Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, diabetes melitus
merupakan

suatu

kelompok

penyakit

metabolik

dengan

karakteristik

hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan
kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh,
terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah.
Pada tahun 2003, World Health Organization (WHO) memperkirakan
bahwa 194 juta jiwa atau 5.1% dari 3.8 miliar penduduk dunia yang berusia 20-79
tahun menderita diabetes mellitus dan pada tahun 2025 akan meningkat menjadi
333 juta jiwa. WHO memprediksi bahwa di Indonesia akan terjadi peningkatan
dari 8.4 juta diabetisi pada tahun 2000 menjadi 21.3 juta diabetisi pada tahun
2030. Hal ini akan menjadikan Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia setelah
Amerika Serikat, Cina, dan India dalam prevalensi diabetes mellitus (Diabetes
Care, 2004).
Hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) pada tahun 2007, menunjukkan
bahwa prevalensi DM secara nasional berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan
gejala adalah 1.1%, sedangkan prevalensi DM berdasarkan pemeriksaan kadar
gula darah pada penduduk berumur >15 tahun yang bertempat tinggal di
perkotaan adalah 5.7%. Riset ini juga menghasilkan angka Toleransi Glukosa
Terganggu (TGT) secara nasional berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah pada
penduduk berumur >15 tahun yang bertempat tinggal di perkotaan adalah 10.2% 9
(Depkes, 2008).
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang tidak menyebabkan
kematian secara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila pengelolaannya tidak
tepat. Pengelolaan DM memerlukan penanganan secara multidisiplin yang
mencakup terapi non-obat dan terapi obat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Diabetes Melitus
1. Definisi
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, diabetes
melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya. Sedang menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus
merupakan suatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan
singkat tetapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema
anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana
didapat defisiensi insulin absolut ataupun relatif dan gangguan fungsi insulin.
WHO telah mengidentifikasi 3 macam diabetes, yaitu diabetes melitus tipe 1 atau
insuline dependent diabetes mellitus (IDDM), tipe 2 atau non-insuline dependent
diabetes mellitus (NIDDM), dan diabetes mellitus gestasional.
2. Klasifikasi
Klasifikasi etiologis diabetes melitus menurut PERKENI (ADA,1997):
a. Diabetes melitus tipe I
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut
baik melalui proses imunologik maupun idiopatik.
b. Diabetes melitus tipe II
Bervariasi, mulai yang predominan resistensi insulin disertai
defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi insulin
bersama resistensi insulin.
c. Diabetes melitus tipe lain
1. Defek genetik fungsi sel beta
2. Defek genetik kerja insulin
3. Penyakit eksokrin pankreas
4. Endokrinopati

5. Obat atau zat kimia: vacor, pentamidin, asam nikotinat,


lukokortikoid, hormon tiroid, tiazid, dilantin, interferonalfa, dll
6. Infeksi
7. Sebab imunologi yang jarang
8. Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM
d. Diabetes melitus gestasional (DMG)
3.

Manifestasi Klinik
Keluhan umum pada pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia
pada DM lanjut usia pada umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering
mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada
pembuluh darah dan saraf. Pada DM lanjut usia, terdapat perubahan patofisiologi
akibat proses menjadi tua sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa
gejala sampai dengan komplikasi yang lebih lanjut. Hal yang sering menyebabkan
pasien datang berobat ke dokter adalah adanya keluhan yang mengenai beberapa
organ tubuh, antara lain:
a. Gangguan penglihatan: katarak
b. Kelainan kulit: gatal dan bisul-bisul
c. Kesemutan, rasa baal
d. Kelemahan tubuh
e. Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh
f. Infeksi saluran kemih
Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah genital ataupun
daerah lipatan kulit lain, seperti di ketiak dan di bawah payudara, biasanya akibat
tumbuhnya jamur. Sering pula dikeluhkan timbulnya bisul-bisul atau luka lama
yang tidak mau sembuh. Luka ini dapat timbul akibat hal sepele seperti luka lecet
karena sepatu, tertusuk peniti dan sebagainya. Rasa baal dan kesemutan akibat
sudah terjadinya neuropati juga merupakan keluhan pasien, disamping keluhan
lemah dan mudah merasa lelah. Keluhan lain yang mungkin menyebabkan pasien
datang berobat ke dokter adalah keluhan mata kabur yang disebabkan oleh katarak

ataupun gangguan-gangguan refraksi akibat perubahan-perubahan pada lensa


akibat hiperglikemia.
Tanda-tanda dan gejala klinik diabetes melitus pada lanjut usia:
a. Penurunan berat badan yang drastis dan katarak yang sering terjadi
pada gejala awal
b. Infeksi bakteri dan jamur pada kulit (pruritus vulva untuk wanita)
dan infeksi traktus urinarius sulit untuk disembuhkan.
c. Disfungsi neurologi, termasuk parestesi, hipestesi, kelemahan otot
dan rasa sakit, mononeuropati, disfungsi otonom dari traktus
gastrointestinal

(diare),

sistem

kardiovaskular

(hipotensi

ortostatik), sistem reproduksi (impoten), dan inkontinensia stress.


d. Makroangiopati yang meliputi sistem kardiovaskular (iskemia,
angina, dan infark miokard), perdarahan intra serebral (TIA dan
stroke), atau perdarahan darah tepi (tungkai diabetes dan gangren).
e. Mikroangiopati meliputi mata (penyakit makula, hemoragik,
eksudat), ginjal (proteinuria, glomerulopati, uremia)
4. Anamnesis
Banyak pasien dengan Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
yang asimptomatik dan baru diketahui adanya peningkatan kadar gula darah pada
pemeriksaan laboratorium rutin. Para ahli masih berbeda pendapat mengenai
kriteria diagnosis DM pada lanjut usia. Kemunduran, intoleransi glukosa,
bertambah sesuai dengan pertambahan usia, jadi batas glukosa pada DM lanjut
usia lebih tinggi dari pada orang dewasa yang menderita penyakit DM.
Kriteria diagnostik diabetes melitus dan gangguan toleransi glukosa
(WHO 1985):
a. Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) 200mg/ dl, atau
b. Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) 126 mg/dl, atau
c. Kadar glukosa plasma 200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban
glukosa 75 gram pada TTGO

Menurut Kane et.al (1989), diagnosis pasti DM pada lanjut usia


ditegakkan kalau didapatkan kadar glukosa darah puasa lebih dari 140 mg/dl.
Apabila kadar glukosa puasa kurang dari 140 mg/dl dan terdapat gejala atau
keluhan diabetes seperti di atas perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan Tes
Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Apabila TTGO abnormal pada dua kali
pemeriksaan dalam waktu berbeda diagnosis DM dapat ditegakkan.
Pada lanjut usia sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa
darah puasa secara rutin sekali setahun, karena pemeriksaan glukosuria tidak
dapat dipercaya karena nilai ambang ginjal meninggi terhadap glukosa.
Peningkatan TTGO pada lanjut usia ini disebabkan oleh karena turunnya
sensitivitas jaringan perifer terhadap insulin, baik pada tingkat reseptor (kualitas
maupun kuantitas) maupun pasca reseptornya. Ini berarti bahwa sel-sel lemak dan
otot pada pasien lanjut usia menurun kepekaannya terhadap insulin.
5. Pemeriksaan
Ada perbedaan antara uji diagnostik DM dan pemeriksaan penyaring.
Uji diagnostik DM dilakukan pada mereka yang menunjukkan gejala dan tanda
DM, sedangkan pemeriksaan penyaring bertujuan untuk mengidentifikasi mereka
yang tidak bergejala yang mempunyai risiko DM. Serangkaian uji diagnostik akan
dilakukan pada mereka yang hasil pemeriksaan penyaringnya positif.
Pemeriksaan penyaring dikerjakan pada kelompok dengan salah satu risiko
DM sebagai berikut:
a. Usia >45 tahun
b. Berat badan lebih >110% BB ideal atau IMT >23 kg/m2
c. Hipertensi (>140/90 mmHg)
d. Riwayat DM dalam garis keturunan
e. Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau BB lahir
bayi >4000 gram
f. Kolesterol HDL 35 mg/dl dan atau trigliserida 150 mg/dl

Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar


glukosa darah sewaktu, kadar glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan
tes tolerasi glukosa oral (TTGO) standar.
Untuk kelompok risiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaringnya
negatif, pemeriksaan penyaring ulangan dilakukan tiap tahun; sedangkan bagi
mereka yang berusia >45 tahun tanpa faktor risiko, pemeriksaan penyaring dapat
dilakukan setiap 3 tahun.
6.

Diagnosis
Diagnosis DM dapat ditegakan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa
darah. Diagnosis tidak dapat ditegakan atas dasar adanya glukosuria. Untuk
penentuan diagnosis DM, pemeriksaan glukos darah yang dianjurkan adalah
pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena.
Penggunaan bahan darah utuh (whole blood), vena ataupun kapiler dapat tetap
dipergunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang
berbeda sesuai dengan pembakuan WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan
hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa
darah kapiler.
Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Penyaring dan
Diagnosis DM
Kadar glukosa (mg/dl )
Sewaktu
Puasa

Plasma Vena
Darah Kapiler
Plasma Vena
Darah Kapiler

Bukan DM

Belum pasti

DM

< 110
< 90
< 110
< 90

DM
110 199
90 199
110 125
90 109

200
200
126
110

Sumber: PERKENI, Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2, 2006


Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik seperti tersebut
dibawah ini:

a. Keluhan khas DM berupa: poliuria, polidipsia, polifagia,


penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
b. Keluhan tidak khas DM: lemah badan, kesemutan, gatal, mata
kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada
wanita.
Diagnosis DM dapat ditegakan dengan 3 cara:
1. Gejala klasik DM + GDS 200mg/dl
Glukosa sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari
tanpa memperhatikan waktu makan terakhir
2. Gejala klasik DM + GDP 126mg/Dl
Puasa diartikan pasien tidak mendapatkan kalori tambahan sedikitnya 8jam
3. Kadar glukosa darah 2 jam pada TTGO200mg/dl
TTGO dilakukan dengan standar WHO menggunakan beban glukosa
yang setara dengan 75g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air

Keluhan klinik diabetes

Keluhan klasik DM (+)

GDP126126
GPS200200

Keluhan klasik DM (-)

GDP126100-125<100
GDS200140-199<140

Ulangi GDS atau GDP


NORMAL
GDP>126<126
GDS200<200

DM

TTGO
GD 2 JAM
200140-199<140

TGT

Cara pelaksanaan TTGO (WHO,1994):


a. Tiga (3) hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan seharihari (dengan karbohirat yang cukup) dan kegiatan jasmani seperti biasa.
b. Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan,
minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan.
c. Diperiksa kadar glukosa darah puasa.
d. Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1,75 g/kgbb (anak-anak),
dilarutkan dalam 250 ml air dan diminum dalam waktu 5 menit.
e. Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2
jam setelah minum larutan glukosa selesai
f. Diperiksaa kadar glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa
g. Selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak
merokok.

GDPT

Pasien dengan Toleransi Glukosa terganggu dan Glukosa Darah Puasa


Terganggu merupakan tahapan sementara menuju DM. Setelah 5-10 tahun
kemudian 1/3 kelompok TGT akan berkembang menjadi DM, 1/3 tetap TGT
dan 1/3 lainnya kembali normal.
7. Penatalaksanaan
a. Tujuan
i. Jangka pendek
Menghilangkan keluhan/gejala DM dan mempertahankan rasa nyaman dan
sehat.
ii. Jangka panjang
Mencegah penyulit, baik makroangiopati, mikroangiopati maupun
neuropati, dengan tujuan akhir menurunkan morbiditas mortilitas DM.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian kadar
glukosa darah, tekanan darah, berat badan, dan profil lipid, insulin melalui
pengelolaan pasien secara holistic dengan mengajarkan perawatan mandiri dan
perubahan perilaku.
Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani
selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum
mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan pemberian obat
hipoglikemik oral (OHO) atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu OHO dapat
segera diberikan sesuai indikasi. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat,
misalnya ketoasidosis, stress berat, berat badan yang

menurun cepat, insulin

dapat segera diberikan. Pada kedua keadaan tersebut perlu diwaspadai


kemungkinan terjadinya hipoglikemia. Pemantauan kadar glukosa darah dapat
dilakukan secara mandiri, setelah mendapat pelatihan khusus.

b. Pilar Pengelolaan DM
i. Edukasi
Diabetes tipe II umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku
telah terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang diabetes memmerlukan

partisipasi aktif pasien, keluarga, dan masyarakat. Tim kesehatan mendampingi


pasien dalam menuju perubahan perilaku. Untuk mencapai keberhasilan
perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya
peningkatan motivasi.
Edukasi tersebut meliputi pemahaman tentang:
a) Penyakit DM
b) Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM
c) Penyulit DM
d) Intervensi farmakologis dan non farmakologis
e) Hipoglikemia
f) Masalah khusus yang dihadapi
g) Perawatan kaki pada diabetes
h) Cara pengembangan sistem pendukung dan pengajaran keterampilan
i) Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan
Edukasi secara individual atau pendekatan berdasarkan penyelesaian
masalah merupakan inti perubahan perilaku yang berhasil. Perubahan perilaku
hampir sama dengan proses edukasi yang memerlukan penilaian, perencanaan,
implementasi, dokumentasi, dan evaluasi. Masalah kaki yaitu borok di kaki
dengan atau tanpa infeksi terlokalisasi atau menyerang seluruh kaki adalah dan
kematian berbagai jaringan tubuh karena hilangnya suplai darah, infeksi bakteri,
dan kerusakan jaringan sekitarnya merupakan masalah utama pada penderita
diabetes.
ii. Terapi Gizi Medis
Terapi Gizi Medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan
diabetes secara total. Kunci keberhasilan TGM adalah keterlibatan secara
menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain dan
pasien itu sendiri). Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TGM sesuai
dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi. Prinsip pengaturan makan
pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat
umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat

gizi masing-masing individu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan


pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah
makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah
atau insulin.
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi:
a) Karbohidrat

60-70 %

b) Protein 10-15 %
c) Lemak 20-25 %
Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain:
a) Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Kebutuhan kalori
wanita sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/ kg BB.
b) Umur
Untuk pasien usia di atas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk
dekade antara 40 dan 59 tahun, dikurangi 10% untuk usia 60 s/d 69 tahun
dan dikurangi 20%, di atas 70 tahun.
c) Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik.
Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada kedaaan
istirahat, 20% pada pasien dengan aktivitas ringan, 30% dengan aktivitas
sedang, dan 50% dengan aktivitas sangat berat.
d) Berat Badan
Bila kegemukan dikurangi sekitar 20-30% ber-gantung kepada tingkat
kegemukan. Bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan
untuk meningkatkan BB. Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah
kalori yang diberikan paling sedikit 1000 - 1200 kkal perhari untuk wanita
dan 1200 - 1600 kkal perhari untuk pria.
Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas
dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%) dan sore (25%)
serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. Untuk meningkatkan
kepatuhan pasien, sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan.

11

Untuk penyandang diabetes yang mengidap penyakit lain, pola pengaturan makan
disesuaikan dengan penyakit penyertanya.
Indeks massa tubuh (IMT) dapat dihitung dengan rumus :
IMT = BB (kg) / TB (m2)
IMT Normal Wanita

: 18.5 23.5

IMT Normal Pria

: 22.5 25

BB kurang

: < 18.5

BB lebih
Dengan risiko

: 23.0-24.9

Obes I

: 2.5.0-29.9

Obes II

: 30.0

PENENTUAN KEBUTUHAN KALORI


Kalori Basal:
Laki-Laki : BB ideal (kg) X 30 kalori/kg = Kalori
Wanita

: BB ideal (kg) X 25 kalori/kg = Kalori

Koreksi/Penyesuaian:
Umur >40 tahun : -5% X Kalori basal = ... Kalori
Aktivitas Ringan : +10% X Kalori basal = Kalori

BB Gemuk

Sedang

: +20 %

Berat

: +30 %

: - 20 % X Kalori basal = - / + Kalori

Lebih

: - 10 %

Kurang

: +20 %

Stress metabolik: 10-30 % X Kalori basal = + ... Kalori


Hamil trimester I& II

= + 300 Kalori

Hamiltrimester III / laktasi

= + 500 Kalori

Total Kebutuhan = ... Kalori

Petunjuk Umum untuk Asupan Diet bagi Diabetes:


a) Hindari biskuit, cake, produk lain sebagai cemilan pada waktu
makan
b) Minum air dalam jumlah banyak, susu skim dan

minuman

berkalori rendah lainnya pada waktu makan


c) Makanlah dengan waktu yang teratur
d) Hindari makan makanan manis dan gorengan
e) Tingkatkan asupan sayuran dua kali tiap makan
f) Jadikan nasi, roti, kentang, atau sereal sebagai menu utama
setiap makan
g) Minum air atau minuman bebas gula setiap anda haus
h) Makanlah daging atau telor dengan porsi lebih kecil
i)

Makan kacang-kacangan dengan porsi lebih kecil

Pengaturan Makanan untuk penderita Diabetes Mellitus


Menurut ( Budiyanto, 2001) pengobatan penyakit untuk penyakit ini selalu
berupa obat atau suntikan. Diabetes mellitus juga dilakukan melalui makanan .
bila pada pemberian makanan juga disertai pemberian obat atau suntikan diabetes,
maka pengaturan makanan harus disesuaikan dengan pemberian obat.
1. Pemberian makanan pada pasien diabetes mellitus pada umumnya adalah
sebagai berikut :
a. Makanan dan olah raga ( dianjurkan pada pasien yang gemuk)
b. Makanan dan pemberian tablet diabetes mellitus ( dianjurkan pada pasien
dengan berat badan sedang)
c. Makanan dan suntikan insulin ( Dianjurkan pada apsien remaja)
1.

Tujuan diet pada penyakit Diabetes Mellitus


a. Menyesuaikan kemampuan tubuh untuk mengelola makanan
b. Menurunkan kadar gula darah agar mencapai standart yang normal

13

c. Mempertahankan tubuh supaya dapat melakukan pekerjaan sehari-hari


3. Syarat-syarat Diet untuk pasien Diabetes Mellitus
a.

Kalori rata-rata 30-35 kalori per kg berat badan

b.

Jumlah kalori yang diberikan sedikit dibawah normal dan sedapat


mungkin diusahakan dan dipertahankan berat badab normal

c.

Protein cukup 1 gram per kg berat badan

d.

Lemak antara 30-35% dari jumlah kalori sehari

e.

Vitamin serta mineral yang cukup


Prinsip pengaturan makan pada diabetisi hampir sama dengan anjuran

makan untuk orang sehat masyarakat umum, yaitu makanan yang beragam bergizi
dab berimbang atau lebih dikenal dengan gizi seimbang maksudnya adalah sesuai
dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Hal yang sangat
penting ditekankan adalah pola makan yang disiplin dalam hal Jadwal makan,
Jenis dan Jumlah makanan atau terkenal dengan istilah 3 J.
Pengaturan porsi makanan sedemikian rupa sehingga asupan zat gizi
tersebar sepanjang hari. Penurunan berat badan ringan atau sedang (5-10kg) sudah
terbukti dapat meningkatkan kontrol diabetes, walaupun berat badan idaman tidak
dicapai. Penurunan berat badan dapat diusahakan dicapai dengan baik dengan
penurunan asupan energi yang moderat dan peningkatan pengeluaran energi.
Dianjurkan pembatasan kalori sedang yaitu 250-500 kkal lebih rendah dari asupan
rata-rata sehari.
Komposisi makanan yang dianjurkan meliputi:
Karbohidrat
Rekomendari ADA tahun 1994 lebih memfokuskan pada jumlah total
karbohidrat daripada jenisnya. Rekomendasi untuk sukrosa lebih liberal. Buah dan
susu sudah terbukti mempunyai respon glikemik yang lebih rendah dari pada

sebagian besar tepung-tepungan. Walaupun berbagai tepung-tepungan mempunyai


respon glikemik yang berbeda, prioritas hendaknya lebih pada jumlah total
karbohidrat yang dikonsumsi daripada sumber karbohidrat.
Anjuran konsumsi karbohidrat untuk diabetesi di Indonesia:
1. 45-65% total asupan energi.
2. Pembatasan karbohidrat tidak dianjurkan < 130 g/hari.
3. Makanan harus mengandung lebih banyak karbohidrat terutama berserat tinggi.
4. Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% sehari ( 3-4 sdm)
5. Makan 3 kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam sehari.
Penggunaan pemanis alternatif pada diabetesi, aman digunakan asal tidak
melebihi batas aman (Accepted Dialy Intake).
1. Fruktosa < 50 gr/hr, jika berlebih menyebabkan diare
2. Sorbitol < 30 gr, jika berlebih menyebabkan kembung, diare
3. Manitol < 20 gr/hr
4. Aspartam 0 mg/ kg BB?hr
5. Sakarin 1 gr/hr
6. Acesulfame K 15 mg/kg BB/hr
7. Siklamat 11 mg/kg BB/hr
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian dari
perencanaan makan tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada individu
dengan diabetes tipe 1 dan 2. Sukrosa dari makanan harus diperhitungkan sebagai
pengganti karbohidrat makanan lain dan tidak hanya dengan menambahkannya
pada perencanaan makan. Dalam melakukan subtitusi ini kandungan zat gizi dari
makanan-makanan manis yang pekat dan kandugan zat gizi lain dari makanan
yang mengandung sukrosa harus dipertimbangkan, seperti lemak yang sering
ada bersama sukrosadalammakanan.
Fruktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil daripada sukrosa dan
kebanyakan karbohidrat jenis tepung-tepungan. Dalam hal ini fruktosa dapat
memberikan keuntungan sebagai bahan pemanis pada diet diabetes. Namun
pengaruhnyadalam

jumlah

besar

(20%

energi)

potensial

merugikan

15

pada kolesterol dan LDL. Penderita disiplemia hendaknya menghindari


mengkonsumsi fruktosa dalam jumlah besar, namun tidak ada alasan untuk
menghindari makanan sepertibuah-buahan dan sayuran yang mengandung
fruktosa alami maupun konsumsi sejumlah sedang makanan yang mengandung
pemanis fruktosa.
Sorbitol, manitol dan xylitol adalah gula alkohol biasa mengadung 7 kalori
/gram menghasilkan respon glikemik lebih rendah daripada sukrosa dan
karbohidrat

lain.

Penggunaan

pemanis

tersebut

secaraberlebihan

dapat

mempunyai pengaruh laksatif. Sakarin, aspartame adalah pemanis tak bergizi


yang dapat diterima sebagai pemanis pada semua penderita DM.
Serat
Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang
yang tidak diabetes yaitu dianjurkan mengkonsumsi 20-35 gr serat makanan dari
berbagai sumber bahan makanan. Di Indonesia anjurannya adalah kira-kira 25
gr/1000 kalori/ hari dengan mengutamakan serat larut air.
Protein
Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia tahun 2006 kebutuhan
protein untuk diabetisi 15%-20% energi. Perlu penurunan asupan protein menjadi
0,8 g/kg berat badan perhari atau 10% dari kebutuhan energi dengan timbulnya
nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai biologic tinggi.
Sumber protein yang baik adalah ikan, seafood, daging tanpa lemak, ayam tanpa
kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan dan tahu-tempe.
Total lemak
Anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20-25% energi. lemak jenuh < 7%
kebutuhan energi dan lemak tidak jenuh ganda <10% kebutuhan energi,
sedangkan selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. Asupan kolesterol makanan
hendaknya dibatasi tidak lebih dari 300 mg perhari.

Apabila peningkatan LDL merupakan masalah utama, dapat diikuti anjuran diet
disiplin diet dislipidemia. Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan
kolesterol adalah untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Garam
Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu
tidak lebih dari 3000 mgr atau sama dengan 6-7 g (1 sdt) garam dapur, sedangkan
bagi yang menderita hipertensi ringan sampai sedang, dianjurkan 2400 mgr
natrium perhari atau sama dengan 6 gr/hari garam dapur. Sumber natrium antara
lain adalah garam dapur, vetsin dan soda.
Alkohol
Anjuran penggunaan alkohol untuk orang dengan diabetes sama dengan
masyarakat umum. Dalam keadaan normal, kadar glukosa darah tidak terpengaruh
oleh penggunaan alkohol dalam jumlah sedang apabila diabetes terkendali dengan
baik. Alkohol dapat meningkatkan resiko hipoglikemia pada mereka yang
menggunakan insulin atau sulfonylurea. Karena itu sebaiknya hanya diminum
pada saat makan. Bagi orang dengan diabetes yang mempunyai masalah kesehatan
lain seperti pancreatitis, dislipidemia, atau neuropati mungkin perlu anjuran untuk
mengurangi atau menghindari alkohol. Asupan kalori dari alkohol diperhitungkan
sebagai bagian dari asupan kalori total dan sebagai penukar lemak (1 minuman
alcohol sama dengan 2 penukar lemak).
Kebutuhan kalori
Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal.
Komposisi energy adalah 45-65% dari karbohidrat, 10-20% dari protein dan 2025% dari lemak. Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang
dibutuhkan orang dengan diabetes. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan
kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal, ditambah dan
dikurangi bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis kelamin, umur, aktivitas,
kehamilan/laktasi, adanya komplikasi dan berat badan.
Perhitungan berat badan ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi:

17

BBI = 90% x (TB dalam cm-100) x 1 kg


Bagi pria dengan TB di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm , rumus
modifikasi menjadi: BBI = (TB dalam cm 100) x 1 kg
BB Normal : bila BB ideal 10%
Kurus :
Gemuk : > BBI + 10%

Faktor-faktor penentu kebutuhan energy yaitu:


Jenis kelamin
Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kkal/kg BB ideal dan pria 30 kkal/kg
BB ideal
Umur
Pasien usia > 40 tahun , kebutuhan kalori :
- 40-59 tahun dikurangi 5% dari energi basal
- 60-69 tahun dikurangi 10 % dari energi basal
- > 70 tahun dikurangi 20% dari energi basal
- Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi
daripada orang dewasa, dalam tahun pertama bisa mencapai 112 kal/kg
BB.
- Umur 1 tahun membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya
pada anak-anak lebih daripada 1 tahun mendapat tambahan 100 kalori
untuk tiap tahunnya.
Aktifitas fisik atau pekerjaan
Kebutuhan kalori ditambah sesuai dengan intensitas aktifitas fisik
Penambahan kalori dari aktifitas fisik:
- Keadaan istirahat : ditambah 10% dari kebutuhan basal
- Keadaan aktifitas ringan: ditambahkan 20% dari kebutuhan basal
- Keadaan aktifitas sedang: ditambahkan 30% dari kebutuhan basal

- Keadaan aktifitas berat dan sangat berat: ditambahkan 40 & 50% dari
kebutuhan basal
Jenis aktifitas dikelompokkan sebagai berikut :
- Keadaan istirahat : berbaring di tempat tidur.
- Ringan : pegawai kantor, pegawai toko, guru, ahli hukum, ibu rumah
tangga dan lain-lain
- Sedang : pegawai di industri ringan, mahasiswa, militer yang sedang
tidak perang, .
- Berat : petani, buruh, militer dalam keadaan latihan, penari, atlit.
- Sangat berat : tukang becak, tukang gali, pandai besi.
Berat badan
- Bila gemuk: dikurangi 20-30% tergantung dari tingkat kegemukan.
- Bila kurus: ditambah 20-30% tergantung dari tingkat kekurusan untuk
menambah berat badan.
- Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan paling
sedikit 1000-1200 kalori perhari untuk wanita dan 1200-1600 kalori
perhari untuk pria.
Pembagian makanan sejumlah kalori terhitung dibagi dalam 3 porsi besar
makan pagi (20%), siang (30%) dan sore (25%) serta 2-3 porsi makanan ringan
(10 -15 % ). Untuk meningkatkan kepatuhan pasien, sejauh mungkin perubahan
dilakukan secara bertahap dan harus disesuaikan dengan kebiasaan makan.

19

DAFTAR PUSTAKA
Depkes (2008) Pedoman Teknis Penemuan dan Tata Laksana Penyakit Diabetes
Melitus Cetakan ke 2
National Diabetes Fact Sheet 2011 diakses dari www.cdc.gov
Petunjuk Praktis Terapi Insulin pada Pasien Diabetes Melitus
Perkeni (2006) Konsensus Pengelolaan dan Penceghan Diabetes Melitus Tipe 2 di
Indonesia