanak-kanan
- meningkat
-mekanisme imun

Asma intrinsik
(Idiosinkratik)
-saat dewasa
-normal
-non-imun

C. Faktor Risiko
a. Genetik
Telah diterima secara umum bahwa ada kontribusi herediter pada
etiologi asma, pola herediter komplek dan asma tidak dapat
diklasifikasikan secara sederhana cara pewarisannya seperti autosomal
dominan, resesif atau sex linked.
b. Factor lingkungan
Alergen dan occupational factor adalah penyebab terpenting asma.
Allergen indoor yang penting adalah : mites, allergen hewan. Allergen
kecoa, jamur. Outdoor allergen : jamur, rumput dll.
c. Polusi udara
Polutan di luar dan di dalam rumah mempunyai konstribusi perburukan
gejala

asma

dengan

mentriger

bronkokonstriksi,

peningkatan

hiperesponsif saluran dan peningkatan respon terhadap aeroallergen.


d. Faktor lain
Dari sejumlah studi epidemiologi dapat ditemukan asosiasi antara resiko
terjadinya asma dengan atopi
D. Patofisiologi
a. Bronkokontriksi
Pada asma eksaserbasi bronkospasme akut yang menyebabkan
penyempitan saluran nafas sebagai respon terhadap berbagai stimuli

seperti alergen atau iritan. Bronkokontriksi akut akibat allergen terjadi


lewaat ig-E dependent release of mediator dari sel mast. Juga ada
mekanisme non igE dalam pelepasan mediator.
b. Edema saluran nafas
Jika inflamasi makin progresif ada faktor-faktor lain yang menghambat
aliran udara antara lain: edema, hiperskresi mukus, mukus plug,
hipertrofi dan hiperplasi otot saluran nafas.
c. Hiperesponsif saluran nafas
Mekanisme hiperesponsif saluran nafas bersifat multipel termasuk
inflamasi, disfungsi neuroregulasi dan perubahan structural
d. Airway remodeling
Airway remodeling menimbulkan perubahan structural

yang

meningkatkan hambatan aliran udara saluran nafas dan hiperesponsif


saluran nafas dan menyebabkan pasien kurang respon terhadap
pengobatan.
E. Diagnosis asma
Diagnosis klinis berdasarkan gejala, riwayat medis dan pemeriksaan fisik
sangat berarti dalam menegakkan diagnosis asma.
1. Gejala dan riwayat medis
Gejala bervariasi yaitu : batuk berulang, sesak nafas, rasa berat di dada,
nafas berbunyi (mengi), dan tidak ada gejala yang khas asma karena
berbagai gejala tersebut diatas juga dapat ditemukan pada kondisi
gangguan/penyakit pernapasan lainnya.
Gejala khas pada asma yaitu episodik, variabilitas dan reversible
a) Episodik : serangan yang berulang (hilang timbul) yang diantaranya
terdapat periode bebas serangan.
b) Variabilitas adalah bervariasinya kondisi asma pada waktu-waktu
tertentu seperti perubahan cuaca, akibat provokasi pencetus (allergen,
iritan, dll): bahkan dalam satu hari terjadi variabilitas dengan
perburukan pada malam atau dini hari.
c) Reversibel adalah meredanya gejala asma dengan atau tanpa obat
bronkodilatator agonis beta-2 kerja singkat/ SABA. Hal itu terjadi
karena mekanisme obstruksi jalan nafas pada asma terutama
didominasi oleh kontraksi otot polos bronkus.
2. Pemeriksaan fisik

Temuan pemeriksaan fisik pada asma bervariasi dari normal pada saat
stabil (tidak eksaserbasi), sampai didapatkan gambaran klinis yang berat
yaitu pada eksaserbasi akut berat. Kelainan pemeriksaan fisik yang paling
sering ditemukan adalah mengi pada auskultasi, yang merupakan tanda
terdapatnya obstruksi jalan nafas. Wheezing pada umumnya bilateral,
polifonik dan lebih terdengar pada fase ekspirasi.
3. Pemeriksaan penunjang
Diagnosis asma membutuhkan pemeriksaan penunjang yang terdiri atas
penunjang standard dan penunjang tambahan.
a) Pemeriksaan penunjang standar
Pemeriksaan yang wajib dilaksanakan yaitu pemeriksaan faal paru standar
dengan spirometri untuk menilai obstruksi jalan nafas, reversibilitas dan
variabilitas.
Berbagai metoda dapat digunakan untuk menilai faal paru, tetapi
pemeriksaan spirometri adalah metode yang direkomendasikan untuk
mengukur obstruksi dan reversibilitas untuk mendiagnosis asma.
Spirometri 3
Pengukuran volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan kapasitas
vital paksa (KVP) dilakukan dengan maneuver ekspirasi paksa melalui
prosedur yang standar. Pemeriksaaan ini sangat bergantung kepada
kemampuan penderita sehingga dibutuhkan instruksi operator yang jelas
dan kooperatif penderita. Untuk mendapatkan nilai yang akurat, diambil
nilai tertinggi dari 2-3 nilai yang reproducible dan acceptable. Obstruksi
jalan nafas diketahui dari nilai rasio VEP1/ KVP < 75 % atau VEP1 <80%
nilai prediksi.
Manfaat pemeriksaan spirometri dalam diagnosis asma :
1. Obstruksi jalan nafas diketahui dari nilai rasio VEP1/ KVP <75% atau
VEP1< 80 % nilai prediksi
2. Reversibilitas, yaitu perbaikan VEP1 15% secara spontan, atau
setelah inhalasi bronkodilatator (uji bronkodilatator), atau setelah
pemberian bronkodilatator oral 10-14 hari, atau setelah pemberian

kortikosteroid (inhalasi/ oral) 2 minggu. Reversibility ini dapat


membantu diagnosis asma.
3. Menilai derajat berat asma
Arus Puncak Ekspirasi (APE)
Nilai APE dapat diperoleh melalui pemeriksaan spirometri

atau

pemeriksaan yang lebih sederhana yaitu dengan alat peak expiratory flow
meter (PEF meter) yang relatif sangat murah, mudah di bawa, terbuat dari
plastik dan mungkin tersedia di berbagai tingkat layanan kesehatan
termasuk puskesmas ataupun inhalasi gawat darurat.
Manfaat APE dalam diagnosis asma
1) Reversibility, yaitu perbaikan nilai APE 15% setelah inhalasi
bronkodilatator (uji bronkodilatator), atau bronkodilatator oral 10-14
hari, atau respon terapi kortikosteroid (inhalasi/oral, 2 minggu).
2) Variability, menilai variasi diurnal APE yang dikenal dengan
variability APE harian selama 1-2 minggu. Variability juga dapat
digunakan menilai derajat berat penyakit.
b) Pemeriksaan penunjang tambahan
1) Uji provokasi bronkus
Uji provokasi bronkus membantu menegakkan diagnosis pada
asma. Pada penderita dengan gejala asma dan faal paru normal
sebaiknya dilakukan uji provokasi bronkus mempunyai sensitive
yang tinggi tetapi spesifiti rendah, artinya hasil negative dapat
menyingkirkan diagnosis asma persisten, tetapi hasil positif tidak
terlalu berarti bahwa penderita tersebut asma. Hasil positif dapat
terjadi pada penyakit lain seperti rhinitis alergi, berbagai gangguan
dengan penyempitan jalan nafas seperti PPOK, bronkiektasis dan
fibrosis kistik
2) Pengukuraan status alergi
Komponen alergi pada asma

dapat diidentifikasi melalui

pemeriksaan uji kulit atau pengukuran IgE spesifik serum. Uji


tersebut mempunyai nilai kecil untuk mendiagnosis asma, tetapi

membantu mengidentifikasi factor risiko/ pecentus sehingga dapat


dilaksanakan control lingkungan dalam penatalaksanaan.
Uji kulit adalah cara utama untuk mendiagnosis status alergi/atopi,
umumnya dilakukan dengan prick test. Walaupun uji kulit
merupakan cara yang tepat untuk diagnosis atopi, tetapi juga dapat
menghasilkan positif atau negative palsu. Sehingga konfirmasi
terhadap pajanan allergen yang relevan dan hubungannya dengan
gejala harus selalu dilakukan. Pengukuran ig E spesifik dilakukan
pada keadaan uji kulit tidak dapat dilakukan (antara lain
dermatophogoisme, dermatitis/kelainan kulit pada lengan tempat
uji kulit dan lain-lain. Pemeriksaan kadar igE total tidak
mempunyai nilai dalam diagnosis alergi/ atopi.
F. klasifikasi asma
Tabel. Klasifikasi derajat berat asma berdasarkan gambaran klinis (sebelum
pengobatan) 2
NO.

Gejala
Gejala < 1x/minggu

1.

STEP 1
Intermittent

Jarang eksaserbasi
Gejala nokturnal < 2x
/bulan

2.

STEP 2
Mild Persistent

Faal Paru
VEF1 = 80% nilai
prediksi
PEF = 80% nilai terbaik
Variabilitas PEF < 20 %

Gejala > 1x/minggu,

VEF1 = 80% nilai

tetapi < 1x/hari

prediksi

Eksaserbasi dapat
mengganggu aktivitas

PEF = 80% nilai terbaik

dan tidur
Gejala nokturnal > 2x

Variabilitas PEF 20 - 30

/bulan

3.

STEP 3
Moderate

VEF1 = 60 - 80% nilai

Gejala setiap hari

prediksi

Persistent
Eksaserbasi dapat
mengganggu aktivitas
dan tidur
Gejala nokturnal >
1x /minggu

PEF = 60 - 80% nilai


terbaik
Variabilitas PEF > 30 %

Setiap hari
menggunakan agonis
beta 2 kerja pendek
inhalasi
4.

STEP 4
Severe

VEF1 = 60% nilai

Gejala setiap hari

prediksi

Persistent
Eksaserbasi sering
Gejala nokturnal asma
sering

PEF = 60% nilai terbaik


Variabilitas PEF >30 %

Keterbatasan aktivitas
fisik

Table klasifikasi derajat berat asma pada penderita dalam pengobatan


Gejala dan faal

Tahap 1

Tahap 2

Tahap 3

paru dalam

intermiten

persisten ringan

persisten

pengobtaan
Tahap 1

Intermiten

Persisten ringan

sedang
Persisten

Persisten ringan

Persisten

sedang
Persisten berat

Persisten

sedang
Persisten berat

Persisten berat

Tahap 2
Tahap 3

Tahap 4

sedang
Persisten berat

Persisten berat

Persisten berat

Modalitas Terapi Farmakologis 2


Secara umum terdapat 2 jenis obat dalam penatalaksanaan asma
yaitu obat pengendali (controller) dan pereda (reliever). Obat
pengendali merupakan profilaksis serangan yang diberikan tiap hari,
ada atau tidak ada serangan/gejala, sedangkan obat pereda adalah
yang diberikan saat serangan. (2)
1. Antiinflamasi
Glukokortikoid
: inhalasi (MDI, nebulasi), oral, parenteral
Inhalasi
Oral
: methylprednisolon, prednison
Injeksi
: methylprednisolon
2. Bronkodilator
a) Agonis beta 2
: inhalasi (MDI, nebulasi), oral,
parenteral
Misal
: salbutamol
b) Methylxantine
: oral, parenteral
Misal
: Aminophylin
c) Antikolinergik: inhalasi (MDI, nebulise)
Misal
: Ipratropium bromide MDI, nebulise

Daftar pustaka
1. Djojodibroto, D. 2009. Respirology. Jakarta. EGC
2. Syahrir, M, dkk. 2008. Guideline Ilmu Penyakit Paru. Surakarta :
Program Pendidikan Profesi FK UMS.
3. PDPI .2004. asma
4. Buku ajar ilmu penyakit paru Unair. 2010. Surabaya.
5. Dewan asma Indonesia. 2011. Pedoman tata laksana Asma.
Jakarta