Anda di halaman 1dari 6

KUSTA

DEFINISI
Kusta merupakan penyakit infeksi kronik dan penyebabnya adalah
Mycobacterium Leprae. Saraf perifer menjadi afinitas pertama, kemudian
kulit, dan mukosa tractor respiratorious bagian atas, dapat kebagian lain
kecuali SSP.
EPIDEMIOLOGI
Epidemiologinya belum jelas, namun cara penularan penyakit ini
diduga melalui kontak langsung anatar kulit yang lama dan erat, dan
secara inhalasi. Mycobacterium leprae dapat hidup beberapa hari didalam
droplet
Factor yang perlu dipertimbangkan sebagai penyebab adalah
pathogenesis kuman penyebab, cara penularan, keadaan social ekonomi,
lingkungan, dan kerentanan imunitas.
Kusta bukan penyakit keturunan, kuman dapat ditemukan di kulit,
folikel rambut, kelenjar keringat dan air susu ibu. Sputum yang banyak
mengandung M. Leprae berasal dari tractus respiratorious atas. Penyakit
ini dapat menyerang siapa saja, namun frekuensi tertinggi terdapat pada
rentang usia 25 35 tahun.
Penderita kusta tidak hanya stress karena penyakitnya, namun
karena dikucilkan masyarakat. Hal ini diakibatkan karena pada penderita
kusta dapat terjadi :
1. Ulserasi
2. Mutilasi
3. Deformitas
Kerusakan juga terjadi pada saraf yang bersifat ireversibel :
1.
2.
3.
4.

Wajah
Ekstremitas
Motoric
Sensorik

ETIOLOGI
Kuman M. Lerprae ditemukan oleh G.A. HANSEN dan sampai
sekarang belom bisa dibiakan dalam media artifisial. Kuman ini berukuran
3-8 um x 0,5um, tahan asam dan alcohol serta gram-positif.
PATOGENESIS

Mycobacterium Leprae memiliki patogenitas dan daya invasi yang


rendah, sebab penderita yang banyak mengandung kuman ini belum
tentu menunjukan gejala yang lebih berat, bisa saja sebaliknya. Hal ini
disebabkan oleh respon imun yang berbeda setiap orang. Oleh karena itu
penyakit kusta disebut juga penyakit imunologik.
GEJALA KLINIS
Gejala klinis kusta tergantung kepada tipe kusta yang diderita
pasien, klasifikasi kusta dibagi menjadi 4 bagian secara umum
:
1. Ridley & Jopling
2. Madrid
Lepromatosa
3. WHO
4. Puskesmas

: TT, BT, BB, BL, LL


: Tuberkuloid, Borderline,
: Pausibasilar ( PB ), Multibasilar ( MB )
: PB dan MB

Klasifikasi yang dipakai secara umum adalah WHO yaitu PB dan MB,
keduanya dibedakan dari hasil BTA, jika hasil BTA (+) maka dimasukan
dalam tipe MB, dan berikut adalah gejala klinisnya :
1. Pausibasilar (PB) : mengandung sedikit kuman seperti ( TT, BT
dan I )
a. Lesi pada kulit antara 1 5
b. Terapat hipopigmentasi / eritema
c. Distribusi tidak simetris
d. Hilangnya sensasi ( anestesi ) jelas
e. Hanya satu cabang saraf yang terkena
2. Multibasilar (MB) : mengandung banyak kuman seperti ( LL,
BL, BB )
a. Lesi pada kulit lebih dari 5
b. Distribusi lebih simetris
c. Hilangnya sensasi ( anestesi ) kurang jelas ( hipoestesi )
d. Banyak cabang saraf yang terkena
Saraf perifer adalah yang biasanya terkena, gejala yang dinilai saat
pemeriksaan adalah pembesaran, konsistensi, ada/tidaknya nyeri
spontan dan nyeri tekan. Saraf yang perlu diperiksa diantaranya :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

N.
N.
N.
N.
N.
N.
N.

fasialis
aurikularis magnus
radialis
ulnaris
medianus
popliteal lateralis
tibialis posterior

Pada tipe mengarah ke Lepromatosa saraf yang terkena biasanya bilateral


dan menyeluruh, sedangkan pada tipe mengarah ke Tuberkuoid saraf
yang terkena terlokalisasi mengikuti tempat lesinya.

Deformitas atau cacat kusta dibagi menjadi cacat primer dan cacat
sekunder. Cacat primer adalah akibat langsung dari granuloma yang
terbentuk karena reaksi terhadap M. Lerpae yang mendesak masukdan
merusak jaringan. Cacat sekunder adalah akibat dari cacat primer
terutama kerusakan saraf ( sensorik, Motorik, Otonom ) seperti kontraktur,
mutilasi tangan dan kaki.
Gejala-gejala kerusakan saraf :
1. N. ulnaris
a. Crawling kelingking dan jari manis
2. N. medianus
a. Crawling kelingking dan jari tengah
3. N. radialis
a. Tangan tergantung ( Wrist drop )
4. N. poplittea lateralis
a. Kaki tergantung ( Foot drop )
5. N. tibialis posterior
a. Claw toes
6. N. fasialis
a. Kehilangan ekspresi wajah, kegagalan menutup bibir
7. N. trigeminus
a. Anestesi wajah, kornea, dan konjungtiva mata
b. Atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral
PENUNJANG DIAGNOSIS
1. Pemeriksaan bakterioskopik ( BTA )
a. Dilakukan dengan pewarnaan ZIEHL NEELSEN
b. Sampel diambil dari lesi yang paling aktif
c. Irisan dilakukan sampai di dermis, melampaui
subepidermal clear zone agar sampai ke Virchow sel
( jaringan yang banyak mengandung M. Leprae
d. M. Leprae tergolong dalam BTA, maka pada sediaan
akan tampak merah. Kuman ini ada yang utuh ( solid ),
terputus ( fragmented ), butiran ( granular ). Solid dan
non-solid itu membedakan bentuk hidup dan mati,
bentuk hidup adalah yang paling berbahaya.
e. Nilai kepadatan BTA dinyatakan dengan indeks bakteri
( IB ) Sbb :

1+ bila 1-10 BTA dalam 100 LP

2+ bila 1-10 BTA dalam 10 LP

3+ bila 1-10 BTA dalam 1 LP

4+ bila 11-100 BTA dalam 1 LP

5+ bila 101-1000 BTA dalam 1 LP

6+ bila >1000 BTA dalam 1 LP


2. Pemeriksaan histopatologik
3. Pemeriksaan serologic

a. Memeriksa antibody pada tubuh pasien yang terinfeksi


M. Leprae
b. Antibody itu adalah anti-phenolic glycolipid ( PGL-1 ) dan
antibodi anti-protein 16 kD serta 35 kD
c. Uji MLPA ( mycobacterium leprae particle agglutination )
d. Uji ELISA ( enzyme linked immune-sorbent assay )
e. ML dipstick test ( mycobacterium leprae dipstick )
f. ML flow test ( mycobacterium leprae flow test )
REAKSI KUSTA
Reaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjlanan
penyakit yang sebenarnya sangan kronik. Reaksi kusta diklasifikasikan
sebagai berikut :
1. Reaksi ENL ( eritema nodusum leprosum )
a. Biasanya timbul pada tipe BL atau lepromatosa dan
semakin tinggi tingkat MB-nya semkin tinggi resiko
timbul ENL
b. Secara imunopatologis ENL termasuk respon imun
humoral, reaksi antara M. Leprae + antibody ( IgM, IgG )
+ komplemen/kompleks imun
c. Pada kulit akan timbul nodus eritem, nyeri dengan
tempat predileksi lengan dan tungkai
2. Reaksi Reversal atau reaksi upgrading
a. Pada kulit lesi yang sudah ada bertambah parah seperti
hipopigmentasi menjadi eritem, lesi eritem menjadi
eritematosa, lesi macula menjadi infiltrate, dan lesi
menjadi semakin luas
PENGOBATAN

Pengobatan diatas adalah MDT, untuk tipe PB pengobatanya


adalah 6-9 bulan, untuk tipe MB pengobatanya adalah 24-36
bulan.
Release from treatment ( RFT ) syarat seseorang dinyatakan
RFT adalah hasil negative dari pemeriksaan bakterioskopik
selama 5 tahun.

PENCEGAHAN CACAT
Hal ini ditujukan untuk mencegah tingkat keparahan cacat fisik dari
pasien, dan dilakukan dengan cara Sbb :
a.
b.
c.
d.
e.

Minun obat teratur


Menjaga kelembaban kulit
Menjaga diri dari trauma
Latihan untuk kelumpuhan otot
Membuat alas kaki untuk kaki yang anestesi

WHO expert committee on leprosy membuat klasifikasi cacat pada


tangan dan kaki sebagai berikut :
a. Tingkat 0
b. Tingkat 1
c. Tingkat 2

: sensibilitas, kerusakan, deformitas ( - )


: sensibilitas ( + ), kerusakan dan deformitas ( - )
: keruskan dan deformitas ( + )

WHO expert committee on leprosy membuat klasifikasi cacat pada


mata sebagai berikut :
a. Tingkat 0
: kelainan, kerusakan ( visus ) ( - )
b. Tingkat 1
: visus sedikit berkurang, kelainan dan
kerusakan ada, namun tidak terlihat
c. Tingkat 2
: lagofthalmus, iritasi, kornea keruh, dan visus
(+)

REHABILITASI
Bertujuan memperbaiki secara kosmetik dan fungsi, dan juga untuk
memperbaiki psikis pasien.