Anda di halaman 1dari 2

Muh.

Fathan Mubinan R
C111 14 532
Essai etika, peran, hukum dan kewajiban dokter dalam peperangan

Perang bukanlah situasi yang diinginkan oleh sebagian besar manusia, tetapi perang dapat
terjadi dimana saja dan kapan saja. Perang dapat terjadi antar negara, antar daerah dalam satu
negara, atau antar golongan dalam daerah tertentu. Dokter sebagai bagian dari komunitas dan
salah satu aktor utama dalam dunia kesehatan sangat mungkin untuk terlibat dalam suasana
perang.
Dalam kondisi perang, terdapat permasalahan etik yang fundamental dibandingkan
dengan permasalahan etik dalam keadaan damai. Kepentingan militer dan kepentingan medis
seringkali mengalami benturan yang menyebabkan konflik dan dilema bagi dokter. Hubungan
dokter-pasien bukan lagi hubungan yang bersifat pribadi, tetapi melibatkan pihak-pihak lain
seperti negara atau institusi tertentu.
Dokter memiliki kewajiban etik untuk menolong setiap pasien dengan prinsip nondiskriminatif, tetapi kepentingan militer seringkali melibatkan dokter untuk melakukan tindak
interogasi tertentu dalam memperoleh data yang mungkin bermanfaat bagi keselamatan orang
banyak. Hal ini dapat dijumpai pada perang antar negara seperti perang Kosovo-Serbia, perang
Irak, perang Afghanistan, juga perlawanan terhadap terorisme.
Dilema etik lainnya adalah ketika dokter dihadapkan pada pilihan untuk memberikan
pertolongan medis kepada pihak musuh atau penduduk sipil. Dilema ini selain terjadi pada
perang antar negara, sering juga dihadapi pada perang suku atau konflik antar golongan. Perang
suku atau konflik antar golongan masih dapat dijumpai di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Hukum Internasional mengikat tenaga kesehatan untuk memberikan perawatan pada
korban dari pihak manapun, dan memberikan bantuan kesehatan kepada penduduk sipil yang
terluka. Sebagai gantinya, Konvensi Geneva melindungi tenaga kesehatan dari serangan
langsung saat perang, selama mereka tidak ikut berperang secara langsung (Geneva Conventions
protect health care personnel from direct attack, so long as they themselves do not become
combatants).
Pernyataan Konvensi Geneva tersebut melahirkan pertanyaan yang menarik, Apakah
seorang combatant dapat berprofesi sebagai dokter? Combatant pada dasarnya melakukan
tindakan yang akan melukai atau membunuh orang lain (pihak lawan). Hal tersebut jelas
bertentangan dengan prinsip dasar dokter, yaitu melakukan tindakan untuk menolong orang lain.

Referensi :
Jusuf Hanafiah M, Amri A. ETIKA KEDOKTERAN DAN HUKUM KESEHATAN.
Edisi 4. Penertbit buku Kedokteran EGC. Jakarta: 2008
Konvensi Jenewa pertama tanggal 12 agustus 1949 (konvensi jenewa), Bab IV tentang
Anggota DInas Kesehatan, Protokol Tambahan 1 Konvensi Jenewa