Anda di halaman 1dari 6

Kepemimpinan Otoriter

A. Pengertian Kepemimpinan
Konsep kepemimpinan merupakan komponen fundamental di dalam menganalisis
proses dan dinamika di dalam organisasi. Untuk itu banyak kajian dan diskusi yang
membahas definisi kepemimpinan yang justru membingungkan. Menurut Katz dan
Kahn (dalam Watkin, 1992) berbagai definisi kepemimpinan pada dasarnya dapat
diklasifikasikan menjadi tiga kelompok besar yakni sebagai atribut atau kelengkapan
dari suatu kedudukan, sebagai karakteristik seseorang, dan sebagai kategori perilaku.
Pengertian kepemimpinan sebagai atribut atau kelengkapan suatu kedudukan,
diantaranya dikemukakan oleh Janda (dalam Yukl, 1989) sebagai berikut:
Leadership is a particular type of power relationship characterized by a group
members perception that another group member has the right to prescribe behavior
patterns for the former regarding his activity as a group member. (Kepemimpinan
adalah jenis khusus hubungan kekuasaan yang ditentukan oleh anggapan para anggota
kelompok bahwa seorang dari anggota kelompok itu memiliki kekuasaan untuk
menentukan pola perilaku terkait dengan aktivitasnya sebagai anggota kelompok,
pen.).
Selanjutnya contoh pengertian kepemimpinan sebagai karakteristik seseorang,
terutama dikaitkan dengan sebutan pemimpin, seperti dikemukakan oleh Gibson,
Ivancevich, dan Donnelly (2000) bahwa Leaders are agents of change, persons
whose act affect other people more than other peoples acts affect them, atau
pemimpin merupakan agen perubahan, orang yang bertindak mempengaruhi orang
lain lebih dari orang lain mempengaruhi dirinya.
Adapun contoh pengertian kepemimpinan sebagai perilaku dikemukakan oleh
Sweeney dan McFarlin (2002) yakni: Leadership involves a set of interpersonal
influence processes. The processes are aimed at motivating sub-ordinates, creating a
vision for the future, and developing strategies for achieving goals, yang dapat
diartikan bahwa kepemimpinan melibatkan seperangkat proses pengaruh antar orang.
Proses tersebut bertujuan memotivasi bawahan, menciptakan visi masa depan, dan
mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan.
Sehubungan dengan ketiga kategori pengertian di atas, Watkins (1992)
mengemukakan bahwa Kepemimpinan berkaitan dengan anggota yang memiliki

kekhasan dari suatu kelompok yang dapat dibedakan secara positif dari anggota
lainnya baik dalam perilaku, karakteristik pribadi, pemikiran, atau struktur
kelompok. Pengertian ini tampak berusaha memadukan ketiga kategori pemikiran
secara komprehensif karena dalam definisi kepemimpinan tersebut tercakup
karakteristik pribadi, perilaku, dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok.
Berdasarkan pengertian tersebut maka teori kepemimpinan pada dasarnya merupakan
kajian tentang individu yang memiliki karakteristik fisik, mental, dan kedudukan yang
dipandang lebih daripada individu lain dalam suatu kelompok sehingga individu yang
bersangkutan dapat mempengaruhi individu lain dalam kelompok tersebut untuk
bertindak ke arah pencapaian suatu tujuan.
B. Pengertian Kepemimpinan Otoriter
Gaya kepemimpinan otoriter paling utama menggunakan perintah/instruksi.
Pengambilan kebijakan dibuat semata-mata oleh pimpinan yang cenderung
mendiktatorkan tugas dan teknik kepada bawahan. Pemimpin menyampaikan kepada
bawaan apa yang dilakukan dan bagaimana melakukannya. Gaya ini menekankan
perhatian yang tinggi dalam tugas. Pemimpin otoriter dikarakteristikkan dengan
pemberian perintah. Gaya kepemimpinan mereka dapat dimusuhi oleh bawahan dan
juga membatasi kreatifitas dan inovasi. Dengan kata lain, gaya ini hanya akan efektif,
terutama pada keadaan genting (Diane Huber, 2014).
Kepemimpinan otokratis/otoriter merujuk kepada tingkat pengendalian yang
tinggi tanpa kebebasan dan partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan.
Pemimpin bersifat otoriter, tidak bersedia mendelegasikan wewenang dan tidak
menyukai partisipasi anggota (Udik Budi Wibowo, 2011).
Gaya kepemimpinan otoriter atau otokrasi, artinya sangat memaksakan, sangat
mendesakkan kekuasaannya kepada bawahan (M. E. Ayub, 1996).
Kepemimpinan otoriter adalah jika kekuasaan atau wewenang, sebagian besar
mutlak tetap berada pada pimpinan atau impinan itu menganut sistem sentralisasi
wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya ditetapkan sendiri oleh
pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan untuk memberikan saran, ide, dan
pertimbangan dalam porses pengambilan keputusan (Malayu Hasibuan, 2007).
Pengambilan keputusan seorang manajer yang otokratik akan bertindak sendiri
dan memberitahukan bawahannya bahwa ia telah mengambil keputusan tertentu dan

para bawahan itu hanya berperan sebagai pelaksana karena tidak dilibatkan sama
sekali dalam proses pengambilan keputusan.
Memelihara hubungan dengan para bawahannya, manajer yang otokratik biasanya
dengan menggunakan pendekatan formal berdasarkan kedudukan dan statusnya dalam
organisasi dan kurang mempertimbangkan apakah kepemimpinannya dapat diterima
dan diakui oleh para bawahan atau tidak.
Seorang pemimpin yang otokratik biasanya memandang dan memperlakukan para
bawahannya sebagai orang-orang yang tingkat kedewasa atau kematangannya lebih
rendah dari tingkat kedewasaan atau kematangan pimpinan yang bersangkutan. Oleh
karena itu, dalam interaksi yang terjadi tidak mustahil bahwa ia akan menonjolkan
gaya memerintah dan bukan gaya mengajak. (Siagian, 2007)
Raja Bambang Sutikno (2007) menyebutkan bahwa

perbedaan

gaya

kepemimpinan otoriter dengan gaya kepemimpinan lain dapat dilihat dari bagan
berikut.
Otoriter

Demokratis

Liberal

BOS

BAWAHAN

Otoriter artinya pemimpin membawakan dirinya sebagai penguasa dan pengambil


keputusan, mengungkung diri terpisah dari anak buah. Arah panah menunjukkan
komunikasi satu arah, bos mendominasi segala wewenang/kekuasaan.
Demokratis artinya pemimpin dan anggota tim berada dalam satu kesatuan dan
bekerja sama menyelesaikan masalah. Arah panah menggambarkan interaksi
(komunikasi dua arah), bos dan karyawan berbagi wewenang/kekuasaan dalam
sebuah tim/grup.

Liberal artinya pemimpin tidak menyupervisi anggota tim, sehingga anggota


mengelompok dan bersatu di luar kontrol pemimpinnya. Arah panah menandakan
komunikasi satu arah. Karyawan mendominasi kebebasan tanpa wewenang dan
partisipasi dari bos.
Dalam organisasi, gaya kepemimpinan otoriter akan menimbulkan ketidakpuasan
para karyawan karena mereka merasa tegang, takut dan kurang berinisiatif.
Kepemimpinan otoriter hanya dapat diterapkan pada organisasi yang sedang
menghadapi keadaan darurat karena sendi-sendi kelangsungan hidup organisasi
terancam, apabila keadaan darurat selesai gaya ini harus segera ditinggalkan.
C. Ciri-Ciri Kepemimpinan Otoriter
Menurut Kartini Kartono (1983), pemimpin tipe otoriter mempunyai sifat sebagai
berikut:
1. Pemimpin menganggap organisasi sebagai miliknya
2. Pemimpin bertindak sebagai dictator
3. Cara menggerakkan bawahan dengan paksaan dan ancaman
Menurut Malayu Hasibuan (2007), karakteristik dari kepemimpinan otoriter
adalah:
1. Bawahan hanya bertugas sebagai pelaksana keputusan yang telah ditetapkan
pemimpin
2. Pemimpin menganggap dirinya orang yang paling berkuasa, paling pintar, dan
paling cakap
3. Pengarahan bawahan dilakukan dengan memberikan instuksi/perintah,
hukuman, serta pengawasan dilakukan secara ketat
Menurut Muhammad E. Ayub (1996), ciri-ciri kepemimpinan bertipe otoriter
adalah:
1. Tanpa musyawarah
2. Tidak mau menerima saran dari bawahan
3. Mementingkan diri sendiri dan kelompok
4. Selalu memerintah
5. Memberikan tugas mendadak
6. Cenderung menyukai bawahan yang ABS (Asal Bapak Senang)
7. Sikap keras terhadap bahwahn
8. Setiap keputusannya tidak dapat dibantah
9. Kekuasaan mutlak di taangan pimpinan
10. Hubungan dengan bawahan kurang serasi
11. Bertindak sewenang-wenang
12. Tanpa kenal ampun atas kesalahan bawahan

13. Kurang mempercayai bawahan


14. Kurang mendorong semangat kerja bawahan
15. Kurang mawas diri
16. Selalu tertutup
17. Suka mengancam
18. Kurang menghiraukan usulan bawahan
19. Ada rasa bangga ila bawahannya takut
20. Tidak suka bawahan pandai dan berkembang
21. Kurang memiliki rasa kekeluargaan
22. Sering marah-marah
23. Senang sanjungan
D. Kelebihan Kepemimpinan Otoriter
M. Sakhtivel Murugan dalam bukunya Management Principles And Practices
menyebutkan bahwa keuntungan dari kepemimpinan otoriter adalah sebagai berikut.
1. Memberikan motivasi yang kuat dan penghargaan kepada pemimpin yang egois
2. Pengambilan keputusan yang cepat
3. Bawahan yang tidak berkompeten dapat bekerja sesuai dengan peran mereka
E. Kekurangan Kepemimpinan Otoriter
M. Sakhtivel Murugan dalam bukunya Management Principles And Practices
menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan otoriter adalah gaya kepemimpinan yang
memiliki beberapa batasan-batasan, di antaranya:
1. Menyebabkan penurunan moral dan kepuasaan dalam bekerja
2. Efisiensi kerja karyawan cenderung berkurang setiap periode
3. Karyawan yang berpotensi menjadi pemimpin tidak memiliki kesempatan
untuk mengeluarkan kemampuan terbaik mereka
DAFTAR PUSTAKA
Huber, Diane. 2014. Leadership and Nursing Care Management Ed 5th. Missouri. Elsevier
Saunders.
Murugan, Sakhtivel M. 2007. Management Principles and Practices. New Delhi. New Age
International.
Ayub, M. E., dkk. 1996. Manajemen Mesjid. Jakarta. Gema Insani Press.
Sutikna, Raja Bambang. 2007. The Power of Empathy in Leadership. Jakarta. Gramedia
Pustaka Utama.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/C%202011-13%20Teori%20Kepemimpinan.pdf

http://staff.uny.ac.id/system/files/penelitian/Saliman,%20Drs.%20M.Pd./KEPEMIMPINAN
%20ADMINISTRATIF.pdf
http://e-journal.uajy.ac.id/1726/3/2EM15387.pdf
http://repository.widyatama.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/2585/Bab%202.pdf?
sequence=4
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37954/4/Chapter%20II.pdf