Anda di halaman 1dari 2

Intoksikasi Dextromethorphan

Dextromethorphan tidak bereaksi pada reseptor opiat sub tipe mu (seperti halnya
morfin atau heroin), tetapi dextromethorphan bereaksi pada reseptor opiat sub tipe sigma,
sehingga efek ketergantungannya relatif kecil. Pada dasarnya, dekstrometorfan apabila
digunakan secara tepat dan sesuai aturan, jarang menimbulkan efek samping yang berarti.
Pada dosis besar, efek farmakologi Dextromethorphan menyerupai ketamin yang merupakan
antagonis reseptor NMDA. Dalam kasus overdosis, banyak mansifestasinya yang
mempengaruhi otak besar. Dilihat dari akibat-akibat ditimbulkan, depresi sistem pernapasan
merupakan akibat yang paling fatal. Ini dikarenakan otak dapat mengalami kondisi hipoksia /
kekurangan oksigen. Akibat dari hipoksia,terjadinya perubahan pada sistem syaraf pusat.
Hipoksia akut akan menyebabkan gangguan inkoordinasi motorik (gerakan tubuh tak
terkoordinir) dan gambaran klinis yang mempunyai gambaran sama pada alkoholisme akut.
Kalau

keadaan

hipoksia

berlangsung

lama

mengakibatkan

gejala

keletihan,

pusing,apatis,gangguan daya konsentrasi, kelambatan waktu reaksi dan penurunan kapasitas


kerja. Begitu hipoksia bertambah parah pusat batang otak akan terkena,dan kematian
biasanya disebabkan oleh gagal pernapasan.
Penyalahgunaan Dextromethorphan menggambarkan adanya 4 plateau yang
tergantung dosis, seperti berikut :
a. First Plateau
Dosis : 100-200 mg
Efek : Stimulasi ringan
b. Second Plateau
Dosis : 200-400 mg
Efek : Euforia dan halusinasi
c. Third Plateau
Dosis : 300-600 mg
Efek : Gangguan persepsi visual, hilangnya koordinasi motorik

d. Fourth Plateau
Dosis : 500-1500 mg
Efek : Dissociative sedation
Terapi Intoksikasi Dekstrometorphan
Tanpa hipoventilasi : dosis awal diberikan 0,4 mgiv
Dengan hipoventilasidosis awal diberikan 1-2 mgiv
Bila tidak ada respon dalam 5 menit diberikan nalokson 1-2 mgiv hingga timbul respon
perbaikan kesadaran dan hilangnya depresi pernafasan,dilatasi ppupil atau telah
mencapai dosis maksimum 10 mg