Anda di halaman 1dari 9

Catatan 2013 : PRO DAN KONTRA RENCANA

REKLAMASI TELUK BENOA


RENCANA proyek reklamasi di Teluk Benoa, Kabupaten Badung, Bali, menjadi
polemik antara yang mendukung dan menolak karena berbagai pertimbangan jika
proyek itu dibangun.
Pemerintah Provinsi Bali menilai Pulau Dewata yang terkenal sebagai destinasi
pariwisata dunia sudah selayaknya membangun segala penunjang wisata, baik
restoran, hotel, maupun infrastruktur lainnya.
Selain itu, rencana pemerintah memberi lampu hijau kepada investor melakukan
kajian terhadap Teluk Benoa dengan alasan nantinya ada wisata terpadu, seperti di
Pulau Sentosa (Singapura).
Di samping itu melakukan proyek reklamasi tersebut bukan saja di Teluk Benoa,
melainkan di seluruh pesisir pantai di Pulau Dewata yang selama ini terancam
abrasi.
Bahkan, sejak beberapa tahun lalu pemerintah telah melakukan reklamasi beberapa
pesisir pantai, antara lain di Pantai Kuta, pesisir Tanjung Benoa, dan Pantai Sanur,
Kota Denpasar.
Namun, reklamasi dilakukan tersebut cakupannya menggembalikan pantai yang
mana sebelumnya abrasi akibat gelombang laut. Akan tetapi, reklamasi itu tidak
membuat sebuah pulau baru.
Namun, di sisi lain, ada kelompok masyarakat menolak reklamasi karena mereka
trauma dengan reklamasi yang dilakukan investor di Pulau Serangan, Kota Denpasar,
sebab perluasan dengan reklamasi yang proyeknya dikerjakan oleh PT Bali Turtle
Island Development (BTID) sejak 1996 itu hingga kini tak ada aktivitas pembangunan
lanjutan.
Proyek tersebut bahkan ditengarai menyebabkan abrasinya bibir pantai di sepanjang
garis pantai selatan di kawasan Pulau Bali.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika sempat secara diam-diam menerbitkan surat
keputusan bernomor: 2138/02-C/HK/2012, ditandatangani pada bulan Desember
2012, yang memberikan izin dan hak pemanfaatan dan pengembangan Teluk Benoa
kepada PT TWBI.
Namun, karena ada gelombang penolakan dari kelompok masyarakat, melalui aksi
demonstarasi ke Kantor Gubernur dan DPRD Bali, pada tanggal 16 Agustus 2013,
Gubernur telah mencabut SK tersebut karena menyadari banyaknya kesalahan
dalam proses hukumnya.
Akan tetapi, dalam surat keputusannya yang baru, bernomor: 1727/01-B/HK/2013,
Gubernur Made Mangku Pastika memberi izin studi kelayakan rencana pemanfaatan,

pengembangan, dan pengelolaan wilayah perairan Teluk Benoa kepada PT Tirta


Wahana Bali Internasional (TWBI). Izin baru itu dikhawatirkan menjadi pintu masuk
untuk realisasi rencana reklamasi di Teluk Benoa.
Sebelumnya, pada awal September 2013, pascapengumuman hasil studi kelayakan
Universitas Udayana, Gubernur Bali Mangku Pastika sempat membantah adanya
kesan pihaknya ngotot untuk melanjutkan rencana reklamasi.
Saya ikuti saja. Kalau katanya tidak layak, ya, tidak layak. Kami kan tidak
berkompeten menyatakan itu layak atau tidak layak. Jadi, kalau memang surveinya
menyatakan itu tidak layak, ya, tidak layak, kata Pastika menanggapi hasil kajian
Universitas Udayana.
Pendukung Reklamasi Tokoh Masyarakat Tanjung Benoa, Kabupaten Badung Wayan
Ranten meminta Pemerintah Provinsi Bali melakukan kajian teknis untuk
menyelamatkan wilayahnya yang kini mengalami abrasi.
Kami minta wilayah kami agar dikaji secara teknis karena makin lama semakin
berkurang akibat abrasi laut, katanya saat bertatap muka dengan Wakil Gubernur
Bali Ketut Sudikerta di Denpasar.
Menurut dia, secara geografis, wilayah Kelurahan Tanjung Benoa diapit laut. Bahkan,
ada satu pulau bagian dari Tanjung Benoa, yaitu Pulau Pudut diambang tenggelam.
Karena untuk menyelamatkan Pulau Pudut dan sekitarnya, kami memandang perlu
dilakukan kajian secara teknis menyelamatkan wilayah tersebut, kata Ranten yang
didampingi tokoh masyarakat dan adat lainnya, di antaranya Bendesa Pakraman
Tanjung Benoa Nyoman Wana Putra, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
(LPM) Wayan Darma, Nyoman Parek Sumerta, dan Ketut Sukada.
Terlepas dari wacana reklamasi Teluk Benoa yang mengundang pro dan kontra di
tengah masyarakat, Ranten ingin membuka wawasan semua pihak tentang kondisi
nyata saat ini kawasan Tanjung Benoa.
Ia mengatakan bahwa tanah kelahirannya itu kini terancam tenggelam karena erosi
air laut. Menurut kacamata orang awam, hal itu dipicu oleh kegiatan pendalaman
alur pelabuhan oleh PT Pelindo III Cabang Benoa dan akibat reklamasi Pulau
Serangan di Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar.
PT Pelindo beberapa kali melakukan pendalaman alur, begitu juga reklamasi Pulau
Serangan sehingga yang paling kena dampaknya adalah wilayah Tanjung Benoa,
katanya.
Hal senada juga disampaikan Bendesa (Ketua Adat) Tanjung Benoa Wana Putra
mengharapkan Pemprov Bali melakukan kajian untuk penyelamatan Tanjung Benoa.
Apa pun solusinya nanti, kami harapkan yang terbaik serta berdampak positif bagi
Tanjung Benoa dan masyarakat setempat, katanya.

Wagub Sudikerta memahami aspirasi yang disampaikan tokoh masyarakat Tanjung


Benoa. Menurutnya, semua masyarakat ingin sejajar dan punya hak yang sama
dengan yang lain.
Tentunya tak ada yang mau berada dalam posisi yang menjadi korban, kata
mantan Wakil Bupati Badung itu.
Terkait dengan wacana reklamasi, Sudikerta minta semua pihak melihat lebih jauh ke
depan dan menyikapinya dengan pikiran jernih.
Jangan selalu tendensius hanya karena kepentingan tertentu, kata Sudikerta yang
juga Ketua DPD Partai Golkar Bali.
Ia mengatakan, sesuai dengan harapan masyarakat setempat, pihaknya akan
melaporkan kepada Gubernur Made Mangku Pastika untuk selanjutnya dilakukan
kajian lebih konkrit.
Jauhkan dahulu dari politik, kita lakukan kajian yang benar-benar konkrit dari
berbagai aspek sehingga mendapatkan solusi terbaik untuk menyelamatkan wilayah
Tanjung Benoa, katanya.
Sikap Legislator Anggota DPRD Bali menilai rencana reklamasi Teluk Benoa setelah
proyek pembangunan jalan tol Bali Mandara yang menghubungkan Benoa-Bandara
Ngurah Rai dan Nusa Dua (Badung) akan memperparah lingkungan Pulau Dewata.
Bila itu sampai terjadi reklamasi Teluk Benoa, kondisi lingkungan Pulau Bali akan
semakin rusak. Contoh dari ada reklamasi pantai memperparah kondisi lingkungan,
coba lihat setelah reklamasi Pulau Serangan, dampaknya rusak di sekitarnya, kata
Anggota Komisi I DPRD Bali Ketut Tama Tenaya.
Menurut politikus asal Kelurahan Tanjung Benoa, Kabupaten Badung itu, proyek
reklamasi merupakan pesanan investor yang mengabaikan ekosistem dan
lingkungan sekitarnya.
Tama Tenaya lebih lanjut menyebutkan bahwa proyek reklamasi Pulau Serangan
menjadi bukti kuat terjadinya kerusakan di lokasi lain.
Kawasan Tanjung Benoa dihajar oleh ombak akibat reklamasi itu. Karena air laut
selalu mencari keseimbangannya, ketika Pulau Serangan di reklamasi, ada ombak
balik yang menerjang kawasan lain, kata Tama Tenaya yang juga Ketua Fraksi PDI
Perjuangan.
Beruntung, kata Tama Tenaya, ada proyek dari Badan Kerja Sama Internasional
Jepang (Japan Internasional Cooperation Agency/JICA) untuk melindungi Tanjung
Benoa. Namun, kawasan lainnya ikut dihajar. Buktinya, Pulau Pudut diterjang laut
hingga hampir habis, begitu juga hutan bakau di Tanjung Benoa menghilang.
Tentu hal itu, kata dia, dampak dari reklamasi menyebabkan terjangan arus air laut
yang keras sehingga terus terkikis.

Kawasan Pulau Pudut ini dihajar juga. Bahkan, sekarang hampir habis, kata
politikus PDIP Bali.
Melihat dari kenyataan dampak reklamasi Serangan, Tama Tenaya yakin bahwa
reklamasi ratusan hektare untuk membuat pulau baru disertai pembangunan sarana
wisata di Teluk Benoa akan menghantam lingkungan sekitar.
Kalau menguruk sampai 400 hektare, ke mana airnya? Nanti Tanjung Benoa sampai
Bandara Ngurah Rai itu yang dihantam. Pasti kena itu. Tinggi Tanjung Benoa sama
bandara itu hampir sama, ujarnya.
Meski menolak, Tama Tenaya sedikit pesimistis proyek pulau baru ini akan mentok di
tengah jalan. Sebab, beberapa kali ada investor yang ingin mereklamasi Teluk
Benoa, bahkan sejak 1990-an.
Dari tahun 1990-an itu banyak kajian. Akhirnya mentok di tengah jalan semua. Saya
gak yakin ini bisa jalan, katanya.
Hal senada diakui anggota Komisi II DPRD Bali Wayan Disel Astawa bahwa rencana
reklamasi yang mencapai ratusan hektare di Teluk Benoa akan berdampak dengan
kondisi pantai di sekitarnya.
Jangan dianggap enteng dari adanya reklamasi. Daerah sekitarnya akan
mendapatkan dampaknya. Secara hukum alam, air laut pasti akan mengantam
daerah-daerah yang lebih rendah di sekitarnya, kata politikus asal Desa Ungasan,
Kabupaten Badung itu.
Sementara itu, di tengah gencarnya rencana reklamasi TelukBenoa tersebut,
antalegislator pun sebenarnya ada mendukung dan menolak rencana proyek itu.
Bahkan, Wakil Komisi I DPRD Bali Gusti Putu Widjera meminta kepada Badan
Kehormatan DPRD agar mengusut terkait dengan isu anggota Dewan yang
menerima gratifikasi untuk memuluskan keluarnya surat rekomendasi kajian
reklamasi Teluk Benoa.
Badan Kehormatan DPRD Bali agar mengusut oknum anggota Dewan yang diduga
mendapatkan suap untuk memuluskan keluarnya Surat Rekomendasi Pengkajian
Reklamasi Teluk Benoa, yang belakangan ini menjadi polemik di masyarakat, kata
Widjera.
Ia mengharapkan Badan Kehormatan DPRD menelusuri adanya isu tersebut. Kalau
memang ada oknum anggota Dewan bermain dan mendapatkan gratifikasi dari
investor, ditindak tegas.
Bila perlu instansi terkait juga melakukan penelusuran terhadap isu suap
memuluskan rencana dari investor untuk melakukan reklamasi perairan di Teluk
Benoa, Kabupaten Badung seluas 400 hektare, ucap politikus Partai Demokrat.
Widjera juga meminta anggota DPRD dalam menyikapi wacana reklamasi Teluk
Benoa jangan terlalu gegabah karena kawasan tersebut merupakan kawasan
konservasi alam dan dilindungi undang-undang.

Semua masyarakat harus berpikir positif dan taat pada aturan hukum yang ada
karena di kawasan tersebut sampai sekarang adalah kawasan konservasi, ujarnya.
Semasih kawasan tersebut termasuk kawasan konservasi alam, tidak ada aktivitas
yang mengganggu kawasan tersebut.
Kawasan tersebut adalah kawasan konservasi alam. Dengan demikian, di dalam
kawasan tersebut otomatis tidak boleh melakukan aktivitas yang lain, kecuali untuk
konservasi alam, katanya. Komang Suparta/MB

REKLAMASI TELUK BENOA UNTUK MASA DEPAN BALI


OLEH : MADE MANGKU PASTIKA

GUBERNUR BALI
Pertama-tama Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak dan komponen masyarakat yang telah menghadiri Diskusi
Terbuka pada hari Sabtu, 3 Agustus 2013 di Kantor Gubernur Bali, serta telah pula
memberikan pandangan dan argumentasinya sesuai sudut pandang dan kepakaran masingmasing. Opini yang selama ini terbentuk melalui media massa, akhirnya menjadi jelas dalam
pertemuan ini, termasuk pendapat dari para tokoh dan masyarakat dari daerah di seputar
kawasan Teluk Benoa.
Terima kasih pula Saya sampaikan kepada Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana yang telah mempresentasikan hasil kajiannya,
walaupun belum final, yang sekilas telah dapat memberikan gambaran rencana pembangunan
ini kepada masyarakat yang hadir, sehingga dapat meminimalisasi pemahaman-pemahaman
yang sesat ataupun kurang jelas.
Saya sangat menghormati semua pendapat yang berkembang, dan akan
mempertimbangkannya secara bijak, termasuk mengkaji secara komprehensif bersama pihakpihak terkait, seperti DPRD dan para pakar di bidangnya, serta melalui kajian-kajian lainnya
yang ilmiah dan obyektif. Saya melihat respon tersebut merupakan wujud kepedulian dan
kecintaan seluruh masyarakat kepada Bali. Namun semua itu patut kita letakkan secara
proporsional demi kemajuan Bali ke depan.
Latar Belakang Rencana Reklamasi
Pembangunan selalu berkembang yang ditandai dengan pertumbuhan penduduk,
urbanisasi dan migrasi, serta pergeseran peruntukan lahan yang menyebabkan alih fungsi
lahan meningkat setiap tahun. Terjadinya alih fungsi lahan tersebut disebabkan berbagai
faktor antara lain: pelaksanaan tata ruang yang tidak konsisten, pengendalian yang lemah,
serta kesadaran masyarakat dalam menaati rencana tata ruang yang masih rendah. Kemajuan
menuntut perubahan. Perubahan inilah yang wajib menjadi pemikiran kita bersama.
Bali yang secara geografis sangat sempit, terus mengalami
pengurangan lahan pertanian karena alih fungsi akibat kemajuan
pembangunan. Untuk itu, kita harus memikirkan berbagai upaya
terobosan dalam menjaga perkembangan pembangunan pariwisata kita
sejalan dengan kelestarian pertanian sebagai nafas kebudayaan Bali.
Konsep pariwisata budaya yang merupakan ikon pariwisata Bali, tidak bisa
kita kembangkan hanya dengan mengandalkan apa yang ada dan apa
yang kita miliki saat ini. Diperlukan berbagai program terobosan dalam
pembangunan pariwisata, yang tetap mendukung kelestarian alam dan
budaya Bali, sesuai slogan Pariwisata untuk Bali.
Di sisi lain, beberapa pantai di Pulau Bali merupakan daerah yang
rawan bencana, khususnya bencana tsunami. Menjadi kewajiban kita
untuk melakukan langkah-langkah antisipasi dan mitigasi bencana
tersebut. Sejalan dengan kemajuan pembangunan di wilayah Bali selatan,
eksploitasi yang berlebihan terhadap alam dan lingkungannya, harus
diimbangi dengan upaya pelestarian lingkungannya.

Dipilihnya rencana reklamasi di kawasan Teluk Benua, mengingat


kondisi di wilayah perairan tersebut yang salah satunya adalah
keberadaan Pulau Pudut, sudah sangat terancam akibat perubahan iklim
global.
Tujuan pemanfaatan kawasan Teluk Benoa antara lain untuk mengurangi dampak
bencana alam dan dampak iklim global, serta menangani kerusakan pantai pesisir. Kebijakan
rencana pengembangan Teluk Benoa adalah untuk meningkatkan daya saing dalam bidang
destinasi wisata dengan menciptakan ikon pariwisata baru dengan menerapkan konsep green
development, sebagai upaya mitigasi bencana, khususnya bahaya tsunami. Reklamasi ini akan
menambah luas lahan dan luas hutan bagi Pulau Bali, yang tentu sangat prospektif bagi
kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Bali, apabila dikelola dengan tepat, arif dan bijak.
Saya menyadari pula bahwa akan muncul berbagai dampak apabila rencana tersebut
dapat diwujudkan, antara lain masalah lingkungan, ketidak-nyamanan selama proses
pembangunan, kemacetan, dan beberapa masalah lainnya, yang tentu dalam kajian final-nya
nanti akan kita lihat, seberapa besar kerugiannya.
Reklamasi untuk Masa Depan
Pengelolaan wilayah perairan Teluk Benoa seluas 838 Ha, menurut rencana yang
masih harus menunggu kajian final, sebagian besar diantaranya atau sekitar 438 Ha akan
dibangun hutan mangrove. Sementara sekitar 300 Ha dibangun fasilitas umum seperti art
centre, gedung pameran kerajinan, gelanggang olahraga, tempat ibadah, sekolah, dsb, dan
hanya sebagian kecil atau sekitar 100 Ha dibangun akomodasi pariwisata. Kawasan tersebut
sekaligus menjadi penyangga wilayah Bali selatan, yang dikembangkan tetap berdasarkan
filosofi tri hita karana.
Dalam perkembangan pembangunan ke depan, reklamasi dan kehadiran pulau baru ini
memiliki keuntungan bagi Bali sebagai berikut:
1.
Secara geografis, luas pulau Bali akan bertambah. Pulau baru yang dibangun investor
di kawasan ini akan menjadi milik Bali, milik masyarakat Bali. Demikian pula luas hutan
kita, khususnya hutan mangrove, akan bertambah. Keberadaan hutan bakau yang sangat luas
di kawasan tersebut, akan sangat melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi akibat
iklim global, termasuk melindungi Bali dari bencana tsunami
2.
Dalam hal lapangan kerja, dibangunnya akomodasi pariwisata dan fasilitas umum
akan memberikan peluang lapangan kerja bagi masyarakat Bali dalam 5 sampai 10 tahun
mendatang. Diperkirakan sekitar 200.000 lapangan kerja baru akan tersedia di kawasan ini.
Saat ini jumlah angkatan kerja, khususnya lulusan perguruan tinggi, terus bertambah.
Sementara lapangan kerja mengalami stagnasi, karena sangat bergantung pada kondisi dan
perkembangan pariwisata yang sangat rentan terhadap kondisi keamanan, dan kondisi sosial
lainnya. Sebagai contoh, pada saat diskusi digelar, berlangsung upacara wisuda lulusan
Universitas Udayana. Saat itu lebih dari 900 mahasiswa diwisuda, dari jenjang diploma
hingga pasca sarjana. Mungkin sebagian dari jumlah itu sudah bekerja, sementara sebagian
lainnya menjadi pengangguran. Belum lagi lulusan perguruan tinggi negeri dan swasta
lainnya di Bali yang berjumlah sekitar 40 buah, yang meluluskan mahasiswanya ratusan
orang setiap tahun, bahkan ada perguruan tinggi yang melaksanakan wisuda dua sampai tiga
kali dalam setahun. Dapat dihitung berapa lulusan perguruan tinggi yang berpotensi
menganggur bertambah setiap tahun. Demikian pula lulusan SMA/SMK yang tidak
melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka adalah angkatan kerja potensial yang belum tentu
semuanya mendapatkan pekerjaan. Angka pengangguran kita di Bali saat ini memang terbaik
di tanah air, tetapi itu tidak menjamin dalam tahun-tahun mendatang dapat bertahan, apabila
kita tidak berupaya menyiapkan lapangan kerja baru seluas-luasnya.
Terlebih lagi tahun 2015 kita akan menjadi bagian dari Komunitas Tunggal ASEAN,
sejalan dengan diberlakukannya ASEAN Free Trade Area (AFTA). Dalam masa

tersebut, para pekerja dari luar negeri akan datang ke Bali untuk bersaing
mendapatkan pekerjaan dalam seluruh bidang, mulai dari manager, sopir, sampai
tukang sapu. Keberadaan lapangan kerja baru akan sangat membantu persaingan kerja
bagi para tenaga kerja lokal Bali. Demikian pula para penari dan seniman lulusan
SMK Kesenian, dan juga perguruan tinggi seni, akan mendapat kesempatan luas
untuk tampil dengan dibangunnya art centre dan akomodasi pariwisata baru.
3.
Dalam mendukung pembangunan pariwisata, keberadaan pulau reklamasi akan
menjadi destinasi wisata baru. Konsep pariwisata budaya mutlak diimplementasikan dalam
membangun dan mengembangkan kawasan dan atraksi wisata di kawasan tersebut.
Kejenuhan wisatawan asing atas atraksi dan obyek wisata yang ada saat ini, wajib diantisipasi
untuk 5 sampai 10 tahun ke depan. Kita berharap pariwisata budaya kita menuju quality
tourism, dalam arti wisatawan yang datang adalah yang memang berwisata dan berbelanja di
Bali. Di sisi lain, kita tidak boleh menutup mata terhadap kemajuan yang dialami pariwisata
negara-negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Kita tidak boleh malu
belajar dari kemajuan yang mereka capai. Belum lagi daerah-daerah lainnya di tanah air yang
sedang gencar-gencarnya membangun pariwisatanya, mulai dari yang terdekat yaitu
Banyuwangi dan NTB, sampai pada pengembangan Kepulauan Raja Ampat, yang sangat
berobsesi mengalahkan kemajuan pariwisata Bali. Kawasan yang sudah ada di Bali, sangat
sulit dikembangkan mengingat sempitnya lahan. Oleh karena itu, kawasan pulau baru akan
mudah dikembangkan termasuk melalui diversifikasi program dan atraksi wisata budaya.
Para perajin kita telah disediakan arena pameran dan promosi. Para seniman, budayawan dan
sekaa-sekaa kesenian yang ada, akan disiapkan art centre dan panggung-panggung seni
lainnya, sehingga akan mendorong kelestarian seni budaya kita.
Lahirnya Keputusan Gubernur Bali
Kebijakan Pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan rekomendasi izin
pemanfaatan,
sudah
melalui
proses
dan
mekanisme
pembahasan,mulai dari permohonan yang diajukan investor, rekomendasi
DPRD Provinsi Bali, sampai turunnya Keputusan Gubernur. Rekomendasi
tersebutmasih memerlukan beberapa kajian pendukung, sinkronisasi dan
harmonisasi dengan peraturan perundang-undangan, serta beberapa
tahapan perizinan yang wajib dimiliki oleh investor, di mana izin-izin
tersebut menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota.
Rekomendasi
tersebut
belum
cukup dipakai
acuanmelaksanakan kegiatan reklamasi,
tetapi baru
sebatas sebagai
dasar bagi investor melakukan kegiatan pengkajian, survey, serta
pengurusan perizinan yang dibutuhkan sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan. Sekarang tugas kita bersama adalah mengawasi
pelaksanaan kajian tersebut kalau memang benar-benar memenuhi
semua aspek,untuk kemudian dilanjutkan pada tahapanberikutnya.
Dalam membuat kajian feasibility tersebut berbagai peraturan perundang-undangan
masih perlu diacu, disinkronisasikan, dan diharmonisasikan, antara lain Peraturan Presiden
No. 45 Tahun 2011 tentang kawasan perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan
(Sarbagita), Rancangan Perda Arahan Peraturan Zonasi Sistem Provinsi, dan Draft Arahan
Peraturan Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang sedang disusun dokumen
akademisnya di Pemerintah Provinsi Bali. Sementara Pemerintah Kabupaten Badung juga
sedang menyiapkan Raperda Arahan Peraturan Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Kabupaten Badung sebagai tindaklanjut amanat Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Dalam Keputusan ini, Saya dengan tegas mencantumkan hal-hal yang wajib
dipenuhi dalam pengembangan rencana reklamasi ini oleh calon investor, yaitu: 1) menaati

ketentuan perundang-undangan yang berlaku, 2) memperhatikan kelestarian lingkungan, 3)


mengikutsertakan dan mempekerjakan masyarakat di sekitar tempat usaha serta membantu
meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar, dan 4) menghormati nilai-nilai agama, budaya,
kesusilaan dan/atau ketertiban umum dalam penyelenggaraan kegiatan.
Proses reklamasi ini masih sangat panjang, yang memerlukan pemikiran kita
bersama untuk mewujudkannya, sehingga nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi
kesejahteraan seluruh masyarakat Bali di masa mendatang. Bali yang maju adalah Bali yang
tidak tercerabut dari akar budayanya yang adiluhung, dengan kemajuan pembangunan dan
peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Saya mengajak seluruh rakyat Bali, untuk
membangun Bali dengan dasar cinta, dan menyumbangkan pemikiran dan hasil karya sesuai
kompetensi danswadharma masing-masing. Terima kasih.
Oleh: Made Mangku Pastika
Gubernur Bali