Anda di halaman 1dari 61

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan
Nasional
(SPPN)
mengamanatkan
penyusunan
Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP); Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM); dan Rencana Pembangunan Tahunan atau Rencana Kerja
Pemerintah (RKP). Amanat undang-undang tersebut dijabarkan ke dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, tata cara Penyusunan,
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tersebut
Pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010
tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan,
Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah, yang didalamnya mengatur tahapan, tata cara penyusunan,
pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah yang meliputi
RPJPD, RPJMD, Renstra SKPD, RKPD, dan Renja SKPD.
Dalam melaksanakan amanat undang-undang, peraturan pemerintah, serta
Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut di atas, Pemerintah Kota Banjarbaru telah
menyusun dokumen RPJP Kota Banjarbaru 2005-2025 yang ditetapkan dengan
Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2011. Untuk dokumen RPJMD Tahap I (20052010) telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2005, sedang
RPJMD Tahap II (2011-2015) telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 14
Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota
Banjarbaru Tahun 2011-2015.
Penyusunan RPJMD mengacu kepada RPJPD 2005-2025, yang memuat :
visi, misi dan program prioritas Kepala Daerah terpilih; dan rancangan rencana
teknokratik. RPJMD yang merupakan visi, misi dan program prioritas dari Kepala
Daerah terpilih yang akan dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat daerah
melalui
program
dan kegiatan yang dituangkan dalam Rencana Strategis dari
Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD). RPJMD akan dijabarkan dengan
rencana pembangunan tahunan/Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

B.

Dasar Hukum Penyusunan


Landasan hukum yang digunakan dalam penyusunan Rencana Kerja
Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Banjarbaru Tahun 2014 ini adalah:
1. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah
Tingkat II Kota Banjarbaru (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999
Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3822);
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali dan
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

45

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


6.

7.

8.

9.
10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.
20.

21.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4438);
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005-2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4700);
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor
82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574);
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4577);
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota(Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4737);
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat
Daerah(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4815);
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816);
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daerah (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014;
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali dan
terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata cara
Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 517);

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

46

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


22. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 17 Tahun 2009 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kalimantan Selatan
Tahun 2005-2025;
23. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 17 Tahun 2009 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kalimantan Selatan
Tahun 2011-2015;
24. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan
Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Kota Banjarbaru(Lembaran
Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2008 Nomor 2 Seri D Nomor Seri 1);
25. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 11 Tahun 2008 tentang Pembentukan,
Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah di Lingkungan Pemerintah Kota
Banjarbaru (Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2008 Nomor 11 Seri D
Nomor Seri 5) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota
Banjarbaru Nomor 20 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah
Kota Banjarbaru Nomor 11 Tahun 2008 tentang Pembentukan, Organisasi dan
Tata
Kerja
Dinas
Daerah
di Lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru (Lembaran Daerah Kota Banjarbaru
Tahun 2011 Nomor 20);
26. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pembentukan,
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong
Praja Kota Banjarbaru (Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2008 Nomor
12 Seri D Nomor Seri 6) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota
Banjarbaru Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah
Kota Banjarbaru Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pembentukan, Organisasi dan
Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota
Banjarbaru (Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2011 Nomor 21);
27. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 11 Tahun 2011 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2011-2025
(Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2011 Nomor 11);
28. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2011-2015
(Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2011 Nomor 14);
29. Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 14 Tahun 2013 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Banjarbaru Tahun Anggaran 2014
(Lembaran Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2013 Nomor 14);
30. Peraturan Walikota Banjarbaru Nomor 55 Tahun 2013 tentang Penjabaran
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Banjarbaru Tahun Anggaran
2014 (Berita Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2013 Nomor 55).
C.

Hubungan Antar Dokumen


1.

RKPD dan RPJM Nasional


RPJM Nasional menjadi acuan penyusunan Rancangan Awal RKPD, khususnya
dalam
menjabarkan
program-program
sektoral
dan
program
kewilayahan/regional. Program yang bersifat sektoral, antara lain dapat dilihat
pada Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan
yang Berkeadilan. Inpres ini memuat program-program yang dinaungi ke dalam
Program Pro-Rakyat, Program Keadilan untuk Semua (justice for all); dan Program
Pencapaian Tujuan Milenium (Millenium Development Goals-MDGs).

2.

RKPD dan RPJM Provinsi Kalimantan Selatan


Program pembangunan daerah yang tertuang dalam RPJMD dijabarkan ke dalam
RKPD, dengan memperhatikan hasil evaluasi capaian kinerja RKPD tahun
sebelumnya dan mengacu Rancangan Awal RKPD Provinsi.

3.

RKPD dan RPJM Kota Banjarbaru

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

47

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015 ini merupakan tahun terakhir pelaksanaan
RPJMD Kota Banjarbaru 2011-2015, yaitu tahun keempat : perencanaan tahun
2014 untuk dilaksanakan tahun 2015.

D.

4.

RKPD dan RTRW Kota Banjarbaru


Penyusunan RKPD memperhatikan dan mempertimbangkan pola dan struktur
ruang RTRW Kota Banjarbaru sebagai dasar menetapkan lokasi program
pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang daerah di Kota
Banjarbaru.

5.

RKPD dan Renja SKPD


Rancangan Renja SKPD disusun mengacu pada rancangan awal RKPD, yang
digunakan sebagai acuan perumusan program, kegiatan, indikator kinerja dan
dana indikatif dalam Renja SKPD, sesuai dengan rencana program prioritas pada
rancangan awal RKPD.

Sistematika Dokumen RKPD


RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015 disusun dengan sistematika
berikut :
BAB I

sebagai

: Pendahuluan, menguraikan mengenai latar belakang penyusunan,


pengertian dan proses penyusunan, landasan hukum yang digunakan,
kedudukan dan keterkaitan antara dokumen RKPD dengan dokumen
perencanaan lainnya, sistimatika atau kerangka pemikiran tentang
substansi RKPD yang ingin dituju berdasarkan tema perencanaan
tahunan yang dicanangkan, serta maksud dan tujuan penyusunan,
RKPD.

BAB II

Evaluasi Hasil Pelaksanaan RKPD Tahun Lalu dan Capaian Kinerja


Penyelenggaraan Pemerintahan, memuat gambaran umum kondisi
daerah terkini berdasarkan capaian target pembangunan tahun 2013,
evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan, hasil capaian program dan
kegiatan yang direncanakan tahun 2015 serta permasalahan
pembangunan daerah.

BAB III

Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah, memuat kerangka ekonomi


daerah/gambaran kondisi ekonomi mencakup : indikator pertumbuhan
ekonomi daerah, sumber-sumber pendapatan dan kebijakan pemerintah
daerah yang diperlukan dalam pembangunan perekonomian daerah,
meliputi pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah.

BAB IV

Prioritas Pembangunan Daerah, menjelaskan tujuan dan sasaran


prioritas pembangunan daerah.

BAB V

Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah, memuat rincian


rencana program dan kegiatan prioritas RKPD tahun 2015 yang disusun
oleh instansi pelaksana/SKPD, indikator capaian masing-masing
program dan kegiatan serta pagu indikatifnya.

BAB VI

Penutup, menjelaskan tahapan-tahapan sistematika atau hal-hal pokok


yang termuat dalam keseluruhan RKPD, sebagai pedoman bagi semua
pihak dalam memfungsikan RKPD sesuai dengan ketentuan
perundangan yang berlaku.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

48

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


E.

Maksud dan Tujuan


Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Banjarbaru Tahun 2015
disusun dengan maksud untuk :
a. Menyediakan acuan resmi bagi Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah dalam rangka menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (RAPBD) yang didahului dengan penyusunan Kebijakan Umum APBD
(KUA), serta penentuan Prioritas dan Pagu Anggaran Sementara (PPAS) Tahun
2015;
b. Sebagai pedoman Penyusunan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah
(Renja SKPD) Tahun 2015.
Tujuan Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kota Banjarbaru
adalah untuk menciptakan sinergisitas dalam pelaksanaan pembangunan daerah
antar wilayah, antar sektor pembangunan dan antar tingkat pemerintahan serta
menciptakan efisiensi alokasi sumber daya dalam pembangunan daerah.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

49

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


BAB II
EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU
DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

A.

Gambaran Umum Kondisi Daerah


1.

Aspek Geografis dan Demografi


Kota Banjarbaru, secara geografis, terletak pada 03027-03029 Lintang
Selatan dan 114045-11404545 Bujur Timur dengan batas-batas wilayah sebagai
berikut :
~ Sebelah Utara, berbatasan dengan Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar;
~ Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Karang Intan, Kabupaten
Banjar;
~ Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gambut dan Aluh-Aluh
Kabupaten Banjar;
~ Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah
Laut
Luas wilayah Kota Banjarbaru 371,3 km2 dengan ketinggian berada pada
0-500 m dari permukaan laut. Dari luas wilayah tersebut dapat dibedakan atas
wilayah kelerengan 0-2% mencakup 59,35 persen luas wilayah, kelerengan 2-8%
mencakup 25,78 persen wilayah, kelerengan 8-15% mencakup 12,08 persen
wilayah. Kota Banjarbaru memiliki iklim tropis berkisar antara 23,3oC-32,7oC
dengan kelembaban udara rata-rata berkisar antara 47%- 98%.
Kota Banjarbaru secara administratif terdiri dari 5 Kecamatan dan 20
Kelurahan, yaitu : Kecamatan Landasan Ulin, Kecamatan Liang Anggang,
Kecamatan Cempaka, Kecamatan Banjarbaru Utara dan Kecamatan Banjarbaru
Selatan,
Pengembangan potensi wilayah secara spasial yang dilakukan melalui
kebijakan pengembangan kawasan strategis Provinsi Kalimantan Selatan, Kota
Banjarbaru termasuk dalam Kawasan Strategis Untuk Pertumbuhan Ekonomi
yakni Kawasan Metropolitan Banjar Bakula yang meliputi wilayah administrasi
pemerintahan Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, sebagian Kabupaten Banjar,
sebagian Kabupaten Barito Kuala, sebagian Kabupaten Tanah Laut.
Jumlah penduduk Kota Banjarbaru mengalami peningkatan dari tahun
ke tahun. Pada tahun 2011 jumlah penduduk Kota Banjarbaru sebesar 203.398
jiwa dan tahun 2012 menjadi 213.998 jiwa, kemudian pada tahun 2013
mengalami peningkatan mencapai 220.168 jiwa yang terdiri dari 112.819 jiwa
laki-laki dan 107.349 jiwa perempuan. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk
Banjarbaru dari tahun 2009-2013 sebesar 6,53% dengan tingkat kepadatan pada
tahun 2013 mencapai 593 orang per km2. Kota Banjarbaru yang identik sebagai
Kota Pendidikan di mana terdapat berbagai perguruan tinggi negeri maupun
swasta menyebabkan banyaknya pendatang yang berdomisili untuk menuntut
ilmu. Selain itu, posisi Kota Banjarbaru yang cukup strategis baik secara
administratif maupun akses ekonomi mendorong peningkatan jumlah penduduk
sehingga mendorong perkembangan pembangunan perumahan yang cukup pesat
beberapa tahun terakhir.

2.

Aspek Kesejahteraan Masyarakat


a.

Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi


1)

Pertumbuhan ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai
dampak dari kebijaksanaan pembangunan yang telah diambil,
khususnya dalam bidang ekonomi. Indikator ini memiliki arti penting
bagi
pemangku
kebijakan
untuk
mengetahui
keberhasilan

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

50

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


pembangunan yang telah dicapai, serta berguna sebagai bahan untuk
menentukan kebijakan dan arah pembangunan di masa yang akan
datang.
Pertumbuhan
ekonomi suatu daerah
dapat
diartikan
perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan
barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan
kemakmuran masyarakat meningkat.
Gambaran tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih realistis
atau riil dapat dilihat berdasarkan pertumbuhan PDRB atas dasar harga
konstan (tahun dasar 2000).
Gambar 1
Perkembangan Nominal PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas
Dasar Harga Konstan Tahun 2009-2012 dan Perkiraan Tahun 2013
(Milyar Rupiah)
3,000.00

2,657.29
2,360.08

2,500.00
2,000.00

2,115.58
1,887.95

1,696.61

1,500.00
901.43

1,000.00

954.18

1,011.34

1,073.88

1,141.26

500.00
0.00
2009

2010

2011
ADHB

2012

2013*

ADHK

Sumber : Indikator Makro Ekonomi Kota Banjarbaru, Tahun 2013


* Angka Perkiraan

Selama tahun 2009 sampai dengan 2012 perkembangan nominal


PDRB Kota Banjarbaru terus meningkat dari sebesar 1.696,61 milyar
rupiah menjadi 2.360,08 milyar dan diperkirakan pada tahun 2013
meningkat sebesar 2.657,29 milyar rupiah.
Besaran PDRB ini dari
tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan
bahwa aktifitas kegiatan ekonomi Kota Banjarbaru mengalami
peningkatan baik dari nilai nominal maupun realitas produksinya.
Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan diharapkan
dapat memberikan dampak pada beberapa aspek.
Pertama,
meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta memperluas kesempatan
kerja dan pemerataan pembagian pendapatan masyarakat. Kedua,
meningkatkan hubungan ekonomi dan mengusahakan adanya
pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan
tersier, sehingga tercipta pendapatan masyarakat yang meningkat secara
mantap dengan tingkat pemerataan yang baik.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

51

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Gambar 2
Pertumbuhan Ekonomi Kota Banjarbaru
Periode 2009-2012 dan Perkiraan Tahun 2013
6.4
6.3

6.27

6.2

6.18

6.1
6

5.9

5.99
5.91
5.85

5.8
5.7
5.6
2009

2010

2011

2012

2013*

Sumber : PDRB Kota Banjarbaru


* Angka Perkiraan

2)

Struktur Ekonomi
Struktur perekonomian Kota Banjarbaru masih didominasi oleh
peranan sektor tersier dan sektor sekunder. Hal ini disebabkan Kota
Banjarbaru tidak memiliki Sumber Daya Alam yang berlimpah. Selain
itu, Banjarbaru merupakan wilayah permukiman dan perkantoran.
Peranan
sektor
tersier
dalam
struktur
perekonomian
Kota Banjarbaru diperkirakan mengalami peningkatan dari 54,78 persen
pada tahun 2012 menjadi 55,35 persen pada tahun 2013. Hal ini
dikarenakan sektor jasa-jasa yang terus mengalami perkembangan.
Sementara itu, peranan sektor sekunder diperkirakan cenderung
mengalami penurunan sedikit dibanding tahun 2012, yaitu dari 33,22
persen pada tahun 2012 menjadi 32,86 persen di tahun 2013. Hal ini
merupakan kelanjutan dari adanya beberapa perusahaan industri besar
sedang yang tutup sejak tahun 2011.
Tabel 1.
Struktur Perekonomian Kota Banjarbaru
Tahun 2009-2012 dan Perkiraan Tahun 2013
Lapangan Usaha
Sektor Primer
Pertanian
Pertambangan dan Penggalian
Sektor Sekunder
Industri
Listrik dan Air
Bangunan
Sektor Tersier
Perdagangan, Hotel dan
Restoran
Pengangkutan dan Komunikasi
Keuangan, Persw dan Jasa Prsh.
Jasa- jasa
PDRB

2009

2011

2012

2013*

13,12
4,21
8,91
35,11
13,04
2,53
19,54
51,76

2010
12,63
4,35
8,28
34,25
12,50
2,88
18,87
53,12

12,34
4,24
8,10
33,58
12,24
2,82
18,52
54,08

13,00
4,14
7,86
33,22
12,09
2,76
18,37
54,78

11,79
3,99
7,80
32,86
11,89
2,80
18,17
55,35

18,89

18,45

18,82

19,41

19,95

7,66
3,75
21,46
100,00

7,96
3,96
22,75
100,00

7,84
4,14
23,28
100,00

7,76
3,94
23,67
100,00

7,64
3,82
23,94
100,00

Sumber : Indikator Makro Ekonomi Tahun 2013


* Angka Perkiraan

3)

PDRB Per Kapita


Salah satu indikator kesejahteraan penduduk adalah pendapatan
per kapita yang dapat diwakili oleh PDRB per kapita. Rata-rata PDRB
per kapita Kota Banjarbaru selama periode 2009-2012 sebesar 10,30

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

52

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


juta rupiah dan pada tahun 2013 diperkirakan sebesar 12,07 juta
rupiah. Seiring dengan peningkatan pendapatan per kapita atas dasar
harga berlaku, maka diharapkan kemampuan daya beli penduduk per
kapita juga mengalami peningkatan.
Tingkat kesejahteraan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh
pendapatan per kapita yang tinggi, melainkan juga harus diikuti dengan
pemerataan pendapatan yang diterima oleh masyarakat itu sendiri
dengan kata lain pendapatan yang tinggi tidak akan berarti jika hanya
dinikmati oleh golongan tertentu saja.
Tabel 2.
PDRB per kapita Kota Banjarbaru Tahun 2009-2012 dan perkiraan
Tahun 2013
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013*

PDRB Perkapita Per Tahun (Rp)


8.870.760,9.382.034,10.401.184,11.125.925,12.069.361,-

Sumber : Indikator Makro Ekonomi Tahun 2013

4)

Laju Inflasi
Sepanjang tahun 2009 sampai dengan tahun 2013, tingkat inflasi
(tahunan) di Kalimantan Selatan mengalami gejolak naik dan turun.
Inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu mencapai 9,06 persen.
Naiknya inflasi pada periode ini diakibatkan kondisi cuaca yang kurang
mendukung dan gelombang yang tinggi sehingga jalur distribusi barang
terhambat dan pasokan barang menjadi terbatas.
Tahun 2011 inflasi di Kalimantan Selatan kembali turun
mencapai 3,98 persen, jauh diatas inflasi nasional yang hanya mencapai
3,79 persen.
Melambatnya laju inflasi ini terutama dipengaruhi
turunnya tekanan permintaan serta lancarnya pasokan bahan makanan
secara umum. Hal ini terjadi karena dukungan kondisi cuaca yang baik
sehingga mendorong peningkatan produksi padi dan harga beras dapat
dikendalikan serta lancarnya pasokan bahan makanan seperti sayuran,
bumbu-bumbuan dan gula pasir dari Pulau Jawa.
Peningkatan
produksi peternakan ayam ras pedaging yang disebabkan karena karena
curah hujan yang moderat sehingga ayam tidak mudah terserang
penyakit juga turut andil dalam menjaga inflasi selama tahun 2011.
Selain itu harga emas yang sempat mengalami penurunan harga
khususnya pada bulan Oktober dan Desember turut mengurangi
tekanan inflasi pada tahun 2011.
Inflasi Kalimantan Selatan Tahun 2012 tercatat 5,96 persen.
Angka tersebut berada di atas angka inflasi rata-rata Kalimantan
maupun inflasi nasional yang masing-masing tercatat sebesar 5,29
persen dan 4,31 persen dan pada tahun 2013 kembali naik menjadi 6,98
persen.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

53

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Gambar 3.
Inflasi Tahunan di Propinsi Kalimantan Selatan tahun 2009-2013
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

9.06
6.98
5.96
3.98

3.86

2009

2010

2011

2012

2013

Kalimantan Selatan
Sumber : Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Dilihat dari kelompok pengeluarannya, meningkatnya inflasi


tahunan pada tahun 2013 didorong oleh inflasi pada kelompok
transportasi dan komunikasi sebesar 12,36 persen, bahan makanan
sebesar 9,94 persen, perumahan sebesar 6,19 persen dan kelompok
makanan jadi sebesar 5,55 persen. Tujuh kelompok pengeluaran yang
memberikan pengaruh terbesar dalam peningkatan inflasi selama tahun
2013 ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 3.
Tujuh Kelompok Pengeluaran Inflasi Utama Tahun 2013
Kelompok
Bahan Makanan
Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Perumahan
Sandang
Kesehatan
Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Transportasi dan Komunikasi
Total

Persentase Perubahan Harga


9,94
5,55
6,19
-2,25
3,28
2,36
12,36
6,98

Sumber : Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Seiring dengan membaiknya kinerja perbankan, meningkatnya


pendapatan masyarakat, dan semakin banyaknya produk perbankan
yang ditawarkan, mendorong penghimpunan dana khususnya dari
dalam negeri mengalami peningkatan. Dalam menjalankan operasional
kegiatan perbankan, Bank memiliki tiga sumber dana yaitu ; (1) dana
yang bersumber dari masyarakat, (2) dana yang bersumber dari bank itu
sendiri, (3) dana yang bersumber dari lembaga lain. Penghimpunan dana
pihak ketiga (DPK) yang berasal dari masyarakat berupa giro, deposito
dan tabungan. Penghimpunan dana yang dilakukan perbankan di Kota
Banjarbaru sampai bulan Desember tahun 2013 mencapai 2,35 trilyun
rupiah atau meningkat sebesar 3,52 persen dibandingkan periode yang
sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 2,27 trilyun rupiah. Dari
seluruh dana yang dihimpun dari masyarakat, yang terbesar berasal dari
tabungan yaitu sebesar 1,65 trilyun rupiah atau 70,10 persen dari total
dana yang dihimpun.
Sementara itu, jenis simpanan deposito
merupakan yang terkecil dari total dana yang dihimpun dari masyarakat,
yaitu sebesar 268,99 milyar rupiah atau sebesar 11,43 persen dari
keseluruhan dana yang dihimpun dari masyarakat.
Gambar 4.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

54

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Perkembangan Penghimpunan Dana Perbankan di Kota Banjarbaru
Tahun 2009-2013 (Milyar Rupiah)
1800.00

1,648.65

1600.00

1,435.82

1400.00
1,118.46

1200.00
1000.00

808.01

800.00

627.02

550.34

600.00
400.00
200.00

257.50
155.42

295.71
238.47

2009

2010

388.60
285.20

550.34

282.49

268.99

2012

2013

0.00
Giro

2011
Deposito

Tabungan

Sumber : Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Kegiatan intermediasi bank selain penghimpunan dana adalah


penyaluran kredit. Fungsi intermediasi bank akan berjalan dengan baik
jika kemampuan menghimpun dana dan penyaluran kredit berjalan
seirama. Oleh karena itu, bank berusaha untuk menawarkan berbagai
macam kredit dan beragam keuntungan.
Tabel 4.
Penyaluran Kredit menurut Jenis Penggunaan
di Kota Banjarbaru Tahun 2009-2013 (Milyar Rupiah)
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013

Modal Kerja
400,35
432,60
537,26
670,39
853,54

Jenis Penggunaan Kredit


Investasi
Konsumsi
111,37
103,11
162,83
397,21
527,55

868,88
1.031,24
1.321,66
1.368,85
1.902,32

Jumlah
1.380,60
1.566,95
2.021,75
2.436,45
3.283,16

Sumber : Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Secara umum jumlah penyaluran kredit pada posisi bulan


Desember tahun 2013 di Kota Banjarbaru adalah sebesar 3,28 trilyun
rupiah atau meningkat sebesar 34,76 persen dibandingkan tahun 2012
yang mencapai 2,44 trilyun rupiah. Dari total penyaluran kredit tahun
2013 sebesar 1,28 trilyun rupiah digunakan untuk konsumsi dengan
sebesar 58,44 persen. Disalurkan untuk modal kerja sebesar 25,45
persen dan untuk investasi sebesar 16,11 persen.
Besarnya proporsi kredit untuk konsumsi sebenarnya kurang
menggembirakan bagi dunia usaha karena orang lebih cenderung
menggunakan uangnya untuk hal-hal yang kurang produkif dan bukan
menggunakan pada hal-hal yang dapat meningkatkan penghasilan
keluarga atau dapat dikatakan adanya kecenderungan untuk berlaku
konsumtif.
Bila dilihat menurut sektor ekonomi, hampir semua sektor
mengalami peningkatan dalam hal penyerapan kredit, kecuali sektor
industri pengolahan yang justru mengalami penurunan yaitu dari 88,51
miliar rupiah pada tahun 2011 turun menjadi 19,96 miliar rupiah tahun
2012 dan terjadi peningkatan kembali pada tahun 2013 sebesar 27,18
milyar. Penurunan penyerapan kredit untuk sektor industri pengolahan
ini seiring dengan derasnya produk dan jasa impor karena bea masuk
terlalu liberal.
Semua itu mengakibatkan penyaluran kredit dari
perbankan terhadap para pelaku usaha di bidang ini juga menurun
karena usaha mereka tidak semaju sebelumnya.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

55

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU

Tabel 5.
Penyaluran Kredit Menurut Sektor
di Kota Banjarbaru Tahun 2011-2013 (Milyar Rupiah)
Sektor
Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan
Pertambangan & Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
Konstruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
Pengangkutan & Komunikasi
Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan
Jasa-Jasa
Jumlah

Penyaluran Kredit
2011
2012
2013
12,65
21,67
19,79
9,15
15,37
7,19
88,51
19,96
27,18
1,11
1,80
3,59
69,39
78,18
128,81
221,09
325,25
400,15
10,82
35,03
27,45
52,15
59,49
69,99
40,09
55,48
52,67
504,95
612,16
736,81

Sumber : Indikator Makro Ekonomi Tahun 2013

b.

Kesejahteraan Masyarakat
1)

Pendidikan
a)

Angka Melek Huruf


Pada hakekatnya pendidikan merupakan usaha sadar
manusia untuk mengembangkan kepribadian di dalam maupun di
luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Oleh karenanya
pendidikan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Dalam
konteks pembangunan daerah, keberhasilan pembanguan di bidang
pendidikan akan meningkatkan kualitas tenaga penggerak
pembangunan itu sendiri sehingga diharapkan hasil yang dicapai
oleh pembangunan ke depannya lebih berkualitas.
Pencapaian hasil pembangunan dalam dimensi pendidikan
diukur dengan 2 variabel, yaitu rata-rata lama sekolah dan angka
melek huruf. Rata-rata Lama Sekolah adalah rata-rata jumlah
tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas
untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah
dijalani. Ukuran yang sangat mendasar dari indikator pendidikan,
secara makro adalah kemampuan baca tulis (melek huruf)
penduduk, yaitu kemampuan untuk membaca dan menulis huruf
latin dan huruf lainnya. Angka Melek Huruf (AMH) penduduk
dewasa adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang
dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

56

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Gambar 5.
Perkembangan Angka Melek Huruf Penduduk Kota Banjarbaru
Tahun 2009-2013
99.2
98.95

99

98.91

98.8
98.53

98.6
98.4
98.2

98.1

98.22

98
97.8

97.6
2009

2010

2011

2012

2013

Sumber : BPS Kota Banjarbaru

Perkembangan angka melek huruf dan angka rata-rata


sekolah di Kota Banjarbaru setiap tahun terus mengalami
peningkatan, hal ini dapat dilihat pada gambar 9 dan gambar 10.
Angka melek huruf Kota Banjarbaru pada tahun 2013 sebesar 98,91
persen. Hal ini berarti 1,09 persen saja penduduk usia 15 tahun ke
atas yang tidak dapat membaca dan menulis.
b)

Angka Rata-Rata Lama Sekolah


Sementara pada tahun 2012 rata-rata lama sekolah Kota
Banjarbaru cukup tinggi yaitu sebesar 10,66 tahun. Artinya ratarata penduduk Kota Banjarbaru telah mengentaskan pendidikan
sampai di kelas 3 SMA. Hal ini menunjukkan program pemerintah
wajib belajar 9 tahun sudah berhasil.
Gambar 6.
Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah Kota Banjarbaru
Tahun 2009-2012 dan Perkiraan Tahun 2013
10.8

10.66

10.69

2012

2013*

10.6

10.4
10.2

10.06

10
9.8

9.74

9.85

9.6
9.4
9.2
2009

2010

2011

Sumber : BPS Kota Banjarbaru

Peran
SDM
berkualitas
sangat
strategis
dalam
pembangunan/ pengembangan wilayah, di samping sebagai subyek
sekaligus obyek dari pembangunan/pengembangan wilayah
tersebut. SDM berkualitas merupakan faktor yang menentukan
maju tidaknya suatu daerah. Salah satu hal yang dapat dilakukan
dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah melalui
peningkatan taraf pendidikan.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

57

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Kota Banjarbaru menjadi barometer untuk kualitas
penduduk Kalimantan Selatan, karena selain angka melek dan
angka partisipasi tinggi, persentase penduduk yang menamatkan
pendidikan tinggi juga jauh lebih banyak dibandingkan kabupaten
lain. Di Kota Banjarbaru selain berdiri Universitas Negeri tertua di
Kalimantan Selatan, tersebar juga beberapa perguruan tinggi
dengan berbagai jurusan.
c)

Angka Partisipasi Sekolah


Indikator yang dapat memberikan gambaran peningkatan
kualitas pendidikan salah satunya dapat dilihat melalui Angka
Partisipasi Sekolah. Angka Partisipasi sekolah ada dua yaitu Angka
Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partsipasi Murni (APM).
APK adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang
sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah
penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan
tertentu. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara
umum di suatu tingkat pendidikan. APK merupakan indikator yang
paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia
sekolah di masing-masing jenjang pendidikan.
Sedangkan APM merupakan proporsi jumlah penduduk usia
tertentu yang bersekolah pada jenjang pendidikan tertentu terhadap
jumlah penduduk pada kelompok umur yang sesuai dengan jenjang
pendidikan tersebut. Kegunaan Angka Partisipasi Murni (APM)
adalah untuk melihat tingkat partisipasi penduduk menurut jenjang
pendidikan tertentu.
Gambar 7.
Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partispasi Murni (APM)
Kota Banjarbaru Tahun 2013
140
120

120
98.78

100

103
90.91

84.78

80
58.28

60

40
20
0

SD

SLTP
APK

SLTA
APM

Sumber : AKSE Tahun 2013, BPS Kota Banjarbaru

Partisipasi sekolah penduduk Kota Banjarbaru pada tahun


2013 cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari APK SD yang mencapai
120 persen, APK SLTP 103 persen dan APK SLTA mencapai 84,78
persen serta APM SD sebesar 98,78 persen, APM SLTP 90,91 persen
dan APM SLTA sebesar 58,28 persen.
Dari tabel 6 terlihat bahwa pada tahun 2013 penduduk usia
5 tahun ke atas yang tidak punya ijazah (tidak sekolah dan
tidak/belum tamat SD sederajat) persentasenya cukup besar yaitu
sekitar 4,53 persen yang tidak pernah sekolah dan 21,02 persen
tidak/belum tamat SD sederajat.
Tabel 6.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

58

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Persentase Penduduk Usia 5 Tahun Ke atas Menurut Pendidikan
Tertinggi Yang Ditamatkan di Kota Banjarbaru Tahun 2010-2013
Tahun
Tidak/belum sekolah
Tidak punya ijazah
SD
SLTP Sederajat
SLTA Sederajat
DI/DIII
S1/S2/S3
Total

2010
4,28
23,41
17,6
16,85
26,53
3,75
7,58
100,00

2011
3,12
22,27
18,33
18,91
25,93
2,68
8,76
100,00

2012
4,57
20,72
18,59
16,05
26,97
2,36
10,75
100,00

2013
4,53
21,02
18,37
16,21
28,06
2,43
9,38
100,00

Sumber : AKSE Tahun 2013, BPS Kota Banjarbaru

Kondisi pendidikan penduduk Kota Banjarbaru selama 4


tahun terakhir ini semakin baik jika dibandingkan kondisi pada
tahun sebelumnya, yang terlihat dari menurunnya jumlah
penduduk yang tidak bersekolah dan yang tidak menamatkan SD
sederajat serta meningkatnya persentase penduduk yang
menamatkan sekolah di setiap jenjang pendidikan.
2)

Kesehatan
Masalah kesehatan bagi negara-negara berkembang sangat erat
kaitannya dengan mutu sumber daya manusia sebagai salah satu modal
pembangunan. Pada tingkat mikro (individual dan keluarga), kesehatan
adalah dasar bagi produktivitas kerja dan kapasitas untuk belajar di
sekolah. Tenaga kerja yang sehat secara fisik dan mental akan lebih
enerjik dan kuat, lebih produktif, dan mendapatkan penghasilan yang
tinggi. Pada tingkat makro, penduduk dengan tingkat kesehatan yang
baik merupakan masukan (input) penting untuk menurunkan
kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan ekonomi jangka
panjang.
Terdapat korelasi yang kuat antara tingkat kesehatan yang baik
dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Secara statistik diperkirakan
bahwa setiap peningkatan 10 persen angka harapan hidup (AHH) waktu
lahir akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi minimal 0.3-0.4 persen
per tahun, jika faktor-faktor pertumbuhan lainnya tetap. Dengan
demikian, perbedaan tingkat pertumbuhan tahunan antara negaranegara maju yang mempunyai AHH tinggi (77 tahun) dengan negaranegara sedang berkembang dengan AHH rendah (49 tahun).
Gambaran
mengenai
perkembangan
derajat
kesehatan
masyarakat salah satunya dapat dilihat dari kejadian kematian dalam
masyarakat dari waktu ke waktu. Kejadian kematian juga dapat
digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan
kesehatan dan program pembangunan di bidang kesehatan lainnya.
Tabel 7.
Perkembangan Jumlah Kejadian Kematian Bayi di Kota Banjarbaru
Tahun 2009-2013
Indikator Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi/1000
kelahiran Hidup
Jumlah Kematian bayi

2009

2010

2011

2012

2013

9,2

5,3

5,4

9,95

7,54

33

19

21

40

34

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru,


kejadian kematian bayi dari tahun 2009-2011 mengalami penurunan.
Dimana pada tahun 2009 terjadi 33 kejadian kematian bayi, dan
menurun pada tahun 2010 menjadi 19 kejadian kemudian mengalami
sedikit peningkatan di tahun 2011 menjadi 21 kejadian kematian.
Kemudian pada tahun 2012 terjadi kenaikan menjadi 40 kejadian

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

59

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


kematian dan menurun kembali pada tahun 2013 menjadi 34 kejadian
kematian.
Angka Kematian bayi merupakan indikator penting yang
digunakan untuk mengukur kesejahteraan penduduk dan kesehatan
masyarakat suatu wilayah. Kesehatan bayi yang baru lahir dapat
dipengaruhi oleh kondisi tempat tinggalnya dan berkaitan erat dengan
tingkat pendidikan, sosial ekonomi, sistem nilai serta adat istiadat serta
akses terhadap pelayanan kesehatan yang tersedia.
Semakin sedikitnya kejadian kematian bayi menggambarkan
telah terjadi peningkatan kualitas hidup dan pelayanan kesehatan
masyarakat. Kejadian kematian bayi erat kaitannya dengan kondisi
kesehatan perempuan pada masa kehamilan, penolong persalinan serta
sanitasi. Penyebab kematian bayi antara lain adalah BBLR (berat badan
lahir rendah), cacat bawaan, aspirasi susu formula, pneumonia,
hipotermida penyempitan saluran cerna. Sedangkan faktor yang
berpengaruh terhadap angka kematian bayi antara lain adalah faktor
aksesbilitas terhadap fasilitas kesehatan, peningkatan pelayanan
kesehatan dari tenaga medis yang terampil serta kesediaan masyarakat
untuk mengubah dari pola tradisional; ke norma kehidupan modern
dalam bidang kesehatan. Melalui faktor-faktor itulah kejadian kematian
dapat ditekan.
Tabel 8.
Persentase Balita Gizi Buruk dan Gizi Kurang Tahun 2009-2013
di Kota Banjarbaru
Tahun

% balita gizi buruk

% balita gizi kurang

Jumlah

2009
2010
2011
2012
2013

0,05
1,41
0,10
0,25
0,02

5,38
11,52
4,41
2,75
1,00

5,43
12,93
4,51
3,00
1,02

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru

Pada tahun 2009 persentase balita gizi buruk dan gizi kurang
sebesar 5,43 persen, hingga pada tahun 2013 mengalami penurunan
sebesar 1,02 persen. Hal ini menunjukkan penanganan gizi buruk dan
gizi kurang balita cukup mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan
sosial ekonomi salah satunya dapat dilihat dari peningkatan usia
harapan hidup penduduk di suatu wilayah. Meningkatnya perawatan
kesehatan melalui fasilitas kesehatan dan peningkatan daya beli
memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat untuk
mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan lebih mampu dalam
pemenuhan kebutuhan gizi dan kalori. Perbaikan ekonomi masyarakat
juga akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk
mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan
dengan penghasilan yang memadai. Hal ini pada gilirannya akan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan menambah usia
harapan hidup. Perkembangan AHH Kota Banjarbaru adalah
sebagaimana grafik berikut :

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

60

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Gambar 8.
Perkembangan Angka Harapan Hidup (eo) Kota Banjarbaru Tahun
2009-2012 dan Perkiraan Tahun 2013
68.4

68.28

68.2

68.04

68

67.76

67.8
67.6
67.4

67.48
67.31

67.2
67
66.8
2009

2010

2011

2012

2013*

Sumber : BPS Kota Banjarbaru

3)

Ketenagakerjaan
Ketersediaan tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi
merupakan penunjang utama dalam pembangunan ekonomi. Dari
seluruh penduduk usia kerja di Kota Banjarbaru, sebesar 61,16%
diantaranya aktif dalam pasar tenaga kerja atau disebut dengan
penduduk angkatan kerja. Sedangkan sisanya lebih memilih untuk
mengurus rumah tangga atau masih bersekolah.
Selama 5 tahun terakhir ini sekitar 60 persen lebih dari total
penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) di Kota Banjarbaru adalah
angkatan kerja, dengan TPAK pada tahun 2013 sebesar 62,43 persen
yang berarti dari 100 orang penduduk usia kerja, 62 orang diantaranya
merupakan angkatan kerja (bekerja dan mencari kerja). Dari jumlah
tersebut yang bekerja sebesar 97,96 persen, sehingga tingkat
pengangguran terbuka (TPT) Kota Banjarbaru hanya 2,04 persen atau
mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012 yang mencapai 6,54
persen.
Tingkat pengangguran terbuka merupakan perbandingan antara
jumlah angkatan kerja yang mencari pekerjaan, baik yang pertama kali
maupun yang sudah pernah bekerja sebelumnya, dengan jumlah
seluruh angkatan kerja. Tingkat pengangguran terbuka selalu
berbanding terbalik dengan tingkat kesempatan kerja. Tingkat
kesempatan kerja menggambarkan besarnya penyerapan pasar tenaga
kerja terhadap angkatan kerja. Semakin tingginya besaran tingkat
pengangguran terbuka mencerminkan semakin rendahnya besaran
tingkat kesempatan kerja, demikian sebaliknya semakin rendah tingkat
pengangguran terbuka mencerminkan semakin tingginya besaran
tingkat kesempatan kerja.
Tabel 9.
TPAK dan TPT Kota Banjarbaru Tahun 2009-2013
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013

TPAK
61,00
65,19
67,06
61,24
62,43

TPT
9,15
8,10
6,69
6,54
2,04

Sumber : AKSE, BPS Kota Banjarbaru (diolah)

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

61

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


4)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Dimensi Manusia dalam pembangunan, pada dasawarsa terakhir
ini muncul sebagai salah satu isu yang mendunia. Adanya isu seolaholah mempertanyakan kembali tujuan pembangunan yang dinilai
kurang berorientasi pada manusia dan hak-hak asasinya. Di Indonesia
isu tersebut mulai muncul dan menjadi prioritas perhatian pada awal
Repelita I melalui penetapan strategi pembangunan nasional dengan
penekanan pada Pertumbuhan Ekonomi seiring dengan peningkatan
sumber daya manusia. Dalam kerangka ini, pembangunan manusia
seutuhnya menjadi tujuan utama pembangunan nasional melalui
peningkatan kemampuan sumber daya manusia, agar mampu berperan
sebagai subyek pembangunan. Isu pembangunan manusia tersebut
cenderung akan semakin berkembang menjadi kebutuhan untuk
diantisipasi, seiring dengan semakin berkembangnya kesadaran politik
masyarakat Indonesia dan terbukanya komunikasi menjelang maupun
pada saat kita memasuki era globalisasi.
United Nations Development Programme (UNDP) menggunakan
sebuah indikator komposit yang disebut dengan Human Development
Indeks (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu indikator agregat
dari capaian peningkatan kesejahteraan dalam pembangunan.
Pembangunan manusia adalah suatu proses memperluas pilihan-pilhan
bagi manusia. Di antara pilihan-pilihan hidup yang terpenting adalah
pilihan untuk hidup sehat, untuk menikmati umur panjang dan sehat,
untuk hidup cerdas, dan berkehidupan mapan.
IPM mengukur keberhasilan pembangunan dalam 3 dimensi
dasar, yaitu dimensi pendidikan, dimensi kesehatan serta dimensi
kesejahteraan. Dimensi pendidikan diukur dengan rata-rata lama
sekolah dan angka melek huruf, sedangkan dimensi kesehatan diukur
dengan angka harapan hidup dan dimensi kesejahteraan diukur dengan
kemampuan daya beli masyarakat.
IPM merupakan angka agregat yang dapat diartikan sebagai jarak
yang harus ditempuh-shortfall-suatu wilayah untuk mencapai nilai
maksimum 100 yang berarti bahwa pembangunan manusia secara
keseluruhan tersebut telah tercapai. Bagi suatu wilayah angka IPM yang
diperoleh menggambarkan kemajuan pembangunan manusia di daerah
tersebut. Jika angka IPM tersebut masih rendah atau masih jauh dari
angka 100 berarti jarak yang ditempuh untuk mencapai tujuan masih
jauh. Kecenderungan perkembangan angka IPM, semakin dekat ke arah
tujuan (angka 100) maka perkembangannya semakin pelan sebaliknya
untuk angka IPM yang masih rendah maka perkembangan untuk
mencapai tujuan semakin cepat.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

62

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Gambar 9.
Perkembangan IPM Kota Banjarbaru dan Kalimantan Selatan Tahun
2009-2012 dan perkiraan Tahun 2013
78
76

75.43

74.74

74.43

74

76.9

76.28

72.12

72
70

70.44

69.92

69.3

71.08

68
66
64
2009

2010

2011

Kota Banjarbaru

2012

2013*

Kalimantan Selatan

Sumber : BPS Provinsi Kalimantan Selatan

Pembangunan di Kota Banjarbaru termasuk cukup berhasil hal


ini ditunjukkan dengan IPM Kota Banjarbaru yang selalu menduduki
peringkat pertama di provinsi Kalimantan Selatan. Dari tahun ke tahun
angka IPM Kota Banjarbaru terus meningkat dimana pada tahun 2012
mencapai 76,28. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka
IPM Propinsi Kalimantan Selatan yang mencapai 71,08 dan diperkirakan
pada tahun 2013 IPM Kota Banjarbaru kembali meningkat mencapai
76,90.
c.

Seni Budaya
Pengembangan bidang seni dan budaya sangat penting.
Keanekaragaman seni budaya menjadi sumber inspirasi pembangunan di
segala bidang. Dua sektor ini juga bagian dari industri kreatif, industri yang
sedang gencar dikembangkan pemerintah. Sudah menjadi fakta bahwa
banyak daerah dikenal berkat seni dan budayanya.
Oleh karenanya
pemerintah daerah harus ikut andil mengembangkan seni budaya.
Tabel 10.
Jumlah Organisasi Kesenian Menurut Kecamatan di Kota Banjarbaru
Tahun 2009-2012
Kecamatan
Landasan Ulin
Liang Anggang
Cempaka
Banjarbaru Utara
Banjarbaru Selatan
Kota Banjarbaru

2009

2010

3
7
9
7
12
38

3
7
9
8
12
39

2011

2012

3
7
9
11
13
43

4
8
9
9
16
46

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarbaru

Pembangunan seni budaya di Kota Banjarbaru antara lain dapat


dilihat dari perkembangan jumlah organisasi kesenian yang tumbuh dan
berkembang di Kota Banjarbaru. Sepanjang tahun 2009 sampai tahun 2012,
jumlah organisasi kesenian terus mengalami peningkatan, pada tahun 2009
terdapat 38 organisasi kesenian di Kota Banjarbaru meningkat di tahun 2012
menjadi 46 organisasi kesenian. Kecamatan yang paling banyak memiliki
organisasi kesenian adalah kecamatan Banjarbaru Selatan yaitu memiliki 16
organisasi kesenian sedangkan yang paling sedikit adalah kecamatan
Landasan ulin yang hanya memiliki 4 organisasi kesenian.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

63

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


3.

Aspek Pelayanan Umum


a.

Pendidikan
1)

Fasilitas Pendidikan
Ketersediaan fasilitas pendidikan yang memadai merupakan
syarat mutlak untuk pembangunan. Peningkatan jumlah sekolah akan
memungkinkan daya tampung yang memadai yang pada akhirnya akan
meningkatkan kualitas pendidikan masyarakatnya.
Kota Banjarbaru dikenal sebagai kota pelajar di Provinsi
Kalimantan Selatan umumnya dikarenakan tersedia lebih banyak
pilihan sekolah pada berbagai jenjang pendidikan dengan kualitas yang
relatif baik.
Pemerintah Kota Banjarbaru juga berupaya untuk
meningkatkan kualitas sekolah yang ada agar memenuhi standar
sekolah untuk menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang
unggul.
Tabel 11.
Perkembangan Jumlah Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Tahun
2009-2013
Sekolah
STK
SD
SMP
SMA
SMK

2009
81
74
21
9
9

2010
81
78
18
9
11

Tahun
2011
81
78
18
9
11

2012
90
75
19
10
14

2013
90
74
20
10
14

Sumber : Kota Banjarbaru Dalam Angka

Sepanjang tahun 2009-2013 telah terjadi penambahan 9


(sembilan) buah Sekolah Dasar (SD) dan 4 (empat) buah Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK). Secara kualitas, di Kota Banjarbaru juga
tersedia sekolah, baik SD, SMP maupun SMA bertaraf internasional.
Dengan demikian diharapkan pelajar di Kota Banjarbaru khususnya
memiliki daya saing dengan pelajar daerah lain.
Di Kota Banjarbaru juga tersedia lebih banyak perguruan tinggi
dengan berbagai disiplin ilmu dibanding daerah lain. Hal ini merupakan
daya tarik bagi para pelajar untuk menuntut ilmu di Kota Banjarbaru.
Pemerintah Kota Banjarbaru memberikan dukungan yang penuh
terhadap keberadaan perguruan tinggi tersebut. Hingga tahun 2013
terdapat 2 buah perguruan tinggi negeri dan 10 buah swasta di Kota
Banjarbaru.
Di Kota Banjarbaru juga terdapat Universitas Lambung
Mangkurat (Unlam). Unlam merupakan universitas negeri tertua di
Pulau Kalimantan. Di Unlam tersedia berbagai fakultas dengan
jurusannya masing-masing, yaitu fakultas pertanian, kehutanan,
perikanan, teknik, MIPA, kedokteran serta program pasca sarjana.
Keberadaan berbagai perguruan tinggi ini memberikan dampak
ekonomis bagi masyarakat Kota Banjarbaru serta membuka peluang
untuk mengembangkan berbagai usaha di Kota Banjarbaru yang pada
akhirnya akan turut memberikan dorongan positif terhadap
kesejahteraan masyarakat pada umumnya.
2)

Angka Kelulusan
Pemerintah Kota Banjarbaru terus memberikan perhatian
melalui berbagai instrument kebijakan dan langkah strategis terhadap
angka kelulusan siswa. Perkembangan tingkat persentase kelulusan

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

64

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


pada tataran sekolah dasar, menengah dan sekolah menengah atas
memperlihatkan angka di atas 99 persen.
Gambar 10.
Tingkat Presentase Angka Kelulusan Tahun 2013
100.05
100

100

100

99.95
99.9

99.87

99.85
99.8
SD/MI

SMP/MTs

SMA/MA

Sumber : Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru

b.

Kesehatan
1)

Sarana Prasarana
Kesehatan merupakan salah satu hal terpenting dalam
kehidupan manusia. Dalam tersedianya sarana dan prasarana
kesehatan yang memadai sangat membantu dalam upaya meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas sumber
daya manusia. Di Kota Banjarbaru pada tahun 2013 terdapat 5 buah
rumah sakit umum (RSU) milik pemerintah dan milik swasta.
Puskesmas perawatan meningkat jumlahnya pada tahun 2009 menjadi
17 buah.
Tabel 12.
Peningkatan Fasilitas Kesehatan di Kota Banjarbaru
Fasilitas Kesehatan
Rumah Sakit
Puskesmas
Puskesmas Pembantu
Apotik Swasta

2009
4
7
14
32

2010
4
8
13
40

2011
4
8
12
42

2012
5
8
13
42

2013
5
8
13
45

Sumber : Kota Banjarbaru Dalam Angka

2)

Tenaga Kesehatan
Tabel 13.
Peningkatan Tenaga Kesehatan di Kota Banjarbaru
Tenaga Kesehatan
Dokter Spesialis
Dokter Umum
Dokter Gigi
Medis
Perawat dan Bidan
Farmasi
Gizi
Teknisi Medis
Sanitasi
Kesmas

2009
31
52
10
42
248
17
14
27
5
9

2010
17
54
18
89
313
54
38
62
46
165

2011
50
83
19
152
494
62
43
61
40
50

2012
45
68
19
118
377
61
42
48
38
48

2013
45
74
20
45
327
55
40
67
35
33

Sumber : Kota Banjarbaru Dalam Angka

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

65

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


c.

Panjang Jalan
Suksesnya pelaksanaan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) sangat tergantung pada kuatnya derajat
konektivitas ekonomi nasional (intra dan inter wilayah). Untuk
menghubungkan
pusat-pusat
pertumbuhan
mutlak
diperlukan
infrastruktur jalan yang baik.
Disadari bahwa pembangunan infrastruktur jalan di Pulau
Kalimantan tertinggal dibandingkan Pulau Jawa, sehingga peran pemerintah
sangat diperlukan dalam meningkatkan dan membangun prasarana jalan.
Panjang jalan negara yang melewati Kota Banjarbaru hingga tahun
2012 adalah 26,500 km dengan kondisi baik. Sedangkan jalan provinsi yang
ada di Kota Banjarbaru adalah sepanjang 19,000 km. Jalan yang dimiliki
pemerintah Kota Banjarbaru sendiri adalah sepanjang 515,175 km dengan
rincian 64,41 persen dalam kondisi baik, 22,38 persen dalam kondisi sedang,
12,08 persen dalam kondisi rusak dan 1,13 persen dalam kondisi rusak
berat.
Tabel 14.
Panjang Jalan Negara, Provinsi, dan Kota Menurut Kondisi Jalan
Di Kota Banjarbaru Tahun 2012 (km)
Kondisi jalan
Baik
Sedang
Rusak
Rusak Berat
Jumlah

Negara
26.500
26.500

Provinsi
19.000
19.000

Kota
329.664
121.249
58.417
5.845
515.175

Sumber : Kota Banjarbaru Dalam Angka

d.

Rumah Tinggal Bersanitasi


Lingkungan tempat tinggal yang sehat salah satunya ditandai oleh
tersedianya fasilitas sanitasi yang layak dan ketersediaan air bersih.
Fasilitas sanitasi yang layak didefinisikan sebagai sarana yang aman,
higienis, dan nyaman yang dapat menjauhkan pengguna dan lingkungan di
sekitarnya dari kontak dengan kotoran manusia.
Pendekatan untuk
mengukur sanitasi layak dilihat apakah jenis tempat akhir pembuangan tinja
rumah tangga adalah tangki septik.
Perkembangan rumah tangga bersanitasi dan air bersih pada periode
tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 cukup baik, hal ini tergambar pada
tahun 2010 rumah tangga bersanitasi dan air bersih sebesar 84,33 persen
yang berarti hanya 15,67 persen rumah tangga yang tidak bersanitasi dan
air bersih. Kemudian pada tahun 2013 rumah tangga bersanitasi dan air
bersih sebesar 85,50 persen yang berarti hanya 14,50 persen rumah tangga
yang tidak bersanitasi dan air bersih.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

66

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Gambar 11.
Persentase Perkembangan Rumah Tangga Bersanitasi dan Air Bersih
Kota Banjarbaru Tahun 2010-2013
90

85.5

85.1

84.33

80
70

62.55

60
50
40
30
20
10
0
2010

2011

2012

2013

Sumber : Laporan Dinas Pekerjaan Umum Kota Banjarbaru

e.

Sarana Ibadah
Sebagian besar penduduk Kota Banjarbaru adalah memeluk agama
Islam, akan tetapi toleransi beragama di Kota Banjarbaru tercipta baik.
Karena sebagian besar penduduk Kota Banjarbaru adalah pemeluk Islam,
maka tempat ibadah yang paling banyak adalah masjid dan
mushola/langgar.
Pada tahun 2012 terdapat 63 mesjid dan 192
mushola/langgar.
Selain itu juga terdapat 2 bangunan gereja khatolik.
Sarana ibadah yang lain juga tersedia, yaitu 6 gereja protestan dan 1 pura.
Tabel 15.
Sarana Ibadah di Kota Banjarbaru Tahun 2010-2011
Tempat Peribadatan
Masjid
Mushola/Langgar
Gereja Katholik
Gereja Protestan
Pura dan Lainnya

Tahun
2009
65
200
1
13
0

2010
73
276
2
5
1

2011
73
269
2
5
1

2012
63
192
2
6
1

Sumber : Kota Banjarbaru Dalam Angka

f.

Gender
Kesetaraan gender merupakan salah satu hal yang sangat
diperhatikan dan disoroti oleh berbagai pihak saat ini, khususnya dalam
hubungannya dengan keberhasilan pembangunan.
Tabel 16.
Persentase Perempuan di Lembaga Pemerintah Kota Banjarbaru Tahun
2010-2012
Lembaga Pemerintah
Anggota DPRD 2009-2014
PNS
Hakim Pengadilan Negeri
Hakim Pengadilan Agama
Jaksa Kejaksaan Negeri

2010
12,00
60,69
38,46
25,00
40,00

2011
12,00
60,98
33,33
15,38
23,53

2012
12,00
61,62
36,36
20,00
30,00

Sumber : Profil dan Analisis Gender Kota Banjarbaru

Data di atas menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan di


lembaga legislatif (DPRD) masih rendah. Berdasarkan UU jumlah anggota
DPRD Kota Banjarbaru 25 orang dan keterwakilan perempuan di DPRD
tahun periode 2009-2011 hanya 12 persen atau 3 orang saja. Masih

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

67

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


rendahnya partisipasi perempuan pada lembaga legislatif bukan sematamata dipengaruhi oleh ketidakmampuan mereka tapi mungkin disebabkan
oleh kesadaran politik dari perempuan itu sendiri yang masih rendah.
Perempuan cenderung enggan berpolitik karena merasa politik bukanlah
wilayah yang nyaman bagi mereka untuk berkiprah akibat dari banyaknya
waktu yang harus diluangkan di kancah politik yang berarti harus banyak
meninggalkan keluarga dan tugas-tugas lainnya.
Di dalam Pemerintah Kota Banjarbaru, penerimaan serta penempatan
Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak lagi berbias gender. Persentase perempuan
PNS pada tahun 2012 meningkat dibanding tahun 2010. Pada tahun 2012
keterwakilan perempuan di lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru
mencapai hampir 61,62 persen.
Berbeda dengan penempatan PNS, kesetaraan gender belum terlihat
di lingkungan lembaga yudikatif. Komposisi hakim pengadilan negeri di
Kota Banjarbaru belum berimbang antara laki-laki dan perempuan.
Demikian halnya dengan komposisi hakim pengadilan agama serta jaksa
kejaksaan negeri masih didominasi oleh laki-laki.
g.

Partisipasi Keluarga Berencana


Jumlah penduduk yang besar tidak akan menjadi kekuatan
pembangunan bila tidak disertai dengan kualitas sumber daya manusia yang
memadai. Oleh karenanya program Keluarga Berencana (KB) merupakan
suatu upaya yang sangat penting dalam mewujudkan tujuan akhir
pembangunan manusia itu sendiri.
Dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 disebutkan bahwa Keluarga Berencana
adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan,
mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai
dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Pengendalian kuantitas penduduk dilakukan untuk mewujudkan
keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara jumlah penduduk
dengan lingkungan hidup baik yang berupa daya dukung alam maupun daya
tampung lingkungan serta kondisi perkembangan sosial ekonomi dan
budaya.
Gambar 12.
Perkembangan Jumlah Akseptor KB Aktif Tahun 2009-2013
35,000
30,000

32,083

30,029

25,000

23,742

25,391

23,742

20,000
15,000
10,000
5,000
0
2009

2010

2011

2012

2013

Sumber : Kota Banjarbaru Dalam Angka

Sejalan dengan upaya tersebut di atas, sepanjang tahun 2009-2011


jumlah akseptor KB aktif di Kota Banjarbaru mengalami peningkatan,
namun pada tahun 2012 terjadi penurunan dan kemudian pada tahun 2013
kembali meningkat. Dalam kurun waktu tahun 2009-2013 jumlah akseptor
KB aktif sebesar 25.391 orang.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

68

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Peserta KB aktif di Kota Banjarbaru memiliki kecenderungan
menggunakan 4 alat KB, yaitu pil, suntikan, implan, dan IUD. Sedangkan
alat KB yang lain masih kurang diminati dan diterima oleh masyarakat.
Tabel 17.
Jumlah Akseptor Keluarga Berencana Aktif
Menurut Pemakaian Alat/Cara KB Tahun 2009-2013
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013

IUD
1.106
1.809
1.469
781
1.401

MOP
219
103
264
146

MOW
181
937
966
691
1.068

Implan
1.092
1.176
794
459
1.120

Suntikan
10.589
11.071
11.698
9.063
9.171

Pil
10.064
13.723
15.765
16.011
12.276

Kondom
492
1.310
1.391
338
209

Total
23.742
30.029
32.083
27.607
25.391

Sumber : Kota Banjarbaru Dalam Angka

4.

Aspek Daya Saing Daerah


a. Kemampuan Ekonomi Daerah
Kemampuan ekonomi daerah dapat dilihat pada aspek pendapatan,
tingkat konsumsi dan pola konsumsi. Pada daerah yang memiliki kemampaun
ekonomi lebih baik, persentase konsumsi makanan biasanya di bawah 50
persen.
Berdasarkan hasil penghitungan dari data Susenas, persentase
distribusi pengeluaran konsumsi makanan dari 51,19 persen di tahun 2009
menjadi 47,37 persen di tahun 2013. Sebaliknya konsumsi non makanan
meningkat dari 48,81 persen di tahun 2009 menjadi 52,63 persen di tahun
2013. Dengan demikian, secara umum di Kota Banjarbaru terjadi perubahan
pola konsumsi ke arah yang lebih maju atau sejahtera.
Pola konsumsi atau pengeluaran rumah tangga dapat menggambarkan
kondisi kesejateraan secara tidak langsung. Rumah tangga yang mapan pada
daerah yang sudah maju mempunyai pola konsumsi yang berbeda dengan
rumah tangga dengan tingkat penghasilan rendah.
Tabel 18.
Distribusi Persentase Pengeluaran Perkapita Sebulan Untuk Konsumsi
Makanan dan Bukan Makanan di Kota Banjarbaru Tahun 2009-2012
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013

Makanan
51,19
50,80
49,95
44,96
47,37

Kota Banjarbaru
Bukan Makanan
48,81
49,20
50,05
55,04
52,63

Sumber : Data diolah dari Susenas

Beberapa kondisi umum yang bisa terjadi adalah rumah tangga dengan
tingkat pendapatan yang tinggi, umumnya porsi konsumsi makanan semakin
berkurang seiring dengan tingkat pendapatan yang meningkat. Hal ini
disebabkan konsumsi makanan akan mengalami kejenuhan pada suatu batas
sehingga sisa pendapatan akan dialihkan ke konsumsi non makanan. Dengan
demikian pola konsumsi makanan dan non makanan sedikit banyak dapat
menggambarkan kesejahteraan penduduk atau rumah tangga.
Besarnya pengeluaran rumah tangga berhubungan erat dengan tingkat
konsumsi rumah tangga itu sendiri walaupun dipengaruhi juga oleh beberapa
hal yang lain seperti jumlah anggota rumah tangga dan kebiasaan lingkungan
tempat tinggal.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

69

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Tabel 19.
Jumlah dan Persentase Rumah Tangga Menurut Golongan Pengeluaran
di Kota Banjarbaru Tahun 2013
Golongan Pengeluaran
< 1.585.000
1.585.000 - 3.175.000
> 3.175.000
Total

Jumlah Rumah Tangga


8.195
13,30%
28.834
46,76%
24.608
39,92%
61.637
100,00%

Sumber : Susenas 2013

Tabel di atas menunjukkan 13,30 persen rumah tangga mempunyai


tingkat pengeluaran kurang dari atau sama dengan Rp 1.585.000,- per bulan.
Sedangkan yang mempunyai pengeluaran antara Rp.1.585.000,- sampai
dengan Rp 3.175.000,- tercatat sebanyak 46,76 persen dan pengeluaran yang
lebih besar dari Rp 3.175.000,- sebanyak 39,92 persen.
Untuk pengeluaran per jenis komoditi pada bahan makanan rata-rata,
pengeluaran tertinggi terjadi pada jenis komoditi makanan dan minuman jadi
yaitu sebesar 30,89 persen. Komoditi ikan 12,36 persen, padi-padian 10,58
persen, komoditi tembakau 10,91 persen, kemudian telur dan susu 6,84
persen.
Tabel 20.
Nilai dan Persentase Pengeluaran Per Kapita Menurut Jenis Komoditi Bahan
Makanan Selama Sebulan yang Lalu di Kota Banjarbaru Tahun 2013
Jenis Komoditi
Padi-padian
Umbi-umbian
Ikan
Daging
Telur dan Susu
Sayur-sayuran
Kacang-kacangan
Buah-buahan
Minyak dan Lemak
Bahan Minuman
Bumbu-bumbuan
Konsumsi Lainnya
Makanan dan Minuman Jadi
Tembakau dan Sirih
Jumlah

Nilai (Rp)
173.024
7.189
202.121
85.068
111.819
101.393
25.904
77.478
43.618
67.317
23.912
32.657
504.956
178.323
1.634.780

Persentase
10,58
0,44
12,36
5,20
6,84
6,20
1,58
4,74
2,67
4,12
1,46
2,00
30,89
10,91
100,00

Sumber: Susenas 2013

Sedangkan untuk pengeluaran non makanan, pengeluaran perumahan


dan fasilitas rumah tangga merupakan pengeluaran yang tertinggi yaitu
sebesar 43,15 persen, pengeluaran aneka barang dan jasa 38,76 persen
kemudian pengeluaran barang tahan lama 6,10 persen. Pakaian dan alas kaki
5,27 persen dan sisanya pengeluaran pajak dan asuransi 4,12 persen serta
keperluan pesta 2,16 persen dari jumlah pengeluaran non makanan
seluruhnya.
Tabel 21.
Persentase Pengeluaran Per Kapita Menurut Jenis Komoditi Non Makanan
Selama Sebulan yang Lalu di Kota Banjarbaru Tahun 2013
Jenis Komoditi
Perumahan dan fasilitas rumah
Aneka barang dan jasa
Pakaian dan alas kaki
Barang tahan lama
Pajak dan asuransi
Keperluan pesta dan upacara
Jumlah

Nilai (Rp)
837.942
661.940
92,961
125.184
64.503
33.816
1.816.346

Persentase
46,13
36,44
5,12
6,89
3,55
1,86
100,00

Sumber: Susenas 2013

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

70

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


b. Fasilitas Wilayah/Infrastruktur
Perkembangan jumlah penduduk Kota Banjarbaru membawa
konsekuensi semakin bertambahnya jumlah angkutan darat sebagai sarana
transportasi bagi penduduk. Bertambahnya jumlah kendaraan tersebut juga
merupakan bagian dari peningkatan ekonomi masyarakat Kota Banjarbaru.
Jumlah kendaraan bermotor di Kota Banjarbaru dari tahun 2009
hingga tahun 2012 secara umum mengalami peningkatan. Unit Pelayanan
Pendapatan Daerah (UPPD) Kota Banjarbaru mencatat bahwa pada tahun
2012 jumlah kendaraan roda dua jenis scoter meningkat 99 persen dibanding
tahun 2009. Sedangkan untuk sepeda motor meningkat sebesar 10 persen.
Tabel 22.
Perkembangan Jumlah Kendaraan Roda Dua dan Roda Empat Pendaftaran
Ulang dan Pendaftaran Baru Pada UPPD Banjarbaru Tahun 2009-2011
Jenis Kendaraan
Sepeda motor
Scoter
Mini Bus/Micro Bus
Bus
Pick up
Sedan
Jeep
Truk
Roda 3

2009
60.347
208
4.520
19
1.683
807
1.142
1.935
16

2010
54.823
16.936
5.189
11
2.301
959
1.279
1.634
16

2011
52.559
21.244
6.063
6
2.594
810
1.278
1.801
16

2012
67.113
21.244
7.785
6
3.251
892
1.333
1.262
42

Sumber : UPPD Kota Banjarbaru

Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor membawa dampak


semakin padatnya jalan raya serta semakin meningkatnya polusi udara akibat
pembakaran bahan bakar.
Kota Banjarbaru merupakan pintu gerbang utama untuk mengakses
seluruh daerah di Provinsi Kalimantan Selatan. Hal ini disebabkan di kota ini
terdapat Bandara Udara Internasional Syamsudin Noor. Keberadaan bandara
ini memudahkan akses ekonomi, sosial serta pendidikan di Kota Banjarbaru
sehingga mendorong pelaksanaan pembangunan.
Jumlah penumpang yang datang ke Bandara Syamsudin Noor dan
penumpang yang berangkat dari Bandara Syamsudin Noor mengalami
peningkatan. Dibanding tahun 2009, jumlah penumpang yang datang ke
Bandara Syamsudin Noor naik sebesar 77,09 persen sedangkan penumpang
yang berangkat dari Bandara Syamsudin Noor naik sebesar 77,15 persen.
Tabel 23.
Jumlah Penumpang yang Datang Ke dan Berangkat Dari Bandara
Syamsudin Noor Tahun 2009-2012
Tahun
2009
2010
2011
2012

Datang
1.017.582
1.295.692
1.486.495
1.802.084

Berangkat
1.032.415
1.288.160
1.501.714
1.829.025

Sumber : Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin

Air merupakan salah satu sumber utama dalam kehidupan


masyarakat. Air merupakan faktor pendukung untuk menjaga kelangsungan
pembangunan. Semakin banyak rumah tangga yang mampu mengakses air
bersih menunjukkan keberhasilan pemerintah untuk menyediakan air bersih
yang terjangkau bagi warganya. Ketersediaan air bersih juga merupakan daya
tarik bagi calon investor untuk menanamkan modal di Kota Banjarbaru.
Sepanjang tahun 2009-2013 sebagian besar rumah tangga di
Kota Banjarbaru menggunakan sumur terlindung/tidak terlindung untuk
kebutuhan air minum. Selain itu, cukup banyak rumah tangga yang
menggunakan air kemasan dan air leding. Pada tahun 2013, tidak ada lagi

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

71

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


rumah tangga yang menggunakan air sungai dan air lainnya untuk sumber
air minum.
Tabel 24.
Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum Yang Digunakan
Tahun 2009-2013
Sumber air minum

2009
12,08
28,98
8,61
49,68
0,64
100,00

Air kemasan/isi ulang


Leding meteran/eceran
Sumur bor/pompa
Sumur terlindung/tidak
Lainnya
Jumlah

Tahun
2010
2011
27,34
29,82
11,29
10,72
2,14
3,36
58,62
56,11
0,61
100,00
100,00

2012
35,45
17,69
4,19
42,67
100,00

2013
34,65
13,29
1,34
48,39
2,34
100,00

Sumber : Susenas

c. Komunikasi dan Informatika


Banyak penduduk Indonesia yang tidak memiliki akses kepada
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), sehingga mereka tidak sepenuhnya
mampu mengambil manfaat dari adanya globalisasi. Jika kesenjangan digital
(digital divide) ini tidak dihilangkan, maka dampak positif globalisasi hanya
dapat dinikmati oleh sedikit masyarakat yang tinggal di pusat perkotaan
(urban center).
Pemerintah berkomitmen untuk mengejar target MDGs yang terkait
dengan TIK dan mencapai tujuan yang telah disetujui oleh World Summit for
Information Society. Tujuan tersebut termasuk: (1) penyediaan layanan telepon
dasar untuk seluruh penduduk (layanan universal) dan (2) sebanyak 50 persen
penduduk mampu mengakses internet pada tahun 2015.
Berdasarkan data SP2010, persentase rumah tangga yang menguasai
telepon (kabel dan seluler) mencapai 93,56% dan yang memiliki akses internet
sekitar 33,19%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Banjarbaru memiliki
pijakan untuk mencapai target pada tahun 2015.
d. Iklim Berinvestasi
Peningkatan kemampuan ekonomi melalui penyediaan sarana dan
prasarana,
serta
kebijakan
yang
mampu
mendorong
dan
menumbuhkembangkan investasi dalam bidang jasa, perdagangan dan
industri yang ramah lingkungan dengan dilandasi ekonomi kerakyatan
merupakan salah satu misi yang diemban dalam rangka mewujudkan visi Kota
Banjarbaru. Oleh karenanya arah kebijakan pembangunan ekonomi adalah
peningkatan pemberdayaan ekonomi rakyat.
Ketersediaan fasilitas akomodasi di suatu wilayah akan mendukung
iklim pariwisata serta menarik investor untuk masuk ke wilayah tersebut.
Sepanjang tahun 2010-2013 telah terjadi peningkatan fasilitas akomodasi
yaitu dari 27 hotel/penginapan pada tahun 2009 menjadi 33
hotel/penginapan pada tahun 2013. Peningkatan ini terjadi pada klasifikasi
hotel bintang 3 dan bintang 4 pada tahun 2013 yaitu Hotel Rodhita dan Hotel
Novotel.
Gambar 25.
Perkembangan Jumlah Hotel/Penginapan
Menurut Klasifikasi Akomodasi di Kota Banjarbaru Tahun 2010-2012
Klasifikasi
Bintang 4
Bintang 3
Bintang 2
Bintang 1
Melati 3
Melati 2

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

2009

Tahun
2011

2010
1
2
4
2

2
2
4
2

2012
2
2
4
2

2013
1
2
2
4
2

1
1
2
2
4
2

72

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Melati 1
Non Klasifikasi

5
13

5
13

5
14

5
15

5
16

Sumber : Kota Banjarbaru Dalam Angka (diolah)

e. Obyek Wisata
Pembangunan di bidang pariwisata diarahkan untuk meningkatkan
gerak roda perekonomian daerah melalui pengembangan potensi
kepariwisataan yang dapat memberikan multiplier effect terhadap penyerapan
lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat serta penerimaan
daerah.
Tabel 26.
Nama dan Alamat Obyek Wisata Yang Ada di Kota Banjarbaru Tahun 2012
Nama Obyek Wisata
Kolam Renang Idaman
Water Boom Aquatika
Padang Golf Swargaloka
Taman Van Der Pijl
Taman Air Mancur Minggu Raya
Taman Bermain Idaman
Pujasera Minggu Raya
Sirkuit Cempaka
Pendulangan Intan Pumpung
Lesehan Bina Wisata
Museum Lambung Mangkurat
Makam Ratu Syarifah
Lapangan DR. Murjani
Bundaran Simpang Empat
Monumen Trisakti
Danau Seran Kota Banjarbaru
Bakantan Park
Agrowisata Durian
Family Park
Museum Permata
Museum Lahan Rawa
Taman Simpang Empat/ Eks Waterfall

Alamat
Jl. Taman Gembira Barat
Guntung Manggis
Jl. A. Yani Km. 21
Jl. A. Yani Km. 34
Jl. A. Yani Km. 34
Jl. A. Yani Km. 34
Jl. A. Yani Km. 34
Cempaka
Kec. Cempaka
Jl. Mentaos Timur
Jl. A.Yani Km 36
Kec. Cempaka
Jl. A.Yani Km 34
Jl. A.Yani Km 35,5
Kecamatan Cempaka
Kec. Landasan Ulin
Gt Manggis
Gt Manggis
Kota Citra Jl A Yani Km 18
Kec Landasan Ulin
Kec Landasan Ulin
Jl A Yani Km 36

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

5.

Aspek Pendukung Lainnya


a. Keuangan Daerah
Dalam era otonomi daerah saat ini setiap daerah dituntut untuk
meningkatkan kemandirian. Sumber dana yang digunakan dalam
pembangunan daerah harus mampu dioptimalkan, sehingga mengurangi
ketergantungan pada pemerintah pusat.
Beberapa prinsip dalam pengelolaan Keuangan Daerah antara lain
bahwa Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan terukur secara
rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan
aspek Belanja yang dilakukan harus didukung dengan adanya kepastian
tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. Kebijakan yang diambil
dalam pengelolaan keuangan daerah harus dapat meningkatkan pelayanan
dan kesejahteraan masyarakat secara maksimal.
Pendapatan daerah adalah faktor yang menentukan keberhasilan
penyelenggaraan otonomi daerah di Kota Banjarbaru, artinya semakin besar
pendapatan yang diterima maka akan semakin leluasa pemerintah Kota
melakukan kegiatan pembangunan guna menciptakan kesejahteraan bagi
masyarakat.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

73

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Tabel 27.
Perkembangan Realisasi APBD Kota Banjarbaru Tahun 2009-2013
(Milyar Rp)
Uraian
Pendapatan Daerah
1. Pendapatan Asli Daerah
2. Dana Perimbangan
3. Lain-Lain Pendapatan Sah
Belanja Daerah
1. Belanja Tidak Langsung
2. Belanja Langsung

2009
411,17
24,77
346,32
40,07
421,28
182,69
238,59

2010
424,34
30,30
335,58
58,46
418,18
229,43
188,75

2011
546,32
44,18
379,57
122,57
479,73
251,49
228,24

2012
532,79
41,48
413,61
77,70
538,30
266,45
271,84

2013
662,69
54,37
491,43
116,88
679,61
307,55
372,05

Sumber : Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah

Selama periode 2009-2013 perkembangan realisasi pendapatan daerah


meningkat sebesar 61,07 persen, yaitu dari 411,17 milyar rupiah pada tahun
2009 menjadi 662,69 milyar rupiah pada tahun 2013. Sedangkan dari sisi
belanja realisasi meningkat sebesar 61,28 persen, yaitu dari 421,28 milyar
rupiah pada tahun 2009 meningkat menjadi 679,61 milyar rupiah pada tahun
2013.
Penerimaan Pemerintah Kota Banjarbaru paling besar adalah berasal
dari dana perimbangan. Pada tahun 2009 dana perimbangan yang diterima
Pemerintah Kota Banjarbaru adalah sebesar 346,32 milyar rupiah atau
meliputi 78,45 persen dari seluruh penerimaan pemerintah Kota Banjarbaru
pada tahun tersebut. Sedangkan pada tahun 2013 jumlah dana perimbangan
menjadi sebesar 491,43 milyar rupiah atau meliputi 74,16 persen.
Jika dibandingkan tahun 2009 maka pada tahun 2013 terjadi kenaikan
PAD (Pendapatan Asli Daerah) sebesar 125 persen, sedangkan dana
perimbangan
meningkat sebesar 41,90 persen dan bagian lain-lain
penerimaan yang dianggap sah meningkat sebesar 190 persen.
b. Penanaman Modal
Investasi atau penanaman modal merupakan salah satu variabel
ekonomi yang penting dalam menggerakkan perekonomian. Beberapa teori
ekonomi menyebutkan betapa pentingnya peranan investasi dalam
meningkatkan output. Peningkatan output ekonomi suatu daerah akibat
perubahan investasi sangat tergantung dari besarnya ICOR (Incremental
Capital Output Ratio).
Untuk mengatur PMDN di Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan
Undang-Undang (UU) No. 6 Tahun 1968 tentang rencana PMDN. Dalam UU
tersebut juga dijabarkan bahwa jumlah kumulatif rencana PMDN adalah
jumlah seluruh rencana PMDN sejak tahun 1968 dengan memperhitungkan
pembatalan, perluasan, perubahan, penggabungan, pencabutan, dan
pengalihan status dari PMDN ke PMA atau sebaliknya.
Sementara itu, untuk mengatur PMA pemerintah telah mengeluarkan
UU No. 1 Tahun 1967 tentang PMA. Dalam UU itu disebutkan bahwa jumlah
kumulatif rencana PMA adalah jumlah seluruh rencana PMA yang disetujui
pemerintah sejak tahun 1967 dengan memperhitungkan pembatalan,
perluasan, perubahan, penggabungan, pencabutan, dan pengalihan status
dari PMA ke PMDN atau sebaliknya.
Upaya-upaya positif telah dilakukan pemerintah dalam rangka untuk
lebih menarik minat investor baik investor dalam negeri maupun investor
asing untuk menanamkan modalnya. Upaya-upaya tersebut diantaranya
dengan meningkatkan keamanan dan menumbuhkan iklim yang kondusif bagi
investasi serta pemberian fasilitas bagi investor yang akan menanamkan
modalnya.
Sebagai wilayah yang strategis dan memiliki Sumber Daya Manusia
yang berkualitas, Kota Banjarbaru memiliki potensi yang besar menjadi salah
satu daerah tujuan investasi di Kalimantan Selatan. Pada tahun 2013

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

74

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


bertambah 1 buah perusahaan yang berinvestasi dengan besernya investasi
sebesar 20,5 milyar.
B.

Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Sampai Tahun Berjalan dan
Realisasi RPJMD
Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD merupakan suatu proses
untuk menilai kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. Melalui evaluasi kinerja
pelaksanaan pembangunan akan dihasilkan informasi kinerja yang dapat menjadi
masukan bagi proses perencanaan dan penganggaran yang didukung oleh
ketersediaan informasi dan data yang lebih akurat. Dengan demikian, program
pembangunan menjadi lebih efisien, efektif, disertai dengan akuntabilitas
pelaksanaannya yang jelas. Keberhasilan pencapaian sasaran pada semua tingkat
pelaksana pembangunan akan dapat diukur dengan menggunakan indikator kinerja
yang telah didefinisikan secara tepat sebelumnya. Evaluasi terhadap status dan
kedudukan pencapaian kinerja pembangunan daerah dilakukan dengan
menggunakan Indikator Kinerja Utama yang mencerminkan keberhasilan
penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan.
Penyelenggaraan Pemerintahan Kota Banjarbaru didasarkan pada Peraturan
Daerah Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah tahun 2011-2015 dan Peraturan Walikota Banjarbaru Nomor 10 Tahun 2012
tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2013. Adapun hasilhasilnya antara lain :
No
1.

Sasaran
Strategis
Seluruh anak
usia sekolah
menyelesaikan
pendidikan SLTP
dan memiliki
keterampilan IT,
bahasa asing
dan wirausaha

Target
2013
100

Realisasi
2013
100

100

100

100

100

100

100

100

100

100

100

%
%
%
%

100
100
100
100

100
100
100
100

100

100

Indikator Kinerja

Satuan

Di setiap SD/MI tersedia 2 orang guru


yang memenuhi kualifikasi akademik S1
atau D-lV dan 2 (dua) orang guru yang
telah memiliki sertifikat pendidik
Di setiap SMP/MTs tersedia guru dengan
kualifikasi akademik S1 atau D-lV
sebanyak 70% dan separuh diantaranya
(35% dari keseluruhan guru) telah
memiliki sertifikat pendidik untuk daerah
khusus masing-masing sebanyak 40%
dan 20%
Di setiap SMP/MTs tersedia guru dengan
kualifikasi akademik S1 atau D-lV dan
telah memiliki sertifikat pendidik masingmasing 1 orang untuk mata pelajaran
Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan
Bahasa Inggris
Di setiap Kabupaten/Kota semua Kepala
Sekolah SD/Ml berkualifikasi S1 atau DIV dan telah memiliki sertifikat pendidik
Pemerintah Kabupaten/Kota memiliki
rencana dan melaksanakan kegiatan
untuk membantu satuan pendidikan
dalam mengembangkan kurikulum dan
proses pembelajaran yang efektif
Setiap guru tetap bekerja 37,5 jam per
minggu di satuan pendidikan, termasuk
merencanakan pembelajaran,
melaksanakan pembelajaran, menilai
hasil pembelajaran, membimbing atau
melatih peserta didik dan melaksanakan
tugas tambahan
Satuan pendidikan menyelenggarakan
proses pembelajaran selama 34 minggu
per tahun dengan kegiatan tatap muka
sebagai berikut :
a) Kelas l - ll : 18 jam per minggu
b) Kelas lll : 24 jam per minggu
c) Kelas lV - Vl : 27 jam per minggu
d) Kelas VII - lX : 27 jam per minggu
Setiap guru menerapkan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
disusun berdasarkan silabus untuk
setiap mata pelajaran yang diampunya.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

75

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No

2.

Sasaran
Strategis

Pelayanan
kesehatan
memenuhi
standar mutu

Target
2013
100

Realisasi
2013
100

100

100

100

100

100

100

100

100

100

100

85,71

100

100

100

100

100

%
%

52,98
36,86

57.98
41.86

%
%
%

100
100
98

100
100
98

90

90

97.58

Th
Th

6,01
3,01

6.01
3.01

%
%

124,09
106,23

120
103

%
%
%

16,07
6,27
5,43

17.57
6.91
5.93

%
%

97,65
83,20

98.78
90.91

Orang
Orang
%

70
17
80

70
17
90

80

79

Indikator Kinerja

Satuan

Setiap guru mengembangkan dan


menerapkan program penilaian untuk
membantu meningkatkan kemampuan
belajar
Kepala sekolah melakukan supervisi
kelas dan memberikan umpan balik
kepada guru 2 kali dalam setiap semester
Setiap guru menyampaikan laporan hasil
evaluasi mata pelajaran serta hasil
penilaian setiap peserta didik kepada
kepala sekolah pada akhir semester
dalam bentuk laporan hasil prestasi
belajar peserta didik
Setiap satuan pendidikan menerapkan
prinsip-prinsp manajemen berbasis
sekolah (MBS).
Tersedianya satuan pendidikan dalam
jarak yang terjangkau dengan berjalan
kaki yaitu maksimal 3 km untuk SD/MI
dan 6 km untuk SMP/MTs dari kelompok
permukiman permanen di daerah
terpencil
Jumlah peserta didik dalam setiap
rombongan belajar untuk SD/MI tidak
melebihi 32 orang, dan untuk SMP/MTs
tidak melebihi 36 orang. Untuk setiap
rombongan belajar tersedia 1 (satu) ruang
kelas yang dilengkapi dengan meja dan
kursi yang cukup untuk peserta didik
dan guru serta papan tulis
Di setiap SMP dan MTs tersedia ruang
laboratorium IPA yang dilengkapi dengan
meja dan kursi yang cukup untuk 36
peserta didik dan minimal satu set
peralatan praktek IPA untuk demonstrasi
dan eksperimen peserta didik
Di setiap Kota semua Kepala Sekolah
SMP/MTs berkualifikasi akademik S1
atau D-IV dan telah memiliki sertifikat
pendidik
Kunjungan pengawas ke satuan
pendidikan dilakukan satu kali setiap
bulan dan setiap kunjungan dilakukan
selama 3 jam untuk melakukan supervisi
dan pembinaan
Rasio ketersediaan sekolah/penduduk
usia sekolah :
- SD/MI
- SMP/MTs
Angka kelulusan :
- SD/MI
- SMP/MTs
Angka melanjutkan (AM) dari SD/MI ke
SMP/MTs
Angka melanjutkan (AM) dari SMP/MTs
ke SMA/SMK/MA
Angka melek huruf
Angka rata-rata lama sekolah :
- SD/MI
- SMP/MTs
Angka partisipasi kasar
- SD/MI
- SMP/MTs
Angka pendidikan yang ditamatkan :
- SD/MI
- SMP/MTs
- SMA/SMK/MA
Angka partisipasi murni
- APM SD/MI/paket A
- APM SMP/MTs/paket B
Jumlah siswa yang mengikuti olimpiade
sains :
- SD/MI
- SMP/Mts
% SDM Kesehatan yang memenuhi
Standar Kompetensi
% fasilitas Kesehatan yang mempunyai
SDM Kesehatan sesuai standar

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

76

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No

3.

4.

5.

6.

Sasaran
Strategis
dan mampu
menjangkau/
dijangkau
seluruh
masyarakat

Keluarga ikut
KB dan cukup
gizi

Masyarakat usia
produktif
menjadi tenaga
kerja produktif
yang mampu
memajukan
daerahnya
Pemuda
Banjarbaru
meraih prestasi
regional dan
nasional di
bidang iptek,
olahraga dan
seni budaya

Masyarakat
berpartisipasi
dalam

Target
2013
100

Realisasi
2013
70

94

96

80

51

60

99,2

93

95,7

78

74,8

rb kh

47/100

Tahun
%

70
88

110,9 /
100
70
94.03

60

84

11,9

68

orang

%
orang
orang

73
27.600
6.712

73
29.939
5.321

orang

300

240

orang

540

340

orang

38.677

40.616

orang

5.365

4.064

orang

1.232

969

orang

35

28

kel

20

20

%
%

<18,8
100

0,76
100

80

75,54

100

100

33,72

85

Kontribusi sektor pertanian/perkebunan


terhadap PDRB

4,22

4,22

Jumlah organisasi pemuda


Jumlah event olahraga dan seni budaya
berskala regional dan nasional di
Banjarbaru
Jumlah wirausaha baru dibidang
pariwisata dan kebudayaan
Cakupan Sumber Daya Manusia
Cakupan tempat kesenian
Cakupan organisasi kesenian
Cakupan fasilitasi seni
Jumlah siswa yang mengikuti olimpiade
sains
SMA/SMK/MA
Jumlah event iptek berskala regional dan
nasional di Banjarbaru
Jumlah prestasi yang diraih dibidang IT
Persentase antar wilayah yang memiliki
pilar batas yang jelas
Jumlah sengketa tanah yang diselesaikan

Buah
Buah

2
15

2
15

Buah

Indikator Kinerja

Satuan

Meningkatnya presentase prasarana


(alkes) yang telah di kalibrasi
Persentase perawat/bidan yang memiliki
kompetensi sesuai standar profesi
Persentase kualitas SDM Tenaga
Kesehatan terlatih
Cakupan Ibu bersalin yg ditolong oleh
nakes terlatih (PN)
Cakupan Ibu Hamil yg mendapatkan
pelayanan Antenatal (K4)
Cakupan Neonatal Komplikasi yang
ditangani
Angka Kematian Ibu per 100.000
Kelahiran Hidup
Angka usia harapan hidup
Cakupan Sarana Pelayanan Kesehatan
Swasta yang Legalitas
Cakupan pelayanan kesehatan dasar
masyarakat miskin
Cakupan pelayanan kesehatan rujukan
pasien masyarakat miskin
PUS peserta KB anggota Usaha
Peningkatan Pendapatan Keluarga
Sejahtera (UPPKS) yang ber-KB mandiri
Rasio akseptor KB
Cakupan peserta KB aktif
Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga
Sejahtera I
Pelayanan Komunikasi Informasi dan
Edukasi Keluarga Berencana dan
Keluarga Sejahtera (KIE KB dan KS)
Pasangan Usia Subur (PUS) yang
isterinya dibawah usia 20 tahun
Sasaran Pasangan Usia Subur menjadi
Peserta KB aktif
PUS yang ingin ber-KB tidak terpenuhi
(unmet need)
Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) berKB
Ratio Penyuluh KB/Petugas Lapangan KB
1 PKB/PLKB untuk setiap 2
desa/kelurahan
Ratio Petugas Pembantu Pembina KB
Desa (PPKBD) setiap desa/kelurahan 1
PPKBD
Prevalensi balita kekurangan gizi
Persentase balita gizi buruk ditemukan
yang mendapat perawatan
Persentase balita ditimbang berat
badannya
Cakupan pemberian MP-ASI pada anak
6-24 bln keluarga miskin
Besaran pencari kerja yang terdaftar yang
ditempatkan

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Orang
Buah
Buah
Buah

10
1
1
1
177

10
1
1
1
179

Kali

Orang
%

5
100

3
100

77

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No

7.

8.

9.

10.

Sasaran
Strategis
pembangunan
secara tertib dan
harmonis

Setiap
Kecamatan
memiliki
kelompok usaha
dengan produk
unggulan yang
berdaya saing

Setiap
kecamatan
memiliki pasar
yang mampu
memfasilitasi
pemasaran
produk
unggulannya
serta menjamin
ketersediaan
bahan pokok
dan sarana
produksi dengan
harga
terjangkau
Banjarbaru
menjadi tujuan
utama investasi
bidang
perdagangan
dan industri di
Kalimantan
selatan
Kawasan
pemukiman,
perkantoran dan
sentra ekonomi
memiliki
infrastruktur
dan fasilitas
yang memenuhi
standar

Indikator Kinerja
Tingkat pendapatan daerah
1. PAD
2. Dana perimbangan
3. Sumber-sumber lain yang sah
Prosentase pemamfaatan dan
pendayagunaan Aset Daerah
Tingkat akuntabilitas pengguna anggaran
Prosentas penyerapan anggaran
Opini laporan pengelolaan keuangan
Cakupan bina kelompok pengrajin
Jumlah wirausaha baru di bidang
perindustrian dan perdagangan
Kontribusi industri rumah tangga
terhadap PDRB sektor industri
Persentase koperasi aktif
Jumlah UKM non BPR/LKM UKM
Jumlah BPR/LKM aktif
Persentase usaha mikro dan kecil
Produktivitas padi atau bahan utama
lokal lainnya per hektar
Nilai tukar petani
Produksi perikanan
Produksi Perikanan Kelompok Budidaya
Kontribusi sektor Perdagangan terhadap
PDRB
Persentase kebutuhan pokok dan sarana
produksi yang terjamin ketersediaannya
dengan harga terjangkau
Cakupan Bina Kelompok Petani Ikan
Cakupan Bina Kelompok Tani
Komsumsi ikan

Besarnya Investasi (Juta)


Jumlah Perusahaan yang berinvestasi

Persentase wilayah yang memiliki akses


jalan dan jembatan
Rasio Jalan dilalui roda 4
Panjang jalan yang memiliki
drainase/saluran pembuangan air
Drainase dalam kondisi baik/
pembuangan aliran air tidak tersumbat
Tersedianya Sistem Informasi Jasa
Konstruksi Jasa Setiap Tahun
Panjang jalan Kota dalam kondisi Mantap
(>40 KM/Jam)
Proporsi panjang jaringan jalan dalam
kondisi baik
Rasio rumah layak huni
Rasio permukiman layak huni
Penanganan Permukiman Kumuh
Perkotaan
Lingkungan yang Sehat dan Aman di
dukung dengan Prasarana, sarana dan
Utilitas
Tersedianya Air Irigasi untuk Pertanian
Rakyat pada Sistem Irigasi yang Sudah
Ada
Luas irigasi kota dalam kondisi baik
Tersedianya Sistem Air Limbah Skala
Komunitas/Kawasan/Kota
Persentase Rumah Tangga bersanitasi
dan air bersih
Tersedianya Sistem Jaringan Drainase
Skala Kawasan dan Skala Kota sehingga
Tidak Terjadi Genangan (Lebih dari 30 cm

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Satuan

Target
2013

Realisasi
2013

Rp
Rp
Rp

44,105
388,478
67,675

185,20
1.387,16
406,75

95

118,40

%
%
Opini
%
Unit

100
91
WDP
50
144

200
174,93
WDP
50
82

19

28

%
LKM
LKM
%
%

69
3
6
79,38
3,8

69
3
6
69
3,8

%
%
%
%

106,83
69,60
119,38
25

106,33
88.60
119.38
27

Inflasi

<10

< 10

%
%
%

96
23,30
100

96
22,30
100

Milyar/
Rp
Perusa
-haan

30

20,5

100

100

Km
Km

3.293
326.806

2.646
319.149

Km

614.421

585.819

60

55

Km

483.042

405.750

93,76

78,76

%
%
%

0,2690
0.997
0,141

0,2690
0.997
0.138

Unit

26

15

59

74

ha
Unit

0,73
18

4.4
46

85,5

85,5

ha

3,12

7.80

78

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No

Sasaran
Strategis

Indikator Kinerja

Satuan

Target
2013

Realisasi
2013

%
Set

0,86
1

8,3
1

Unit
Unit
Unit
Unit

4
4
2
672

4
2
596

%
Buah
Buah
unit
%

406,09
793
2
6.396
0,035

36,91
745
6.411
0,040

28

28

%
m2

100
1.874

100
2.030.54

m2
m2

8.281
49.122

%
%

4.157,5
9
614,9
0,24
15

%
%
m3
Titik
%

100
0,20
2.647
100

1
3,01
127.750
3.509
96,51

82,75

96,45

90

85,50

100

100

54

91

97,10

100

99

Orang

64.724

70.362

Buah
Buah
Set
Set
Buah

29.600
5.900
70
25
14
215.000
25

19.395
17.160
34
1
11
240.442
1

Selama 2 Jam) dan Tidak Lebih Dari 2


kali Setahun

11.

12

13.

14.

Seluruh
kawasan dapat
diakses oleh
sarana
transportasi
yang nyaman
dan lancar

Banjarbaru
menjadi Kota
Hijau yang
bersih, sehat
dan ramah
lingkungan

Manajemen
Pemerintahan
(Perencanaan,
Pelaksanaan,
Pengendalian
dan Pelaporan)
terlaksana
secara
terintegrasi,
akuntabel dan
tepat waktu
berdasarkan
data yang
akurat
Pelayanan
publik
menerapkan
standar
pelayanan prima
yang terintegrasi
secara online

Rehabilitasi hutan dan lahan kritis


Pelayanan Informasi Status Kerusakan
Lahan dan atau Tanah untuk Produksi
Biomassa
Terpeliharanya Traffic Light
Terpeliharanya Warning Light
Terpeliharanya Halte
Terpeliharanya Prasarana dan Fasilitas
LLAJ
Rasio panjang jalan perjumlah kendaraan
Jumlah pemasangan fasilitas lalulintas
Jumlah Halte/Shelter
Jumlah Uji KIR Angkutan Umum
Rasio Ijin Trayek yang dikeluarkan Per
Jumlah Penduduk
Persentase Jumlah Angkutan darat Per
Jumlah Penumpang Angkutan Darat
Ketaatan terhadap RTRW
Meningkatnya Luasan lahan yang ber
IPPT
Ruang publik yang berubah
peruntukannya
- Luas Taman Terbangun
- Luas Taman Terpelihara
Persentase Penanganan Sampah
Ratio ruang terbuka hijau persatuan luas
wilayah :
Ratio TPU Per satuan penduduk
TPS persatuan penduduk
Pengelolaan sampah TPA
Titik PJU Per Satuan Jalan
Kualitas Air Minum yang memenuhi
syarat
Persentase Cakupan tempat-tempat
umum yang memenuhi syarat kesehatan
Persentase Keluarga yang menggunakan
air bersih
Persentase Dokumen LAKIP yang
terintegrasi dan tepat waktu
Persentase SKPD yang memperoleh
penataan kelembagaan dan
ketatalaksanaan yang efektif dan efisien
Persentase penyelesaian tindak lanjut
rekomendasi hasil pemeriksaan
Persentase penyelesaian pengaduan
masyarakat

Pelaksanaan diseminasi dan


pendistribusian informasi nasional
melalui :
- Media baru seperti website (media
online);
Penerbitan KTP
Penerbitan Akta kelahiran
Penerbitan akta perkawinan Non Muslim
Penerbitan akta perceraian Non Muslim
Penerbitan akta kematian
Ketersedian data base kependudukan
Penertiban akta pengukuran, pengesahan
dan pengangkatan anak
Persentase pembuatan KTP online
Terlayaninya Masyarakat dalam
Pengurusan Izin sesuai SOP
Penerbitan Izin sesuai dengan jumlah
waktu yang telah ditetapkan SOP
Waktu proses perizinan
Indeks kepuasan masyarakat
Jumlah perizinan yang mendukung
investasi

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Buah

22,75
10,31

%
langka
h
SK

60
10

62
10

2.915

645

hari
kali
Ijin

1-7
1
74

1-9
1
54

79

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No
15

C.

Sasaran
Strategis
Setiap SKPD
memiliki
aparatur
kompeten sesuai
kebutuhan

Indikator Kinerja
Persentase aparatur yang memiliki
kompetensi teknis sesuai bidangnya
Persentase aparatur yang memiliki
pembinaan dan pengembangan karir
sesuai dengan kebutuhan :
- Kompetensi aparatur dibidang
keuangan, pemerintahan dan
kepegawaian
- Kualitas SDM aparatur melalui
peningkatan jenjang pendidikan
- Pengadaan Pegawai
- Mutasi PNS
- Data informasi promosi pegawai
- PNS yang memiliki kemampuan teknis
fungsional
- Penjenjangan struktural yang akan
menduduki jabatan sudah Diklatpim
yang dipersyaratkan
- Menurunnya Jumlah kasus
pelanggaran disiplin
- Tersedianya data informasi pegawai
- Terlaksananya penyelenggaraan
pembinaan mental spiritual

Target
2013
100

Realisasi
2013
101,60

Orang

670

720

Orang

495

61

%
%
%
Orang

100
100
100
129

100
100
100
70

Orang

82

53

Kasus
%
%

35
100
100

20
100
100

Satuan

Permasalahan Pembangunan Daerah


Dari hasil evaluasi terhadap kinerja pembangunan, masih ditemukan berbagai
permasalahan yang menjadi hambatan dalam mewujudkan target yang direncanakan.
Oleh
karena
itu
rumusan
permasalahan
pembangunan
di
Kota Banjarbaru tahun 2015 adalah sebagai berikut :
1.
2.
4.
5.
6.
7.
8.

9.
10.
11.
12.

13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.

Masih adanya kawasan permukiman kumuh dan ilegal;


Tingginya tingkat pertumbuhan penggunaan kendaraan pribadi dibandingkan
pertumbuhan jalan;
Belum sempurnanya aksesbilitas antar kawasan, kapasitas jalan dan jembatan;
Belum optimalnya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan;
Masih rendahnya relevansi pendidikan dengan dunia kerja;
Belum optimalnya pemenuhan sumber daya kesehatan dalam mendukung
pelayanan kesehatan yang berkualitas dan merata bagi seluruh penduduk;
Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan Pola Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS), sehingga masih perlu ditingkatkannya pengawasan
kecukupan gizi dan keamanan bahan pangan di masyarakat;
Masih rendahnya aksesibilitas keluarga miskin dalam usaha skala mikro;
Keterbatasan sistem jaringan kerjasama usaha dan pemasaran pelaku usaha
skala mikro dan kecil;
Belum optimalnya pengelolaan lembaga dan usaha koperasi;
Rendahnya kualitas calon tenaga kerja yang disebabkan belum selarasnya dunia
pendidikan dengan dunia usaha, serta rendahnya minat pencari kerja untuk
menciptakan lapangan kerja baru;
Masih adanya lahan aset pemerintah kota yang bukti kepemilikannya baik secara
administrasi maupun fisik kurang/tidak lengkap;
Kurangnya kesadaran dan ketaatan hukum masyarakat terhadap peraturan
daerah tentang ketentraman dan ketertiban;
Belum optimalnya prasarana olahraga di masyarakat;
Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya dalam mendukung
pengembangan potensi pariwisata;
Pencemaran air dan tanah yang disebabkan oleh limbah industri dan
kegiatan/usaha serta limbah rumah tangga;
Belum optimalnya pelaksanaan pengembangan sistem sanitasi terpadu dan
monitoring penyelenggaraan prasarana dan sarana air limbah;
Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan;

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

80

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Permasalahan tersebut akan diselaraskan dengan tema dan prioritas nasional untuk
menjamin sinergitas antara kebijakan pusat dan daerah. Mengacu pada Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, maka telah
ditentukan tema RKP 2015, yaitu Melanjutkan Reformasi Pembangunan bagi
Percepatan Pembangunan Ekonomi yang Berkeadilan.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

81

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


BAB III
RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH
DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
A.

Arah Kebijakan Ekonomi Daerah


Arahan nasional dibidang ekonomi dalam RKP untuk tahun 2015
mengemukakan tema yaitu Melanjutkan Reformasi Pembangunan bagi
Percepatan Pembanguan Ekonomi yang Berkeadilan. Upaya pelaksanaan RKP
2015 yaitu dengan pelaksanaan 11 prioritas nasional dan 3 prioritas nasional lainnya.
Sasaran pembangunan nasional bidang ekonomi pada RPJMN 2015-2019 antara lain:
1. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6-8% pertahun, yang didukung industri dengan
nilai tambah tinggi;
2. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita tahun 2019 USD 7.000;
3. Infrastruktur dasar : elektrifikasi, air bersih dan kelayakan jalan raya 100%; dan
4. Tingkat kemiskinan ditekan menjadi 6-8 %.
Untuk mendukung kebijakan ekonomi nasional tersebut, maka dalam tataran
perekonomian regional, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melakukan langkahlangkah kebijakan sebagai berikut :
1. Pengembangan bidang/sektor Ekonomi berkelanjutan untuk menekan tingginya
ketergantungan Pertumbuhan Ekonomi dari sektor pertambangan
2. Perkuatan Ketahanan Pangan dalam Upaya Pencapaian target Nasional Surplus 10
juta ton dan target produksi 2,2 juta ton Provinsi Kalimantan Selatan.
3. Peningkatan Kualitas Kinerja Infrastruktur sebagai peningkatan Local dan
Regional Conectivity.
4. Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup, untuk mendukung pembangunan
ekonomi yang berkelanjutan
Berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi nasional serta langkah-langkah
kebijakan ekonomi regional dan mengacu pada Misi Kepala Daerah, yaitu
Mewujudkan Banjarbaru Yang Berdaya Saing dan Sejahtera, arah kebijakan
ekonomi
daerah
Kota Banjarbaru diprioritaskan kepada beberapa sektor yang dominan memberikan
kontribusi terhadap PDRB yaitu Sektor Jasa, Sektor Perdagangan, Hotel dan
Restoran, Sektor Bangunan, dan Sektor Industri serta diarahkan kepada sektor yang
memiliki prospek yang baik dimasa yang akan datang serta tahan terhadap
guncangan ekonomi yaitu sektor KUMKM dan sekor lainnya sebagai pendukung
dengan langkah-langkah kebijakan :
1. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan yang ditopang oleh sektor
riil ekonomi kerakyatan yaitu UMKM dan usaha ekonomi kreatif lainnya yang
mampu meningkatkan pendapatan masyarakat;
2. Menyediakan infrastruktur untuk menunjang pertumbuhan dan distribusi
ekonomi;
3. Mendorong investasi swasta melalui kemudahan perijinan;
4. Upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang rasional dan realistis melalui
intensifikasi dan ekstensifikasi sumber pendapatan;
5. Meningkatkan koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat
untuk memperoleh dukungan pembiayaan, program dan kegiatan, serta asistensi
sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah atas keterbatasan pembiayaan dan
kapasitas keuangan daerah;
6. Sasaran ekonomi makro Kota Banjarbaru tahun 2015 yaitu pertumbuhan
ekonomi pada kisaran 6,27-7,15 persen, pendapatan perkapita 12 juta rupiah,
penurunan angka kemiskinan dan peningkatan IPM pada nilai 75-77.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

82

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


1.

Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2013 dan Perkiraan Tahun 2014


Pertumbuhan ekonomi Kota Banjarbaru tahun 2013 diperkirakan tumbuh
moderat dengan laju pertumbuhan 6,27 persen. Pada tahun 2013, sektor Jasajasa memberi sumbangan terbesar dalam pembentukan PDRB yaitu 23,94%.
Kemudian disusul secara berturut-turut oleh sektor Perdagangan, Hotel dan
Restoran sebesar 19,95%, sektor Bangunan sebesar 18,17%, sektor Industri
Pengolahan sebesar 11,89%, sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar
7,80%, sektor Pengangkutan dan Komunikasi sebesar 7,64%, sektor Pertanian
3,99%, sektor Bank dan Lembaga Keuangan sebesar 3,82% serta sektor Listrik
dan Air Bersih sebesar 2,80%.
Dilihat dari pertumbuhan kontribusi sektoralnya, pertumbuhan di tahun
2013 merupakan sumbangan dari berbagai sektor dengan perincian sektor Jasajasa 7,84 persen disusul sektor Pengangkutan dan Komunikasi 6,12 persen,
sektor
Perdagangan,
Restoran
dan
Hotel
6,95
persen,
sektor
Bangunan/Konstruksi 7,18 persen, sektor Bank dan Lembaga Keuangan 5,54
persen, sektor Listrik dan Air Bersih 5,51 persen, sektor Pertanian 3,86 persen,
sektor Industri Pengolahan 3,64 persen dan sektor Pertambangan dan Penggalian
4,74 persen.
Inflasi Kota Banjarbaru tahun 2013 tercermin dari perubahan Indeks
Harga Konsumen (IHK) Kota Banjarmasin yang tercatat sebesar 6,98%. Angka
tersebut diatas nasional yang tercatat sebesar 8,38%. Posisi inflasi tahun 2014
pada bulan Februari tercatat sebesar 5,16%.
Dilihat dari kelompok
pengeluarannya, kelompok yang mengalami inflasi tahunan terbesar pada tahun
2013 adalah kelompok transportasi dan komunikasi yang mencapai 12,36%,
diikuti kelompok bahan makanan sebesar 9,94%, dan perumahan sebesar 6,19%.
Dilihat dari sisi ketenagakerjaan Kota Banjarbaru juga mengalami
kemajuan, hal ini dikarenakan terjadinya penurunan tingkat pengangguran
terbuka pada tiga tahun terakhir yaitu 6,69% pada tahun 2011 menjadi 6,54%
pada tahun 2011 dan di tahun 2013 turun kembali menjadi 2,04% dari total
penduduk angkatan kerja. Penurunan tingkat pengangguran menjadi indikator
yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi mampu menyerap lebih
banyak tenaga kerja. Tumbuhnya kegiatan usaha baru dan meningkatnya skala
usaha akan terus menyerap angkatan kerja yang siap masuk pasar tenaga kerja.
Masalah kemiskinan merupakan tantangan utama yang harus dihadapi
dalam pembangunan ekonomi daerah. Sampai dengan akhir tahun 2012 jumlah
penduduk miskin di Kota Banjarbaru, tercatat sebanyak 11.100 orang atau 5,16
persen. Sedangkan penduduk miskin Kalimantan Selatan pada tahun 2012
sebesar 189.214 jiwa atau 5,01 persen. Upaya untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi dan meningkatkan kemampuan ekonomi daerah dalam menurunkan
pengangguran dan kemiskinan pada tahun 2013 diarahkan dengan mendorong
investasi untuk sektor sektor yang banyak menyerap tenaga kerja seperti sub
sektor jasajasa dan lain sebagainya.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

83

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Tabel 28.
Indikator Pembangunan Bidang Ekonomi Kota Banjarbaru
No.

Tahun

Indikator

2009

2010

2011

2012

2013

1.

PDRB ADHB (Rp. Triliyun)

1,67

1,89

2,11

2,36

2,66

2.

PDRB per Kapita ADHB (Rp.

8,87

9,38

10,40

11,16

12,07

5,83

5,85

5,99

6,18

6,27

504,95

612,16

736,81

Dana

1.039,94

1.342,19

1.792,26

2.268,65

2.352,20

Penyaluran Kredit Perbankan

1.380,60

1.566,95

2.021,75

2.436,45

3.728,16

3,86

9,06

3,98

5,96

6,98

74,43

74,74

75,43

76,28

76,90

Juta)
3.

Pertumbuhan Ekonomi (%)

4.

Kredit UMKM yang diberikan


Bank (Milyar)

5.

Penghimpunan
Perbankan (Milyar)

6.

(Milyar)
7.

Laju Inflasi (%)

8.

Indek Pembangunan Manusia


(IPM)

9.

Penduduk Miskin (%)

5,20

5,98

5,68

5,16

10.

Pengangguran Terbuka

9,15

8,10

6,69

6,54

2,04

Sumber : BPS dan Bank Indonesia


Data belum tersedia

2.

Tantangan dan Prospek Ekonomi Daerah Tahun 2013 dan 2014


Pada tahun 2013 dan 2014 perekonomian Kota Banjarbaru akan
menghadapi beberapa tantangan baik yang bersifat internal maupun dari
pengaruh perkembangan ekonomi nasional maupun global. Beberapa tantangan
tersebut yaitu : menjaga stabilitas ekonomi makro, mempertahankan momentum
pertumbuhan ekonomi, mengantisipasi dampak fluktuasi harga minyak dan
harga pangan, memperkuat ketahanan pangan dan energi, percepatan
pengurangan kemiskinan, menjaga pengelolaan sumber daya alam secara
berkelanjutan, pengendalian inflasi dan perluasan serta percepatan
pertumbuhan ekonomi.
Struktur perekonomian Kota Banjarbaru selama tahun 2012 sampai
dengan tahun 2013 didominasi oleh 3 sektor yaitu Jasa-jasa, Pengangkutan dan
Komunikasi serta Perdagangan, Hotel dan Restoran. Pada tahun 2013 sektor
Jasa-jasa masih menunjukkan komposisi angka tertinggi dalam kontribusi
pembentukan
PDRB
di
Kota Banjarbaru dengan andil 7,84%. Dua sektor lainnya yang cukup menyangga
struktur perekonomian Kota Banjarbaru yaitu sektor Perdagangan, Hotel dan
Restoran sebesar 6,95% dan Pengangkutan dan Komunikasi sebesar 6,12%.
Beberapa langkah yang akan diambil untuk proyek-proyek pemerintah
diantaranya adalah:
1. Mempercepat proses pelelangan anggaran 2014;
2. Mempercepat proses pencairan anggaran proyek sehingga para pelaku pasar
dapat lebih leluasa dalam mengelola arus kasnya;
3. Mempercepat pelaksanaan proyek-proyek yang bersumberkan dana dekon
dan tugas pembantuan.
Demikian pula peranan pembangunan infrastruktur sangat dibutuhkan
dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan pemanfaatan produk dalam
negeri. Dalam kaitan dengan hal tersebut, perlu direncanakan pembangunan
infrastruktur yang mampu untuk menyerap tenaga kerja yang banyak (pola padat
karya) yang tentunya tanpa mengorbankan kualitasnya. Untuk itu perlu

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

84

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


dilakukan pendampingan dan pelatihan
pembangunannya akan tetap terjaga.
B.

di

lapangan

agar

kualitas

Arah Kebijakan Keuangan Daerah


Kebijakan yang akan ditempuh oleh pemerintah daerah berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah,
yang pada dasarnya keuangan daerah meliputi komponen Pendapatan daerah,
Belanja daerah dan Pembiayaan daerah yang harus dikelola secara tertib, efisien,
ekonomis, transparan dan bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan rasa
keadilan dan kepatutan. Dengan demikian, arah kebijakan Keuangan Daerah akan
diuraikan pada masing-masing komponen Keuangan Daerah tersebut. Secara umum
arah kebijakan keuangan daerah tetap mengacu pada Ketentuan Perundangan yang
berlaku saat ini antara lain Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara,
maka Arah kebijakan keuangan daerah Kota Banjarbaru pada tahun 2015 bertujuan
untuk :
1. Menopang proses pembangunan daerah yang berkelanjutan sesuai dengan visi dan
misi daerah;
2. Menjamin ketersediaan pendanaan pelayanan dasar secara memadai bagi
kesejahteraan masyarakat;
3. Meminimalkan resiko fiskal sehingga dapat menjamin kesinambungan anggaran
pembangunan daerah;
4. Kesinambungan anggaran dengan merujuk kepada ketentuan Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2003 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 terkait dengan
batas defisit anggaran dan batas pinjaman/utang; dan
5. Peningkatan akuntabilitas dan transparansi anggaran serta peningkatan
partisipasi masyarakat.
Kebijakan keuangan daerah juga tergantung pada capaian proyeksi
pertumbuhan ekonomi, dan realisasi investasi serta kemampuan pengeluaran
investasi oleh pemerintah daerah. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan terus
meningkat seiring dengan stabilitas politik dan keamanan baik nasional maupun
tingkat daerah.
1.

Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan


Berdasarkan hasil analisis kondisi ekonomi daerah dan kajian terhadap
tantangan dan prospek perekonomian daerah, selanjutnya dilakukan analisis
dan proyeksi sumber-sumber pendapatan daerah yang kemudian dituangkan
kedalam tabel Realisasi, Target dan Proyeksi Pendapatan Daerah, sebagai
berikut:
Tabel 29.
Realisasi, Target dan Proyeksi Pendapatan Daerah
URAIAN
PENDAPATAN
Pendapatan Asli Daerah
Hasil Pajak Daerah
Hasil Restribusi Daerah
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
Yang Dipisahkan
Lain-lain PAD Yang Sah
Dana Perimbangan
Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Lain-lain Pendapatan Daerah Yang
Sah
Dana Bagi Hasil Pajak dan Provinsi
dan Pemerintah Daerah Lainnya
Dana Penyesuaian

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Realisasi
Target
Proyeksi
Tahun 2013
Tahun 2014
Tahun 2015
662.696.090.820,- 742.906.124.210,- 787.380.914.140,54.375.989.000,- 75.076.031.275,- 82.583.634.405,25.350.510.930,- 36.378.404.000,- 40.016.244.400,9.549.667.500,- 10.311.967.500,- 11.343.164.250,2.756.963.275,3.561.207.675,3.917.328.445,16.718.847.295,- 24.824.452.100,- 27.306.897.310,491.435.025.260,- 530.723.583.260,- 559.634.370.060,92.937.455.260,- 92.937.455.260,- 92.937.455.260,358.995.070.000,- 389.107.868.000,- 418.018.654.800,39.502.500.000,- 48.678.260.000,- 48.678.260.000,116.885.076.560,- 137.106.509.675,- 145.162.909.675,70.564.000.000,-

80.564.000.000,-

88.620.400.000,-

45.021.076.560,-

56.542.509.675,-

56.542.509.675,-

85

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


URAIAN
Bantuan Keuangan Dari Provinsi
Atau Pemerintah Daerah Lainnya

Realisasi
Tahun 2013
1.300.000.000,-

Target
Tahun 2014

Proyeksi
Tahun 2015
-

Sumber : DPPKAD Kota Banjarbaru

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

86

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


2.

Arah Kebijakan Keuangan Daerah


a.

Arah Kebijakan Pendapatan Daerah


Kebijakan Pendapatan Daerah adalah pada optimalisasi pengelolaan
pendapatan dan keuangan daerah melalui pelaksanaan intensifikasi dan
ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan sesuai kewenangan dan potensi
yang ada dengan memperhatikan aspek keadilan, kepentingan umum dan
kemampuan masyarakat, efisiensi dan efektifitas pengelolaan keuangan
daerah, serta memperhatikan kinerja tahun-tahun sebelumnya. Secara
umum, arah kebijakan pendapatan daerah adalah sebagai berikut:
1) Rasionalisasi dalam penetapan target pendapatan daerah dengan
mempertimbangkan kondisi perekonomian yang terjadi pada tahun
sebelumnya dan tahun berjalan dan mengevaluasi realisasi penerimaan
pendapatan tahun sebelumnya;
2) Peningkatan pendapatan daerah melalui optimalisasi pengelolaan
sumber-sumber pendapatan berdasarkan Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2009 tentang Pendapatan Domestik Regional Bruto. Untuk
mencapai hal tersebut Pertama dilakukan Intensifikasi meliputi
peningkatan pelayanan pajak, pembinaan sumber daya manusia dan
administrasi, peningkatan warga binaan, Sosialisasi perpajakan, dan
koordinasi lintas pemda/sektor/SKPD. Kedua dilakukan Ekstensifikasi
dengan pemberlakuan Perda, Pengembangan jenis dan obyek pajak; dan
3) Mengoptimalkan dan mendayagunakan kekayaan dan aset daerah.

b.

Arah Kebijakan Belanja Daerah


Kebijakan Umum Anggaran Belanja Pembangunan Daerah diarahkan
pada prinsip-prinsip keadilan yang dapat dinikmati seluruh masyarakat
khususnya dalam hal pelayanan publik yang disusun berdasarkan aspirasi
masyarakat dengan mempertimbangkan kondisi dan kemampuan daerah.
Kemampuan anggaran belanja daerah dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan publik disusun berdasarkan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah kedua dengan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011. Kebijakan Belanja Daerah
pada tahun 2015 diarahkan pada hal-hal sebagai berikut :
1) Belanja daerah diprioritaskan dalam rangka pelaksanaan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan kota Banjarbaru yang terdiri
dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan berdasarkan
ketentuan perundang-undangan.
2) Belanja dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib digunakan untuk
melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam
upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk
peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan
fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.
3) Belanja daerah disusun berdasarkan pendekatan prestasi kerja yang
berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan. Hal
tersebut bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan
anggaran serta memperjelas efektivitas dan efisiensi penggunaan
anggaran.
4) Penyusunan belanja daerah diprioritaskan untuk menunjang efektivitas
pelaksanaan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daearah harus
terukur yang diikuti dengan peningkatan kinerja pelayanan dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Mengacu pada kebijakan belanja daerah di atas maka belanja daerah
yang merupakan perwujudan dari kebijakan penyelenggaraan pemerintahan

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

87

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


dan pelaksanaan pembangunan yang berbentuk kuantitatif. Dari besaran
dan kebijakan yang berkesinambungan dari program-program yang
dilaksanakan dapat dibaca ke arah mana pembangunan di Kota Banjarbaru.
Hakekat anggaran daerah pada dasarnya merupakan salah satu instrumen
utama kebijakan publik dalam upaya peningkatan pelayanan umum dan
kesejahteraan masyarakat, maka setiap pelaksanaan anggaran sesuai
dengan kebijakan pemerintahan, diharapkan dapat mencerminkan
kebutuhan riil penyelenggaraan pemerintahan sesuai potensi daerah.
Berikut adalah hasil analisis realisasi, plafon dan proyeksi belanja daerah
Kota Banjarbaru :
Tabel 30.
Realisasi, Target dan Proyeksi Belanja Daerah
URAIAN
BELANJA
Belanja Tidak Langsung
Belanja Pegawai
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Tidak Terduga
Belanja Langsung
Belanja Pegawai
Belanja Barang dan Jasa
Belanja Modal

Realisasi
Tahun 2013
679.614.033.595,307.556.459.700,292.270.428.220,8.587.466.000,5.198.565.480,1.500.000.000,372.057.573.895,30.502.870.000,145.523.455.362,196.031.248.533,-

Target
Tahun 2014
932.919.628.425,343.959.755.110,330.673.723.630,5.471.250.000,6.314.781.480,1.500.000.000,588.959.873.315,30.819.710.500,178.400.373.012,379.739.789.803,-

Proyeksi
Tahun 2015
865.705.568.425,362.459.755.110,349.173.723.630,5.471.250.000,6.314.781.480,1.500.000.000,503.245.813.315,-

Sumber : DPPKAD Kota Banjarbaru

c.

Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah


Kebijakan Penerimaan Pembiayaan Daerah berisikan uraian
mengenai kebijakan penerimaan pembiayaan daerah yang akan dilakukan
terkait dengan kebijakan pemanfaatan sisa lebih perhitungan anggaran
tahun sebelumnya (SILPA), pencairan dana cadangan, hasil penjualan
kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah,
penerimaan kembali pemberian pinjaman, penerimaan piutang daerah, dan
kondisi keuangan daerah.
Adapun arah kebijakan penerimaan pembiayaan untuk tahun
anggaran 2015 adalah sebagai berikut :
1) Dalam menetapkan anggaran Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun
Anggaran Sebelumnya (SiLPA), agar disesuaikan dengan kapasitas potensi
riil sesuai ketentuan yang ada untuk menghindari kendala pendanaan
pada belanja yang telah direncanakan.
2) Dalam menetapkan anggaran penerimaan pembiayaan yang bersumber
dari pencairan dana cadangan, agar waktu penggunaan dan besarnya
disesuaikan dengan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Dana
Cadangan. Sedangkan akumulasi penerimaan hasil bunga/deviden dari
dana cadangan dianggarkan pada lain-lain pendapatan asli daerah yang
sah.
Sedangkan Kebijakan Pengeluaran Pembiayan Daerah sebagai upaya
peningkatan sumber pembiayaan dengan meningkatkan manajemen
pembiayaan daerah yang mengarah pada akurasi, efisiensi, efektifitas dan
profitabilitas. Sedangkan strategi yang diambil adalah sebagai berikut :
1) Apabila APBD surplus maka perlu dilakukan transfer ke persediaan Kas
dalam bentuk giro, deposito, penyertaan modal atau sisa lebih
perhitungan anggaran tahun berjalan.
2) Apabila APBD defisit, maka perlu memanfaatkan anggaran yang berasal
dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu, dan melakukan efisiensi
dan penghematan belanja.
3) Apabila Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tidak mencukupi untuk
menutup defisit APBD, maka ditutup dengan dana pinjaman.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

88

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


Berikut adalah realisasi, target dan proyeksi pembiayaan daerah
Kota Banjarbaru :
Tabel 31.
Realisasi, Target dan Proyeksi Pembiayaan Daerah
URAIAN
PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan Dearah
SILPA Tahun Sebelumnya
Pencairan Dana Cadangan
Pengeluaran Pembiayaan Daerah
Pembentukan Dana
Cadangan
Penyertaan Modal (Investasi)
Pemerintah Daerah

Realisasi
Target
Tahun 2013
Tahun 2014
16.917.942.775,- 190.013.504.215,73.417.942.775,- 201.013.504.215,73.417.942.775,- 98.013.504.215,- 103.000.000.000,56.500.000.000,- 11.000.000.000,50.000.000.000,6.500.000.000,-

11.000.000.000,-

Proyeksi
Tahun 2015
78.324.654.285,88.324.654.285,28.324.654.284,60.000.000.000,10.000.000.000,10.000.000.000,-

Sumber : DPPKAD Kota Banjarbaru

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

89

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU

BAB IV
PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

A.

Tujuan dan Sasaran Pembangunan


Merujuk kepada evaluasi pembangunan tahun 2013 dan tahun berjalan 2014,
serta perumusan permasalahan dan tantangan pada tahun 2015 yang merupakan
tahun kelima untuk pelaksanaan pada tahun 2015 dari RPJMD Kota Banjarbaru
2011-2015, maka tujuan dan sasaran pembangunan tahun 2015 mengacu kepada
Visi Pemerintahan Daerah Kota Banjarbaru tahun 2011-2015 yaitu Mandiri dan
Terdepan Dalam Pelayanan.
Tujuan dan sasaran pelaksanaan misi pembangunan sebagaimana termuat
dalam RPJMD Kota Banjarbaru adalah sebagai berikut:
Tabel 32.
Hubungan Visi/Misi dan Tujuan/Sasaran Pembangunan Kota Banjarbaru

1.

2.

3.

4.

Visi : MANDIRI DAN TERDEPAN DALAM PELAYANAN


Misi : MEWUJUDKAN BANJARBARU YANG BERDAYA SAING DAN SEJAHTERA
TUJUAN
SASARAN
Meningkatkan
1. Seluruh anak usia sekolah menyelesaikan pendidikan SLTP
masyarakat/SDM yang
dan memiliki keterampilan IT, bahasa asing dan wirausaha.
berkualitas
2. Pelayanan kesehatan memenuhi standar mutu dan mampu
menjangkau/dijangkau seluruh masyarakat
3. Keluarga ikut KB dan cukup gizi.
4. Masyarakat usia produktif menjadi tenaga kerja produktif
yang mampu memajukan daerahnya.
5. Pemuda Banjarbaru meraih prestasi regional dan nasional di
bidang iptek, olahraga dan seni budaya.
6. Masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan secara tertib
dan harmonis.
Menumbuh-kembangkan
1. Setiap kelurahan memiliki kelompok usaha dengan produk
ekonomi daerah
unggulan yang berdaya saing
2. Setiap kecamatan memiliki pasar yang mampu memfasilitasi
pemasaran produk unggulannya serta menjamin ketersediaan
bahan pokok dan sarana produksi dengan harga terjangkau
3. Banjarbaru menjadi tujuan utama investasi bidang
perdagangan dan industri di Kalimantan selatan
Membangun lingkungan
1. Kawasan pemukiman, perkantoran dan sentra ekonomi
yang sehat dan dinamis
memiliki infrastruktur dan fasilitas yang memenuhi standar.
2. Seluruh kawasan dapat diakses oleh sarana transportasi yang
nyaman dan lancar.
3. Banjarbaru menjadi Kota Hijau yang bersih, sehat dan ramah
lingkungan
Mewujudkan pemerintahan
1. Manajemen Pemerintahan (Perencanaan, Pelaksanaan,
yang baik
Pengendalian dan Pelaporan) terlaksana secara terintegrasi,
akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang akurat.
2. Pelayanan publik menerapkan standar pelayanan prima yang
terintegrasi secara online.
3. Setiap SKPD memiliki aparatur kompeten sesuai kebutuhan.

Tujuan dan sasaran pertama, Meningkatkan masyarakat/SDM yang


berkualitas terkait dengan isu strategis pendidikan dan kesehatan, tujuan dan
sasaran kedua, Menumbuh-kembangkan ekonomi daerah terkait dengan isu strategis
kemiskinan, pengangguran dan kesempatan berusaha/iklim usaha, tujuan dan
sasaran ketiga, Membangun lingkungan yang sehat dan dinamis terkait dengan isu
strategis mutu infrastruktur dan kualitas lingkungan, tujuan dan sasaran keempat,
Mewujudkan pemerintahan yang baik terkait dengan isu strategis peningkatan
kualitas pelayanan publik.
B.

Prioritas Pembangunan
Mengacu pada pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD Kota Banjarbaru
Tahun 2011-2015 yang kemudian diselaraskan dengan program dari SKPD serta
berdasarkan isu strategis dan tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2015, maka
Prioritas Pembangunan Kota Banjarbaru Tahun 2015 diarahkan pada :

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

90

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


1.
2.
3.
4.

Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kesehatan;


Peningkatan Daya Saing Perekonomian Daerah;
Penanggulangan Kemiskinan dan Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja;
Peningkatan Infrastruktur Penanggulangan Banjir dan Peningkatan Pengawasan
Ruang;
5. Pengendalian Kualitas Lingkungan Hidup; dan
6. Peningkatan
Profesionalisme
Aparatur
dan
Kinerja
Penyelenggaraan
Pemerintahan.
Prioritas pembangunan Kota Banjarbaru tahun 2015 tersebut adalah
merupakan tindak lanjut atau dalam rangka mendukung program pembangunan
yang tertuang dalam Rencana pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
tahun 2011-2015. Berikut ini adalah gambaran keterkaiatan antara Prioritas yang
tertuang dalam RPJMD dengan Prioritas Pembangunan yang akan dilaksanakan pada
tahun 2015 :
Tabel 33.
Prioritas Pembangunan Daerah
No.

Program Prioritas Tahun Rencana (RPJMD)

1.

Program Peningkatan Mutu Pendidik dan


Tenaga Kependidikan
Program Manajemen Pelayanan Pendidikan
Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar
Sembilan Tahun
Program Pendidikan Menengah
Program Peningkatan Peran Serta Kepemudaan
Program Pengelolaan Keragaman Budaya
Program Obat Perbekalan Kesehatan
Program Upaya Kesehatan Masyarakat
Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan
Masyarakat
Program Pencegahan dan Penanggulangan
Penyakit Menular
Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan
Program Pengadaan, Peningkatan dan
Perbaikan Sarana dan Prasarana
Puskesmas/Puskesmas Pembantu dan
Jaringannya
Program Perbaikan Gizi Masyarakat
Program Peningkatan Sumber Daya Kesehatan
Program Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Program Pengadaan, Peningkatan Sarana dan
Prasarana Rumah Sakit
Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana
Rumah Sakit
Program Peningkatan Manajemen RSUD
Program Penciptaan Iklim Usaha UKM Yang
Konduksif
Program Pengembangan Kewirausahaan dan
Keunggulan Kompetitif UKM
Program Pengembangan Sistem Pendukung
Usaha Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah
Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan
Koperasi
Program Peningkatan Kesejahteraan Petani
Program Peningkatan Ketahanan Pangan
(Pertanian/Perkebunan)
Program Peningkatan Produksi
Pertanian/Perkebunan
Program Peningkatan produksi hasil
peternakan
Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Program Pengembangan Budidaya Perikanan
Program Optimalisasi Pengelolaan dan
Pemasaran Produksi Perikanan
Program Peningkatan dan Pengembangan
Ekspor
Program Peningkatan Effesiensi Perdagangan
Dalam Negeri
Program Pengembangan Industri Kecil dan
Menengah
Program Pembangunan Jalan dan Jembatan
Program Peningkatan Sarana dan Prasarana
Kebinamargaan

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

13.
14.
15.
16.
17.
18.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
1.
2.
3.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Prioritas Pembangunan Daerah (RKPD)


Peningkatan Kualitas Pendidikan dan
Kesehatan

Peningkatan Daya Saing Perekonomian


Daerah

Peningkatan Infrastruktur Penanggulangan


Banjir dan Peningkatan Pengawasan Ruang

91

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
1.
2.
3.
4.

Program Prioritas Tahun Rencana (RPJMD)


Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan
Jembatan
Program Pengembangan dan Pengelolaan
Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan
Lainnya
Program Pengendalian Banjir
Program Perencanaan Tata Ruang
Program Pemanfaatan Ruang
Program Pembangunan Fasilitas Umum
Program Pengembangan Lingkungan Sehat
Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan
Prasarana dan Fasilitas LLAJ
Program Peningkatan Pelayanan Angkutan
Program Pembangunan Sarana dan Prasarana
Perhubungan
Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu
Lintas
Program Peningkatan Kelaikan Pengoperasian
Kendaraan Bermotor
Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan
Persampahan
Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau
(RTH)
Program Pembangunan/Pemeliharaan Taman
Program Kualitas Kebersihan Lingkungan
Program Penataan Areal Pemakaman
Program Penataan dan Pemeliharaan
Penerangan Jalan Umum
Program Pengendalian Pencemaran dan
Perusakan Lingkungan Hidup
Program Perlindungan dan Konservasi Sumber
Daya Alam
Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air
Minum dan Air Limbah
Program wajib belajar pendidikan dasar
sembilan tahun
Program upaya kesehatan masyarakat
Program Pelayanan Kesehatan penduduk Miskin
Program Kemitraan Peningkatan Pelayanan
Kesehatan
Program Perbaikan gizi masyarakat
Program pengembangan perumahan
Program lingkungan hidup sehat perumahan
Program Peningkatan kesiagaan dan
pencegahan bahaya kebakaran
Program Pembangunan jalan dan jembatan
Program KB
Program Penataan Administrasi Kependudukan
Program peningkatan kesempatan kerja
Program pemberdayaan fakir miskin, komunitas
padat terpencil dan PMKS lainnya
Program penciptaan iklim usaha mikro kecil dan
menengah yang kondusif
Program pengembangan sistim pendukung
usaha bagi usaha mikro, kecil dan menengah
Program peningkatan kualitas kelembagaan
koperasi
Program peningkatan kesejahteraan petani
Program Peningkatan Ketahanan pangan
Program pengembangan industri kecil dan
menengah (IKM)
Program penataan penguasaan, pemilikan
penggunaan dan pemanfaatan tanah
Program peningkatan produksi
pertanian/perkebunan
Program pengembangan budidaya perikanan
Program peningkatan produksi hasil peternakan
Program Optimalisasi pengelolaan dan
Pemasaran produksi perikanan
Program peningkatan dan pengembangan
eksport
Program peningkatan efisiensi perdagangan
dalam negeri
Program Pengembangan Kewirausahaan dan
Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah
Program Pengembangan Data dan Informasi
Program Penataan Kelembagaan,
Ketatalaksanaan dan Analisa Jabatan
Program Peningkatan Penataan Organisasi
Pemerintah Daerah

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Prioritas Pembangunan Daerah (RKPD)

Pengendalian Kualitas Lingkungan Hidup

Penanggulangan Kemiskinan dan


Kesempatan Berusaha

Peningkatan Profesionalisme Aparatur dan


Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan

92

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Program Prioritas Tahun Rencana (RPJMD)

Prioritas Pembangunan Daerah (RKPD)

Program Peningkatan Sistem Pengawasan


Internal dan Pengendalian Kebijakan Kepala
Daerah
Program Peningkatan Pelayanan dan Kapasitas
Pemerintah Kecamatan
Program Peningkatan Pelayanan Prima Terpadu
Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama
Investasi
Program Peningkatan Iklim Investasi dan
Realisasi Investasi
Program Pengembangan Komunikasi, Informasi
dan Media Massa
Program Penataan Administrasi Kependudukan
Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya
Aparatur
Program Pembinaan dan Pengembangan
Aparatur
Program Peningkatan Informasi dan Kedudukan
Hukum Pegawai
Program Pendidikan Kedinasan
Program Peningkatan dan Pengembangan
Pengelolaan Keuangan Daerah

Memperhatikan hasil evaluasi, isu strategis, rancangan kerangka ekonomi


daerah dan kerangka pendanaan, serta dalam rangka pencapaian sasaran prioritas
pembangunan tahun 2015, maka tema pembangunan tahun 2015 adalah :
PERCEPATAN PERTUMBUHAN EKONOMI DALAM RANGKA PENINGKATAN
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

93

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


C.

Program Pembangunan Daerah


Tabel 34.
Penjelasan Program Pembangunan Daerah
No.
1.

Prioritas Pembangunan
Peningkatan Kualitas
Pendidikan dan
Kesehatan

Program Pembangunan
Program Peningkatan Mutu Pendidik
dan Tenaga Kependidikan

Program Manajemen Pelayanan


Pendidikan

Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar


Sembilan Tahun

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Kinerja
Indikator
Di setiap SD/MI tersedia 2 (dua) orang guru yang memenuhi kualifikasi
akademik S1 atau D-lV dan 2 (dua) orang guru yang telah memiliki
sertifikat pendidik
Di setiap SMP/MTs tersedia guru dengan kualifikasi akademik S1 atau DlV sebanyak 70% dan separuh diantaranya (35% dari keseluruhan guru)
telah memiliki sertifikat pendidik untuk daerah khusus masing-masing
sebanyak 40% dan 20%
Di setiap SMP/MTs tersedia guru dengan kualifikasi akademik S1 atau DlV dan telah memiliki sertifikat pendidik masing-masing 1 (satu) orang
untuk mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa
Inggris
Di setiap Kota semua Kepala Sekolah SD/Ml berkualifikasi S1 atau D-IV
dan telah memiliki sertifikat pendidik
Pemerintah Kota memiliki rencana dan melaksanakan kegiatan untuk
membantu satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum dan
proses pembelajaran yang efektif
Data SD/MI,SMP/MTS,SMA/MA/SMK teremajakan dalam aplikasi
PADATIWEB
% siswa memiliki kartu NISN
% guru memiliki kartu NUPTK
Angka kredit guru dan pengawas sekolah
Setiap guru tetap bekerja 37,5 jam per minggu di satuan pendidikan,
termasuk merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, membimbing atau melatih peserta didik dan
melaksanakan tugas tambahan
Satuan pendidikan menyelenggarakan proses pembelajaran selama 34
minggu per tahun dengan kegiatan tatap muka sebagai berikut :
a) Kelas l - ll : 18 jam per minggu
b) Kelas lll : 24 jam per minggu
c) Kelas lV - Vl : 27 jam per minggu
d) Kelas VII - lX : 27 jam per minggu
Satuan pendidikan menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP) sesuai ketentuan yang berlaku

94

Target
100

SKPD
Dinas Pendidikan

100

95

100
100

95
90
52,46
325
100

100
100
100
100
-

Dinas Pendidikan

Dinas Pendidikan

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.

Prioritas Pembangunan

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Program Pembangunan

Kinerja
Indikator
Setiap guru menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
disusun berdasarkan silabus untuk setiap mata pelajaran yang
diampunya
Setiap guru mengembangkan dan menerapkan program penilaian untuk
membantu meningkatkan kemampuan balajar
Kepala sekolah melakukan supervisi kelas dan memberikan umpan balik
kepada guru 2 (dua) kali dalam setiap semester
Setiap guru menyampaikan laporan hasil evaluasi mata pelajaran serta
hasil penilaian setiap peserta didik kepada kepala sekolah pada akhir
semester dalam bentuk laporan hasil prestasi belajar peserta didik
Setiap satuan pendidikan menerapkan prinsip-prinsp manajemen
berbasis sekolah (MBS)
Tersedianya satuan pendidikan dalam jarak yang terjangkau dengan
berjalan kaki yaitu maksimal 3 km untuk SD/MI dan 6 km untuk
SMP/MTs dari kelompok permukiman permanen di daerah terpencil
Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar untuk SD/MI tidak
melebihi 32 orang, dan untuk SMP/MTs tidak melebihi 36 orang. Untuk
setiap rombongan belajar tersedia 1 (satu) ruang kelas yang dilengkapi
dengan meja dan kursi yang cukup untuk peserta didik dan guru serta
papan tulis
Di setiap SMP dan MTs tersedia ruang laboratorium IPA yang dilengkapi
dengan meja dan kursi yang cukup untuk 36 peserta didik dan minimal
satu set peralatan praktek IPA untuk demonstrasi dan eksperimen
peserta didik
Di setiap Kabupaten/Kota semua Kepala Sekolah SMP/MTs berkualifikasi
akademik S1 atau D-IV dan telah memiliki sertifikat pendidik
Kunjungan pengawas ke satuan pendidikan dilakukan satu kali setiap
bulan dan setiap kunjungan dilakukan selama 3 jam untuk melakukan
supervisi dan pembinaan
Angka kelulusan (AL) SD/MI
Angka kelulusan (AL) SMP/MTs
Angka melanjutkan (AM) :
Dari SD/MI ke SMP/MTs
dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA
Angka Partisipasi Kasar :
SD/MI
SMP/MTs
Angka rata-rata lama sekolah :
SD/MI
SMP/MTs

95

Target
100
100
100
100
100
100
100

92,85

100
100
100
100
121,73
177,00
124,61
107,36
6,01
3,01

SKPD

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.

Prioritas Pembangunan

Program Pembangunan

Program Pendidikan Menengah

Program Peningkatan Peran Serta


Kepemudaan

Program Pengelolaan Keragaman


Budaya

Program Obat Perbekalan Kesehatan


Program Upaya Kesehatan Masyarakat

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Kinerja
Indikator
angka pendidikan yang ditamatkan :
SD/MI
SMP/MTs
Angka Partisipasi Murni (APM) :
APM SD/MI/paket A
APM SMP/MTs/paket B
Jumlah siswa yang mengikuti olimpiade sains:
SD/MI
SMP/MTs
Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah SMA/SMA/MA
Angka kelulusan (AL) SMA/SMK/MA
Angka rata-rata lama sekolah
Angka partisipasi kasar
Angka pendidikan yang ditamatkan
Angka partisipasi murni SMA/SMK/MA/paket C
Jumlah siswa yang mengikuti olimpiade sains
Jumlah event iptek berskala regional dan nasional di Banjarbaru
Jumlah prestasi yang diraih dibidang IT
Jumlah organisasi pemuda
Jumlah event olahraga dan seni budaya bersklasa regional dan nasional
di Banjarbaru
Jumlah gedung dan lapangan olahraga
Jumlah wirausaha baru dibidang pariwisata dan kebudayaan
Jumlah event olahraga dan seni budaya bersklasa regional dan nasional
di Banjarbaru
Cakupan Sumber Daya Manusia
Cakupan Tempat Kesenian
Cakupan Organisasi Kesenian
Cakupan Fasilitasi Seni
ketersediaan obat dan vaksin
Ketersediaan obat perkapita per tahun di sarana pelayanan kesehatan
dasar (Rp/Kapita)
Rasio dokter per 1000 penduduk
Rasio dokter gigi per 1000 penduduk
Jumlah puskesmas yang menerapkan standar pelayanan medik dasar
Jumlah puskesmas yang melaksanakan program kesehatan jiwa
Jumlah puskesmas yang melaksanakan program kesehatan gigi dan
mulut
Jumlah puskesmas yang melaksanaka program kesehatan indera

96

Target

SKPD

16,82
6,59
98,40
83,40
76
18
33,41
98,13
3,01
84,98
5,68
71,00
178
4
6
2
15
5
1
1
10
1
1
1
8
9.440
1:4.300
1:11.000
10
6
10
7

Dinas Pendidikan

Disbudparpora

Disbudparpora

Dinas Kesehatan
Dinas Kesehatan

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.

Prioritas Pembangunan

Program Pembangunan
Program Promosi Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat

Program Pencegahan dan


Penanggulangan Penyakit Menular

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Kinerja
Indikator
Persentase rumah tangga yang melaksanakan PHBS (sesuai kriteria buku
petunjuk PHBS)
Persentase sekolah SD/MI yang ber PHBS
Posyandu purnama
Kelurahan siaga aktif
Rasio posyandu persatuan balita
Angka kesakitan penderita DBD per 100.000 penduduk (inciden rate)
Angka bebas jentik (ABJ 95 %)
Case Fatality rate (CFR) kematian DBD
Angka penemuan kasus malaria per 1000 penduduk (annual paracite
inciden)
Persentase KLB Malaria yang dilaporkan dan ditanggulangi
Persentase penderita kasus filaria yang ditangani sesuai standar
Persentase kasus baru Tuberkolusis (TB)/BTA positif yang ditemukan
Persentase kasus baru Tuberkolusis (TB) yang disembuhkan
Jumlah kasus TB per 100.000 penduduk (suspek penderita TB)
Error rate (angka kesalahan laboratorium) penyakit TB
Prevalensi kasus HIV (berdasarkan populasi dewasa)
Persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mendapat Anti Retroviral
Treatment (ART)
Persentase penduduk 15 th keatas mengetahui pengetahuan tentang HIV
& AIDS
Jumlah orang yang berumur 15 th atau lebih yang menerima konseling
dan testing HIV
Jumlah kasus diare per 1000 penduduk
Angka kematian diare (CFR) pada saat KLB
Cakupan penemuan dan tatalaksana standar kasus pnemoni balita
Penderita terdaftar akhir Desember per 10.000 penduduk (prevalensi
kusta)
Angka penemuan kasus baru (New case detection rate/NCDR) kusta per
100.000 penduduk
Angka kecacatan Tk II/Proporsi dari penderita baru penyakit kusta
Persentase penanganan penderita kasus kecacingan
Persentase bayi 0-11 bulan yang mendapat imunisasi dasar lengkap
Persentase desa/kelurahan yang sudah UCI
Persentase anak usia sekolah yang mendapat imunisasi
Penemuan kasus non folio AFP rate per 100.000 anak < 15 th
Persentase penyelidikan epidemiologi (PE) < 24 jam
Deteksi dini faktor resiko penyakit tidak menular
% kasus gigitan hewan penular rabies yang ditangani

97

Target
65
65
50
75
1:90
51
95
<1
1,03
100
100
<70
>85
>235
<5
<0,5
48,57
90
>50
232
<1
99,12
0,87
4,78
<8
100
100
100
97,6
1
97
50
100

SKPD
Dinas Kesehatan

Dinas Kesehatan

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.

Prioritas Pembangunan

Program Standarisasi Pelayanan


Kesehatan
Program Pengadaan, Peningkatan dan
Perbaikan Sarana dan Prasarana
Puskesmas/Puskesmas Pembantu dan
Jaringannya
Program Peningkatan Sumber Daya
Kesehatan
Program Pelayanan Kesehatan Ibu dan
Anak

Program Pengadaan, Peningkatan


Sarana dan Prasarana Rumah Sakit
Program Pemeliharaan Sarana dan
Prasarana Rumah Sakit
Program Peningkatan Manajemen RSUD

2.

Peningkatan
Infrastruktur
Penanggulangan Banjir
dan Peningkatan
Pengawasan Ruang

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Kinerja

Program Pembangunan

Program Perencanaan Tata Ruang


Program Pemanfaatan Ruang
Program Pengelolaan Ruang Terbuka
Hijau (RTH)
Program Penataan Areal Pemakaman
Program Penataan dan Pemeliharaan
Penerangan Jalan Umum

Indikator
jumlah Puskesmas Standar ISO
Cakupan sarana pelayanan kesehatan swasta yang legalitas
Jumlah puskesmas/pustu yang memenuhi sarana/prasarana dan
peralatan kesehatan sesuai standar dan aman

Target
6
94
8/12

SKPD
Dinas Kesehatan
Dinas Kesehatan

% SDM kesehatan yang memenuhi standar kompetensi


% fasilitas kesehatan yang mempunyai SDM kesehatan sesuai standar
Cakupan Ibu bersalin yg ditolong oleh nakes terlatih (PN)
Cakupan Ibu Hamil yg mendapatkan pelayanan Antenatal (K4)
Cakupan ibu nifas yg mendapatkan pelayanan (KF)
Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani (PK)
Puskesmas Rawat Inap yang mampu PONED
RS yang mampu melaksanakan PONEK
Persentase PUS yang menjadi peserta KB aktif (CPR)
Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup
Cakupan Kunjungan Neonatal pertama (KN1)
Cakupan Neonatal Komplikasi yang ditangani
Persentase Kunjungan Bayi
Pelayanan Kesehatan Anak Balita
Persentase cakupan Penjaringan Siswa SD kelas I dan setingkat
Angka Kelangsungan Hidup Bayi/AKB per 1000 Kelahiran Hidup
Angka usia harapan hidup
Pembangunan Rumah Sakit Klas B

85
85
65
95
90
75
1
1
95
45/100
99
80
90
85
95
7,5/1.000
71
100

Meningkatnya Persentase prasarana (alkes) yang telah di Kalibrasi


Pemeliharaan Rumah Sakit
Persentase perawat/bidan yang memiliki kompetensi sesuai standar
profesi
Persentase kualitas SDM tenaga kesehatan terlatih
Persentase karu/katim memenuhi standar profesi minimal pendidikan
S1 Keperawatan
Meningkatnya luasan lahan yang ber-IPPT
Ketaatan terhadap RTRW
Ratio ruang terbuka hijau persatuan luas wilayah

100
100
100

1.975
100
16

Diswasbang
Diswasbang
Diswasbang

rasio TPU persatuan penduduk


rasio titik PJU persatuan jalan

100
2.777

Disbertaman
Disbertaman

98

Dinas Kesehatan
Dinas Kesehatan

RSUD
RSUD
RSUD

90
100

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.

Prioritas Pembangunan

Program Pembangunan
Program Pembangunan Fasilitas Umum
Program Peningkatan Kesiagaan dan
Pencegahan Bahaya Kebakaran
Program Peningkatan Sarana dan
Prasarana Kebinamargaan
Program Rehabilitasi/Pemeliharaan
Jalan dan Jembatan
Program Pengembangan Kinerja
Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah
Program Pengembangan dan
Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan
Jaringan Pengairan Lainnya
Program Pengendalian Banjir

Program Pembangunan Jalan dan


Jembatan

3.

Pengendalian Kualitas
Lingkungan Hidup

Program Pengembangan Kinerja


Pengelolaan Persampahan
Program Pembangunan/ Pemeliharaan
Taman
Program Kualitas Kebersihan
Lingkungan
Program Pengendalian Pencemaran dan
Perusakan Lingkungan Hidup
Program Perlindungan dan Konservasi
Sumber Daya Alam
Program Pengembangan Lingkungan
Sehat

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Kinerja
Indikator
Lingkungan yang sehat dan aman yang didukung dengan PSU
(Prasarana,Sarana, Utilitas)
Lingkungan yang sehat dan aman yang didukung dengan PSU
(Prasarana,Sarana, Utilitas)
Tersedianya Sistem Informasi Jasa Konstruksi setiap tahun
Panjang Jalan Kota dalam kondisi mantap (>40 KM/Jam)
Proporsi Panjang Jaringan Jalan dalam kondisi baik
Persentase rumah tangga bersanitasi dan air bersih

Target
8
31
70
499.042
96,87
85,9

Tersedianya air irigasi untuk pertanian rakyat pada sistem irigasi yang
sudah ada
Luas Irigasi Kota dalam kondisi baik
Tersedianya sistem air limbah skala komunitas/kawasan/kota
Tersedianya sistem Jaringan Drainase Skala Kawasan dan Skala Kota
sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 30 cm selama 2 jam) dan tidak
lebih dari 2 kali setahun
Persentase wilayah yang memiliki akses jalan dan jembatan
Rasio Jalan dilalui roda 4
Panjang Jalan yang memiliki drainase/saluran pembuangan air
Drainase dalam kondisi baik/pembuangan aliran air tidak tersumbat
Persentase penanganan sampah

100
3.333
335.000
632.909
0,26

Ruang publik yang berubah peruntukannya :


a. Luas Taman Terbangun
b. Luas Taman Terpelihara
TPS persatuan penduduk

6.236,38
922,35
0,21

Pelayanan tindak lanjut pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan


pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup
Pelayanan informasi status kerusakan lahan dan atau tanah untuk
produksi biomasa
% penduduk yang memiliki akses terhadap air minum yang berkualitas
% kualitas air minum yang memenuhi syarat
% penduduk yang menggunakan jamban sehat
% keluarga yang menggunakan air bersih
% cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan
%cakupan TTU yang memenuhi syarat kesehatan
% cakupan TPM yang memenuhi syarat

99

59
0,77
23
1,56

SKPD
Dinas PU dan
Perumahan
Dinas PU dan
Perumahan
Dinas PU dan
Perumahan
Dinas PU dan
Perumahan
Dinas PU dan
Perumahan
Dinas PU dan
Perumahan
Dinas PU dan
Perumahan
Dinas PU dan
Perumahan

Disbertaman
Disbertaman
Disbertaman

100

Kantor LH

Kantor LH

66
100
75
90
85
85
75

Dinas Kesehatan

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.
4.

Prioritas Pembangunan
Penanggulangan
Kemiskinan dan
Peningkatan Kualitas
Tenaga Kerja

Program Pembangunan
Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar
Sembilan Tahun
Program Upaya Kesehatan Masyarakat
Program Pelayanan Kesehatan
Penduduk Miskin
Program Kemitraan Peningkatan
Pelayanan Kesehatan

Program Perbaikan Gizi Masyarakat

Program Pengembangan Perumahan


Program Lingkungan Hidup Sehat
Perumahan
Program Keluarga Berencana

Program Penataan Administrasi


Kependudukan
Program Peningkatan Kesempatan Kerja

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Kinerja
Indikator
Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah :
SD/MI
SMP/MTs
Rasio puskesmas per satuan penduduk
Rasio puskesmas pembantu per satuan penduduk
Persentase pasien miskin yang terlayani
Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin
Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin
Cakupan pelayanan kesehatan peserta askes
Jumlah puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi
penduduk miskin
Prevalensi balita kekurangan gizi
Presentase balita gizi buruk ditemukan yang mendapat perawatan
Presentase balita ditimbang berat badannya (D/S)
Cakupan pemberian MP-ASI pada anak 6-24 bln keluarga miskin
Rasio Rumah Layak Huni
Rasio Permukiman Layak Huni
Penanganan Permukiman Kumuh Perkotaan
Sempadan Jalan yang dipakai pedagang kaki lima atau bangunan rumah
liar
PUS peserta KB anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga
Sejahtera (UPPKS) yang ber-KB mandiri
Rata-rata jumlah anak per keluarga
Rasio akseptor KB
Cakupan peserta KB aktif
Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I
Pelayanan Komunikasi Informasi dan Edukasi Keluarga Berencana dan
Keluarga Sejahtera (KIE KB dan KS)
Pasangan Usia Subur (PUS) yang isterinya dibawah usia 20 tahun
Sasaran Pasangan Usia Subur menjadi Peserta KB aktif
PUS yang ingin ber-KB tidak terpenuhi (unmet need)
Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) ber-KB
Ratio Penyuluh KB/Petugas Lapangan KB 1 PKB/PLKB untuk setiap 2
kelurahan
Ratio Petugas Pembantu Pembina KB Desa (PPKBD) setiap
desa/kelurahan 1 PPKBD
Ketersediaan Data Base Kependudukan
Besaran pencari kerja yang terdaftar yang ditempatkan

100

SKPD

Target

Dinas Pendidikan
55,48
39,36
1:22.000
1:5.500
100

Dinas Kesehatan
RSUD

65
14,9
47,9
8

Dinas Kesehatan

<18,8
100
85
100
0,2695
0,997
0,140
3

Dinas Kesehatan

Dinas PU dan
Perumahan
Dinas PU dan
Perumahan
BPMPKB

3,03
73,10
27.900
6.579
320
530
39.277
5.360
1.292
37
20
218.000

Disdukcapil

33,87

Dinsosnaker

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.

Prioritas Pembangunan

Program Pembangunan
Program Pemberdayaan Fakir Miskin,
Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan
Penyandang Masalah Kesejahteraan
Sosial (PMKS) Lainnya

5.

Peningkatan Daya Saing


Perekonomian Daerah

Program Penciptaan Iklim Usaha Usaha


Kecil Menengah Yang Konduksif

Program Pengembangan Kewirausahaan


dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil
Menengah
Program Pengembangan Sistem
Pendukung Usaha Bagi Usaha Mikro
Kecil Menengah
Program Peningkatan Kualitas
Kelembagaan Koperasi
Program Penataan Penguasaan,
Pemilikan, Penggunaan dan
Pemanfaatan Tanah
Program Peningkatan dan
Pengembangan Ekspor
Program Peningkatan Effesiensi
Perdagangan Dalam Negeri
Program Pengembangan Industri Kecil
dan Menengah

Program Peningkatan Kesejahteraan


Petani
Program Peningkatan Ketahanan
Pangan (Pertanian/Perkebunan)

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Kinerja
Indikator
Pemeliharaan Pasca Program pemberdayaan masyarakat
Swadaya Masyarakat terhadap Program pemberdayaan masyarakat

Jumlah sarjana yang menjadi wirausaha baru


Jumlah UKM non BPR/LKM UKM
Jumlah BPR/LKM aktif
Persentase usaha mikro dan kecil

Target
10
20

30
4
7
79,45

SKPD
BPMPKB

Dinas Koperasi dan


UKM

Dinas Koperasi dan


UKM

Pertumbuhan Kemitraan UMKM

115

Dinas Koperasi dan


UKM

Persentase koperasi aktif

70

Persentase antar wilayah yang memiliki pilar batas yang jelas

100

Dinas Koperasi dan


UKM
Setdako-Bagian
Tapem

Kontribusi Sektor Perdagangan terhadap PDRB

26

Presentase kebutuhan pokok dan sarana produksi yang terjamin


ketersediaan dengan harga terjangkau
Jumlah wirausaha baru di bidang perindustrian dan perdagangan

<10

Kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB sektor industri


Cakupan bina kelompok pengrajin
Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB

20
70
4,22

Ketersediaan pangan utama

100

101

164

Disperindag dan
Tamben
Disperindag dan
Tamben
Disperindag dan
Tamben

Distankanhut
Setdako Bagian
Ekonomi

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.

Prioritas Pembangunan

Program Pembangunan
Peningkatan Produksi
Pertanian/Perkebunan
Program Peningkatan produksi hasil
peternakan

Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan


Program Pengembangan Budidaya
Perikanan
Program Optimalisasi Pengelolaan dan
Pemasaran Produksi Perikanan
6.

Peningkatan
Profesionalisme Aparatur
dan Kinerja
Penyelenggaraan
Pemerintahan

Program Pengembangan Data dan


Informasi
Program Penataan Kelembagaan,
Ketatalaksanaan dan Analisa Jabatan
Program Peningkatan Penataan
Organisasi Pemerintah Daerah
Program Peningkatan Sistem
Pengawasan Internal dan Pengendalian
Kebijakan Kepala Daerah
Peningkatan Pelayanan dan Kapasitas
Pemerintah Kecamatan
Program Peningkatan Pelayanan Prima
Terpadu

Program Pengembangan Komunikasi,


Informasi dan Media Massa
Program Penataan Administrasi
Kependudukan

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Kinerja
Indikator
Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB
Produktivitas padi atau bahan utama lokal lainnya perhektar
Nilai tukar petani
Pertumbuhan Populasi ternak besar
Pertumbuhan Populasi ternak kecil
Pertumbuhan Populasi unggas
Pertumbuhan Produksi telur
Rehabilitasi hutan dan lahan kritis
Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB
Produksi Perikanan
Produksi perikanan kelompok budidaya
Cakupan bina kelompok petani ikan (pokdakan)
Cakupan bina kelompok tani
Konsumsi ikan
Buku kota dalam angka
Buku PDRB kota
Persentase Dokumen LAKIP yang terintegrasi dan tepat waktu
Persentase SKPD yang memperoleh penataan kelembagaan dan
ketatalaksanaan yang efektif dan efisien
Persentase penyelesaian tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan
Persentase penyelesaian pengaduan masyarakat
Persentase pembuatan KTP online
Persentase laporan keuangan terintegrasi online
Persentase aparatur yang memiliki kompetensi teknis sesuai bidangnya
Jumlah perizinan yang mendukung investasi
Terlayaninya Masyarakat dalam Pengurusan Izin sesuai SOP
Penerbitan Izin sesuai dengan jumlah waktu yang telah ditetapkan dalam
SOP
Waktu proses perizinan
indeks kepuasan masyarakat
Pelaksanaan diseminasi dan pendistribusian informasi nasional melalui
media baru seperti website (media online)
Penerbitan KTP
Penerbitan Akta Kelahiran
Penerbitan Akta Perkawinan Non Muslim
Penerbitan Akta Perceraian Non Muslim
Penerbitan Akta Kematian

102

Target
3,86
107,08
5.855
4.310
3.746
12.137
0,87
76,90
129,38
98,00
22,97
101,30
Ada
Ada
100

SKPD
Distankanhut

Distankanhut

Distankanhut
Distankanhut
Distankanhut

Bappeda dan PM
Bagian OrganisasiSetdako

96
100
80
70
90
74
10
3.050
1-7
1
76.724
33.200
5.500
80
27
15

Inspektorat
Kecamatan

BP2T

Dinas Perhubungan,
Kominfo
Dinas Dukcapil

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


No.

Prioritas Pembangunan

Program Pembangunan

Program Peningkatan Kapasitas Sumber


Daya Aparatur
Program Pembinaan dan Pengembangan
Aparatur

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

Kinerja
Indikator
Penerbitan Akta Pengakuan,Pengesahan dan Pengangkatan Anak
Penerbitan Akta Perubahan Kewarganegaraan
Prosentase Pelaksanaan Kegiatan Rutin, Administrasi dan Pelaporan
secara Akuntabel dan Tepat Waktu
Prosentase Pelayanan Yang Memenuhi Standar Layanan Yang Prima
Prosentase Aparatur Yang Memiliki Kompetensi Sesuai Bidangnya
Persentase aparatur yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya
Persentase aparatur yang memiliki pembinaan dan pengembangan karir
sesuai dengan kebutuhan :
- Kompetensi aparatur dibidang keuangan, pemerintahan dan
kepegawaian
- Kualitas SDM aparatur melalui peningkatan jenjang pendidikan
- Pengadaan Pegawai
- Mutasi PNS
- Data Informasi Promosi Pegawai
Persentase aparatur yang memiliki pembinaan dan memiliki pembinaan
dan pengembangan karir sesuai dengan kebutuhan :
- Menurunnya Jumlah kasus pelanggaran disiplin
- Tersedianya data informasi pegawai
- Terlaksananya penyelenggaraan pembinaan mental spiritual

103

Target
27
100
100
100
100

770
595
100
100
100
30
100
100

SKPD

BKD dan Diklat

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


BAB V
RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS

Rencana program dan kegiatan prioritas merupakan uraian rinci yang menjelaskan
nama program/kegiatan, indikator kinerja program/kegiatan, tahun rencana yang
meliputi lokasi, target capaian kinerja dan kebutuhan dana/pagu indikatif, klasifikasi
program dan kegiatan dituangkan secara lengkap dalam matrik rencana program dan
kegiatan prioritas daerah Kota Banjarbaru. Program prioritas yang direncanakan dibiayai
tahun 2015 disusun berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 13 tahun 2006
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 59 tahun 2007
tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah. Rencana Kerja Pembangunan Daerah
Kota Banjarbaru Tahun 2015 disusun berdasarkan hasil analisa yang merupakan
penjabaran dari isu strategis dan prioritas pembangunan daerah dalam rangka
mendukung pencapaian Visi dan Misi pembangunan Daerah Kota Banjarbaru.
Prioritas pembangunan Kota Banjarbaru Tahun 2015 diselaraskan dengan
pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan sesuai dengan amanat dari Peraturan
Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota
serta berpedoman pula kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 59 tahun 2007
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang dijabarkan lampiran dokumen ini.

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

59

PEMERINTAH KOTA BANJARBARU


BAB VI
PENUTUP
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kota Banjarbaru Tahun 2015 ini merupakan
perencanaan tahun kelima untuk pelaksanaan pada tahun 2015 dari RPJMD Kota
Banjarbaru Tahun 2011-2015, dan menjadi acuan dalam penyusunan Renja SKPD, juga
menjadi acuan bagi dunia usaha dan seluruh pemangku kepentingan dalam memberikan
dukungan dan membangun sinergi terhadap pencapaian pelaksanaan program dan
kegiatan pembangunan tahun 2015.
Sebagai salah satu substansi dalam penyelenggaraan otonomi daerah dan
pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik, maka kinerja pemerintah daerah perlu
terus ditingkatkan. Pengukuran kinerja ini kemudian dilakukan dengan menetapkan
sasaran-sasaran pembangunan dengan indikator-indikator tertentu. Namun, tentunya
perencanaan pembangunan tidak terlepas dari kemampuan pemerintah daerah dalam
menyiapkan kerangka pendanaan dan pembiayaan pembangunan demi tercapainya
sasaran pembangunan yang telah ditetapkan bersama.
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2015 ini berlaku sejak 1 Januari
2015, dan dijadikan pedoman dalam penyusunan Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah. Selanjutnya, Walikota bersama SKPD lingkup Kota Banjarbaru
menjabarkan program dan melaksanakan kegiatan pembangunan sebagaimana yang
tertuang dalam RKPD Tahun 2015.
Dalam kaitan itu, DPRD Kota Banjarbaru perlu memberi dukungan sepenuhnya
agar program dan kegiatan dapat direalisasikan secara optimal dan mencapai sasaran.
Keberhasilan pelaksanaan RKPD tahun 2015 tergantung dari dukungan dan disiplin yang
kuat bagi semua pemangku kepentingan yang terkait langsung maupun tidak langsung
dengan pelaksanaan pembangunan daerah.

WALIKOTA BANJARBARU,

H.M. RUZAIDIN NOOR

RKPD Kota Banjarbaru Tahun 2015

60