Anda di halaman 1dari 6

OSMOREGULASI

Penentuan Toleransi Salinitas Optimum Media Melalui Pengukuran


Tingkat Penurunan Bobot Tubuh Organisme Akuatik
Febri Ramadhan (C24120003)
Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor
2014

Abstrak
Lingkungan perairan sewaktu-waktu dapat berubah ketika terjadinya perubahan variabel
lingkungan. Salah satu variabel lingkungan yang dapat mempengaruhi kondisi lingkungan adalah
tingkat salinitas. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat salinitas optimum media melalui
pengukuran tingkat penuruan bobot tubuh organisme akuatik. Suatu pengaturan keseimbangan air
terhadap kadar garam dalam tubuh dapat diatur dengan sistem osmoregulasi. Sistem osmoregulasi
berfungsi untuk menangani adanya perbedaan tekanan osmotik cairan tubuh dengan media. Organ
yang melakukan osmoregulasi pada ikan adalah insang, kulit, saluran pencernaan, dan ginjal . Salah
satu spesimen yang diuji dalam praktikum kali ini adalah ikan Mas (Cyprinus carpio) yang memiliki
sifat yang stenohalin, yaitu jangkauan salinitasnya tidak cukup luas. Tubuh ikan air tawar memiliki
sifat yang hipotonik, sedangkan lingkungannya hipertonik, sehingga air dari tubuh cenderung keluar.
Osmoregulasi menyebabkan pengurangan bobot pada ikan akibatnya banyaknya energi yang
digunakan dalam pengaturan tingkat osmotik dalam tubuh. Praktikum Fisiologi Hewan Air
dilaksanakan pada hari rabu, 5 Maret 2014 pukul 08.00-11.00 WIB di Laboratorium Fisiologi Hewan
Air, Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Intitut Pertanian
Bogor. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, akuarium 4 dan 5 menyebabkan kematian
seluruh ikan akibat tingkat salinitas yang telah melebihi ambang batas, sehingga ikan tidak mampu
menyusuaikan kondisi tubuhnya terhadap perubahan lingkungan.
Kata kunci : Osmoregulasi, tingkat salinitas, ikan Mas

Abstract
Aquatic environment can be changed at any time when environment variables has changed .
One of the environmental variables that can affect the environmental conditions is the level of
salinity . This experiment aims to determine the optimum level of salinity media by measuring body
weight , decrease the level of aquatic organisms . An arrangement of water salinity balance in the
body can be subjected to osmoregulation . Osmoregulation system function to handle the difference in
osmotic pressure of body fluids with the media . Organs that perform osmoregulation in fish are gills ,
skin , gastrointestinal tract , and kidneys . One of the specimens are tested in the lab this time is Mas
fish ( Cyprinus carpio ) that have properties that stenohalin , that is not quite wide range of salinity .
The body of freshwater fish is hypotonic properties , whereas hypertonic environment , so that the
body tends to get out of the water . Osmoregulation causes a reduction in the weight of the fish
consequently the amount of energy used in the regulation of the osmotic levels in the body . Animal
Physiology Lab Water held on Wednesday , March 5, 2014 at 8:00 to 11:00 pm at the Laboratory of
Animal Physiology Water , Water Resources Management , Faculty of Fisheries and Marine Science ,
Bogor Agricultural Intitut . Based on experiments that have been conducted , aquarium 4 and 5 cause
of death around the fish due to salinity levels that have exceeded the threshold , so the fish are not
able to menyusuaikan condition of his body against environmental changes .
Keywords : Osmoregulation , the level of salinity , Cyprinus carpio

*Kelompok II

PENDAHULUAN
Lingkungan perairan sebagai habitat
ikan sering kali mengalami perubahan kondisi.
Salah satu dari perubahan kondisi lingkungan
dapat dilihat dari ikan yang hidup pada
lingkungan yang tekanan osmotiknya berbeda
dengan tekanan osmotik cairan tubunhnya.
Perbedaan tekanan osmotik ini mengharuskan
ikan melakukan pengaturan tekanan osmotik
cairan tubuhnya agar berada pada kisaran
perlakuan osmotik dalam keadaan yang relatif
stabil sehingga proses-proses fisiologis dapat
berlangsung secara normal.
Tekanan osmotik dari satu perairan
berbeda antara satu perairan ke perairan lain.
Selain itu tekanan osmotik suatu perairan juga
berbeda dengan tekanan osmotik organisme
akuatik yang tinggal pada lingkungan perairan.
Perbedaan tekanan osmotik ini mengakibatkan
organisme akuatik mengalami suatu proses
osmoregulasi.
Sistem osmoregulasi berfungsi untuk
menangani adanya perbedaan tekanan osmotik
cairan tubuh dengan media. Organ yang
melakukan osmoregulasi pada ikan adalah
insang, kulit, saluran pencernaan, dan ginjal.
Osmoregulasi membutuhkan energi yang
besarnya bergantung pada tekanan osmotik
cairan tubuh dengan tekanan osmotik media.
Pembelanjaan energi untuk osmoregulasi akan
minimal bila ikan hidup mendekatai
isoosmotik.
Terdapat hubungan yang erat antara
osmoregulasi dan pertumbuhan. Jika salinitas
optimal (osmeregulasi berjalan dengan
optimal) maka pertumbuhan akan optimal pula.
Akibat dari proses katabolisme akan terjadi
penurunan bobot tubuh yang besarnya
bergantung terhadap proses penyesuaian
tekanan
osmotik
tubuh
terhadap
lingkungannya.
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Pratikum dilaksanakan pada hari Rabu
tanggal 5 Maret 2014. Praktikum ini dilakukan
di Laboratorium Fisiologi Hewan Air,
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor. Lama waktu percobaan
adalah 2x24 jam. Waktu pengamatan yaitu
pada jam 08.00, 12.00, dan 15.00 WIB.

*Kelompok II

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan dalam
praktikum adalah timbangan digital, gelas
ukur, ember, aerator, stopwatch, lap/tissue,
dan alat tulis. Bahan-bahan yang digunakan
adalah ikan , air tawar, dan garam.
Rancangan percobaan
Percobaan kali ini menggunakan
rancangan acak kelompok karena pada
percobaan ini terdapat 2 kelompok ikan dan
terdapat perlakuan dan ulangan. Perlakuan
pada percobaan ini adalah salinitas dan di
ulangan sebanyak 5 kali.
Prosedur Kerja
Media untuk memelihara ikan
disiapkan terlebih dahulu dengan kadar
salinitas yang berbeda-beda (control, 7 ppt, 14
ppt, 21 ppt, dan 28 ppt). masing-masing
akuarium dimasukkan 3 ekor ikan yang telah
dipuasakan selama 24 jam dan bobotnya telah
ditimbang terlebih dahulu sebagai bobot alat.
Tiap-tiap ikan ditempatkan di akuarium tanpa
diberi pakan, sebelumnya tiap akuarium
dimasukkan aerator terlebih dahulu. Selama
praktikum, pengamatan dilakukan tiap 15
menit sekali selama satu jam dan jika semua
ikan belum mati, pengamatan dilakukan
keesokkan harinya pada jam 08.00, 12.00, dan
15.00 WIB. Setelah dilakukan pengamatan,
tiap-tiap ikan ditimbang bobot akhirnya,
kemudia penurunan berat badan dan tingkat
survival rate dihitung.
Analisis Data
Analisis data yang digunakan, yaitu
Rancangan Acak Kelompok dengan
Model observasi :
Yij = + i + j + ij
Yij

i
j
ij

= nilai pengamatan perlakuan ke-i dan


ulangan/blok ke-j
= rata-rata umum
= pengaruh kelompok/blok ke -i
= pengaruh perlakuan ke-j
= komponen acak

Rumus-rumus yang digunakan adalah


FK
=( yij)2 /tr
JKT
= yij2 FK
JKP
= ( yi.2 )/r FK
JKK =( y.j2)/t FK

JKS

= JKT JKP

KTP

KTK

= JKK/dBK

KTS

Fhit

Survival rate dihitung dengan cara

Pertumbuhan bobot relative

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 1 Perubahan bobot relatif dengan
berbagai perlakuan salinitas pada ikan uji
Perubahan bobot relatif dengan berbagai
perlakuan salinitas pada ikan uji terhadap
perlakuan salinitas yang berbeda-beda dengan
waktu pengamatan tiap 15 menit selama satu
jam :
Jenis
ikan
Nila

Mas

Perlakuan

Kontrol

7
ppt

14
ppt

21
ppt

28
ppt

1
2
3
4
5
1
2
3
4
5

0,59
0,19
2,76
13,72
0,53
0,01
1,25
0,23
0,30
0,57

0,64
0,64
0,46
1,72
0,08
0,98
1,12
0,07
0,33
0,57

0,09
1,36
1,52
10,81
1,46
0,98
1,66
0,05
1,20
1,23

1,33
0,86
0,51
10,43
1,13
1,06
1,65
0,09
0,98
1,47

0,14
2,63
0,74
6,64
19,52
0,98
0,94
0,05
0,57
1,31

Tabel diatas menunjukkan adanya


pengaruh tingkat salinitas terhadap penurunan
bobot ikan. Pada ikan nila (Oreochromis
niloticus) terjadi penurunan bobot rata-rata dan
penurunan bobot tertinggi terjadi pada
perlakuan salinitas 28 ppt dengan penurunan
bobot rata-rata sebesar 5,934 g. Sedangkan
pada ikan mas (Cyprinus carpio) yang
mengalami penurunan bobot rata-rata relatif
*Kelompok II

tinggi pada perlakuan salinitas 21 ppt dengan


rata-rata sebesar 1,05 g.
Apabila kondisi ideal (isoosmotik)
maka energi yang digunakan akan cenderung
lebih sedikit dan penurunan bobot ikan juga
relatif minim (Anonim 2008). Tingkatan
osmoregulasi bergantung kepada perbedaan
tingkat osmoregulator seekor hewan terhadap
osmolaritas lingkungannya dan tingkat kerja
transpor pada membran yang digunakan untuk
mengangkut suatu zat terlarut secara aktif
(Campbell 2004).
Daya tahan hidup organisme akuatik
dipengaruhi oleh keseimbangan osmotik antara
cairan tubuhnya dengan air (media) lingkungan
hidupnya. Ikan mempunyai tekanan osmotik
yang berbeda dengan lingkungannya, oleh
karena itu ikan harus mencegah kelebihan air
atau kekurangan air agar proses-proses
fisiologis didalam tubuhnya dapat berlangsung
secara normal. Pengaturan tekanan osmotik
cairan tubuh pada ikan ini disebut
osmoregulasi (Affandi 2002). Ikan-ikan air
tawar mempunyai tekanan osmotik cairan
media sehingga garam-garam dalam tubuh
cenderung keluar, sedangkan air cenderung
masuk kedalam tubuh (Darwisito, 2006).
Berdasarkan Tabel 1. Perubahan
Tingkah Laku Ikan Mas (Cyprinus carpio)
(terlampir) didapatkan bahwa untuk ikan yang
diletakkan pada akuarium kontrol masih dapat
bergerak aktif dan dalam kondisi normal
seperti biasanya. Pada tingkat salinitas 7 ppt
yang terdapat dalam akuarium 2, ikan masih
mampu bertahan bahkan bergerak normal pada
15 menit pertama. Meskipun pada 15 menit
berikutnya
pergerakkan
ikan
semakin
melemah. Hal ini juga terjadi pada akuarium 3
dengan tingkat salinitas 14 ppt, meskipun
dalam menit terakhir satu ikan mati. Pada
akuarium 4 dan 5, ikan mengalami penurunan
aktivitas tubuh yang sangat drastis hingga
terjadi kematian seluruh ikan pada 15 menit
berikutnya. Kematian ikan diakibatkan karena
tingkat salinitas telah melewati ambang
toleransi bagi ikan Mas. Selain itu,
pemindahan ikan secara mendadak ke dalam
air yang kadar garamnya sangat berbeda dapat
mengakibatkan stres dan kematian pada ikan
(Suyanto S.R., 2009 dalam Jurnal Universitas
Sumatera Utara).
KESIMPULAN

Besarnya bobot ikan berbanding


terbalik dengan tingkat osmoregulasi.

Semakin besar energi yang dibutuhkan


untuk osmoregulasi maka semakin besar
penurunan bobot ikan, semakin kecil
energy
yang
dibutuhkan
untuk
osmoregulasi makan semakin kecil
penurunan bobot ikan.
SARAN
Diperlukannya ikan dengan spesies
dari berbagai tingkat ekosistem yang berbeda,
seperti ikan air tawar, payau, maupun laut, agar
praktikan mampu
mengukur
pengaruh
osmoregulasi terhadap bobot ikan ditingkat
ekosistem yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Ridwan, Usman Muhammad


Tang. 2002. Fisologi Hewan Air. Riau:
UNRI PRESS.

*Kelompok II

Anonim1. Tinjauan Pustaka Klasifikasi Ikan


Mas.
[Terhubung
berkala].
http:// www.repository.usu.ac.id.
(12 Maret 2014)
Anonim2.
2008.
Katabolisme
(respirasi). [terhubung berkala]
http://www.chem-istry.org/materi_kimia/biologipertanian/metabolismesel/katabolisme-respirasi/
Campbell, Neil A. 2004. Biologi Edisi
Kelima-Jilid 3. Jakarta : Erlangga
Darwisito, suria. 2006. Kinerja Reproduksi
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang
Mendapat Tambahan Minyak Ikan dan
Vitamin E Dalam Pakan Yang Dipelihara
Pada
Salinitas
Media
Berbeda.
[Terhubung
berkala].
http://www.repository.ipb.ac.id. (12 Maret
2014)

LAMPIRAN
Tabel 1. Perubahan tingkah Laku ikan mas ( Cyprinus carpio)
Waktu
(menit
)

Kontrol

15

bergerak
normal

30

bergerak
normal

7 ppt

14 ppt

bergerak normal

tingkah laku normal

mulut terbuka
tutup buka
operkulum cepat

pergerakan normal
buka tutup mulut ikan
lebih cepat

Bergerombol
berenang lebih aktif
diam di tempat
tidak banyak bergerak
naik turun di
di dasar perairan
permukaan
Bergerak normal
mulut terbuka &
tertutup cepat
bergerombol

45

bergerak
normal

60

bergerak
normal

21 ppt

pergerakan mulai tidak


seimbang
Gerakan melambat
pergerakan mulai
terpengaruh arus

28 ppt

bergerak normal

ikan melayang
beregrak tidak
megap megap
normal
2 ikan bergerak
berenang terbalik terbalik
keseimbangan
semua ikan
berkurang
pingsan
tingkah laku terganggu
ikan mulai diam
gerakan ikan
miring-miring
2 ikan pingsan
tutup buka
operkulum
lambat
I ikan mati
ikan bergerak
tidak normal
ikan mati semua
semua ikan mati

Pergerakan lemah
tidak banyak
bergerak

Pergerakan mulai tidak seimbang

Bergerak normal
tidak banyak
bergerak
bergerombol
insang normal

1 ikan aktivitasnya berkurang

pergerakn melambat dan dipengaruhi arus

buka tutup insang lambat


mata ikan membesar, pergerakan mulai tidak stabil
naik turun ke permukaan
1 ikan mati, 2 ikan pingsan

Tabel 2. Mortalitas untuk ikan mas ( Cyprinus carpio)


Waktu
(Menit)
0
15
30
45

Tingkah laku ikan pada perlakuan deterjen


Kontrol
7 ppt
14 ppt
21 ppt
28 ppt
3
3
3
3

3
3
3
3

3
3
3
3

3
3
3
0

3
3
2
0

60
MR %
SR %

0
100

0
100

66.67
33.33

100
0

100
0

Tabel 3. ANOVA ikan nila (Oreochromis niloticus) dan ikan mas (Cyprinus carpio)
SK

JK
273.72
67
50.411
4
377.95
05

702.08
86

B
K

dB

KT
34.215
8
10.082
2

40

9.4487

F crit

3.6211

2.1801

1.0670

2.4494

53

Grafik 1. Hubungan PBR dan Salinitas