Anda di halaman 1dari 72

LUKA / VULNUS

By : Ns. Anita Komala, S. Kep.

PENGERTIAN
Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen
jaringan, dimana secara spesifik terdapat
substansi jaringan yang rusak atau hilang.
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel

MACAM LUKA
Luka terbuka (Vulnus Appertum)
Macam luka terbuka : Luka iris (Scissum), Tusuk
(Ictum), Bakar (Combustio), Lecet
(Excoriasi/Abrasio), Tembak (Sclopetum),
Laserasi, Penetrasi, Avulsi, Open Fracture dan
Luka Gigit (Vulnus Morsum).
Luka tertutup (Vulnus Occlusum)
Macam luka tertutup : Memar (Contusio), Bula,
Hematoma, Sprain, Dislokasi, Close Fracture,
Laserasi organ dalam.

MEKANISME TERJADINYA LUKA


1. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena
teriris oleh instrumen yang tajam. Misal yang
terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik)
biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh
pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat
benturan oleh suatu tekanan dan
dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan
lunak, perdarahan dan bengkak.
3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit
bergesekan dengan benda lain yang biasanya
dengan benda yang tidak tajam.

4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi


akibat adanya benda, seperti peluru atau
pisau yang masuk kedalam kulit dengan
diameter yang kecil.
5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi
akibat benda yang tajam seperti oleh kaca
atau oleh kawat.
6. Luka tembus (Penetrating Wound),
yaitu luka yang menembus organ tubuh
biasanya pada bagian awal luka masuk
diameternya kecil tetapi pada bagian
ujung biasanya lukanya akan melebar.
7. Luka Bakar (Combustio)

MENURUT TINGKAT KONTAMINASI


Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah
takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan
(inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan,
pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih
biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika
diperlukan dimasukkan drainase tertutup (misal;
Jackson Pratt).
Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
Clean-contamined Wounds (Luka bersih
terkontaminasi), merupakan luka pembedahan dimana
saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan
dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi,
kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% - 11%.

Contamined Wounds (Luka


terkontaminasi), termasuk luka terbuka,
fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi
dengan kerusakan besar dengan teknik
aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna;
pada kategori ini juga termasuk insisi akut,
inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi
luka 10% - 17%.
Dirty or Infected Wounds (Luka kotor
atau infeksi), yaitu terdapatnya
mikroorganisme pada luka.

MENURUT KEDALAMAN & LUASNYA


Stadium I : Luka Superfisial (NonBlanching Erithema) : yaitu luka yang
terjadi pada lapisan epidermis kulit.
Stadium II : Luka Partial Thickness :
yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan
epidermis dan bagian atas dari dermis.
Merupakan luka superficial dan adanya
tanda klinis seperti abrasi, blister atau
lubang yang dangkal.

Stadium III : Luka Full Thickness : yaitu


hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan
atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat
meluas sampai bawah tetapi tidak melewati
jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai
pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi
tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis
sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau
tanpa merusak jaringan sekitarnya.
Stadium IV : Luka Full Thickness yang telah
mencapai lapisan otot, tendon dan tulang
dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

MENURUT WAKTU PENYEMBUHAN LUKA


Luka akut : yaitu luka dengan masa
penyembuhan sesuai dengan konsep
penyembuhan yang telah disepakati.
Luka kronis yaitu luka yang mengalami
kegagalan dalam proses penyembuhan,
dapat karena faktor eksogen dan
endogen.

PROSES PENYEMBUHAN LUKA


Tubuh secara normal akan berespon
terhadap cedera dengan jalan proses
peradangan, yang dikarakteristikkan
dengan lima tanda utama: bengkak
(swelling), kemerahan (redness), panas
(heat), Nyeri (pain) dan kerusakan fungsi
(impaired function).

FASE PENYEMBUHAN LUKA


1. Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler & seluler yg
tjd akibat perlukaan yg tjd pd jar lunak.
Tujuan yg hendak dicapai adlh menghentikn perdarahn &
membersihkn area luka dr benda asing, sel2 mati &
bakteri u/ mempersiapkn dimulainya proses
penyembuhan.
Pd awal fase ini kerusakn pembuluh darah akan
menyebabkan keluarnya platelet yg berfungsi sbg
hemostasis. Platelet akan menutupi vaskuler yang
terbuka (clot) & jg mengeluarkn substansi
vasokonstriksi yg mengakibatkn pembuluh darah kapiler
vasokonstriksi. Selanjutnya tjd penempelan endotel yg
akan menutup pembuluh darah.

Periode ini berlangsung 5-10 menit & stlh itu akan tjd
vasodilatasi kapiler akibat stimulasi saraf sensoris (Local
sensory nerve endding), local reflex action & adanya
substansi vasodilator (histamin, bradikinin, serotonin dan
sitokin).
Histamin jg menyebabkn peningkatn permeabilitas vena,
shg cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah &
masuk ke daerah luka & scr klinis tjd oedema jar & kead
lingk tsb mjd asidosis.
Scr klinis fase inflamasi ini ditandai dg : eritema, hangat
pada kulit, oedema & rasa sakit yg brlangsung sampai
hari ke-3 atau hari ke-4.

2. Fase Proliferatif
Proses kegiatan seluler yang penting
pada fase ini adalah memperbaiki dan
menyembuhkan luka dan ditandai
dengan proliferasi sel.
Peran fibroblas sangat besar pada
proses perbaikan yaitu bertanggung
jawab pada persiapan menghasilkan
produk struktur protein yang akan
digunakan selama proses reonstruksi
jaringan.

Pada jaringan lunak yang normal (tanpa


perlukaan), pemaparan sel fibroblas sangat
jarang dan biasanya bersembunyi di matriks
jaringan penunjang.
Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif
bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam
daerah luka, kemudian akan berkembang
(proliferasi) serta mengeluarkan beberapa
substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid,
fibronectin dan proteoglycans) yang berperan
dalam membangun (rekontruksi) jaringan baru.

Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah


membentuk cikal bakal jaringan baru (connective
tissue matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat
oleh fibroblas, memberikan pertanda bahwa
makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas
sebagai kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka.
Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang
tertanam didalam jaringan baru tersebut disebut
sebagai jaringan granulasi.
Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan
lapisan kolagen telah terbentuk, terlihat proses
kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth
faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.

3. Fase Maturasi
Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah
perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12
bulan.
Tujuan dari fase maturasi adalah ;
menyempurnakan terbentuknya jaringan baru
menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan
bermutu.
Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan
granulasi, warna kemerahan dari jaringa mulai
berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat
fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk
memperkuat jaringan parut.
Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai
puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan.

Untuk mencapai penyembuhan yang


optimal diperlukan keseimbangan antara
kolagen yang diproduksi dengan yang
dipecahkan.
Kolagen yang berlebihan akan terjadi
penebalan jaringan parut atau
hypertrophic scar, sebaliknya produksi
yang berkurang akan menurunkan
kekuatan jaringan parut dan luka akan
selalu terbuka.

Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas


lapisan kulit dan kekuatan jaringan parut mampu
atau tidak mengganggu untuk melakukan
aktifitas normal.
Meskipun proses penyembuhanluka sama bagi
setiap penderita, namun outcome atau hasil
yang dicapai sangat tergantung pada kondisi
biologis masing-masing individu, lokasi serta
luasnya luka.
Penderita muda dan sehat akan mencapai
proses yang cepat dibandingkan dengan kurang
gizi, diserta penyakit sistemik (diabetes
mielitus).

FAKTOR YG MEMPENGARUHI
PENYEMBUHAN LUKA
1. Usia
Semakin tua seseorang maka akan menurunkan
kemampuan penyembuhan jaringan
2. Infeksi
Infeksi tidak hanya menghambat proses
penyembuhan luka tetapi dapat juga
menyebabkan kerusakan pada jaringan sel
penunjang, sehingga akan menambah ukuran
dari luka itu sendiri, baik panjang maupun
kedalaman luka.

3. Hipovolemia
Kurangnya volume darah akan mengakibatkan
vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan
oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
4. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah.
Seringkali darah pada luka secara bertahap
diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi.
Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal
tersebut memerlukan waktu untuk dapat
diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses
penyembuhan luka.

5. Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan
menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda
tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin,
jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang
membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan
nanah (Pus).
6. Iskemia
Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat
penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari
obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari
balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat
faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah
itu sendiri.

7. Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan
peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke
dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi
penurunan protein-kalori tubuh.
8. Pengobatan
a. Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan
normal tubuh terhadap cedera
b. Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
c. Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum
pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang
spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan
tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.

KOMPLIKASI LUKA
Hematoma (Hemorrhage)
Perawat harus mengetahui lokasi insisi pada
pasien, sehingga balutan dapat diinspeksi
terhadap perdarahan dalam interval 24 jam
pertama setelah pembedahan.
Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence adalah rusaknya luka bedah
Eviscerasi merupakan keluarnya isi dari dalam
luka
Keloid
Merupakan jaringan ikat yang tumbuh secara
berlebihan. Keloid ini biasanya muncul tidak
terduga dan tidak pada setiap orang.

Infeksi (Wounds Sepsis)


Merupakan infeksi luka yang sering timbul akibat infeksi
nosokomial di rumah sakit. Proses peradangan biasanya
muncul dalam 36 48 jam, denyut nadi dan temperatur
tubuh pasien biasanya meningkat, sel darah putih
meningkat, luka biasanya menjadi bengkak, hangat dan
nyeri.
Jenis infeksi yang mungkin timbul antara lain :
a. Cellulitis merupakan infeksi bakteri pada jaringan
b. Abses, merupakan infeksi bakteri terlokalisasi yang
ditandai oleh : terkumpulnya pus (bakteri, jaringan
nekrotik, Sel Darah Putih).
c. Lymphangitis, yaitu infeksi lanjutan dari selulitis atau
abses yang menuju ke sistem limphatik. Hal ini dapat
diatasi dengan istirahat dan antibiotik.

TEHNIK PERAWATAN LUKA


Desinfeksi
Irigasi
Debridement
Perawatan perdarahan
Penjahitan Luka
Bebat Luka
Angkat Jahitan

Desinfeksi (Sin. Antiseptik atau Germisida)


Adalah tindakan dalam melakukan pembebasan
bakteri dari lapangan operasi dalam hal ini yaitu
luka dan sekitarnya.
Macam bahan desinfeksi: Alkohol 70%,
Betadine 10%, Perhidrol 3%, Savlon (Cefrimid
+Chlorhexidine), Hibiscrub (Chlorhexidine 4%)
Teknik : Desinfeksi sekitar luka dengan kasa
yang di basahi bahan desinfeksan
Tutup dengan doek steril atau kasa steril
Bila perlu anestesi Lido/Xylo 0,5-1%

Irigasi
Adalah mencuci bagian luka
Bahan yang di gunakan : Perhidrol,
Savlon, Boor water, Normal Saline, PZ
Bilas dengan garam faali atau boor water

Debridement (Wound Excision)


Adalah membuang jaringan yang mati
serta merapikan tepi luka
Memotong dengan menggunakan scalpel
atau gunting
Rawat perdarahan dengan meligasi
menggunakan cat gut

Perawatan Perdarahan
Adalah suatu tindakan untuk menghentikan
proses perdarahan
Yaitu dengan kompresi lokal atau ligasi
pembuluh darah atau jaringan sekitar
perdarahan
Penjahitan luka
Penjahitan luka membutuhkan beberapa
persiapan baik alat, bahan serta beberapa
peralatan lain. Urutan teknik juga harus
dimengerti oleh operator serta asistennya.

Alat yang dibutuhkan :


Naald Voeder ( Needle Holder ) atau pemegang
jarum biasanya satu buah.
Pinset Chirrurgis atau pinset Bedah satu buah
Gunting benang satu buah.
Jarum jahit, tergantung ukuran cukup dua buah
saja.
Bahan yang dibutuhkan :
Benang jahit Seide atau silk
Benang Jahit Cat gut chromic dan plain.
Lain-lain :
Doek lubang steril
Kasa steril
Handscoon steril

NALDPOEDER

CUT GUT

MACAM-MACAM JAHITAN/HEACTING
Jahitan Simpul Tunggal
Sinonim : Jahitan Terputus Sederhana, Simple
Inerrupted Suture
Merupakan jenis jahitan yang sering dipakai.
digunakan juga untuk jahitan situasi.
Teknik : - Melakukan penusukan jarum dengan
jarak antara setengah sampai 1 cm ditepi luka
dan sekaligus mengambil jaringan subkutannya
sekalian dengan menusukkan jarum secara tegak
lurus pada atau searah garis luka.

Simpul tunggal dilakukan dengan benang


absorbable denga jarak antara 1cm.
Simpul di letakkan ditepi luka pada
salah satu tempat tusukan
Benang dipotong kurang lebih 1 cm.

Jahitan Simpul Intrakutan


Sinonim : Subcutaneus Interupted suture,
Intradermal burried suture, Interrupted
dermal stitch.
Jahitan simpul pada daerah intrakutan,
biasanya dipakai untuk menjahit area yang
dalam kemudian pada bagian luarnya
dijahit pula dengan simpul sederhana.

Jahitan Jelujur sederhana


Sinonim : Simple running suture, Simple
continous, Continous over and over
Jahitan ini sangat sederhana, sama
dengan kita menjelujur baju. Biasanya
menghasilkan hasiel kosmetik yang baik,
tidak disarankan penggunaannya pada
jaringan ikat yang longgar.

Jahitan Jelujur Feston


Sinonim : Running locked suture,
Interlocking suture
Jahitan kontinyu dengan mengaitkan
benang pada jahitan sebelumnya, biasa
sering dipakai pada jahitan peritoneum.
Merupakan variasi jahitan jelujur biasa.

Jahitan Jelujur horizontal


Sinonim : Running Horizontal suture
Jahitan kontinyu yang diselingi dengan
jahitan arah horizontal.

Jahitan Jelujur Intrakutan


Sinonim : Running subcuticular suture,
Jahitan jelujur subkutikular
Jahitan jelujur yang dilakukan dibawah
kulit, jahitan ini terkenal menghasilkan
kosmetik yang

Jahitan matras Horizontal


Sinonim : Horizontal Mattress suture,
Interrupted mattress
Jahitan dengan melakukan penusukan
seperti simpul, sebelum disimpul
dilanjutkan dengan penusukan sejajar
sejauh 1 cm dari tusukan pertama.
Memberikan hasil jahitan yang kuat.

Jahitan Matras Vertikal


Sinonim : Vertical Mattress suture, Donati,
Near to near and far to far
Jahitan dengan menjahit secara
mendalam dibawah luka kemudian
dilanjutkan dengan menjahit tepi-tepi luka.
Biasanya menghasilkan penyembuhan
luka yang cepat karena di dekatkannya
tepi-tepi luka oleh jahitan ini.

Jahitan Matras Modifikasi


Sinonim : Half Burried Mattress Suture
Modifikasi dari matras horizontal tetapi
menjahit daerah luka seberangnya pada
daerah subkutannya.

Tutup atau Bebat Luka


Setelah luka di jahit dengan rapi di
bersihkan dengan desinfeksan (beri salep)
Tutup luka dengan kasa steril yang
dibasahi dengan betadine
Lekatkan dengan plester atau hipafix
( bila perlu diikat dengan Verban)

ANGKAT JAHITAN/AFF HEACTING


Adalah proses pengambilan benang pada luka
Berdasarkan lokasi dan hari tindakan:
Muka atau leher hari ke 5
Perut hari ke7-10
Telapak tangan 10
Jari tangan hari ke 10
Tungkai atas hari ke 10
Tungkai bawah 10-14
Dada hari ke 7
Punggung hari ke 10-14

PELAKSANAAN
Beritahu klien tindakan yang akan dilakukan
Pasang sampiran / tirai
Atur posisi klien senyaman mungkin
Pasang perlak dan pengalasnya
dibawahdaerah yang akan dilakukan perawatan
Cuci tangan dengan sabun dan di air mengalir
Pakai sarung tangan

Buka balutan luka lama dan buang


kebengkok
Kaji luka (pastikan luka kering)
Bersihkan luka dengan kassa betadine
Angkat dan tahan bagian luar jahitan
dengan pinset, kemudian potong benang
di bawahsimpuldengan gunting up hecting
Cabut benang dari kulit secara perlahan

Perawatan luka dahulu & sekarang


Kulit merupakan organ terbesar dalam tubuh.
Kulit juga mempunyai peranan yang sangat
penting yang dapat menjaga kita agar tetap
sehat. Peranan kulit terpenting antara lain yaitu
sebagai pengatur suhu tubuh dan bertindak
sebagai pelindung. Kulit juga bertindak sebagai
system alarm tubuh ketika menerima rangsang
panas, dingin ataupun nyeri. Pada kondisi tubuh
yang optimal, jaringan kulit dapat memulihkan
luka secara efisien dengan membentuk jaringan
kembali.

Banyak cara yang telah dikembangkan


untuk membantu penyembuhan luka,
seperti dengan menjahit luka,
menggunakan antiseptic dosis tinggi, dan
juga pembalutan dengan menggunakan
bahan yang menyerap. Namun, ketika
diteliti lebih lanjut, ternyata cara
penyembuhan seperti ini sama sekali tidak
membantu bahkan berisiko memperburuk
luka.

Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya kita


akan menggunakan antiseptic pada luka dengan
tujuan menjaga luka tersebut agar menjadi
steril. Bahkan antiseptic seperti hydrogen
peroxide, povidone iodine, acetic acid, dan
chlorohexadine selalu tersedia di kotak obat.
Sekarang perlu diketahui, bahwa antiseptikantiseptik seperti itu dapat mengganggu proses
penyembuhan dari tubuh kita sendiri.

Masalah utama yang timbul adalah antiseptic


tersebut tidak hanya membunuh kuman-kuman
yang ada, tapi juga membunuh leukosit yaitu sel
darah yang dapat membunuh bakteri pathogen
dan jaringan fibroblast yang membentuk
jaringan kulit baru. Sehingga untuk
membersihkan luka, cara yang terbaik adalah
dengan membersihkannya dengan
menggunakan cairan saline dan untuk luka yang
sangat kotor dapat digunakan water-presure.
Untuk perawatan di rumah, dapat menggunakan
air yang mengalir atau menggunakan shower.

Demikian pula dengan penggunaan balutan. Zaman


dahulu orang percaya bahwa membiarkan luka
dalam kondisi bersih dan kering akan mempercepat
proses penyembuhan. Sehingga, pada zaman
dahulu luka dibalut dengan menggunakan kain
pembalut yang tipis yang memungkinkan udara
masuk dan membiarkan luka mengering hingga
berbentuk koreng. Namun seiring berkembangnya
ilmu pengetahuan, pertanyaan tersebut dibantah.
Pengatahuan sekarang telah membuktikan bahwa
luka dalam kondisi kering dapat memperlambat
proses penyembuhan dan akan menimbulkan bekas
luka.

Balutan dalam kondisi lembab atau sedikit


basah merupakan cara yang paling efektif untuk
menyembuhkan luka. Balutan tersebut tidak
menghambat aliran oksigen, nitrogen dan zatzat udara yang lain. Kondisi yang demikian
merupakan lingkungan yang baik untuk sel-sel
tubuh tetap hidup dan melakukan replikasi
secara optimum, karena pada dasarnya sel
dapat di lingkungan yang lembab atau basah.
Kecuali sel kuku dan rambut, sel-sel tersebut
merupakan sel mati.

Pengetahuan dahulu menyatakan bahwa scab atau


bekas luka yang mengering atau koreng merupakan
penghalang alami untuk mencegah hilangnya
kelembaban. scab juga mencegah sel-sel baru untuk
berkolonisasi di area luka. Ketika scab tersebut mulai
berubah bentuk, sel epidermis harus masuk ke lapisan
dermis yang paling dalam sebelum melakukan
proliferasi, karena disanalah daerah yang lembab
sehingga sel dapat hidup. Dan dari proses itu kita dapat
mengetahui bahwa dalam lingkungan kering, luka akan
memulih dari dalam ke luar. Sedangkan, bila kita dapat
mengoptimalkan lingkungan yang lembab pada luka,
proses penyembuhan akan berlangsung dari daerah
pinggir/sekitar dan dari dalam secara serempak.

Namun, penyembuhan dengan menggunakan


lingkungan yang lembab masih menjadi hal yang baru
dan jarang diaplikasikan di masyarkat. Masyarakat
kebanyakan berpendapat bahwa lingkungan yang
lembab akan menjadi tempat berkembangbiaknya
kuman penyakit. Akan tetapi pernyataan ini tidak disertai
dengan kenyataan bahwa tubuh kita mempunyai system
imun yang sangat efisien. Segala jenis luka dengan
berbagai tingkat kesterilannya memang merupakan
bentuk kolonisasi dari bakteri, tapi koloni bakteri tersebut
selama masih dalam jumlah yang wajar tidak
menimbulkan risiko infeksi. Masalah akan timbul jika
bakteri tersebut mulai melipatgandakan koloninya. Jika
tubuh kita dalam kondisi yang normal, maka antibody
dalam tubuh akan dapat mencegah bakteri untuk tidak
bermitosis.

Klien dengan luka biasanya akan lebih jarang


mengeluhkan rasa nyeri atau sakit yang
dirasakan ketika luka dibiarkan dalam
lingkungan yang lembab yaitu dengan
pembalutan yang lembab. Balutan tersebut akan
menjaga saraf dari lingkungan luar dengan
memberikan lingkungan yang lembab, sehingga
dapat mengurangi rasa nyeri. Jika dengan
balutan yang kering, dikhawatirkan saraf akan
mudah mengalami risiko kerusakan selama
berproliferasi.

CARA MERAWAT LUKA


Usahakan agar luka tetap bersih slma proses
penyembuhn. Bersihkan luka dg larutan saline
sollution: larutkan 2 sendok teh garam kedlm
air panas, lalu biarkn dingin.
Gunakan antiseptic yg alamiah. Dpt
menggunakn Echinacea angustifolia,
calendula, daun teh & lavender.
Pbyk intake protein dlm tubuh ketika sdg
terluka. T.u pasca operasi, keb kalori & prot
dlm tubuh akn meningkat 20-50%.

Perbanyak intake berbagai vitamin dan zat lainnya:


o Vitamin A untuk membantu pembentukan jaringan yang
luka
o Vitamin B1 untuk mensintesis kolagen
o Vitamin B5 untuk mempercepat proses penyembuhan
o Vitamin C untuk mempercepat pembentukan kolagen dan
elastin, juga untuk mempercepat pertumbuhan
o Vitamin E untuk membantu menghilangkan bekas luka
o Zn untuk menstimulasi proses penyembuhan luka
o Lemak essensial untuk memnyempurnakan proses
penyembuhan luka
Gunakan madu u/ menyembuhkan luka. Madu
mengandung enzim2 & zat anti-viral, dpt mmpercepat
penyembuhn luka, & mnurunkn risiko infeksi > byk
dibandingkn dgn use balutan sintetik semi-oklusif. Madu jg
dpt mmpercepat pertumbuhan sel2 yg baru.

Selain beberapa pengobatan-pengobatan yang


telah disebutkan diatas, ada juga metode
penyembuhan luka yang juga dianjurkan
pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari,
yaitu terapi tekan. Terapi ini lebih dipergunakan
untuk klien dengan luka pada kaki yang mana
saraf pada kaki pun ikut terganggu. Terapi ini
sangat efektif untuk membantu proses
penyembuhan dan dapat mencegah risiko
terjadinya luka ini kembali.

Metode terapi tekan ini biasanya


menggunakan balutan non elastis, dua
atau empat lapis balut tekan, dan
pembalut yang pendek dan lentur. Balut
tekan terdapat mermacam-macam cara,
namun tetap dapat memberikan tekanan
secara permanent atau terus-menerus. Hal
ini disebabkan adanya perbedaan struktur
dan kandungan dari serabut elastometric.

Balut tekan berguna untuk manajemen luka saraf.


Balutan ini sangat mudah digunakan ketika kita ingin
mengganti balutan yang lama. Balutan ini harus sering
diganti, dengan tujuan untuk mengurangi
pembengkakkan. Pembalut ini sangat elastis, sehingga
dapat mengukur seberapa bengkak luka yang ada.
Kekuatan tekanan yang dihasilkan merupakan interaksi
dari beberapa prinsip, yaitu:
Struktur fisik dan elastomeric properties pembalut
tersebut.
Ukuran dan bentuk dari tubuh ketika balutan itu
sedang digunakan.
Teknik dan keterampilan yang memasang balutan
tersebut.
Aktivitas sehari-hari yang dilakukan klien.

Jika luka sudah membaik/sembuh, disarankan agar balut


tekan tetap digunakan dg tujuan u/ mengontrol risiko
pembengkakkan, memperbaiki system saraf & mencegah
risiko terjadinya luka ini kembali.
Sblum kita mlakukn intvnsi thd luka, ada baiknya kita
melakukan pengkajian terlebih dahulu. Melakukan
pengkajian luka scr komprehensif pd px yg tepat m/
komponen penting dlm manajemen luka. Kemampuan u/
melakukn pengkajian luka tsb membutuhkan pengetahuan,
keterampilan & pengalaman yg cukup. Perencanaan
perawatan luka sgt dibutuhkan namun dlm perencanaan tsb
dibutuhkan juga keterangan2 /fakta dari hasil evaluasi
rencana tsb. Pedoman parameter u/ perawatan luka jg hrs
di masukkan dalam perencanaan tsb, meliputi jg klasifikasi
dari luka itu sendiri, penampilan luka, cairan yg keluar dari
luka, rasa nyeri yg timbul & kondisi kulit sekitar luka.
Manajemen perawatan luka pd klien akan meningkat
kualitasnya dg komunikasi yg baik & jg dg dokumentasi yg
efektif.

TERIMA KASIH
SELAMAT SIMULASI
DAN
SIAP UJI KOMPETENSI