Anda di halaman 1dari 37

RADIOACTIVE DECAY

Law and Energy of Radioactive


Decay
Peluruhan radioaktif mengikuti hukum statistik
Jika ada sejumlah atom2 radioaktif yang cukup
banyak yang dapat diamati dalam waktu yang cukup
lama, maka persamaan laju peluruhan radioaktif
mengikuti:

dN

N
dt

Dimana N = jumlah atom radionuklida, -dN/dt laju


peluruhan atau disintegrasi dan adalah konstanta
laju peluruhan (satuan s-1)

Persamaan laju diatas mewakili kinetika dari reaksi:


A B + x + E
A = nuklida radioaktif mother, B nuklida daughter, x
partikel yang diemisikan dan E energi yang dilepaskan
oleh proses peluruhan juga dinamakan nilai Q
Reaksi diatas merupakan reaksi orde satu dimana terjadi
reaksi mononuclear
Peluruhan radioaktif hanya dimungkinkan jika E > 0,
dimana nilai E dapat dihitung dengan membandingkan
massa sesuai persamaan yang dirumuskan oleh
Einstein
E = Mc2 = [MA (MB + Mx)]c2
Dengan menghitung E dapat ditentukan apakah
peluruhan dimungkinkan atau tidak

Meskipun telah menghitung E, proses


peluruhan masih tergantung pada faktor lain
yaitu dengan mengetahui energi barrier
Energetika peluruhan radioaktif digambarkan
pada 4.1.
Energi nuklida mother dengan produk reaksi
mononuclear berbeda sebesar E
Tetapi nuklida A harus melampaui energi barrier
sebesar Es
Nuklida bisa jadi menempati tingkat energi
diskrit, namun hanya jika energi eksitasinya
cukup tinggi proses peluruhan dapat terjadi

Energi Barrier Proses Peluruhan

Persamaan 4.1. analog dengan persamaan kinetika


reaksi orde satu
Keadaan tereksitasi dipuncak energi barrier serupa
dengan kompleks teraktivasi dan Es serupa dengan
energi aktivasi
Integrasi persamaan 4.1 memberikan
N = N0e-t
Dimana N0 jumlah atom radioaktif saat t = 0.
Bukannya konstanta peluruhan, parameter waktu
paruh lebih banyak digunakan. Waktu paruh
didefinisikan waktu yang dibutuhkan agar radioaktif
tersisa separuhnya N = N0/2

t1/ 2

ln 2 0,693

1
N N0
2

t / t1 / 2

Dari persamaan terlihat bahwa jumlah atom radioaktif


akan berkurang setengahnya setelah satu kali waktu
paruh dan tersisa 1/128 (< 1%) setelah 7 kali waktu
paruh dan tersisa 1/1024 (< 0,1%) setelah 10 kali
waktu paruh
Jika t kecil dibandingkan waktu paruh (t t1/2) maka
diperlukan pendekatan berikut

t
1 t
2

...

t (ln 2)

1 ln 2
2
t1/ 2

...
t1/ 2

Waktu hidup rata-rata dapat diperoleh dengan


perhitungan umum

1
1
t

Ndt e dt

N0 0

0
Dari persamaan 4.4 terlihat bahwa setelah waktu
hidup rata-rata , jumlah atom radioaktif akan
berkurang dari N0 menjadi N0/e ( = t1/2/(ln 2))
Umumnya waktu paruh radionuklida tidak tergantung
pada tekanan, temperatur, state of matter dan ikatan
kimia
Namun pada beberapa kasus khusus dimana terjadi
transisi energi rendah, parameter diatas memberikan
pengaruh yang cukup signifikan

Aktifitas A dari radionuklida diberikan oleh laju


disintegrasi
dN
ln 2
A
N
N
dt
t1/ 2
Karena aktifitas A proporsional terhdp jumlah atom
radioaktif N, persamaan eksponensial 4.4 juga
berlaku untuk aktifitas: A = A0e-t
Massa m atom radioaktif dapat dihitung dari jumlah
N dan aktifitas A:

N .M
A.M
A.M
m

t1/ 2
N AV
N AV N AV ln 2
M massa nuklida dan NAV bilangan avogadro

Dalam eksperimen lab dengan radionuklida,


pengetahuan massa zat radioaktif sangat penting
Misal: 1 MBq 32P (t1/2 = 14,3 d) hanya 10-10 g dan 1
MBq 99mTc (t1/2 = 6,0 h) adalah 5 x 10-12 g
Jika tidak ada carrier dalam bentuk sejumlah
besar atom inaktif dari unsur yang sama dengan
chemical state sama, jumlah kecil radioaktif ini
akan mudah hilang karena adsorpsi oleh dinding
Rasio aktifitas terhadap massa total m suatu
unsur (jumlah isotop stabil dan radioaktif)
dinamakan aktifitas spesifik As.

A
As Bq / g
m

Kesetimbangan Radioaktif
Hubungan umum antar radionuklida seperti pada
deret peluruhan dapat ditulis dalam bentuk
Nuklida 1 nuklida 2 nuklida 3
Nuklida 1 berubah oleh peluruhan radioaktif
menjadi nuklida 2 dan nuklida 2 menjadi nuklida 3
Nuklida 1 mother dari nuklida 2 dan nuklida 2
daughter dari nuklida 1
At any instant, laju produksi bersih nuklida 2
diberikan oleh laju peluruhan nuklida 1 dikurangi
laju peluruhan nuklida 2

dN 2
dN1

2 N 2 1 N1 2 N 2
dt
dt

Dengan laju peluruhan nuklida 1 maka


dN 2
2 N 2 1 N10 e 1t 0
dt
Dimana N10 jumlah atom nuklida 1 pada t = 0.
Penyelesaian untuk orde satu persamaan diferensial
diatas adalah
1
N2
N10 e 1t e 2t N 20 e 1t
2 1

N20 adalah jumlah atom nuklida 2 pada t = 0 jika


nuklida 1 dan 2 dipisahkan secara kuantitatif pada t =
0, keadaan menjadi lebih sederhana dan diperoleh 2
fraksi

4 Tipe Kesetimbangan Radioaktif


Half-life nuklida induk jauh lebih lama dibanding
nuklida daughter t (1) t (2)
Half-life nuklida induk lebih lama dari nuklida
daughter, namun peluruhan nuklida induk tidak
dapat diabaikan t (1) > t (2)
Half-life nuklida induk lebih pendek dibanding
nuklida daughter t (1) < t (2)
Half-life nuklida induk dan daughter hampir
sama t (1) t (2)

Kesetimbangan Radioaktif Sekuler


Dalam kesetimbangan radioaktif sekuler t (1)
t (2) sehingga persamaan menjadi

1
N2
N1 1 e 2t
2

Dengan mengasumsikan bahwa nuklida induk


dan daughter dipisahkan satu sama lain pada t
= 0, pertumbuhan nuklida daughter sebagai
fraksi dari nuklida induk dan peluruhan nuklida
daughter di fraksi terpisah dapat diplot sebagai
berikut :

Peluruhan nuklida daughter dan pembentukannya dari


nuklida induk dalam kesetimbangan radioaktif sekuler

Aktifitas nuklida
induk dan
daughter
sebagai fungsi
dari t/t (2)

Setelah t t (2) kira-kira 10x t nuklida 2


tercipta kesetimbangan radioaktif dengan
proporsi

N 2 2 t 12 (2)

N1 1 t 12 (1)
A1 A2
Aktifitas nuklida induk dan semua nuklida yang
dihasilkannya baik dari transformasi inti akan
sama dengan syarat kesetimbangan radioaktif
sekuler terjadi.

Aplikasi Kesetimbangan Sekuler


Penentuan half-life nuklida induk yang
panjang dengan mengukur rasio massa
nuklida daughter dan induk dengan syarat
half-life nuklida daughter diketahui
Kalkulasi rasio massa radionuklida yang
ada pada kesetimbangan radioaktif
sekuler
Kalkulasi massa nuklida induk dari
aktifitas terukur nuklida daughter

Kesetimbangan Radioaktif
Transient
Hasil dari kesetimbangan radioaktif transient
diplot pada gambar 4.5 untuk t (1)/t (2)
=5
Dalam hal ini t (2) tidak menjadi pengatur
tercapainya kesetimbangan, pengaruhnya
termidifikasi dengan faktor t (1)/t (2)
Garis tebal pada gambar dapat diukur
secara eksperimen sementara garis putusputus dapat diperoleh melalui ekstrapolasi

Aktifitas
kesetimbangan
transient nuklida
induk dan
daughter
sebagai fungsi
dari t/t (2).

Setelah kesetimbangan transient tercapai,


persamaan menjadi :
N2
t 12 (2)

N1 t 1 2 (1) t 1 2 (2)
Jika pada kesetimbangan sekuler aktifitas
nuklida induk dan daughter sama, maka pada
transient aktifitas daughter selalu lebih besar
dari nuklida induk

A1 1 N1
1
t 12 (2)

1 1
A2 2 N 2
2
t 12 (1)

Half-life nuklida induk lebih pendek dari


nuklida daughter
Pada kasus ini nuklida induk meluruh lebih
cepat dari nuklida daughter dan rasio
kedua berubah secara kontinyu hingga
nuklida induk habis dan tinggallah nuklida
daughter
Kondisi ini diplot pada gambar berikut,
tidak kesetimbangan radioaktif yang
terjadi

Half-life nuklida
induk lebih pendek
dari nuklida
daughter, tidak
ada
kesetimbangan t
(1)/t (2) = 0,1

Half-life hampir bersamaan

Jika selisih half-life antara nuklida induk dan


daughter semakin kecil, maka tercapainya
kesetimbangan radioaktif akan semakin
terlambat/tertunda
Dalam situasi ini 2 pertanyaan harus terjawab:
1. Berapa lama waktu yang harus dilalui sebelum
kurva peluruhan radioaktif yang lebih lama
mulai teramati?
2. Kapan, setelah dipisahkan nuklida induk dan
daughter, aktifitas nuklida daughter mencapai
maksimum?

Untuk menjawab pertanyaan ini digunakan


rumus:
log1 / e t 12 (1)t 12 (2)
t
jika t 1 2 (1) t 1 2 (2)
log 2 t 12 (2) t 12 (1)

Aplikasi rumus ini terhadap radionuklida


sekuens berikut
135

135

I Xe 9 ,1h
6, 6 h

135

Cs

Diperlukan 160 jam sebelum 135Xe mulai


teramati pada kurva peluruhan dengan tingkat
error 1%
Ini adalah waktu yang sangat lama dibanding
half-life nuklida, dan aktifitas Xe akan
berkurang hingga 5 kalinya.
Untuk menjawab pertanyaan kedua:

1
2
t max (2)
ln
2 1 1

Untuk reaksi inti

Diperlukan waktu 111 jam untuk mencapai


aktifitas maksimum 135Xe.

Branching Decay
Peluruhan bercabang sering teramati
pada inti ganjil-ganjil.
Misal 40K meluruh menjadi 40Ca dengan
probabilitas 89,3% sembari mengemisikan
- dan menjadi 40Ar dengan probabilitas
10,7% melalui electron capture
Jika radionuklida A mengalami peluruhan
bercabang menjadi nuklida B dan nuklida
C maka:

B
C
Probabilitas kedua peluruhan ditentukan oleh
masing-masing konstanta peluruhan b dan c.
Konstanta peluruhan A diberikan oleh jumlah b
dan c dan laju peluruhan A diberikan oleh

dN A

b N A c N A A N A
dt
0 ( b c ) t
N A N Ae

Laju produksi nuklida B dan C adalah:

dN B
b N A
dt

dan

dN C
c N A
dt

Sedangkan laju peluruhan B dan C :


dN C
dN B

B N B dan

C N C
dt
dt
Laju produksi B dapat juga ditulis:
dN B
b N A B N B
dt
dN B
B N B b N A0 e ( b c ) t 0
dt

Hal yang sama juga berlaku untuk nuklida C,


jika kedua radionuklida ini membentuk
kesetimbangan sekuler (b + c B) maka

Waktu paruh A hanya ada 1 yaitu:

ln 2
ln 2
t 2 A

A b c
1

Dalam hal terjadi kesetimbangan sekuler


maka ada waktu paruh parsial:

ln 2
t 2 A b
b
1

N B t 12 B

N A t 1 2 A b

ln 2
dan t 2 A c
c
1

dan

N C t 12 C

N A t 1 2 A c

Jika nuklida daughter memiliki waktu paruh


lebih lama atau bahkan stabil maka:
NB/NC = b/c

Dan jika waktu yang dilalui jauh lebih kecil


dibanding waktu paruh nuklida induk (t t
(A)) maka

Successive Transformation
Dalam hal proses peluruhan terjadi secara
berturutan (1) (2) (3) (4) (n)
Maka dapat ditulis rumus umum

dN n
n 1 N n 1 n N n
dt
Penyelesaian persamaan differensial
dengan n = 1, 2, 3, 4, ..n untuk kondisi
awal N1 = N10, N2 = N3 = = Nn= 0

Berlaku hubungan :

N n c1e

1t

c2e

2t

... cne

n t

Koefisien persamaan ini adalah:

Dalam hal jumlah n = 3, dimana nuklida 3


bersifat stabil (3 = 0)
0

e 1t
e 2 t
e 3t
N 3 12 N1

2 1 3 1 1 2 3 2 2 3 1 3

2
1
1t
2 t
N3 N 1
e
e
2 1
1 2

0
1

N 3 N N1 N 2
0
1

Jumlah atom produk akhir yang stabil


ditentukan oleh jumlah atom nuklida induk awal
dikurangi nuklida induk tersisa dan jumlah
nuklida 2

Jika waktu paruh nuklida induk jauh lebih


lama dibandingkan succeeding
radionuclide (kesetimbangan sekuler)
N n c1e

1t

1 0
c1 N1
n
N n 1
N n t 1 2 ( n)

atau

N1 n
N1 t 12 (1)
An A1