Anda di halaman 1dari 14

SOSIODEMOGRAFI MASYARAKAT TERHADAP PERILAKU

PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE


Ketut Sudiantara
Jurusan Keperawatan Poltekkes Denpasar
Email: sudiantara19@yahoo.com
Abstract: Sociodemographic with behaviour of dengue haemorraghic fever prevention of
community. The aim of the study to know correlation between sociodemographic with
behavior of Dengue Haemorraghic Fever prevention of community. Design of the study was
cross sectional study with 163 samples of family was selected by using multistage random
sampling. The study is located at Tibubeneng Village north of Kuta and Badung Regency on
January 2012. The result of study is showed education, job status and citizenship are as
factor of socio demography of the community. Most of respondents had have senior high
school level (66,3%), as active worker (77,9%) and as local people of Tibubeneng Village
(58,9%). Multivariate analysis showed p value = 0,051 for education level, 0,001 for job
status and 0,405 for citizen. OR : 2,335 for education level, 9,016 for job status and 2,128
for citizenship of Tibubeneng Village. Conclusion : there are significant correlation of the
socio demographic factor with behavior of Dengue Haemorraghic Fever prevention of
community.
Abstrak : Sosiodemografi masyarakat terhadap perilaku pencegahan demam berdarah
dengue. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sosiodemografi
dengan perilaku pencegahan masyarakat terhadap penyakit demam berdarah (DBD). Jenis
penelitian yang digunakan yaitu deskriptif korelasi, dengan menggunakan disain cross
sectional metode survey. Jumlah sampel dalam penelitian kini sebanyak 163 sampel kepala
keluarga yang dipilih dengan metoda multistage random sampling. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pendidikan, status pekerjaan dan status tinggal merupakan factor sosiodemografi. Kebanyakan dari responden berpendiidikan SMA (66,3%), kebanyakan sebagai
pekerja aktif (77,9%) dan kebanyakan sebagai penduduk asli Desa Tibubeneng (58,9%).
Analisis multyvariat menunjukkan bahwa p value = 0,051 untuk tingkat pendidikan, 0,001
untuk status pekerjaan dan 0,405 untuk status tinggal. OR = 2,335 untuk tingkat pendidikan,
2,128 untuk status tinggal dan 9,016 untuk status pekerjaan. Penelitian ini menunjukkan
bahwa hanya pekerjaan ada hubungan yang bermakna antara sosiodemografi masyarakat
terhadap perilaku pencegahan DBD (p=0,001)
Kata kunci : Sosiodemograpi, perilaku pencegahan, demam berdarah dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD)

atau

Haemorraghic

ini

disebabkan,

penyakit

tersebut

Fever

penyebarannya sangat cepat dan sering

merupakan suatu penyakit menular yang

menimbulkan kejadian luar biasa /wabah,

masih menjadi masalah kesehatan di

sehingga menyebabkan banyak penderita

hampir seluruh propinsi di Indonesia. Hal

yang sakit bahkan sampai meninggal.

DBD selain berdampak langsung terhadap

penduduk dengan kematian sebesar 2,5 per

kesehatan,

10.000 penduduk.

juga

dapat

mengakibatkan

Pada tahun 2007

masalah lain seperti masalah keluarga,

Incident Rate (IR) DBD yakni 71,8 per

sosial maupun ekonomi (Depkes, 2007).

100.000 penduduk, dengan CFR 0,86.

Permasalahan utama penyakit DBD

Tahun

2008,

IR

95,2

per

100.000

secara umum adalah bahwa 2,5 sampai 3

penduduk, CFR 0,86 %. Tahun 2009, IR

milyar orang berisiko terserang penyakit

67 per 100.000 penduduk, CFR 0,87 %.

ini, Aedes aegypti adalah vektor epidemi

Tahun

utama,

penduduk, CFR 0,89 %.

penyebaran

2010,

IR

64,9

per

100.000

penyakit

mulai

perkotaan

hingga

2011). Data tersebut menujukkan bahwa

daerah pinggiran/pedesaan. Diperkirakan

angka kejadian DBD berfluktuasi tahun

terdapat 5 sampai 10 juta kasus per tahun,

2008 terjadi peningkatan yang drastis

50.000 kasus menuntut perawatan di

kemudian

Rumah Sakit, dan 90 % menyerang anak-

perlahan pada tahun 2009 sampai 2010.

anak di bawah 15 tahun. Rata-rata angka

Penurunan kasus DBD tersebut ternyata

kematian (Case Fatality Rate/ CFR)

diikuti

mencapai 5 %, secara epidemis bersifat

kematian kasus tersebut yaitu dari 0,87%

siklis

tahun 2009 menjadi 0,89%

menyerang

daerah

(terulang

pada

jangka

waktu

tertentu), dan belum ditemukan vaksin


pencegahnya (Depkes RI, 2000).

DBD

cenderung

jumlah

penderitanya

dengan

penurunan

peningkatan

secara

angka

pada tahun

2010.
Perkembangan

Di Indonesia, dari waktu ke waktu


penyakit

terjadi

(Depkes RI,

kasus

BDB

di

daerah Bali tahun 2007 mencapai 6,375,

meningkat

dengan jumlah kematian 14 orang. Tahun

semakin

2008, mencapai 6.266 dengan jumlah

menyebar luas. Angka kesakitan DBD

kematian 19 orang. Tahun 2009, mencapai

secara nasional adalah 18,25 per 10.000

5.810 dengan jumlah kematian

dan

9 orang

dan tahun 2010 mencapai 10.864 kasus

Mengwi sebanyak 981 kasus, Kecamatan

dengan jumlah kematian 31 orang (Dinas

Abiansemal

Kesehatan Provinsi Bali, 2011).

Data

Kecamatan Kuta Selatan sebanyak 661

angka

kasus, Kecamatan Kuta sebanyak 510

terjadi

kasus, Kecamatan Petang sebanyak 33

peningkatan yang tajam pada tahun 2010

kasus, Kecamatan Kuta Utara sebanyak

sebanyak 10.864 kasus.

743 kasus (Dinas Kesehatan Kabupaten

tersebut

menunjukkan

kejadian

DBD

bahwa

berfluktuasi,

Angka kematian

sebanyak

2011).

519

Data

kasus,

akibat DBD juga meningkat tajam pada

Badung,

tersebut

tahun 2010 yaitu 31 orang. Hal ini

menunjukkan bahwa kasus BDB telah

menunjukkan belum berhasilnya upaya

menyebar ke seluruh wilayah Kabupaten

pencegahan penyebaran penyakit DBD.

Badung dengan jumlah kasus yang cukup

Berdasarkan data Dinas Kesehatan

banyak di setiap wilayah tersebut. Angka

Kabupaten Badung, tahun 2008 untuk

kejadian DBD di Puskesmas Kuta Utara

Kecamatan Mengwi sebanyak 230 kasus,

menunjukkan peningkatan dan penyebaran

Kecamatan Abiansemal sebanyak 365

yang meluas ke seluruh wilayah kerja

kasus.

puskesmas tersebut.

Kecamatan

Petang

sebanyak

5 kasus, Kecamatan Kuta Utara sebanyak


321,

tahun

Kecamatan

dilaporkan dari tahun 2008 sebanyak

Mengwi sebanyak 349 kasus, Kecamatan

321 kasus dengan perincian: Kelurahan

Abiansemal

Kerobokan Kelod 32 kasus, Kelurahan

Kecamatan

2009

untuk

Di UPT Puskesmas Kuta Utara

sebanyak
Kuta

123

Selatan

kasus,
sebanyak

Kerobokan

64

kasus,

Kelurahan

222 kasus, Kecamatan Kuta sebanyak

Kerobokan Kaja 47 kasus, Desa Dalung

424 kasus, Kecamatan Petang sebanyak

114 kasus, Desa Cangu 43 kasus, Desa

14 kasus, Kecamatan Kuta Utara sebanyak

Tibubeneng

332 kasus, tahun 2010 untuk Kecamatan

sebanyak 332 kasus dengan perincian:

21

kasus,

tahun

2009

Kelurahan Kerobokan Kelod 39 kasus,

rumah tangga dan kondisi lingkungan

Kelurahan Kerobokan 60 kasus, Kelurahan

sangat berpotensi mendukung terjadinya

Kerobokan Kaja 34 kasus, Desa Dalung

penyakit DBD, didapat berbagai data

52 kasus, Desa Canggu 29 kasus, Desa

mengenai perilaku dan kondisi lingkungan

Tibubeneng 18 kasus,

tahun 2010

yang belum mendukung kesehatan dan

sebanyak 743 kasus dengan perincian:

10 ibu rumah tangga pengetahuan, sikap

Kelurahan Kerobokan Kelod

dan tindakan terhadap penyakit DBD

kelurahan

Kerobokan

43 kasus,

225

kasus,

masih

kurang.

Desa

Tibubeneng

Kelurahan Kerobokan Kaja 38 kasus, Desa

berpenduduk 9.967 orang dengan 2.422

Dalung 285 kasus, Desa Canggu 97 kasus,

kepala keluarga, 30 persennya merupakan

Desa Tibubeneng 55 kasus. Meningkatnya

penduduk pendatang. Perilaku pencegahan

jumlah kasus serta bertambahnya wilayah

DBD pada penduduk pendatang dengan

yang

karena

penduduk asli tampak bervariasi. Dari

transportasi

10 KK yang diobservasi didapatkan bahwa

terjangkit,

semakin

baiknya

penduduk,

adanya

disebabkan
sarana

pemukiman

baru,

KK

merupakan

pendatang

dan

kurangnya perilaku masyarakat terhadap

perilakunya kurang baik, 6 KK merupakan

pembersihan sarang nyamuk, terdapat

penduduk asli dan perilaku pencegahan

vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok

DBD-nya baik.

tanah air serta adanya empat sel tipe virus


yang

bersirkulasi

sepanjang

tahun

(Depkes RI, 1995).

Desa

Tibubeneng,

dilalui

oleh

lintasan jalan kabupaten Tabanan (Tanah


Lot),

merupakan

wilayah

semiurban.

Hasil survey pendahuluan di Desa

Mobilitas penduduknya cukup tinggi untuk

Tibubeneng tanggal 1 sampai dengan

bekerja. Sebagian besar keluarga memiliki

4 Juni 2011 melalui wawancara dan

tanaman hias di pekarangan rumah, situasi

pengamatan diketahui bahwa perilaku ibu

seperti ini sangat menguntungkan nyamuk

penyebar DBD sebagai tempat beristirahat.

masyarakat dalam melakukan tindakan

Informasi dari Dasa Wisma, kegiatan

pencegahan masih kurang.

pemantauan jentik berkala (PJB) hanya

Dalam tujuan penelitian ini adalah :

dilakukan dalam lingkungan rumah saja,

1)

belum

jentik

pendidikan terhadap perilaku pencegahan

berkala (PJB) di luar lingkungan rumah,

Demam Berdarah Dengue. 2) Untuk

termasuk tempat-tempat umum, tempat

mengetahui hubungan pekerjaan terhadap

penampungan air alami.

perilaku pencegahan Demam Berdarah

melakukan

pemantauan

Kasus DBD senantisa meningkat

Untuk

mengetahui

hubungan

Dengue .3) Untuk mengetahui hubungan

dan kejadiannya terus berulang. Kabupaten

status

Badung merupakan salah satu daerah

pencegahan Demam Berdarah Dengue .4)

tujuan wisata yang sangat rentan dengan

Menganalisis hubungan sosiodemografi

issue penyakit DBD. Masih tingginya

masyarakat terhadap perilaku pencegahan

angka

Demam Berdarah Dengue

kejadian

DBD

di

Kabupaten

tinggal

terhadap

perilaku

Badung, khususnya di wilayah UPT


Puskesmas Kuta Utara menjadi bukti

METODE

bahwa upaya pencegahan DBD perlu

Penelitian ini merupakan penelitian

mendapat perhatian yang lebih serius.

tipe

Upaya

telah

desain Crossectional Study dengan metode

dilakukan melalui berbagai program P2M

Survey, dlaksanakan di Desa Tibubeneng,

dan pemberdayaan masyarakat, namun

Kecamatan

hingga saat ini belum cukup efektif dapat

Badung. Pengumpulan data dilakukan

mengurangi insiden DBD. Hasil penelitian

1 Januari 2012 sampai dengan 31 Maret

pendahuluan

menunjukkan

bahwa

2012. Populasi dalam penelitian ini adalah

pengetahuan,

sikap

perilaku

semua warga yang berumur 18-54 tahun

pemberantasan

DBD

dan

deskriptif

korelasi

Kuta

Utara,

menggunakan

Kabupaten

dan sudah berumah tangga yang ada di

logistik model prediksi,

wilayah Desa Tibubeneng, Kecamatan

kepercayaan 95%.

Kuta Utara,

dengan tingkat

Badung. Sampel dalam

penelitian ini adalah KK yang berumur 18-

HASIL DAN PEMBAHASAN

54 tahun dan sudah berumah tangga, yang

Tabel 1. Distribusi Responden berdasarkan


Sosiodemografi

telah terpilih melalui multistage random


sampling yaitu teknik sampling yang
dilakukan dengan cara mengambil wakil
dari setiap wilayah giografis yang ada.
Instrumen
menumpulkan
tentang

yang
data

dipakai

adalah

untuk

kuesioner

sosiodemografi dan perilaku

pencegahan kejadian DBD. Keusioner


Perilaku pencegahan kejadian DBD terdiri

Variabel
Tingkat
Pendidikan
SD
SMP
SMA
PT
Total
Pekerjaan
Bekerja
Tidak bekerja
Total
Status Tinggal
Asli
Pendatang
Total

8
12
108
35
163

4,9
7,4
66,3
21,5
100,0

127
36
163

77,9
22,1
100,0

96
67
163

58,9
41,1
100,0

atas 9 tindakan yang harus dijawab. Skor


ya (dilakukan) 1 dan tidak dilakukan
skornya 0. Perilaku pencegahan DBD
dibagi atas dua yaitu baik bila skor
jawabannya lebih besar atau sama dengan
5 dan tidak baik bila skornya kurang dari
5.

Data

dianalisis

univariat,

bivariat

Analisis

bivariat

dengan
dan

analisis

multivariate.

penelitian

ini

menggunakan uji Chi-square, sedangkan


analisis multivariat menggunakan regresi

Dari Tabel 1 dapat dijelaskan bahwa dari


163 responden pendidikan yang paling
banyak adalah SMA sebanyak 108 orang
(66,3%). Pendidikan yang paling sedikit
adalah SD sebanyak 8 orang (4,9%).
Responden

kebanyakan

bekerja

yaitu

sebanyak 127 orang (77,9%). Kebanyakan


sebagai penduduk asli yaitu sebanyak 96
orang (58,9%)

Tabel 2. Distribusi Perilaku Pencegahan


DBD Responden

berpendidikan

SMP

41,7%

memiliki

perilaku pencegahan DBD yang tidak baik.


Perilaku
Pencegahan
DBD
Baik
Tidak baik
Total

109
54
163

66,9
33,1
100,0

Responden

yang

bependidikan

SMA,

37,0% memiliki perilaku pencegahan DBD


yang tidak baik dan responden dengan
pendidikan PT, 14,3% memiliki perilaku

Dari Tabel 2. dapat dijelaskan

pencegahan

DBD

yang

tidka

baik.

bahwa dari 163 responden kebanyakan

Didapatkan nilai OR = 0,7 yang berarti

memiliki perilaku pencegahan DBD yang

bahwa responden yang berpendidikan SD,

baik yaitu sebanyak 109 orang (66,9%),

0,7 kali lebih basar memilki perilaku

merupakan perilaku positif yang artinya

pencegahan DBD yang baik, dari pada

50% lebih mempunyai motivasi sikap

yang berpendidikan bukan SD (SMP, SMA

hidup yang sehat.

dan PT). Hasil analisis didapatkan nilai p=

Tabel 3. Hubungan Pendidikan terhadap


Perilaku Pencegahan DBD

0,036, yang berarti bahwa ada hubungan

Sosio
demo
grafi

SD
SMP
SMA
PT
Total

yang bermakna antara pendidikan dengan

Perilaku Pencegahan
DBD
Baik

Tidak
baik

4
7
68
30
10
9

50,0
58,3
63,0
85,7
66,9

4
5
40
5
54

50,0
41,7
37,0
14,3
33,1

perilaku pencegahan DBD. Makin tinggi


OR

pendidikan

makin

besar

persentase

perilaku pencegahan DBD yang baik.


0,7

0,036

Berdasarkan

pendidikan

kebanyakan

responden berpendidikan SMA sebanyak


108 orang (66,3%). Pendidikan yang
paling sedikit adalah SD sebanyak 8 orang

Dari Tabel 3 dapat dijelaskan


bahwa

50,0%

berpendidikan

SD

responden
memiliki

yang
perilaku

pencegahan tidak baik. Responden yang

(4,9%). Hal ini menunjukkan bahwa


responden

telah

memiliki

pendidikan

tingkat menengah sesuai dengan UU

Pendidikan

nasional.

Pendidikan

memiliki perilaku pencegahan tidak baik.

merupakan hal penting dalam upaya

Responden yang tidak bekerja 72,2%

peningkatan

masyarakat

memiliki perilaku pencegahan DBD yang

khususnya pencegahan DBD.


Hasil analisis menunjukkan bahwa

tidak baik. Didapatkan nilai OR = 9,2 yang

perilaku

berarti bahwa responden yang bekerja, 9,2


ada hubungan bermakna antara pendidikan
kali
dengan

perilaku

pencegahan

lebih

basar

memilki

perilaku

kejadian
pencegahan DBD yang baik, dari pada

DBD dengan nilai p = 0,036. Hasil ini


yang

tidak

bekerja.

Hasil

analisis

sesuai dengan Notoatmodjo (2010) semua


didapatkan nilai p= 0,001, yang berarti
aktivitas atau kegiatan seseorang baik yang
bahwa ada hubungan yang bermakna
dapat

diamati

maupun

tidak,

yang
antara

berkaitan

dengan

pemeliharaan

pekerjaan

dengan

perilaku

dan
pencegahan DBD. Subyek yang bekerja

peningkatan kesehatan merupakan perilaku


mempunyai

persentase

perilaku

kesehatan. Perilaku sehat dapat terbentuk


pencegahan DBD yang baik lebih tinggi
karena pengaruh dari berbagai faktor yaitu
faktor predisposisi (predisposing factors),

dibandingkan subyek yang tidak bekerja.


Hasil ini menunjukkan bahwa KK

faktor pemungkin (enabling factors), dan

yang bekerja cendrung memiliki perilaku

faktor pendukung (reinforcement factors).


Tabel 4. Hubungan Pekerjaan terhadap
Perilaku Pencegahan DBD

pencegahan kejadian DBD yang lebih

Sosio
demo
grafi

Perilaku Pencegahan
DBD
Baik
N

Kerja
Tidak
Kerja
Total

Tidak baik
%

OR

28
26

22,0
72,2

109 66,9

54

33,1

provinsi Binh Thuan, Vietnam dengan


judul

99 78,0
10 27,8

baik. Penelitian lain yang dilaksanakan di

9,2

0,001

Dengue

Risk

Factor

And

Community Participation In Binh Thuan


Province Vietnam. A Household Servey
oleh Hoang Lan Phuong dkk (2008)

Dari Tabel 4. dapat dijelaskan

bertujuan untuk melihat faktor risiko

bahwa 22,0% responden yang bekerja

dengue dan partisipasi masyarakat dalam

pengendalian

dengue di Binh Thuan

asli memiliki perilaku pencegahan tidak

Vietnam. Faktor yang bermakna secara

baik. Responden yang sebagai penduduk

statistik

meningkatkan

infeksi

pendatang

dengue

pada

adalah

pencegahan

risiko

penelitian

ini

46,3%

memiliki

DBD

yang

perilaku

tidak

baik.

pekerjaan sebagai petani (RR 7,94;95% CI

Didapatkan nilai OR = 2,7 yang berarti

2,29-27,55).

bahwa responden yang sebagai penduduk

Menurut penelitian Hasan (2007)

asli 2,7 kali lebih basar memilki perilaku

di Bandar Lampung pekerjaan dengan

pencegahan DBD yang baik, dari pada

kejadian DBD secara statistik bermakna

yang

dengan OR 2,03. Sedangkan penelitian

pendatang. Hasil analisis didapatkan nilai

Irene (2010), di Kota Padang Sumatera

p=

Barat

DBD

hubungan yang bermakna antara status

serumah adalah sebesar 12,3 % dari 407

tinggal dengan perilaku pencegahan DBD.

responden.

Penduduk asli yang mempunyai persentase

Tabel 5. Hubungan Status Tinggal


terhadap Perilaku Pencegahan
DBD

perilaku pencegahan DBD yang baik lebih

Variab
el
Sosiodemog
rafi

bahwa

yang

mengalami

berstatus

0,003,

Status
Tinggal 73
:
Asli
Pendat
36
ang
Total
109

Tidak
baik

OR

yang

berarti

penduduk

bahwa

ada

tinggi dari pada penduduk pendatang.

Perilaku Pencegahan
DBD
Baik

sebagai

Mobilitas penduduk merupakan

perpindahan penduduk dengan berbagai

76,0

23

24,0 2,7

53,7

31

46,3

penduduk merupakan salah satu faktor

66,9

54

33,1

yang mempercepat penyebaran DBD, dan

tujuan
0,003

untuk

penduduk.

memenuhi

Mobilitas

atau

kebutuhan
pergerakan

mempercepat distribusi nyamuk Aedes


Dari Tabel 5 dapat dijelaskan
bahwa 24,0% responden sebagai penduduk

aegypti,

juga

menyebabkan

infeksi

sekunder dengan bercampurnya bermacam

macam tipe virus dengue yang dapat

Hasil analisis data menunjukkan nilai p =

menyebabkan seseorang terserang DBD.

0,003, yang berarti bahwa ada hubungan

Mobilitas penduduk berkaitan erat dengan

yang bermakna antara status tinggal KK

status

tinggal.

Penduduk

pendatang

dengan

sebagai

penduduk

Penelitian Irene (2010) di Kota Padang

penduduk

Sumatera Barat mean mobilisasi penduduk

memudahkan penularan penyakit dari satu

1,59 1,63, median =1 dan modus 1,

tempat ketempat lainnya (Sukamto, 2007).

dengan

berstatus

tinggal

pendatang.

Mobilitas

Menurut Amarasinghe, dkk (2011)


dari tahun 1960-2010 terjadi peningkatan

perilaku

pencegahan

derajat

Mobilitas

DBD.

kepercayaan

penduduk

90%.

berhubungan

bermakna dengan kejadian DBD.

kasus DBD secara drastis di 22 negara di

Penelitian

Azizah

Boyolali

genitik dari host dan vektornya. Penelitian

kejadian

oleh

(2006)

memiliki kontainer >3 lebih besar daripada

menemukan bahwa pola menularan DBD

yang mempunyai kontainer <3 (OR: 6,75,

bervariasi dan berpola sesuai dengan

95%, CI: 2,15-21,22) mobilitas penduduk

geografis

hal

merupakan faktor risiko untuk terjadinya

tersebut dikatakan juga bahwa faktor

DBD. Besar risiko kejadian DBD yang

determinan yang penting dalam infeksi

melakukan mobilitas minimal periode dua

virus DBD adalah lokasi pemukiman dan

minggu sebelum kejadian DBD lebih besar

lingkungan pemukiman (termasuk irigasi

dibandingkan

dan halaman rumah).

mobilitas minimal dua minggu sebelum

daerahnya.

Berdasarkan

dkk

Disamping

status

tinggal,

kebanyakan responden sebagai penduduk


asli yaitu sebanyak 96 orang (58,9%).

DBD

pada

yang

hasil:

di

Afrika. Hal tersebut terkait dengan factor

Vanwambeke,

memperoleh

(2010)

penduduk

tidak

risiko
yang

melakukan

kejadian DBD (OR: 9,29, 95%, CI : 1,08 80,15).

Tabel 6. Hubungan Sosiodemografi


terhadap Perilaku Pencegahan
DBD

pemodelan. Jadi artinya bahwa ketiga

Sub
variabel

berhubungan dengan perilaku pencegahan

SE

OR

p
valu
e
Pendidikan 1,018 2,335 0,051
Pekerjaan
0,465 9,016 0,001
Status
0,387 2,128 0,405
Tinggal

CI 95%

subvariabel tersebut secara bersamaan

kejadian DBD. Hasil analisis menunjukkan


0,318-17,164
3,626-22,418

0,996-4,544

Dari Tabel 6. terlihat bahwa OR

bahwa nilai OR dari ketiga subvariabel


tersebut bervariasi yaitu 2,335 untuk
subvariabel

pendidikan,

9,016

untuk

terbesar adalah pada subvariabel pekerjaan

subvariabel pekerjaan dan 2,128 untuk

(9,016)

adalah

subvariabel status tinggal. Hasil berarti

(2,128).

bahwa KK yang bekerja akan melakukan

Pekerjaan ada hubungan bermakna dengan

tindakan pencegahan DBD sebesar 9 kali

perilaku pencegahan DBD. (p=0,001)

lebih besar dari pada KK yang tidak

Pekerjaan

yang

bekerja setelah dikontrol dengan variable

terpenting terhadap perilaku pencegahan

pendidikan dan status tinggal. Kepala

DBD yang baik. Artinya masyarakat yang

Keluarga yang berpendidikan SD akan

memiliki pekerjaan memahami pola hidup

melakukan tindakan pencegahan DBD

sehat.

sebesar 2 kali besar dari pada KK yang

dan

subvariabel

yang

terkecil

status

tinggal

merupakan

faktor

Analisis multivariate menunjukkan


hasil bahwa ada hubungan bermakna
antara
pekerjaan

sosiodemografi
dan

status

(pendidikan,
tinggal

dengan

perilaku pencegahan kejadian DBD. Nilai


p masing-masing subveriabel tersebut
bervariasi,

setelah

dilakukan

analisis

multifariat

secara

bertahap,

ketiga

subvariabel tersebut dapat masuk dalam

bukan berpendidikan SD setelah dikontrol


dengan variable pekerjaan dan Status
tinggal. Kepala Keluarga yang tinggal
sebagai penduduk asli akan melakukan
tindakan pencegahan DBD sebesar 2 kali
lebih besar dari pada KK pendatang
setelah

dikontrol

dengan

pekerjaan dan pendidikan

variabel

Penelitian yang dilakukan oleh

dan perilaku responden. Menurut WHO

Anton (2008) di Medan menemukan

upaya penanganan DBD dapat dilakukan

bahwa

dengan

48,3%

pengetahuan

reponden

meningkatkan

partisipasi

terhadap DBD adalah rendah dan 51,7%

masyarakat dalam

termasuk tinggi. Penelitian terhadap sikap

terhadap vektor melalui

didapatkan bahwa 49,8% sikap responden

terhadap

Essential

terhadap

seperti : drum, vas bunga,

responden
terhadap
responden

DBD

positif

mempunyai
pencegahan
dalam

melakukan kontrol
pengawasan

Water

storage

dan

50,2%

tank/cistern

sikap

negatif

pot bunga, taman, atap, tempat makanan

Perilaku

binatang, tempat penampungan air lemari

DBD.

penanganan

DBD

es dan jebakan serangga.

Pengawasan

didapatkan bahwa 54,3%, responden telah

perlu dilakukan terhadap Non-essential

berperilaku baik dalam kaitannya dengan

water storage seperti : ban bekas, platik

pencegahan penyakit demam berdarah dan

bekas

sebaliknya 45,7% responden berperilaku

penampungan air alamiah juga perlu

masih belum sesuai dengan apa yang

mendapat perhatian seperti : lubang pohon

diharapkan

dan lubang bebatuan.

Analisis

oleh
terhadap

program

P2.DBD.

perbedaan

dalam

dan

kaleng

bekas.

Tempat

SIMPULAN
Makin tinggi pendidikan makin tinggi

pencegahan DBD ditemukan bahwa pada


persentase perilaku pencegahan DBD yang
masyarakat tipe ekonomi rendah, sedang
baik, pendidikan yang paling banyak SMA
dan ekonomi tinggi tidak ada perbedaan
108 orang (66,3%),dan yang palng sedikit
indeks larva (HI, CI, BI dan DF) yang
SD sebanyak 8 orang (4,9%).Subyek yang
signifikan.

Pengetahuan

responden,

dari

dan

sikap
bekerja mempunyai persentase perilaku

ketiga

tipe

kondisi
pencegahan DBD yang baik lebih tinggi

masyarakat, tidak ditemukan perbedaan


dibandingkan subyek yang tidak bekerja,
yang signifikan tentang pengetahuan, sikap
responden yang bekerja 127orang (77,9%),

yang tidak bekerja 36 orang(22,1%).


Penduduk

asli

mempunyai

DBD). Jakarta : Ditjen PPM &


PLP.

persentase
Depkes

perilaku pencegahan DBD yang baik lebih


tinggi dari pada penduduk pendatang,

RI., 2000. Petunjuk Teknis


Pemberantasan Sarang Nyamuk
Penular
Penyakit
Demam
Berdarah Dengue. Jakarta : Ditjen
PPM & PLP.

responden penduduk asli 96 orang(58,9),


responden
orang(41,1).

penduduk
Dari

pendatang
hasil

67

multivariat

didapatkan bahwa hanya pekerjaan yang


berhubungan bermakna terhadap perilaku
pencegahan
pekerjaan

DBD
merupakan

Depkes RI., 2007. Pedoman Pelaksanaan


Promosi Kesehatan Di Puskesmas
Pusat Promosi Kesehatan.

(p=0,001).
faktor

Jadi

Depkes RI., 2007. Pemberantasan Sarang


Nyamuk Demam Berdarah Dengue
(PSN DBD). Jakarta : Ditjen PPM
& PLP.
Depkes RI., 2008. Laporan Hasil Riset
Kesehatan Dasar Indonesia.

yang

terpenting terhadap perilaku pencegahan


DBD yang baik.
DAFTAR RUJUKAN
Anton. 2008. Hubungan Perilaku tentang
Pemberantasan
Sarang
Nyamuk
dan
Kebiasaan
Keluarga dengan Kejadian
DBD di Kecamatan Medan
Perjuangan, Medan.
Amarasinghe, Kuritsky, Letson, Margolis,
2011, Dengue Virus Infection in
Africa,
avalibel
at
http://www.medscape.com/viewpu
blications (12 Mei 2012)
Aziza, G.T., 2010, Analisis factor risiko
kejadian DBD di Desa Mojosongo,
Kabupaten Boyolali, Volume.5,
No.3
diunduh
dari
http://www.kopertis6.or.id/journale
indeks. (tanggal 12 Oktober 2012)
Depkes RI., 1995. Pokok-Pokok Kegiatan
dan
Pengelolaan
Gerakan
Pemberantasan Sarang Nyamuk
Demam Berdarah Dengue (PSN-

Depkes RI., 2011. Pemberantasan Sarang


Nyamuk Penular Penyakit Demam
Berdarah Dengue. Jakarta : Ditjen
PPM & PLP.
Dinas

Kesehatan Kabupaten Badung.


2011. Laporan Deman Berdarah
Dengue, Badung.

Dinas Kesehatan Provinsi Bali. 2011.


Laporan
Demam
Berdarah
Dengue, Bali.
Hasan,

2007,
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi Demam Berdarah
Dengue di Bandar Lampung, Tesis,
Program Pasca Sarjana Universitas
Indonesia, Depok.

Hoang Lan Phuong, Peter.J. De Vries,


Chaweewon Boonshuyar, Tran Q
Binh, Nguyen V Nam, Piet A
Kager (2008) Dengue Risk Factors
And Community Participation In
Binh Thuan Province, Veitnam, A
Household
Survey.
Journal
Tropical Medicine and AIDS, 39,
pp. 79-88. South East Asian J Trop
Med Publik Health.

Irene

2010, Pengembangan Sistem


Asosiasi Berbasis Adaptif untuk
Kewaspadaan Dini DBD Berbasis
Wilayah Padang Sumatra Barat,
Disertasi, Universitas Indonesia,
Depok.

Notoatmodjo S., 2010. Promosi Kesehata


dan Ilmu Perilaku, Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Sukamto, 2007, Studi Karakteristik
Wilayah Dengan Kejadian DBD di
Kecamatan
Cilacap
Selatan
Kabupaten Cilacap,Tesis Program
Pasca
Sarjana
Universitas
Diponeogoro, Semarang.
Vanwambeke, S.O., Benthem, Khantikul,
Maas, Panart, Oskam, Lambin &
Somboon,
2006,
Multi-level
Analyses of Spatial and Temporal
Determinants for Dengue Infection,
avalibel
at
http://www.medscape.com/nurses
(12 Mei 2012)