Anda di halaman 1dari 23

STATUS PENDERITA

I. ANAMNESIS
I.

II.

Identitas Pasien
Nama

: Tn. T

Umur

: 61 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Buruh Tani/ Perkebunan

Agama

: Islam

Alamat

: Sugong,Lemahabang,Cirebon

Tanggal Masuk

: 1 September 2014

Tanggal Periksa

: 2 September 2014

No RM

: 745143

Keluhan Utama
Sesak nafas

III.

Riwayat Penyakit Sekarang


Penderita datang dengan keluhan sesak nafas yang telah diderita
sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, sesak nafas dirasa memberat
apabila menghirup asap dan setelah beraktivitas berat, akan sedikit
berkurang bila pasien beristirahat. Sesak nafas diikuti dengan keluhan
batuk dengan dahak berwarna putih yang sulit dikeluarkan dan tidak
disertai darah. Pasien mengeluhkan demam dan nyeri perut 7 hari, nafsu
makan menurun, nyeri dada (+) saat batuk. BAK dan BAB tidak ada
kelainan.

IV.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat DM

: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat sakit jantung

: disangkal

Riwayat asma

: ada
1

V.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit serupa

: disangkal

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat Jantung

: disangkal

VI. Keadaan Sosial Ekonomi


Penderita adalah suami dari 1 istri dan ayah dari 3 anak, bekerja
sebagai buruh tani/ perkebunan dan menjadi tulang punggung keluarga.
Pasien berobat dengan menggunakan JKN.
VII.

Riwayat Kebiasaan dan Gizi


Riwayat minum alkohol

: disangkal

Riwayat merokok

: Pasien seorang bekas perokok (12 batang

perhari)
II. PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan Umum

: sakit sedang, compos mentis, kesan gizi cukup

B. Tanda Vital
Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernapasan

: 24 x/menit

Suhu

: 37,5 C

C. Kepala

: mesochepal, simetris.

D. Mata

: Conjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)


Pupil isokor (3 mm/3mm), Reflek cahaya (+/+).

E. Hidung

: Nafas cuping hidung (-), darah (-), secret (-).

F. Telinga

: darah (-), secret (-).

G. Mulut

: mukosa basah (+), sianosis (-), lidah kotor (-).

H. Leher

: JVP tidak meningkat, limfonodi tidak membesar.

I. Thorax

: Bentuk Barrel shaped chest, pelebaran sela iga (+).


2

Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis tidak kuat angkat

Perkusi

: batas jantung kesan dalam batas normal

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler, bising (-)

Paru
Inspeksi

: Pengembangan dada kanan = kiri

Palpasi

: Fremitus raba kanan > kiri

Perkusi

: Hiperonor/ Sonor

Auskultasi

: Suara dasar vesikuler (+/+)


Suara tambahan RBK (+/+)
Wheezing (+/+)
Ekspirasi memanjang (+)

J. Abdomen
Inspeksi

: Dinding perut sejajar dengan dinding dada

Auskultasi

: Peristaltik (+) normal

Perkusi

: Tympani

Palpasi

: nyeri tekan (+), hepar/lien tidak teraba

K. Trunk
Inspeksi

: Skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)

Palpasi

: Nyeri tekan (-), massa (-)

Perkusi

: Nyeri ketok (-)

L. Ekstremitas
Oedem

Akral dingin

M. Rumple Leed
Hasil (-) Negatif

III.PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Laboratorium darah
Hb
Hct
RBC
WBC
PLT
Netrofil Segmen
Netrofil Batang
Basofil
Eosinofil
LYM
MON

: 15,3 g%
: 49 %
: 4,9 mm3
: 7500 mm3
: 176.000 mm3
: 51
:1%
:0%
:4%
: 35 %
:9%

B. EKG

Gambar 1. EKG
Interpretasi
- Normal sinus rhytme
- Left atrial enlargment
- Prolonged QT

C. Foto Rontgen Thorax PA

Gambar 1. Foto Rontgen

IV. ASSESSMENT
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
DD :

- Asthma

V. PENATALAKSANAAN
A. Terapi Paru
1. O2 3L/mnt
2. Nebulasi Combivent 1A/8 jam
3. IVFD RL/8 Jam

4. Simexim 2x1
5. Antrain 3x1
6. Ranitidin 2x1
7. Dexamethason 2x1
8. Ambroxol Syr 3x1 c
-

Terapi Rehabilitasi Medik


1. Fisioterapi
Chest physical therapy:
a. breathing control
b. latihan batuk
c. chest expansion exercise
d. postural drainage
2. Okupasi Terapi

: latihan dalam melakukan aktivitas sehari-hari

3. Sosiomedik

: memberi edukasi kepada pasien dan keluarga


mengenai penyakit pasien

4. Psikologi

Psikoterapi

suportif

mengurangi

kecemasan
pasien
VI.

Planning
A. Planning Diagnostik

: spirometri (bila stabil)

B. Planning Terapi

: tidak ada

C. Planning Edukasi

Penjelasan penyakit dan komplikasi yang bisa terjadi

Penjelasan tujuan pemeriksaan dan tindakan yang dilakukan

Edukasi untuk home exercise dan ketaatan untuk melakukan terapi

D. Planning Monitoring
VII.

Evaluasi hasil terapi.

Goal

A. Perbaikan keadaan umum, sehingga mempersingkat lama perawatan


6

B. Minimalisasi impairment, disabilitas, dan handicap pada pasien


C. Mencegah komplikasi yang lebih buruk yang dapat memperburuk keadaan
penderita (seperti gagal nafas, infeksi berulang)
D. Mengatasi masalah psikologis yang timbul akibat penyakit yang diderita
pasien

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam

: baik

Ad sanam

: dubia et malam

Ad fungsionam

: dubia et bonam

PEMBAHASAN

Definisi
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) atau Chronic Obstructive

Pulmonary Disease (COPD) merupakan penyakit paru kronik yang ditandai


dengan keterbatasan aliran udara di dalam saluran nafas yang tidak sepenuhnya
reversible, bersifat progresif, biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang
disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran
gangguan sistemik. Gangguan ini dapat dicegah dan dapat diobati. Penyebab
utama COPD biasanya adalah rokok, asap polusi dari pembakaran, dan partikel
gas berbahaya. (GOLD, 2014)
Gejala PPOK terutama berkaitan dengan respirasi. Keluhan respirasi ini
harus diperiksa dengan teliti karena seringkali dianggap sebagai gejala yang biasa
terjadi pada proses penuaan. Batuk kronik adalah batuk hilang timbul selama 3
bulan yang tidak hilang dengan pengobatan yang diberikan. Kadang kadang
pasien menyatakan hanya berdahak terus menerus tanpa disertai batuk. Sesak
nafas, terutama pada saat melakukan aktivitas. Seringkali pasien sudah mengalami
adaptasi dengan sesak nafas yang bersifat progressif lambat sehingga sesak ini
tidak dikeluhkan.

Faktor Resiko
Merokok bukan satu-satunya hal yang dapat menyebabkan terjadinya

COPD. Penelitian secara epidemiologi menunjukkan bahwa orang yang bukan


perokok juga dapat terpapar inflamasi paru dengan gangguan pernafasan kronik.
Beberapa faktor resiko yang dapat mempresentasikan COPD adalah sebagai
berikut: (GOLD, 2014)
o Genes
Faktor genetik yang berperan dan beresiko terjadinya COPD adalah
defisiensi berat herediter dari alpha-1 antitrypsin.

o Age
Usia merupakan faktor tersering yang dijadikan penyebab COPD
selain merokok. Semakin panjang usia seseorang semakin sering
terpapar pajanan polutan dan menurunnya fungsi paru-paru.
o Lung Growth and Development
Pertumbuhan dan perkembangan paru-paru yang dialami seseorang
saat masa gestasi dan kelahiran yang kurang baik dan paparan polutan
pada masa kanak-kanak dan remaja yang terlalu sering dapat
mengurangi fungsi maksimal paru-paru sehingga dapat meningkatkan
resiko COPD.
o Exposure to Particles
Asap pabrik, gas kendaraan bermotor, gas pembakaran saat memasak
di dalam rumah yang kurang ventilasi adalah beberapa partikel yang
juga dapat meningkatkan resiko inflamasi pada paru-paru seseorang.
o Sosioeconomic Status
Paparan polusi udara baik di dalam ruangan maupun di lingkungannya,
kurangnya nutrisi, pajanan infeksi adalah hal-hal yang terkait pada
golongan sosioekonomi rendah dapat meningkatkan resiko COPD.
o Asthma/ Bronchial Hiperactivity
Asma dapat merupakan faktor resiko berkembangnya COPD pada
seseorang, hasil penelitian kohort oleh Tucson Epidemiological Study
of Airway Obstruction Diesease, pada orang dewasa yang menderita
asma memiliki 20% resiko lebih tnggi berkembangnya COPD
dibandingkan orang yang tidak mempunyai asma
o Chronic Bronchitis
Beberapa studi menyebutkan bahwa hipersekresi mukus pada orang
yang terpapar bronkitis kronis dapat dihubungkan dengan FEV
decline.
o Infection
Paparan infeksi berat selama masa kanak-kanak dapat mengurangi
fungsi paru pada masa dewasa.

Patofisiologi

Karakteristik COPD adalah keradangan kronis mulai dari saluran


napas, parenkim paru sampai struktur vaskukler pulmonal. Diberbagai bagian
paru dijumpai peningkatan makrofag, limfosit T (terutama CD8) dan neutrofil.
Sel-sel radang yang teraktivasi akan mengeluarkan berbagai mediator seperti
Leukotrien B4, IL8, TNF yang mapu merusak struktur paru dan atau
mempertahankan inflamasi neutrofilik. Disamping inflamasi ada 2 proses lain
yang juga penting yaitu imbalance proteinase dan anti proteinase di paru dan
stres oksidatif (Alsaggaf dkk, 2004).
Perubahan patologis yang khas dari COPD dijumpai disaluran napas
besar (central airway), saluran napas kecil (periperal airway), parenkim paru
dan vaskuler pulmonal. Pada saluran napas besar dijumpai infiltrasi sel-sel
radang pada permukaan epitel. Kelenjar-kelenjar yang mensekresi mukus
membesar dan jumlah sel goblet meningkat. Kelainan ini menyebabkan
hipersekresi bronkus. Pada saluran napas kecil terjadi inflamasi kronis yang
menyebabkan berulangnya siklus injury dan repair dinding saluran napas.
Proses repair ini akan menghasilkan structural remodeling dari dinding saluran
napas dengan peningkatan kandungan kolagen dan pembentukan jaringan ikat
yang menyebabkan penyempitan lumen dan obstruksi kronis saluran
pernapasan. Pada parenkim paru terjadi destruksi yang khas terjadi pada
emfisema sentrilobuler. Kelainan ini lebih sering dibagian atas pada kasus
ringan namun bila lanjut bisa terjadi diseluruh lapangan paru dan juga terjadi
destruksi pulmonary capilary bed. Perubahan vaskular pulmonal ditandai oleh
penebalan dinding pembuluh darah yang dimulai sejak awal perjalanan ilmiah
COPD. Perubahan struktur yang pertama kali terjadi adalah penebalan intima
diikuti peningkatan otot polos dan infiltrasi dinding pembuluh darah oleh selsel radang. Jika penyakit bertambah lanjut jumlah otot polos, proteoglikan dan
kolagen bertambah sehingga dinding pembuluh darah bertambah tebal
(Alsaggaf dkk, 2004).
Pada bronkitis kronis maupun emfisema terjadi penyempitan saluran
napas. Penyempitan ini dapat mengakibatkan obstruksi dan menimbulkan
10

sesak. Pada bronkitis kronik, saluran pernapasan yang berdiameter kecil (<
2mm) menjadi lebih sempit dan berkelok-kelok. Penyempitan ini terjadi
karena metaplasi sel goblet. Saluran napas besar juga menyempit karena
hipertrofi dan hiperplasi kelenjar mukus. Pada emfisema paru, penyempitan
saluran napas disebabkan oleh berkurangnya elastisitas paru-paru (Sat Sharma,
2006).

Diagnosis
o Tanda dan gejala (GOLD, 2014)
Sesak nafas progresif (memburuk hari ke hari), persisten,

bertambah berat saat aktifitas.


Batuk kronik
Produksi sputum kronik
Fatigue
Berat badan turun
Kurang nafsu makan
Merokok
Pekerjaan yang beresiko paparan polutan
Riwayat keluarga yang terpapar COPD
Depresi dan cemas

o Pemeriksaan Fisik
inspeksi : bentuk dada barrel chest, pelebaran sela iga
palapasi : fremitus melemah, sela iga melebar
perkusi : hipersonor, batas paru-hati lebih rendah
auskultasi : suara vesikuler melemah atau normal, ekspirasi
memanjang, rhonki, dan wheezing.
o Foto Thorak
hiperinflasi
corakan bronkovesikuler
hiperlusen
diafragma mendatar
jantung pendulum

11

Normal

Hyperinflation

Gambar 3. Foto thorax Normal (kiri) dan Hiperinflasi (kanan)

Pada bronkitis kronis, foto thoraks memperlihatkan tubular


shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari
hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah.

Pada emfisema, foto thoraks menunjukkan adanya hiperinflasi


dengan gambaran diafragma yang rendah dan datar, penciutan
pembuluh darah pulmonal, dan penambahan cortakan ke distal.

o Spirometri :
30%<VEP1<80% prediksi
VEP1/KVP <75%
Klasifikasi :
Penentuan

klasifikasi

(derajat)

COPD

sesuai

dengan

ketentuan

Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI) / GOLD tahun 2014 sebagai


berikut :
o COPD Ringan
Gejala klinis:
Dengan atau tanpa batuk
12

Dengan atau tanpa produksi sputum


Sesak napas derajat sesak 0 sampai derajat sesak 1
Spirometri:
FEV1 > 80% prediksi
o COPD Sedang
Gejala klinis:
Dengan atau tanpa batuk
Dengan atau tanpa produksi sputum
Sesak napas derajat sesak 2 (sesak timbul pada saat aktivitas).
Spirometri:
50% < FEV1 < 80% prediksi
o COPD Berat
Gejala klinis:
Sesak napas derajat sesak 3 dan 4 dengan gagal napas kronik
Eksaserbasi lebih sering terjadi
Disertai komplikasi kor pulmonale atau gagal jantung kanan.
Spirometri:
30% < FEV1 < 50% prediksi
o COPD Sangat Berat
Spirometri: FEV1 < 30% prediksi
Gagal napas kronik pada PPOK ditunjukkan dengan hasil pemeriksaan
analisa gas darah, dengan kriteria:
Hipoksemia dengan normokapnia atau
Hipoksemia dengan hiperkapnia

Diagnosis Banding :
Asma
Gagal jantung kongestif
Bronkiektasis
Tuberkulosis

13

Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan penderita PPOK adalah untuk mengurangi
gejala, mencegah eksaserbasi, memperbaiki dan mencegah penurunan faal
paru, dan meningkatkan kualitas hidup. Adapun modalitas terapi yang
digunakan terdiri dari unsur edukasi, obat-obatan, oksigen, ventilasi mekanik,
nutrisi dan rehabilitasi.
1. Pencegahan: mencegah kebiasaan merokok, infeksi, dan polusi udara.
2. Terapi eksaserbasi akut dengan:
a. antibiotik
b. terapi oksigen
c. chest fisioterapi
d. bronkodilator
3. Terapi jangka panjang dengan:
a. antibiotik
b. bronkodilator
c. latihan fisik untuk meningkatkan toleransi fisik
d. mukolitik dan ekspektoran
e. terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal
napas tipe II dengan PaO2 < 7,3 kPa (55 mmHg) (Alsaggaf dkk,
2004)
f. Rehabilitasi:
1) chest fisioterapi
a) Pernapasan Diafragma, tenik ini melibatkan pelatihan
pasien tersebut untuk menggunakan diafragmanya saat
merelaksasi otot abdominalnya selama inspirasi. Pasien
tersebut dapat merasakan naiknya abdomen, sementara
dinding toraksnya masih diam.
b) Pursed Lip Breathing (pernapasan bibir yang disokong),
bibir pasien disokong saat ekspirasi untuk mencegah
terjebaknya udara akibat kolapsnya jalan udara yang kecil.

14

c) Drainase Postural, Penggunaan posisi yang terbantu oleh


gravitasi dapat memperbaiki mobilitas sekret.
d) Perkusi Manual, perkusi atau vibrasi dinding toraks dapat
membantu mobilisasi sekret.
e) Batuk Terkendali, Pasien duduk bersandar kedepan dan
mulai batuk yang disengaja pada waktu yang tepat dengan
kekuatan yang cukup untuk mobilisasi mukus tanpa
memyebabkan kolapsnya jalan napas.
f) Batuk yang dibantu, tekanan diberikan pada abdomen
selama ekshalasi.
2) Psikoterapi
Memberikan motivasi untuk mengatasi beban pikiran
karena keterbatasan melakukan aktivitas sehari-hari.
3) Rehabilitasi pekerjaan (Okupasi Terapi)
a) Nilai dan berikan program latihan untuk jangkauan gerak
dan penguatan ekstremitas superior.
b) Anjurkan

perlengkapan

adaptif

untuk

meningkatkan

kemandirian dan meminimalkan penggunaan energi.


c) Evaluasi lingkungan rumah dan kerja.
d) Berikan saran-saran untuk meningkatkan kemandirian dan
peningkatan energi (Garisson, 2001).
o Chest Physiotherapy
Mukus merupakan suatu lapisan protektif yang melapisi bagian dalam
paru dan jalan napas yang menangkap debu dan kotoran yang terdapat
pada udara yang kita hirup dan mencegah iritasi pada paru. Ketika terdapat
infeksi dan iritasi, maka tubuh akan memproduksi mukus yang kental
untuk membantu paru-paru melepaskan diri dari infeksi. Bila mukus yang
kental ini menyumbat jalan napas, maka akan terjadi kesulitan bernapas.
Sehingga untuk membantu membuang ekstra mukus ini dilakukanlah
Chest Physiotherapy.
15

Chest Physiotherapy terdiri dari Postural Drainage, perkusi dada, dan


vibrasi dada. Biasanya ketiga metode ini digunakan pada posisi drainase
paru yang berbeda diikuti dengan latihan napas dalam dan batuk.
1. Postural Drainage
Penumpukan sekresi saluran napas bila dibiarkan akan
menimbulkan akibat yang serius. Dapat timbul serangan batuk
spasmodik akibat iritasi lokal, obstruksi bronkus, atelektasis,
infeksi paru, dan gangguan ventilasi perfusi.
Postural Drainage merupakan pemberian posisi terapeutik
pada

pasien

yang

memungkinkan

sekresi

paru

mengalir

berdasarkan gravitasi ke dalam bronkus mayor dan trakea dimana


selanjutnya dapat dibatukkan.
Indikasi:
-

Kondisi yang berkaitan dengan paru-paru: bronkitis, fibrosis


kistik, pneumonia, asma, abses paru, penyakit paru-paru
obstruktif.

Profilaksis post-operatif torakotomi, stasis pneumonia

Profilaksis pada penggunaan ventilasi buatan jangka lama,


kelumpuhan, dan pada pasien dalam kondisi tak sadar

Kontra indikasi:
-

Peningkatan TIK
Segera setelah makan
Refleks batuk (-)
Penyakit jantung akut
Gangguan sistem pembekuan
Postural Drainage juga merupakan suatu rangkaian latihan

non invasif yang digunakan bersamaan dengan humidifikasi dan


pengobatan. Manipulasi ini dibentuk oleh kombinasi mekanis
(perkusi dan vibrasi), gravitasi dan mekanisme batuk. Pasien
diletakkan dalam berbagai posisi sesuai dengan segmen paru yang
terlibat. Segmen paru yang akan didrainase ditempatkan setinggi
16

mungkin dan bronkus utama severtikal mungkin. Selanjutnya


perhatikan gambar-gambar berikut ini untuk membantu pengaturan
posisi drainase paru.
Pasien harus dimonitor dengan cermat pada saat posisi
kepala lebih rendah terhadap adanya aspirasi, dispnea, atau aritmia.
Pada pasien abses paru, hindari posisi pasien dengan lokasi abses
di sebelah atas karena akan menyebabkan pengaliran abses ke sisi
paru lainnya.
Waktu yang diperlukan untuk tindakan ini bervariasi
tergantung pada kondisi pasien (sekitar 20-30 menit). Selama
pemberian posisi, pasien dianjurkan napas dalam 5 7 kali
diselingi napas biasa selama 1-2 menit. Tindakan ini dapat
dilakukan 4 sampai 6 kali sehari atau setiap 2 jam pada kasus
sputum banyak dan kental dan dilakukan sebelum pemberian
makanan. Untuk memfasilitasi drainase agar konsistensi sekresi
paru yang kental menjadi lebih encer perlu dipertahankan
pemberian cairan yang adekuat (oral atau intravena) dan pemberian
medikasi mukolitik.
Berikut macam-macam posisi postural drainage:

Lobus atas kanan - segmen anterior

Lobus atas kiri - segmen anterior


17

Lobus atas kanan segmen posterior (dipandang dari depan)

Lobus atas kanan segmen posterior (dipandang dari belakang)

Lobus atas kiri segmen posterior

lobus atas kiri - segmen posterior (posisi lain)

18

Lingula (dipandang dari belakang)

Kedua lobus bawah segmen anterior

Lobus bawah kanan segmen lateral

Lobus bawah kiri segmen lateral dan


19

Lobus bawah kanan segmen kardiak (medial)

Kedua lobus bawah segmen posterior


Perhatikan: bantal di bawah perut dan lutut, kepala tanpa bantal

Lobus bawah kanan segmen posterior


(Posisi dimodifikasi untuk penekanan khusus)

Kedua lobus bawah segmen posterior


2. Perkusi
Perkusi dada meliputi pengetokan dada dengan tangan saat
pasien berada pada posisi drainase. Tujuannya adalah untuk
membantu melepaskan sekret yang melengket pada dinding alveoli
sehingga dapat mengalir ke percabangan bronkus dan trakea.

20

Gallon (dikutip dalam Hudak & Gallo, 1998) menemukan


bahwa perkusi yang dimasukkan ke dalam program pengobatan
secara bermakna akan meningkatkan kecepatan produksi sekret.
Untuk melakukan perkusi dada, tangan dibentuk seperti
mangkuk dengan mem-fleksikan jari dan meletakkan ibu jari
bersentuhan dengan telunjuk, atau posisi telapak tangan seperti saat
menampung air atau tepung kemudian dibalikkan.
Posisi pasien tergantung pada segmen paru yang akan
diperkusi. Selanjutnya pada area yang akan diperkusi dialas dengan
handuk atau biarkan baju pasien tetap terpasang agar tangan tidak
menyentuh kulit secara langsung.
Perkusi dilakukan selama 3 sampai 5 menit untuk setiap
posisi. Jangan melakukan perkusi pada area spinal, sternum, atau di
bawah rongga toraks. Bila perkusi dilakukan dengan benar maka
perkusi tidak akan menimbulkan rasa sakit pada pasien atau
membuat kulit menjadi merah. Bunyi tepukan menimbulkan suara
yang khas menunjukkan posisi tangan yang benar
Kontra indikasi perkusi dada:
-

Fraktur iga
Cedera dada traumatik
Perdarahan atau emboli paru Mastektomi
Pneumotoraks
Lesi metastatik pada iga
Osteoporosis
Trauma medulla servikal
Trauma abdomen

3. Vibrasi
Vibrasi meningkatkan kecepatan dan turbulensi udara
ekshalasi untuk mendorong sekret dan merupakan tindakan
mekanik kedua setelah perkusi atau dapat digunakan sebagai ganti
perkusi bila dinding dada nyeri sekali.
Tujuan vibrasi adalah untuk membantu mengeluarkan
sekret dan merangsang terjadinya batuk. Getaran pada kulit akan
sampai pada paru akan membantu menghilangkan mukus.
21

Stiller et al (dikutip dalam Hudak & Gallo, 1998)


menemukan bahwa pasien-pasien yang diterapi pemberian posisi,
vibrasi, hiperventilasi, dan penghisapan menunjukkan resolusi dari
atelektasis yang lebih berarti dari pada yang diterapi dengan
penghisapan dan hiperventilasi saja. Teknik vibrasi ini dilakukan
dengan cara meletakkan tangan secara berdampingan dengan jarijari ekstensi di atas area dada segmen yang akan didrainase.
Selanjutnya pasien diminta untuk melakukan inhalasi dalam dan
ekshalasi secara perlahan. Selama pasien ekshalasi, dada divibrasi
dengan cara kontraksi dan relaksasi cepat pada otot lengan dan
bahu. Dapat juga digunakan electric vibrator jika tersedia. Kontra
indikasi vibrasi dada sama dengan kontraindikasi perkusi dada.

Prognosis
Indikator: umur dan keparahan
Jika ada hipoksia dan cor pulmonale : prognosis jelek
Dyspnea, obstruksi berat saluran nafas, FEV1 <0.75 L (20%) angka
kematian meningkat, 50% pasien berisiko meninggal dalam waktu 5
tahun.

22

DAFTAR PUSTAKA
Aditama Tjandra Yoga. 2005. Patofisiologi Batuk. Bagian Pulmonologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Unit Paru RS Persahabatan. Jakarta.
Alsaggaf Hood, dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Bagian Ilmu Penyakit
Paru FK Unair. Surabaya.
Garisson Susan J. 2001. Dasar-Dasar Terapi dan Rehabilitasi Fisik. Departement
of Physical Medicine and Rehabilitation. Texas
Sat Sharma. 2006. Obstructive Lung Disease. Division of Pulmonary Medicine,
Department of Internal Medicine, University of Manitoba.
www.emedicine.com

23