Anda di halaman 1dari 6

Alat dan Material Pembuatan Working Model

1. Material
A. Bahan Cetak
1) Polyvinyl Siloxane
Merupakan material cetak dengan jenis silikon adisi. Berbeda dengan silikon
kondensasi, rantai kimia dari silikon adisi diakhiri dengan grup vinyl dan
bersilangan dengan gugus hidrida dan diaktifkan oleh katalis garam platinum.
Tidak ada produk sampingan yang dihasilkan dari reaksi adisi selama
proporsi silikon vinyl dan silikon hidrida sesuai dan tidak ada partikel yang
mengganggu jalannya reaksi. Namun reaksi sekunder dari uap dan residual hidrida
dari base polymer dapat menyebabkan timbulnya gas hidrogen. Produk sampingan
berupa gas hidrogen tersebut dapat muncul saat cetakan dikeluarkan dari dalam
mulut dan bersinggungan dengan material gipsum yang dituangkan ke dalam
cetakan. Produsen biasanya menambahkan noble metal seperti platinum atau
palladium yang bertindak sebagai penyerap gas hidrogen yang dirilis. Cara lain
yang harus dilakukan untuk menghindari produk sampingan gas hidrogen adalah
dengan mendiamkan material cetak yang telah setting satu jam atau lebih sebelum
menuangkan material gipsum ke dalam cetakan. Penundaan penuangan material
gipsum tidak akan menimbulkan perubahan dimensional yang besar.
Base paste nya terdiri dari polyrnethyl hydrogen siloxane seperti syloxane
prepolymers yang lain. Catalyst paste nya terdiri dari divinyl polydimetil siloxane
dan silicon

prepolymer lain. Jika catalyst paste nya mengandung

aktivator

platinum salt, maka base paste nya harus mengandung hybrid silicone. Retarder
biasanya juga ditambahkan pada pasta yang mengandung katalis platinum. Kedua
pasta mengandung filler.
Salah satu kekurangan dari material cetak silikon adisi adalah sifat
hidrofobiknya. Adanya distorsi atau kehilangan detail pada daerah margin cetakan
disebabkan oleh kelembaban tidak terdeteksi yang muncul pada area tersebut.
Surfaktan nonionik ditambahkan ke dalam pasta untuk mengubah sifat hidrofilik
dari permukaan cetakan. Surfaktan bermigrasi mendekat ke permukaan cetakan
dan menempatkan segmen hidrofiliknya. Fenomena ini memungkinkan material
cetak membasahi jaringan lunak dan meningkatkan kemampuan dari material
gipsum untuk menghasilkan detail yang maksimum saat dituangkan ke dalam

cetakan. Material cetak ini membutuhkan permukaan yang kering untuk


menghasilkan cetakan permukaan jaringan lunak yang lebih akurat. Material
gipsum yang berbentuk bubur lebih mudah, sebab dental stone yang basah
memiliki afinitas yang lebih besar untuk permukaan hidrofilik cetakan.
Kontaminasi sulfur dari latex gloves atau vinyl gloves menghambat setting
dari material cetak silikon adisi. Kontaminasi terjadi saat operator menyentuh
permukaan gigi yang akan dicetak menggunakan material silikon adisi, hal ini
dapat menghambat setting material di dekat permukaan gigi yang terkontaminasi
sehingga menghasilkan detail yang kurang baik. Hambatan polimerisasi ini dapat
menyebabkan distorsi mayor pada cetakan.
2) Zinc Oxide Eugenol Paste
Zinc oxide eugenol paste telah digunakan secara luas dalam dunia kedokteran
gigi khususnya untuk material cetak pada rahang tidak bergigi, surgical dressing,
bite registration paste, tumpatan sementara, material pengisi saluran akar, medium
sementasi, dan material relining sementara pada gigi tiruan.
Zinc oxide eugenol paste dikemas dalam sistem dua pasta. Tube pertama
berisi zinc oxide (87%) dengan vegetable/mineral oil (13%). Vegetable/mineral oil
bertindak sebagai plasticizer dan mengurangi pengaruh eugenol yang bersifat
iritan.
Tube kedua berisi minyak cengkeh (12%), polymerized resin (50%), silica
filler (20%), lanolin (3%), resinous balsam (10%), Kalsum Klorida (Akselerator)
dan zat warna (5%). Minyak cengkeh yang mengandung 70-85% eugenol dipilih
karena menghasilkan burning sensation yang lebih kecil pada pasien ketika
berkontak dengan jaringan lunak. Penambahan resin pada tube kedua
memfasilitasi kecepatan reaksi, kehalusan dan homogenitas material cetak.
Canada balsam dan peru balsam digunakan untuk meningkatkan daya alir . jika
campuran terlalu encer sebelum material cetak setting, filler seperti wax atau
bubuk inert seperti kaolin, talc, diatomaceous earth dapat ditambahkan pada satu
atau kedua pasta.
Pencampuran kedua pasta dilakukan pada oil-impervious paper atau mixing
slab. Proporsi yang sesuai untuk kedua pasta yaitu dengan satu strip pasta dari
tube pertama dan satu strip pasta dari tube kedua dengan panjang yang sama.
Spatula stainless steel biasanya digunakan untuk mencampur kedua pasta. Kedua

pasta dicampurkan dengan menggunakan spatula dan diratakan campurannya


sampai kurang lebih 1 menit sampai kedua pasta tercampur homogen.
Material ini diklasifikasikan kedalam dua tipe yaitu hard paste (Type I) dan
soft paste (Type II). Pada hard paste (Type I) final setting dicapai dalam waktu
kurang lebih 10 menit dan 15 menit untuk soft paste (Type II). Ketika final setting
telah tercapai, cetakan baru boleh dilepaskan dan dikeluarkan dari rongga mulut.
Setting material cetak akan lebih cepat ketika terjadi di dalam mulut karena
kelembaban dan temperatur dapat meningkatkan setting reaction. Waktu setting
dapat diperpendek dengan menambahkan sedikit akselerator, setetes air, atau
memperpanjang waktu pengadukan. Untuk memperpanjang setting time dapat
dilakukan dengan menggunakan mixing slab yang dingin atau dengan
menambahkan plasticizer seperti minyak inert dan wax.
Pasta dengan konsistensi yang tebal atau viskositas tinggi dapat menekan
jaringan, dimana pasta yang konsistensi tipis dapat menciptakan cetakan pada
jaringan mulut dengan kondisi rileks dengan tidak ada atau sedikit tekanan. Perlu
diperhatikan bahwa komposisi material cetak harus bersifat homogen sebelum
diaplikasikan. Cairan desinfektan yang direkomendasikan untuk material cetak
zinc oxide eugenol paste adalah larutan alkaline glutaraldehyde.
B. Bahan Pengisi
1) Dental Stone
Untuk material pengisi pada pembuatan working model digunakan dental
stone (Type III) yang memiliki kekuatan lebih besar daripada dental plaster.
Gypsum tipe III memiliki kandungan utama kalsium sulfat hemihidrat dan
merupakan hasil pengapuran gypsum. Gypsum tipe III memiliki kekuatan
kompresi minimal 1 jam 20,7 Mpa (3000 psi), tetapi tidak melebihi 34,5 Mpa
(5000psi). Dental stone memiliki w/p ratio 0,28-0,30. Bentuk partikel dari detal
stone kuboid dan hanya membutuhkan sedikit air dibandingkan dengan dental
plaster. Setting time dental stone bervariasi antara 30-60 menit tergantung setting
rate dari dental stone dan tipe material cetak yang digunakan. Dental stone
digunakan untuk pembuatan:
a) Model gigi tiruan penuh atau gigi tiruan sebagian
b) Model orthodonti
c) Membuat pola malam

2. Alat
A. Tray
Pemilihan material cetak mempengaruhi pemilihan jenis tray yang digunakan.
Reversibel hidrokoloid membutuhkan special water-cooled trays, sedangkan
irreversible hidrocoloid dan elastomeric impression untuk kasus restorasi cekat dibuat
dengan prefabricated impression trays. Untuk mengurangi kemungkinan distorsi
dengan penggunaan tray tersebut, tray harus memiliki rigiditas yang adekuat, dan
desain yang dapat mengontrol ketebalan material cetak. Retensi didapatkan dengan
adanya perforasi, rim locks, dan adhesive.
a. Custom Tray
Custom tray dibuat untuk setiap pasien secara individual dengan
menggunakan model studi dan menawarkan beberapa kelebihan daripada
prefabricated stock trays. Adhesive perlu digunakan pada lapisan material cetak
yang tipis. Spray-on adhesives digunakan untuk menambah retensi dari material
cetak polyvinyl siloxane.
Custom tray meningkatkan akurasi pada material cetak elastomer dengan
membatasi volume material cetak, hal ini mengurangi kemungkinan eror saat
pelepasan cetakan dan kontraksi termal. Custom tray juga meningkatkan akurasi
pada material cetak elastomer.
Custom tray dibuat dari autopolymerizing acrylic resin, thermoplastic resin,
atau photopolymerized resin. Thermoplastic materials dapat dihaluskan di water
bath dan diadaptasikan secara manual atau dengan vacuum former dengan
komponen pemanas. Akurasi cetakan yang dibuat dengan menggunakan
thermoplastic tray material atau light-polymerized materials sebanding dengan
cetakan yang dibuat dengan autopolymerized resin. Rigiditas tray merupakan hal
yang penting diperhatikan karena hanya dengan sedikit pembengkokan tray dapat
menyebabkan cetakan yang distorsi. Ketebalan resin yang ideal adalah sekitar 2-3
mm untuk menciptakan rigiditas yang adekuat. Jarak antara gigi dan tray yang
ideal juga sekitar 2-3 mm, namun jarak yang lebih besar diperlukan untuk material
polyether yang bersifat rigid.
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
-

Base plate wax

0,025 mm tinfoil

Scalpel

Gunting

Waxing instrument
Pembuatan custom tray dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut :

1) Autopolymerizing Resin
a) Dengan menggunakan pensil tandai garis luar tray pada model studi kira-kira
5mm kearah apikal dari free gingiva (lebih pendek untuk material cetak yang
lebih rigid). Tray maksila tidak selalu melingkupi seluruh palatum, namun hal
ini dipertimbangkan saat akan dilakukan pembuatan gigi tiruan lepas setelah
dilakukan restorasi cekat.
b) Adaptasikan wax pada model studi. Dua lapis base plate wax dapat
memperoleh ketebalan sekitar 2,5 mm.
c) Lunakkan wax dengan memanaskannya diatas bunsen atau di air yang panas.
Pemanasan yang berlebih dapat menimbulkan wax meleleh dan menghasilkan
beberapa spot yang lebih tipis.
d) Setelah wax kedua selesai diaplikasikan, trim bagian bawah sampai garis yang
kita buat terlihat. Buat 3 stop pada tray untuk menjaga space dari material
cetak di dalam mulut. Jika semua gigi masih terlibat, buat stop yang lebih
besar padarest of alveolar ridge atau ditengah palatum durum. Stop dibuat
dengan menghilangkan wax dalam sudut 45 derajat dari permukaan oklusal
pada 3 gigi yang memiliki tripodal arrangement pada lengkung rahang. Hal ini
menawarkan stabilitas

pada tray dan slope 45 derajat

membantu

memposisikan tray saat insersi.


e) Aplikasikan selapisi tin voil diatas wax untuk mencegah kontaminasi di dalam
tray.
f) Buat autopolymerized acrylic resin, gunakan vinyl gloves untuk mencegah
munculnya sensitivitas monomer.
g) Setelah resin tercampur, tunggu sampai mencapai fase dough. Perlu
diperhatikan aga tidak meregangkan material ketika memanipulasinya, karena
bagian tipis dari resin dapat menyebabkan tray fleksibel dan menghasilkan
distorsi.
h) Dengan hati-hati adaptasikan resin ke cast. Baut dan tempelkan handle dari
sisa resin yang ada. Jika working time tidak diketahui, handle juga dapat
ditempelkan kemudian dengan akrilik resin yang dibuat lagi. Buccal ridges
membantu pelepasan cetakan dapat juga ditambahkan.

i) Setelah material terpolimerisasi, angkat dari cast dan trim dengan


menggunakan acrylic trimmer. Sisi yang tajam harus dibulatkan untuk
mencegah trauma pada jaringan lunak.
2) Photopolymerized Resin
a) Step 1-5 sama seperti langkah di autopolymerized resin
b) Kemudian lepaskan photopolymerized material sheets dari light-proof
packaging dan adaptasikan ke cast. Adaptasikan pada area yang terdapat stop
terlebih dahulu untuk memastikan daerah tersebut terisi dengan baik. Dua
lapisan yang dibutuhkan untuk membuat tray harus dipotong dulu. Dengan
hati-hati adaptasikan material ke cast, perhatikan batas yang telah dibuat.
Gunakan scalpel untuk membuang bagian yang berlebihan dari cast.
Adaptasikan material dengan menggunakan jari (gloves) sampai bagianbagiannya menyatu dan tidak ada undercut terlihat. Jangan menekan dengan
keras karena dapat menyebabkan material menjadi tipis yang dapat
melemahkan struktur tray.
c) Bentuk dan tempelkan handle dengan membentuk material yang tersisa.
Rekatkan pada tray dengan bantuan paperclip untuk mensuport handle.
d) Letakkan cast pada curing unit kira-kira 2 menit kemudian keluarkan dari
curing unnit. Lepaskan tray dari cast dan bersihkan wax dan barrier
alumunium kemudian oleskan air-barrier coating.
e) Kembalikan cast ke curing unit dan lakukan curing sesuai dengan petunjuk
pabrik. Lepaskan tray dan bersihkan di bawah air mengalir.
f) Bersihkan tray dan trim seperti pada autopolymer resin tray. Tambahkan resin
tambahan jika diperlukan.
Referensi
Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics. 4th ed. Louis :
Mosby Inc 2006
Phoenix RD, Cagna DR. Stewarts Clinical Removable Partial Prosthodontics. 3rd ed.
Chicago : Quintessence 2003
Anusavice KJ. Phillips Science of Dental Materials. 11th ed. Louis : Elsevier 2003