Anda di halaman 1dari 5

SOLID SOLUTION (LARUTAN PADAT )

Suatu larutan terdiri dari dua bagian yaitu solute ( terlarut ) dan
solvent ( pelarut )
Solute merupakan bagian yang lebih sedikit,sedang solvent adalah
bagian yang lebih banyak.
Biasanya jumlah solute yang dilarutkan oleh solvent merupakan
fungsi temperatur, makin meningkat dengan naiknya temperatur.
Ada 3 kemungkinan kondisi larutan yaitu tidakjenuh ( un saturated ) ,
jenuh ( saturated ) dan lewat jenuh ( super saturated ).
Larutan dikatakan tidak jenuh bila jumlah solute yang terlarut masih
dibawah jumlahyang mampu dilarutkan oleh solvent pada temperatur
dan tekanan yang dimaksud.Jika jumlah solute yang larut tepat
mencapaii batas kelarutannya dalam solvent, dikatakan sebagai larutan
jenuh. Larutan lewat jenuh terjadi bila jumlah solute yang larut telah
melampaui batas kelarutannya pada temperatur dan tekanan tersebut.
Dalam keadaan lewat jenuh ini larutan berada dalam kondisi
tidak ekuilibrium, ia tidak stabil.Dalam jangka waktu lama atau dengan
penambahan sedikit energi saja cenderung akan menjadi stabil,
mencapai ekuilibrium dengan terjadinya pengendapan/pemisahan
solute sehingga larutan menjadi larutan jenuh.
Suatu Solid Solution ( larutan padat ) adalah larutan dalam
keadaan padat , terdiri dari dua atau lebih jenis atom yang
berkombinasi dalam satu jenis space lattice. Biasanya kelarutan
( Solubility ) dalamkeadaan padat jauh lebih rendah dari

pada kelarutan pada keadaan cair.


Larutan padat mempunyai titik beku yang berbeda dari titik beku solvent yang
murni.
Pada umumnya larutan tidak membeku pada satu temperatur tertentu,tetapi
pembekuan terjadi pada suatu daerah temperatur tertentu ( range of temperature )
Pembekuan tidak terjadi pada temperatur konstan, pembekuan berlangsung bersamaan
dengan penurunan temperatur
Ada 2 jenis larutan padat ,yaitu :
1. Larutan padat Substitusional ( Substitusional Solid Solution )
2. Larutan padat Interstitial ( Interstitial Solid Solution )
1. Larutan padat substitusional
Pada larutan padat jenis ini atom solute menggantikan tempat ( substitusi ) atom
solvent dalam struktur lattice solvent. Kaseluruhan sistem akan merupakan seri yang
kontinyu dari larutan padat, semua komposisi akan selalu merupakan larutan padat.
Pada alloy sistem ada beberapafaktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu :
1. Crystal Structure Factor . Complete solid solubility kaemampuan
membentuk larutan pa
pat dengan segala komposisi (kelarut padatan lengkap) tidak akan terjadi bila
kedua unsur nya , solute dan solvent struktur kristalnya tidak sama. Jadi pada
substitusional solid
solution kedua unsurnya harus memiliki struktur kristal sama

2. Relative size factor


Terbentuknya suatu larutan padat akan mudah terjadi bila perbedaan diameter
atom tidak terlalu besar, tidak lebih dari 15 %. Bila perbedaan ini lebih dari 15 %
maka kelarutan padatannya ( solid Solubility ) akan sangat terbatas.
Misalnya timah hitam dengan perak yang memiliki perbedaan diameter atom 20 %,
maka kelarut padatan timah hitam pada perak hanya sekitar 1,5 %, sedang kelarut
padatan perak dalam timah hitam malah hanya 0,1 %.
Antimon dan Bismuth dapat saling melarytkan pada segala komposisi, kelarut
padatannya tidak terbatas karena perbedaan diameter atom hanya 7 % dan struktur
kristalnya
sam ( rhombohedral )
Sedang kelarutan antimon dalam aluminium ( FCC ) dengan perbedaan diameter
atom 2 %
hanya 0,1 % karena struktur kristalnya tidak sama.
3. Chemical affinity factor
Makin besar chemical affinity antara 2 logam makin kecil kemungkinannya
membentuk suatu larutan padat lebih cenderung akan terjadi senyawa.
Biasanya makin jauh jarak antara 2 unsur dalam Tabel Periodik makin besar
pulachemical affinity antara keduanya.
4. Relative Valence factor
Bila solute metal memiliki valensi berbeda dari solvent,maka jumlah elektron
valensi per atomdisebut juga electron ratio akan berubah. Dan struktur kristal lebih
peka terhadap

penurunan electron ratio dari pada terhadap kenaikan electron ratio. Jadi
dengan kata lain logam bervalensi lebih rendah dapat melarutkan lebih
banyak logam bervalensi lebih tinggi dari pada sebaliknya.
Misalnya dalam sistem paduanAluminium- Nickel, keduanya FCC relative size
factor 14 % Aluminium bervalensi lebih tinggi kelarutannya dalam Nickel
dapat mencapai 5 % , tetapi Aluminium hanya mampu melarutkan 0,04 %
Nickel.
Dengan memperhatikan keempat faktor diatas akan dapat ditentukan
estimasi kelarutan suatu logam dalam logam lain. Perlu diperhatikan bahwa
dengan relative Size factor yang kurang menguntungkan saja
dapat
dipastikan bahwa kelarutan akan sangat terbatas.
Bila relative size factor menguntungkan barulah ketiga faktor yang lain akan
ikut menentukanderajad kelarutan suatu logam dalam logam lain.
2. Interstitial Solid Solution.
Larutan ini terbentuk bila atom dengan diameter atom yang sangat
kecil dapat masuk ( menyisip ) di rongga antar atom dalam struktur lattice
dari solvent dengan diameter atom yang besar.
Karena celah ( rongga ) antar atom dalam suatu struktur lattice sangat kecil
maka hanya atom yang sangat kecil dengan radius kurang dari satu Angstom
yang dapat menyisip dan membentuk larutan padat interstitial . Atom
tersebut adalah Hidrogen ( 0,46 A ), Boron (0,97 ) ,Carbon (0,71) dan Oksigen
( 0,60 ).
Larutan padat interstitial biasanya mempunyai kelarut padatan sangat
terbatas dan biasanya

juga tidak penting,kecuali larutan padat karbon dalam besi, yang sangat
banyak mempengaruhi struktur dan sifat baja.
Larutan padat interstitial maupun substitusional mempunyai struktur
lattice yang terdistorsi,terutama disekitar tempat solute atom