Anda di halaman 1dari 29

1.

Tujuan Praktikum
- Mengidentifikasi dan Mengisolasi Senyawa Xanthon Dari Ekstrak Kulit
Buah Manggis
2. Dasar Teori
2.1

Deskripsi Buah Manggis


Manggis merupakan salah satu buah yang digemari oleh masyarakat

Indonesia. Tanaman manggis berasal dari hutan tropis yang teduh di kawasan Asia
Tenggara, yaitu hutan belantara Indonesia atau Malaysia. Dari Asia Tenggara,
tanaman ini menyebar ke daerah Amerika Tengah dan daerah tropis lainnya
seperti Filifina, Papua New Guinea, Kamboja, Thailand, Srilanka, Madagaskar,
Honduras, Brazil dan Australia Utara.
Manggis merupakan salah satu unggulan buah Indonesia yang memiliki
peluang ekspor cukup menjanjikan. Dari tahun ke tahun permintaan manggis
meningkat seiring dengan kebutuhan konsumen terhadap buah yang mendapat
jilukan ratu buah (Queen Of Fruits). Ekspor manggis dari Indonesia mangalami
peningkatan seiring dengan kebutuhan buah manggis dunia terutama Hongkong,
Singapura, dan Inggris. Pada tahun 1999, volume ekspor mencapai 4.743.493 kg
dengan nilai ekspor 3.887.816 US$ dan tahun 2000 volume ekspor mencapai
7.182.098 kg dengan nilai ekspor 5.885.038 US$ (Prihatman, 2000; ICUC, 2003).
Di Indonesia manggis dapat tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian
dibawah 1.000 mdpl. Pertumbuhan terbaik dicapai pada daerah dengan ketinggian
dibawah 500-600 mdpl. Pusat penanaman pohon manggis adalah Kalimantan
Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Barat (Jasinga, Ciamis, Wanayasa), Sumatera
Barat, Riau, Jawa Timur dan Sulawesi Utara (Prihatman, 2000; ICUC, 2003).
Buah manggis dapat disajikan dalam bentuk segar, sebagai buah kalengan,
dibuat sirup/sari buah. Secara tradisional buah manggis digunakan sebagai obat
sariawan, wasir dan luka. Kulit buah dimanfaatkan sebagai pewarna termasuk
untuk tekstil dan air rebusannya dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Batang
pohon dipakai sebagai bahan bangunan, kayu bakar/kerajinan (Prihatman, 2000).

2.2

Klasifikasi Buah Manggis


Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)

Sub Divisi : Angiospermae (Berbiji tertutup)


Kelas : Dicotyledoneae (Biji berkeping dua)
Ordo : Guttiferanales
Family : Guttiferae
Genus : Garcinia
Species : Garcinia mangostana L

2.3

Kajian Farmakologi Kulit Buah Manggis


Pemanfaatan kulit buah manggis sebenarnya sudah dilakukan sejak

dahulu. Kulit buah manggis secara tradisional digunakan pada berbagai


pengobatan di negara India, Myanmar, Srilangka, dan Thailand (Mahabusarakam
et al., 1987). Secara luas, masyarakat Thailand memanfaatkan kulit buah manggis
untuk pengobatan penyakit sariawan, disentri, cystitis, diare, gonorea, dan eksim
(ICUC, 2003).
Di era modern, pemanfaatan kuliat buah manggis secara luas di negara
tersebut memicu minat para ilmuwan untuk menyelidiki dan mengembangkan
lebih lanjut aspek ilmiah keberkhasiatan kulit buah manggis tersebut. Banyak
penelitian telah membuktikan khasiat kulit buah manggis, dan diantaranya bahkan
menemukan senyawa senyawa yang bertanggung jawab terhadap efek-efek
tersebut.
2.4

Kajian Manfaat Kulit Buah Manggis


Kulit manggis yang dahulu hanya dibuang saja ternyata menyimpan

sebuah harapan untuk dikembangkan sebagai kandidat obat. Kulit buah manggis
setelah diteliti ternyata mengandung beberapa senyawa dengan aktivitas
farmakologi misalnya antiinflamasi, antihistamin, pengobatan penyakit jantung,
antibakteri, antijamur bahkan untuk pengobatan atau terapi penyakit HIV.
Beberapa senyawa utama kandungan kulit buah manggis yang dilaporkan
bertanggungjawab atas beberapa aktivitas farmakologi adalah golongan xanton.
Senyawa xanton yang telah teridentifikasi, diantaranya adalah 1,3,6trihidroksi-7-metoksi-2,8-bis(3-metil-2-butenil)-9H-xanten-9-on

and

1,3,6,7-

tetrahidroksi-2,8-bis(3-metil-2-butenil)- 9Hxanten- 9-on. Keduanya lebih dikenal


dengan nama alfa mangostin dan gamma-mangostin (Jinsart, 1992). Ho et al
(2002) melaporkan senyawa xanton yang diisolasi dari kulit buah manggis,
ternyata juga menunjukkan aktivitas farmakologi yaitu garcinon E. Lebih lanjut,

Jung et al (2006) berhasil mengidentifikasi kandungan xanton dari ekstrak larut


dalam diklorometana, yaitu 2 xanton terprenilasi teroksigenasi dan 12 xanton
lainnya. Dua senyawa xanton terprenilasi teroksigenasi adalah 8-hidroksi
kudraksanton G, dan mangostingon [7-metoksi-2-(3-metil-2-butenil)-8-(3-metil-2okso-3-butenil)-1,3,6-trihidroksiksanton. Sedangkan kedua belas xanton lainnya
adalah : kudraksanton G, 8- deoksigartanin, garsimangoson B, garsinon D,
garsinon E, gartanin, 1-isomangostin, alfamangostin, gamma mangostin,
mangostinon, smeathxanthon A, dan tovofillin A.
3. Alat dan Bahan
3.1 Alat
Rotafavor vakum, maserator, kain flannel, gelas kimia, kertas saring, vial,
cawan uap, chamber, plat KLT, spektrofotometer, Erlenmeyer, gelas ukur, pipet
tetes, tabung reaksi, pipa kapiler
3.2 Bahan
Simplisia (kulit) dari buah manggis, pelarut n-heksana, aseton, silica gel
60, etil asetat, asam asetat, kloroform, air

4. Prosedur Peneletian
4.1 Skrining Fitokimia
4.1.1 Skrinning Senyawa Alkaloid
Simplisia + amonia encer (dalam mortir) + CHCl3 sambil digerus
Saring
Filtrat + HCl 2N
+ Mayer
Putih

+ Bouchardat
putih

kocok ,lapisan asam dipisahkan


+ Dragendorff
hitam / coklat

Blanko

4.1.2

Skrinning Senyawa Flavonoid


Simplisia + air (gerus)

panaskan
Saring
Filtrat

+ serbuk logam Zn/ Mg


+ HCl 5N
+ amil alkohol
Kocok kuat
Filtrat merah/kuning jingga tertaril oleh amil alkohol
4.1.3

Skrinning Senyawa Saponin


Simplisia + air (gerus)

tabung reaksi + air

Panaskan

dinginkan

kocok kuat 30 detik

Busa 1 cm + HCl bsa tidak hilang

4.1.4

Skrinning Senyawa Tanin dan Polifenol


Simplisia
Ekstraksi (gerus dalam mortir +air), panaskan di
penangas,
Saring
Filtrat
FeCl3
Warna biru hitam
Tanin&polifenol alam

Steasny

larutan gelatin1 %
putih
+ Tanin

warna biru tinta

Panaskan dipenangas

tanin galat,

dipisahkan
Warna merah muda tanin galat

jenuhkan filtrat

dengan Na asetat
4.1.5

Skrinning Senyawa Mono Dan Seskuiterpen


Simplisia
Disari dengan eter, uapkan hingga kering
Residu
+ vanilli + asam sulfat
Terbentuk warna-warna

4.1.6

Skrinning Seyawa Kuinon


Simplisia + air (gerus)

panaskan
Saring
Filtrat + NaOH (Kuning sampai merah)

4.1.7

Skrinning Senyawa Steroid dan Triterpenoid


Simplisia
Disari dengan eter, uapkan hingga kering
Residu

Ungu (+) triterpenoid


5. Metode Pemisahan
5.1 Ekstraksi Cair Padat (ECP)

hijau biru (+) steroid

stm ai mma s pbu laki hsk ik a an n1 0p 0e l ga r u t n mTMb ua aama ss nebe grra aah sski i a n
khTs iueammkl i sptp al buin snu aiga sh mp a ad p a a mi a s e r a t o r
spsm e all aas mrme u rata at s e t o n
mmy g aa snt ee grl aga thi s d i l a p i s i k a p a s
sp32n ia- mhhd aa pr r i i mi s ia as e t re a r t eo nr d a m
a s e to n

h ek san
5.2 Pemantauan Ekstrak (Hasil ECP)
- Identifikasi komponen xanton dengan KLT
Lempeng KLT
Diaktivasi dalam oven (1050 C 110 0C) selama 30 menit

Cairan pengelusi yang digunakan


Digunakan eluen dengan campuran kloroform : asam asetat ( 4:1)

Penjenuhan chamber
Eluen dimasukan dalam chamber
Potongan kertas saring dimasukan
dalam chamber yang berisi eluen

Jika kertas saring telah basah sampai pada garis


bagian atas, maka eluen siap digunakan

Pemisahan sampel pada lempeng

Buat garis lurus pada plat dengan pensil pada jarak 1cm
pada bagian bawah dan 0,5cm pada bagian atas
Totolkan sampel dengan pipa kapiler pada garis
bagian bawah dan masukan dalam chamber

Chamber ditutup dan lempeng dibiarkan


tersimpan dalam chamber

Deteksi noda dengan UV


Lempeng dikeluarkan dari chamber, anginanginkan sampai kering
Amati dibawah sinar UV

Deteksi noda dengan H2SO4 10%

Noda yang telah diamati disemprot Dengan H2SO4 10%


Angin- anginkan lempeng,panaskan pada
suhu 100 0C 3- 5 menit noda stabil

5.3 Ekstraksi Cair - Cair (ECC)

E
+
E
f
f
+
k
E
n
f
C
f
s
a
e
ta
C
d
s
e
s
ia
d
h
s
a
e
n
e
a
+
a
e
c
ia
s
a
c
k
a
o
a
h
s
e
o
s
g
e
e
a
o
g
a
e
p
a
k
tn
p
n
ts
a
o
a
o
a
n
n
n

C
a
s C
a
t
r
e a
l
k
a
tm
m
o
l
s
on
s
tn
t
t
ti
hi
h

l
l
r
r
s
s

5.4 Pemantauan Ekstrak (Hasil ECC)


si apkan lem pe ng KLT

p lat K LT d i ma sukan p ada c ha mbe r am ati j ara k be rca k dan hitu ng RF nya

pla t ya ng uda h di akt ifasi di totol kan f raksi N -he xa n

ma suka n e l ue n

5.5 Kromatografi Kolom

MT a I mTs a i asp kmu ok nb lok ga a hm fn kr ad kn e s n ei glua en n b mu b u u lar i s dilika r ia


e dk p es ( ontrf laag sakr e nitap d w asiada pmad a )linh s e g c ar er an md a p h e rs laa m h ap n a i
k o (lov iam l) sp a mlinp ga i p r o a lata r
5.6 Pemantauan Ekstrak (Hasil KK)
- Identifikasi komponen xanton dengan KLT
Lempeng KLT
Diaktivkan dalam oven (1050 C 110 0C) selama 30 menit

Cairan pengelusi yang digunakan


Digunakan eluen dengan campuran kloroform : asam asetat ( 4:1)

Penjenuhan chamber
Eluen dimasukan dalam chamber
Potongan kertas saring dimasukan
dalam chamber yang berisi eluen

Jika kertas saring telah basah sampai pada garis


bagian atas, maka eluen siap digunakan

Pemisahan sampel pada lempeng

Buat garis lurus pada plat dengan pensil pada jarak 1cm
pada bagian bawah dan 0,5cm pada bagian atas
Totolkan sampel dengan pipa kapiler pada garis
bagian bawah dan masukan dalam chamber

Chamber ditutup dan lempeng dibiarkan


tersimpan dalam chamber

Deteksi noda dengan UV


Lempeng dikeluarkan dari chamber, anginanginkan sampai kering

Deteksi noda dengan


H2dibawah
SO4 10%
Amati
sinar UV

Noda yang telah diamati disemprot Dengan H2SO4 10%


Angin- anginkan lempeng,panaskan pada
suhu 100 0C 3- 5 menit noda stabil

5.7 Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)


Dibuat bubur silika
Tuang campran silika diatas kaca ratakan
dengan batang pengaduk keringkan
Penotolan dilakukan pada daerah bawah papan
kromatrografi yang telah diberi garis
Masukan plat kromatrografi pada chamber yang
telah dijenuhkan
Lakukan elusi dengan pelarut kloroform dan etil asetat
3:7 hentikan elusi bila pelarut telah mencapai batas
Plat kromatografi diangkat dikeeringkan dengan
semprotan udara panas ulangi elusi sampai
memperoleh pemisahan yang baik dan amati noda
dibawah sinar UV
Kerok lapisan pada daerah yang bertanda,
hasil kerokan dikumpulkan

Masukan dalam Erlenmeyer dan ditambah pelarut aduk


sampai homogen
Filtrate dikumpulkan
Upkan sampai terbentuk kristal
Lakukan pemurnian dengan sublimasi

5.7 Uji Kemurnian

6. Hasil Pengamatan dan Perhitungan


6.1 Skrining Fitokimia
Golongan senyawa

Hasil

Alkaloid

(+) endapan putih

Flavonoid

(-)

Saponin

(+) busa tidak hilang

Tanin dan Polifenol

(+) warna biru tinta

Mono dan seskuiterpen

(-)

Kuinon

(+) kuning merah

Steroid dan triterpenoid

(-)

6.2 Ekstraksi Cair Padat (ECP)


Berat simplisia
Volume ekstrak
Berat ekstrak kental
Rendemen
Berat piknometer kosong
Berat piknometer + air
Volume piknometer
Berat air
Kerapatan air
Berat piknometer + ekstrak
Berat ekstrak
Kerapatan ekstrak
Bobot jenis ekstrak
Berat cawan kosong
Berat cawan + ekstrak
-

Perhitungan
Bobot ekstrak = (bobot ekstrak kental + cawan) bobot cawan kosong
= 52,48 48,0832 = 4,3978 g
bobot ekstrak ( g)
Rendemen = bobot simplisia x 100 %
=

: 100 g
: 350 ml
: 4,3978 g
: 4,3978 %
: 12,5522 g
: 23,0707 g
: 10 ml
: 10,5187 g
: 1 g/ml
: 16,5024 g
: 3,9504 g
: 0,375 g
: 0,374 g
: 48,0832 g
: 52,481

4,3978 g
100 g

x 100 %

= 4,3978 %
Bobot air = (bobot piknometer + air) bobot piknometer kosong
= 23,0707 12,552 = 10,5187 g

bobot air
air

Volume air =

10,5187 g
0,997

=
-

= 10,550 ml

Bobot jenis air =

bobot air
v air

10,5187 g
10,550 ml

Kerapatan air =

= 0,997 g/ml

bobot jenis air


air

0,997
= 0,997

= 1 g/ml

Bobot ekstrak = (bobot piknometer + ekstrak) bobot piknometer kosong

= 16,5024 12,552 = 3,9504 g


bobot ekstrak
Bobot jenis ekstrak =
v air
3,9504 g
= 10,550 ml

bobot jenis ekstrak


air

Kerapatan ekstrak = =
0,374
= 0,997

= 0,375 g/ml

6.3 Pemantauan Ekstrak (Hasil ECP)

Jarak rambat fase gerak


Jarak bercak
Perhitungan

= 0,374 g/ml

= 6,5 cm
= 3,6 cm

Rf =
=

jarak rambat bercak


jarak rambat fase gerak
3 ,5
6 ,5

= 0,55 cm
6.4

Ekstraksi Cair - Cair (ECC)


Berat ekstrak
: 23,2460 g
Berat fraksi n-heksan
: 1,67 g
Berat fraksi etil asetat
: 4,58 g
Berat fraksi air
: 27,71 g
Rendeman fraksi n-heksan
: 7,184 %
Rendeman fraksi etil asetat
: 19,7 %
Rendeman fraksi air
: 119,2 %
6.4.1 Perhitungan
- Berat cawan kosong
: 36,6585 g
- Berat ekstrak + ekstrak
: 59,9045 g
- Berat ekstrak = (berat cawan + ekstrak) berat cawan kosong
= 59,9045 g - 36,6585 g
= 23,2460 g
- Berat cawan kosong
: 26,45 g
- Berat ekstrak + ekstrak
: 28,12 g
- Berat fraksi n-heksan = (berat cawan + ekstrak) berat cawan kosong
= 28,12 g - 26,45 g
= 1,67 g
- Berat cawan kosong
: 41,61 g
- Berat ekstrak + ekstrak
: 46,19 g
- Berat fraksi etil asetat = (berat cawan + ekstrak) berat cawan kosong
= 46,19 g - 41,61 g
= 4,58 g
- Berat cawan kosong
: 32,63 g
- Berat ekstrak + ekstrak
: 60,34 g
- Berat fraksi air = (berat cawan + ekstrak) berat cawan kosong
= 60,34 g - 32,63 g
= 27,71 g
bobot ekstrak kental
- Rendeman fraksi n-heksan =
x 100%
bobot simplisia
1,67 g
= 23,2460 g
= 7,184 %

x 100%

bobot ekstrak kental


bobot simplisia

Rendeman fraksi etil asetat =

4,58 g
= 23,2460 g

x 100%

x 100%

= 19,7 %
-

Rendeman fraksi air =

bobot ekstrak kental


bobot simplisia

27,71 g
= 23,2460 g

x 100%

x 100%

= 119,2 %
6.5 Pemantauan Ekstrak (Hasil ECC)

Pada panjang gelombang 254 nm


N
o
1
2
3
4
5

Eluen
Klorofom : as,asetat
Kloroform : as,asetat
Kloroform : as,asetat
Kloroform : as,asetat
Kloroform : as,asetat

Pada panjang gelombang 365 nm

Perbandingan volume
4:1
4:1
4:1
4:1
4:1

Rf
Rf1 = 0,9
Rf2= 0,8
0,9
0,8
0
0

6.5.1
-

Perhitungan
Fraksi 1 (air)
Jarak rambat fase gerak = 6,5 cm
Jarak rambat bercak 1 = 5,2 cm
Jarak rambat bercak 1 = 2,4 cm
5,2cm
0,8 cm
Rf1 = 6,5 cm
Rf2 =

2,4 cm
6,5 cm

0,4 cm

Fraksi 2 (n-heksan)
Jarak rambat bercak = 5,3 cm
Jarak rambat fase gerak = 6,5 cm
5,3 cm
0,815 cm
Rf = 6,5 cm

Fraksi 3 (etil asetat)


Jarak rambat bercak = 4,6 cm
Jarak rambat fase gerak = 6,5 cm
4,6 cm
0,8 cm
Rf = 6,5 cm

6.6.

Kromatografi Kolom (KK)

Perbandingan eluen yang digunakan :

Kloroform : asam asetat 6 : 1


Kloroform : asam asetat 5 : 1
Kloroform : asam asetat 4 : 1
Kloroform : asam asetat 4 : 2

Kloroform : asam asetat 1 : 4

6.5.1

Pemantauan Ekstrak (Hasil KK)

Fraks 1 (pada 254


nm)
Kloroform - as.asetat

Fraks 1 (pada 365


nm)
Kloroform - as.asetat

Fraks 3 (pada 254


nm)
Kloroform - as.asetat

Fraks 3 (pada 365


nm)
Kloroform - as.asetat

Fraksi 5 (pada 254


nm)
Kloroform - as.asetat

Kloroform : asam asetat 6 : 1


Jarak bercak = 6,4 dan 5,8
Jarak fase gerak = 6,5

Fraks 2 (pada 254


nm)
Kloroform - as.asetat

Fraks 4 (pada 254


nm)
Kloroform - as.asetat

Fraks 2( pada 365


nm)
Kloroform - as.asetat

Fraks 4( pada 365


nm)
Kloroform - as.asetat

Fraksi 5(pada 365


nm)
Kloroform - as.asetat

Rf1 =

6,4 cm
6,5 cm

0,98 cm

Rf2 =

5,8 cm
6,5 cm

0,89 cm

Kloroform : asam asetat 5 : 1


Jarak bercak = 6
Jarak fase gerak = 6,5
6 cm
0,92 cm
Rf = 6,5 cm

Kloroform : asam asetat 4 : 1


Jarak bercak = 5,8
Jarak fase gerak = 6,5
5,8 cm
0,89 cm
Rf = 6,5 cm

Kloroform : asam asetat 4 : 2


Jarak bercak = 0
Jarak fase gerak = 6,5
0 cm
0 cm
Rf = 6,5 cm

Kloroform : asam asetat 1 : 4


Jarak bercak = 0
Jarak fase gerak = 6,5
0 cm
0 cm
Rf = 6,5 cm

- Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)


Eluen yang digunakan = kloroform : asam asetat 4 : 1
Pita yang dihasilkan adalah pita dengan warna kuning pucat
- Perhitungan
Jarak bercak = 2,5
Jarak fase gerak = 8,5
2,5
0,3
Rf = 8,5

6.6 Uji kemurnian

Proses penjenuhan Chamber


(4:1 )

Proses elusi dengan


eluen kedua
kloroform-as.
(3:2)
7 Asetat
Pembahasan

Proses elusi dengan eluen


pertama kloroform-as. Asetat
(4:1)

Pengamatan pd
sianar UV 254 nm

Pengamatan pd
sianar UV 365 nm

7.1 Skrining Fitokimia


Skrinning fitokimia dilakukan untuk memberikan gambaran untuk
golongan senyawa yang terkandung dalam ekstrak kulit buah manggis. Hasil uji
skrinning fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah manggis mengandung
golongan alkaloid, polifenolat, saponin, dan kuinon.
Alkaloid mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistem sikliknya serta
mengandung substituen yang bervariasi seperti gugus amina, amida, fenol,
metoksi sehingga alkaloid berfifat semi polar. Dalam pengujian skrinning
fitokimia, prinsip yang digunakan pada uji alkaloid yaitu reaksi pengendapan
yang terjadi karena adanya penggantian ligan. Atom nitrogen yang mempunyai
pasangan elektron bebas pada alkaloid dapat mengganti ion iod dalam pereaksi
Dragendorf dan Mayer. Hal inilah yang menyebabkan terbentuknya endapan
kuning pada penambahan pereaksi Mayer pada parutan uji ekstrak kulit buah
manggis. Pada pengujian ditambahkan HCl sebelum ditambahkan pereaksi karena
alkaloid bersifat basa sehingga ekstrak dan pelarut mengandung asam.

Saponin memiliki gugus nonpolar berupa gugus steroid dan triterpenoid


akan tetapi lebih cenderung bersifat polar, karena ikatan glikosidanya. Saponin
mengandung gugus glikosil yang berperan sebagai gugus polar serta gugus steroid
dan triterpenoid yang berfungsi sebagai gugus nonpolar. Senyawa yang memiliki
gugus polar dan nonpolar akan bersifat aktif permukaan sehingga saat dikocok
dengan air saponin akan terbentuk seperti misel, dimana struktu polar akan
menghadap keluar sedangkan gugus nonpolar akan menghadap kedalam. Pada
kondisi inilah saponin akan membentuk busa.
Flavonoid dan tanin merupakan senyawa polifenol yang memiliki
sejumlah gugus hidroksi sehingga cenderung bersifat polar. Glikosida tersusun
dari bagian glikon dan aglikon dengan meliputi senyawa-senyawa alkoholik,
fenolik, isotiosianat, flavonoidsteroid sehingga senyawa ini bersifat polar. Pada
pengujian tanin, dilakukan dengan penambahan FeCL3. Pada golongan ini tanin
terhidrolisis akan menghasilkan warna biru kehitaman dan tanin terkondensasi
akan memberikan hijau kehitaman. Perubahan warna ini terjadi ketika
penambahan FeCl3 yeng bereaksi dengan salah satu gugus hidroksil yang ada pada
senyawa tanin.
Triterpenoid merupakan senyawa yang tersusun dari rantar panjang
hidrokarbon C30 yang mengakibatkan senyawa ini bersifat nonpolar. Senyawa
triterpenoid yang berstruktur siklik berupa alkohol, aldehid, atau asam karboksilat
dengan gugus OH mengakibatkan senyawa ini bersifat semipolar. Pada
pengujian steroid dan triterpenoid, analisis senyawa tersebut membentuk warmna,
H2SO4 pekat dalam pelarut anhidrin asam asetat. Hasil yang diperoleh
memberikan hasil negatif, tidak tebentuknya cincin berwarna biru kehijauan yang
menunjukkan kandungan triterpenoid. Pada pengujian kuinon, ekstrak kulit
manggis memberikan hasil yang positif.
1. Ekstraksi Cair Padat (ECP)
Pada praktikum kali ini dilakukan ekstraksi cair padat pada simlpisia kulit
buah manggis dengan menggunakan pelarut n-heksan dana seton. Penggunaan nheksan untuk menarik senyawa yang bersifat non polar. Sedangkan aseton sebagai
pelarut dikarenakan xanton bersifat polar sehingga untuk menarik xanton harus

dengan menggunakan pelarut yang polar juga. Simplisia yang telah dihaluskan
dimaserasi dengan n-heksan selama 1x24 jam, kemudian dengan aseton selama
2x24 jam.
Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi, hal ini dikarenakan senyawa
xanton tidak tahan pemanasan maka dipilih maserasi yang merupakan cara dingin.
Keuntungan lainnya adalah pelarut yang digunakan cukup sedikit sehingga cukup
ekonomis.
Mekanisme yang terjadi dalam ekstraksi maserasi adalah dimana cairan
pelarut akan masuk kedalam sel simplisia dengan melewati dinding sel. Isi sel
akan melarut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan didalam sel
dengan diluar sel. Larutan dengan konsentrasi paling tinggi akan terdesak keluar
dan diganti oleh cairan pelarut dengan konsentrasi yang sama pada saat didalam
dan diluar sel.
Ekstrak cair yang diperoleh dipekatkan dengan menggunakan rotary
evavorator. Kemudian ekstrak ditimbang dan dilakukan perhitungan untuk
memperoleh berat jenis ekstrak dan kerapatan dari ekstrak.
2. Pemantauan Ekstrak (Hasil ECP)
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui pemantauan ekstrak kulit
buah manggis dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis. Pertama
plat atau lempeng dioven selama 30 menit. Setelah itu dibuat cairan pengelusi
menggunakan kloroform : asam asetat dengan perbandingan 4 : 1 kemudian
dilakukan penjenuhan chamber yang berisi eluen yang akan digunakan kemudian
dimasukan dalam chamber.
Selanjutnya pada lempeng atau plat dibuat garis lurus dengan jarak 1 cm
pada bagian bawah dan 0,5 pada bagian atas. Dengan menggunakan pipa kapiler
totolkan garis secara tegak lurus dan dimasukan dalam chamber dan chamber
ditutup. Setelah eluen sampai pada bagian atas garis ,lempeng atau plat
dikeluarkan dan diangin anginkan untuk selanjutnya diamati dibawah sinar UV.
Noda yang telah diamati dengan UV kemudian disemprot dengan H2SO4 10%.
3. Ekstraksi Cair - Cair (ECC)

Pada praktikum kali ini dilakukan ekstraksi cair-cair (ECC) terhadap


ekstrak kulit buah manggis. ECC ini dilakukan utnuk memisahkan senyawa
berdasarkan tingkat kepolarannya. ECC ini menggunakan pelarut yang berbeda
kepolarannya, diantaranya aseton (agak polar), etil asetat (fase semi polar) dan nheksan (fase non polar).
ECC ini didasarkan pada hokum Nerst, dimana jika suatu larutan
mengandung zat organic A dibiarkan bersentuhan dengan pelarut organic yang
tidak bercampur dengan yang lain, maka zat A akan terdistribusi baik kedalam
lapisan air dan lapisan organik.
Ekstrak diekstraksi terlebih dahulu dengan menggunakan aseton kemudian
ditambahkan n-heksan. Didalam corong pisah senyawa digojok dengan kuat
secara searah, supaya senyawa terpartisi sempurna dalam pelarutnya. Setelah
didiamkan beberapa saat maka akan terbentuk dua lapisan yakni aseton pada
lapisan bawah dan n-heksan pada lapisan atas. Posisi ini dikarenakan berat jenis
aseton lebih besar yaitu 0,79 dibandingkan dengan berat jenis n-heksan yang
hanya 0,67.
Setelah fase n-heksan dipisahkan, maka pada fase aseton ditambahkan etil
asetat. Kembali dilakukan penggojokan untuk memperluas bidang kontak antara
antara kedua pelarut, sehingga distribusi molekul-molekul ekstrak yang terlarut
menjadi lebih mudah terjadi. Kemudian senyawa yang diekstrakjsi menjadi lebih
banyak dikarenakan pelarut banyak berikatan dengan ekstrak. Fase etil asetat akan
berada pada lapisan atas karena perbedaan berat jenis.
Pada ECC ini terjadi distribusi molekul dari senyawa pada pelarut, dimana
pada saat kesetimbangan terjadi perbandingan konsentrasi senyawa didalam kedua
fasa tersebut akan sama pada temperatur tetap. Kesempurnaan ECC ini
bergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan. Jika semakin sering
dilakukan maka semakin banyak zat terlarut yang terdistribusi pada salah satu
pelarut dan akan semakin sempurna proses pemisahannya.
Fraksi yang diperoleh memiliki degradasi warna yang berbeda. Pada fraksi
n-heksan memiliki degradasi warna yang lebih tajam dibanding dengan fraksi etil
asetat dan fraksi aseton. Hal ini dikarenakan semakin sering dilakukan ECC maka

degradasi warna yang dihasilkan akan semakin kurang tajam akibat senyawa yang
tersktraksi semakin sedikit.
4. Pemantauan Ekstrak (Hasil ECC)
Pada praktikum kali ini dilakukan pemantauan ekstrak dengan cara KLT
pada hasil ECC. Tujuan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui apakah
senyawa xanton benar pada ekstrak yang telah di ECC. Plat KLT terlebih dahulu
diaktivasi dengan cara di oven kurang lebih selama 30 menit. Tujuan dari aktivasi
ini adalah untuk menghilangkan kadar air. Karena dengan adanya air akan
menutup sisi aktif dari silica sehingga akan mengganggu proses KLT.
Fase gerak yang digunakan merupakan campuran dari kloroform dan
asama setat (4 : 1). Tujaun dari pencampuran ini adalah supaya dihasilkan elusi
yang lebih baik dan pelarut lebih mudah diatur. Ekstrak ditotolkan menggunakan
pipa kapiler dengan volume yang sedikt dan sama. Jika ekstrak diyotolkan dengan
ukuean cukup besar maka akan menurunkan resolusi sehingga bercak yang
dihasilkan tidak akan tunggal melainkan ganda bahkan lebih. Plat kemudian
dimasukan kedalam chamber dan dibiarkan terelusi.
Jarak yang ditempuh oleh suatu senyawa dipengaruhi oleh kelarutan
senyawa dalam pelarut serta kemampuan senyawa tersebut untuk terperangkap
dalam fase diam (penjerapan). Penjerapan merupakan pembentukan suatu ikatan
dari suatu substansi pada permukaan. Penjerapan bersifat tidak permanen yang
ditandai dengan adanya pergerakan yang bersifat tetap dari molekul antara bagian
senyawa yang terjerap pada permukaan silica gel dan bagian senyawa yang
kembali pada larutan dalam pelarut.
Plat selanjutnya diidentifikasi dengan menggunakan sinar UV 254 dan 365
nm. Pada sinar UV 254 nm lempeng akan berfluoresensi sedangkan sampel akan
tampak berwarna gelap. Penampakan noda pada lampu 254 nm adalah karena
adanya daya interaksi antara sinar UV dengan indicator fluoresensi, seperti timah
cadmium sulfide yang terdapat pada lempeng. Fluoresensi cahaya yang tampak
merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh indicator tersebut ketika electron
yang tereksitasi dari tingkat energy dasar ke tingkat energy yang lebih tinggi
kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energy.

Pada sinar UV 365 nm noda akan berfluoresensi dan lempeng akan


berwarna gelap. Penampakan noda ini karena adanya daya interkasi antara sinar
UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh ausokrom yang ada pada noda.
Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarkan oleh
komponen tersebut ketika electron yang terksitasi dari tingkat energy dasar ke
tingkat energy yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil
melepaskan energy.
Noda disemprot dengan menggunakan H2SO4 10%. Prinsipnya dalah
kemampuan asam sulfat yang bersifat reduktor dalam merusak gugus kromofor
dari zat aktif ekstrak, sehingga panjang gelombangnya akan bergeser ke arah
yang lebih panjang (dari UV menjadi Vis) sehingga noda menjadi tampak oleh
mata. Dalam hal ini pada fraksi n-heksan dan etil asetat bercak nampak terlihat,
sementara pada fraksi air bercak tidak terlihat.
5. Kromatografi Kolom (KK)
Pada pemisahan ekstrak dengan kromatografi kolom, diperoleh 5 fraksi
dengan menggunakan eluen kloroform-asetat dengan perbandingan yang berbedabeda berdasarkan tingkat kepolarannya mulai dari yang kepolarannya rendah
hingga tinggi. Kelima fraksi tersebut diperoleh dari pita-pita yang terbentuk pada
kromatografi kolom. Proses pemisahan senyawa senyawa sampai diperoleh fraksifraksi disebut dengan fraksinasi. Fraksinasi tersebut dilakukan untuk memisahkan
senyawa-senyawa metabolit sekunder lainnya berdasarkan tingkat kepolarannya,
dan untuk memisahkan senyawa xanton dari senyawa meatbolit sekunder lainnya.
Untuk mengetahui fraksi yang mengandung senyawa xanton, masingmasing fraksi tersebut harus dilakukan pemantauan ekstrak dengan cara dijuji
lebih lanjut dengan menggunakan KLT untuk mendapatkan senyawa yang lebih
spesifik lagi dalam artian senyawanya sudah dipisahkan dari campuran senyawa
metabolit sekunder lainnya.
6. Pemantauan Ekstrak (Hasil KK)
Pada

praktikum

pemantauan

ekstrak

dari

fraksi-fraksi

dengan

perbandingan beberapa pekarut. Perbandingan dibuat yaitu, kloroform : asam

asetat 6:1, 5:1, 4:1, 4:2 dan 1:4, dengan menggunakan kr air pada plat KLT,
supaya proses kromatografi lapis tipis (KLT).
Kromatografi lapis tipis merupakan metode pemisahan kimia dengan
adsorb pada lapisan adsorben. Prinsip kerja KLT adalah partisi dan adsorbsi
dimana aleum sebagai fase gerak, dan lempeng sebagai fase diam. Fase gerak
yang digunakan eluen yang terdiri dari kloroform dan asam asetat, dan fase diam
yang digunakan adalah lempeng KLT. Terlebih dahulu plat KLT harus diaktivasi
dengan tujuan untuk menghilangkan kadar adsorbsi berjalan sempurna. Chamber
yang digunakan harus dijenuhkan terlebih dahulu agar konsentrasi eluen dengan
konsentrasi di chamber sama.
Proses KLT dilakukan dengan cara menotolkan larutan, dalam hal ini
ekstrak kental pada plat KLT pada jarak 0,5-1 cm dari bagian bawah plat KLT,
selanjutnya bagian bawah plat KLT dicelupkan dalam larutan fase gerak. Setelah
itu dilakukan penyinaran UV 254 nm dan 365 nm. Dan setelah lempeng disinari
UV 254 nm dan 365 nm, kemudian lempeng tersebut disemprot dengan dengan
H2SO4 10 % untuk mendeteksi apakah pada penampak bercak yang terdapat pada
plat KLT.
Dari data hasil pengamatan, yang memberikan hasil penampak bercak
yaitu terdapat pada fraksi yang pertama, pada fraksi ini terdapat dua bercak
dengan nilai rf yang telah dihitung yang pertama 0,98 cm, yang kedua 0,89 cm.
Sedangkan pada fraksi yang kedua , dengan perbandingan pelarut 5:1 dengan nilai
rf yang telah dihitung yaitu 0,92 cm, dan perbandingan 4:1 nilai rf 1 cm,
sedangkan pebandingan 4:2 dan 1:4 tidak terdapat bercak.
7. Kromtografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)
Pada praktikum kali ini dilakukan Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
(KLTP) terhadap esktrak yang telah dikromatografi kolom. KLTP merupakan
proses isolasi yang terjadi berdasarkan perbedaan daya serap dan daya partisi serta
kelarutan komponen yang betgerak mengikuti kepolaran eluen oleh karena daya
serap adsorben terhadap komponen kimia tidak sama, maka komponen bergerak
dengan kecepatan yang berbeda.
Fase diam yang digunakan adalah plat KLT dimana didalamnya
mengandung silica gel. Permukaan silica gel terdiri atas gugus SiO-Si dan gugus

silanol (Si-OH). Gugus silanol ini bersifat sedikit asam dan polar, karenanya
gugus ini mampu membentuk ikatan hydrogen dengan solute-solut yang agak
polar sampai sangat polar. Plat KLT harus diinaktifkan terlebih dahulu dengan
cara di oven. Tujuan dari pengaktifan ini adalah untuk menghilangkan kadar air,
karena dengan adanya air akan menutup sisi aktif silica gel sehingga
mendeaktifkan permukaan silica gel akibat adanya penyerapan. Fase gerak yang
digunakan merupakan campuran dari kloroform dan asam asetat (4:1).
Penggunaan campuran dua pelarut organic ini adalah karena daya elusi dari
campuran kedua pelarut dapat terbentuk pemisahan yang optimal, karena
perbandingannya dapat diatur.
Sampel ditotolkan dengan menggunakan pipa kapiler yang dibuat bergaris.
Penotolan sampel ini harus setipis mungkin dan ukurannya harus sama supaya
nantinya pita yang terbentuk mudah untuk dikerok. Sampel kemudian dibiarkan
terelusi dalam chamber yang telah berisi eluen didalamnya. Tinggi fase gerak
dalam chamber harus dibawah lempeng yang telah ditotolkan sampel. Teknik
pengembangan yang dilakukan adalah ascending (pengembangan menaik).
Setelah sampel terlusi dan mencapai batas garis yang ditentukan, plat diangkat
dan diamati secara visual. Untuk meyakinkan pita mana yang dikerok, plat
diamati pada sinar UV 254 nm dan 365 nm.
Pita yang dianggap sebagai senyawa xanton dikerok dengan menggunakan
benda tajam. Pita dari senyawa xanton adalah pita yang berwarna kuning pucat.
Hasil kerokan kemudian dilarutkan dalam aseton. Pita yang terbentuk terdiri dari
beberapa pita, namun hanya satu yang memiliki warna kuning pucat. Pita yang
terbentuk mencerminakn jarak yang ditempuh oleh senyawa. Jarak yang ditempuh
oleh senyawa ini dipengaruhi oleh kelarutan senyawa dalam pelarut, serta
kemampuan

senyawa

tersebut

untuk

terperangkap

didalam

fase

diam

(penjerapan). Penjerapan bersifat tidak permanen yang ditandai dengan adanya


pergerakan yang bersifat tetap dari molekul antara bagian senyawa yang terjerap
pada permukaan silica gel dan bagian senyawa yang kembali pada larutan dalam
pelarut.
Mekanisme pemisahan pada KLTP disebut sebagai mekanisme adsorpsi.
Dimana adsorpsi merupakan penyerapan yang hanya dilakukan pada permukaan

saja, tidak menembus pada sel senyawa. Adsorpsi pada permukaan melibatkan
interaksi-interaksi elektrostatik seperti ikatan hydrogen, penarikan dipole-dipol,
dan penarikan yang diinduksi oleh dipole. Dalam hal ini solute akan bersaing
dengan fase gerak untuk berikatan dengan sisi-sisi polar pada permukaan
adsorben.
8. Uji Kemurnian
Pada praktikum kali ini yaitu uji kemurnian ekstrak. Uji kemurnian ini
dilakukan dengan menggunakan KLT 2 dimensi. Dimana prinsip KLT 2 dimensi
ini adalah proses adsorpsi dengan plat silika gel 254 sebagai fase diamnya dan
dengan beberapa perbandingan eluen dengan tingkat kepolaran tertentu sebagai
fase geraknya.
Proses KLT dua dimens dilakukan pada ekstrak yang sebelumnya sudah
diuji dengan KLT preparatif. Ekstrak tersebut harus diisolasi terlebih dahulu dari
silika gel dengan pelarut aseton untuk memisahkan senyawa target yaitu xanton.
Pelarut aseton digunakan karena senyawa xanton ini larut dalam aseton. Setelah
diisolasi ekstrak tersebut dianalisis dengan spekrtofotometri UV dengan mencari
panjang gelombang maksimum beserta absorbansinya. Setelah didapat panjang
gelombang maksimumnya ekstrak selanjutnya diuji kemurniannya dengan KLT
dua dimensi.
Selanjuntya setelah kita melakukan pengujian kemurnian dengan KLT dua
dimensi. Kita melakukan pemisahan dengan KLT 3 kali pengembangan. Dengan
cara sampel ( berupa silika gel hasil kerokan ) di totolkan pada plat KLT
kemudian setelah itu di elusi dengan eluen yang kepolaranya rendah setelah itu
plat KLT dikeluarkan dari chamber dan eluen dibiarkan menguap. Setelah itu plat
dielusi kembali dengan eluen kedua dengan eluen yang kepolaranya lebih polar
dibanding eluen yang pertama . hasil dari perlakuan tersebut selanjunta di lakukan
uji kemurnian dengan cara hasil pengembangan dengan ketiga sistem eluen hanya
di peroleh satu saja. Dan isolat murni selanjutnya di identifikasi dengan
spektrofotometri UV-VIS atau dengan NMR ,IR.