Anda di halaman 1dari 7

Laporan Modul 1, MG3017

Kominusi (Crushing dan Grinding)


Hafidha Dwi Putri Aristien (12111003) / Kelompok 2 / Senin, 20 April 2014
Asisten : Daniel Christoffel (12510002)
Abstrak Praktikum Modul 1 Kominusi merupakan tahap pertama pada pengolahan bijih, yaitu berupa proses pengecilan
ukuran material yang bertujuan untuk membebaskanmineral berharga dari gangue mineral serta mempersiapkan ukuran yang
tepat untuk proses konsentrasi. Sesuai tahapannya, kominusi dibagi menjadi dua jenis, yaitu crushing dan grinding. Praktikum
crushing bertujuan untuk dapat memahami mekanisme peremukan dan cara kerja alat, serta memahami mekanisme pengayakan.
Sedangkan pada praktikum grinding, tujuan yang ingin dicapai adalah agar praktikan dapat memahami mekanisme
penggerusan dan cara kerja alat, serta mengetahui pengaruh durasi waktu penggerusan terhadap hasil penggerusan.

A. Tinjauan Pustaka
Kominusi merupakan salah satu tahapan pada pengolahan
bijih, mineral atau bahan galian. Pada kominusi, bijih atau
mineral dari tambang yang berukuran besar lebih daripada
1 meter dapat dikecilkan menjadi bijih berukuran kurang
daripada 100 mikron. Pada umumnya bijih, mineral atau
bahan galian dari tambang masih berukuran cukup besar.
Sehingga sangat tidak mungkin dapat secara langsung
digunakan atau diolah lebih lanjut. Bijih atau mineral dalam
ukuran besar biasanya berkadar sangat rendah dan terikat
dengan mineral pengotornya. Liberasi mineral berharga
masih rendah pada ukuran bijih yang besar. Sehingga untuk
dapat diolah dan untuk dapat meningkatkan kadar mineral
tertentu harus melalui operasi pengecilan ukuran terlebih
dahulu. Operasi pengecilan ukuran bijih umumnya dibagi
dalam dua tahapan yaitu: operasai peremukan atau crushing
dan operasi penggerusan atau grinding.

2. Peremukan tahap kedua, secondary crushing,


mengecilkan ukuran bijih dari sekitar 20 cm sampai 5
cm.
3. Peremukan tahap ketiga, tertiary crushing, mengecilkan
ukuran bijih dari 5 cm menjadi sekitar 1 cm
4. Penggerusan kasar, grinding, mengecilkan ukuran bijih
mulai dari sekitar 1 cm menjadi selkitar 1 mm.
5. Penggerusan halus,fine grinding, mengecilkan ukuran
bijih mulai dari 1 mm menjadi halus, biasanya ukuran
bijih menjadi kurang dari 0,075 mm.

Tujuan Operasi Pengecilan Ukuran Pada Kominusi


Pada prinsipnya tujuan operasi pengecilan ukuran bijih,
mineral atau bahan galian adalah:
1. Membebaskan ikatan mineral berharga dari gangue-nya.
2. Menyiapkan ukuran umpan sesuai dengan ukuran
operasi konsentrasi atau ukuran pemisahan.
3. Mengekspos permukaan mineral berharga, Untuk proses
hyrometalurgi tidak perlu benar-benar bebas dari
gangue.
4. Memenuhi keinginan konsumen atau tahapan
berikutnya.

Tahapan Kominusi
Peremukan, crushing biasanya digunakan untuk pengecilan
ukuran sampai ukuran bijih kurang lebih 20 mm, sedangkan
penggerusan, grinding digunakan untuk pengecilan ukuran
mulai dari 20 mm sampai halus.
Umumnya pengecilan ukuran bijih dilakukan secara
bertahap yaitu:
1. Peremukan tahap pertama, primary crushing,
mengecilkan ukuran bijih sampai ukuran 20 cm.

Gambar 1. Diagram Operasi Kominusi

Mekanisme Peremukan, Aksi Kominusi


Prinsip peremukan adalah adanya gaya luar yang bekerja
atau diterapkan pada bijih dan gaya tersebut harus lebih
besar dari kekuatan bijih yang akan diremuk. Mekanisme
peremukannya tergantung pada sifat bijihnya dan
bagaimana gaya diterapkan pada bijih tersebut.
Setidaknya ada empat gaya yang dapat digunakan untuk
meremuk atau mengecilkan ukuran bijih.
1. Compression, gaya tekan.
Peremukan dilakukan dengan memberi gaya tekan pada
bijih. Peremukannya dilakukan diantara dua permukaan
plat. Gaya diberikan oleh satu atau kedua permukaan
plat. Pada Kompresi, energi yang digunakan hanya pada
sebagian lokasi, bekerja pada sebagian tempat, energi
yang digunakan hanya cukup untuk membebani daerah
yang kecil dan menimbulkan titik awal peremukan. Alat

yang dapat menerapkan gaya compression ini adalah:


jaw crusher, gyratory crusher, dan roll crusher.
2. Impact, gaya banting.
Peremukan terjadi akibat adanya gaya impak yang
bekerja pada bijih. Gaya impak adalah gaya
compression yang bekerja dengan kecepatan sangat
tinggi. Dengan gaya impak, energi yang digunakan
berlebih, bekerja pada seluruh bagian. Banyak daerah
yang menerima beban berlebih. Alat yang mampu
memberikan gaya impak pada bijih adalah impactor,
hummer mill.
3. Attrition atau abrasion.
Peremukan atau pengecilan ukuran akibat adanya gaya
abrasi atau kikisan. Peremukan dengan abrasi, gaya
hanya bekerja pada daerah yang sempit (dipermukaan)
atau terlokalisasi. Terjadi ketika energi yang digunakan
cukup kecil, tidak cukup untuk memecah/meremuk
bijih. Alat yang dapat memberikan gaya abrasi terhadap
bijih adalah ballmill, rod mill.
4. Shear, potong.
Pengecilan ukuran dengan cara pemotongan, seperti
dengan gergaji. Cara ini jarang dilakukan untuk bijih.

menutup seperti rahang manusia. Plat tebal tersebut


dinamakan fixed jaw dan movable jaw. Movable jaw
bergerak membuka dan menutup menurut sumbu tertentu,
sedangkan fixed jaw dalam kondisi statis. Pada gambar di
atas ditunjukkan mekanisme gerakan movable jaw pada jaw
crusher dua toggle.

Distribusi ukuran bijih hasil operasi pengecilan, kominusi


ditentukan oleh jenis gaya dan metoda yang digunakan.
Pengecilan ukuran bijih yang memanfaatkan gaya impak,
akan menghasilkan ukuran dengan rentang atau distribusi
yang lebar. Sedangkan kominusi yang memanfaatkan gaya
abrasi akan menghasilkan dua kelompok distribusi ukuran
yang sempit. Gambar di bawah ini menunjukkan ilustrasi
distribusi ukuran bijih hasil kominusi dengan berbagai gaya
yang berbeda.

Perbedaan mendasar yang ditimbulkan dengan adanya beda


lokasi sumbu gerak movable jaw ini adalah luas bukaan
masuk dan luas bukaan discharge.

Gambar 3. Mekanisme kerja jaw crusher

Menurut poros atau sumbu dari movable jaw, jaw crusher


dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu
a) Blake crusher yang memiliki sumbu di atas,
b) Dodge crusher yang memiliki sumbu di bagian bawah,
c) Universal crusher yang sumbunya terletak di bagian
tengah.

Gambar 4. Jenis jaw crusher berdasarkan sumbunya

Pada tahapan secondary crusher biasanya digunakan roll


crusher. Roll crusher, meski saat ini telah banyak
tergantikan oleh cone crusher namun di beberapa lokasi
masih juga digunakan. Roll crusher sangat bermanfaat
digunakan untuk menangani material lengket, sangat dingin
dan tidak abrasif, seperti halnya batu gamping, batubara,
gipsum, fosfat dan bijih besi.

Gambar 2. Gaya dan Distribusi Ukuran

Crushing
Crushing adalah tahap mekanis awal dalam proses
pengecilan ukuran yang tujuan utamanya adalah meliberasi
mineral berharga dari pengotornya. Biasanya dilakukan
dalam kondisi kering dan dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu
primer, sekunder dan tersier. Ketiga tahapan tersebut
didasarkan atas ukuran yang dihasilkan dari proses
peremukan.
Salah satu alat yang umum digunakan dalam primary
crushing adalah jaw crusher. Jaw crusher terdiri dari dua
plat tebal yang mekanisme geraknya membuka dan

Cara kerja dari roll crusher ini cukup sederhana, terdiri dari
dua silinder yang disusun berdampingan dan berputar saling
berlawanan arah menuju discharge. Ketika umpan
dimasukkan, umpan akan diremukkan oleh kedua silinder
dikarenakan gerakan silinder yang memberikan gaya gesek.
Untuk lebih jelasnya, mekanisme kerja roll crusher dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.Bagian dan mekanisme kerja roll crusher

Ukuran umpan yang dapat diproses oleh roll crusher ini


tergantung pada diameter silinder. Semakin besar diameter
silinder maka akan semakin besar juga ukuran umpan yang
dapat diterima.

B. Data Percobaan
Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh data sebagai
berikut.
Berat umpan

Grinding
Grinding merupakan proses akhir dari kominusi atau
reduksi ukuran. Pada tahap ini partikel dikecilkan
ukurannya dengan kombinasi impact dan abrasi (attrition
dan shear). Proses grinding dilakukan di dalam sebuah
silinder dari baja yang berisi media gerus, material yang
akan digerus dapat dalam kondisi kering ataupun basah.
Menurut geraknya, grinding mill dibedakan menjadi
tumbling mill dan stirrer mill. Tumbling mill umum
digunakan dalam industri pengolahan, ciri khas dari
tumbling mill adalah dinding mill berputar yang
memberikan pengaruh terhadap bergeraknya media gerus
dan material. Sedangkan pada stirrer mill, gerakan media
gerus dan material disebabkan oleh pengaduk yang berputar
di dalam mill.

: 2,15 kg

Hasil crushing
Fraksi

Berat Tertampung (gram)

+12,5 mm

1600

-12,5 mm

+3 #

250

-3 #

+8 #

150

-8 #

+14 #

50

-14 #

100

Total Hasil

2150 gram

Hasil grinding
Fraksi
+28 #

Berat Tertampung (gram)


10 menit

15 menit

20 menit

269.1

273.4

254

-28 #

+35 #

18.4

13.2

3.9

-35 #

+65 #

53.9

43.5

22.1

-65 #

+100 #

51.4

149.7

135.8

-100 #

+150 #

45.6

83.2

118.6

153.3

25.3

53.2

-150 #
Gambar 6. Jenis mekanisme penggerusan. a) impact; b) chipping;
c) abrasi

Media gerus yang dapat digunakan dalam tumbling mill di


antaranya adalah bola-bola baja atau keramik, batangbatang baja, tanpa media (autogenous) dan semi
autogenous. Berdasarkan media gerusnya, tumbling mill
dapat dikelompokkan menjadi:
a. Ball mill, media gerus berupa bola-bola baja
b. Rod mill, media gerus berupa batang-batang baja
berbentuk silinder
c. Pebble mill, media gerus berupa kerikil yang sangat
keras
d. Autogenous mill, tanpa media (bijih yang digerus
berfungsi sebagai media gerus)
e. SAG (semi autogenous) mill, media gerus berupa
campuran bijih ditambah bola-bola baja.
Salah satu besaran yang penting dalam operasi kominusi
adalah rasio ukuran bijih awal terhadap ukuran bijih hasil
atau produk, atau biasa disebut dengan reduction ratio atau
rasio reduksi. Nilai Reduction ratio akan berpengaruh
terhadap kapasitas produksi dan juga berpengaruh terhadap
energi produksi. Pada operasi crushing, rediction ratio
biasanya berkisar antara 2-9. Untuk pengecilan ukuran yang
menggunakan Jaw crusher atau cone crusher akan lebih
efisien jika menerapkan reduction ratio sekitar 7. Pada
operasi grinding atau penggerusan reduction rasio bisa
mencapai lebih daripada 200. Artinya ukuran umpan 200
kali lebih besar daripada ukuran produk..

C. Pengolahan Data Percobaan


Crushing
Fraksi
+12,5 mm
-12,5 mm
+3 #
-3 #
+8 #
-8 #
+14 #
-14#

Berat
Tertam
pung
1.6
0.25
0.15
0.05
0.1

Berat
Lolos
0.55
0.3
0.15
0.1
0

Berat
Kumulatif Lolos
0.55
0.85
1.00
1.10
1.10

% Berat
Kum
Lolos
50%
77%
91%
100%
100%

Grinding

Fraksi

Berat
Tertampung

+28 #
-28 #
+35 #
-35 #
+65 #
-65 #
+100 #
-100 #
+150 #
-150 #

269.1
18.4
53.9
51.4
45.6
153.3

Berat
Kumulatif Lolos
10 menit
330.9
330.9
312.5
643.4
258.6
902
207.2
1109.2
161.6
1270.8
8.3
1279.1

Berat
Lolos

% Berat
Kum
Lolos
26%
50%
71%
87%
99%
100%

D. Analisis Hasil Percobaan


Proses crushing yang dilakukan selama percobaan cukup
baik, dapat dilihat dengan tingginya efisiensi kerja alat
(tidak ada material hilang selama proses). Berdasarkan
grafik, dapat dilihat bahwa setelah melewati proses
peremukan, 80% material berukuran > 5,2 mm.

Fraksi

Berat
Tertampung

+28 #
-28 #
+35 #
-35 #
+65 #
-65 #
+100 #
-100 #
+150 #
-150 #

273.4
13.2
43.5
149.7
83.2
25.3

Berat
Kumulatif Lolos
15 menit
326.6
326.6
313.4
640
269.9
909.9
120.2
1030.1
37
1067.1
11.7
1078.8

Berat
Lolos

% Berat
Kum
Lolos
30%
59%
84%
95%
99%
100%

Setelah dilewatkan pada proses penggerusan (grinding),


dari grafik dapat dilihat bahwa secara umum 100% material
produkta berukuran < 0,6 mm. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa proses kominusi baik dilakukan secara bertahap,
yaitu peremukan kemudian penggerusan untuk dapat
menghasilkan material berukuran hasil, untuk dilakukan
proses pengolahan selanjutnya (konsentrasi).
Berdasarkan hasil dari perbedaan gape pada roll crusher
(gambar terlampir), diketahui bahwa semakin kecil gape
(bukaan pada crusher), material yang dihasilkan memiliki
ukuran partikel yang semakin kecil/halus. Artinya,
pengurangan lebar gape akan memperkecil ukuran partikel
produkta.
Sedangkan dari percobaan pada grinding dengan variabel
lama waktu penggerusan, didapatkan hasil perbandingan
dalam grafik berikut.

Fraksi

Berat
Tertampung

+28 #
-28 #
+35 #
-35 #
+65 #
-65 #
+100 #
-100 #
+150 #
-150 #

254
3.9
22.1
135.8
118.6
53.2

Berat
Lolos

Berat
Kumulatif Lolos

20 menit
346
346.0
342.1
688.1
320
1008.1
184.2
1192.3
65.6
1257.9
12.4
1270.3

% Berat
Kum
Lolos
27%
54%
79%
94%
99%
100%

Berdasarkan teori, semakin lama waktu penggerusan,


material halus yang didapatkan akan semakin banyak.
Namun dari grafik dapat dilihat bahwa material hasil
penggerusan selama 15 menit lebih banyak daripada hasil
penggerusan selama 20 menit. Hal ini diakibatkan oleh
adanya ketidakmerataan jumlah material yang dimasukkan
dalam proses grinding dengan lama waktu penggerusan
berbeda, dimana material yang dimasukkan pada percobaan
1 (10 menit) sebanyak 1279,1 gram, percobaan 2 (15 menit)

1078,8 gram, dan percobaan 3 (20 menit) sebanyak 1270,3


gram. Perbedaan jumlah material yang cukup besar (+200
gram), dengan jumlah bola baja dalam silinder sama, akan
berpengaruh pada efektivitas proses grinding yang terjadi,
sehingga bukan hanya variabel lama penggerusan yang
berpengaruh.

E. Pertanyaan dan Jawaban


Crushing
1. Jelaskan istilah gape, setting, dan angle of nip!
Jawab:
Gape adalah suatu ukuran pada bagian bukaan umpan
crusher. Pada jaw crusher, gape adalah jarak antar dua
jaw di bukaan umpan. Pada gyratory crusher, gape
adalah jarak ujung atas mantle terhadap shell bagian atas
gyratory.
Setting adalah jarak yang dapat diubah pada crusher.
Untuk jaw crusher terdapat dua jenis setting, yaitu open
setting dan closed setting. Open setting adalah jarak
maksimum antara kedua jaw, sedangkan closed setting
adalah jarak minimum antara kedua jaw.
Angle of nip adalah sudut jepit, pada jaw crusher adalah
sudut yang dibentuk antara fixed jaw dan movable jaw,
sedangkan pada roll crusher adalah sudut yang dibentuk
oleh tangen kedua permukaan roll pada titik kontak
dengan partikel.
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan reduction ratio,
limiting reduction ratio, dan reduction ratio 80%!
Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya
reduction ratio dari hasil peremukan?
Jawab:
Reduction ratio adalah perbandingan antara ukuran
umpan yang masuk dengan ukuran produkta yang
dihasilkan.
Limitting reduction ratio adalah perbandingan antara
ukuran bukaan screen dimana semua feed bisa lolos
terhadap ukuran bukaan screen yang sama dimana
semua produkta bisa lolos.
Perbandingan antara ukuran bukaan screen yang
meloloskan 80% feed dengan bukaan screen yang
meloloskan 80% produkta.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya reduction
ratio di antaranya adalah sifat fisik material yang akan
diremukkan, seperti kekerasan, kandungan air,
komposisi mineral, ukuran butir, porositas, selain itu
juga dipengaruhi oleh discharge dari crusher.
3. Ada berapa macam tipe Jaw Crusher menurut desainnya
dan dimana letak perbedaannya?
Jawab:
Ada tiga macam, yaitu Blake, Dodge dan Universal.
Perbedaannya terletak pada lokasi sumbu serta gerakan
dari movable jaw. Perbedaan tersebut mengakibatkan
variasi luas bukaan masuk dan luas bukaan discharge.

4. Jelaskan apa yan dimaksud dengan Choke Crushing dan


Arrested Crushing pada operasi peremukan serta beri
contoh alat yang menggunakan cara tersebut!
Jawab:
Choke crushing adalah mekanisme peremukan dimana
dalam prosesnya material diremukkan oleh alat serta
tumbukan dengan material itu sendiri. Contoh alatnya
adalah roll crusher.
Arrested crushing adalah mekanisme peremukan yang
selama prosesnya material diremukkan oleh alat sampai
material lolos ke zona discharge. Contoh alatnya adalah
jaw crusher.
5. Jelaskan mekanisme remuknya material!
Jawab:
3 aksi peremukan, yaitu abrasi, kompresi, dan impact.
Pada aksi abrasi, peremukan terjadi karena dua gaya
geser yang berlawanan arah pada partikel. Kompresi
terjadi di antara dua permukaan partikel dengan energy
rendah. Impact terjadi karena energi yang cukup dalam
peremukan dan dapat memecah partikel.
6. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju partikel
melewati permukaan ayakan!
Jawab:
Ukuran partikel umpan, bentuk partikel, water content
mineral, ukuran lubang ayakan, amplitudo dan frekuensi
getar alat serta sudut pengumpanan.
Ukuran lubang ayakan yang besar akan semakin banyak
meloloskan material. Semakin tinggi frekuensi getar
juga akan membantu mempermudah lolosnya material.
7. Bagaimana menyatakan ukuran dari alat Jaw Crusher,
Gyratory Crusher, Roll Crusher, dan pengayak getar
(Vibration Screen)?
Jawab:
Jaw crusher
: gape x width
Gyratory crusher
: gape x mantle
Roll crusher
: diameter x width
Pengayak getar
: banyaknya lubang dalam
ukuran 1 inchi linear (mesh),
atau ukuran geometri 1 lubang
(mm)

Grinding
1. Jelaskan mekanisme pengecilan ukuran yang terjadi
dalam ball mill, demikian juga dengan roll mill!
Jawab:
Pada ball mill, bola akan ikut berputar dengan tumbling
mill. Kemudian di suatu titik ketika kecepatannya sama
dengan nol, bola akan jatuh dan menumbuk bijih di
dalam mill.

Pada rod mill, material akan berada di antara dua rod


dan dalam kondisi terjepit. Penggerusan terjadi akibat
berat dari rod.
2. Kenapa penggunaan bijih pada pengolahan bahan galian
umumnya dilakukan dengan cara basah?
Jawab:
Agar bijih tidak lengket pada liner, serta karena proses
selanjutnya dalam pengolahan bahan galian adalah
dengan cara basah.
3. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keausan
bola pelapis (liner) pada ball mill?
Jawab:
Kecepatan rotasi, ukuran umpan, bahan dasar liner,
ketebalan liner, dan zona cascading.
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kecepatan kritis
dan turunkan persamaannya!
Jawab:
Kecepatan yang menyebabkan bola-bola baja akan
melekat pada liner, sehingga tidak terjadi penggerusan.
Penurunan rumus:
2
= cos

V pada proses dapat dinyatakan dalam:


2
=
60
Sehingga jika disubstitusikan:
4 2 2 2
cos =
602
0,0011 ( ) 2
cos =
2
Kecepatan kritis terjadi saat =0, sehingga nilai cos =1.
0,0011 ( ) 2
1=
2
2
2 =
0,0011 ( )
42,3
=

Kecepatan kritis dinyatakan dalam satuan putaran per
menit (rpm).
5. Jelaskan tiga hubungan putaran mill dengan aksi
penggerusan!
Jawab:
Abrasi, terjadi apabila putaran realtif rendah, sehingga
energi belum cukup untuk menghasilkan penggerusan
dengan cara kompresi dan impact.
Kompresi, semakin cepat putaran akan semakin banyak
terjadi impact asalkan tidak melebihi kecepatan kritis.
Hal ini disebabkan energi penggerusan telah tercapai.
Impact, semakin cepat putaran akan semakin banyak
terjadi impact asalkan tidak melebihi kecepatan kritis

F. Kesimpulan
Kominusi dapat dilakukan secara bertahap dengan crushing
(peremukan) dan grinding (penggerusan). Mekanisme

peremukan yang terjadi pada material adalah abrasi,


kompresi, dan impact. Alat yang dapat digunakan untuk
proses crushing adalah jaw crusher (cara kerjanya seperti
rahang manusia, dengan satu jaw bergerak maju dan
mundur) pada primary crushing, dan roll crusher (cara
kerjanya berdasarkan gesekan dan gaya putar dari silinder
yang menjepit material) pada secondary crushing. Semakin
kecil ukuran gape yang digunakan, hasil yang diperoleh
berukuran semakin halus.
Pada proses grinding, ball mill menggerus material dengan
adanya putaran tumbling mill sehingga terbentuk dua zona
di dalamnya, yaitu cataracting zone dan cascading zone.
Dalam kedua zona tersebut terjadi mekanisme abrasi,
kompresi, dan impact.
Material hasil grinding seluruhnya berukuran < 0,6 mm,
hampir 1/10 kali ukuran hasil crushing, dimana 80%
material hasil crushing berukuran > 5,2 mm. Semakin lama
waktu penggerusan yang dilakukan, akan didapatkan lebih
banyak material berukuran halus.

G. Daftar Pustaka
Barry A. Wills. Tim Napier-Munn 2006. Mineral
Processing Technology: An Introduction to the
Practical Aspects of Ore Treatment and Mineral
Recovery. Elsevier Science & Technology Books:
Australia. (halaman 109-115)
Kelly, G., W. 1982. Introduction to Mineral Processing.
John Wiley & Son, New York. (halaman 127-157)
Operasi Pengecilan Ukuran. Diperoleh pada 26 April 2014
(pukul 21.00) dari http://ardra.biz/sain-teknologi/mineral/
pengolahan-mineral/kominusi-operasi-pengecilan-ukuran/.

H. Lampiran

Gambar 7. Jaw crusher

Gambar 8. Roll crusher

Gambar 9. Hasil roll crusher dengan gape berbeda-beda (dari kiri:


ukuran gape = 0,5 cm; 1 cm; 1,5 cm)

Gambar 10. Ball mill

Gambar 11. Foto Kelompok 2 PBG