Anda di halaman 1dari 4

DEPRESI

1. Depresi sedang berat :


Minimal 2 minggu, mengalami minimal 2 gejala inti depresi yaitu :
- Mood depresi ( hampir sepanjang hari dan setiap hari)
Pada anak - anak atau remaja menjadi iritabel atau mood depresi.
- Hilangnya minat dan kesenangan pada aktivitas yang biasanya
disenangi.
- Penurunan energi atau cepat lelah.
Dalam 2 minggu terakhir, minimal ada 3 gejala berikut :
- Penurunan konsentrasi dan perhatian.
- Penurunan kepercayaan diri dan harga diri.
- Merasa bersalah dan tidak berguna.
- Pesimistis terhadap masa depan.
- Pikiran atau tindakan membahayakan diri atau bunuh diri.
- Gangguan tidur.
- Hilangnya nafsu makan.
Kesulitan dalam melakukan pekerjaan, sekolah, dan aktivitas sosial.
Terapi untuk pasien dengan depresi sedang berat :
Psikoedukasi.
Menentukan stressor psikososial.
Mengaktifkan kembali hubungan sosial.
Mempertimbangkan pemberian antidepresan.
Terapi interpersonal, cognitive behavourial therapy.
Terapi tambahan, seperti program aktivitas fisik, relaksasi, dan terapi
problem-solving.
Jangan mengatasi keluhan dengan pemberian obat suntikan atau terapi
lain yang tidak efektif, seperti vitamin.
Follow-up rutin.
Terapi tersebut di atas juga diberikan pada pasien dengan gejala depresi yang
dalam 2 bulan terakhir mengalami kematian orang yang dekat yang menimbulkan
dukacita atau kehilangan lain yang bersifat signifikan, kecuali pemberian
antidepresan atau psikoterapi bukan sebagai terapi lini pertama.
2. Depresi bipolar :
Episode gejala manik sebelumnya, seperti mood yang sangat meningkat
atau iritabel, aktivitas yang meningkat, banyak bicara, flight of ideas,
penurunan tidur yang drastis, grandiosity, perhatian yang menurun drastis,
dan ceroboh.
Minimal ada 3 gejala, dalam 1 minggu.
Pernah didiagnosa sebelumnya dengan gangguan bipolar.
(Pasien dengan depresi bipolar, mempunyai risiko berkembang menjadi
mania.)

3. Depresi dengan gejala psikotik :


Gejala psikotik : delusi, halusinasi, stupor
Pemberian terapi seperti depresi sedang berat dengan penggunaan
antipsikotik yang dikonsultasikan ke spesialis.
4. Depresi dengan kondisi lain yang bersamaan (concurrent) :
Risiko bunuh diri atau membahayakan diri sendiri.
Kelainan penggunaan alkohol atau bahan lain.
Penyakit medis, seperti gejala hipotiroid, anemia, tumor, stroke, hipertensi,
diabetes, HIV / AIDS, obesitas, penggunaan obat (seperti steroid) yang
dapat mengakibatkan atau mengeksaserbasi depresi.
Terapi untuk depresi dan kondisi lainnya. Monitor ketaatan terapi untuk
kondisi lain tersebut, karena depresi dapat mengakibatkan penurunan
ketaatan.
5. Depresi pada wanita usia subur :
Perlu ditanyakan kehamilan, HPHT, dan menyusui.
Pada wanita hamil dan menyusui, terapi seperti pasien depresi, dengan:
- Antidepresan sebisa mungkin dihindari.
- Apabila tidak ada respon terhadap psikoterapi, diberi antidepresan
dengan dosis efektif terendah.
- Konsul ke spesialis.
- Pada ibu menyusui juga hindari antidepresan kerja panjang seperti
fluoxetine.
6. Depresi pada anak atau remaja :
Usia <12 tahun :
- Jangan memberi obat antidepresan.
- Psikoedukasi ke orangtua pasien.
- Menentukan stressor psikososial.
- Follow up rutin.
Usia >12 tahun :
- Antidepresan bukan merupakan terapi lini pertama.
- Psikoedukasi.
- Menetukan stressor psikososial.
- Psikoterapi interpersonal, cognitive-behavioural therapy
- Terapi tambahan : program aktivitas fisik, relaksasi, dan problem
solving.
- Jika terapi psikososial tidak efektif, diberi fluoxetine ( jangan SSRI atau
TCA).
- Follow up rutin.
7. Terapi dan petunjuk farmakososial/non-farmakologi
Psikoedukasi
- Depresi merupakan masalah yang umum terjadi pada semua
orang.
- Orang yang depresi mempunyai opini negatif yang tidak relistis
terhadap dirinya, hidupnya dan masa depannya.

Terapi yang efektif membutuhkan paling tidak beberapa minggu


untuk mengurangi depresi.
- Hal hal yang perlu ditegaskan:
Pentingnya melanjutkan aktivitas yang sebelumnya
menarik atau memberikan kesenangan bagi pasin
Pentingnya mempertahankan siklus tidur yang teratur
Keuntungan dari aktivitas fisik yang teratur
Keuntungan dari aktivitas sosial yang teratur
Mengenali dan mencari pertolongan apabila ada pikiran
yang membahayakan diri atau bunuh diri
Pada lansia pentingnya
mengevaluasi masalah
kesehatan fisik secara kontinyu.
Menentukan stressor psikososial
- Memberikan kesempatan pada seseorang untuk berbicara.
Pemahaman seseorang terhadap penyebab dari gejalanya.
- Tanyakan tentang stressor sosial dan penyelesaiannya.
- Perbaiki situasi yang menyangkut terapi yang salah, kekerasan/
pelecehan, penelantaran.
- Mengidentifikasi dukungan keluarga dan mengikutsertakan
mereka sebisa mungkin.
Mengaktifkan kembali jaringan sosial
- Mengidentifikasi aktivitas sosial seseorang (pertemuan keluarga,
jalan jalan bersama teman, mengunjungi tetangga).
- Membangun kekuatan dan kemampuan seseorang pada
aktivitas sosial.
Struktur program aktivitas fisik
- Organisasi aktivitas fisik dengan durasi menengah 3x seminggu.
- Mencari aktivitas fisik yang cocok dan memberi dukungan untuk
meningkatkan jumlah aktivitas fisiknya.
Follow up
- Follow up secara teratur.
- Lakukan penilaian kembali perkembangan pasien.

8. Pengobatan antidepresan
Pengobtan antidepresan awal
- Memilih antidepresan
Fluoxetine dan amitrityline merupakan pengobatan yang
disarankan oleh WHO.
Dalam memilih antidepresan untuk seseorang, perhatikan
gejalanya, efek samping pengobatan dan khasiat dari
pengobatan.
Mengkombinasi antidepresan dengan pengobatan
psikotropika, harus dikonsultasikan dengan spesialis.
- Informasikan kepada pasien dan keluarganya tentang:
Keterlambatan dari efek
Potensi dari efek samping dan resiko dari gejalanya.
Kemungkinan diskontinuitas/ gejala withdrawal, biasanya
gejalanya ringan dan sembuh sendiri namun dapat

menjadi parah, jika pengobatan dihentikan secara tiba


-tiba. Meskipun, antidepresan tidak menyebabkan
ketagihan.
Durasi dari pengobatan. Antidepresan efektif untuk
mengobati depresi dan mencegah kekambuhan.
Pencegahan pengguanaan antidepresan pada orang orang khusus
- Orang dengan ide, rencana dan aksi bunuh diri
SSRI merupakan lini pertama
Diamati secara teratur
Untuk menghindari overdosis pada orang ornag yang
resiko bunuh diri, batasi penggunaan antidepresan.
- Remaja 12 tahun dan yang lebih dewasa
Jika intervensi psikososial tidak efektif, beri fluoxetine.
Jika memungkinkan, konsultasikan kesehatan mental
ketika mengobati remaja dengan fluoxetine.
Monitor penggunaan fluoxetine pada remaja pada
kegawat daruratan bunuh diri selama 1 bulan pertama.
- Orang tua
Hindari TCA, jika memungkinkan gunakan SSRI
Monitor efek samping, terutama TCA
Perhatikan peningkatan interaksi obat
- Orang dengan penyakit jantung
SSRI merupakan lini pertama
Jangan meresepkan TCA pada orang orang yang
beresiko aritmia jantung atau miocardial infark.
Pada semua kasus kardiovaskular, ukur tekanan darah
sebelum meresepkan TCA dan observasi hipotensi
orthostatik saat TCA pertama kali diberikan.
Monitoring orang dengan pengobatan antidepresan
- Jika gejala mania muncul saat pengobatan: segera hentikan
antidepresan dan atasi mania dan kelainan bipolarnya.
- Jika orang dengan pengobatan SSRI menunjukkan akathisia,
kaji kembali pengobatannya.
- Jika tidak teratur dalam pengobatan, identifikasi alasan
mengapa tidak teratur (misal: efek samping, biaya, kepercayaan
pasien tentang penyakit dan pengobatannya)
- Jika responnya tidak adekuat, tinjau kembali diagnosinya dan
cek apakah digunakan secara teratur dan diresepkan pada dosis
maksimum.
- Jika tidak ada respon, konsultasikan kepada spesialis.