Anda di halaman 1dari 42

PENYUSUNAN

ANGGARAN
SEDIAAN
Kelompok 6
Sarwo Hadi Nugroho
Tia Aprilia
Siti Zulaikha
Sellyndah

PENGERTIAN ANGGARAN
SEDIAAN DAN FAKTOR YANG
MEMENGARUHINNYA
Pengertian
Sediaan adalah barang yang diperoleh dan tersedia
dengan maksud untuk dijual atau dipakai dalam
produksi untuk keperluan memproduksi dalam siklus
kegiatan yang normal
Anggaran sediaan adalah anggaran yang dibuat untuk
sediaan

Faktor yang Memengaruhi Sediaan


Sediaan Produk Jadi
Besar kecilnya produk jadi minimal, antara lain dipengaruhi berbagai
faktor: sifat penyesuaian jadwal produksi dengan pesanan ekstra, sifat
persaingan industri, dan hubungan antara biaya penyimpanan di gudang
dengan biaya kehabisan sediaan.
Sediaan Barang Dagangan
Besar kecilnya sediaan barang dagangan minimal, antara lain
dipengaruhi berbagai faktor: sifat persaingan dagang, hubungan antara
biaya penyimpanan di gudang dengan biaya kehabisan sediaan, dan
ketersediaan barang di penyalur.
Sediaan Bahan Baku
Besar kecilnya sediaan bahan baku yang dimiliki ditentukan oleh
beberapa faktor, antara lain: anggaran produk, harga beli bahan baku,
biaya penyimpanan bahan baku dalam hubungannya dengan biaya
ekstra sebagai akibat kehabisan sediaan, ketepatan pembuatan standar
bahan baku dipakai, ketepatan penjualan bahan baku menyerahkan
bahan baku yang dipesan, dan jumlah bahan baku tiap kali pesan.

Faktor yang Memengaruhi Sediaan


Kuantitas Pesanan Ekonomis
Adalah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang
minimal. Perhitungan kuantitas pesanan ekonomis dapat dirumuskan
sebagai berikut.
2KstS
KPE =
HstI

Kst
= kuantitas standar bahan baku dipakai selama periode tertentu
S = biaya pemesanan setiap kali pesan
Hst = harga standar bahan baku per unit
I
= biaya penyimpanan bahan baku di gudang
Hst I = biaya penyimpan per unit

Saat Kembali Pesan


Saat harus memesan kembali bahan yang diperlukan, sehingga
kedatangan bahan yang dipesan tepat pada waktu sediaan di atas sediaan
keamanan sama dengan nol.

PENYUSUSUNAN ANGGARAN
PERSEDIAAN PRODUK
Anggaran sediaan produk jadi dan sediaan
dalam proses dalam persahaan manufaktur
dapat dapat dihitung dengan dua cara:
Menetapkan tingkat putaran persediaan
Membuat anggaran produk

Menetapkan Tingkat Putaran Sediaan


Jualan 1.000 unit @Rp 60
BBB
BTKL
BOP

Rp

Rp

Rp

?+

Rp

Biaya pabrik

? unit

Sediaan produk dlm proses awal

65 unit

Biaya produksi

? unit

Sediaan produk dlm proses akhir

? unit

Harga pokok produk jadi

? unit Rp

40

Sediaan produk jadi awal

60 unit Rp

40 Rp

Produk siap jual

? unit Rp

40

Rp

Sediaan produk jadi akhir

? unit Rp

40 Rp

Rp

Rp

60,000

Rp

40,000 _

Rp

20,000

2,015 +

Rp

Rp

?_

Rp

?
2,400 +

_
Harga 10.1
pokok jualan
TABEL

1000 unit Rp

Laba kotor
Anggaran
Laba Rugi yang Belum Lengkap

40

Sediaan Produk Jadi Akhir

SPJX
2 SPJA
TPSPJ
SPJX
J
SPJA
TPSPJ

= sediaan produk jadi akhir


= jualan
= sediaan produk jadi awal
= tingkat putaran sediaan produk jadi

Jualan 1.000 unit @Rp 60


BBB

Rp

BTKL

Rp

BOP

Rp

unit

Rp

65 unit

Rp

Biaya pabrik

Sediaan produk dlm proses awal

unit

Rp

Sediaan produk dlm proses akhir

unit

Rp

Harga pokok produk jadi

980 unit Rp

40 Rp

Sediaan produk jadi awal

60 unit Rp

40 Rp

1040 unit Rp

40 Rp

40 unit Rp

40 Rp

Sediaan produk jadi akhir


Harga pokok jualan

1000 unit Rp

TABEL
Laba kotor10.2
Anggaran Laba Rugi yang Dilengkapi

40

60,000

Rp

40,000 _

Rp

20,000

+
2,015 +

Biaya produksi

Produk siap jual

Rp

39,200
2,400 +
41,600
1,600 _

HPPJ

SPDPX
2 SPDPA
TPSPDP
SPDP
HPPJ
SPDPA
TPSPDP

= sediaan produk dalam proses akhir


= harga pokok produk jadi
= sediaan produk dalam proses awal
= tingkat putaran sediaan produk dalam proses

Jualan 1.000 unit @Rp 60


BBB

Rp

19,560

BTKL

Rp

14,640

BOP

Rp

Biaya pabrik
Sediaan produk dlm proses awal
Biaya produksi
Sediaan produk dlm proses akhir

985 unit

Rp

65 unit

Rp

1050 unit

Rp

70 unit

Rp

Harga pokok produk jadi

980 unit Rp

40 Rp

Sediaan produk jadi awal

60 unit Rp

40 Rp

1040 unit Rp

40 Rp

40 unit Rp

40 Rp

Produk siap jual


Sediaan produk jadi akhir
Harga pokok jualan

TABEL
Laba kotor10.3
Anggaran Laba Rugi diselesaikan

1000 unit Rp

40

Rp

60,000

Rp

40,000 _

Rp

20,000

4,980 +
39,180
2,015 +
41,195
1,995 _
39,200
2,400 +
41,600
1,600 _

Membuat Anggaran Produk


1. Anggaran Sediaan Produk Jadi Akhir
ILUSTRASI
Anggaran jualan tahun 2015 adalah:
Januari 1.000 unit;
Februari
2.000 unit;
Maret
3.000 unit.
Sediaan produk jadi awal sebanyak 100 unit. Perusahaan mengutamakan
stabilitas produk dengan anggaran produk jadi selama 3 bulan sebanyak
6.060 unit.
Harga pokok produk jadi variabel Rp 10 per unit, harga jual produk
jadi Rp 12 per unit, beban usaha variabel Rp 1 per unit.

Jualan
Sediaan akhir
Produk siap dijual
Sediaan awal
Produk jadi

6.060
100 +
6.160
100 6.060

Produk jadi per bulan = 6.060/3 = 2.020 unit


Anggaran sediaan produk jadi akhir: Januari
1.120 unit; Februari 1.140 unit; Maret 160 unit

TABEL 10.5
Anggaran Produk

PT Tibung
Anggaran Produk
Triwulan I Tahun 2015

Keterangan
Jualan
Sediaan akhir
Produk siap dijual
Sediaan awal
Produk Jadi

Triwulan
Jan
1.00
0
1.12
0
2.12
0 10
0
2.02
0

Feb
Mar
2.00 3.00
1.14
0 160
0
0
3.160
3.14
1.12 1.14
0
0
0
2.02
2.02
0
0

Triwulan I
6.00
016
0
6.16
0 10
0
6.06
0

Anggaran Jualan :
Januari
1.000 unit x Rp 12 = Rp 12.000
Februari
2.000 unit x Rp 12 = Rp 24.000
Maret
3.000 unit x Rp 12 = Rp 36.000

Anggaran sediaan produk jadi akhir :


Januari
1.120 unit x Rp 10 = Rp 11.200
Februari
1.140 unit x Rp 10 = Rp 11.400
Maret
160 unit x Rp 10 = Rp 1.600

Harga pokok produk jadi per bulan


2.020 unit x Rp 10 = Rp 20.200
Sediaan produk jadi awal Januari 2015
100 unit x Rp 10 = Rp 1.000

TABEL 10.6

20.200

36.000
20.200

72.000
60.600

1.000

11.200

11.400

1.000

21.200

31.400

31.600

61.600

11.200

11.400

1.600

1.600

10.000

20.000

30.000

60.000

2.000

4.000

6.000

12.000

1.000

2.000

3.000

6.000

1.000

2.000

3.000

6.000

2.000
(1.000)

2.000

2.000

0 (impas)

1.000

12.000

24.000

20.200

6.000
0 (impas)

Biaya variabel per unit :


Harga pokok produk jadi variabel per unit
Rp 10
Beban usaha variabel per unit
Rp 1
Biaya variabel per unit
Rp 11

Maka, biaya variabel :


Januari
1.000 unit x Rp 11 = Rp 11.000
Februari
2.000 unit x Rp 11 = Rp 22.000
Maret
3.000 unit x Rp 11 = Rp 33.000

TABEL 10.7
Anggaran Laba Rugi Bentuk Pendek Metode Penghargapokokan Variabel

12.000
11.000

24.000
22.000

36.000
33.000

72.000
66.000

1.000
2.000

2.000
2.000

3.000
2.000

6.000
6.000

(1.000)

0 (impas)

1.000

0 (impas)

Anggaran Sediaan Produk dalam


Proses Akhir
ILUSTRASI
Data sediaan produk dalam proses awal Januari 2015 sebanyak 90
Unit dan sediaan produk dalam proses akhir Maret 2015 sebanyak
75 unit. Tingkat penyelesaian sediaan produk dalam proses akhir
direncanakan sama dengan awal, yaitu BBB 100%, BTKL 50%,
dan BOP 50%. Sediaan produk jadi akhir Maret 2015 sebanyak 160
unit.
Harga pokok adalah sebagai berikut : BBB Rp 2, BTKL Rp 4, dan
BOPV Rp 4
Anggaran produk sebagai berikut:

PT Tibung
Anggaran Produk
Triwulan I Tahun 2015
Triwulan

Keterangan
Jualan
Sediaan akhir
Produk siap dijual
Sediaan awal
Produk Jadi

Jan
1.00
1
0.12
0
2.12
0 10
0
2.02
0

Feb
2.00
1.14
0
0
3.14
1.12
0
0
2.02
0

Produk jadi
Sediaan produk dalam proses akhir
Produk dihasilkan
Sediaan produk dalam proses awal
Produk masuk periode ini

Triwulan I

Mar
3.00
0 160

6.00
016
0
6.16
0 10
0
6.06
0

3.160
1.14
02.02
0
6.060
75

6.135
90
6.045

Produk jadi tiap bulan = 6.060 / 3 = 2.020


Produk masuk periode ini = 6.045 / 3 = 2.015

TABEL 10.8

85
2.105
90
2.015

80
2.100
85
2.015

75
2.095
80
2.015

75
6.135
90
6.045

Maka, Sediaan produk dalam proses akhir bulan :


Januari :
BBB = 85 x 100% x Rp2 = Rp 170
BTKL = 85 x 50% x Rp 4 = Rp 170
BOPV = 85 x 50% x Rp4 = Rp 170
Februari :
BBB = 80 x 100% x Rp2 = Rp 160
BTKL = 80 x 50% x Rp 4 = Rp 160
BOPV = 80 x 50% x Rp4 = Rp 160
Maret :
BBB = 75 x 100% x Rp2 = Rp 150
BTKL = 75 x 50% x Rp 4 = Rp 150
BOPV = 75 x 50% x Rp4 = Rp 150
Harga pokok produk jadi tiap stabil tiap bulan Rp 20.200 dan biaya
pabrik stabil tiap bulan Rp 20.170

TABEL 10.9

PT Tibung
Anggaran Laba rugi
Triwulan I Tahun 2015 (Rp)

Keterangan
Jualan
Biaya Pabrik

Januari
Februari
Maret
Triwulan I
12,000
24,000
36,000
72,000
20,170
20,170
20,170
60,510

Sediaan produk dlm proses awal


Biaya produksi

540

Sediaan produk dlm proses akhir


Harga pokok produk jadi
Sediaan produk jadi awal
Produk siap dijual
Sediaan produk jadi akhir
Harga pokok jualan
Margin kontribusi kotor
Beban usaha variabel
Margin kontribusi bersih
Baban tetap

510

Laba (rugi)

510
20,710

480
20,680

480
20,200
1,000
21,200
11,200
10,000
2,000
1,000
1,000
2,000
(1,000)

540
20,650

450
20,200
11,200
31,400
11,400
20,000
4,000
2,000
2,000
2,000
-

61,050
450

20,200
11,400
31,600
1,600
30,000
6,000
3,000
3,000
2,000
1,000

60,600
1,000
61,600
1,600
60,000
12,000
6,000
6,000
6,000
-

Menghitung Anggaran Sediaan


Bahan Baku
Anggaran sediaan Bahan Baku Akhir (SBBX) dapat dihitung denga rumus:
SBBX = KPE SBBA

KPE =

2KstS
BP

KPE
= Kuantitas Pesanan Ekonomis
SBBA = Sediaan Bahan Baku Awal
Kst = Kuantitas Standar Bahan Baku dipakai
S = Biaya pemesanaan setiap kali pesan
BP = biaya penyimpanan per unit ( HSt x I )

Contoh :
PT Purnasari selama setahun dianggarkan bahan baku dipakai (BBD)
sebanyak 364 ons, KSt @Rp 160, HSt @Rp 160. BBB = Rp 58.240. biaya
pemesanan setiap kali pesan Rp 728 (S) , biaya penyimpanan per ons Rp 64
(BP) dan sediaan bahan baku awal 26 ons.
Jawab :
KPE =

KPE =

2KstS
BP

2364728
64
= 91ons

Menetapkan Tingkat Putaran Sediaan


Dengan menetapkan tingkat putaran sediaan bahan baku (TPSBB), dapat
dihitung sediaan bahan baku akhir
SBBX =

BBD 2 SBBA
TPSBB

TPSBB = BBD
RSBB
SBBX
BBD
SBBA
TPSBB
RSBB

= Sediaan Bahan Baku Akhir


= bahan baku dipakai
= Sedaian bahan baku awal
= Tingkat putaran sediaan bahan baku
= rata-rata sediaan bahan baku = (SBBA=SBBX)/2

Contoh Soal :
PT. Purnasari mempunyai data sebagai berikut : kuantitas standar bahan baku
dipakai (KSt) setahun 364 ons, harga standar bahan baku (HSt) per ons Rp 160,
Sediaan bahan baku awal (SBBA)26 ons @Rp 160 = Rp 4160. dan manajemen
menetapkan tingkat putaran sediaan bahan baku (TPSBB) = 8kali. Berapa
anggran sediaan bahan baku akhir ?

SBBX =
SBBX =

BBD
2 SBBA
TPSBB
364
8

2 26 = 650ons

Jadi , Sediaan bahan baku akhir dalam rupiah = 65 ons x Rp 160 = Rp 10.400.
Sedangkan tingkat putaran sediaan bahan baku (TPSBB) :
TPSBB =

BBD
RSBB

TPSBB =

364
45,5

= 8kali

Anggaran Biaya Bahan Baku (BBB) dihitung dengan rumus :


BBB = KSt x HSt
KSt = P x KSBB
P
KSBB

= Unit ekuivalen Produk


= Kuantitas standar bahan baku per unit produk

Unit Ekuivalen produk ( P) dengan metode FIFO ( firs in First out ),


rumusnya:
P = PJ + UESPDPX + UESPDPA
PJ
= Produk jadi
UESPDPX
= Unit ekuivalen sediaan produk dalam proses akhir
UESPDPA
= Unit ekuivalen sediaan produk proses awal

Contoh Soal :
Perusahaan kecap sari selama tahun 2016 mempunyai data sebagai berikut :
Anggaran produk jadi dihasilkan periode ini :
Triwulan 1
= 39 unit
Triwulan 2
= 42,5 unit
Triwulan 3
= 40,8
Triwulan 4
= 46,20
Anggaran sediaan produk dalam proses akhir triwulan :
1 = 20 unit, tingkat penyelesaian biaya bahan baku 90%
2 = 25 unit, tingkat penyelesaian biaya bahan baku 90%
3 = 30 unit, tingkat penyelesaian biaya bahan baku 100%
4 = 35 unit, tingkat penyelesaian biaya bahan baku 100%
Sediaan produk dalam proses awal triwulan 1 sebanyak 15 unit dengan
tingkat penyelesaian 80%.
HSt kedelai per ons Rp 100 dan HSt gula merah per ons Rp 60. untuk
membuat satu unit produk jadi diperlukan kuantitas standar bahan baku per
unit produk (KSBB) kedelai 1,67 ons dan gula merah 2,04 ons.
Data sediaan bahan baku awal tahun 2016 sebagai berikut :
Kedelai = 10 ons x Rp 100 = Rp 1000
Gula merah = 15 ons x Rp 60 = Rp 900
Rp 1900
putaran sedian bahan baku 8 kali. Buat perhitungan sediaan.

a. Unit Ekuivalen sediaan produk dalam proses akhir (UESPDPX) =


Triwulan I
= 20 unit x 90% = 18 unit
Triwulan 2 = 25 unit x 90% = 22,50 unit
Triwulan 3
= 30 unit x 100% = 30 unit
Triwulan 4
= 35 unit x 100% = 35 unit
b. Unit Ekuivalen sediaan produk dalam proses awal (UESPDPA) =
Triwulan I
= 15 unit x 80% = 12 unit
Triwulan 2
= 20 unit x 90% = 18 unit
Triwulan 3
= 25 unit x 90% = 22,50 unit
Triwulan 4
= 30 unit x 100% = 30 unit
c. Unit Ekuivalen produk (P) untuk biaya bahan baku = PJ+USPDPX-USPDPA =
Triwulan I
= 39 + 18 12
= 45 unit
Triwulan 2
= 42,5 + 22,5 18 = 47 unit
Triwulan 3
= 40,80 + 30 22,5= 48,30 unit
triwulan 4
= 46,20 + 35 30 = 51,20

d. Kuantitas standar bahan baku dipakai Kedelai( KSt ) = P x KSBB


triwulan I = 45 unit x 1,67 ons
= 75 ons
triwulan 2 = 47 unit x 1,67 ons
= 79 ons
Triwulan 3= 48,30 unit x 1,67 ons = 80 ons
Triwulan 4= 51,20 unit x 1,67 ons = 86 ons
e. Kuantitas standar bahan baku dipakai gula merah (KSt) = P x KSBB
Triwulan I = 45 unit x 2,04 ons
= 92 ons
Triwulan 2 = 47 unit x 2,04 ons
= 95 ons
Triwulan 3 = 48,30 unit x 2,04 ons = 80 ons
Triwulan 4 = 51,20 unit x 2,04 ons = 104 ons

Setelah diketahui Kuantitas standar bahan baku dipakai ( KSt ) untuk kedelai
dan gula merah, kemudian dibuat anggaran biaya bahan baku (BBB):

Perusahaan Kecap Sari


Anggaran Biaya Bahan Baku
Tahun berakhir 31 Desember 2016
Kedelai
Triwulan
KSt ( ons)

HSt per ons


(Rp)

BBB

KSt ( ons)

75

Rp100

Rp7.500

92

79

Rp100

Rp7.900

80

Rp100

86

Rp100

Gula Merah
HSt per ons
(Rp)

Jumlah
BBB

BBB

Rp60

Rp5.520

Rp13.020

95

Rp60

Rp5.700

Rp13.600

Rp8.000

99

Rp60

Rp5.940

Rp13.940

Rp8.600

104

Rp60

Rp6.240

Rp14.840

Berdasarkan Anggaran Biaya Bahan Baku , data putaran sediaan bahan baku, data
sediaan bahan baku awal, maka dapat disusun anggaran sediaan bahan baku akhir
dengan metode perpetual seperti berikut :
Perusahaan Kecap Sari
Anggaran Sediaan Bahan Baku Akhir
Tahun berakhir 31 Desember 2016
Triw
ulan perhitunga

1
2
3
4

n
(7500:8)x21000
(7500:8)x2875
(7500:8)x21100
(7500:8)x2900

Kedelai
SBBX
dalam Rp

Hst
Rp1.0
Rp875
00
Rp1.0
Rp1.100
00
Rp1.0
Rp900
00
Rp1.0
Rp1.250
00

SBBX
(ons)
8,75
11
9
12,5

Gula Merah
Perhitunga SBBX
SBBX
n
(Rp)
HSt (ons)
(8520:8)x2900
Rp480 Rp60
8
(8520:8)x2480
Rp945 Rp60 15,75
(8520:8)x2945
Rp540 Rp60
9
(8520:8)x2540
Rp1.020 Rp60
17

BBD
SBBX =
2 SBBA
TPSBB
SBBX =

75
8

2 10 = 8,75ons

Jumlah
SBBX
Rp
1355
2045
1440
2270

Menyusun Anggaran Belian Bahan


Baku
Cara menghitung anggaran sediaan bahan baku akhir dengan metode fisik dalam
akunting keuangan dapat dicari dengan rumus berikut :
Biaya bahan baku
Sediaan bahan baku awal
Bahan baku siap dijual
Beliaan bahan baku
Sediaan bahan baku akhir

xx
xx +
xx
xx xx

Contoh Soal :
Perusahaan kecap Purnasari pada tahun 2016 mempunyai data sebagai berikut :
Anggaran belian bahan baku Triwulan :
I = 2713 ons @RP 5 = Rp 13.565
II = 2582 ons @Rp 5 = Rp 12.910
III= 2709 ons @Rp 5 = Rp 13.545
IV = 2602 ons @ Rp5 = Rp 13.010
10.606 ons
Rp 53.030
Sediaan bahan baku awal 380 ons @Rp 5 = Rp 1900
Perusahaaan mengutamakan stabilitas produk, tiap triwulan diproduksi 1302
unit prosuk jadi (P). Kuantitas standar bahan baku (KSBB) per unit produk 2
ons dan harga standar bahan baku (HSt) per ons Rp5.

Anggaran Biaya Bahan Baku tiap triwulan


1302 unit x 2 ons = 2064 unit x Rp 5 = Rp 13.020
Tabel Anggaran sediaan bahan baku akhir dalam ons
Perusahaan Kecap Purnasari
Anggaran Sediaan Bahan Baku Akhir
Tahun 2016
Triwulan

Keterangan

Setahun

II

III

IV

Ons

Biaya Bahan Baku

2604

2604

2604

2604

10.416

Sediaan bahan baku awal (+)

380

271

293

188

380

Bahan baku siap dipakai

2984

2875

2897

2792

10796

Belian bahan baku (-)

2713

2582

2709

2602

10606

Sediaan bahan baku akhir

271

293

188

190

190

PENYUSUNAN SEDIAAN
BARANG DAGANGAN
Menentukan Kuantitas
Pasar Ekonomis (KPE)

Menetapkan Tingkat
Putaran Sediaan

Membuat Anggaran
Belian

Menentukan Kuantitas
Ekonomis
Kuantitas pesanan ekonomis (KPE) dirumuskan sebagai berikut.
KPE =

2KstS
HstI

Sediaan barang dagangan akhir (SBDX) dirumuskan sebagai berikut.


SBDX = KPE SBDA
SBDA

= sediaan barang dagangan awal

Menetapkan Tingkat Putaran


Sediaan
Sediaan barang dagangan akhir (SBDX) dirumuskan sebagai berikut.
SBDX =

HPJ 2 SBDA
TPSBD

Tingkat putaran sediaan barang dagangan (TPSBD) dirumuskan sebagai berikut.


HPJ
TPSBD = RSBD
HPJ = harga pokok jualan
SBDA + SBDX
RSBD = rata-rata sediaan barang dagangan =
2
SBDA = sediaan barang dagangan awal
SBDX = sediaan barang dagangan akhir

Menyusun Anggaran Belian


Barang Dagangan
Anggaran sediaan barang dagangan akhir dihitung dengan rumus sebagai berikut
Belian barang dagangan
Rp xx
Sediaan barang dagangan awal
Barang siap dijual
xx
Harga pokok jualan
xx
Sediaan barang dagangan akhir

xx
xx

Misalkan Toko Dagang Daging membuat anggaran belian barang dagangan


Tahun 2007 bulan :
Januari
Februari
Maret

= 1.175 kg @ Rp 100
= 1.150 kg @ Rp 100
= 1.375 kg @ Rp 100
= Rp 370.000

= Rp 117.500
= Rp 115.000
= Rp 137.500

Sediaan barang dagangan awal Januari 100 kg @ Rp 100 = Rp 10.000.


Harga pokok jualan dianggarkan bulan :
Januari
Februari
Maret

= 1.100 kg @ Rp 100
= 1.200 kg @ Rp 100
= 1.300 kg @ Rp 100
= Rp 360.000

= Rp 110.000
= Rp 120.000
= Rp 130.000

Toko Dagang Daging


Anggaran Sediaan Barang Dagangan Akhir
Triwulan I Tahun 2017

Keterangan

Januari
Rp

Februar
i
Rp

Maret
Rp

Triwulan I
Rp

117.500

115.000

137.500

370.000

10.000

17.500

12.500

10.000

Barang siap dijual

127.500

132.500

150.000

380.000

Harga pokok jualan

110.000

120.000

130.000

360.000

17.500

12.500

20.000

20.000

Belian barang dagangan


Sediaan barang dagangan awal

Sediaan barang dagangan akhir

Toko Dagang Daging


Anggaran Sediaan Barang Dagangan Akhir
Triwulan I Tahun 2017

Keterangan

Januari
Kg

Februar
i
Kg

Maret
Kg

Triwulan I
Kg

1.175

1.150

1.375

3.700

100

175

125

100

Barang siap dijual

1.275

1.325

1.500

3.800

Harga pokok jualan

1.100

1.200

1.300

3.600

175

125

200

200

Belian barang dagangan


Sediaan barang dagangan awal

Sediaan barang dagangan akhir

Misalkan harga jual per kg Rp 120, beban usaha variabel per kg Rp 15,
Dan beban usaha tetap sebulan Rp 6.000.
Jualan barang dagangan bulan
Januari
= 1.100 kg @ Rp 120
= Rp 132.000
Februari = 1.200 kg @ Rp 120
= Rp 144.000
Maret
= 1.300 kg @ Rp 120
= Rp 156.000
= Rp 432.000

Beban usaha variabel bulan bulan


Januari
= 1.100 kg @ Rp 15
= Rp 16.500
Februari = 1.200 kg @ Rp 15
= Rp 18.000
Maret
= 1.300 kg @ Rp 15
= Rp 19.500
= Rp 54.000
Toko Dagang Daging
Anggaran Laba Rugi
Triwulan I Tahun 2017

Keterangan

Januari
Rp

Februar
i
Rp

Maret
Rp

Triwulan I
Rp

Jualan barang dagangan

132.000

144.000

156.000

432.000

Harga pokok jualan

110.000

120.000

130.000

360.000

Margin kontribusi kotor

22.000

24.000

26.000

72.000

Beban usaha variabel

16.500

18.000

19.500

54.000

Margin kontribusi bersih

5.500

6.000

6.5000

18.000

Beban tetap

6.000

6.000

6.000

18.000

Laba (Rugi)

(500)

0 impas

500

0 impas