P. 1
Pedoman Analisis Data

Pedoman Analisis Data

4.0

|Views: 12,232|Likes:
Dipublikasikan oleh hatipenala

More info:

Published by: hatipenala on Jan 23, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/15/2014

pdf

text

original

Sections

Di Indonesia, bidan di desa sebagai tenaga terdepan pelayanan kesehatan ibu. Bidan
di desa diharapkan mempunyai kompetensi menyediakan pelayanan profesional persalinan
normal, deteksi dini komplikasi maternal, fasilitas rujukan aman tepat-waktu kasus
komplikasi maternal dari desa ke rumah sakit. Kebijakan program bidan di desa adalah
ditempatkannya minimal satu bidan di desa di setiap desa. Bidan di desa berarti bidan yang
tinggal di desa. Contoh berikut menyajikan distribusi bidan di desa menurut desa di
Kabupaten Pandeglang, Banten, tahun 2006.
Data menunjukkan bahwa dari semua desa, sekitar separuh terutama yang jauh dari
fasilitas kesehatan tidak mempunyai bidan tinggal di desa, padahal desa-desa yang jauh dari
fasilitas kesehatan ini lebih membutuhkan bidan di desa. Dibandingkan dengan keseluruhan
jumlah penduduk, densitas bidan di desa mencukupi, tetapi sebagian besar bidan di desa
bertempat tinggal di daerah yang dekat (kurang dari 30 km) dari pusat layanan kesehatan.
Apa makna/ implikasi gambaran ini terhadap program kesehatan ibu?

Hutan

Danau

Bidan

Tidak ada
Ada

10

0

10

20 Kilometers

N

E

W

S

DAERAH PENELITIAN IMMPACT

Sumber data : Dinkes Serang & Dinkes Pandeglang 2004
Sumber peta : Biro Pusat Statistik

34

LAMPIRAN

Indikator Pelayanan :

1. Cakupan kunjungan K1
2. Cakupan kunjungan K4
3. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (Linakes)
4. Ibu hamil resiko tinggi / komplikasi yang tertangani
5. Neonatus resiko tinggi / komplikasi yang tertangani
6. Cakupan Kunjungan Neonatus (KN1)
7. Cakupan Kunjungan Bayi
8. SKDN
9. Cakupan Bayi Berat Lahir Rendah/BBLR yang ditangani
10. Cakupan Bayi dan Balita Mendapat Kapsul Vitamin A Sebanyak 2 kali per tahun
11. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe
12. Bayi yang Mendapat ASI Eksklusif
13. Vitamin A Nifas
14. Cakupan Peserta KB Aktif
15. Komplikasi KB
16. Kegagalan KB
17. Cakupan Pelayanan KB pasca salin

35

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Cakupan kunjungan K1

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan program kesehatan ibu dan anak menjangkau dan menggerakkan masyarakat untuk mencari
pelayanan antenatal sejak dini (dalam masa kehamilan 3 bulan pertama). Standar minimal pelayanan antenatal mencakup
pelayanan’5T’ oleh tenaga kesehatan trampil (dokter, bidan, perawat).
Pelayanan ‘5T’: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan,
(2) Ukur Tekanan darah,
(3) (Imunisasi) Tetanus Toksoid (TT)
(4) (Ukur) Tinggi fundus uteri, dan
(5) (Pemberian) Tablet besi

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan kunjungan K1 didefinisikan sebagai jumlah kunjungan pelayanan antenatal pertama atau baru (K1) ibu hamil dalam satu
tahun di suatu wilayah dibagi oleh jumlah sasaran ibu hamil di wilayah dan tahun yang sama

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Cakupan kunjungan K1= [[Jumlah kunjungan antenatal baru (K1) di wilayah w tahun t]/[jumlah sasaran ibu hamil di wilayah w
tahun t]] x 100%

Pembilang

Jumlah kunjungan pelayanan antenatal baru atau pertama kali (k1) di wilayah w tahun t. Data K1 diperoleh melalui Catatan
pelayanan (kohor ibu hamil).

Penyebut:

Jumlah sasaran ibu hamil di suatu wilayah w selama tahun t diperkirakan melalui Angka kelahiran kasar (Crude birth rate) dan Jumlah
penduduk di wilayah w tersebut pada tahun t, dengan rumus: 1,1 x Angka kelahiran kasar x Jumlah penduduk. Angka koreksi 1,1
dalam rumus berarti dari 110 kehamilan, 100 berakhir dengan kelahiran, dan 10 berakhir dengan keguguran, digugurkan dan atau
lahir mati. Apabila Angka kelahiran kasar di wilayah tersebut (kabupaten/kota) tidak tersedia, dapat digunakan Angka kelahiran
kasar Propinsi, atau apabila juga tidak tersedia dapat digunakan Angka kelahiran kasar Nasional.

Ukuran:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Apabila pada tahun 2005 suatu wilayah mempunyai Jumlah penduduk 500.000 jiwa; Angka kelahiran kasar 2.7%; jumlah kunjungan
pelayanan antenatal K1 selama tahun tersebut = 12.000, maka cakupan kunjungan K1 adalah: [12.000/(1,1 x 2,7% x 500.000)] x
100% = 80,8%

Sumber Data

Pembilang: Data K1 dapat diperoleh dari buku Register Kohor Ibu (dicatat oleh Bides) yang dilaporkan ke Puskesmas, kemudian
dilaporkan oleh Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Penyebut: Data Angka kelahiran kasar dan Jumlah penduduk diperoleh dari Kantor Statistik Kabupaten/ Propinsi; Badan Pusat
Statistik

Rujukan

1. Buku Pegangan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal
2. Standar Pelayanan Kebidanan (SPK)
3. Pelayanan Kebidanan Dasar
4. PWS-KIA

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004
Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 5 Juni 2007

36

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Kunjungan K4

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam melindungi ibu hamil sehingga kesehatan janin terjamin melalui
penyediaan pelayanan antenatal lengkap (sesuai standar dan tepat waktu) kepada masyarakat. Standar minimal kunjungan
pelayanan antenatal mencakup pelayanan’5T’ oleh tenaga kesehatan trampil (dokter, bidan, perawat).
Pelayanan ‘5T’: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan,
(2) Ukur Tekanan darah,
(3) (Imunisasi) Tetanus Toksoid (TT) lengkap,
(4) (Ukur) Tinggi fundus uteri, dan
(5) (Pemberian) Tablet besi ( yang diharapkan minimal 90 tablet selama kehamilan).
Cakupan kunjungan K4 adalah jumlah ibu hamil yang melakukan paling sedikit 4 kali kunjungan pelayanan antenatal sesuai standar,
dengan distribusi frekuensi kunjungan minimal satu kali pada triwulan pertama, minimal satu kali pada triwulan kedua, dan minimal
dua kali pada triwulan ketiga kehamilan.

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan kunjungan K-4 didefinisikan sebagai jumlah ibu hamil dengan frekuensi kunjungan minimal satu kali pada triwulan pertama,
minimal satu kali pada triwulan kedua, dan minimal dua kali pada triwulan ketiga kehamilan di suatu wilayah w selama tahun t
dibagi oleh jumlah sasaran ibu hamil di wilayah dan tahun yang sama.

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Cakupan kunjungan K4= [[Jumlah ibu hamil dengan K4 di wilayah w tahun t]/[jumlah sasaran ibu hamil di wilayah w tahun t]] x
100%

Pembilang

Jumlah ibu hamil dengan kunjungan K4 di wilayah w dan tahun t. Perlu diperhatikan tentang distribusi kunjungan, bahwasanya K4
berarti kunjungan minimal satu kali pada triwulan 1, minimal satu kali pada triwulan kedua, dan minimal dua kali pada triwulan
ketiga.

Penyebut:

Cara perhitungan Jumlah sasaran ibu hamil sama dengan cara perhitungan sasaran ibu hamil pada K1.

Ukuran

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Apabila pada tahun 2005 suatu wilayah mempunyai Jumlah penduduk 500.000 jiwa; Angka kelahiran kasar 2.7%; jumlah K4 selama
tahun tersebut = 10.000, maka cakupan kunjungan K1 adalah: [10.000/(1,1 x 2,7% x 500.000)] x 100% = 67,3%.

Sumber Data

Pembilang: Data K4 diperoleh dari buku Register Kohor Ibu (dicatat oleh Bides) yang dilaporkan ke Puskesmas, dan dilaporkan
oleh Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Penyebut: Angka kelahiran kasar dan Jumlah penduduk diperoleh dari Kantor Statistik Kabupaten/ Propinsi; Badan Pusat Statistik

Rujukan

1. Buku Pegangan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal
2. Standar Pelayanan Kebidanan (SPK)
3. Pelayanan Kebidanan Dasar
4. PWS-KIA

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004
Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

37

Lembar Referensi Indikator
Indikator
: Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (Linakes)

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan persalinan yang profesional.
Pelayanan persalinan yang profesional berarti pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan trampil,
seperti dokter kebidanan dan atau bidan sehingga dapat menghindari kematian ibu hamil dan neonatus serta dilakukan pada tempat
persalinan yang memenuhi standar. Dalam situasi tertentu, persalinan yang ditolong oleh dokter umum atau perawat dapat
dimasukkan pula sebagai persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan.

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan didefinisikan sebagai jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter
kebidanan, dokter, bidan atau perawat) di wilayah w tahun t dibagi dengan jumlah sasaran persalinan di wilayah dan tahun yang
sama.

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan = (Jumlah persalinan oleh Nakes/ Jumlah sasaran persalinan) x 100%

Pembilang

Jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter kebidanan, dokter, bidan atau perawat) di wilayah w tahun t .

Penyebut:

jumlah sasaran persalinan di wilayah w dan tahun t.
Jumlah sasaran ibu hamil di suatu wilayah kerja selama tahun t diperkirakan melalui Angka kelahiran kasar (Crude birth rate) dan
Jumlah penduduk di wilayah tersebut pada tahun t, dengan rumus: 1,1 x Angka kelahiran kasar x Jumlah penduduk. Angka koreksi
1,1 dalam rumus berarti dari 110 kehamilan, 100 berakhir dengan kelahiran, dan 10 berakhir dengan keguguran, digugurkan dan
lahir mati. Apabila Angka kelahiran kasar di wilayah tersebut (kabupaten/kota) tidak tersedia, dapat digunakan Angka kelahiran
kasar Propinsi, atau apabila juga tidak tersedia dapat digunakan Angka kelahiran kasar Nasional.

Ukuran:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Jumlah penduduk 500.000 jiwa, angka kelahiran kasar (CBR) 2.3%. Hasil cakupan Pn = 10.500 ibu bersalin dari bulan Januari sampai
dengan Desember 2003, maka cakupan Pn adalah :
10.500

X 100% = 86,96 %

1,05 x 2,3% x 500.000

Sumber Data

Simpus dan SIRS termasuk pelayanan yang dilakukan oleh swasta

Rujukan

1. Buku Pegangan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal
2. Standar Pelayanan Kebidanan (SPK)
3. Pelayanan Kebidanan Dasar
4. PWS-KIA

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004
Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

38

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Ibu hamil resiko tinggi / komplikasi yang tertangani

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional
kepada ibu hamil yang memiliki risiko tinggi/komplikasi kebidanan. Ibu hamil yang memiliki risiko tinggi/komplikasi kebidanan adalah
keadaaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risiko tinggi/
komplikasi kebidanan meliputi anemia dengan Hb kurang dari 8gr %, tekanan darah dengan systole lebih dari140 mmHg, diatole
lebih dari 90 mmHg), oedema nyata, eklampsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, letak lintang pada usia kehamilan
lebih dari 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan prematur.
Pelayanan kesehatan secara profesional dilakukan sesuai standar oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas Perawatan dan
Rumah Sakit pemerintah/swasta dengan fasilitas PONED (Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar) dan atau PONEK
(Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif)

DEFINISI OPERASIONAL

Bumil risti/komplikasi yang tertangani adalah ibu hamil risti/komplikasi di satu wilayah kerja tertentu pada kurun waktu tertentu
yang ditangani sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas Perawatan dan Rumah Sakit pemerintah/swasta
dengan fasilitas PONED dan PONEK (pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi dasar dan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal
Emergensi Komprehensif)

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Jumlah bumil risti/komplikasi yang tertangani
Bumil risti/komplikasi yang tertangani = x 100%
Bumil risti yang datang dan/atau dirujuk

Pembilang

Jumlah ibu hamil resiko tinggi/komplikasi yang tertangani dari satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu di puskesmas
perawatan dan rumah sakit pemerintah/swasta.

Penyebut:

Jumlah ibu hamil resiko tinggi/komplikasi yang datang dan/atau dirujuk di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama di
puskesmas perawatan dan rumah sakit pemerintah/swasta.

Ukuran/konstanta:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Jumlah ibu hamil risti/komplikasi yang tertangani di kabupaten A pada tahun 2003 sebanyak 300 bumil.
Jumlah ibu hamil risti/komplikasi yang datang dan/atau dirujuk di kabupaten A tahun 2003 sebanyak 500 bumil.
Persentase bumil risti/komplikasi yang tertangni = 300 / 500 x 100% = 60%

Sumber Data

SIMPUS, SIRS, dan dinkes kab/kota.

Rujukan

1. Pedoman Audit Maternal dan Perinatal
2. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal
3. Pedoman PONED dan PONEK
4. Pedoman Asuhan Kehamilan
5. Standar Asuhan Persalinan Normal
6. Standar Pelayanan Kebidanan
7. Standar Asuhan Kebidanan dan Neonatal
8. Dasar-dasar Asuhan Kebidanan

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004
Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

39

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Neonatus resiko tinggi / komplikasi yang tertangani

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada
neonatus risiko tinggi/ komplikasi. Pelayanan profesional diberikan oleh tenaga kesehatan terlatih pada neonatus umur 0-28 hari
dengan keadaan penyimpangan dari normal yang dapat menyebabkan kesakitan dan kematian neonatus meliputi asfiksia, tetanus
neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR, sindroma gangguan pernafasan dan kelainan kongenital.

DEFINISI OPERASIONAL

Neonatus risti/komplikasi yang tertangani adalah cakupan neonatus risti/komplikasi di satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu yang ditangani sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih di puskesmas perawatan dan rumah sakit
pemerintah/swasta.

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Jumlah neonatus risti/komplikasi yang tertangani
Neonatus risti/komplikasi yang tertangani = x 100%
Neonatus risti yang datang dan/atau dirujuk

Pembilang

Jumlah neonatus risti/komplikasi yang tertangani dari satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu di Puskesmas perawatan dan
RS pemerintah/ swasta.

Penyebut:

Jumlah neonatus resiko tinggi/komplikasi yang datang dan/atau dirujuk di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama di
puskesmas perawatan dan rumah sakit pemerintah/swasta.

Ukuran/konstanta:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Jumlah neonatus hamil risti/komplikasi yang tertangani di kabupaten A pada tahun 2003 sebanyak 300 neonatus.
Jumlah ibu hamil risti/komplikasi yang datang dan/atau dirujuk di kabupaten A tahun 2003 sebanyak 500 neonatus.
Persentase bumil risti/komplikasi yang tertangni = 300 / 500 x 100% = 60%

Sumber Data

SIMPUS, SIRS, dan dinkes kab/kota.

Rujukan

1. Pedoman Pelayanan Perinatal pada RSU kelas C dan D
2. Pedoman Manajemen Neonatal untuk RS kab/kota
3. Pedoman manajemen asphyxia bayi baru lair
4. Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM)
5. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)
6. Buku KIA

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

40

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Cakupan Kunjungan Neonatus (KN)

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen KIA dalam menyelenggarakan pelayanan terhadap bayi baru lahir (neonatus)
secara profesional sehingga perawatan yang diberikan dapat menurunkan akibat kesakitan yang berisiko kematian neonatus.
Pelayanan profesional yang diberikan berupa pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia,
pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit, dan pemberian imunisasi); pemberian
vitamin K; manajemen terpadu bayi muda (MTBM); dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah maupun di tempat pelayanan
kesehatan dengan menggunakan Buku KIA. Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada setiap neonatus diberikan minimal 1 kali
pada umur 0-7 hari dan 1 kali pada umur 8-28 hari.

Cakupan KN1 mengukur kemampuan manajemen KIA dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan neonatal dasar (terhadap
bayi baru lahir/ neonatus) secara profesional dalam waktu 0-7 hari. Pelayanan kesehatan neonatal dasar dilakukan di sarana
pelayanan kesehatan atau mengunjungi rumah, dengan menggunakan buku KIA.

Cakupan KN2 mengukur kemampuan manajemen KIA dalam upaya melengkapi pelayanan kesehatan neonatal dasar (terhadap bayi
baru lahir/ neonatus) secara profesional dalam waktu 8-28 hari. Pelayanan kesehatan neonatal dasar dilakukan di sarana pelayanan
kesehatan atau mengunjungi rumah, sehingga tenaga kesehatan yang memiliki kompentensi untuk pelayanan kesehatan neonatal
dasar meyakini bahwa neonatus yang bersangkutan telah mendapat pelayanan kesehatan.

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan kunjungan neonatus adalah cakupan neonatus yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh dokter,
bidan, perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan neonatal, paling sedikit 2 kali, di satu wilayah w pada kurun waktu
tertentu t.

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Jumlah KN yang ditangani sesuai standar
Cakupan KN = x 100%
Seluruh bayi lahir hidup

Pembilang

Jumlah neonatus yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar, paling sedikit 2 kali, di satu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu.

Penyebut:

Seluruh bayi lahir hidup di satu wilayah kerja pada kurun waktu sama. Jika tidak ada data dapat digunakan angka estimasi jumlah
bayi lahir hidup berdasarkan data BPS atau perhitungan CBR dikalikan jumlah penduduk.

Ukuran/konstanta:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Ada data jumlah bayi lahir di desa A. Jumlah pendataan seluruh bayi lahir di desa A tahun 2003 sebanyak 75 bayi. Jumlah bayi yang
ditangani sesuai standar sebanyak 2 kali oleh bidan (KN) tahun 2003 sebanyak 55 bayi.
Persentase cakupan KN = 55/75 x 100% = 73,33%

Sumber Data

Simpus, SIRS dan klinik

Rujukan

1. Buku Pegangan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal
2. Standar Pelayanan Kebidanan (SPK)
3. Pelayanan Kebidanan Dasar
4. PWS-KIA

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004
Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

41

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Cakupan Kunjungan Bayi

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap bayi umur
1-11 (12) bulan secara profesional. Pelayanan kesehatan tersebut diberikan oleh dokter, bidan dan atau perawat yang memiliki
kompetensi klinis kesehatan bayi meliputi simulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang bayi (SDIDTK), stimulasi
perkembangan bayi, imunisasi, MTBM, MTBS, dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan buku KIA.
Pelayanan kesehatan diberikan minimal 4 kali pada umur 1-3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan dan 1
kali pada umur 9- 11 (12)bulan.

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh dokter, bidan,
perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan bayi, paling sedikit 4 kali, di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Jumlah bayi memperoleh pelayanan
Kesehatan sesuai standar
Cakupan kunjungan bayi = x 100%
Seluruh bayi lahir hidup

Pembilang

Jumlah bayi memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan, paling sedikit 4 kali, di satu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu.

Penyebut

Seluruh bayi lahir hidup di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama. Jika tidak ada data dapat digunakan angka estimasi
jumlah bayi lahir hidup berdasarkan data BPS atau perhitungan CBR dikalikan jumlah penduduk .

Ukuran/konstanta

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Jumlah seluruh bayi lahir di desa A tahun 2003 sebanyak 75 bayi. Jumlah bayi memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar, 4
kali oleh bidan sebanyak 40 orang. maka cakupan kunjungan bayi = 40/75 x 100% = 86,96 %
Jumlah penduduk kabupaten B sebanyak 270.000 jiwa dengan CBR 2.3%. rekapitulasi jumlah bayi yang memperoleh pelayanan
kesehatan sesuai dengan standar 4 kali, sekabupaten B sebanyak 5000.
Maka estimasi jumlah lahir hidup = 2.3% x 270.000 = 6210
Persentase cakupan kunjungan bayi = 5000/6210 x 100% = 80,52%

Sumber Data

Simpus, SIRS dan klinik.

Rujukan

1. Model Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)
2. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita (DDTK)
3. Buku KIA

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

42

Lembar Referensi Indikator

Indikator : SKDN

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan program KIA yang didukung oleh program gizi dalam hal efektifitas program, keaktifan kader
dan partisipasi masyarakat. Kegiatan program yang diberikan pada masyarakat meliputi penghitungan jumlah balita dalam wilayah
kerja tertentu, pemberian Kartu Menuju Sehat/ KMS atau buku KIA, penggerakan masyarakat untuk berpartisipasi terhadap
kegiatan penimbangan.

DEFINISI OPERASIONAL

Partisipasi masyarakat adalah jumlah balita yang datang untuk ditimbang diwilayah kerja tertentu pada waktu tertentu.
Efektifitas program adalah jumlah balita yang naik berat badannya diantara balita yang ditimbang atau balita yang memiliki
KMS/buku KIA.
Keaktifan kader adalah jumlah KMS atau buku KIA yang telah dibagikan oleh kader kepada sasaran.

S= jumlah balita dalam wilayah kerja tertentu dalam waktu tertentu, K=jumlah balita yang memiliki KMS, D=jumlah
balita yang datang melakukan penimbangan dalam bulan tertentu, N=jumlah balita yang naik berat badannya pada saat
penimbangan dalam bulan tertentu.

CARA PERHITUNGAN

Rumus Partisipasi masyarakat : D/S x 100%; efektifitas program : N/D x 100%; Keaktifan kader : K/S x 100%

Ukuran/konstanta:

Persentase

Contoh Perhitungan

Dalam suatu wilayah terdapat 50 balita orang. Jumlah balita yang memiliki KMS pada saat itu adalah 40orang. Dari
catatan penimbangan balita yang berkunjung ke posyandu berjumlah 20 orang dan 15 orang diantaranya naik berat
badannya. Dari data diatas dapat diketahui : partisipasi masyarakat pada saat itu adalah 20/50 x 100%=40%; keaktifan
kader adalah 40/50 x 100%= 80% dan efektifitas program adalah 15/25 x 100%= 60%.

Sumber Data

Buku catatan penimbangan di Posyandu
Buku KIA

Rujukan

REFERENSI

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 23 Mei 2007

43

Lembar Referensi Indikator
Indikator
: Cakupan Bayi Berat Lahir Rendah/ BBLR yang ditangani

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan neonatal dasar
secara profesional terhadap bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir sampai
dengan 24 jam pertama setelah lahir. Pelayanan profesional diberikan oleh dokter, bidan dan perawat yang memiliki kompetensi
klinis kesehatan neonatal dan penanganan BBLR meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar; pemberian vitamin K; MTBM;
penanganan penyulit/komplikasi/masalah pada BBLR dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA.

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan bayi berat lahir rendah (BBLR) yang ditangani adalah cakupan BBLR yang ditangani sesuai standar oleh dokter, bidan dan
perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan neonatal dan penanganan BBLR, di satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu.

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Jumlah BBLR ditangani sesuai dengan standar
Cakupan BBLR = x 100%
Jumlah BBLR di wilayah kerja

Pembilang

Jumlah kunjungan BBLR yang ditangani sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan, di satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu.

Penyebut:

Jumlah BBLR di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama.

Ukuran/konstanta:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Jumlah BBLR yang ditangani bidan MM tahun 2003 sebanyak 6 bayi.Jumlah seluruh BBLR di desa M tahun 2003 sebanyak 9 bayi,
maka cakupan BBLR ditangani adalah = 6/9 x 100% = 67%

Sumber Data

Simpus, SIRS dan klinik

Rujukan

1. Pelayanan Kesehatan Neonatal Essensial
2. Modul MTBS
3. Modul MTBM
4. Buku-KIA

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

44

Lembar Referensi Indikator
Indikator
: Cakupan Bayi dan Balita Mendapat Kapsul Vitamin A Sebanyak 2 kali per tahun

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA yang didukung oleh program Gizi kepada bayi dan anak balita dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan pendistribusian/ pemberian kapsul Vitamin A dosis tertentu sesuai dengan umur.
Dosis vitamin A kapsul berwarna biru diberikan sebanyak 1 kali pada bayi umur 6-11 bulan adalah 100.000 S.I dan dosis vitamin A
kapsul berwarna merah diberikan 2 kali pertahun (setiap 6 bulan) kepada anak balita umur 12-59 bulan adalah 200.000 S.I.

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan balita mendapat kapsul vitamin A adalah cakupan bayi 6-11 bulan mendapat kapsul vitamin A satu kali dan anak umur 12-
59 bulan mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi dua kali per tahun di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Jumlah balita yang mendapat kapsul vit A dosis tinggi
Cakupan balita mendapat kapsul vit A = x 100%
Balita yang ada di satu wilayah kerja

Pembilang

Jumlah balita mendapat kapsul vit A dosis tinggi di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Penyebut:

Jumlah balita yang ada di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama.

Ukuran/konstanta:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Jumlah anak usia 12-59 bulan yang mendapat kapsul vi A dosis tinggi sebanyak 100.000. Jumlah bayi usia 6-11 bulan yang mendapat
kapsul vit A dosis tinggi sebanyak 20.000. Jumlah balita di wilayah kab/kota = 150.000 balita.
Persentase cakupan balita mendapat kapsul vi A di kab/kota X pada tahun 2003:
(100.000 + 20.000)

X 100% = 80%

150.000

Sumber Data

FIII Gizi, LB3-SIMPUS, kohort balita dan biro pusat statistik kab/kota.

Rujukan

1. Pendataan Sasaran Balita (baseline data)
2. Perencanaan kebutuhan kapsul vit A.
3. Pengadaaan dan pendistribusian kapsul vit A
4. Sweeping pemberian kapsul vit A.
5. Penggandaan Buku Pedoman dan Juknis
6. Monitoring dan evaluasi.

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

45

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA yang didukung oleh program Gizi dalam menyelenggarakan
pelayanan kesehatan untuk menanggulangi/ mengantisipasi masalah anemia kekurangan zat besi pada ibu hamil. Pelayanan kesehatan
yang profesional diberikan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil sejak trimester I sampai dengan trimenster III sehingga minimal
ibu hamil dapat mengkonsumsi tablet besi sebanyak 90 tablet.

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan ibu hamil mendapat tablet Fe adalah cakupan ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe selama periode kehamilannya di satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Jumlah ibu hamil mendapat 90 tablet Fe selamaperiode kehamilannya
Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe = x 100%
Jumlah ibu hamil

Pembilang

Jumlah ibu hamil yang mendapat tablet Fe selama periode kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu teretentu.

Penyebut:

Jumlah ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama.

Ukuran/konstanta:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Jumlah ibu hamil mendapat tablet Fe sebanyak 7.500 ibu. Jumlah ibu hamil sebanyak 15.000 ibu.
Persentase cakupan ibu hamil mendapat tablet = 7.500 / 15.000 x 100% = 50%

Sumber Data

Kohort LB3 ibu, PWS-KIA, perkiraan sasaran ibu bersalin di wilayah kerja yang sama dihitung dengan formula 1.05 x CBR wilayah
kerja yang sama dikalikan jumlah penduduk di wilayah kerja yang sama.

Rujukan

1. Pedoman Pemberian Tablet Besi-Folat dan Sirup Besi bagi Petugas Depkes RI tahun 1999
2. Booklet anemia gizi dan tablet tambah darah untuk WUS tahun 2001

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

46

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Cakupan Vitamin A Nifas

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan untuk peningkatan kesehatan ibu
nifas sehingga dengan memberikan tablet vitamin A kesehatan ibu cepat pulih.

DEFINISI OPERASIONAL

Vitamin A Nifas adalah ibu nifas yang mendapat vitamin A setelah sebanyak 2 kali selang waktu 1 hari dalam masa nifas di satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

CARA PERHITUNGAN

Jumlah ibu nifas yang mendapat vit A sebanyak 2 kali
Rumus = x 100%
Vitamin A nifas Jumlah seluruh ibu nifas

Pembilang Jumlah ibu nifas yang mendapat vitamin A sebanyak 2 kali di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Penyebut: Jumlah ibu nifas di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Ukuran/konstanta:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan.

Junlah ibu nifas di suatu wilayah berjumlah 2500 orang. Jumlah ibu nifas yang mendapat vit A 2300 orang. Akupan vit A nifas adalah
2300/2500 x 100%= 92%

Sumber Data

Rujukan

REFERENSI

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

47

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Bayi yang Mendapat ASI Eksklusif

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan program KIA yang didukung oleh program Promosi Kesehatan untuk menggerakkan
masyarakat untuk memberikan air susu ibu secara eksklusif pada bayinya sejak lahir sampai berumur 6 bulan tanpa memberikan
makanan atau minuman lain.

ASI eksklusif adalah air susu ibu yang diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diberikan makanan dan minuman.

DEFINISI OPERASIONAL

Bayi yang mendapat ASI eksklusif adalah bayi yang hanya mendapat ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan di satu wilayah kerja
pada kurun waktu tertentu.

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Jumlah bayi usia 0-6 bln yang mendapat ASI saja
Cakupan ASI eksklusif = x 100%
Jumlah seluruh bayi usia 0-6 bln

Pembilang

Jumlah bayi yang mendapat hanya ASI saja sejak lahir sampai usia 6 bulan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Penyebut:

Jumlah seluruh bayi usia 0-6 bulan di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama.

Ukuran/konstanta:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Jumlah bayi usia 0-6 bulan yang mendapat hanya ASI saja di satu wilayah kab/kota tahun 2003 sebanyak 500 orang.
Jumlah seluruh bayi usia 0-6 bulan di satu wilayah kab/kota sebanyak 1.500 orang.
Persentase cakupan ASI eksklusif = 500 / 1.500 x 100% = 33,3%

Sumber Data

Register kohort bayi atau R1-gizi, dan Pencatatan Kegiatan Puskesmas.

Rujukan

1. Buku Strategi Nasional Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Tahun 2002.
2. Kepmenkes Nomor 450/Menkes/IV/2000 tentang Pemberian ASI secara eksklusif pada bayi di Indonesia.
3. Pedoman peningkatan penggunaan ASI (PP-ASI)
4. Booklet ASI eksklusif.

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

48

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Cakupan Peserta KB Aktif

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan pelayanan KIE terhadap program KIA/ KB dalam menyelenggarakan Keluarga Berencana
kepada Pasangan Usia Subur sehingga secara aktif dapat mengatur atau menjarangkan kehamilan dengan cara mekanis atau
hormonal.
Pengertian :
1. Peserta KB aktif (CU) adalah akseptor yang pada saat ini memakai kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau yang
mengakhiri kesuburan.
2. Cakupan peserta KB aktif adalah perbandingan antara jumlah peserta KB aktif (CU) dengan Pasangan Usia Subur (PUS).
3. Cakupan Peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara para Pasangan Usia Subur (PUS).

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan peserta KB aktif adalah cakupan peserta KB aktif dibandingkan dengan jumlah Pasangan Usia Subur di satu wilayah kerja
pada kurun waktu tertentu.

CARA PERHITUNGAN

Rumus

Jumlah peserta KB aktif (CU)
Cakupan peserta KB aktif = x 100%
Jumlah pasangan usia subur (PUS)

Pembilang

Jumlah PUS yang memperoleh pelayanan kontrasepsi sesuai standar di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Penyebut:

Jumlah PUS di satu wilayah kerja dan kurun waktu yang sama.

Ukuran/konstanta:

Persentase (%)

Contoh Perhitungan

Jumlah PUS yang memperoleh pelayanan kontrasepsi sesuai standar di kabupaten A sebanyak 12.000 PUS. Jumlah PUS di
kabupaten A sebanyak 15.000 PUS., maka cakupan persentase KB aktif adalah :
12.000 / 15.000 x 100% = 80%

Sumber Data

1. Hasil Pencatatan dan Pelaporan KB BKKBN
2. Hasil Pendataan BKKBN/BPS setempat.

Rujukan

1. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi (BP3K)
2. Panduan Baku Klinis Program Pelayanan KB
3. Pedoman Penanggulangan efek Samping/Komplikasi Kontrasepsi
4. Pedoman Pelayanan Kontrasepsi Darurat
5. Penyeliaan Fasilitatif Pelayanan KB
6. Instrumen Kajian Mandiri Pelayanan KB
7. Panduan Audit Medik Pelayanan KB
8. Analisis Situasi dan Bimbingan Teknis Pengelolaan Pelayanan KB
9. Paket Kesehatan Reproduksi.

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

49

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Komplikasi KB

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kualitas program Keluarga Berencana untuk memberikan pelayanan kontrasepsi sesuai dengan standar yang
telah ada.

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan komplikasi KB adalah jumlah akseptor yang menderita komplikasi setelah mendapat pelayanan kontrasepsi.

CARA PERHITUNGAN

Rumus Cakupan komplikasi KB : jumlah komplikasi akibat penggunaan kontrasepsi x 100%

Jumlah peserta KB aktif

Pembilang

Jumlah PUS yang menjadi peserta KB aktif yang menderita komplikasi di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Penyebut:

Jumlah PUS yang menjadi peserta KB aktif di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Ukuran/konstanta:

Persentase

Contoh Perhitungan

Jumlah peserta KB aktif di suatu wilayah dalam waktu tertentu 1500 orang. Jumlah yang mengalami komplikasi setelah
pelayanan kontrasepsi 3 orang.
Cakupan komplikasi KB : 3/1500 x 100% = 0,2%

Sumber Data

Rujukan

REFERENSI

Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota, Depkes RI, Jakarta 2004

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 23 Mei 2007

50

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Kegagalan KB

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur efektifitas program Keluarga Berencana dalam memberikan pelayanan kontrasepsi sesuai dengan standar
yang telah ada, sehingga tidak terjadi kehamilan.

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan kegagalan KB adalah jumlah akseptor yang hamil setelah menggunakan metoda kontrasepsi dalam wilayah tertentu pada
waktu tertentu.

CARA PERHITUNGAN

Rumus Jumlah akseptor gagal KB : jumlah akseptor yang hamil x 100%
Jumlah peserta KB aktif

Pembilang

Jumlah akseptor yang hamil pada saat menjadi peserta KB aktif

Penyebut:

Jumlah peserta KB aktif

Ukuran/konstanta:

Persentase

Contoh Perhitungan

Jumlah seluruh peserta KB aktif di suatu wilayah tertentu adalah 2000 orang. Jumlah akseptor yang gagal KB 10 orang.
Kegagalan KB adalah 10/2000 x 100% = 0.5 %

Sumber Data

Rujukan

REFERENSI

Informasi ini terakhir diperbaharui tanggal : 2007

51

Lembar Referensi Indikator

Indikator : Cakupan Pelayanan KB pasca salin

DEFINISI KONSEPTUAL

Indikator ini mengukur kemampuan program Keluarga Berencana dalam memanfaatkan kesempatan untuk memberikan pelayanan
kontrasepsi kepada ibu pasca persalinan sehingga pengaturan/ penjarangan kehamilan dapat dimulai sejak dini.

DEFINISI OPERASIONAL

Cakupan KB pasca salin adalah jumlah ibu bersalin yang mendapat pelayanan kontrasepsi setelah persalinan di wilayah kerja
tertentu dalam kurun waktu tertentu.

CARA PERHITUNGAN

Rumus Cakupan pelayanan pasca salin : jumlah ibu bersalin yang ikut KB x100%
Jumlah ibu bersalin

Pembilang

Jumlah ibu bersalin yang mendapat pelayanan kontrasepsi setelah persalinan

Penyebut:

Jumlah seluruh ibu bersalin

Ukuran/konstanta:

Persentase

Contoh Perhitungan

Jumlah seluruh ibu bersalin di suatu wilayah tertentu dalam tahun tertentu adalah 500 orang. Jumlah ibu bersalin yang
menjadi akseptor segera setelah persalinan 100 orang. Cakupan pelayanan KB pasca salin adalah 100/500 x 100% =
20 %

Sumber Data

Rujukan

REFERENSI

52

LAMPIRAN 2:

CONTOH PENGOLAHAN DATA PWS-KIA DENGAN PROGRAM
KOMPUTER EXCEL

Pengolahan data PWS-KIA dapat dilakukan baik secara manual menggunakan kalkulator
ataupun secara komputerisasi menggunakan perangkat lunak yang sederhana (seperti
MsExel) sampai dengan perangkat lunak yang khusus didisain untuk pengolahan dan analisa
PWS-KIA.

Berikut ini akan diuraikan pengolahan dan analisa data PWS-KIA dengan menggunakan
perangkat lunak yang sangat sederhana dan hampir semua komputer telah memiliki
program aplikasi untuk menjalankannya yaitu MsExcel. Sehingga, salah satu persyaratan
petugas yang akan memanfaatkan perhitungan ini harus memiliki kemampuan dasar
komputer dan MsExel.

Proses pengolahan data PWS-KIA ini dibagi menjadi beberapa langkah yang akan diuraikan
secara rinci dalam penyajian berikut ini, yaitu:
1) Mengcopy File Master,
2) Menyiapkan File Kerja (Entry Nama Desa & Jumlah penduduk per Desa),
3) Entry Data Cakupan (Bulanan),
4) Pembuatan Tabel Cakupan (Bulanan),
5) Pembuatan Grafik Cakupan (Bulanan),

53

1. Mengcopy File Master

File Master sudah tersedia dalam file Excel yang harus dicopy terlebih dahulu ke komputer.
Nama file master tersebut adalah “PWS KIA LAPORAN BULANAN.XLS”. Baik Puskesmas
maupun Dinas Kesehatan dapat mengcopy file tersebut ke hardisk/flasdisk, jangan lupa
membuat direktory sehingga mudah untuk mencari kembali. Setelah dicopy, jangan lupa
untuk mengganti nama file tersebut sesuai dengan pengguna, tambahkan nama
puskesmas/Dinkes dan tahun di depan nama file, seperti contoh berikut:
“Ulee Kareng 2007 PWS KIA LAPORAN BULANAN.XLS”.

2. Persiapan File Kerja

Silakan doble klik file excel yang telah diganti namanya tersebut, secara otomatis apabila
dikomputer sudah tersedia program MsExcel, maka file tersebut akan terbuka di layar
komputer.
2.1. Membuat Nama Puskesmas, Kabupaten/Kota, Bulan dan tahun pelaporan,
dengan mengisi tanda titik titik.
Pembuatan nama Puskesmas dan Kabupaten/kota cukup dilakukan satu kali saja, yaitu
pada sheet bulan Januari. Sheet bulan-bulan selanjutnya akan otomatis menampilkan
nama yang sama, karena sudah dibuat link.

Nama File

54

2.2. Mengisi angka CBR (Crude Birth Rate/Angka Kelahiran Kasar) sesuai dengan dengan
CBR masing-masing Propinsi atau Kabupaten/Kota. Jika CBR kabupaten/kota tidak
tersedia, dapat dipakai CBR propinsi.
Pengisian angka CBR cukup dilakukan satu kali, pada sheet bulan Januari.

2.3. Mengisi Nama Desa dan Jumlah Penduduk per Desa (kolom-B dan kolom-C).
Sebelum mengisi nama Desa, tentukan terlebih dahulu jumlah desa yang berada dalam
wilayah puskesmas, misalnya ada 10 Desa, maka Desa nomor 11 dan seterusnya tidak
diperlukan atau harus di delete.

Langkah-langkah untuk mendelete desa no.11 dan seterusnya, adalah sbb:
1. Tekan tombol kontrol (Ctrl), jangan dilepaskan
2. Klik semua sheet, mulai Jan sampai Des.
3. Lepaskan tombol Control
4. Blok baris ke 18 dan seterusnya (Desa no.11 dst)
5. Pilih Edit, Pilih Delete
6. Pastikan desa no.11 dst sudah didelete

Nama Puskesmas,
Kabupaten/Kota

Bulan, Tahun
Pelaporan

Angka CBR

55

Gambar #. Langkah-langkah untuk mendelete desa

Setelah dipastikan bahwa desa yang tersedia hanya 10, baru kemudian dilakukan pengisian
nama Desa dan jumlah penduduk per Desa. Setelah jumlah penduduk masing-masing Desa
dientry, maka secara otomatis jumlah sasaran akan terisi. Jangan lupa dipastikan, harus ada
total untuk masing-masing kolom (akan terisi secara otomatis).

5.Pilih Edit, Delete

2. Klik sheet Jan, Feb, … sampai Des (sambil tetap menekan tombol Ctrl)

4.Blok Baris ke-18, dst..

Catatan: Jangan lakukan perubahan apapun pada cell yang berwarna kuning

56

Ada kalanya pada kondisi tertentu diperlukan penambahan Desa (misalnya tahun depan ada
pemekaran wilayah sehingga jumlah Desa bertambah 2 desa) .

Langkah-langkah untuk menambah jumlah desa, adalah sbb:
1. Tekan tombol kontrol (Ctrl), jangan dilepaskan
2. Klik semua sheet, mulai Jan sampai Des.
3. Lepaskan tombol Control
4. Blok baris ke 16,desa no.9 (dari 10 desa), Pilih Edit, Copy
5. Pilih Insert, Copied Cell
6. Pastikan sudah ada tambahan 1-baris, untuk menambahkan satu baris lagi, ulangi kembali
langkah ke.5 (Insert, Copied Cell)

2. Klik sheet Jan, Feb, … sampai Des
(sambil tetap menekan tombol Ctrl)

4. Blok Baris ke-16 (desa no.9)

5.Pilih Insert, Copied Cell

57

Setelah dipastikan bahwa desa yang tersedia hanya 10, baru kemudian dilakukan pengisian
nama Desa dan jumlah penduduk per Desa. Setelah jumlah penduduk masing-masing Desa
dientry, maka secara otomatis jumlah sasaran akan terisi. Jangan lupa dipastikan, harus ada
total untuk masing-masing kolom (akan terisi secara otomatis).

2.4. Data “Sasaran” Bumil, Bulin, dan Bayi per Desa (kolom-D sampai kolom-G).
Setelah dipastikan bahwa desa yang tersedia hanya 10 (atau 12 sesuai keinginan), maka
Ketik Nama Desa dan jumlah penduduk per desa. Sedangkan Jumlah Sasaran akan muncul
secara otomatis.
Dalam pengisian data harap diperhatikan bahwa cell yang berwarna kuning jangan diutak
atik, karena berisi rumus yang angkanya akan muncul secara otomatis.

Pengisian Nama Desa & Jumlah
Penduduk per Desa

58

3. Pengisian Cakupan PWS-KIA (Bulanan)
Mulai dari sheet Januari, isi kolom Cakupan “Bulan ini” (dalam jumlah absolut) ke masing-
masing indikator, mulai dari K1, K4, Deteksi Risti, Neonatus, dan Nifas.
Pada bulan Januari, data “Kumulatif sampai dengan bulan lalu” akan kosong, karena
bulan Januari adalah awal dimulainya kegiatan pencatan dan pelaporan. Pada bulan Februari,
data “Kumulatif sampai dengan bulan lalu” akan sama isinya dengan data bulan
Januari. Pada bulan Maret, data “Kumulatif sampai dengan bulan lalu” akan berisi
penjumlahan antara data bulan Januari dengan bulan Februari, begitu seterusnya pula untuk
bulan-bulan selanjutnya.
Data “Kumulatif ABSOLUT” akan terisi secara otomatis, yang merupakan penjumlahan
antara “Kumulatif sampai dengan bulan lalu” dengan data cakupan “Bulan ini”.
Data “Persentase” akan terisi secara otomatis, yang formulanya adalah data cakupan
“Bulan ini” dibagi dengan jumlah “Sasaran” dan dikali 100%.

“Kumulatif sampai dengan bulan lalu”

“Kumulatif ABSOLUT”

“Persentase”

59

4. Pembuatan Tabel Cakupan (Bulanan)

Setelah semua data dalam satu bulan dipastikan telah terisi, maka untuk membuat Tabel
Cakupan/Laporan Bulanan akan mudah sekali. Hanya dengan mengklik tanda Print Preview
(File, Print Preview) maka akan muncul dilayar Format Tabel Laporan PWS-KIA, yang
sudah tersedia ruang untuk Tanda Tangan Kepala Puskesmas dan Tanda Tangan Bidan
Koordinator Pemegang Program KIA pada bagian bawah.
Pastikan Tabel tersebut telah sesuai, dan apabila ingin dicetak, langsung hubungkan dengan
printer, kemudian pilih File, Print. Masukkan nomor halaman (posisi tabel) yang ingin di
cetak, kemudian pilih OK. (Tabel terdiri dari 3 halaman kuarto/folio untuk indikator PWS-
KIA yang lengkap).

5. Pembuatan Grafik Cakupan (Bulanan)

Setelah semua data dalam satu bulan dipastikan telah terisi, maka untuk membuat Grafik
Cakupan/Laporan Bulanan akan mudah sekali. Karena Grafik sudah dibuat pada bagian
bawah tabel, dan angkanya akan muncul secara otomatis, menyesuaikan dengan data yang
ada pada persentase cakupan.
Grafik yang ada belum mempunyai judul yang lengkap, anda harus mengedit judul Grafik
dan melengkapinya sesuai dengan nama Puskesmas, Bulan, dan Tahun.

Untuk menampilkan Grafik, cukup dengan mengklik tanda Print Preview (File, Print
Preview) maka akan muncul dilayar Grafik PWS-KIA, yang sudah tersedia ruang untuk
Tanda Tangan Kepala Puskesmas dan Tanda Tangan Bidan Koordinator Pemegang Program
KIA pada bagian bawah.

60

Pastikan Grafik tersebut telah sesuai, dan apabila ingin dicetak, langsung hubungkan dengan
printer, kemudian pilih File, Print. Masukkan nomor halaman (posisi grafik) yang ingin di
cetak, kemudian pilih OK.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->