Anda di halaman 1dari 9

STUDI KEANDALAN DAN KETERSEDIAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP

UNIT 2 PT. PLN (Persero) SEKTOR


PEMBANGKITAN BELAWAN

Abstrak
Dalam proses produksi listrik pembangkit listrik tenaga uap merupakan pembangkit
listrik thermal yang memiliki kapasitas yang besar, karena merupakan pembangkit yang
menyuplai beban dasar dalam sistem kelistrikan. Dari segi ekonomis PLTU merupakan
pembangkit listrik yang hemat sehingga banyak digunakan, walaupun dalam investasi awal
PLTU sangatlah mahal. Pembangkit Listrik Tenaga Uap memiliki beberapa komponen utama
antara lain turbin uap, boiler, kondensor dan generator. Semua komponen tersebut terintegrasi
menjadi satu kesatuan sistem unit yang bekerja untuk dapat menghasilkan energi listrik. Seperti
yang diketahui, bahwa pembangkit sering mengalami pelepasan sebagian beban melihat
perkembangan beban yang semakin besar sehingga perlu dilakukan evaluasi. Dari sisi kualitas
PLTU dipengaruhi oleh besarnya kapasitas faktor dan faktor ketersediaan terhadap produksi
listrik. Dalam penelitian ini didapat nilai kapasitas faktor PLTU unit 2 sebesar 70,52 % dan
faktor ketersediaan sebesar 69,23%. Sedangkan secara kuantitas komponen yang memiliki
keandalan terburuk selama 26304 jam adalah preasure gauge, untuk ketersediaan terbaik adalah
modul i/o level. Agar keandalan tetap terjaga maka dilakukan rencana operasi dengan
menjadwalkan perawatan pencegahan, dimana didapat bahwa komponen yang harus mengalami
perawatan tercepat yaitu condensat pump dan termokopel 1.
Kata Kunci: Keandalan, Preventive Maintenance

1.Pendahuluan
Dalam proses produksi listrik pembangkit listrik tenaga uap merupakan pembangkit listrik
thermal yang memiliki kapasitas yang besar, karena merupakan pembangkit yang menyuplai beban
dasar dalam sistem kelistrikan. Dari segi ekonomis PLTU merupakan pembangkit listrik yang hemat
sehingga banyak digunakan, walaupun dalam investasi awal PLTU sangatlah mahal.
Dari sisi kualitas PLTU dipengaruhi oleh besarnya kapasitas faktor dan faktor ketersediaan
terhadap produksi listrik selama setahun. Seperti kita ketahui pembangkit sering mengalami
pelepasan sebagian beban melihat pertambahan konsumen baik yang baru maupun yang sudah lama
semakin pesat sehingga perlu dilakukan evaluasi agar diharapkan produksi listrik yang semaksimal
mungkin.
Dari sisi kuantitas PLTU sangat dipengaruhi oleh evaluasi kinerja dari setiap komponen
komponen yang terlibat di dalam unit PLTU tersebut. Permasalahan yang sering terjadi dalam unit
PLTU ini yaitu kegagalan start pada saat unit PLTU akan dioperasikan. Kegagalan start tersebut
terjadi dikarenakan adanya kegagalan ataupun kerusakan pada komponen-komponen yang ada
didalam unit PLTU. Dimana dampak dari kegagalan tersebut dapat menyebabkan unit PLTU
mengalami trip dan tidak dapat melakukan produksi listrik. Dengan demikian perlu dilakukan
evaluasi kinerja unit PLTU dari segi keandalan dan ketersediannya berdasarkan waktu kegagalan
unit komponen pembangkit. untuk mengetahui lifetime komponen dan perkiraan waktu dari suatu
komponen untuk dilakukan perawatan ataupun pergantian komponen.

2. Pembangkit Listrik Tenaga Uap


Pembangkit Listrik Tenaga Uap memiliki beberapa komponen utama antara lain turbin uap,
boiler, kondensor dan generator. Semua komponen tersebut terintegrasi menjadi satu kesatuan
sistem unit yang bekerja untuk dapat menghasilkan energi listrik[1].

Gambar 1 Siklus Kerja PLTU[2].


Gambar 1 diatas dapat dilihat bahwa komponen utama PLTU sebagai berikut :
a. Boiler adalah Ruang Bakar adalah ruangan tempat proses terjadinya pembakaran. Ruang
pembakaran terdiri dari 8 buah burner yang didalamnya dipasang komponen-komponen
untuk proses pembakaran beserta sarana penunjangnya, diantaranya:
Fuel Nozzle
Combustion Liner
Transition Piece
Igniter gun
Flame Detector

1.
2.
3.
4.
5.
b.

Turbin uap berfungsi untuk merubah energi panas yang terkandung dalam uap menjadi energi
mekanik dalam bentuk putaran. Uap dengan tekanan dan temperatur tinggi mengalir melalui nozzle
sehingga kecepatannya naik dan mengarah dengan tepat untuk mendorong sudu-sudu turbin yang
dipasang pada poros. Akibatnya poros turbin bergerak menghasilkan putaran (energi mekanik.

c.

Generator adalah alat untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Generator
menghasilkan energi listrik dengan digerakkan atau diputar oleh suatu penggerak mula (prime
mover). Penggerak mula dari pada Generator dapat berupa turbin gas (PLTG), turbin uap
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), mesin diesel Pembangkit Listrik tenaga Diesel (PLTD),
dan lain-lain.
Sistem Start (Starting System) di dalam turbin Uap digunakan sebagai penggerak mula, hal ini
diperlukan karena pada saat start kondisi turbin masih belum mampu menggerakkan generator
dikarenakan belum terjadinya pembakaran. Starting turbin uap memerlukan momen yang besar
karena berat dari turbin dan generator sehingga dipasang poros motor yang di pasang secara seri
dengan staring motor. Mula-mula starting device dioperasikan untuk menggerakkan turning gear
dalam putaran 30 RPM. Pada putaran tertentu, uap hasil pembakaran yang bertekanan, dapat
menggerakkan turbin. Jika hal itu tercapai, maka starting device dilepas dari poros turbin dan
generator[3].
Kapasitas daya terpasang sistem merupakan jumlah rating name plate semua unit pada sistem
tenaga. Kapasitas daya terpasang dibuat melebihi beban puncak sistem, kelebihan ini disebut
kapasitas cadangan. Kapasitas cadangan dipergunakan untuk mempertahankan keandalan sistem
pada setiap operasi dan untuk mengatasi beban yang besarnya melebihi yang diperkirakan.
Kapasitas cadangan yang besar akan menghasilkan keandalan sistem yang tinggi[4].
Secara umum keandalan dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu sisi kualitatif dan sisi
kuantitatif. Dimana perbedaan kedua sisi ini terletak pada parameter yang diinginkan.
Keandalan kualitatif adalah kemampuan pembangkit dalam melayani konsumen terhadap energi
yang dibangkitkan dalam periode waktu tertentu.keandalan kualitatif terdiri dari 2 faktor yaitu factor
ketersediaan dan factor kapasitas .
Faktor ketersediaan adalah perbandingan antara besarnya daya yang tersedia terhadap daya yang
terpasang dalam sistem.
Faktor ketersedia an=

Daya Tersedia
Dayaterpasang

(1)

Faktor ketersediaan menggambarkan kesiapan operasi unit-unit pembangkit dalam sistem.


Semakin tinggi faktor ketersediaan (100%) maka semakin baik keandalan unit pembangkit.
Faktor kapasitas menunjukkan besar sebuah unit pembangkit tersebut dimanfaatkan. Faktor
kapasitas tahunan (8760 jam) didefinisikan sebagai:
Faktor kapasitas=

Produksi energi dalam 1t h n


(2)
Daya mampu x 8760 jam

Faktor kapasitas adalah faktor kapasitas tahunan, menggambarkan pemanfaatan energi unit
pembangkit dalam satu tahun dari kemampuan produksi. Semakin tinggi faktor kapasitas maka
semakin baik keandalan unit pembangkit[5].
Keandalan kuantitatif merupakan metode analisa yang dilakukan secara perhitungan matematis.
Metode ini dapat dilakukan melalui perolehan data perawatan (maintenance record) terhadap waktu
kegagalan (time to failure) dan waktu perbaikan (time to repair) dari suatu komponen atau
sistem.Keandalan dari suatu komponen atau sistem adalah probabilitas untuk tidak mengalami
kegagalan atau dapat melaksanakan fungsinya selama periode waktu (t) atau lebih.
Pada tahap ini, data-data yang diperoleh akan diolah secara kuantitatif. Data yang digunakan
adalah data maintenance yang berupa data kegagalan dan perbaikan komponen-komponen unit
PLTU yang bisa didapatkan dari komputer database. Pengolahan data secara kuantitatif tersebut

menggunakan Software Weibull++6. Untuk menghitung keandalan suatu komponen langkah


pertama harus mengetahui model probabilitas kegagalan komponen tersebut yang dinyatakan
dengan distribusi statistic[6].
Distribusi weibull telah digunakan secara luas dalam teknik keandalan. Keuntungan dari
distribusi ini adalah bisa digunakan untuk merepresentasikan banyak PDF serta bisa digunakan
untuk variasi data yang luas.
Karasteristik distribusi weibull adalah:
a. Fungsi keandalan distribusi weibull ditunjukkan pada Persamaan (3).

{ ( )}

R ( t ) =exp

(3)

b. Laju kegagalan distribusi weibull ditunjukkan pada Persamaan (4).


( t )=

[ ]

(4)

c. Waktu rata-rata kegagalan distribusi weibull ditunjukkan pada Persamaan (5).

( 1 )

MTTF= + 1+

(5)

Jika distribusi waktu antar kegagalan suatu sistem mengikuti distribusi eksponensial maka:
a. Fungsi keandalan distribusi eksponensial ditunjukkan pada Persamaan (6).
(6)

R ( t ) =e(t)

b. Laju kegagalan distribusi eksponensial ditunjukkan pada Persamaan (7).


( t )= )

(7)

c. Waktu rata-rata kegagalan distribusi eksponensial ditunjukkan pada Persamaan (8).


1
MTTF= +
(8)

dimana:
R(t) : Fungsi keandalan terhadap waktu
( t ) : Laju kegagalan terhadap waktu
Sedangkan untuk Persamaan waktu rata-rata perbaikan untuk beberapa distribusi ditunjukkan
pada Persamaan (9-12) berikut:
a. Distribusi Weibull.

( 1 )

MTTR= + 1+

(9)

b. Distribusi Lognormal.
MTTR=exp ( +
c. Distribusi Normal.

2
)
2

(10)

MTTR=

(11)

d. Distribusi Eksponensial.
MTTR= +

(12)

Ketersediaan didefenisikan sebagai probabilitas bahwa sebuah komponen akan tersedia saat
dibutuhkan (dengan berbagai kombinasi aspek-aspek keandalannya, kemampuan perawatan dan
dukungan perawatan), atau proporsi dari total waktu bahwa sebuah komponen tersedia untuk
digunakan. Availability dari sebuah sistem dapat diekspresikan kedalam Persamaan (13) berikut:
Ai=

MTTF
MTTF+ MTTR

(13)

Secara practical, availability A(t) yang berubah terhadap waktu dapat dihitung menggunakan
Persamaan (14).
A ( t ) =1

[(

) (( )

)]

exp (( ) t )
+
+

(14)

dimana:
MTTF : Mean Time To Failure
MTTR : Mean Time To Repair

3. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada PLTU sektor pembangkitan belawan pada tanggal 02 Agustus 2013
di belawan pulau sicanang. Penelitian dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara kualitatif dan
kuantitatif, dimana secara kualitatif di hitung menggunakan data energi yang dihasilkan dengan daya
yang tersedia. Sedangkan secara kuantitatif dilakukan sesuai alur penelitian pada gambar 2.

Gambar 2 Diagram alur keandalan kuantitas

Adapun peralatan yang digunakan dalam memperoleh data adalah laptop, kalkulator Buku
petunjuk waktu kegagalan dan buku petunjuk PLN, Software Weibull++ dan Mic.Excel.

Adapun gambar pengolahan data pada software weibull++6 dapat ditunjukan oleh gambar 3.

Gambar 3 Tampilan hasil software weibul++


4. Hasil Perhitungan dan Analisis
Adapun perhitungan dan analisa data sebagai berikut :
1. Keandalan dari sisi kualitas :
1026452 MWh
x 100%
65 MW x 8760 jam
= 71, 44 %
45 MW
x 100
Faktor ketersediaan (U2)=
65 MW
= 69,23 %
Dari perhitungan data diatas terlihat bahwa untuk nilai keandalan pembangkit berdasarkan nilai
kapasitas faktornya didapat nilai sebesar 71,44%. Ini menandakan keandalan PLTU masih dalam
kondisi baik,dikarenakan standart untuk faktor kapasitas PLTU PLN yaitu sekitar 60 80%[5],
sedangkan faktor ketersediaannya yaitu sebesar 69,23 % .
Faktor kapasitas =

2. Keandalan sisi kuantitas


Berikut adalah grafik salah satu hasil analisa pada komponen PLTU yang diperoleh dari
Persamaan (12).

Grafik 5 dan 6 menjelaskan keandalan dan


ketersediaan
setiap
komponen-komponen
pendukung unit PLTU yang memiliki nilai
keandalan dan ketersedian yang berbeda. Ini bisa
dilihat dari grafik-grafik tersebut, bahwa nilai
keandalan setiap komponen semakin lama akan
semakin menurun hingga waktu operasional
tertentu mencapai nilai 0 %. Untuk nilai
ketersediaan setiap komponennya semakin lama
akan semakin naik, hal itu dikarenakan komponen
lebih siap untuk digunakan. Sebaliknya komponen
lain memilik nilai ketersediaan semakin menurun,
hal ini perlu dilakukan perawatan lebih untuk
komponen ini agar tingkat ketersediaan menjadi
baik.

Tabel 2. Hasil Analisis Keseluruhan Komponen


No Komponen

R (t)

Turning

0.07117

Exiter

0.08488

3
4
5
6
7
8
9

Control
0.08660
CP
Trans
1.08Evibrasi
15
Card
1.55EDS200
06
i/o modul
0.33398
level
Kondensat 1.21Epump
05
Solenoid 1.44Evalve
21
Presure
3.65Egauge
44

10

Thermo 1

0.05772

11

Thermo 2

0.00025

12

Igniter gun

5.04E16

13

FD fan

0.00444

A(i)
0.999904
5
0.999702
6
0.999910
7
0.991856
4
0.998229
6
0.999978
2
0.998531
4
0.973782
6
0.946040
7
0.999910
6
0.998848
6
0.993092
7
0.999958
7

Hasil pada Table 2 diatas untuk nilai keandalan tertinggi dalam pengoperasian selama 3 tahun
terakhir ( 26304 jam ) pada alat bantu komponen utama PLTU adalah i/o module level sebesar
0.33398, sedangkan keandalan terendah terdapat pada komponen pressure gauge sebessar 3.65E-44
mendekati nilai 0%. Sehingga perlu dilakukan penanganan khusus berupa perawatan ataupun juga
pergantian alat yang baru. Untuk nilai ketersediaan terbaik terapat pada komponen FD fan sebesar
0.9999587, hampir mendekati 100%.

3. Evaluasi keandalan kuantitatif dengan Preventive maintenance


Evaluasi keandalan dengan preventive maintenance reliability berupa perbandingan nilai
keandalan komponen sebelum dilakukan preventive maintenance dengan nilai keandalan setelah
dilakukan preventive maintenance, dengan acuan nilai keandalan sebesar 80% atau 0,80.
Nilai acuan tersebut berdasarkan rekomendasi Reliability Standard Power Plant. Hasil dari
perbandingan nilai tersebut dapat di plot dalam sebuah grafik hubungan antara nilai keandalan
dengan waktu operasional[1].
Tabel 3 Preventive Maintenance yang tepat
No
1
2
3
4

Komponen
Exciter
Turning device
Control card processor
Transducer vibrasi

t (jam)
4000
3250
4750
2500

5
6
7
8
9
10
11
12
13

Card ds200
i/o module
Kondensat pump
Solenoid valve
Preasure gauge
Termokopel 1
Termokopel 2
Igniter gun
FD fan

2500
3500
250
2500
3500
250
4500
2750
2750

Pada tabel 3 menunjukkan jadwal perawatan agar komponen dapat terjaga kehandalannya.
terlihat bahwa komponen yang harus ditangani untuk perawatan pencegahan yaitu komponen
kondensat pump dan termoopel 1.

5. Kesimpulan
Adapun hasil pembahasan dari penelitian ini adalah:
1. Dari hasil perhitungan didapat nilai keandalan PLTU Unit 2 ditinjau dari kapasitas faktor
yaitu sebesar 70,52 % ini menunjukkan bahwasanya PLTU unit 2 Belawan masih sangat
baik untuk memproduksi listrik . Karena standard faktor kapasitas PLTU PT.PLN selama 1
tahun umumnya kisaran 60 80 %.
2. Komponen dengan nilai Keandalan terendah selama 26304 jam adalah Pressure gauge
sebesar 3.64663E-44 (hampir mendekati 0%) sehingga diharuskan pergantian komponen
yang baru.
3. Dari perhitungan didapat komponen dengan nilai ketersediaan terbaik adalah Modul i/o
level sebesar 99.99782 % , dan terburuk adalah pressure gauge sebesar 94,60 %
4. Komponen yang paling cepat untuk dilakukan perawatan pencegahan yaitu komponen
kondensat pump dan termokopel 1 yang beroperasi selama 250 jam.

6. Referensi
[1]. Habibiansyah,rhivki,StudiReliability,Availa
bility dan Maintainability Pembangkit Listrik
Tenaga Gas Payo Silincah Jambi,Tugas akhir,USU,Medan,
2012.
[2].Anonim, Kerja Praktek Lapangan.USU,Medan, 2012.
[3].Djiteng Marsudi, Ir,Pembangkitan Energi
Listrik, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2005.
[4]. Djiteng Marsudi, Ir, Operasi SistemTenaga
Listrik, GRAHA ILMU,Yogyakarta.2006.
[5]. Gunawan Eko Prasetyo, STUDI,TENTANG
INDEKS KEANDALAN
PEMBANGKIT
TENAGA LISTRIK WILAYAH JAWA TENGAH DAN DAERAH
ISTIMEWA
YOGYAKARTA, Tugas Akhir, Undip, Semarang, 2007 .
[6]. Gunawan Eko Prasetyo, STUDI,TENTANG
INDEKS KEANDALAN
PEMBANGKIT
TENAGA LISTRIK WILAYAH JAWA TENGAH DAN DAERAH
ISTIMEWA
YOGYAKARTA, Tugas Akhir, Undip, Semarang, 2007 .

MAKALAH

PEMBANGKIT ENERGI LISTRIK


STUDI KEANDALAN DAN
KETERSEDIAAN PLTU UNIT 2 DI
PT.PLN(PERSERO) SEKTOR
PEMBANGKIT BELAWAN
D
I
S
U
S
U
N
OLEH

RENATHA APRIANNA MANULLANG


5132131016

PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIMED