Anda di halaman 1dari 7

FENOMENOLOGI,

POSITIVISME

HERMENEUTIKA

DAN

FENOMENOLOGI, HERMENEUTIKA DAN POSITIVISME


(Essay ini dibuat sebagai tugas akhir mata kuliah Epistimologi Antropologi,
diambil dari berbagai sumber)Ditelaah Oleh : Hartono GS (Mahasiswa Ilmu Hukum/S3 UII)
FENOMENOLOGI
Fenomenologi adalah gerakan filsafat yang dipelopori oleh Edmund Husserl
(1859 1838). Salah satu arus pemikiran yang paling berpengaruh pada abad
ke-20. Sebut saja para filsuf seperti Ernst Cassier (neo-Kantianisme), Mc.Taggart
(idealisme), Fregge (logisisme), Dilthey (hermeneutika) Kierkergaard (filsafat
eksistensial), Derida (poststrukturalisme)semuanya sedikit banyak mendapat
pengaruh dari fenomenologi. Fenomenologi mencoba menepis semua asumsi
yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa fenomenologi
disebut sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya
menggapai hal itu sendiri lepas dari segala presuposisi. Langkah pertamanya
adalah menghindari semu konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan
sekaligus mengarahkan pengalaman.
Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama, dan kebudayaan,
semuanya harus dihindari sebis mungkin. Semua penjelasan tidak boleh
dipaksakan sebelum pengalaman menjelaskannya sendiri dari dan dalam
pengalaman itu sendiri.[1] Fenomenologi menekankan perlunya filsafat
melepaskan diri dari ikatan historis apapunapakah itu tradisi metafisika,
epistimologi, atau sains. Program utama fenomenologi adalah mengembalikan
filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan. Kembali ke kekayaan
pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan. Selain itu,
fenomenologi juga menolak klaim representasionalisme epistimologi modern.
Fenomenologi yang dipromosikan Husserl sebagai ilmu tanpa presuposisi. Ini
bertolak
belakang
dengan
modus
filsafat
sejak
Hegel
menafikan
kemungkinannya ilmu pengetahuan tanpa presuposisi. Presuposisi yang
menghantui filsafat selama ini adalah naturalisme dan psikologisme. Pengaruh
fenomenologi sangat luas. Hampir semua disiplin keilmuan mendapatkan
inspirasi dari fenomenologi. Psikologi, sosiologi, antropologi, sampai arsitektur
semuanya memperoleh nafas baru dengan munculnya fenomenologi.[2]
Penyamarataan ilmu-ilmu humaniora dengan ilmu-ilmu mendapatkan tentangan
keras dari filsuf-filsuf neo-Kantian yang menginginkan adanya pemilahan, baik
sacara metodologis, ontologis, dan epistimologis antara ilmu-ilmu humaniora dan
ilmu-ilmu alam.
Para Kantian merasa bahwa manusia tidak semata-mata ditentukan oleh
hukum maupun bertindak secara rasional semata (animal rationale), melainkan
juga memiliki kekayaan batin (emosi, kehendak, disposisi) yang tidak dapat
diukur begitu saja dengan model-model ilmu alam. Salah satu neo-Kantian dari
Mahzab Marburg bernama Ernst Cassier mengungkapkan konsepnya tentang
manusia sebagai animal symbolicum (makhluk simbolik) konsepnya ini
menentang konsep manusia yang dideterminasi oleh daya-daya atau stimulanstimulan eksternal seperti halnya benda-benda fisik. Cassier menolak pandangan
naturalisme yang dianut ilmu-ilmu alam (ada realitas material eksternal yang
berjalan secara deterministik dan independen dari subjek).[3]
HERMENEUTIKA

Ada tiga komponen pokok hermeneutika. Kesatu, adanya tanda, pesan


berita yang kerap berbentuk teks. Kedua, harus ada sekelompok penerima yang
bertanya-tanya atau merasa asing terhadap pesan itu. ketiga, adanya
perantara atau kurir antara kedua belah pihak. Terdapat dua aliran besar dalam
hermeneutika, yaitu hermeneutika romantik oleh Schleiermacher dan
hermeneutika
fenomenologi
Heidegger.[4]
Hermeneutika
romantik
Schleiermacher tidak terlepas dari konsepsi Schleiermacher mengenai bahasa
dan praktik penafsiran. Memahami berarti mengarahkan perhatian pada suatu
objek , yakni bahasa. Bahasa dapat dipahami sebagai dimensi supraindividual
dan dimensi individual. Tugas utama seorang hermeneutik adalah membawa
kembali kehandak makna yang menjadi jiwa suatu teks. Hermeneutik
fenomenologi Heidegger merupakan sesuatu yang kontradiki. Fenomenologi
adalah seni membiarkan fenomena berbicara sendiri, maka hermeneutika adalah
seni melihat fenomen sebagai teks yang mengundang pertanyaan untuk
kemudian diinterpretasikan. Hermeneutika fenomenologi hendak melepaskan diri
dari kerangka epistimologi dimana subjek tidak lagi berhadapan dengan objek
yang terhampar dihadapannya. Ia mengandaikan subjek selalu dan sudah berada
di dunia yang selalu dan sudah bermakna sebuah dunia yang bukan
representasi.[5]
POSITIVISME
Tesis positivisme adalah bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan
yang valid, dan fakta-fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi objek
pengetahuan. Dengan demikian, positivisme menolak keberadaan segala
kekuatan atau subjek di belakang fakta, menolak segala penggunaan metoda di
luar yang digunakan untu menelaah fakta. Dalam perkembangannya, ada
beberapa positivistik, yaitu : positivisme sosial, positivisme evolusioner,
positivisme kritis, dan positivisme logik.[6] Positivisme sosial adalah penjabaran
lebih lanjut kebutuhan manusia dan sejarah. Comte dalam studinya mengenai
sejarah perkembangan alam pikir manusia menjelaskan bahwa matematika
bukan ilmu, melainkan alat berfikir logik. Ia menjenjangkan perkembangan alam
pikir manusia yaitu teologik, metafisik, dan positif. Bentham dan Mill menyatakan
bahwa ilmu yang valid adalah ilmu yang dilandaskan pada fakta. Mereka
menolak otoritas apapun yang menyusupi ilmu. Positivisme evolusioner
berangkat dari fisika dan biologi yang menggunakan doktrin evolusi biologis.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Spencer menganggap evolusi adalah proses
dari homogen ke heterogen. Positivisme kritis atau empiriokritisme memandang
bahwa sesuatu ( bisa berupa masyarakat ataupun kebudayaan) itu adalah
serangkaian relasi inderawi, dan pemikiran kita adalah persepsi kita atau
representasi dari sesuatu tersebut. Positivisme logik banyak dikemukakan oleh
para pemikir dari neo-Kantian. Ia menolak segala bentuk etik transeden bahkan
ia menyarankan adanya unifikasi ilmu dan mengganti konsep variabilitas menjadi
konsep konfirmabilitas.[7]
Relasi antara Positivisme dan Gejala-Gejala Sosial
Tesis positivisme[8] adalah : bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan
yang valid, dan fakta-fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi objek
pengetahuan. Dengan demikian positivisme menolak keberadaan segala
kekuatan atau subjek diluar fakta, menolak segala penggunaan metoda di luar
yang digunakan untuk menelaah fakta. Atas kesuksesan teknologi industri abad
XVIII, positivisme mengembangkan pemikiran tentang ilmu pengetahuan

universal bagi kehidupan manusia, sehingga berkembang etika, politik, dan lainlain sebagai disiplin ilmu, yang tentu saja positivistik. Positivisme mengakui
eksistensi dan menolak esensi. Ia menolak setiap definisi yang tidak bisa digapai
oleh pengetahuan manusia. Bahkan ia juga menolak nilai (value). Dasar dari
pandangan positivistik dari ilmu sosial budaya tersebut yakni adanya anggapan
bahwa (a) gejala sosial budaya merupakan bagian dari gejala alami, (b) ilmu
sosial budaya juga harus dapat merumuskan hukum-hukum atau generalisasigeneralisasi yang mirip dalil hukum alam, (c) berbagai prosedur serta metode
penelitian dan analisis yang ada dan telah berkembang dalam ilmu-ilmu alam
dapat dan perlu diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial budaya[9]. Akibatnya, ilmu
sosial budaya menjadi bersifat predictive dan explanatory sebagaimana halnya
dengan ilmu alam dan ilmu pasti. Generalisasi-generalisasi tersebut merangkum
keseluruhan fakta yang ada namun sering kali menegasikan adanya contramainstream. Manusia, masyarakat, dan kebudayaan dijelaskan secara
matematis dan fisis.[10]
Kritik
terhadap
Positivistik

Pendekatan

Fenomenologi,

Hermeneutik,

dan

Kaplan dan Manners berpendapat : Tidak seorang pun memiliki


kemampuan untuk mengetahui secara langsung pikiran orang lain. Kaidah
kognitif, hukum, dan kode, pada akhirnya hanyalah sekedar inferensisimpulan
yang boleh jadi betul tetapi boleh jadi juga keliruyang dibuat oleh etnograf. Hal
tersebut adalah konsepsi etnograf mengenai kemungkinan konsepsi
informannya. Akan tetapikarena inferensi itu harus dituangkan dalam sesuatu
bentuk yang dapat dipahami tidak hanya oleh etnografnya sendiri melainkan
juga oleh para sejawatnya, maka si etnograf harus menggunakan kategori
pemikiran yang berpijak pada antropologi dan tidak hanya pada informan warga
pribumi yang bersangkutan saja. Tak terelak lagi, kita semua adalah
komparativis.[11] Jika dialek dikesampingkan, satu, dua, tiga informan munkin
sudah memadai. Itu karena penutur asli membuat jenis pembedaan yang sama
dalam hal fonem. Artinya, meraka semua sama-sama merupakan pendukung
bahasa tersebut. Akan tetapi semua individu yang membentuk suatu budaya
tidaklah mengambil bagian atau berperan dalam budayanya secara demikian.
Kendati Aberlee menekankan interaksi dan interdependensi, bukan kognisi,
pendapat yang diajukannya mirip dengan pandangan Wallace. Ini berarti realitas
cultural mungkin dapat berbeda-beda bagi pemimpin / pemuka dan bagi warga
biasa, dan seterusnya. Bila diterapkan dengan kewaspadaan yang sepatutnya,
model linguistic ini memang dapat membuahkan banyak hasil dan juga penuh
daya saran dalam menangani jenis-jenis masalah tertentu. Akan tetapi bila kita
melupakan sifat parsial dan isomorfis dalam analogi linguistik ini, mungkin lalu
timbul pertanyaan dalam wujud yang menyulitkan perolehan pemecahan atau
jawab-nya. Kendato Kaplan dan Manners banyak melontarkan kritik terhadap
linguistik, namun mereka menyarankan untuk tidak membuang model linguistik
tersebut. Hanya saja perlu disadari bahwa model linguistic inisepertihalnya
dengan
pendekatan
lainjuga
memiliki
keterbatasan
tertentu.
[12]
Studi terhadap manusia terkait dengan permasalahan menyangkut tindakan
yang penuh makna. Seseorang manusia itu dapat merasakan dunia ini sarat
dengan makna dan tindakan yang penuh makna pula. Hal inilah yang kemudian
merupakan pembeda antara studi tentang manusia dengan ilmu-ilmu fisik. Studi
tentang manusia terfokus pada ide-ide, aspirasi, tindakan-tindakan yang memiliki

tujuan, kreasi yang artistik, perangkat manusia, peraturan yang dibentuk untuk
mereka sendiri, dan lembaga-lembaga yang mereka ciptakan. Pada ilmu-ilmu
fisik, perhatian lebih pada problem eksperimental dan spekulasi terhadap materi
secara kebendaan dan perhitungannya. Dalam ilmu fisik, sulit dibedakan antara
mana yang teori dan mana yang fakta karena teori yang terbentuk semata-mata
berasal dari fakta yang secara empiris melekat pada aspek kebendaan yang
menjadi objek studinya. Misalnya dalam upaya pengklasifikasian, ilmu fisik lebih
kepada mencari unsur-unsur kesamaan pada pola-pola teoritis yang telah ada
secara umum tanpa harus terlebih dahulu mengutamakan common sense
terhadap
objek
material
tersebut.
Teori ilmu pengetahuan ataupun epistimologi memiliki perhatian yang besar
pada pengujian terhadap berbagai asumsi. Ia berupaya mencapai kepuasan
intelektual pada fondasi secara utuh dari ilmu pengetahuan kita dan
memperhatikan bagaimana suatu pemikiran mengambil posisinya terhadap
realitas. Yang menarik di sini yaitu upaya epistimologi untuk berusaha melihat
dan menguji bagaimana seseorang mengetahui melalui proses berfikirnya. Fokus
garapannya yaitu ada proses, sehingga perdebatannya menyangkut bagaimana
metodologi berfikir sehingga sesuatu itu dapat diterima sebagai suatu
kebenaran. Kita perlu bersepakat mengenai hubungan dari apa yang kita terima
sebagai fakta kepada yang lainnya dan tidak dengan kekusutan hubungan yang
berlebihan antara fakta-fakta dan perangkat kognitif dari pengamat yang
bersangkutan. Baik melalui investigasi secara ilmiah, refleksi filosofis, dan
penerimaan secara akal sehat. Studi tentang manusia secara partikular telah
tertahan oleh percobaanya dalam menegakkan sebuah titik awal yang jelas dan
mandiri secara teoritis. Alternatifnya yaitu menolak pemikiran terhadap titik awal
yang absolut dan mengizinkan apapun aksi filosofis yang ada dalam asumsi
terdahulu. Refleksi pemikiran tentu saja bukan berupa alat tulis yang siap untuk
digunakan menulis, tidak juga sebagai subjek pembuka pengetahuan yang
murni, melainkan mata intelektualnya yang pertama kali melihat dunia yang
asing baginya. Terdapat abstraksi buatan yang tidak sederhana, tidak
bertentangan, dan secara murni merupakan permulaan secara teoritis. Hal yang
terpenting dalam aspek kehidupan manusia yaitu menyangkut kesadaran
(consciousness). Berfikir tidak hanya menyangkut bagaimana memperhitungkan
sesuatu dan mencari pemecahan terhadap sesuatu permasalahan yang dihadapi,
melainkan juga merasakan, membangun semangat, memiliki keinginan dan
perhatian yang mana mewarnai pemikiran dan secara integral terhadap konsep
kedirian. Dengan demikian kita bisa mengkoordinasi keinginan dan membuat
rencana. Kita mengatur tindakan dan prinsip-prinsip yang kita pegang.
Apapun yang disebut dengan pengalaman ditentukan melalui pengaturan
pada aspek psikologis dan diwarnai ataupun didistorsi oleh kebutuhan dan
kepentingan. Kemampuan kita untuk memaknai suatu pengalaman tergantung
pada anugerah yang diwariskan dari kecerdasan, ingatan, perhatian, sama
baiknya dengan warisan dari sosial dan budaya. Bahasa, ide-ide, pengetahuan
yang utuh, persangkaan oleh massa merupakan hasil dari suatu proses sejarah.
Titik awal ini mengandung elemen dari fakta yang tidak bisa direduksi. Figur
yang mengendalikan hal tersebut memiliki kapasitas ganda; pertama sebagai
persangkaan terhadap ilmu pengetahuan, kedua sebagai pengetahuan itu
sendiri. Dengan kata lain, kita dipaksa untuk menguji kembali alam
pengetahuan. Kita terlibat dalam suatu lingkaran dimana pengetahuan
merampas pengertian absolutnya dan harus menjadi bagian dari kesatuan realis
yang naif. Pengetahuan dinyatakan sebagai suatu yang relatif atau dibatasi oleh

suatu titik tegak. Menurut saya, kita bisa saja berusaha memberikan penerangan
/ pencerahan, tetapi bukan secara objektif melainkan berkenaan pada perspektif
terhadap kondisi manusia, yang mana ia sendiri sebagai objek penyelidikan.
Ketika kita memperdebatkan secara objektif dengan mengambil batasan
dari konteks yang dijelaskan, maka kita telah mengambil kondisi epistimologis
sebagai jaminannya. Bila pada titik awal filosofis yang mana keseluruhan
problem dari ilmu pengetahuan dikemukakan sebagi suatu gagasan, maka kita
tidak dapat menghindar dari perspektif psikologis, sosiologis, dan historis dimana
setiap aksi kognitif berada. Ketika kita telah berketetapan untuk merangkum
keseluruhan ilmu pengetahuan, maka kita tak bisa mengambil langkah di luar
aspek keilmuan. Kita berusaha menginterpretasi suatu perihal yang mana ketika
kita baru memulai tugas itu, sesungguhnya hal tersebut telah diinterpretasikan
pada masa yang lalu. Tujuan yang ingin dicapai adalah memperoleh konsistensi
yang lebih besar dan meningkatkan kesadaran terhadap diri kita sendiri.
Keseluruhan struktur ilmu pengetahuan bukanlah suatu gambaran dari realitas
melainkan suatu reasi dari manusia ke dalam suatu keputusan dan evaluasi.
Dunia dipandang dan diorganisir dari suatu poin khusus dan ditentukan oleh
perangkat kognitif dan dengan jalan inilah maka hal itu diinterpretasikan.
Proses ini nampak pada penggunaan kita dalam berbahasa. Misalnya
menyangkut suatu pengklasifikasian. Berangkat dari hal tersebut di atas maka
saya berpendapat bahwa ilmu pengetahuan merupakan rangkaian interpretasi
yang hadir melalui suatu metode yang cermat dan memiliki tujuan tertentu.
Filsafat, agama, dan mitos menginterpretasikan aspek mendasar dengan cara
yang bervariasi. Tegasnya, interpretasi membuat dunia sarat dengan makna bagi
manusia. Namun apabila kita tidak dapat melangkah di luar perspektif yang
diciptakan dari interpretasi kita sendiri, maka kita tidak bisa menjawab
pertanyaan tentang konsepsi kita terhadap realitas. Yang dapat dilakukan yaitu
membuat hal ini tetap konsisten dan komprehensif. Memperlakukannya sebagai
fakta dari kehidupan manusia dan subjek dari studi tentang manusia. Hal ini
tentu saja menyerap pemaknaan yang dibawa oleh interpretasi manusia
terhadap dunianya. Melalui pengujian mengenai terbitnya suatu makna, maka
kita dapat menyajikan studi tentang manusia dari basis epistimologis yang kita
miliki. Kesadaran terhadap kedirian diri sendiri dan terhadap dunia, hampir selalu
diiringi oleh konseptualisasi dalam hal bahasa.
Dalam merasakan sesuatu tentunya setiap individu memiliki perbedaan
sebab individu tersebut mengklasifikasikannya dalam pengalaman dan
menempatkannya dalam konteks ingatan dan pengetahuan secara umum yang
dimilikinya secara individual. Pendekatan secara linguistik yang masuk akal
terhadap pemaknaan terletak pada faktanya. Selanjutnya lahirlah pertanyaan
yaitu, Apa yang membuat suatu situasi menjadi sarat dengan makna?.
Pertanyaan selanjutnya yaitu, Apa yang membuat pernyataan ini menjadi penuh
makna?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, maka sebaiknya kita
merujuk pada makna non-linguistik yang kita pakai dalam percakapan seharihari. Perbedaannya justru lebih menggelapkan daripada mencerahkan jika halhal tersebut jarang diperlakukan melalui perluasan secara analogis dalam makna
yang terdapat pada akal linguistik. Makna dari tindakan-tindakan, makna dari
berbagi situasi, memiliki tempat yang begitu penting. Bila filsafat berusaha
menemukan relevansinya dengan studi tentang manusia maka proses
analisisnya berupa makna pada kata-kata. Sebagai gambaran, maka cobalah
untuk menceritakan suatu hal yang sama dengan gaya bahasa bercerita yang
berbeda.

Perluasan menyangkut fitur berbeda dalam situasi yang sama,


membuatnya memiliki makna yang lebih banyak ataupun justru menjadi tanpa
makna. Ekspresi yang berbeda dapat memperjelas dan memperkuat satu sama
lainnya. Manusia mendapatkan situasi sebagai suatu yang sarat makna karena
diperlakukan demikian oleh mereka, dan memberi respon kepada mereka,
menghubungkannya
terhadap
situasi
yang
lain,
menghakimi
dan
menginterpretasinya dalam ingatan. Makna menjadi lebih ataupun kurang
kompleks. Namun makna bagi seseorang dikonfrontasikan dengan situasi.
Sehingga subjektivitas terhadap makna menjadi hal yang lazim. Makna yang
didapatka oleh seseorang dapat difahami oleh orang lain. Dalam hal tersebut
terjadilah persebaran makna (shared of meaning). Fakta bahwa hubungan
pengalaman yang mengatur kategiri hanya pada kasus di diri kita sendiri dan
interpretasi kita terhadap perilaku orang lain yang didasari pengalamannya, tidak
berarti bahwa hal itu mengakibatkan masuknya pengaruh pada mental kita
sendiri diperlakukan sebagi sesuatu yang tak boleh salah ataupun lebih jujur
dibandingkan interpretasi kita terhadap perilaku orang lain. Ini adalah inti pada
penelitian secara empiris, dan bukan sebagai keputusan secara teoritis. Terdapat
pula kategori yang lain, yakni hubungan antara bagian-bagian kepada
keseluruhan. Misalnya struktur gramatikal yang mengartikan suatu kata benda
ataupun kata kerja merupakan suatu pola trsanslasi yang ditemukan di dalam
kamus. Makna dari bentuk dan tindakan menjadi lebih jelas ketika
menghubungkannya kepada tindakan yang lain dan bentuk yang lain dan pada
situasi sesuai di mana mereka berada. Akhirnya, kita menempatkan objek pada
suatu konteks yang utuh.
Adapula kategori yang lain lagi, yaitu pengkonseptualisasian hubungan
yang memakai dan juga dipakai oleh suatu lingkungan. Biasanya disebut kategori
dari kekuasaan. Sesuatu kejadian menjadi bermakna sesuatu apabila masuk
sebagi sesuatu yang tak terelakkan. Hal ini menjadi istimewa ketika merupakan
pangalaman aktual dari manusia. Disebut sebagai kategori dari kekuasaan
karena kekuasaan atau kekuatan dari pengalaman saat kita dibebani oleh
keadaan eksternal ataupun kita yang mempengaruhi keadaan tersebut. Kategori
selanjutnya yaitu kategori nilai. Dalam kategori ini terdapat penghakiman yang
mana terdapat pemberian pengankuan terhadap suatu makna pada suatu situasi
dengn menghubungkannya kepada kepuasan ataupun ketidakpuasan,
kenyamanan atau kesakitan, keterbuktian ataupun ketidakterbuktian. Situasisituasi tersebut menadi sarat makna dalam aspek emosi yang positif dan negatif.
Bagian-bagian jalan yang berbeda yang dibangun dari moral, estetika, ataupun
putusan secara ekonomis tidaklah pada sesuatu yang diejawantahkan tetapi
pada pengalaman menyangkut penilaian sebagai sesuatu yang biasa dan
universal. Terakhir, adalah kategori yang memformulasi yang menghubungkan
antara situasai dan tujuan.
Ketegori ini disebut dengan kategori makna dan akhirnya. Sesuatu menjadi
bermakna bagi kita apabila hasilnya adalah apa yang kita tuntut. Kategori ini
memiliki unsur kesamaan dengan kategori sebelumnya. Kita akan berusaha
mewujudkan sesuatu yang bagi kita menyenangkan atau berharga. Tetapi kedua
ketegiri ini tak isa direduksi menjadi satu. Karena sesuatu yang diangga
barmakna pada akhir tujuannya, belum tentu hal itu memiliki nilai yang
berharga. Menginginkan suatu kesenangan dari sutu yang telah terlaksana
terhadap sesuatu yang perlu untuk dilakukan tidaklah sama dengan
menginginkan sesuatu untuk dilakukan. Tidak hanya pada bagaimana kita
mengatur diri kita sendiri sebagai tuajuan yang penuh makna, tetapi juga
tampak sebagai suatu yang disediakan sebagai makna dari tujuan itu.

Penjelasan di atas menunjukkan bagaimana uniknya hidup manusia, yang


mana manusia dapat membuat dunia disekitarnya menjadi bermakna dengan
cara mengatur dirinya sendiri sebagai suatu kumpulan dari tujuan-tujuan dan
mencari makna yang diperolehnya. Beberapa dari tujuan itu berakar pada
pengaturan pada corak psikologis dan kebutuhan biologis. Selebihnya diciptakan
dari diri kita sendiri ataupun dari tradisi. Oleh karena kategori ini berakar dari hal
yang fundamental dari kehidupan manusia, yang mana kita menggunakan
semua simbol, memiliki perasaan, mengharapkan sesuatu, mempunyai satu
kesatuan tetapi kesadaran yang kompleks; maka dalam penginterpretasiannya
menjadi bersifat universal. Terhadap hal di atas, bagaimanapun juga, kita
tidaklah dapat mendaftarkan keseluruhan kategori tersebut ke dalam satu daftar
namun kita juga tak bisa mengecualikan sebagian. Secara spesifik, kategori
tersebut memiliki semacam peran dalam kehidupan mental kita. Kepercayaan
yang terbagi pada suatu zaman atau bingkai kerja filosofis mungkin bisa
menyediakan jalan untuk bisa melihat suatu situasi menjadi bermakna. Sebagai
contoh, perhatian dalam suatu pembangunan memiliki fungsi pada ketegori yang
mengorganisir konsepsi dari negara yang suksesif dari unit-unit pendukungnya.
Ini cukup beralasan manakala itu berakar pada pengalaman yang matang, atau
hasil dari agama dan ide-ide filosofis dari peradaban. Di sisi lain, menggunakan
perhatian pada kelas sosial sebagai suatu kategori dan menginterpretasikan
situasi merupakan bagian dari suatu bagian ideologi yang begitu jelas.