Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Darah dan komponennya


Unsur seluler dari darah adalah sel darah merah, sel darah putih, dan

trombosit yang tersuspensi di dalam plasma. Volume darah total yang beredar
dalam keadaan normal sekitar 8% dan berat badan (5600 mL pada pria 70 kg).
sekitar 55% dan volume tersebut adalah plasma1.
1.1.1.

sel-sel darah merah


Fungsi utama dari sel-sel darah merah, yang juga dikenal sebagai eritrosit,

adalah mengangkut hemoglobin, dan seterusnya mengangkut oksigen dan paruparu ke jaringan. Sel darah merah normal berbentuk lempeng bikonkaf dengan
diameter kira-kira 7,8 mikrometer dan dengan ketebalan pada bagian yang paling
tebal 2,5 mikrometer dan pada bagian tengah 1 mikrometer atau kurang. Volume
rata-rata eritrosit adalah 90 - 95 mikrometer kubik. Konsentrasi sel darah merah
dalam darah pada pria normal per millimeter kubik adalah 5.200.000 ( 300.000)
dan pada wanita normal 4.700.000 ( 300.000)2.
1.1.2. Sel darah putih
Ada enam macam sel darah putih yang secara normal ditemukan dalam
darah.

Keenam

sel

tersebut

adalah

netrofil

polimorfonuklir,

eoslnofil

polimorfonuklir, basofil polimorfonuklir, monosit, limfosit, dan kadang-kadang


sel plasma. Konsentrasi bermacam-macam sel darah putih dalam darah pada
manusia dewasa dapat dijumpai sekitar 7000 sel darah putih per mikkroliter darah.
Persentase normal dan sel darah putih kira-kira sebagai berikut:
Netrofil polimorfonuklir

62,0 %

Eosinofil polimorfonuklir

2,3 %

Basofil polimorfonuklir

0,4 %

Monosit

5,3 %

Limfosit

30,0 %

Jumlah trombosit, yang hanya merupakan fragmen-fragmen sel dalam


keadaan normal jumlahnya kira-kira 300.000 per mikroliter darah2.
1.2.

Cedera Kepala
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan

utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan
lalu lintas. Di samping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi
korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat sangat
menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya.
Tindakan resusitasi, anamnesis dan pemeriksaan fisis umum serta neurologis
harus dilakukan secara serentak. Pendekatan yang sistematis dapat mengurangi
kemungkinan terlewatinya evaluasi unsur vital. Tingkat keparahan cedera kepala,
menjadi ringan segera ditentukan saat pasien tiba di rumah sakit3.
1.2.1.

Definisi
Cedera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau

penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan


(accelerasi - decelerasi ) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh
perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta
notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat
perputaran pada tindakan pencegahan4
1.2.2. Patofisiologi
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa
dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya
melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi
kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan
fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar
metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan
2

koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dan seluruh kebutuhan glukosa tubuh,


sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala
permulaan disfungsi cerebral5.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan
oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi
pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi
penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan
asidosis metabolik. Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 60 mli/ menit/ 100 gr. jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output5.
Trauma kepala meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas
atypicalmyocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan
otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia,
fibrilasi atrium dan vebtrikel, takikardia5.
Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler,
dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan
berkontraksi . Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh
darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar5
Cedera kepala menurut patofisiologi dibagi menjadi dua:
1. CEDERA KEPALA PRIMER
cedera yang terjadi saat atau bersamaan dengan kejadian trauma, dan
merupakan suatu fenomena mekanik. Umumnya menimbulkan lesi permanen.
Tidak banyak yang bisa kita lakukan kecuali membuat fungsi stabil, sehingga selsel yang sedang sakit bisa mengalami proses penyembuhan yang optimal6.
Pada cedera primer dapat terjadi5:
1. Gegar kepala ringan
2. Memar otak
3. Laserasi

2. CEDERA KEPALA SEKUNDER


Cedera kepala sekurider merupakan hasil dan proses yang berkelanjutan
(on going process) sesudah atau berkaitan dengan cedera primer dan lebih
merupakan fenomena metabolik6
Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti5:
1. Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti
2. Hipotensi sistemik
3. Hipoksia
4. Hiperkapnea
5. Udema otak
6. Komplikasi pernapasan

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1.

Transfusi Darah
Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis

darah dari satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah
berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar
disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel
darah merah7
Transfusi darah adalah suatu pengobatan yang bertujuan menggantikan
atau menambah komponen darah yang hilang atau terdapat dalam jumlah yang
tidak mencukupi. Tentu saja transfusi darah hanya merupakan pengobatan
simptomatik karena darah atau komponen darah yang ditransffusikan hanya dapat
mengisi kebutuhan tubuh tersebut untuk jangka waktu tertentu tergantung pada
umur fisiologi komponen yang ditransfusikan; walaupun umur eritrosit adalah 120
hari namun bila ditransfusikan pada orang lain maka kemampuan transfusi tadi
mempertahankan kadar hemoglobin dalam tubuh resipien hanya rata-rata satu
bulan8.
Dua pertiga dan semua transfusi sel darah merah dilakukan pada masa
perioperatif dan kebanyakan diberikan di kamar operasi. Bahkan untuk keperluan
menjaga proses homeostasis pada saat operasi kadang diperlukan transfusi
trombosit dan komponen plasma. Transfusi komponen-komponen darah ini telah
terbukti dapat memperbaiki keadaan pasien, misalnya meningkatkan oksigenasi
jaringan, dan mengurangi pendarahan yang terjadi. Itulah sebabnya sehingga
pengetahuan tentang transfusi darah sangat penting bagi seorang ahli anestesi9.
Transfusi darah harus dilakukan dengan indikasi yang jelas. Karena pada
saat ini komplikasi yang paling ditakutkan akibat transfusi darah adalah penularan
penyakit. Diantaranya hepatitis non-A, non-B (HCV) sebagai komplikasi
terbanyak akibat transfusi, HTLV-I (human T-cell leukemia/ virus limfoma tipe I

dan CMV (sitomegalovirus) sampai infeksi yang paling ditakuti yang disebabkan
oleh human imunodefisiensi virus (HIV)9.
Berdasarkan sistem antigen telah dikenal lebih dari 20 golongan darah.
Untuk kepentingan klinik hanya dikenal dua sistem penggolongan darah yaitu
sistem ABO dan sistem Rh. Sebagian besar pasien mempunyai sistem Rh+ (85%)
dan sisanya (15%) sistem Rh-. Jenis golongan darah dan kekerapannya dapat
dilihat pada tabel berikut9:
Jenis Golonan Darah ABO
Jenis
Golongan A
Golongan B
Golongan AB
Golongan O

Antibodi
Anti B
Anti A
Anti A, Anti B

Keterangan
45 %
8%
4 % resipien universal
43 % donor universal

Tujuan Transfusi darah10

2.2.

Memelihara dan mempertahankan kesehatan donor.

Memelihara keadaan biologis darah atau komponen komponennya agar


tetap bermanfaat.

Memelihara dan mempertahankan volume darah yang normal pada


peredaran darah (stabilitas peredaran darah).
Mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah.

Meningkatkan oksigenasi jaringan.

Memperbaiki fungsi Hemostatis.

Tindakan terapi kasus tertentu.

2.3.

Indikasi Transfusi Darah


Dalam pedoman WHO (Sibinga, 1995) disebutkan:

1. Transfusi tidak boleh diberikan tanpa indikasi kuat.


2. Transfusi hanya diberikan berupa komponen darah pengganti yang hilang/
kurang.

Berdasarkan pada tujuan di atas, maka saat ini transfusi darah cenderung
memakai komponen darah disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya kebutuhan
akan sel darah merah, granulosit, trombosit, dan plasma darah yang mengandung
protein dan faktor-faktor pembekuan. Diperlukan pedoman dalam pemberian
komponen-komponen darah untuk pasien yang memerlukannya, sehingga efek
samping transfusi dapat diturunkan seminimal mungkin.
Lansteiner, perintis transfusi mengatakan Transfusi darah tidak boleh
diberikan,kecuali manfaatnya melebihi resikonya. Pada anemia, transfusi baru
layak diberikan jika pasien menunjukkan tanda Oxigen Need yaitu rasa sesak,
mata berkunang, berdebar (palpitasi), pusing, gelisah atau Hb <6 gr/dl.
Pemberian sel darah merah, sering digunakan apabila kadar Hb kurang dan
6 gr%, dan hampir tidak diperlukan bila Hb lebih dari 10 gr% dan kalau kadar Hb
antara 6-1 Ogr%, maka transfusi sel darah merah atas indikasi keadaan oksigenasi
pasien. Perlu diingat bahwa kadar Hb bukanlah satu-satunya parameter, tetapi
harus diperhatikan pula faktor-faktor fisiologi dan resiko pembedahan yang
mempengaruhi oksigenasi pasien tersebut.
Kehilangan sampai 30% EBV umumnya dapat diatasi dengan cairan
elektrolit saja. Kehilangan lebih daripada itu, setelah diberi cairan elektrolit perlu
dilanjutkan dengan transfusi jika Hb<8 gr/dl.
Habibi dkk memberikan petunjuk bahwa dengan pemberian satu unit PRC
akan meningkatkan hematokrit 3-7%.
Indikasinya adalah:
1. Kehilangan darah >20% dan volume darah lebih dan 1000 ml.
2. Hemoglobin <8 gr/dl.
3. Hemoglobin <10 gr/dl dengan penyakit-penyakit utama : (misalnya empisema,
atau penyakit jantung iskemik)
4. Hemoglobin <10 gr/dl dengan darah autolog.
5. Hemoglobin <12 gr/dl dan tergantung pada ventilator.

Dapat disebutkan bahwa:


Hb sekitar 5 adalah CRITICAL
Hb sekitar 8 adalah TOLERABLE
Hb sekitar 10 adalah OPTIMAL
Transfusi mulai diberikan pada saat Hb CRITICAL dan dihentikan setelah
mancapai batas TOLERABLE atau OPTIMAL.
Rumus Kebutuhan Transfusi Darah112

2.4.

Hb normal-Hb Pasien x BB x jenis darah


Keterangan:
Hb normal

= Hb yang diharapkan atau Hb normal

Hb pasien

= Hb pasien saat ini

Jenis darah

= darah yang dibutuhkan

= PRC dikalikan 3
= WB dikalikan 6
Macam Transfusi Darah pada Cedera Kepala10

2.5.

1. Darah Lengkap/ Whole Blood (WB)


Diberikan pada penderita yang mengalami perdarahan aktif yang
kehilangan darah lebih dari 25 %.
2. Darah Komponen

Sel Darah Merah (SDM):


Sel Darah Merah Pekat Diberikan pada kasus kehilangan darah
yang tidak terlalu berat, transfusi darah pra operatif atau anemia
kronik dimana volume plasmanya normal.
Sel Darah Merah Pekat Cuci Untuk penderita yang alergi terhadap
protein plasma. Sel Darah Merah Miskin Leukosit : Untuk
penderita yang tergantung pada transfusi darah.

Sel Darah Merah Pekat Beku yang Dicuci : Diberikan untuk


penderita yang mempunyai antibodi terhadap sel darah merah yang
menetap.
Sel Darah Merah Diradiasi : Untuk penderita transplantasi organ
atau sumsum tulang.

LEUKOSIT/ GRANULOSIT KONSENTRAT : Diberikan pada


penderita yang jumlah leukositnya turun berat, infeksi yang tidak
membaik/ berat yang tidak sembuh dengan pemberian Antibiotik,
kualitas Leukosit menurun.

TROMBOSIT : Diberikan pada penderita yang mengalami gangguan


jumlah atau fungsi trombosit.

PLASMA dan PRODUKSI PLASMA Untuk mengganti faktor


pembekuan, penggantian cairan yang hilang.
Contoh : Plasma Segar Beku untuk pmderita Hemofili.Krio Presipitat
untuk penderita Hemofili dan Von Willebrand

2.6.

Teknik transfusi darah13


Sebelum ditransfusikan, periksa sekali lagi sifat dan jenis darah serta

kecocokan antara darah donor dan penderita. Penderita dipersiapkan dengan


pemasangan infus dengan jarum besar #16-18. Jarum yang terlalu kecil dapat
menyebabkan hemolisis.
Transfusi dilakukan dengan transfusi set yang memiliki saringan untuk
menghalangi bekuan fibrin dan partikel debris lainnya. Transfusi set baku
memiliki saringan dan ukuran pori- pori 170 mikron. Pada keadaan normal,
sebuah transfusi set dapat digunakan untuk 2 sampai 4 unit darah.
Vena terbaik untuk kanulasi darah adalah vena pada bagian dorsal tangan
dan pada lengan atas. Dalam keadaan darurat dapat dilakukan venaseksi untuk
menjamin kelancaran dan kecepatan transfusi.

Waktu mengambil darah dari lemari es, perhatikan plasmanya. Jika ada
tanda-tanda hemolisis (warna coklat hitam, keruh) jangan diberikan. Darah yang
belum akan ditransfusikan harus tetap di dalam lemari es.
Sebelum transfusi, diberikan terlebih dahulu 50-100 ml NaCI fisioiogik.
Jangan menggunakan larutan lain karena dapat merugikan. Larutan dekstrose dan
larutan garam hipotonik dapat meriyebabkan hemolisis. Ringer laktat atau larutan
lain

yang

mengandung

kalsium akan

menyebabkan

koagulasi.

Jangan

menambahkan obat apapun ke dalam darah yang ditransfusikan. Obat-obatan


memiliki pH yang berbeda sehingga dapat menyebabkan hemolisis, lagipula bila
terjadi reaksi transfusi akan sulit untuk menentukan apakah hal itu terjadi akibat
obat atau akibat darah yang ditransfusikan.
Jika sejumlah besar darah akan ditransfusikan dalam waktu yang singkat,
maka dibutuhkan darah hangat, karena darah yang dingin akan mengakibatkan
aritmia ventrikel bahkan kematian. Menghangatkan darah dengan air hangat
hendaknya pada suhu 37-39C. Karena bila lebih 40C, eritrosit akan rusak. Pada
100 ml pertama pemberian darah lengkap hendaknya ditetiti dengan hati-hati dan
diberikan perlahan-tahan untuk kemungkinan deteksi dini reaksi transfusi.
Transfusi set mengalirkan darah 1 ml dalam 20 tetes. Laju tercepat yang
bisa tercapai adalah 60 ml permenit. Laju transfusi tergantung pada status
kardiopulmoner resipien. Jika status kardiopulmoner normal, maka dapat
diberikan 10-15 ml/kgBB dalam waktu 2-4 jam. Jika tidak ada hemovolemia
maka batas aman transfusi adalah 1 ml/kgBB/jam (1 unit kurang lebih 3 jam) atau
1000 ml dalam 24 jam. Tetapi jika terdapat gagal jantung yang mengancam maka
tidak boleh ditransfusikan melebihi 2 ml/kgBB/jam . Karena darah adalah
medium kultur yang ideal untuk bakteri, sebaiknya transfusi satu unit darah tidak
boleh melewati 5 jam karena meningkatnya resiko proliferasi bakteri.
Kasus-kasus dengan pendarahan yang hebat kadang-kadang dibutuhkan
transfusi yang cepat sampai 6-7 bag dalam setengah jam. Setelah sirkulasi tampak
membaik dikurangi hingga 1 bag tiap 15 menit.

10

Tidak dianjurkan memberi obat antihistamin , antipiretika, atau diuretika


secara rutin sebelum transfusi untuk mencegah reaksi. Reaksi panas pada dasarnya
adalah tanda bahaya bahwa sedang terjadi reaksi transfusi. Diuretika hanya
diperlukan pada pasien anemia kronis yang perlu transfusi sampai 20 ml/kgBB
dalam 24 jam.
Cara-cara Meningkatkan Kecepatan Transfusi:
1. Letakkan botol darah setinggi mungkin. Peningkatan 2 kali menyebabkan
kecepatan transfusi meningkat 2 kali pula.
2. Pergunakan jarum atau kanula sebesar mungkin.
3. Dengan memompakan darah meningkatkan tekanan udara dalam botol.
4. Dengan memompakan darah-darah yang berada di dalam kateter bawah.
Refjevuska
2.7.

Transfusi sangat darurat14


Bagi pasien dengan pendarahan hebat, waktu yang diperlukan untuk uji

silang lengkap terlalu lama atau tidak tersedia darah dengan golongan yang sama.
Pilihan yang dapat diberikan adalah PRC golongan O tanpa uji silang (donor
universal). Jika PRC O tidak ada, untuk resipien AB dapat diberikan golongan A
atau B. Pasien bukan golongan O yang sudah mendapat transfusi O sebanyak> 4
unit, jika perlu transfusi lagi dalam jangka 2 minggu, masih harus tetap diberi
golongan O, kecuali telah dibuktikan bahwa titer anti A dan anti-B nya telah turun
<1/200. Berbeda dengan di Barat, hampir seluruh populasi Indonesia Rhesus (+)
maka semua unit O dapat digunakan.
2.8.

Komplikasi Transfusi Darah15


Untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya reaksi selama transfusi,

dilakukan beberapa tindakan pencegahan. Setelah diperiksa ulang bahwa darah


yang akan diberikan memang ditujukan untuk resipien yang akan menerima darah
tersebut, petugas secara perlahan memberikan darah kepada resipien, biasanya
selama 2 jam atau lebih untuk setiap unit darah.
11

Karena sebagian besar reaksi ketidakcocokan terjadi dalam 15 menit


pertama, , maka pada awal prosedur, resipien harus diawasi secara ketat. Setelah
itu, petugas dapat memeriksa setiap 30- 45 menit dan jika terjadi reaksi
ketidakcocokan, maka transfusi harus dihentikan. ref medica store
Pada umumnya komplikasi transfusi mi dibagi menjadi:
1. REAKS1 IMUNOLOG1
a. Reaksi Transfusi Hemolitik
Reaksi transfusi hemolitik merupakan reaksi yang jarang terjadi tetapi
serius dan terdapat pada satu diantara dua puluh ribu penderita yang
mendapat transfuse.
1. Lisis sel darah donor oleh antibodi resipien.
Hal ini bisa terjadi dengan cara:
a. Reaksi transfusi hemolitik segera
b. Reaksi transfusi hemolitik lambat.
2. Lisis sel resipien oleh antibodi darah transfusi secara masif.
Reaksi ini sering terjadi akibat kesalahan manusia sebagai pelaksana,
misalnya salah memasang label atau membaca label pada botol darah.
Tanda-tanda reaksi hemolitik lain ialah menggigil, panas, kemerahan pada
muka, bendungan vena leher , nyeri kepala, nyeri dada, mual, muntah, nafas cepat
dan dangkal, takhikardi, hipotensi, hemoglobinuri, oliguri, perdarahan yang tidak
bisa diterangkan asalnya, dan ikterus. Pada penderita yang teranestesi hal ini sukar
untuk dideteksi dan memerlukan perhatian khusus dari ahli anestesi, ahli bedah
dan lain-lain.
Tanda-tanda yang dapat dikenal ialah takhikardi, hemogiobinuri, hipotensi,
perdarahan yang tiba-tiba meningkat, selanjutnya terjadi ikterus dan oliguri.
Diagnosis

dapat

ditegakkan

dengan

adanya

hemoglobinuri

dan

hemoglobinuri. Urine menjadi coklat kehitaman sampai hitam dan mungkin berisi
12

hemoglobin dan butir darah merah. Terapi reaksi transfusi hemolitik pemberian
cairan intravena dan diuretika. Cairan digunakan untuk mempertahankan jumlah
urine yang keluar.
Diuretika yang digunakan ialah:
a. Manitol 25 %, sebanyak 25 gr diberikan secara intravena kemudian diikuti
pemberian 40 mEq Natrium bikarbonat.
b. Furosemid
Bila terjadi hipotensi penderita dapat diberi larutan Ringer laktat, albumin
dan darah yang cocok. Bila volume darah sudah mencapai normal penderita dapat
diberi vasopressor. Selain itu penderita perlu diberi oksigen.
Bila terjadi anuria yang menetap perlu tindakan dialisis.
Cara menghindari reaksi transfusi:
Untuk mengerjakan ini perlu dilakukan:
a. Tes darah, untuk melihat cocok tidaknya darah donor dan resipien.
b. Memilih tips dan saringan yang tepat.
c. Pada transfusi darurat:
Banyak situasi terjadi dimana kebutuhan darah sangat mendesak sebelum
dilakukan pemeriksaan cocok tidaknya darah secara lengkap. Dalam situasi
demikian tidak perlu dilakukan pemeriksaan secara lengkap, dan jalan singkat
untuk melakukan tes bisa dikerjakan sebagai berikut:
1. Type-Specific, Partially Crossmatched Blood
Bila kita menggunakan darah un-crossmatched, maka paling sedikit harus
diperoleh tipe ABO-Rh dan sebagian crossmatched.
2. Tipe-Specific, Uncrossmatched Blood.

13

Untuk penggunaan tipe darah yang tepat maka tipe ABO-Rh harus sudah
ditentukan selama penderita dalam perjalanan ke rumah sakit.
3. O Rh-Negatif (Universal donor) Uncrossmatched Blood
Golongan darah O kekurangan antigen A dan B, akibatnya tidak dapat dihemolisis
baik oleh anti A ataupun anti B yang ada pada resipien. Oleh sebab itu golongan
darah O kita sebut sebagai donor universal dan dapat digunakan pada situasi yang
gawat bila tidak memungkinkan untuk melakukan penggolongan darah atau
crossmatched. Tetapi bagaimanapun juga pemberian darah golongan inipun
bukan tanpa resiko.
b. Reaksi transfusi Nonhemolitik
1. Reaksi transfusi febrile
Tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

Menggigil

Panas

nyeri kepala,

nyeri otot

mual

batuk yang tidak produktif.

2. Reaksi alergi
a. Anaphylactoid
Keadaan ini terjadi bila terdapat protein asing pada darah transfusi.
b. Urtikaria, paling sering terjadi dan penderita merasa gatal-gatal.
Biasanya muka penderita sembab.

14

Terapi yang perlu diberikan ialah antihistamin, dan transfusi harus


diberhentikan. Alergi yang berat jarang terjadi dan ini kita sebut reaksi anafilaksis,
dengan tanda-tanda sebagai berikut : sesak nafas, hipotensi, edema larings, nyeri
dada, dan shok. Reaksi anafilaksis ini disebabkan karena transfusi IgA kepada
penderita yang kekurangan IgA dan telah terbentuk anti IgA. Tipe reaksi ini tidak
termasuk tipe kerusakan sel darah merah, kejadiannya sangat cepat dan biasanya
terjadi sesudah mendapat transfusi darah atau plasma hanya beberapa ml.
Penderita yang menunjukkan tanda-tanda reaksi anafilaksis bila perlu mendapat
darah, harus diberi sel darah merah yang telah dibersihkan dan semua sisa donor
IgA, atau dengan darah yang sedikit mengandung protein IgA
II. REAKASI NON IMUNOLOGI
A. Reaksi transfusi Pseudohemolytic
Termasuk disini ialah lisis terhadap sel darah merah tanpa reaksi antigenantibodi. Hemolisis ini dapat terjadi akibat obat, macam-macam keadaan
penyakit, trauma mekanik, penggunaan cairan dextrosa hipotonis, panas yang
berlebihan dan kontaminasi bakteri.
B. Reaksi yang disebabkan oleh volume yang berlebihan.
C. Reaksi karena darah transfusi terkontaminasi
D. Virus hepatitis.
Risiko terkena hepatitis sesudah transfusi merupakan keadaan klinik yang
penting. Tes untuk HBV (Hepatitis B Virus), penyaringan untuk Non-A dan NonB juga bisa mengurangi risiko terkena transmisi penyakit tersebut.
E. Lain-lain penyakit yang terlibat pada terapi transfusi misalnya malaria, sifilis,
virus CMG dan virus Epstein-Barr parasit serta bakteri.
F. AIDS.

15

Penanggulangan Reaksi Transfusi16

2.9.

1. Stop transfuse
2. Naikkan tekanan darah dengan koloid, kristaloid, jika perlu tambahan
vasokonstriktor, inotropik.
3. Berikan oksigen 100%
4. Diuretik manitol 50 mg atau furosemid 10-20 mg.
5. Antihistamin.
6. Steroid dosis tinggi.
7. Jika perlu exchange transfusion
8. Periksa analisa gas dan pH darah.

16

BAB III
KESIMPULAN
1. Transfusi darah adalah suatu pengobatan yang bertujuan menggantikan atau
menambah komponen darah yang hilang atau terdapat dalamjumlah yang
tidak mencukup
2. Pemberian sel darah merah, sering digunakan apabila kadar Hb kurang dan 6
gr%, dan hampir tidak diperlukan bila Hb lebih dari 10 gr% dan kalau kadar
Hb antara 6-10 gr%, maka transfusi sel darah merah atas indikasi keadaan
oksigenasi pasien
3. Rumus Kebutuhan Transfusi Darah
Hb normal Hb Pasien x BB x Jenis darah
Pemberian transfusi darah yang mengalami perdarahan aktif yang kehilangan
darah lebih dari 25% pada cedera kepala sering menggunakan darah lengkap/
Whole Blood (WB).
4. Vena terbaik untuk kanulasi darah adalah vena pada bagian dorsal tangan dan
pada lengan atas. Dalam keadaan darurat dapat dilakukan venaseksi untuk
menjamin kelancaran dan kecepatan transfusi.
5.

Tidak dianjurkan memberi obat antthistamin , antipiretika, atau diuretika


secara rutin sebelum transfusi untuk mencegah reaksi

6. Reaksi yang paling sering terjadi adalah demam dan reaksi alergi
(hipersensitivitas), yang terjadi sekitar 1-2% pada setiap transfusi.
Gejalanya berupa :

Gatal-gatal
Kemerahan
Pembengkakan
Pusing
Demam
Sakit kepala

Gejala yang terjadi adalah kesulitan pernafasan, bunyi mengi dan kejang otot.
Yang lebih jarang lagi adalah reaksi alergi yang cukup berat.
17

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1.

Ganong, .W, 2002. BUKU AJAR FISIOLOGI KEDOKTERAN,


Jakarta : EGC

2.

Guyton & Hall, 2002. BUKU AJAR FISIOLOGI KEDOKTERAN,


Jakarta : EGC

3.

Anonimous, 2009. Trauma Kapitis. Available HYPERLINK online at


http://dokmud.wordpress.com/2009/10/23/trauma-kapitis/.

Diakses

tanggal 6 April 2010.


4.

Yayanakhar, 2008. Cedera KEpala ( head injury ). Available


HYPERLINK

online

at

http://yayanakhar.wordpress.com/2008/04/25/cedera-kepala-headinjury/. Diakses tanggal 7 April 2010.


5.

Ahmad Mufti, S. kep, 2008. Cedera Kepala. Available HYPERLYNK


online at http://ilmukeperawatan.net/index.php/artikel/7-saraf/8-head
-injury.pdf. diakses tanggal 6 April 2010.

6.

Asra alfauzi, 2009. cedera kepala. Available HYPERLINK online at


http://moveamura.files.wordpress.com/2009/cedera-kepala.

diakses

tanggal 6 April 2010.


7.

Anonimous, 2009. Transfusi Darah. Available HYPERLINK online at


www.wikipedia.org/wiki/transfusi-darah. diakses tanggal 7 April 2010

8.

Anonimous, 2007. masalah transfusi darah, available HYPERLINK


online

at

http://www.kalbe.co.id/files/07Masalah-Transfusi-

Darah95.pdf. diakses tanggal 7 April 2010


9.

Anonimous, 2008. Transfusi Darah, available HYPERLINK online at


http://www.jevuska.com/2008/04/03/transfusi-darah. diakses tanggal 8
April 2010.

10.

Anonymous,
HYPERLINK

2007.

Pengertian
online

18

Transfusi
at

Darah.

Available
http://utdd-

PMIJatengblogspot.com/2007/08/pengertian-transfusi-darah-html.
Diakses tanggal 6 April 2010
11.

Anonimous, 2008. Indikasi Transfusi Darah. Available online at


http://jevuska.com/2008/04/03/indikasi-transfusi-darah.

diakses

tanggal 7 April 2010.


12.

Anonimous, 2010. Rumus Kebutuhan Transfusi Darah. Available


HYPERLINK

online

at

http://dokmud.wordpress.com/2010/02/12/rumus-kebutuhan-transfusidarah/. Diakses tanggal 8 April 2010


13.

Anonimous, 2008. Teknik Transfusi Darah. Available HYPERLINK


online at http://www.jevuska.com/2008/04/03/teknik-transfusi. Diakses
tanggal 7 April 2010

14.

Anonimous, 2008. Transfusi Sangat Darurat. Available online at


http://www.jevuska.com/2008/04/03/transfusi-sangat-darurat. Diakses
tanggal 8 April 2010

15.

Anonimous, 2009. Transfusi Darah. Available HYPERLINK online at


http://medicastore.com/penyakit/162/transfusi-darah.html.

Diakses

tanggal 8 April 2010


16.

Anonimous, 2008. Penanggulangan Reaksi Transfusi. Available


HYPERLINK

online

at

http://www.jevuska.com/2008/04/03/penanggulangan-reaksi-transfusi.
Diakses tanggal 9 April 2010

19