Anda di halaman 1dari 9

BAB VII

NEGARA DAN BANGSA


1. Pengertian Bangsa
Persoalan bangsa menjadi semakin penting artinya dalam Ilmu Negara modern. Hali ini
terutama disebabkan karena menjadi bertambah luasnya pengeruh asas nasionalitas.
Ilmu Negara pada saat ini tidak lagi membatasi arti BANGSA dalam arti sekumpulan
manusia ang terikat dalam ikatan Negara ataupun ada di bawah satu pemerintah. Bukan organ
(organisasi kewibawaan) yang menjadi ukuran/criteria ntuk menentukan satu bangsa, melainkan
bangsalah yang menjadi ukuran untuk menentukan organ. Bukti mengenai ini dapat dilihat dalam
penamaan organisasi antar Negara tidak dinamakan SERIKAT NEGARA-NEGARA (SOCIETE
DES ETATS) melainkan PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA (SOCIETE DES NATIONS).
Pada perjanjian Versailles asas nasionalitas ini telah disepakati. Negara harus berdasarkan
atas bangsa. Negara hendaklah merupakan bangsa yang disusun dalam suatu organisasi/Negara.
Dr. Friederich Hertz telah mengemukakan tentang NATIE dalam ceramahnya yang
berjudul wesn und warden der nation, kesadaran bernegara dari suatu natie mengandung
empat unsur.
Unsur-unsur tersebut adalah:
1.
2.
3.
4.

Hasrat untuk mencapai kesatuan bangsa;


Hasrat untuk mencapai kemerdekaan bangsa;
Hasrat untuk mencapai keaslian bangsa;
Hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa.
Dalam bahasa Belanda kata volk memunyai beberapa arti:

1. Volk dalam arti rakyat jelata - sebagai lawan dari golongan elite;
2. Volk dalam arti rakyat umum - sebagai lawan dari pemerintah;
3. Volk dalam arti rakyat yang tergabung dalam satu organisasi Negara sebagai lawan dari
rakyat lain yang tergabung dalam organisasi Negara lainnya.
Sebutan yang terakhir ini dipergunakan untuk membedakan bangsa/rakyat yang satu
dengan rakyat yang lainnya, misalnya bangsa Inggris, bangsa Belanda, bangsa Perancis dan lainlain.
Demikianlah kita dapat menarik kesimpulan bahwa ketiga pengeritik VOLK tadi telah
dipergunakan ukuran yang berlainan antara satu dengan yang lainnya.

Volk dalam arti yang pertama telah menggunakan ukuran keadaan ekonomi dan social,
seingga artinya menjadi segolongan manusia yang hidup dalam tingkat ekonomi dan social yang
sama.
Volk dalam arti yang kedua ialah seluruh kaula Negara, disini dipergunakan ukuran
jabatan, yang diperintah dan memerintah.
Volk dalam arti yan ketiga ialah segolongan manusia yang terikat dalam persamaan nasib
dalam rangka hubungannya dengan daerah tertentu, yaitu tanah air.
Volk dalam pengertian yang ketiga inilah yang akan dibahas dalam ilmu Negara.
Rothenbucher: bangsa adalah segolongan manusia yang mempunyai perasaan termasuk
dalam golongan yang sama (GEFUHLGEMEINSCHAFT). Jadi unsur yang dipergunakan untuk
menentukan bangsa ialah adanya perasaan termasuk golongan yang sama(gefuhlgemeinscchaft).
Kesadaran dianggap tidak perlu ada untuk menentukan bangsa. Bangsa sudah ada sebelum
kesadaran itu ada.
Kranenburg tidak sependapat dengan paham ini, meskipun pangkal haluannya sudah
dianggpnya benar. Memanglah benar bahwa tidak setiap individu mempunai cuup kesadaran
untuk hidup bersama dalam satu bangsa. Tetapi satu sifat khas dari bangsa (yang telah disepakati
dalam hidup bernegara) ialah setiap individu anggota masyarakat pada umumnya sadar
berkeinginan untuk mengorganisir secara merdeka, sadar akan perasaan seia-sekata dan sadar
akan keberatannya untuk hidup bersama dengan golongan lain dalam satu organisasi/Negara.
Kesimpulan
BANGSA ADALAH SEGOLONGAN MANUSIA YANG MEMPUNYAI
PERSAMAAN-PERSAMAAN NASIB, PERASAAN NASIB YANG SAMA
DAN MEMPUNYAI KESADARAN UNTUK BERNEGARA.
Kenyataan telah menunjukkan buktinya, penduduk Italia Utara yang pada permulaan dan
pertengahan abad ke-19 hidup di bawah kekuasaan Austria, dan dianggp sebagai warganegara
Austria. Mereka ini sadar bahwa hal tersebut tidak dikehendaknya, jadi bukanlah atas kehendak
mereka dimasukkan ke dalam kewarganegaraan Austria. Mereka secara sadar menghendaki
hidup bersama dengan orang sebangsa, yaitu orang Italia dalam sat Negara.
Penduduk Polandia yang sebagian hidup di bawah pemerintah Austria, sebagian di bawah
Prusia dan sebagian lagi dibawah Rusia. Mereke ini sadar tidak menghendaki keadaan yang
demikian ini. Yang secara sadar mereka inginkan ialah hidup bersama di bawah Negara Poladia.
Menurut KRANENBURG justru kesadaran inilah yang telah menyebabkan segolongan
manusia/bangsa menjadi berani untuk mengorbankan harta bahkan kalau perlu jiwanya untuk
mencapai cita-cita yang mereka sadarai sepenuhya, yatu keinginan untuk menjadi satu bangsa

yang hidup dalam lingkungansatu Negara/organisasi yang mereka anut sendiri. Jadi tidak benar
kalau kesadaran itu dianggap sebagai hal yang tidak penting dalam membentuk bangsa, seperti
dikatakan oleh ROTHEN-BUCHER.
Walaupun demikian, hendaklah jangan dilupakan bahwa sesungguhnya kita tidak dapat
menentukan, bilamanakah sebenarnya kesadaran itu timbul, bilamanakah kehendak-kehendak itu
terjadi? Misalnya, dalam hal terbentuknya BANGSA AMERIKA, memangkah benar bahwa
DECLARATION OF INDEPENDENCE dapat dianggap sebagai saat kelahiran bangsa
Amerika, akan tetapi kesadaran akan kehendak untuk menjadi bangsa Amerika sudah lama ada
sebelumnya bangsa tersebut lahir. Declaration hanyalah merupakan bentuk uarnya saja,
sedangkan isinya sudah terlebih dahulu ada.
Demikian juga halnya dengan terjadinya bangsa Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia hanyalah merupakan bentuk luar (formeel) yang dipergunakan untuk menyatakan
bangsa Indonesia, sedangkan dan kehendak akan adanya bangsa Indonesia sudah ada
sebelumnya. Sperti kita ketahui ahwa Proklamasi itu dikeluarkan atas nama/wakil-wakil bangsa
Indonesia. Jadi pada saat itu bangsa Indonesia sudah ada, tepatnya sudah ada sebelum saat
proklamasi itu.
Apakah yang menebabkan timbulnya kesadaran untuk hidup bernegara/berbangsa itu?
Ernest Renan mengatakan, kesadaran bersama dapat mengadakan hal-hal yang luar
biasa. Kesadaran dari sekelompok manusia dapat mewujudkan tindakan-tindakan yang hebat dari
kelompok tadi. Dalam hal pembentukan suatu bangsa yaitu kesadaran bersama untuk bersatu (le
des sir derte ensemble). Jadi kesadaran bersama akan bersatu dapat menciptakan terbentuknya
bangsa.
Kranenburg dalam kritik mengatakan, memenang benar kesadaran bersama akan
kehendak bersatu merupakan faktor psichis yang penting yang menyebabkan terbentukna suatu
bangsa, tetapi disamping faktor tersebut masih ada faktor-faktor lainnya yang memegang
peranan yang tidak kalah pentingnya dengan faktor psichis tadi, misalnya saja peneritaan
bersama, persamaan nasib, ancaman bahaya yang sama, semuanya itu merupakan faktor-faktor
yang turut serta menentukan terbentuknya bangsa.
Meski demikian bagi setiap bangsa ada kejadian-kejadian, sejarah suatu bangsa, bahkan
faktanya terpaku abadi dalam kesadaran bangsa atau golongan yang akan merupakan kesaran
nasional yang akan memberikan corak tertentu terhadap cara berpikir dan tujuan bangsa.
Misalnya: kekejaman raja yang absout di negeri Belanda telah mencetuskan suatu revolusi pada
abad ke-14 yang menentang kekuasaan raja: rakyat Belanda menghendaki kebebasan dalam
berbagai hal termasuk kebebasan beragama. Mereka tidak mau dipaksa/diwajibkan memeluk
agama yang sama dengan agama pegnuasa. Kekangan, penindasan terhadap rakyat Belanda yang
begitu mendalam dirasakan, telah memberikan corak terhadap sifat bangsa tersebut.

Demikian pula hanyla dengan raja Inggris yang absolute telah menjadikan salah satu
sebab lahirna Magna Chatra (Piagam Hak Asasi), perubahan konstitusional yang melahirkan
kebebasan yang melembaga dalam kehidupan bangsa Inggris.
Pengalaman bangsa Perancis tentang revolusinya yang membawa akibat-akibat yang luar
biasa. Kehebatan pahlawan-pahlawan seperti Napoleon, Jeanne Darc, keahliannya berperang
dan dalam bidang legislative telah menjadikan bangsa Perancis suatu bangsa yang kuat dalam
bidang kemiliteran dan administrasi Negara.
Jelaslaj sudah bahwa cita-cita bersama, kehendak bersama dan pengalaman bersama yang
pahit telah membentuk kesadaran bersama untuk menjadi suatu bangsa.
Terbentuknya suatu bangsa adalah merupakan suatu peristiwa psichologis dan tidaklah
dapat dibenarkan pendapat yang menganggap terbentuknya bansa karena persamaan keturunan
ataupun persamaan darah.
Hendaklah diingat bahwa dalam hal ini bangsa merupakan terjemahan dari natie, bukan
rasa tau volk. Jika asas keturunan dianggp sebagai faktor yang membentuk bangsa, maka
akibatnya di dunia ini tidak akan kita temui satu bangsa pu tidak akan aka nada bangsa.
Bukankah hampir semua manusia di dunia ini telah mengandung di tubuhna darah atau
keturunan yang telah bercampur-baur satu sama lain. Percampuran itu terjadi baik karena
perpindahan penduduk, penjajahan ataupun penaklukan oleh sekelompok yang satu terhadap
kelompok yang lainnya. Lihat saja buktinya dengan yang dikenal sekarang sebagai bangsa
Amerika, terdiri dari berbagai suku atau keturunan, berbagai ras dan berbagai volk. Walaupun
demikian bangsa amerika tetap merupakan kesatuan yang kuat dengan perasaan kesadaran
bangsa/Negara yang kuat.
Teori ras/keturunan tidak lagi dapat dipergunakan dalam hal pembentukan bangsa, teori
ini hanya berpengaruh dalam hal superioritas daripada ras. Walaupun demikian hal yang terakhir
ini pun ditolak juga oleh KRANENBURG, ia mengatakan bahwa superioritas dari suatu ras
bukanlah disebabkan oleh karena keturunan, melainkan sesuatu hal yang umum atau hal biasa
saja. Seseorang atau sekelompok orang yang tergabung dalam satu organisasi selalu akan
menganggap atau berpendapat bahwa organisasinyalah yang nomor satu di dnia lebih unggul
daripada yang lain.
Perkembangan kesadaran bernegara (perasaan satu bangsa) dalam tahap lebih lanjut
dimana persatuan telah kuat, akan menolak penyisipan oleh golongan atau bangsa/suku lain dan
akan dianggap membahayakan terhadap kesatuan bangsa. Misalnya: bangsa Rusia, Austria, dan
Prusia tidak dapat lagi mengasimilir/menerima Poladia ke dalam bangsa mereka, meski wilayah
bangsa Polandia menjadi daerah jajahan Negara-negara tersebut.
Dalam hal terbentuknya bangsa tidaklah dapat dilupakan sejarah pahit, penderitaan suatu
bangsa yang kemudian akan memberikan halauan atau tujuan bagi bangsa, dan yang akan

melahirkan mythos yang membakar semangat rakyat untuk mencapai suat tujuan. Dalam hal ini
dapat dilihat contoh dari kata-kata AMANAT PENDERITAAN RAKAT yang menjadi
pendorong agar pembangunan segera dilaksanakan di Indonesia. Mithos Imperium Romawi
sebagai suatukerajaan yang meliputi seluruh dulia, mithos bangsa Jerman (Aria) sebagai suatu
bangsa yang gagah berani akan memerintah dunia. Deutsland Uber alles. Kedua mythos ini telah
menyebabkan malapetaka terhadap bangsanya sendiri dan juga merusak bangsa lain, kerukunan
hidup antar bangsa menjadi terganggu ketenangannya.
2. Watak Bangsa
Mithos dan hal yang fantastis ternyata berpengaruh dalam hidup suatu bangsa. Dan hal
ini berlainan bagi setiap bangsa. Watak bangsa (karakter) dianggap mempunyai hubungan
dengan susunan Negara dan cara kerja suatu bangsa.
Sebagaimana halnya watak setiap orang yang hidup dalam suatu pergaulan hidup
(kelompok) aka turut mempengaruhi susunan, tata tertib pergaulan hidup kelompoknya,
demikian pula halnya dengan watak bangsa. Watak bangsa merupakan faktor yang turut
menentukan susunan lembaga Negara dan cara kerja bangsa.
ARISTOTELES mengatakan bahwa terdapat hubungan sebab dan akibat watak bangsa
dengan susunan lembaga Negara dan cara bekerja suatu bangsa. Susunan kerajaan bangsa yang
satu akan berlainan dengan susunan kerajaan bangsa yang lainnya dan hal ini disebabkan oleh
watak bangsa tadi yang berlainan. Demikianlah kita melihat selalu terdapat tyrani yang turun
temurun pada bangsa Barbar, karena menurut Aristoteles orang Barbar lebih bersifa budak, lebih
mudah diperintah jika dibandingkan dengan orang Hellas. Demikian pula ia menganggap orang
Asia tahan akan penjajahan disbandingkan dengan orang Eropa.
Berikut ini kita kemukakan pendapat sarjana yang bernama Heymans yang mengatakan,
orang choleris yang mempunyai sifat emosional, gugup, dan sentimental mempunyai keinginan
yang kecil saja untuk turut campur dalam urusan duniawi, lebih suka menuruti kata hatinya.
Orang-orang seperti ini umumnya malas dan lebih mudah untuk diperintah/dijajah. Sebaliknya
orang-orang flegmatis lebih mempunyai inisiatif untuk berbuat, lebih giat, berani dan tekun
dengan keasyikannya berpikir.
Paham-paham yang seperti ini juga masih dijumpai pada sarjana-sarjana modern seperti
yang berikut ini.
Bryce, dalam bukunya Studies in History and Jurisprudence Bagian 1 halaman 49
tentang The Roma Empire and British Empire in India mengatakan, kelanggengan dan
kelangsungan kedua kerajaan tersebut di atas adalah disebabkan oleh faktor watak bangsa yang
dimilikinya. Bangsa Inggris mempunyai kemauan dan keuletan yang kuat (secara psichologi
disebutkan sebagai mempunyai pengaruh fungsi skunder yang kuat). Pada bangsa ini tidak ada
watak emosional yang menimbulkan fantasi yang mengakibatkan keputusan diambil secara tidak

dipikirkan masak-masak. Bangsa ini akan membuat keputusan secara tenang dan terkendalikan.
Dalam hal ini Kranenburg menambahkan bahwa keberhasilan bangsa Inggris bukanlah karena
faktor tersebut di atas saja, tetapi juga ditambahkannya dengan faktor.
Menarik pula pendapat DR. Elias Hurwicz tentang PSICHOLOGI BANGSA, yaitu
tentang cirri-ciri pelbagai bangsa, Ia menganggap psichologi bangsa sebagai suatu cabang ilmu
dari ilmu psichologi umum dan disebutkan sebagai psichologi khusus. Hanya sayang ucapan ini
hanya merupakan cita-cita saja, belum dibuatnya suatu penelitian dan pembahasan tentang hal
ini.
Hurwicz membandingkan watak bangsa Inggris dengan watak bangsa Rusia. Bangsa
Inggris menurut pendapatnya lebih menunjukkan ciri-ciri flegmatis, bangsa ini lebih giat, tekun
dan tidak emosional. Bangsa Rusia lebih menunjukkan adanya sifat choleris yaitu: malas, gugup,
emosional, urang giat dan kurang tekun.
Kranenburg tidak setuju dengan paham ini. Ia memperingatkan bahwa paham tersebut di
atas masih perlu diteliti lebih seksama. Penelitian dan pengujian secara ilmiah yang dilakukan
seama ini dapat dikatakan masih belum ada sama sekali, atau setidak-tidaknya belum dilakukan
penelitian secara menyeluruh dan belum menghasilkan analisa yang memuaskan.
Demikian pula halnya tentang hubungan sebab dan akibat antara watak bangsa dengan
susunan Negara dan cara kerja bangsa , teori ini pun belum dapat meyakinkan. Dalam kritik
selanjutnya ia mengatakan bahwa, meskipun ada kemungkinan faktor-faktor emosi, kegiatan dan
ketenagan mempunyai pengaruh terhadap watak bangsa, tetapi hendaklah faktor-faktor tersebut
jangan dianggap sebagai faktor yang berpengaruh secara mutlak. Paling bisa hanyalah dapat
dianggap sebagai faktor yang berpengaruh secara relative saja. Hal yang terakhir ini
dikemukakan karena ia melihat kemungkinan adanya pengaruh watak bangsa terhadap jenis-jenis
pekerjaan tertentu/khusus. Contoh berikut ini akan membuktikan hal tersebut.
Bangsa yang berwatak gugul, emosional dianggap lebih cocok untuk pekerjaan-pekerjaan
dalam lapangan kesenian, artistic, karena bangsa ini dapat lebih banyak berfantsi, emosionalitas
yang besar yang dapat menciptakan dan merasakan bahwa diantara seniman-seniman ternama
terdapat banyak sekali orang jenis ini, misalnya Lord Byron, Edward Dowes Dekker dan
Frederik van Eeden.
Bangsa flegmatis yang giat, sabar dan tekun lebih sesuai untuk pekerjaan-pekerjaan
dalam lapangan industry, pertanian dan ilmu pengetahuan, karena di sini diperlukan lebih banyak
ketekunan, kesabaran dan ketenangan. Contohnya orang flegmatis yang ternama ialah: John
Locke, E.Kant, David Hume, John Stuart Mill, Franklin dan lain-lain.
Bertentangan dengan hal tersebut di atas kranenburg mengemukakan contoh yang
sebaliknya yaitu J.J. Rousseau orang choleris, penggugup, emosional, bukankah ia telah

menciptakan suatu karya ilmiah yang besar dalam lapangan ilmu Negara Contrat Social yang
termasyhur itu?
Relativitas berlaku pula terhadap watak bangsa, jika kita mengatakan bahwa bangsa
Rusia termasuk bangsa yang choleris maka hal ini tidaklah berarti bahwa setiap orang Rusia
bersiffat flagmatis. Demikian pula kalau kta mengatakan bangsa Inggris flegmatis, maka diantara
orang Inggris pun terdapat orang choleris, misalnya Lord Byron seniman Inggris yang
termasyhur, ternyara mempunyai sifat choleris. Jadi perbedaan watak bangsa itu tidak berlaku
secara mutlak, melainkan secara relative. Oleh karena itu maka suatu bangsa akan dianggap
sebagai bangsa choleris bilamana sebagian besar dari bangsa itu menunjukkan sfat-sifat choleris.
Artinya buka atau tidak seluruh bangsa tersebut bersifat choleris.
Pengaruh watak bangsa terhadap susunan Negara dan cara kerja bangsa pun tidak
disetujui sepenuhnya oleh kranenburg, katanya, baik bangsa Inggris yang flegmatis maupun
Rusia yang choleris masing-masing telah sukses dalam menjaga kelangsungan hidup
imperiumnya tidaklah disebabkan semata-mata karena watak bangsa, keduanya mempergunakan
cara-cara yang berlainan.
Bangsa Rusia berhasil mempertahankan kelangsungan negaranya karena bangsa ini
mudah berasimilasi dengan bangsa-bangsa yang ditaklukannya, mereka lebih cepat
mengikutsertakan bangsa jajahannya dalam urusan kenegaraan.
Berlainan dengan cara yang ditempuh oleh bangsa Inggris. Bangsa ini senantiasa menjaga
dirinya untuk tidak bercampur dengan bangsa yang dijajahnya. Pemerintahan tetap dipegang oleh
orang-orang Inggris, kalau hal itu tidak mungkin, maka dilakukanlah politik dominasi dengan
cara dijaga dan keadilan ditegakkan tanpa berat sebelah (secara objektif).
Disamping teori-teori yang telah disebutkan tadi, Hurwicz juga mengemukakan teori
yang menganggap bahwa faktor geografi (alam) mempunyai juga pengaruh terhadap watak
bangsa. Ia mengutip Emile Bounty yang mengatakan, bahwa terdapa hubungan antara watak
bangsa Rusia dengan keadaan geografinya. Musim dingin yang selalu berlangsung lama di
Rusia, sehingga orang harus menunda lama pekerjaannya, mengakibatkan orang jadi malas.
Keadaan iklim yang tidak mudah ditaklukan ini menjadi orang lebih terampil tetapi cepat pula
menurunkan semangat.
Di daerah berhawa panas dan udara kering akan menyebabkan orang selalu diliputi
perasaan tegang, gerakan-gerakan refleks mudah dilakukan, di daerah ini lebih banyak dihasilkan
lukisan-lukisan yang beraneka ragam coraknya. Dorongan untuk berkata-kata secara riuh, ramai
dan riang lebing terasa. Sedangkan daerah yang berhawa dingin, keadaan cuaca biasanya
menghambat pancaindera, dan keadaan ini telah menghambat jalannya perasaan kedalam dan
sebaliknya telah menghasilkan kehendak-kehendak yang menghasilkan wajah-wajah intelek
yang kurang berperasaan seni.

Paham ini pun sepenuhnya diterima oleh KRANENBURG. Ia menganggap teori


hubungan antar faktor geografi dengan watak bangsa masih sebagai suatu hipotesa yang harus
diuji keenarannya dengan penelitian yang seksama. Sebaliknya ia menunjuk bukti di bawah ini
sebagai hal yang bertentangan dengan teori tadi. Bangsa Romawi dan bangsa Italia adalah kedua
bangsa yang diam di daerah yang sama, tetapi watak kedua bangsa tersebut berlainan satu
dengan yang lain. Demikian pula orang Irlandia dan Inggris juga diam di wilayah yang sama,
tetapi watak kedua bangsa inipun berlainan. Dengan kedua bukti ini sudah kita lihat bahwa teori
tersebut di atas belumlah dapat dibenarkan.
Hak-hak Golongan Minoritas
Perubahan yang besar tentang arti BANGSA telah menimbulkan persoalan dalam
lapangan hukum positif dan juga Hukum antar Tata Hukum. Pada masa orang menggunakan
criteria Negara sebagai organisai kewibawaan, persoalannya belum dijumpai. Persoalan mulai
timbul pada saat orang menggunakan asas kebangsaan (nationalooteit) sebagai ukuran. Sampai di
manakah batas Negara, apakah ia terus mengikuti sejauh di mana bangsa itu diam? Sebgai batas
dimaksudkan juga batas berlakunya hukum dari suatu Negara. Sejauh manakah hukum positif
suatu Negara mengikat bangsa yang berbeda bahasa, agama, kebudayaan, maupun bangsanya
yang berlainan dengan bangsa sejumlah besar orang dalam Negara yang bersangkutan.
Dari sejauh diketahui adanya penaklukan-penaklukan oleh bangsa yang satu terhadap
bangsa yang lainnya. Maka timbulah persoalan hukum dalam Negara di mana terdapat yang
dijajah dan penjajah yang keduanya berlainan bangsa. Pada masa orang mempergunakan criteria
organisasi kewibawaan terhadap Negara, hal ini tidak susah untuk dipecahkan, kedua bangsa tadi
ditaruh/diperintah di bawah hukum yang sama, dan keduanya dianggap sebagai kaula Negara.
Disamping hal seperti tersebut diatas juga dijumpai daerah-daerah khusus (enclave) ang didiami
oleh bangsa yang berlainan yang ada dalam wilayah satu Negara.
Dalam prakteknya masalaj ini ternyata menimbulkan banyak kesulitan, seperti yang
terlihat dalam monarchi Austria-Hungaria yang terdiri dari banyak bangsa. Kesulitan yang
ditimbulkan bukan saja dalam bidang politik tetapi juga dalam bidang hukum.
Apabila asas kebangsaan dijadikan dasar ukuran Negara, maka bagaimanakah kedudukan
bangsa yang jumlahnya jauh lebih kecil (minoritas) jika dibandingkan dengan jumlah bangsa
lainnya yang jauh lebih besar (mayoritas) yang hidup bersama-sama dalam satu wilayah Negara?
Jika kita berpegang pada asas kebangsaan, maka kita juga akan mengakui daerah yang
didiami oleh bangsa yang berlainan itu sebagai suatu daerah dari lain Negara, jika demikian
halnya maka akan terdapat Negara dalam Negara (ini jelas tidak mungkin karena bertentangan
dengan hukum dan keinginan Negara yang bersangkutan). Jika tidak apakah hak-hak bangsa
minoritas ini akan disamakan atau dijamin seperti kaula Negara lainnya ( yang berjumlah jauh
lebih besar)?

Oleh karena itu maka dianggap perlu untuk mengatur masalah golongan minoritas ini
sebaiknya. Hal ini dapat dilihat dalam perjanjian Versailles seperti tersebut di bawah ini:
-

Pasal 86: Negara chekoslowakia memberikan jaminan kepada penduduknya yang


berlainan bangsa, agama, kebudayaan, dan bahasa dari golongan minoritas.
Pasal 93: Polandia mempunyai kewajiban untuk memberikan jaminan/perlindungan hakhak golongan minoritas yang hidup diwilayah negaranya.

Demikianlah kita lihat bahwa kepada golongan bangsa minoritas ini diberikan jaminan
semacam autonomi untuk mengurus kepentingannya sendiri, misalnya urusan agama, urusan
kebudayaannya, urusannya pendidikan dan pengajarannya. Jadi diberikan semacam hak
desentralisasi kultural.
Hal-hal yang telah disebutkan diatas (pengaturan hak-hak golongan minoritas) ternyata
juga menimbulkan persoalan hukum, hukum yang manakah yang mengatur hak-hak golongan
ini? Apakan diatur oleh Hukum internasional? Bukankah perjanjian Versailles telah memberikan
jaminan, ataukah dianggap perlu perserikatan bangsa-bangsa mengatur hal ini?
Memang dalam kenyataannya masalah ini cukum menimbulkan keresahan bagi semua
pihak. Apabila pengaturan ini diserahkan kepada masing-masing Negara, jadi diatur oleh hukum
positif Negara, maka dalam hal ini golongan bangsa minoritas merasa khawatir akan jaminan
hak-haknya tersebut. Bukankah selalu ada kemungkinan bahwa kekuasaan kehakiman tidak
berlaku adil atau objektif karena dipengaruhi oleh pemerintah? Demikian pula jika perjuangan
dilakukan lewat parlemen, ini pun mempunyai sedikit kemungkinannya untuk berhasil, karena
jumlah wakit golongan minoritas diparlemen sedikit sekali. Sebaliknya, andaikata hal ini diatur
secara mondial oleh persirikatan bangsa-bangsa. Maka Negara yang bersangkutan akan merasa
bahwa kedaulatan negaranya telah dilanggar. (Negara-negara) menjaid anggota PBB bukanlah
berarti menyerahkan kedaulatannya kepada PBB. Lagi pula PBB bukanlah satu super Negara.
Terlepas dari siapa yang akan mengaturnya, maka memanglah dianggap perlu untuk
mengatur hak-hak golongan minoritas ini demi ketentraman hidup bersama di dunia.
Menurut Kranenburg sebaiknya Negara-negara yang bersangkutan itu sendiri yang
mengatur masala minoritas ini dengan hukum positif Negara masing-masing dengan cara
memberikan kesempatan kepada golongan minoritas ini untuk mengatur kepentingan sendiri.
Memangah tidak dapat disangkal bahwa membuat peraturannya (Undang-Undang) saja bukan
sedikit rintangan yang harus ditempuh. Ingat saja misalnya negeri Belanda cukup direpotkan
dalam menelurkan pasal 201 Undang-Undang Dasar demikian pula pelaksanaannya dalam
Undang-Undang Pendidikan Dasar/rendah tahun 1920. Meskipun sukar tetapi hal itu tidaklah
berarti tidak mungkin. Demikianlah hendaknya cara pengaturannya sehingga dimungkinkan
tercapai baik tujuan Negara yang bersangkutan, maupun tujuan oraganisasi internasional (PBB).
Yaitu hidup aman kesentosaan dan kerukunan internasional di dunia ini.