Anda di halaman 1dari 25

STATUS NEUROLOGIS

NAMA
UMUR
KELAMIN
AGAMA
Suku/bangsa
ALAMAT

: Tn. T
: 64 tahun
: Laki-laki
: Islam
: Jawa
: Cibitung

Tgl. Pemeriksaan : 13 Februari 2015


Oleh Asisten/dr. Bangsal :
Bangsal/Kamar : Anggrek
Masuk RS.
: 2 Februari 2015
Keluar RS
:
Meninggal
:

DIAGNOSA MASUK

: Cephalgia dan Tetraparese

DIAGNOSA KELUAR

Code :

I. ANAMNESE
Keluhan Utama : Badan lemas sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit
Anamnese Terpimpin : Dilakukan autoanamnesis dan alloanamnesis terhadap anak pasien.
-

Informasi mengenai keluhan utama


Pasien datang ke RSUD Kabupaten Bekasi dengan keluhan badan lemas sejak 1 hari
sebelum masuk rumah sakit. Keluhan ini dirasakan setelah pasien terjatuh dari tempat
tidur. Keluarga mengatakan kepala pasien tidak terbentur dan pasien tidak pingsan.
Keluhan disertai mual namun tidak muntah. Pasien juga mengeluh sering merasakan
nyeri kepala yang hilang timbul sejak 6 bulan sebelum masuk rumah sakit. Nyeri
kepala yang dirasakan berdenyut dan terasa pada bagian depan kepala. Pasien hanya
mengkonsumsi obat warung untuk meredakan nyeri kepalanya. Pasien mengaku sejak
2 bulan yang lalu nyeri kepala semakin sering dan terasa semakin berat, lalu pasien
mengatakan, lengan dan tungkai pasien mulai terasa lemas sejak 3 minggu SMRS dan
pasien sering terjatuh bila sedang berjalan sehingga pasien harus dituntun bila
berjalan. Tangan pasien juga tidak bisa menggenggam sehingga tidak bisa makan
sendiri. Tidak ada gangguan berbicara. Buang air besar dan buang air kecil tidak ada
keluhan.

Informasi riwayat penyakit terdahulu (penyakit yang mungkin mendasari KU dan


penyakit-penyakit yang pernah diderita)
Riwayat hipertensi (-), Diabetes Melitus (-), riwayat trauma kepala (-), riwayat stroke
sebelumnya (-), riwayat pengobatan paru (-).

Anamnese tentang pekerjaan/keluarga/hobi/dan sebagainya


Pasien tidak bekerja, sehari-hari hanya mengerjakan pekerjaan ringan. Pasien tidak
memiliki hobi yang spesifik. Pasien tinggal di lingkungan padat penduduk dan
keluarga pasien termasuk dari golongan keluarga kelas menengah ke bawah.

II. PEMERIKSAAN FISIS


Pemeriksaan Umum
- Kesan
: Tampak sakit sedang
- Kesadaran : GCS = E4 M6 V5
- Gizi
: cukup

- Tensi : 100/70 mmHg


- Anemis : -/- Nadi : 80x/menit regular
- Ikterus : -/- Suhu : 36,8c
- Sianose : -/- Pernafasan : 20x/menit reguler

TORAKS : - Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris dalam keadaan statis dan dinamis
- Palpasi
- Perkusi

: Nyeri tekan/lepas (-), krepitasi (-), iktus kordis teraba.


: Sonor pada seluruh lapang paru
Batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop(-)
ABDOMEN : - Inspeksi
: datar, sikatrik (-), hematom (-)
- Auskultasi : Bising usus (+) normal
- Palpasi
: Supel, tidak terdapat nyeri tekan dan tidak teraba adanya
pembesaran hepar ataupun lien
- Perkusi
: Timpani pada seluruh kuadran abdomen
Pemeriksaan Psikiatris
-

Emosi dan effek


Proses berfikir
Kecerdasan

: normal
: normal
: normal

Status Neurologis : GCS = E4 M6 V5


1. Kepala : - posisi
: sesuai tempatnya

- Penyerapan : normal
- Kemauan
: normal
- Psikomotor : normal
- bentuk/ukuran : normocephal
2

penonjolan : (-)

2. Urat Saraf Kranial :


N. olfaktorius ( N. I )
- Daya penciuman hidung : baik

N. opticus ( N. II )
- Tajam penglihatan
- Lapang penglihatan
- Funduskopi

:
:
:

OD
baik
baik
tidak dilakukan

OS
baik
baik
tidak dilakukan

N. occulomotorius, N. trochlearis, N. abducen ( N.III-N.IV-N.VI )


- Celah Kelopak mata :
Ptosis
: -/Exopthalmus
: -/- Ptosis Bola Mata
: -/- Pupil
Ukuran/bentuk
: < 3mm / bulat
Isokor/anisokor
: isokor
Reflek cahaya langsung
: +/+
Reflek cahaya tidak langsung : +/+
Reflek Akomodasi
:
- Gerakan bola mata
Parese kearah : (-)
Nistagmus
: (-)

N. trigeminus ( N. V )
- Sensibilitas
:- N. V1 : kanan dan kiri sama
- N. V2 : kanan dan kiri sama
- N. V3 : kanan dan kiri sama
- Motorik
: - inspeksi/palpasi : baik
- Refleks dagu/masseter : baik
- Refleks cornea
: baik

N. fascialis ( N. VII )
- Motorik
: m. Frontalis
m. Orbik.oculi
* istirahat
: baik
baik
* gerakan mimik : baik
baik
- Pengecapan 2/3 depan lidah : tidak dilakukan

m. Orbik.oris
baik
baik

N. acusticus ( N. VIII )
- Pendengaran
: baik
- Test rinne/weber : tidak dilakukan
- Fungsi vestibularis

N. glossopharingeus dan N. vagus ( N. IX dan N. X )


- Posisi Arcus pharingeus (Istirahat/AAH) :
- Suara
: baik
- Reflek telan/muntah
: tidak dilakukan
- Pengecap 1/3 lidah bagian belakang
: tidak dilakukan
- Bradikardi/takikardi
:-

N. accesorius ( N. XI )
- M. Sternocleidomastoideus
- M. Trapezius

: kanan dan kiri simetris


: kanan dan kiri simetris

N. hipoglossus ( N. XII )
- Atropi
- Fasikulasi
- Deviasi
- Tremor
- Ataksia

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

3. Leher :
- Tanda-tanda perangsangan selaput otak : - kaku kuduk : (-)
- kernigs sign : (-)
- laseque sign : (-)
- Brudzinski : (-)
- kelenjar lymphe : tidak ada pembesaran
- arteri karotis :
- palpasi
: dalam batas normal
- auskultasi : tidak terdapat bruit
- kelenjar gondok : tidak ada pembesaran
4. Abdomen :
- Reflek kulit dinding perut : (+)
5. Kolumna Vertebralis :
- inspeksi
: tidak dilakukan
- pergerakan : tidak dilakukan

- palpasi
- perkusi

: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

6. Sistem motorik
- Gerak
- Kekuatan otot
- Tonus
- Klonus

:
:
:
:
:

Superior ka / ki
terbatas/terbatas
3/2
hipertonus
-/-

7. Reflek fisiologis :
- Bicep
:
- Pattela
:
- Trisep
:
- Achiles
:

Dekstra
(+)
(+)
(+)
(+)

8. Reflek patologi
- Hoffman trommer
- Babinsky
- Chaddock
- Oppenheim
- Schaefer
- Gordon
- Gonda

: (-) / (-)
: (-) / (-)
: (-) / (-)
: (-) / (-)
: (-) / (-)
: (-) / (-)
: (-) / (-)

9.Sensibilitas
- Rasa raba
- Rasa nyeri
- Rasa suhu panas
- Rasa suhu dingin

: kanan dan kiri sama


: kanan dan kiri sama
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

Inferior ka / ki
terbatas/terbatas
3/2
hipertonus
-/Sinistra
(+)
(+)
(+)
(+)

10. Propioseptif
- Rasa sikap : baik
- Rasa getar : tidak dilakukan
11. Otonom
- Alvi
: baik
- Uri
: baik
- Hidrosis : baik
12. Pemeriksaan fungsi luhur :
- memori
: baik
-fungsi bahasa
: baik
- visuospasial
: baik

- fungsi eksekutif :
- fungsi psikomotorik (praksia) :
- kalkulasi
: tidak dilakukan
- gnosis
: tidak dilakukan
5

III. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Hasil Laboratorium (2 Februari 2015)

Jenis Pemeriksaan
Hb
Leukosit
LED
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit
Eritrosit
Ht
Trombosit
SGOT
SGPT
Glukosa Sewaktu
Ureum
Kreatinin
Anti HIV
Na
K
Cl
CEA
PSA
-

Urine
Liquor Cerebrospinalis

HEMATOLOGI
Hasil
13,4
9.400
15
0
0
1
80
14
5
4,6
38,4
315
KIMIA DARAH
34
14
94
15
0,6
Non Reaktif
ELEKTROLIT
144
4,0
105
PENANDA TUMOR
138,29
0,58

Nilai Rujukan
P: 14-16, W: 12-16 g/dl
3.500-10.000/mm
P: <10, W: <20 mm/jam
0
0-3
2-6
50-70
20-40
2-8
3,8-5,8 jl/mm3
35-50
150-400 ribu/mm3
P: <38, W: <32 U/L
P: <41, W: <31 U/L
<170 mg/dl
15-45 mg/dl
P: 0,7-1,2 ; W: 2,4-5,7 mg/dl
Non Reaktif
136-145 mEq/l
3,3-5,1 mEq/l
98-106 mg/dl
5
4

: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan

IV. PEMERIKSAAN RADIOLOGI & PEMERIKSAAN LAIN-LAIN


CT Scan
USG Abdomen : dalam batas normal
Rontgen Toraks :
V. RESUME

Pasien datang ke RSUD Kabupaten Bekasi dengan keluhan badan lemas sejak 1 hari sebelum
masuk rumah sakit. Keluhan disertai mual namun tidak muntah. Pasien juga mengeluh sering
merasakan nyeri kepala yang hilang timbul sejak 6 bulan sebelum masuk rumah sakit. Nyeri
kepala yang dirasakan berdenyut dan terasa pada bagian depan kepala. Pasien mengaku sejak
2 bulan yang lalu nyeri kepala semakin sering, meluas dan terasa semakin memberat, lalu
pasien mengatakan lengan dan tungkai pasien mulai terasa lemas sejak 3 minggu SMRS dan
pasien sering terjatuh bila sedang berjalan sehingga pasien harus dituntun bila berjalan.
Tangan pasien juga tidak bisa menggenggam sehingga tidak bisa makan sendiri.
Pemeriksaan Umum
-

Kesan
: Tampak sakit sedang
Kesadaran : GCS = E4 M6 V5
Tanda vital : TD :100/70 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Lain-lain dalam batas normal

Respirasi : 20 kali/menit
Suhu
: 36,8 C

Pemeriksaan Neurologis
Sistem motorik
- Gerak
- Kekuatan otot
- Tonus
- Klonus

:
:
:
:
:

Superior ka / ki
terbatas/terbatas
3/2
hipertonus
-/-

Inferior ka / ki
terbatas/terbatas
3/2
hipertonus
-/-

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
- LED
- Penanda tumor CEA
PEMERIKSAAN PENUNJANG
CT-Scan
Kesan :
Thorax Foto
Kesan :
VI. DIAGNOSA
- Diagnosis klinis
- Diagnosis Topis
- Diagnosis Etiologis

: Cephalgia, Tetraparase tipe UMN


:
: Space Occupying Lesion, hidrosefalus
7

VII. DIAGNOSA BANDING


- Tuberkuloma
VIII. TERAPI
- Posisi kepala ditinggikan 200 - 300
- Manitol
- Konsul bedah saraf
IX. PROGNOSA
- Quo ad vitam

: dubia ad malam

Quo ad fungsionam

: dubia ad malam

Quo ad sanactionam

: dubia ad malam

X. ANJURAN

TINJAUAN PUSTAKA
Space Occupying Lesion (SOL)
I.

Definisi
SOL (Space Occupying Lesion) merupakan generalisasi masalah tentang adanya lesi
pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Banyak penyebab yang dapat
8

menimbulkan lesi pada otak seperti kontusio serebri, hematoma, infark, abses otak dan tumor
intracranial.
Karena cranium merupakan tempat yang kaku dengan volume yang terfiksasi maka
lesi-lesi ini akan meningkatkan tekanan intracranial. Suatu lesi yang meluas pertama kali
diakomodasi dengan cara mengeluarkan cairan serebrospinal dari rongga cranium. Akhirnya
vena mengalami kompresi, dan gangguan sirkulasi darah otak dan cairan serebrospinal mulai
timbul dan tekanan intracranial mulai naik. Kongesti venosa menimbulkan peningkatan
produksi dan penurunan absorpsi cairan serebrospinal dan meningkatkan volume dan terjadi
kembali hal-hal seperti diatas.
Posisi tumor dalam otak dapat mempunyai pengaruh yang dramatis pada tanda-tanda
dan gejala. Misalnya suatu tumor dapat menyumbat aliran keluar dari cairan serebrospinal
atau yang langsung menekan pada vena-vena besar, meyebabkan terjadinya peningkatan
tekanan intracranial dengan cepat. Tanda-tanda dan gejala memungkinkan dokter untuk
melokalisirlesi akan tergantung pada terjadinya gangguan dalam otak serta derajat kerusakan
jaringan saraf yang ditimbulkan oleh lesi. Nyeri kepala hebat, kemungkinan akibat
peregangan durameter dan muntah-muntah akibat tekanan pada batang otak merupakan
keluhan yang umum.Suatu pungsi lumbal tidak boleh dilakukan pada pasien yang diduga
tumor intracranial. Pengeluaran cairan serebrospinal akan mengarah pada timbulnya
pergeseran mendadak hemispherium cerebri melalui takik tentorium kedalam fossa cranii
posterior atau herniasi medulla oblongata dan serebellum melalui foramen magnum. Pada saat
ini CT-scan dan MRI digunakan untuk menegakkan diagnosa.

II. Etiologi
a.

Kontusio serebri
Konstusio serebral merupakan cedera kepala berat, dimana otak mengalami
memar, dengan kemungkinan adanya daerah hemoragi. Pasien berada pada periode tidak
sadarkan diri. Gejala akan muncul dan lebih khas. Pasien terbaring kehilangan gerakan;
denyut nadi lemah, pernapasan dangkal, kulit dingin dan pucat. Sering terjadi defekasi
dan berkemih tanpa disadari. Pasien dapat diusahakan untuk bangun tetapi segera masuk

kembali ke dalam keadaan tidak sadar. Tekanan darah dan suhu subnormal dan gambaran
sama dengan syok.
Umumnya, invidu yang mengalami cedera luas mengalami fungsi motorik
abnormal, gerakan mata abnormal,dan peningkatan TIK mempunyai prognosis buruk.
Sebaliknya, pasien dapat mengalami pemulihan kesadaran komplet dan mungkin
melewati tahap rangsang serebral.
b.

Hematoma
Hematoma (pengumpulan darah) yang terjadi di dalam kubah cranial adalah
akibat paling serius dari cidera kepala. Hematoma disebut sebagai epidural, subdural
atau intraserebral, bergantung pada lokasinya. Efek utama adalah seringkali lambat
sampai hematoma tersebut cukup besar untuk menyebabkan distorsi dan herniasi otak
serta peningkatan TIK.

c.

Abses
Abses otak merupakan kumpulan dari unsur-unsur infeksius dalam jaringan otak.
Ini dapat terjadi melalui invasi otak langsung dari trauma Intrakranial atau pembedahan.;
melalui penyebaran infeksi dari daerah lain seperti sinus, telinga dan gigi (infeksi sinus
paranasal, otitis media,, sepsis gigi); atau melalui penyebaran infeksi melalui penyebaran
infeksi dari organ lain (abses paru-paru, endokarditis infektif); dan dapat menjadi
komplikasi yang berhubungan dengan beberapa bentuk meningitis. Abses otak
merupakan komplikasi yang dikaitkan dengan beberapa bentuk meningitis. Abses otak
adalah komplikasi yang meningkat pada pasien yang system imunnya disupresi baik
karena terapi atau penyakit. Untuk mencegah abses otak maka perlu dilakukan
pengobatan yang tepat pada otitis media, mastoiditis,sinusitis,infeksi gigi dan infeksi
sistemik.

d.

Tumor Intrakranial
Tumor Intrakranial meliputi lesi desak ruang jinak maupun ganas yang tumbuh di
otak, meningen, dan tengkorak. Klien tumor Intrakranial datang dengan berbagai gejala
yang membingungkan oleh karena itu penegakkan diagnosis menjadi sukar. Tumor
Intrakranial dapat terjadi pada semua umur, tidak jarang menyerang anank-anak dibawah

10

usia 10 tahun, tetapi paling sering terjadi pada orang dewasa pada usia 50-an dan 60-an.
Klasifikasi tumor saraf pusat oleh World Health Organization (WHO), yaitu :
1. Tumor neuroepitelial
a. Tumor glial

Astrositoma
-

Astrositoma pilositik

Astrositoma difus

Astrositoma anaplastik

Glioblastoma

Xantoastrositoma pleomorfik

Astrositoma subependimal sel raksasa

Tumor oligodendroglial
-

Oligodendroglioma

Oligodendroglioma anaplastik

Glioma campuran (mixed glioma)


-

Oligoastrositoma

Oligoastrositoma anaplastik

Tumor ependimal
-

Ependimoma myxopapilari

Subependimoma

Ependimoma

Ependimoma anaplastik

Tumor neuroepitelial lainnya


-

Astroblastoma

Glioma koroid dari ventrikel III

Gliomatosis serebri

b. Tumor neuronal dan campuran neuronal-glial

Gangliositoma

Ganglioglioma

Astrositoma desmoplastik infantil


11

Tumor disembrioplastik neuroepitelial

Neurositoma sentral

Liponeurositoma serebelar

Paraganglioma

c. Tumor non-glial

Tumor embrional

Ependimoblastoma

Meduloblastoma

Tumor primitif neuroektodermal supratentorial

Tumor pleksus khoroideus

Papiloma pleksus khoroideus

Karsinoma pleksus khoroideus

Tumor parenkim pineal


-

Pineoblastoma

Pineositoma

Tumor parenkim pineal dengan diferensiasi intermediet

2. Tumor meningeal
a. Meningioma
b. Hemangoperisitoma
c. Lesi melanositik
3. Tumor germ cell
a. Germinoma
b. Karsinoma embrional
c. Tumor sinus endodermal (yolk sac)
d. Khoriokarsinoma
e. Teratoma
f. Tumor germ cell campuran
4. Tumor sella
a. Adenoma hipofisis
b. Karsinoma hipofisis
12

c. Kraniofaringioma
5. Tumor dengan histogenesis yang tidak jelas
Hemangioblastoma kapiler
6. Limfoma system saraf pusat primer
7. Tumor nervus perifer yang mempengaruhi SSP
8. Tumor metastasis
e. Masalah serebral :
o Peningkatan produksi cairan serebrospinal
o Bendungan system ventricular
o Menurun absorbsi cairan serebrospinal
f. Edema serebral :
o Penggunaan zat kontras yang merubah homestatis otak
o Hidrasi yang berlebihan dengan menggunakan larutan hipertonik
o Pengaruh trauma kepala
III. Patofisiologi
Peningkatan tekanan Intrakranial adalah suatu mekanisme yang diakibatkan oleh
beberapa kondisi neurologi. Ini sering terjadi secara tiba-tiba dan memerlukan intervensi
pembedahan. Isi dari cranial adalah jaringan otak, pembuluh darah dan cairan serebrospinal.
Bila terjadi peningkatan satu dari isi cranial mengakibatkan peningkatan tekanan Intrakranial,
sebab ruang cranial keras, tertutup, tidak bisa berkembang.
Peningkatan satu dari beberapa isi cranial biasanya disertai dengan pertukaran timbal
balik dalam satu volume yang satu dengan yang lain. Jaringan otak tidak dapat berkembang,
tanpa berpengaruh serius pada aliran dan jumlah cairan serebrospinal dan sirkulasi serebral.
Space occupying lesion (SOL) menggantikan dan merubah jaringan otak sebagai suatu
peningkatan tekanan. Peningkatan tekanan dapat secara lambat (sehari/minggu) atau secara
cepat, hal ini tergantung pada penyebabnya. Pada pertama kali satu hemisphere dari otak
akan dipengaruhi, tetapi pada akhirnya kedua hemisphere akan dipengaruhi.
Peningkatan tekanan Intrakranial dalam ruang cranial pada pertama kali dapat
dikompensasi dengan menekan vena dan pemindahan cairan serebrospinal. Bila tekanan
makin lama makin meningkat, aliran darah ke serebral akan menurun dan perfusi menjadi
13

tidak adekuat, maka akan meningkatkan PCO2 dan menurunkan PO2 dan pH. Hal ini akan
menyebabkan vasodilatasi dan edema serebri. Edema lebih lanjut akan meningkatkan
tekanan Intrakranial yang lebih berat dan akan menyebabkan kompresi jaringan saraf.
Pada saat tekanan melampaui kemampuan otak untuk berkompensasi, maka untuk
meringankan tekanan, otak memindahkan ke bagian kaudal atau herniasi ke bawah. Sebagian
akibat dari herniasi, batang otak akan terkena pada berbagai tingkat, yang mana
penekanannya bisa mengenai pusat vasomotor, arteri serebral posterior, saraf okulomotorik,
traktus kortikospinal dan serabut-serabut saraf ascending reticular activating system.
Akibatnya akan mengganggu mekanisme kesadaran, pengaturan tekanan darah, denyut nadi,
pernafasan dan temperatur tubuh.

Bagan 1. Efek Peningkatan TIK

IV.

Manifestasi Klinis
Neoplasma sistem saraf pusat umumnya menyebabkan disfungsi neurologis yang
progresif. Pada neoplasma benigna dengan pertumbuhannya lambat, gejala klinis muncul
14

perlahan-lahan, apalagi bila lokasi neoplasma di daerah otak yang tidak terlalu vital atau
tidak memberikan gangguan organ yang nyata misalnya pada lobus frontalis. Sehingga
kebanyakan ditemukan sudah dalam ukuran yang cukup besar. Neoplasma intrakranial yang
terletak di daerah otak vital atau dekat dengan struktur yang penting, maka akan
memberikan gejala klinis yang cepat meskipun ukurannya masih kecil. Gejala klinis yang
bersifat akut progresif umumnya disebabkan adanya komplikasi perdarahan intraserebral
atau sumbatan aliran CSS.
Gambaran klinis neoplasma intrakranial secara umum dibagi dalam tiga kelompok
yaitu gambaran klinis umum, terlokalisir, dan terlokalisir palsu.
a. Gambaran klinis umum.
Gejala dan tanda umum biasanya disebabkan oleh meningkatnya TIK, infiltrasi difus
dari massa neoplasma, oedema serebri, atau hidrosefalus. Gambaran klinis umum yang
lebih sering terlihat adalah nyeri kepala, muntah, kejang, perubahan status mental. Tanda
klinisnya berupa oedema pada papil nervus optikus (N.II).
1. Nyeri kepala
Nyeri kepala merupakan gejala umum yang dirasakan pada neoplasma intrakranial.
Nyeri dirasakan paling hebat di pagi hari, karena selama tidur malam, tekanan
karbondioksida (PCO2) arteri serebral meningkat sehingga mengakibatkan
peningkatan dari cerebral blood flow (CBF) dan dengan demikian meningkatkan lagi
TIK.
2. Muntah
Muntah terdapat pada 30% kasus, sering dijumpai pada neoplasma intrakranial di
fossa posterior. Muntah sering timbul pada pagi hari setelah bangun tidur disebabkan
oleh tekanan intrakranial yang meninggi selama tidur malam, di mana tekanan
karbondioksida (PCO2) serebral meningkat. Sifat muntah dari penderita dengan TIK
meningkat adalah khas, yaitu proyektil tanpa didahului mual.
3. Kejang fokal
Kejang dapat timbul sebagai manifestasi dari TIK yang melonjak secara cepat. Perlu
dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah neoplasma intrakranial bila:

Bangkitan kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun

Mengalami post iktal paralisis


15

Mengalami status epilepsi

Resisten terhadap obat-obat epilepsi

Bangkitan disertai dengan gejala peningkatan TIK yang lain.

4. Perubahan status mental


Neoplasma intrakranial dapat mengakibatkan gangguan mental berupa mudah
tersinggung, emosi, labil, pelupa, perlambatan aktivitas mental dan sosial,
kehilangan inisiatif dan spontanitas, ansietas dan depresi. Gejala ini

berjalan

progresif dan dapat dijumpai pada 2/3 kasus. Gangguan emosi juga akan terjadi
terutama jika neoplasma intrakranial tersebut mendesak sistem limbik (khususnya
amigdala dan girus cinguli) karena sistem limbik merupakan pusat pengatur emosi.
5. Papil oedema
Papil oedema menunjukkan adanya oedema atau pembengkakan diskus optikus yang
disebabkan oleh peningkatan TIK yang menetap selama lebih dari beberapa hari atau
minggu. Oedema itu berhubungan dengan obstruksi CSS, dimana peningkatan TIK
pada selubung nervus optikus menghalangi drainase vena dan aliran aksoplasmik
pada neuron optikus dan menyebabkan pembengkakan pada diskus optikus dan
retina serta perdarahan diskus.

Papil oedema tahap lanjut dapat terjadi atrofi

sekunder papil nervus optikus.


Durasi gejala klinis ditentukan oleh antara lain letak atau topis neoplasma. Neoplasma
pada lobus temporal anterior atau lobus frontal anterior dapat tumbuh tanpa diketahui
hingga mencapai ukuran cukup besar untuk menyebabkan gejala umum sebagai
gambaran awal. Neoplasma pada fossa posterior atau lobus frontal, parietal, dan
oksipital dapat menyebabkan gejala-gejala fokal sebelum terjadi disfungsi umum.
b. Gambaran klinis terlokalisir
Gejala-gejala tumor secara fokal dapat berasal dari adanya destruksi, infark, atau
oedema parenkim yang diinduksi neoplasma intrakranial.
Neoplasma lobus frontal dapat menyebabkan gejala fokal meliputi katatonia,
refleks memegang yang positif yang selalu dinilai khas untuk lokasi di lobus frontalis,
disartria kortikal, kelemahan kontralateral, anosmia bila tidak terdapat kerusakan di
bagian perifer nervus olfaktorius, kejang motorik sederhana atau kejang umum yang
diikuti paralisis post iktal. Nyeri kepala merupakan manifestasi dini. Gangguan mental,
16

walaupun dapat timbul pada neoplasma intrakranial di daerah manapun, kebanyakan


merupakan manifestasi dini dari neoplasma di lobus frontalis dan korpus kalosum.
Terjadi pula kemunduran fungsi intelektual. Gangguan bahasa berupa afasia motorik bila
terdapat kerusakan di area Broca pada lobus frontalis postero-inferior. Area Broca pada
sebagian besar orang terdapat di hemisfer kiri.
Neoplasma lobus temporal dapat terjadi disfungsi traktus kortikospinal
kontralateral, defisit perimetri visual berupa hemianopsia kuadran atas homonim
kontralateral, afasia konduktif, disnomia, kejang parsial kompleks. Perubahan
kepribadian dan disfungsi memori juga sering ditemukan. Bagian terdepan lobus
temporal, yaitu unkus, merupakan pusat kortikal persepsi penghiduan dan pengecapan.
Maka bila neoplasma merangsang unkus, akan timbul serangan yang dinamakan
uncinate fit yaitu epilepsi dengan halusinasi olfaktorik berupa mencium bau tidak enak,
misalnya mencium bau bangkai, pada sebelum kejang (pre iktal) maupun setelah kejang
(post iktal). Halusinasi olfaktorik ini disertai automatisme, yaitu perbuatan tanpa
disadari namun memperlihatkan pola wajar yang bermakna, terdiri dari gerakan lidah
mengecap-ngecap dan bibir berkomat kamit. Automatime merupakan tanda khas untuk
lesi di lobus temporalis.
Neoplasma lobus parietal tedapat gangguan sensorik dan defisit atensi. Ada pula
disfungsi

kortikospinal

kontralateral,

hemianopsia

kuadran

bawah

homonim

kontralateral, kejang motorik atau kejang sensorik sederhana, neglect, apraksia, dan
kekacauan sisi kanan-kiri (right-left confusion). Berbagai macam agnosia dapat muncul,
misalnya agnosia auditorik dimana pasien tidak dapat mengenali suara secara signifikan,
dan agnosia visual dimana pasien tidak mampu mengenali obyek yang sudah lazim
melalui penglihatan.
Neoplasma lobus oksipital memberikan gejala dini yang menonjol berupa nyeri
kepala di oksiput, kemudian disusul gangguan visual, paling sering berupa hemianopsia
homonim. Ada juga yang terjadi kejang oksipital fokal yang ditandai adanya episode
penglihatan kilatan cahaya, warna warni, atau bentuk geometris secara kontralateral.
Neoplasma di ventrikel tiga, neoplasma ini biasanya bertangkai sehingga pada
pergerakan kepala menimbulkan obstruksi cairan serebrospinal dan terjadi peningkatan

17

TIK mendadak, pasen tiba-tiba nyeri kepala, penglihatan kabur, dan penurunan
kesadaran.
Neoplasma di sudut serebelo-pontin, paling sering berasal dari N VIII yaitu
neurinoma akustik dengan gejala awal berupa gangguan fungsi pendengaran. Gejala lain
timbul bila neoplasma telah membesar dan keluar dari daerah sudut serebelo-pontin.
Neoplasma di hipotalamus akan menyebabkan gejala peningkatan tekanan
intrakranial akibat oklusi foramen Monroe. Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan
gejala berupa gangguan perkembangan seksual pada anak-anak, amenorrhoe, dwarfisme,
gangguan cairan dan elektrolit dan serangan.
Neoplasma di serebelum menimbulkan ataksia, dismetria, disdiadokokinesia,
fenomena rebound, dan disartria.
c. Gambaran klinis terlokalisir palsu
Suatu neoplasma intrakranial dapat menimbulkan manifestasi klinis yang tidak sesuai
dengan fungsi bagian otak yang didudukinya. Adapun manifestasi tersebut adalah :
1. Kelumpuhan saraf otak
Oleh karena desakan massa neoplasma, saraf otak dapat tertarik atau tertekan.
Desakan itu tidak harus langsung terhadap saraf otak. Suatu neoplasma di insulae
kanan dapat mendesak batang otak ke kiri dan karenanya salah satu saraf otak sisi
kiri dapat mengalami gangguan. Saraf otak yang sering terkena pengaruh tidak
langsung dari neoplasma intrakranial adalah saraf otak ke III, IV, dan VI.
2. Refleks patologis yang positif pada kedua sisi
Hal ini dapat ditemukan pada pasien neoplasma intrakranial pada salah satu
hemisfer saja. Oleh karena adanya pergeseran mesensefalon ke sisi kontralateral,
pedunkulus serebri pada sisi kontralateral mengalami kompresi dan refleks
patologis pada sisi neoplasma menjadi positif. Refleks patologis pada sisi
kontralateral terhadap neoplasma menjadi positif karena kerusakan jaras
kortikospinalis di tempat yang diduduki neoplasma itu sendiri.
3. Gangguan mental
Gangguan mental dapat timbul pada semua pasien neoplasma intrakranial pada
letak di manapun.
4. Gangguan endokrin
18

Gangguan endokrin dapat muncul karena proses desak ruang di daerah hipofise,
tapi juga dapat terjadi akibat desakan tidak langsung dari neoplasma di ruang
supratentorial.
V. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan
penunjang yaitu pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi. Pemeriksaan klinis kadang sulit
untuk menegakkan diagnosa neoplasma intrakranial karena gejala klinis yang ditemukan
tergantung dari topis neoplasma intrakranial, kecepatan pertumbuhan massa neoplasma
intrakranial dan cepatnya timbul gejala peningkatan TIK serta efek massa neoplasma
intrakranial ke jaringan otak yang dapat menyebabkan kompresi, invasi dan destruksi dari
jaringan otak.
Perubahan tanda vital pada kasus SOL intrakranial meliputi:
a. Denyut nadi
Denyut nadi relatif stabil selama stadium awal dari peningkatan TIK, terutama pada anakanak. Bradikardi merupakan mekanisme yang mungkin terjadi untuk mensuplai darah ke
otak dan mekanisme ini dikontrol oleh tekanan pada mekanisme refleks vagal yang
terdapat dimedulla.
b. Pernapasan
Pada saat kesadaran menurun, korteks serebri akan lebih tertekan daripada batang otak
pada pasien dewasa, perubahan pernapasan ini normalnya akan diikuti dengan penurunan
level dari kesadaran. Perubahan pola pernapasan adalah hasil dari tekanan langsung pada
batang otak.
c. Tekanan darah
Tekanan darah dan denyut nadi relatif stabil selama stadium awal dari peningkatan
tekanan intrakranial, terutama pada anak-anak. Dengan terjadinya peningkatan tekanan
intrakranial, tekanan darah akan meningkat sebagai mekanisme kompensasi, sehingga
terjadi penurunan dari denyut nadi disertai dengan perubahan pola pernapasan. Apabila
kondisi ini terus berlangsung, maka tekanan darah akan mulai turun.
d. Suhu tubuh

19

Selama mekanisme kompensasi dari peningkatan TIK, suhu tubuh akaN tetap stabil.
Ketika mekanisme dekompensasi berubah, peningkatan suhu tubuh akan muncul akibat
dari disfungsi dari hipotalamus atau edema pada traktus yang menghubungkannya.
e. Reaksi pupil
Serabut saraf simpatis menyebabkan otot pupil berdilatasi. Reaksi pupil yang lebih
lambat dari normalnya dapat ditemukan pada kondisi yang menyebabkan penekanan pada
nervus okulomotorius, seperti edema otak atau lesi pada otak.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Head CT-Scan
CT-Scan merupakan merupakan alat diagnostik yang penting dalam evaluasi pasien yang
diduga menderita tumor otak. CT-Scan merupakan pemeriksaan yang mudah, sederhana,
non invasif, tidak berbahaya, dan waktu pemeriksaan lebih singkat. Ketika kita
menggunakan CT-Scan dengan kontras, kita dapat mendeteksi tumor yang ada. CT-Scan
tidak hanya dapat mendeteksi tumor, tetapi dapat menunjukkkan jenis tumor apa, karena
setiap tumor intrakranial menunjukkan gambar yang berbeda pad CT-Scan.
a. Gambaran CT-Scan pada tumor otak, umumnya tampak sebagai lesi abnormal
berupa massa yang mendorong struktur otak disekitarnya. Biasanya tumor otak
dikelilingi jaringan oedem yang terlihat jelas karena densitasnya lebih rendah.
Adanya kalsifikasi, perdarahan atau invasi mudah dibedakan dengan jaringan
sekitarnya karena sifatnya hiperdens. Beberapa jenis tumor akan terlihat lebih
nyata bila pada waktu pemeriksaan CT-Scan disertai dengan pemberian zat
kontras. Kekurangan CT-Scan adalah kurang peka dalam mendeteksi massa tumor
yang kecil, massa yang berdekatan dengan struktur tulang kranium, maupun
massa di batang otak.
b. Pada subdural akut CT-Scan kepala (non kontras) tampak sebagai suatu massa
hiperdens (putih) ekstra-aksial berbentuk bulan sabit sepanjang bagian dalam
(inner table) tengkorak dan paling banyak terdapat pada konveksitas otak
didaerah parietal. Terdapat dalam jumlah yang lebih sedikit didaerah bagian atas
tentorium serebeli. Perdarahan subdural yang sedikit (small SDH) dapat berbaur
dengan gambaran tulang tengkorak dan hanya akan tampak dengan menyesuaikan
CT window width. Pegeseran garis tengah (middle shift) akan tampak pada
20

perdarahan subdural yang sedang atau besar volumenya. Bila tidak ada middle
shift harus dicurigai adanya massa kontralateral dan bila middle shift hebat harus
dicurigai adanya edema serebral yang mendasarinya.
Pada fase akut subdural menjadi isodens terhadap jaringan otak sehingga lebih
sulit dinilai pada gambaran CT-Scan, oleh karena itu pemeriksaan CT-Scan
dengan kontras atau MRI sering dipergunakan pada kasus perdarahan subdural
dalam waktu 48-72 jam setelah trauma. Pada pemeriksaan CT dengan kontras,
vena-vena kortikal akan tampak jelas dipermukaan otak dan membatasi subdural
hematoma dan jaringan otak. Perdarahan subdural akut sering juga berbentuk
lensa (bikonveks) sehingga membingungkan dalam membedakannya dengan
epidural hematoma.
c. Pada fase kronik lesi subdural pada gambaran CT-Scan tanpa kontras menjadi
hipodens dan sangat mudal dilihat. Bila pada CT-Scan kepala telah ditemukan
perdarahan subdural, sangat penting untuk memeriksa kemungkinan adanya lesi
lain yang berhubungan seperti fraktur tengkorak, kontusio jaringan otak dan
perdarahan subarakhnoid.
d. Pada abses, CT-Scan dapat digunakan sebagai pemandu untuk dilakukannya
biopsi. Biopsi aspirasi abses ini dilakukan untuk keperluan diagnostik maupun
terapi.
2. MRI
MRI merupakan pemeriksaan yang paling baik terutama untuk mendeteksi tumor yang
berukuran kecil ataupun tumor yang berada dibasis kranium, batang otak dan di fossa
posterior. MRI juga lebih baik dalam memberikan gambaran lesi perdarahan, kistik, atau,
massa padat tumor intrakranial.
3. Darah Lengkap
Pemeriksaan darah lengkap dapat dijadikan salah satu kunci untuk menemukan kelainan
dalam tubuh. kelainan sitemik biasanya jarang terjadi, walaupun terkadang pada abses
otak sedikit peningkatan leukosit
4. Foto Thorak
Dilakukan untuk mengetahui apakah ada tumor dibagian tubuh lain, terutama paru yang
merupakan tempat tersering untuk terjadinya metastasis primer paru. Pada hematoma,
mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis (perdarahan
/edema), dan fragmen tulang.
5. USG Abdomen

21

Dilakukan untuk mengetahui aakah ada tumor dibagian tubuh lain. Pada orang dewasa.
Tumor otak yang merupakan metastase dari tumor lain lebih sering daripada tumor
primer otak.
6. Biopsi
Untuk tumor otak, biopsi dilakukan untuk mengetahui jenis sel tumor tersebut, sehingga
dapat membantu dokter untuk mengidentifikasi tipe dan stadium tumor dan menentukan
pengobatan yang tepat seperti apakah akan dilakukan pengangkatan seluruh tumor
ataupun dilakukan radioterapi.
7. Lumbal Pungsi
Pemeriksaan ini hanya dilakukan untuk beberpa jenis tumor otak tertentu. Dengan
mengambil cairan serebro spinal, diharapkan dapat diketahui jenis sel dari tumor otak
tersebut. Jika tekanan intrakranial terlalu tinggi, pemeriksaan ini kontraindikasi untuk
dilakukan
8. Analisa Gas Darah
Untuk mendeteksi ventilasi atau masalah pernapasan jika terjadi peningkatan tekanan
intrakranial.
9. Angiography
Angiography tidak sealu dilakukan, tetapi pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk
beberapa jenis tumor. pemeriksaan ini membantu ahli bedah untuk mengetahui pembuluh
darah mana saja yang mensuplai area tumor, terutama apabila terlibat embuluh darah
besar. Pemeriksaan ini penting dilakukan terutama untuk tumor yang tumbuh ke bagian
sangat dalam dari otak.
VI. Terapi
1. Pembedahan
Jika hasil CT-Scan didapati adanya tumor, dapat dilakukan pembedahan. Ada
pembedahan total dan parsial, hal ini tergantung jenis tumornya. Pada kasus abses seperti
loculated abscess, pembesran abses walaupun sudah diberi antibiotik yang sesuai,
ataupun terjadi impending herniation. Sedangkan pada subdural hematoma, operasi
dekompresi harus segera dilakukan jika terdapat subdural hematoma akut dengan middle
shift > 5 mm. Operasi juga direkomendasikan pada subdural hematoma akut dengan
ketebalan lebih dari 1 cm.
2. Radioterapi
Ada beberapa jenis tumor yang sensitif terhadap radioterapi, seperti low grade glioma.
Selain itu radioterapi juga digunakan sebagai lanjutan terapi dari pembedahan parsial.
3. Kemoterapi
22

Terapi utama jenis limpoma adalah kemoterapi. Tetapi untuk oligodendroglioma dan
beberapa astrocytoma yang berat, kemoterapi hanya digunakan sebagai terapi tambahan.
4. Antikolvusan
Mengontrol kejang merupakan bagian terapi yang penting pada pasien dengan gejala
klinis kejang. Pasien SOL sering mengalami peningkatan tekanan intrakranial, yang salah
satu gejala klinis yang sering terjadi adalah kejang.
Phenytoin adalah yang paling umum digunakan. Selain itu dapat juga digunakan
carbamazepine, phenobarbital dan asam valproat.
5. Antibiotik
Jika dari hasil pemeriksaan diketahui adanya abses, maka antibiotik merupakan salah satu
terapi yang harus diberikan. Berikan antibiotik intravena, sesuai kultur ataupun sesuai
data empiris yang ada. Antibiotik diberikan 4-6 minggu atau lebih, hal ini disesuaikan
dengan hasil pencitraan, apakah ukuran abses sudah berkurang atau belum. Carbapenem,
fluorokuinolon, aztreonam memiliki penetrasi yang bagus ke sistem saraf pusat, tetapi
harus memperhatikan dosis yang diberikan (tergantung berat badan dan fungsi ginjal)
untuk mencegah toksisitas.
6. Kortikosteroid
Kortikosteroid mengurangi edema peritumoral dan mengurangu tekana intrakranial.
Efeknya mengurangi sakit kepala dengan cepat. Dexamethasone adalah kortikosteroid
yang dipilh karena aktivitas mineralkortikoid yang minimal. Dosisnya dapat diberikan
mulai dari dosis minimal, tetapi dosisnya dapat ditambahkan maupun dikurangi untuk
mencapai dosis yang dibutuhkan untuk mengontrol gejala neurologik.
7. Head up 30-45
Berfungsi untuk mengoptimalkan venous return dari kepala, sehingga akan membantu
mengurangi TIK.
8. Menghindari Terjadinya Hiperkapnia
PaCO2 harus dipertahankan dibawah 40 mmHg, karena hiperkapnia dapat menyebabkan
terjadinya peningkatan aliran darah ke otak sehingga terjadi peningkatan TIK, dengan
cara hiperventilasi ringan disertai dengan analisa gas darah untuk menghindari global
iskemia pada otak.
9. Diuretika Osmosis
Manitol 20% diberikan cepat dalam 30-60 menit untuk membantu mengurangi
peningakatan TIK dan dapat mencegah edema serebri.

VII.

KOMPLIKASI
23

1. Gangguan fungsi neurologis


2. Gangguan kognitif
3. Gangguan tidur dan mood

VIII.

PROGNOSIS
SOL intrakranial tergantung pada penyebabnya. Berdasarkan data di negaranegara maju, dengan diagnosis dini dan juga penanganan yang tepat melalui pembedahan
dilanjutkan dengan radioterapi, angka ketahanan hidup 5 tahun berkisar 50-60 % dan
angka ketahanan hidup 10 tahun berkisar 30-40 %. Terapi SOL yang disebabkan oleh
tumor intrakranial di Indonesia secara umum prognosisnya masih buruk, berdasarkan
tindakan operatif yang dilakukan pada beberapa rumah sakit di Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA

Ejaz M, Saeed A, Naseer A, Chaudrhy, Qureshi G.R, 2005. Intra-cranial Space Occupying
Lesions A Morphological Analysis. Department of Pathology, Postgraduate Medical
Institute, Lahore Pakistan. Biomedica Vol. 21

24

Kaptigau, W. Matui ,Ke Liu. Space-occupying lesions in Papua New Guinea the CT era. Port
Moresby General Hospital, Papua New Guinea and Chongqing Emergency Medical
Centre, Chongqing City, China. PNG Med J 2007 Mar-Jun;50(1-2):33-43
Kleihus P. Burger PC, Scheithauer. Histological typing of tumours of the Central nerbus system.
WHO Histological clasification of tumour. Second edition. Springer-Verlag, Berlin
Heidelber.1993. Hal 1-20.
Kleinberg LR. Brain Metastasis A multidisiplinary Approach. New York: Demos Medical.
Ropper AH, Brown RH. Intracranial Neoplasms and Paraneoplastic Disorders in Adams and
Victors Principles of Neurology. 8th edition. USA: Mc Graw Hill, 2005. 546-91.
Wahjoepramono EJ. Tumor Otak. Jakarta: FK Pelita Harapan. 2006.
Wilkinson, Iain. 2005. Brain Tumour. Essential Neurology, 4th Edition. Page 50-52.

25