Anda di halaman 1dari 38

PERCOBAAN POTENSIOMETRI (PENGUKURAN pH)

I.
1.
2.
3.

Tujuan
Membuat kurva hubungan pH-volume pentiter
Menentukan titik akhir titrasi
Menghitung kadar zat

II.

Prinsip

Potensial sel galvanik tergantung pada aktivitas zat-zat ionik tertentu di dalam larutan sel,
maka pengukuran potensial sel merupakan hal yang sangat penting dalam kimia analitik. Dalam
banyak hal suatu sel dapat disusun yang potensialnya tergantung pada aktivitas suatu macam zat
ionik tunggal dalam larutan. Salah satu elektroda sel harus sedemikian rupa hingga potensialnya
tergantung pada aktivitas ion yang akan ditentukan; ini disebutelektroda indikator. Elektroda yang
lainnya merupakan sebuah pembanding, seperti kalomel, yang potensialnya diketahui dan tetap
selama pengukuran (Underwood, 1986).
Suatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode yaitu, pertama
(potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadap potensial dari suatu aktivitas ion yang
diamati, hal ini terutama diterapkan dalam pengukuran pH larutan air. Kedua (titrasi langsung), ion
dapat dititrasi dan potensialnya diukur sebagai fungsi volume titran. Potensial sel, diukur sehingga
dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen. Suatu petensial sel galvani bergantung pada
aktifitas spesies ion tertentu dalam larutan sel, pengukuran potensial sel menjadi penting dalam
banyak analisis kimia (Basset, J. dkk., 1994).
Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan
elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan
menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan, mempunyai kenaikan
yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Elektroda
indikator adalah elektroda yang potensialnya bergantung pada konsentrasi ion yang akan ditetapkan
dan dipilih berdasarkan jenis senyawa yang hendak ditentukan. Sedangkan elektroda pembanding
adalah elektroda yang potensialnya diketahui dan selama pengukuran tetap konstan. Elektroda
pembanding yang banyak digunakan adalah elektroda kalomel karena konstannya potensial yang
dihasilkan. Antara elekroda pengukur (elektroda indikator) dan elektroda pembanding terdapat
jembatan arus atau garam dengan larutan elektrolit yang di dalamnya terdapat transport ion arus
(Widjaja dkk., 2008). Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk
menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat
pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).
Keuntungan dari metode potensiometri adalah biayanya yang relatif murah dan sederhana.
Voltameter dan elektroda jauh lebih murah daripada instrumen saintifik yang paling modern. Selain
itu kelebihan dari metode potensiometri yaitu pada saat potensial sel dibaca tidak ada arus yang
mengalir dalam larutan (arus residual tatanan sel dan efek polarisasi dapat diabaikan). Manfaat
potensiometri juga untuk menetapkan tetapan kesetimbangan. Potensial-potensial yang stabil sering
diperoleh dengan cukup cepat dan tegangan yang mudah dicatat sebagai fungsi waktu, sehingga
potensiometri kadang juga bermanfaat untuk pemantauan yang kontinyu dan tidak diawasi (Skoog
dkk., 1998).
Potensiometri pada dasarnya bersifat nondestruktif terhadap sampel, dalam pengertian
bahwa penyisipan elektroda tidak megubah komposisi larutan uji (kecuali untuk sedikit kebocoran
elektrolit dari elektroda acuan) (Khopkar, 1990). Metode potensiometri merupakan salah satu metode
yang banyak digunakan untuk menentukan kandungan ion-ion tertentu dalam suatu larutan, titrasi

terhadap vitamin c (bersifat asam) mungkin juga bersifat basa. Selain itu, metode potensiometri dapat
juga digunakan dalam penetapan nikel dan kobal dengan pengkomlekskan denga sianida, penetapan
flourida dengan metode titik nol, penetapan besi (III) dengan EDTA dan standarisasi larutan kalium
permanganate dengan kalium iodide (Vogel, 1994).
Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada
mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. Dalam titrasi secara
manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara berurutan, dan hasil pengamatan
digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi.
Dalam banyak hal, suatu potensiometer sederhana dapat digunakan, namun jika tersangkut elektroda
gelas, maka akan digunakan pH meter khusus. Karena pH meter ini telah menjadi demikian biasa,
maka pH meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya tidak
diwajibkan (Basset, J. dkk., 1994).
Bermacam reaksi titrasi dapat diikuti dengan pengukuran potensiometri. Reaksinya harus
meliputi penambahan atau pengurangan beberapa ion yang sesuai dengan jenis elektrodanya.
Potensial diukur sesudah penambahan sejumlah kecil volume titran secara berturut-turut atau secara
kontinyu dengan perangkat automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi (Khopkar,
2003).
a) Reaksi netralisasi: Titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas.
Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8.
b) Reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan: Pembentukan endapan atau kompleks akan
membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Biasanya digunakan elektroda Ag dan Hg. Berbagai logam
dapat dititrasi dengan EDTA.
c) Reaksi redoks: Elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat
(KMnO4, K2Cr2O7, Co(NH3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus dibebaskan dengan
reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 2003).
Semua potensial elektroda dikutip relatif terhadap potensial elektroda hidrogen standar. Jadi,
elektroda hidrogen haruslah dianggap sebagai elektroda rujukan primer. Elektroda yang paling
meluas penggunaannya adalah elektroda kalomel, disebabkan oleh mudahnya pembuatan dan
konstan potensial. Sebuah sel-paruh kalomel adalah sel paruh dalam mana merkurium dan kalomel
(merkurium(I) klorida) ditutup dengan konsentrasi tertentu; dapat 0,1 N; 1,0 N; 3,5 N; atau jenuh.
Larutan kalium klorida haruslah dijenuhi oleh kalomel. Potensial elektroda kalomel pada 25 OC relatif
terhadap elektroda hidrogen normal untuk 0,1 N; 1,0 N dan jenuh masing-masing adalah 0,3371;
0,2846; dan 0,2458 volt (Bassett, J. dkk., 1994).
Elektroda indikator suatu sel adalah elektroda yang potensialnya bergantung pada aktivitas
(dan karena itu pada konsentrasi) spesi ion tertentu yang konsentrasinya akan ditentukan. Dalam
potensiometri langsung atau titrasi potensiometri suatu ion logam, sebuah elektroda indikator
sederhana biasanya akan terdiri dari batang atau kawat yang dibersihkan dengan seksama yang
terbuat dari logam yang tepat; paling penting adalah permukaan logam yang akan dicelupkan ke
dalam larutan itu bebas dari lapisan tipis oksida atau hasil korosi apa saja. Dalam beberapa kasus
elektroda yang lebih memuaskan dapat disiapkan dengan menggunakan kawat platinum yang telah
disalut dengan lapisan tipis logam yang tepat dengan cara pengendapan secara listrik (Bassett, J. dkk.,
1994).
Bila dilibatkan ion hidrogen, sebuah elektroda hidrogen dapat jelas digunakan sebagai
elektroda indikator, namun peran itu dapat juga dilakukan oleh elektroda lain, yang terkemuka
adalah elektroda kaca. Inilah contoh elektroda membran dalam mana potensial yang dikembangkan
antara suatu selaput kaca dan larutan merupakan suatu fungsi linier pH larutan, dan karena itu dapat
untuk mengukur konsentrasi ion hidrogen dari larutan itu. Karena selaput kaca itu mengandung ion
logam alkali, juga mungkin untuk mengembangkan elektroda kaca yang dapat digunakan untuk

menetapkan konsentrasi ion-ion ini dalam larutan, dan dari pengembangan ini (yang didasarkan pada
mekanisme pertukaran ion), sederetan lengkap elektoda membran telah dikembangkan berdasarkan
baik pada bahan pertukaran ion zat padat maupun cairan: elektroda-elektroda ini merupakan bagian
deret yang penting dari elektroda peka-ion yang sekarang tersedia untuk banyak macam ion (Bassett,
J. dkk., 1994).
Persamaan Nernst memberikan hubungan antara potensial relatif suatu elektroda dan
konsentrasi spesies ioniknya yang sesuai dalam larutan. Potensiometri merupakan aplikasi langsung
dari persaman Nernst dengan cara pengukuran potensial dua elektroda tidak terpolarisasi pada
kondisi arus nol. Dengan pengukuran pengukuran potensial reversibel suatu elektroda, maka
perhitungan aktivitas atau konsentrasi suatu komponen dapat dilakukan (Rivai, 1995).
Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur sesudah penambahan sejumlah kecil
volume titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan perangkat automatik. Presisi dapat
dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda indikator yang digunakan dalam titrasi potensiometri
tentu saja akan bergantung pada macam reaksi yang sedang diselidiki. Jadi untuk suatu titrasi asam
basa, elektroda indikator dapat berupa elektroda hidrogen atau sesuatu elektroda lain yang peka akan
ion hidrogen, untuk titrasi pengendapan halida dengan perak nitrat, atau perak dengan klorida akan
digunakan elektroda perak, dan untuk titrasi redoks (misalnya, besi(II)) dengan dikromat digunakan
kawat platinum semata-mata sebagai elektroda redoks (Khopkar, 1990).
Pada praktikum kali ini metode yang akan kita gunakan adalah titrasi potensiometri tepatnya
titrasi asam basa, ketetapan untuk dapat menemukan titik akhir pada titrasi asam basa secara
potensiometri tergantung dari konsentrasi dan kekuatan asam serta basa. Agar metode ini berhasil
baik, kedua asam atau basa hendaknya kekuatannya berbanding sekurangnya 10 -5: 1. Metode ini dapat
digunakan untuk titrasi asam atau basa bervalensi banyak, tetapi hanya dapat dilakukan untuk
masing-masing senyawa jika harga pKa atau pKb berbeda minimal 2 satuan (Widjaja dkk., 2008).
Pada titrasi asam basa, elektroda indikator yang digunakan adalah elektroda membran gelas
yang sensitif terhadap perubahan jumlah ion hidrogen (H +)dan elektroda pembanding yang
digunakan adalah Elektroda Kalomel, (Khopkar, 2003) seperti yang terlihat pada gambar dibawah.
Untuk titrasi asam basa, setiap perubahan ion hidrogen tersebut diamati. Pada elektrode membran
gelas, tidak ada elektron yang diberikan kepada membran. Justru sebuah membran membiarkan ion
H+ untuk menembusnya, tetapi menahan ion yang lain. Dengan demikian akan timbul beda potensial
yang cukup besar untuk mencegah terjadinya migrasi lebih lanjut. Kelebihan dari elektroda membran
gelas adalah tidak terjadinya kontaminasi sehingga tidak ada permukaan katalis yang kehilangan
aktivitasnya. Nilai-nilai pH dari suatu larutan yang kurang tersangga bisa diukur secara akurat dan
akhirnya elektroda jenis ini sangat cocok digunakan untuk memonitor pH secara kontinu pada
rentang waktu yang lama (Day dan Underwood,
1981). Melalui kurva hubungan antara volume
pentiter vs pH dapat ditentukan titik akhir
titrasinya. Titik akhir titrasi dideteksi dengan
menetapkan volume di mana terjadi perubahan
potensial yang relatif besar ketika ditambahkan
peniter (Widjaja dan Laksmiani, 2009).

Praktikum 1 Titrasi Potensiometri


22.41

No comments

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teknik analisis kimia terus dikembangkan menjadi lebih canggih dan minimalis
ukurannya. Potensiometri merupakan salah satu metode elektroanalisis yang terus
dikembangkan. Elektroda yang digunakan dalam potensiometri harus berbeda agar dapat
menimbulkan beda potensial yang dapat terukur oleh voltmeter. Pengembangan dari teknik
analisis potensiometri berawal dari penggantian elektroda indikator dengan penggunaan dua
elektroda reference. Beda potensial yang muncul pada kedua elektroda disebabkan karena
membran yang berada pada salah satu elektrodanya. Elektroda reference yang digunakan
harus bekerja berdasarkan hukum Nernst. Potensial yang dihasilkan konstan dalam berbagai
waktu dan tidak terpengaruh temperatur. Selain itu elektroda reference yang digunakan harus
reversibel dan bersifat inert.
Elektroda indikator yang sering digunakan adalah pH meter. Sensitifitas elektroda ini
terhadap H+ dapat dimanfaatkan untuk menentukan konsentrasi dari suatu analit. Cara yang
ditempuh dengan titrasi menggunakan titran yang sesuai dan menggunakan elektroda
indikator yang sesuai juga. Praktikum ini akan mencoba suatu metode yang merupakan salah
satu metode potensiometri yang dilakukan secara tidak langsung atau biasa disebut titrasi
potensiometri.
1.2 Tujuan
Mempelajari prinsip analisis dengan metode titrasi potensiometri

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)
2.1.1 HCl
HCl atau asam klorida merupakan golongan asam kuat. Asam ini memiliki massa
molar 36,46 g/mol. Asam ini merupakan senyawa polar yang mudah larut dalam air.
Wujudnya cair, tidak berwarna, dan bau menyengat. Hal yang perlu diperhatikan adalah sifat
korosifnya terhadap jaringan tubuh dan beracun bila dikonsumsi. Asam klorida akan
menimbulkan permasalahan pada sistem pernapasan, mata, kulit, paru-paru. Jika terjadi
kecelakaan
pada
penggunaannya cari
pertolongan
medis profesional
setelah tindakan pertolongan pertama dilakukan. Jika mengenai mata segera sirammata
dengan air berlebih selama 15 menit, mengangkat kelopak mata bawah dan atas sesekali. Jika
kontak dengan kulit maka segera siram kulit dengan air mengalir selama 15 menit dan sesaat
kemudian melepaskan pakaian yang terkontaminasi. Jika tertelan hubungi pihak medis
segera. Janganmemaksakan muntah. Bilas mulut dengan air dingin. Berikan korban 12 cangkir air atau susu untuk diminum. Jika masuk ke saluran pernafasan pindahkan ke udara
segar. Jika tidak bernapas, berikanpernapasan buatan (Anonim, 2012).
2.1.2 NaOH
Natrium hidroksida (NaOH) yang biasa disebut dengan soda api atau soda kaustik
merupakan basa kuat. Natrium hidroksida akan membentuk larutan alkali yang kuat ketika
dilarutkan dalam air. Dalam bidang industri senyawa ini digunakan sebagai basa dalam
proses produksi bubur kayu, kertas, tekstil, air minum, sabun, maupun deterjen. NaOH
mempunyai massa molar 39,99 gram/mol dan berwujud kristal putih padat. Kristal NaOH
bersifat mudah menyerap air atau uap air dalam keadaan terbuka (higroskopis). Massa jenis
NaOH adalah 2,1 gram/cm3 pada wujud padat. Titik leleh dan titik didih dari natrium
hidroksida berturut-turut adalah 318oC dan 1390oC. NaOH sangat larut dalam air hingga 111
gram/100 mL air pada suhu 20oC. Tingkat kebasaan (pKb) dari senyawa ini adalah -2,43.
Natrium hidroksida tersedia dalam bentuk pellet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50
%. Senyawa ini bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara
bebas. Senyawa ini sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan, dan
senyawa ini juga larut dalam etanol dan metanol. Senyawa ini dapat menyebabkan luka bakar
pada mata yang memungkinkan menimbulkan kebutaan atau menyebabkan kornea mata
rusak. NaOH juga bisa menyebabkan luka bakar pada kulit. Ketika tertelan senyawa ini dapat
menyebabkan gangguan perncernaan. Natrium hidroksida juga menyebabkan iritasi saluran
pernapasan, susah bernafas, dan memungkinkan terjadinya koma. Jika terkena kulit secara
terus menerus dan jangka waktu lama dapat menyebabkan dermatitis. Pertolongan yang
seharusnya diberikan adalah segera membilas mata dan kulit dengan air bersih selama kurang
lebih 15 menit. Jika terkena pakaian segera dilepas dan diganti dengan pakaian yang bersih.
Jika tertelan berikan segelas air namun jangan berikan makanan lewat mulut sebelum ada
perintah dari petugas medis. Jika terhirup, korban dibawa ke udara terbuka dan jika tidak
bernafas maka diberikan oksigen untuk membantunya. Penyimpanannya seharusnya
diletakkan pada tempat yang tertutup agar tidak terkontaminasi dengan udara luar kemudian
diletakkan pada tempat yang sejuk dan kering (Anonim, 2012).
2.1.3 Soda Kue
Soda kue memiliki rumus molekul NaHCO3 atau biasa disebut baking
soda dan sodium bicarbonate. Massa molar dari soda kue adalah 84,01 g/mol. Padatan dari
soda kue ini berwarna putih sedangkan jila dilarutkan dalam air menjadi tidak berwarna.
Potensi efek kesehatan akutnya sedikit berbahaya jika terjadi kontak kulit (iritan), kontak
mata (iritan), menelan, dari inhalasi. Potensiefek
kesehatan kronis tidak
tersedia. Efek
mutagenik dan
efek
teratogenik tidak
tersedia.Penggunaan

berulang atau berkepanjangan tidak diketahui memperburuk kondisi medis. Tindakan


pertolongan pertama jika kontak mata maka periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Jika
kasus terjadi kontak, segera siram mata dengan banyak air sekurang kurangnya 15 menit. Air
dingin dapat digunakan untuk membasuhnya. Dapatkan bantuan medis jika terjadi iritasi. Jika
mengenai kulit maka cuci dengan sabun dan air. Tutup kulit yang teriritasi dengan yang
bersifat lunak. Dapatkan bantuan medis jika iritasi berkembang. Akibat kontak kulit serius
tidak
tersedia. Jika terhirup, pindahkan
keudara
segar. Jika
tidak
bernapas,
berikan pernapasan
buatan. Jika
sulit
bernapas,
berikan
oksigen.Dapatkan bantuan medis. Jika tertelan jangan mengusahakan muntah kecuali
bila diarahkan berbuat demikian oleh tenaga medis. Jangan pernah memberikan apapun
melalui mulut kepada orang di bawah sadar. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah,
dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang.Dapatkan bantuan medis jika gejala muncul (Anonim,
2012).
2.2 Titrasi Potensiometri
Metode elektroanalitik dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Potensiometri merupakan aplikasi langsung dari persamaan Nernst dengan cara pengukuran
potensial dua elektroda tidak terpolarisasi pada kondisi arus nol.
Voltametri dan polarografi merupakan metode penelaahan komposisi larutan elektrolit encer
dengan mengalurkan kurva arus-tegangan. Voltametri adalah nama umum, sedangkan
polarografi khusus mengacu pemakaian elektroda tetes merkuri. Pada amperometri kedua
elektroda dapat terpolarisasi.
Coulometri merupakan metode analisis yang meliputi pemakaian hukum elektrolisis Faraday.
Konduktometri merupakan metode yang menggunakan due elektroda inert dan konduktansi
elektrolit antara kedua elektroda ini diukur.
Oscillometri meruapak metode yang menggunakan sumber arus bolak-balik berfrekuensi
tinggi, perubahan konduktansi dan tetapan dialektrikum.
Kronopotensiometri merupakan metode menguunakan arus yang konstan dan diketahui
dilewatkan melalui larutan, potensial terbentuk antara dua elektroda dan larutan yang diamati
sebagai fungsi waktu.
Pemisahan dengan logam terkendali merupakan metode dengan bermacam spesies dapat
dipisahkan secara kuantitatif dengan oksidasi atau reduksi elektrolitik pada suatu elektroda
dengan potensial yang benar-benar terkendali (Khopkar, 1990).
Potensiometri adalah suatu teknik analisis yang didasari oleh pengukuran potensial
suatu sensor atau elektroda. Dalam teknik ini suatu membran Sensor atau permukaan sensor
berfungsi sebagai setengah sel elektrokimia, yang menimbulkan potensial yang sebanding
dengan logaritma dari aktivitas atau konsentrasi ion yang dianalisis. Potensial sel diperoleh
dengan mengukur pada keadaan tidak ada arus melalui sel. Sel elektrokimia yang lengkap,
potensial sel dapat ditentukan dengan persamaan :
Esel = Eind - Eref + Ej
dengan:
Esel
= potensial sel
Eind
= potensial elektroda indikator
Eref
= potensial elektroda referensi
Ej
= potensial dari liquid juntion
Sedangkan potensial dari elektroda indikator mengikuti persamaan:
Eind = Konstanta + 2,303RT/zF log a
dengan:
2,303RT/zF= faktor Nernst
z
= muatan dari ion

a
= aktivitas ion
(Tim Kimia Analitik, 2012).
Prinsip potensiometri didasarkan pada pengukuran potensial listrik antara elektroda
indikator dan elektroda yang dicelupkan pada larutan. Untuk mengukur potensial pada
elektroda indikator harus digunakan elektroda standar yaitu berfungsi sebagai pembanding
yang mempunyai harga potensial tetap selama pengukuran. Elektroda indikator ini sebagai
elektroda pengukur dan elektroda yang dicelupkan merupakan elektroda pembanding.
Elektroda indikator merupakan elektroda yang potensialnya bergantung pada konsentrasi ion
yang akan ditetapkan dan proses pemilihannya berdasarkan jenis senyawa yang hendak
ditentukan (Gandjar, 2007).
Potensiometri merupakan metode analisis kimia berdasar hubungan antara potensial
elektroda relatif dengan konsentrasi larutan dalam suatu sel kimia. Metode ini berguna untuk
menentukan titik setara suatu titrasi secara instrumental sebagai pengganti indikator visual.
Contoh, pada titrasi asam-basa, redoks, kompleksometri, dan pengendapan. Alat yang
digunakan untuk melakukan percobaan ini adalah potensiometer atau pH meter dengan
elektroda kerja dan referensi yang tercelup dalam larutan yang diukur (Hendayana, 1994).
Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan
elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan
menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan, mempunyai
kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir
titrasi. Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk
menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran
sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai,
1995).
Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri yaitu reaksi
pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Pada reaksi
pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang terbentuk akan membebaskan ion
terhidrasi dari larutan. Umumnya digunakan elektroda Ag dan Hg, sehingga berbagai logam
dapat dititrasi dengan EDTA. Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti
dengan elektroda indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8.
Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi
redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7, Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang
harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 1990).
Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur sesudah penambahan sejumlah
kecil volume titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan perangkat automatik.
Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda indikator yang digunakan dalam
titrasi potensiometri tentu saja akan bergantung pada macam reaksi yang sedang diselidiki.
Jadi untuk suatu titrasi asam basa, elektroda indikator dapat berupa elektroda hidrogen atau
sesuatu elektroda lain yang peka akan ion hidrogen, untuk titrasi pengendapan halida dengan
perak nitrat, atau perak dengan klorida akan digunakan elektroda perak, dan untuk titrasi
redoks (misalnya, besi(II)) dengan dikromat digunakan kawat platinum semata-mata sebagai
elektroda redoks (Khopkar, 1990).
Salah satu metode potensiometri adalah potensiometri tidak langsung atau lebih
dikenal sebagai titrasi potensiometri. Dimana komponen yang akan ditentukan
konsentrasinya dtitrasi cengan titran yang sesuai dan elektroda indicator digunakan untuk
mengikuti perubahan potensial akibat titrasi. Plot antara potensial elektroda dengan volume
titrasi akan berupa kurva sigmold, dimana titik ekivale dapat ditentukan dari kurva tersebut
(Tim Kimia Analitik, 2012).
Titik akhir titrasi dalam titrasi potensiometri dideteksi dengan menetapkan volume
pada saat terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambah titran. Untuk titrasi

yang menggunakan suatu elektroda kaca dapat digunakan untuk semua reaksi titrimetri,
misalnya asam basa, redoks, pengendapan dan pembentukan kompleks. Titrasi ini dapat
dilakukan dengan tangan, ataupun prosedur itu diotomatiskan. Dalam titrasi tidak otomatis,
potensial diukur setelah penambahan tiap tetes berurutan dari titran dan pembacaan yang
diperoleh dari volume titran dibuat kurva titrasi. Jika digunnkan elektoda kaca, diperlukan
piranti ukur dengan impedansi masukan yang tinggi karena resistan kaca yang tinggi. Namun
sebagian besar telah menggunakan pH meter. Karena pH meter ini digunakan secara meluas
untuk semua jenis titrasi, bahkan dalam hal-hal tertentu penggunaannya tidak diwajibkan
(Underwood,1986).
Titrasi potensiometri biasanya tidak diperlukan potensialpotensial mutlak ataupun
potensial relatif terhadap suatu separuh sel standar, dan pengukuran dilakukan sementara
titrasi berlangsung. Titik ekuivalensi reaksi akan ditunjukkan oleh perubahan potensial e.m.f.
suatu elektroda haruslah konstan potensialnya meskipun tidak perlu diketahui, elektroda lain
harus berperan sebagai indikator perubahan konsentrasi ion dan haruslah merespons dengan
cepat (Basset, 1994).

BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Elektroda pH
mV/pH meter
Stirrer magnetik dan anak stirrernya
Gelas beaker 150 mL
Buret 50 mL
Botol Semprot
3.1.2 Bahan
Buffer pH 4 dan 7
Larutan HCl baku 0,1 M
Soda kue
Akuades
Laarutan baku NaOH 0,1 M
3.2 Skema Kerja
3.2.1

Kalibrasi pH meter

3.2.2

Standarisasi HCl

3.2.3 Penentuan Soda Kue

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.1.1 Tabel Titrasi NaOH dengan HCl
Penambahan

pH larutan

1 mL HCl ke-

Pengulangan 1

Pengulangan 2

Awal (0)

12,510

12,485

12,465

12,429

12,427

12,377

12,382

12,332

12,345

12,297

12,305

12,250

12,265

12,201

12,224

12,155

12,181

12,106

12,133

12,048

10

12,086

11,996

11

12,030

11,946

12

11,969

11,885

13

11,904

11,817

14

11,831

11,746

15

11,761

11,658

16

11,671

11,566

17

11,573

11,306

18

11,440

11,105

19

11,265

10,790

20

11,013

10,175

21

10,527

9,423

22

9,732

7.100

23

7,757

7,050

24

5,405

5,470

25

2,665

2,510

4.1.2 Tabel Titrasi Na2CO3 dengan HCl


Penambahan

pH larutan

1 mL HCl ke-

Pengulangan 1

Pengulangan 2

Awal (0)

8,890

8,890

8,812

8,737

8,657

8,613

8,441

8,404

8,095

8,073

7,611

7,602

7,265

7,265

7,060

7,055

6,911

6,905

6,790

6,783

10

6,690

6,685

11

6,605

6,610

12

6,534

6,529

13

6,468

6,462

14

6,407

6,402

15

6,350

6,343

16

6,288

6,286

17

6,233

6,230

18

6,180

6,179

19

6,128

6,133

20

6,078

6,074

21

5,020

6,026

22

5,962

5,974

23

5,908

5,927

24

5,856

5,876

25

5,802

5,820

4.1.3 Kadar Na2CO3 dan NaHCO3


Na2CO3
NaHCO3

73,83%
58,52%

4.2 Pembahasan
Potensiometri adalah suatu teknik analisis yang didasari oleh pengukuran potensial
suatu sensor atau elektroda. Suatu membran sensor atau permukaan sensor berfungsi sebagai
setengah sel elektrokimia yang menimbulkan potensial sebanding dengan logaritma dari
aktivitas atau konsentrasi ion yang dianalisis. Potensial sel diperoleh dengan mengukur pada
keadaan tidak ada arus melalui sel. Potensiometri ini bekerja berdasarkan hukum Nernst.
Prinsip dasar dari metode potensiometri adalah pengukuran potensial suatu larutan
dengan menggunakan elektroda dengan zerro current. Sementara titrasi potensiometri

merupakan salah satu bentuk pengembangan dari metode ini dengan penggunaan titrasi
dalam penambahan suatu larutan.
Praktikum kali ini adalah titrasi potensiometri. Sementara yang dilakukan dalam
praktikum ini mengkalibrasi pH meter, kemudian standarisasi HCl, dan penentuan kadar
NaHCO3 dan Na2CO3dalam soda kue.
Titrasi
potensiometri
merupakan analisis
volumetri. Analisis
volumetri
biasanya diperlukan larutan standar. Proses penentuan konsentrasi larutan satandar dengan
larutan lain yang telah diketahui pasti konsentrasinya disebut standarisasi atau membakukan.
Larutan standar adalah larutan yang diketahui konsentrasinya yang akan digunakan pada
analisis volumetri. Ada dua cara menstandarkan larutan yaitu:
1. Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat tertentu,
kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut
larutan standar primer, sedangkan zat yang kita gunakan disebut standar primer.
2. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat kemudian
melarutkannya untuk memperoleh volum tertentu, tetapi dapat distandartkan dengan larutan
standar primer, disebut larutan standar skunder.
Sementara tujuan dari standarisasi adalah mengetahui konsentrasi pasti dari suatu
larutan. Belum tentu konsentrasi suatu larutan akan tetap jika telah dibiarkan dalam waktu
lama. Sebagai contoh NaOH yang beersifat higroskopis atau mudah mengikat uap air dan air
sehingga jika dibiarkan terlalu lama maka konsentrasinya akan berubah. Beberapa zat yang
dapat digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi persyaratan seperti mudah
diperoleh dalam bentuk murninya, stabil, dan mudah dikeringkan atau tidak higroskopis.
Titrasi potensiometri pada umumnya sama seperti titrasi yang lainnya oleh karena itu
reaksiyang terjadi pada titrasi potensiometri ini harus berlangsung cepat, sehingga titrasi
dapat dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selanjutnya, reaksi harus sederhana
dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat kesetaraan yang pasti dari reaktan. Reaksi harus
berlangsung secara sempurnasehingga akan memudahkan dalam penetapan konsentrasi
ataupun perhitungan.
Sebelum digunakan pH meter yang merupakan elektroda kaca bersifat sensitif
terhadap ion H+ akan dikalibrasi menggunakan larutan KCl. Proses ini bertujuan agar skala
yang ditunjukkan pada pH meter adalah benar. KCl merupakan garam yang bermuatan netral
sehingga sering digunakan untuk mengkalibrasi pH meter.
Set alat titrasi potensiometri otomatis dirangkai sedemikian rupa sehingga
penambahan larutan HCl dapat dilakukan untuk memulai titrasi. 25 mL larutan NaOH 0,1 M
ditempatkan pada wadah yang tersedia dan ditetesi (ditambahkan) 1 mL HCl untuk kemudian
diukur pH pada tiap-tiap penambahan hingga 25 mL HCl yang digunakan. Setiap dilakukan
penambahan maka larutan dihomogenkan dengan cara mengaduk secara otomatis
menggunakan alat yang disediakan. Tujuan dari penghomogenan ini adalah menyamakan pH
disetiap bagian larutan. Hal ini karena penambahan larutan HCl sebanyak 1 mL hanya terjadi
pada sebagian bagian saja, untuk mempercepat reaksi penggaraman dan pengukuran pH
secara merata pada tiap bagian maka dilakuakan pengadukan. pH yang ditunjukkan pada alat
dicata dan kemudian diplotkan terhadap volume HCl yang ditambahkan.
Titik ekivalen titrasi merupakan suatu titik dengan jumlah mol titran dan titrat pada
titik tersebut adalah sama atau ekivalen. Sebagai contoh 1 mol NaOH akan memiliki titik
ekivalen jika sudah tercapat 1 mol HCl yang ditambahkan. Titik ekivalen digunakan sebagai
titik akhir titrasi dengan bantuan indikator untuk mendeteksi titik akhir tersebut.
Jika diplotkan pada skema standarisasi HCl didapatkan grafik

Titik ekivaelen dari grafik tersebut dapat ditemukan dengan cara menentukan garis linearitas
sesuai dengan data yang ada. Titik ekivalen tersebut diketahui pada garis linear yang
memotoh grafik tersebut. Berdasarkan grafik di atas maka titik ekivalennya adalah 22 mL
HCl karena pada titik tersebut terjadi perpotongan. Grafik tersebut menginformasikan bahwa
pH dari larutan NaOH yang dititrasi menggunakan larutan HCl lama kelamaan akan turun.
Hal ini dikarenakan terbentuknya garam NaCl sehingga konsentrasi NaOH menurun akibat
sebagian NaOH ternetralkan oleh asam HCl. Reaksinya adalah
NaOH (aq) +HCl (aq) NaCl (aq) + H2O (aq)
Penurunan pH mula-mula terjadi sedikit demi sedikit, kemudian saat mendekati titik ekivalen
penurunan menjadi drastis. Oleh karena itu, titrasi harus dilakukan secara hati-hati. Namun
karena penggunaan mesin kesalahan dalam penambahan titran dapat diminimalisir. Ketika
titik ekivalen diketahui, maka konsentrasi HCl dapat diketahui yaitu dengan menggunakan
persamaan V1 M1 = V2M2. Dari percobaan ini didapatkan konsentrasi larutan HCl adalah 0,11
M.
Setelah HCl sudah diketahui konsentrasinya, larutan tersebut digunakan untuk
menitrasi Na2CO3 untuk diketahui kadarnya. Reaksi yang terjadi adalah
Na2CO3 (aq) +HCl (aq) NaCl (aq) + NaHCO3 (aq)
Mula-mula pH dari larutan yang terbuat dari soda kue adalah 8,8 kemudian lama kelamaan
turun. Hal ini dikarenakan basa Na2CO3 dalam soda kue ternetralkan oleh HCl. Jika
digambarkan grafik maka

Titik ekivalen bergasarkan grafik tersebit berada pada 19 mL. Hal ini dapat diketahui dengan
perpotongan grafik dengan garis linieritas. Kurva yang dihasilkan tidak terlalu curam seperti
halnya titrasi HCl dengan NaOH halll ini dikarenakan soda kue merupakan basa yang lemah
jika dibandingkan NaOH. Dengan menggunakan persamaan V1 M1 = V2 M2. Maka
konsentrasi Na2CO3 dapat diketahui. Namun karena yang akan dicari adalah kadar maka
diperlukan persamaan mol. Mol HCl dan mol Na2CO3 saat titik ekivalen adalah sama. Dengan
demikiam dapat digunakan untuk mengetahui berat. Kadar dihitung dengan membagi dengan
massa sampel dikalikan 100%. Dari percobaan ini didapatkan kadar Na 2CO3 dalam sampel
adalah 73,83%. Mol NaHCO3 juga dapat diketahui berdasarkan persamaan reaksi. Mol
NaHCO3 terhadap mol Na2CO3 adalah satu banding satu. Oleh karena ini keduanya sama.
Kadar dari NaHCO3 dalam sampel adalah 58,52%.
Kesalahan yang mungkin terjadi saat praktikum dilakukan adalah ketidakbersihan alat
untuk titrasi seperti gelas tempat sampel pada mesin pencucian yang kurang bersih dapat
menyebabkan adanya zat sisa yang menempel. Selain itu, larutan NaOH bersifat higroskopis.
Jika dibiarkan terlalu lama maka kemungkinan akan engikat uap air di udara sehingga
konsentrasinya dimungkinkan turun dari semula yaitu 0,1 M.

BAB 5. PENUTUP
-

5.1 Kesimpulan
Prinsip dasar titrasi potensiometri adalah pengukuran potensial suatu larutan dengan
menggunakan elektroda dengan zerro current secara titrasi.
Kadar Na2CO3 dalam sampel adalah 73,83% dan kadar NaHCO3 dalam sampel sebesar
58,52%.
5.2 Saran
Sebaiknya pembuatan larutan dari sampel diperhatikan betul jumlah pelarut yang
ditambahkan karena akan mempengaruhi konsentrasi.
Sebaiknya pencucian alat-alat yang hendak digunakan dilakukan dengan bersih dan
dikeringkan terlebih dahulu sebeelum digunakan kembali.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Hidrochloride Acid (http://www.scienelab.com/msds/php? msdsld=9223456) diakses
14 April 2012 pukul 12.57 WIB.
Anonim. 2012. Sodium Hidroxyde (http://www.scienelab.com/msds/php? msdsld=9924120) diakses
14 April 2012 pukul 12.45 WIB.
Anonim. 2012. Sodium Bicarbonate (http://www.scienelab.com/msds/php? msdsld=9776623)
diakses 14 April 2012 pukul 12.57 WIB.
Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis dan Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Gandjar, Gholib Ibnu. 2007. Kimia Analisis Farmasi. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Hendayana, Sumar. 1994. Kimia Analitik Instrumen. Semarang: IKIP Semarang Press.
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.
Rivai, Harizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: Universitas Indonesia.
Tim Kimia Analtik. 2012. Penuntun Praktikum Elektroanalisis. Jember: Universitas Jember.
Underwood, Day. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTROANALISIS (DESIGN SENSOR


POTENSIOMETRI)

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTROANALISIS

DESIGN SENSOR POTENSIOMETRI

Nama Praktikan
NIM

: Dian Fatmawati

: 101810301042
Kelompok

: 3

Fak/Jurusan

: MIPA/ Kimia

Nama Asisten

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2012
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Elektrokimia memiliki banyak teknikteknik dalam analisisnya, salah


satunya yaitu amperometri, voltametri dan potensiometri. Praktikum kali ini kita
akan membahas tentang teknik potensiometer khususnya desaign sensor dari
potensiometri ini sendiri. Perkembangan teknik analisis berkembang pesat,
miniaturisasi dan simplifikasi instrument analisis menjadi fokus pengembangan.
Di Indonesia bidang ini cukup fisibel dikembangkan mengingat teknologi dan
instrument yang dikembangkan tidak sophisticated (canggih). Bidang tersebut
adalah elektroanalisis baik pengukuran secara potensiometri maupun
amperometri.
Kesederhanaan potensiometri hanya mengandalkan pengukuran potensial
dari satu reaksi dengan pengkondisian pengukuran pada zerro current.
Berdasarkan prinsip kerja inilah dapat dilakukan pengukuran terhadap
konsentrasi suatu analit.
Model sensor potensiometri yang akan digunakan pada praktikum ini
ialah modified electrode, dimana Elektroda ini dibuat dengan cara
menggabungkan material elektroda dengan zat aktif sehingga reaksi
berlangsung dielektroda itu sendiri. Hal ini akan meningkatkan kinerja sensor
khususnya kecepatan merespons reaksi (respons time) dan selektifitas sensor
dalam mendeteksi analit.

1.2

Tujuan
Mahasiswa memiliki ketrampilan
pengukuran analit secara potensiometri

dalam

mendisain

sensor

untuk

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1
2.1.1

Material Safety Data Sheet (MSDS)


CuSO4
Senyawa dengan rumus molekul CuSO 4 biasanya banyak digunakan
sebagai bahan dasar botol plastik. Memiliki densitas 1.02 g/m 3 (20C) dan dapat
larut dalam air pada 20C. Memiliki titik didih sebesar 150oC dan titik leleh
sebesar 110oC. Berbahaya jika tertelan dan menyebabkan iritasi pada
pernapasan dan pence rnaan, iritasi pada mata dan iritasi pada kulit. Pertolongan
pertama jika terkena mata, maka dibilas dengan air bersih selama 15 menit. Jika
terkena kulit, maka langsung dicuci di air mengalir dan gunakan sabun. Jika
tertelan berikan 2-4 cangkir susu (Anonim, 2012).

2.2

Prinsip Dasar Potensiometri

Potensiometri merupakan metode analisis kimia berdasar hubungan


antara potensial elektroda relatif dengan konsentrasi larutan dalam suatu sel
kimia. Metode ini berguna untuk menentukan titik setara suatu titrasi secara
instrumental sebagai pengganti indikator visual. Contoh pada titrasi asam-basa,
redoks, kompleksometri, dan pengendapan. Alat yang digunakan untuk
melakukan percobaan ini adalah potensiometer atau pH meter dengan elektroda
kerja dan referensi yang tercelup dalam larutan yang diukur. Metode
potensiometri saat ini telah banyak digunakan untuk mendeteksi titik akhir
titrasi. Metode ini dapat digunakan secara langsung untuk menentukan
konsentrasi suatu ion (ion selective electrode). Alat-alat yang diperlukan dalam
metode potensiometri adalah elektroda pembanding (reference electrode),

elektroda indikator(indicator electrode) dan alat pengukur potensial (Sukardjo,


1989).
Potensiometri adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari pengukuran
perubahan potensial dari elektroda untuk mengetahui konsentrasi dari suatu
larutan. Potensiometri adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan
pengukuran potensial dari suatu sel elektrokimia yang terdiri dari elektroda dan
larutan. Larutan tersebut berisi komponen utama yang mempunyai kemampuan
mengion. Dasar metode potensiometri adalah membuat sel elektrik dari analat
suatu larutan sehingga perbedaan potensial sel tersebut berkaitan dengan
konsentrasi larutan.Yang menjadi dasar dari potensiometri ialah terjadi
pemisahan muatan yang berada di elektroda dan di larutan, saat sebuah
electroda dimasukkan kedalam sebuah larutan, dan perbedaan ini yang
menyebabkan adanya potensial, dengan kata lain potensiometri dapat dijelaskan
sebagai pengukuran beda potential suatu sistem (larutan/padatan) tanpa ada
aliran listrik dalam sistem tersebut (Khopkar, 1994).
Alat yang juga menjadi bagian utama dalam metode potensiometri ini
ialah adanya voltmeter. Voltmeter dapat membaca atau menampilkan besarnya
beda potensial antara electrode indicator dengan electrode pembandingnya.
Penggunaannya sendiri harus disambungkan dengan kedua indicator dengan
bantuan kawat. Nilai beda potensial yang dibaca ialah pada saat nilai yang
ditampilkan oleh voltmeter konstan dan tidak berubah. Hal ini menunjukkan
bahwa nilai tersebut merupakan besarnya nilai potensial sel.
Nilai beda potensial didapat dari perbedaan dari dua buah elektroda yang
dipergunakan, namun untuk mengetahui hal itu diperlukan beberapa perangkat
alat yang digunakan agar nilai perubahan beda potensial dapat dibaca,
diantaranya ialah elekroda acuan, elektroda indikator, jembatan garam, larutan
yang dianalisis, dan voltmeter. Sebagai pertimbangan bahwa pengukuran voltase
dilakukan dengan arus yang sangat kecil atau tidak ada arus yang mengalir. Jika
dilihat berdasarkan rumus berikut :
V = I.R
karena arus tidak mungkin dihilangkan (I = 0), maka cara yang paling mungkin
ialah dengan memperbesar nilai tahanan/hambatan (R). Alat yang cukup ideal
untuk melakukan pengukuran ini minimal memiliki tahanan sebesar 10 8 Ohm
sehingga didapatkan nilai arusnya sebesar 10 -8 A. Di dalam beberapa
penggunaan analisis elektrokimia, diperlukan suatu elektroda dengan harga
potensial setengah sel yang diketahui, konstan, dan sama sekali tidak peka
terhadap komposisi larutan yang sedang diselidiki. Suatu electroda yang
memenuhi persyaratan di atas disebut elektroda pembanding. Pasangan
elektroda pembanding adalah elektroda indikator yang potensialnya tergantung
pada konsentrasi zat yang sedang diselidiki (Hendayana, 1994).

Elektroda acuan adalah elektroda yang potensial standarnya diketahui,


konstan, mengikuti persamaan Nernst.
Ecell = Eind Eref + Ej
Persamaan Nernst: E = 0,0591/n log K

Keterangan:
Ecell : Potensial sel
Eind : Potensial elektroda indikator
Eref : Potensial elektroda acuan
Ej : Potensial sambungan cair (liquid junction potential)
Terdapat beberapa jenis elektroda acuan/ standar yakni Saturated Hydrogen
Electrode (SHE), Saturated Colomel Electrode (SCE) dan Ag/AgCl (Khopkar,
1990).
Elektroda indikator merupakan alat yang dapat mengindikasikan atau
mengukur besarnya perubahan potensial yang terjadi. Nilai dari potensial yang
terbaca merupakan pengukuran nilai potensial elektroda indikator terhadap
elektroda standar/reference. Elektroda indikator dibagi menjadi 2 kelompok
besar yakni metal elektroda dan membran elektroda. Pengembangan sensor
potensiometri terfokus pada indikator elektroda, salah satu teknik yang sedang
berkembang adalah modifikasi electroda. Elektroda ini dibuat dengan cara
menggabungkan material elektroda dengan zat aktif sehingga reaksi
berlangsung di elektroda itu sendiri. Hal ini akan meningkatkan kinerja sensor
khususnya kecepatan merespons reaksi dan selektifitas sensor dalam
mendeteksi analit (Tim Penyusun, 2012).
Pada praktikum ini, digunakan electrode membrane untuk mengukur
konsentrasi analit. Elektroda indikator ini biasanya peka/sensitif terhadap satu
jenis ion saja. Tegangan yang ditimbulkan bergantung pada banyaknya ion
dalam larutan yang mengenai permukaannya. Hal ini dapat dilihat dari jumlah
atau konsentrasi ion dalam larutan, tetapi praktikum ini tidak menggunakan
elektroda indikator membran. Membran yang digunakan dalam electrode
indicator ini ialah PTFE membrane,Polytetrafluoroethylene (PTFE) merupakan
polimer floro sintesis yang bersifat hidrofobik. Sifatnya sangat tidak reaktif
karena kekuatan ikatan atom karbon dan fluoro. Membrane ini digunakan
sebagai alat pelindung dan alat pendeteksi fluida dan kontaminan(Wikipedia,
2012)

BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1
3.1.1

Alat dan Bahan


Alat

Batang gelas atau Batang Plastik berbentuk silinder

PTFE membran

Conductor (Kawat Cu)

Voltmeter

Gelas kimia

Cutter

Botol semprot

Tissue

3.1.2
-

3.2

Bahan
Larutan standar CuSO4 0.1; 0.05; 0.01 dan 0.005M

Cara Kerja

3.2.1
larutan CuSO4 0.01M

Prosedur Disain Sensor

Diisikan pada ruang kosong sehingga kawat tembaga yang dimasukkan


terendam sedalam 1cm dari dasar tabung gelas plastik berbentuk pipa yang
ditutup ujungnya dengan membran dan diikat dengan karet (O ring)

Hasil
Disisipkan bahan isolator di ujung tabung untuk menahan posisi kawat Cu tidak
bergerak

3.2.2

Pengujian Sensor
Larutan CuSO4

Dipersiapkan 5 20 mL dengan konsentrasi 0.5M

Dimasukkan dalam beaker gelas

Dimasukkan sensor potensiometri yang sudah dibuat

Dimasukkan juga logam Cu kedua sebagai elektroda referensi.

Dihubungkan kedua elektroda di atas dengan Voltmeter,

Dicatat nilai potensialnya ketika nilai voltase sudah konstant

Diulangi percobaan tersebut sebanyak tiga kali

Dihitung standart deviasinya dan nilai relatif standar deviasinya.

Diangkat elektroda dan bilas dengan akuades, ganti larutan dalam beaker
dengan larutan CuSO4 dengan konsentrasi , 0.1; 0.05; 0.01 dan 0.005M dan

Dibuat kurva kalibrasi berdasar potensial yang terukur dengan konsentrasi


larutan standar yang sesuai.

Ditentukan linier range, sensitifitas dari elektroda yang dibuat.


Hasil

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1

Hasil

0,005 M

0,01 M

0,05 M

0,1M

0,5 M

Pengulangan
1

0,53 mV

0,9 mV

0,44 mV

0,35 mV

0,35 mV

Pengulangan
2

0,73 mV

0,8 mV

0,45 mV

0,32 mV

0,3 mV

Rata - rata

0,63 mV

0,85 mV

0,445
mV

0,335
mV

0,325
mV

5.2

Pembahasan

Metode yang digunakan untuk menganalisis sampel saat ini sangat


beragam. Hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai sampel yang
diteliti. Dalam elektroanalisis dipelajari cara-cara analisi sampel dengan metode
pendekatan menggunakan teknik elektro. Salah satu metode yang ada di
dalamnya ialah metode Potensiometri. Potensiometri adalah cabang ilmu kimia
yang mempelajari pengukuran perubahan potensial dari elektroda untuk
mengetahui konsentrasi dari suatu larutan. Yang menjadi dasar dari
Potensiometri ialah terjadi pemisahan muatan yang berada di elektrode dan di
larutan, saat sebuah electrode dimasukkan kedalam sebuah larutan, dan
perbedaan ini yang menyebabkan adanya potensial.Potensiometri merupakan
metode analisis kimia berdasar hubungan antara potensial elektroda relatif
dengan konsentrasi larutan dalam suatu sel kimia. Metode ini berguna untuk
menentukan titik setara suatu titrasi secara instrumental sebagai pengganti
indikator visual. Alat yang digunakan untuk melakukan percobaan ini adalah
potensiometer atau pH meter dengan elektroda kerja dan referensi yang tercelup
dalam larutan yang diukur.
Metode potensiometri memiliki beberapa macam yang dibedakan
berdasarkan jenis elektroda yang digunakan. Dua komponen elektroda yang
digunakan
yakni reference
electrode dan indicator
electrode.
reference
electrode merupakan
elektroda
pembanding
yang digunakan
untuk
membandingkan nilai potensial yang terbaca oleh indicator electrode.
Syarat-syarat
yang
harus
sebagai reference electrode ialah :

dipenuhi

untuk

dapat

digunakan

Mematuhi persamaan Nersnt bersifat reversible


Memiliki potensial elektroda yang konstan oleh waktu
Segera kembali keharga potensial semula apabila dialiri arus yang kecil
Merupakan elektroda yang bersifat nonpolarisasi secara ideal

Indicator electrode merupakan elektroda kedua yang digunakan. Elektrode


ini berfungsi untuk menganalisis atau membaca potensial yang ditimbulkan oleh
sampel dan nilai tersebut akan mengindikasikan seberapa besar konsentrasi
sampel. Elektroda indikator secara umum dikelompokkan menjadi 2 bagian
yaitu :
Elektroda indikator logam
Elektroda logam adalah elektroda yang dibuat dengan menggunakan
lempengan logam atau kawat yang dicelupkan ke dalam larutan elektrolit.
Elektroda logam dapat dikelompokkan ke dalam elektroda jenis pertama (first
kind), elektroda jenis kedua (second kind), elektroda jenis ketiga (third kind),
elektroda redoks. Dari berbagai macam elektroda logam, dalam percobaan ini
menggunakan
elektroda
jenis
pertama,
elektroda
yang
langsung
berkesinambungan dengan kation yang berasal dari logam tersebut
Elektroda indikator membran
Elektroda indikator ini biasanya peka atau sensitif terhadap satu jenis ion
saja. Tegangan yang ditimbulkan bergantung pada banyaknya ion dalam larutan
yang mengenai permukaannya. Hal ini dapat dilihat dari jumlah atau konsentrasi
ion dalam larutan, tetapi praktikum ini tidak menggunakan elektroda indikator
membran.
Praktikum kali ini membuat sebuah design membrane electrode dari
bahan yang sederhana. Langkah awal yaitu mendesain sensor untuk pengukuran
analit secara potensiometri. Bahan yang digunakan dalam membuat sensor ini
yaitu, wadah pulpen, kawat tembaga, dan membran dalam rokok.
Penyusunannya yaitu dengan menggunakan bulpen yang bening supaya kawat
yang tercelup dalam larutan CuSO4 dapat terlihat. Kemudian ditutup ujung
bulpen dengan menggunakan filter rokok dan dipastikan larutannya tidak
meresap dan tidak menetes. Setelah itu dimasukkan kawat tembaga dan diisi
dengan larutan CuSO4, logam Cu sebagai indikator elektroda.
Sampel atau analit yang digunakan dalam praktikum ini ialah larutan
CuSO4 dengan konsentrasi 0.1, 0.05, 0.01, dan 0.005 M dan CuSO4 0.01 M
sebagai larutan standartnya. Setelah semua sampel dibuat maka dilakukan
pengukuran terhadap potensial sampel menggunakan electrode yang telah
dibuat. Dan hasilnya seperti yang telah dicantumkan dalam table hasil
pengamatan. Dari hasil tersebut, dibuat grafik yang menghubungkan antara
konsentrasi dengan beda potensial. Yang mana semakin tinggi konsentrasi maka
beda potensialnya semakin tinggi pula dan dapat diartikan bahwa konsentrasi
berbanding lurus dengan beda potensial. Berikut merupakan grafik antara beda
potensial dan konsentrasi. Hal ini dikarenakan pada konsentrasi yang lebih tinggi
aktifitas dari ionnya lebih banyak sehingga menghasilkan arus yang lebih tinggi
pula dan menunjukkan beda potensial yang besar.

Grafik hubungan antara konsentrasi dengan beda potensial rata rata

Hasil praktikum yang diperoleh, tidak menunjukkan hasil yang sesuai


dengan referensi. Dapat dilihat pada grafik, bahwa nilai R jauh dari 1 maka dapat
diindikasikan bahwa terjadi penyimpangan jauh dari data yang diperoleh. Hal ini
dikarenakan kondisi sensor yang tidak baik. Terjadi kebocoran pada ujung sensor,
sehingga data yang didapatkan tidak valid. Kesalahan pengenceran juga akan
mempengaruhi hasil yang didapat karena konsentrasilah yang mempengaruhi
percobaan ini. Selain itu, kesalahan praktikan dalam membaca skala yang
ditunjukkan pada voltmeter kemungkinan juga merupakan faktor kesalahan yang
dilakukan pada praktikum kali ini.

BAB 5 PENUTUP

5.1

Kesimpulan

Berdasarkan data yang didapatkan dalam percobaan dan pengukuran


terhadap analit, maka dapat disimpulkan bahwa :

Metode potensiometri berprinsipkan pada pengukuran beda potensial disaat


tidak ada arus yang mengalir.

Desain sensor potensiometri dapat dibuat menggunakan electrode Cu dengan


CuSO4 sebagai inner solution dan filter rokok sebagai membrane.

Besarnya konsentrasi berbanding lurus dengan bertambah besarnya nilai beda


potensial yang terbaca

5.2

Saran
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam percobaan ini ialah :

Lebih teliti lagi saat melakukan pembacaan skala yang ditunjukkan dalam
pengukuran.

Pengecekan terhadap membrane sensor potensiometri yang harus benar-benar


rapat sehingga tidak ada kebocoran.

DAFTAR PUSTAKA

Hendayana, Sumar. 1994. Kimia Analitik Instrumen. IKIP Semarang Press.


Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Khopkar. 1994. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Soekardjo. 1989. Kimia Fisik. Jakarta : PT Rineka Cipta

Tim Penyusun. 2012. Petunjuk Praktikum Elektroanalisis Kimia. Universitas Jember. Jember

Penentuan titik ekivalen titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan cara diferensial yaitu
dengan merajah kurva titrasi turunan pertama dan atau turunan kedua yang disebut kurva
diferensial. Kurva diferensial pertama dibuat dengan cara menghitung kenaikan pH persatuan
kenaikan volume titran ( pH/V ) atau ( pE/V ), kemudian perbandingan ( pH/V ) atau
( pE/V ) disajikan dalam bentuk grafik sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan.
Sementara itu kurva diferensial kedua dibuat dengan cara merajah ( 2pH/V2 ) atau ( 2pE/V2 ),
kemudian perbandingan ( 2pH/V2 ) atau ( 2pE/V2 ), disajikan dalam bentuk grafik sebagai fungsi
dari volume titran yang ditambahkan. Penambahan volume ( V ) yang optimum bergantung pada
besarnya arah lereng kurva titrasi pada titik ekivalen dan ini dapat dengan mudah diperkirakan pada
titrasi pendahuluan. Pada umumnya semakin besar arah lereng pada titik ekivalen, semakin kecil
perbedaan volume titran ( V ) yang diberikan. Bila kurva titrasi simetris di sekitar titik ekivalen, titik
akhir yang didefinisikan oleh nilai maksimum dari ( pE/V ) adalah identik dengan titik ekivalen
stoikiometrik yang sebenarnya. Kurva titrasi simetris diperoleh apabila electrode indikator bersifat
reversible dan bila dalam reaksi titrasi satu mol reagen titran bereaksi dengan satu mol zat yang
dititrasi. Kurva titrasi tidak simetris terjadi bila banyaknya molekul atau ion reagensia dan zat yang
dititrasi tidak sama dalam reaksi titrasi ( Rohman, 2007 ).

PERCOBAAN POTENSIOMETRI (PENGUKURAN pH)


I.
1.
2.
3.

Tujuan
Membuat kurva hubungan pH-volume pentiter
Menentukan titik akhir titrasi
Menghitung kadar zat

II.

Prinsip

Potensial sel galvanik tergantung pada aktivitas zat-zat ionik tertentu di dalam larutan sel,
maka pengukuran potensial sel merupakan hal yang sangat penting dalam kimia analitik. Dalam
banyak hal suatu sel dapat disusun yang potensialnya tergantung pada aktivitas suatu macam zat
ionik tunggal dalam larutan. Salah satu elektroda sel harus sedemikian rupa hingga potensialnya
tergantung pada aktivitas ion yang akan ditentukan; ini disebutelektroda indikator. Elektroda yang
lainnya merupakan sebuah pembanding, seperti kalomel, yang potensialnya diketahui dan tetap
selama pengukuran (Underwood, 1986).
Suatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode yaitu, pertama
(potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadap potensial dari suatu aktivitas ion yang
diamati, hal ini terutama diterapkan dalam pengukuran pH larutan air. Kedua (titrasi langsung), ion
dapat dititrasi dan potensialnya diukur sebagai fungsi volume titran. Potensial sel, diukur sehingga
dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen. Suatu petensial sel galvani bergantung pada
aktifitas spesies ion tertentu dalam larutan sel, pengukuran potensial sel menjadi penting dalam
banyak analisis kimia (Basset, J. dkk., 1994).

Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan
elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan
menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan, mempunyai kenaikan
yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Elektroda
indikator adalah elektroda yang potensialnya bergantung pada konsentrasi ion yang akan ditetapkan
dan dipilih berdasarkan jenis senyawa yang hendak ditentukan. Sedangkan elektroda pembanding
adalah elektroda yang potensialnya diketahui dan selama pengukuran tetap konstan. Elektroda
pembanding yang banyak digunakan adalah elektroda kalomel karena konstannya potensial yang
dihasilkan. Antara elekroda pengukur (elektroda indikator) dan elektroda pembanding terdapat
jembatan arus atau garam dengan larutan elektrolit yang di dalamnya terdapat transport ion arus
(Widjaja dkk., 2008). Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk
menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat
pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).
Keuntungan dari metode potensiometri adalah biayanya yang relatif murah dan sederhana.
Voltameter dan elektroda jauh lebih murah daripada instrumen saintifik yang paling modern. Selain
itu kelebihan dari metode potensiometri yaitu pada saat potensial sel dibaca tidak ada arus yang
mengalir dalam larutan (arus residual tatanan sel dan efek polarisasi dapat diabaikan). Manfaat
potensiometri juga untuk menetapkan tetapan kesetimbangan. Potensial-potensial yang stabil sering
diperoleh dengan cukup cepat dan tegangan yang mudah dicatat sebagai fungsi waktu, sehingga
potensiometri kadang juga bermanfaat untuk pemantauan yang kontinyu dan tidak diawasi (Skoog
dkk., 1998).
Potensiometri pada dasarnya bersifat nondestruktif terhadap sampel, dalam pengertian
bahwa penyisipan elektroda tidak megubah komposisi larutan uji (kecuali untuk sedikit kebocoran
elektrolit dari elektroda acuan) (Khopkar, 1990). Metode potensiometri merupakan salah satu metode
yang banyak digunakan untuk menentukan kandungan ion-ion tertentu dalam suatu larutan, titrasi
terhadap vitamin c (bersifat asam) mungkin juga bersifat basa. Selain itu, metode potensiometri dapat
juga digunakan dalam penetapan nikel dan kobal dengan pengkomlekskan denga sianida, penetapan
flourida dengan metode titik nol, penetapan besi (III) dengan EDTA dan standarisasi larutan kalium
permanganate dengan kalium iodide (Vogel, 1994).
Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada
mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. Dalam titrasi secara
manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara berurutan, dan hasil pengamatan
digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi.
Dalam banyak hal, suatu potensiometer sederhana dapat digunakan, namun jika tersangkut elektroda
gelas, maka akan digunakan pH meter khusus. Karena pH meter ini telah menjadi demikian biasa,
maka pH meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya tidak
diwajibkan (Basset, J. dkk., 1994).
Bermacam reaksi titrasi dapat diikuti dengan pengukuran potensiometri. Reaksinya harus
meliputi penambahan atau pengurangan beberapa ion yang sesuai dengan jenis elektrodanya.
Potensial diukur sesudah penambahan sejumlah kecil volume titran secara berturut-turut atau secara
kontinyu dengan perangkat automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi (Khopkar,
2003).
a) Reaksi netralisasi: Titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas.
Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8.
b) Reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan: Pembentukan endapan atau kompleks akan
membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Biasanya digunakan elektroda Ag dan Hg. Berbagai logam
dapat dititrasi dengan EDTA.

c)

Reaksi redoks: Elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat
(KMnO4, K2Cr2O7, Co(NH3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus dibebaskan dengan
reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 2003).
Semua potensial elektroda dikutip relatif terhadap potensial elektroda hidrogen standar. Jadi,
elektroda hidrogen haruslah dianggap sebagai elektroda rujukan primer. Elektroda yang paling
meluas penggunaannya adalah elektroda kalomel, disebabkan oleh mudahnya pembuatan dan
konstan potensial. Sebuah sel-paruh kalomel adalah sel paruh dalam mana merkurium dan kalomel
(merkurium(I) klorida) ditutup dengan konsentrasi tertentu; dapat 0,1 N; 1,0 N; 3,5 N; atau jenuh.
Larutan kalium klorida haruslah dijenuhi oleh kalomel. Potensial elektroda kalomel pada 25 OC relatif
terhadap elektroda hidrogen normal untuk 0,1 N; 1,0 N dan jenuh masing-masing adalah 0,3371;
0,2846; dan 0,2458 volt (Bassett, J. dkk., 1994).
Elektroda indikator suatu sel adalah elektroda yang potensialnya bergantung pada aktivitas
(dan karena itu pada konsentrasi) spesi ion tertentu yang konsentrasinya akan ditentukan. Dalam
potensiometri langsung atau titrasi potensiometri suatu ion logam, sebuah elektroda indikator
sederhana biasanya akan terdiri dari batang atau kawat yang dibersihkan dengan seksama yang
terbuat dari logam yang tepat; paling penting adalah permukaan logam yang akan dicelupkan ke
dalam larutan itu bebas dari lapisan tipis oksida atau hasil korosi apa saja. Dalam beberapa kasus
elektroda yang lebih memuaskan dapat disiapkan dengan menggunakan kawat platinum yang telah
disalut dengan lapisan tipis logam yang tepat dengan cara pengendapan secara listrik (Bassett, J. dkk.,
1994).
Bila dilibatkan ion hidrogen, sebuah elektroda hidrogen dapat jelas digunakan sebagai
elektroda indikator, namun peran itu dapat juga dilakukan oleh elektroda lain, yang terkemuka
adalah elektroda kaca. Inilah contoh elektroda membran dalam mana potensial yang dikembangkan
antara suatu selaput kaca dan larutan merupakan suatu fungsi linier pH larutan, dan karena itu dapat
untuk mengukur konsentrasi ion hidrogen dari larutan itu. Karena selaput kaca itu mengandung ion
logam alkali, juga mungkin untuk mengembangkan elektroda kaca yang dapat digunakan untuk
menetapkan konsentrasi ion-ion ini dalam larutan, dan dari pengembangan ini (yang didasarkan pada
mekanisme pertukaran ion), sederetan lengkap elektoda membran telah dikembangkan berdasarkan
baik pada bahan pertukaran ion zat padat maupun cairan: elektroda-elektroda ini merupakan bagian
deret yang penting dari elektroda peka-ion yang sekarang tersedia untuk banyak macam ion (Bassett,
J. dkk., 1994).
Persamaan Nernst memberikan hubungan antara potensial relatif suatu elektroda dan
konsentrasi spesies ioniknya yang sesuai dalam larutan. Potensiometri merupakan aplikasi langsung
dari persaman Nernst dengan cara pengukuran potensial dua elektroda tidak terpolarisasi pada
kondisi arus nol. Dengan pengukuran pengukuran potensial reversibel suatu elektroda, maka
perhitungan aktivitas atau konsentrasi suatu komponen dapat dilakukan (Rivai, 1995).
Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur sesudah penambahan sejumlah kecil
volume titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan perangkat automatik. Presisi dapat
dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda indikator yang digunakan dalam titrasi potensiometri
tentu saja akan bergantung pada macam reaksi yang sedang diselidiki. Jadi untuk suatu titrasi asam
basa, elektroda indikator dapat berupa elektroda hidrogen atau sesuatu elektroda lain yang peka akan
ion hidrogen, untuk titrasi pengendapan halida dengan perak nitrat, atau perak dengan klorida akan
digunakan elektroda perak, dan untuk titrasi redoks (misalnya, besi(II)) dengan dikromat digunakan
kawat platinum semata-mata sebagai elektroda redoks (Khopkar, 1990).
Pada praktikum kali ini metode yang akan kita gunakan adalah titrasi potensiometri tepatnya
titrasi asam basa, ketetapan untuk dapat menemukan titik akhir pada titrasi asam basa secara
potensiometri tergantung dari konsentrasi dan kekuatan asam serta basa. Agar metode ini berhasil
baik, kedua asam atau basa hendaknya kekuatannya berbanding sekurangnya 10 -5: 1. Metode ini dapat

digunakan untuk titrasi asam atau basa bervalensi banyak, tetapi hanya dapat dilakukan untuk
masing-masing senyawa jika harga pKa atau pKb berbeda minimal 2 satuan (Widjaja dkk., 2008).
Pada titrasi asam basa, elektroda indikator yang digunakan adalah elektroda membran gelas
yang sensitif terhadap perubahan jumlah ion hidrogen (H +)dan elektroda pembanding yang
digunakan adalah Elektroda Kalomel, (Khopkar, 2003) seperti yang terlihat pada gambar dibawah.
Untuk titrasi asam basa, setiap perubahan ion hidrogen tersebut diamati. Pada elektrode membran
gelas, tidak ada elektron yang diberikan kepada membran. Justru sebuah membran membiarkan ion
H+ untuk menembusnya, tetapi menahan ion yang lain. Dengan demikian akan timbul beda potensial
yang cukup besar untuk mencegah terjadinya migrasi lebih lanjut. Kelebihan dari elektroda membran
gelas adalah tidak terjadinya kontaminasi sehingga tidak ada permukaan katalis yang kehilangan
aktivitasnya. Nilai-nilai pH dari suatu larutan yang kurang tersangga bisa diukur secara akurat dan
akhirnya elektroda jenis ini sangat cocok digunakan untuk memonitor pH secara kontinu pada
rentang waktu yang lama (Day dan Underwood, 1981). Melalui kurva hubungan antara volume
pentiter vs pH dapat ditentukan titik akhir titrasinya. Titik akhir titrasi dideteksi dengan menetapkan
volume di mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan peniter (Widjaja
dan Laksmiani, 2009).

Penentuan
titik
ekivalen
titrasi
potensiometri dapat dilakukan dengan cara
diferensial yaitu dengan merajah kurva titrasi
turunan pertama dan atau turunan kedua yang
disebut kurva diferensial. Kurva diferensial pertama
dibuat dengan cara menghitung kenaikan pH
persatuan kenaikan volume titran ( pH/V ) atau ( pE/V ), kemudian perbandingan ( pH/V )
atau ( pE/V ) disajikan dalam bentuk grafik sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan.
Sementara itu kurva diferensial kedua dibuat dengan cara merajah ( 2pH/V2 ) atau ( 2pE/V2 ),
kemudian perbandingan ( 2pH/V2 ) atau ( 2pE/V2 ), disajikan dalam bentuk grafik sebagai fungsi
dari volume titran yang ditambahkan. Penambahan volume ( V ) yang optimum bergantung pada
besarnya arah lereng kurva titrasi pada titik ekivalen dan ini dapat dengan mudah diperkirakan pada
titrasi pendahuluan. Pada umumnya semakin besar arah lereng pada titik ekivalen, semakin kecil
perbedaan volume titran ( V ) yang diberikan. Bila kurva titrasi simetris di sekitar titik ekivalen, titik
akhir yang didefinisikan oleh nilai maksimum dari ( pE/V ) adalah identik dengan titik ekivalen
stoikiometrik yang sebenarnya. Kurva titrasi simetris diperoleh apabila electrode indikator bersifat
reversible dan bila dalam reaksi titrasi satu mol reagen titran bereaksi dengan satu mol zat yang

dititrasi. Kurva titrasi tidak simetris terjadi bila banyaknya molekul atau ion reagensia dan zat yang
dititrasi tidak sama dalam reaksi titrasi ( Rohman, 2007 ).

VII.

PEMBAHASAN

Praktikum potensiometri ini dilakukan dengan tujuan untuk untuk membuat kurva
hubungan antara pH dan volume pentiter, menentukan titik akhir titrasi, dan menentukan
kadar larutan HCl yang dianalisis. Potensiometri adalah salah satu metode penentuan
konsentrasi zat melalui pengukuran nilai potensial. Nilai potensial yang diukur setiap
penambahan volume titran tertentu akan diplotkan menjadi kurva titrasi dan akan didapatkan
titik ekuivalen titrasinya. Volume pada titik ekuivalen titrasi tersebut adalah volume titran
yang akan digunakan dalam perhitungan selanjutnya. Dalam potensiometri ini, tidak
digunakan indikator karena dengan pengukuran potensial larutan sudah bisa didapatkan titik
ekuivalennya dari kurva (Underwood, 1998). Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik
ekivalen sehingga data yang dihasilkan dianggap memiliki kesalahan yang kecil.
Metode yang akan kita gunakan adalah titrasi potensiometri tepatnya titrasi asam
basa, ketetapan untuk dapat menemukan titik akhir pada titrasi asam basa secara
potensiometri tergantung dari konsentrasi dan kekuatan asam serta basa. Elektroda indikator
yang digunakan pada titrasi asam basa adalah elektroda membran gelas yang sensitif terhadap
perubahan jumlah ion hidrogen (H+) dan elektroda pembandingnya adalah Elektroda
Kalomel. Dalam titrasi asam basa, diamati setiap perubahan ion H+ atau perubahan pH yang
ditunjukkan pada alat pengukur pH. Kelebihan dari elektroda membran gelas adalah tidak
terjadinya kontaminasi sehingga tidak ada permukaan katalis yang kehilangan aktivitasnya
selain itu nilai-nilai pH dari suatu larutan yang kurang tersangga bisa diukur secara akurat
dan akhirnya elektroda jenis ini sangat cocok digunakan untuk memonitor pH secara kontinu
pada rentang waktu yang lama (Day dan Underwood, 1981). Melalui kurva hubungan antara
volume pentiter vs pH dapat ditentukan titik akhir titrasinya dari HCl. Selanjutnya titik akhir
titrasi dideteksi dengan menetapkan volume di mana terjadi perubahan potensial yang relatif
besar ketika ditambahkan volume pentiter yang sedikit.
Pada titrasi potensiometri ini, digunakan NaOH 0,1 N sebagai titran dan HCL 0,1
N sebagai titratnya. Buret yang akan digunakan pada proses titrasi sebelumnya dibilas
terlebih dahulu dengan larutan titran NaOH dengan tujuan untuk membersihkan buret,
pembilasan dilakukan dari 2-3 kali. Sebanyak 10 ml larutan HCl dipipet, kemudian
dimasukkan ke dalam beaker glass 250 ml, ditambahkan aquades hingga 50 ml. Magnetic
stire dimasukkan ke dalam beaker glass, yang berfungsi untuk mengaduk larutan yang akan
dititrasi. Titrasi kemudian dimulai dengan menambahkan sejumlah volume NaOH sesuai
petunjuk praktikum, dengan alat stire yang terus berputar saat titrasi dilakukan. Setiap
penambahan sejumlah larutan titran, pH larutan kemudian diukur menggunakan
potensiometer Corning PC 420-D, yang di dalamnya terdapat elektrode membran gelas yang
sangat sensitif terhadap perubahan jumlah H+.
Saat elektrode membrane gelas dicelupkan ke dalam campuran larutan HCl dan air,
terjadi kesetimbangan antara ion-ion hidrogen yang terdapat di bagian tipis bola gelas dan ion
hidrogen yang terletak dalam larutan yang diuji. Elektrode gelas akan membiarkan ion
H+ untuk menembusnya, tetapi menahan ion yang lain. Semakin besar konsentrasi ion
hidrogen dalam larutan HCl, semakin banyak ion hidrogen yang masuk ke dalam lapisan
gelas tadi. Hal ini menyebabkan pada saat awal-awal titrasi, nilai pH kecil. Semakin banyak
pentiter yang ditambahkan, semakin sedikit ion hidrogen yang terdapat dalam larutan HCl,
karena ion hidrogen akan bereaksi dengan ion hidronium (OH-) dan membentuk air. Hal ini

akan menyebabkan ion hidrogen yang memasuki lapisan gelas juga semakin sedikit sehingga
muatan elektrode gelas berkurang, maka nilai pH pun meningkat. Hal ini dapat dilihat pada
kurva hubungan antara pH dan volume pentiter.

Pada kurva di atas dapat dilihat bahwa semakin banyak volume larutan pentiter
(NaOH) yang ditambahkan ke dalam larutan titrat, pH larutan menjadi semakin turun (basa).
Lonjakan pH secara drastis terjadi yaitu dari pH 3,52 menjadi 5,35 yaitu saat volume titran
10,2 ml. Lonjakan pH yang terjadi secara drastis dengan penambahan sedikit volume titran
ini menunjukkan titik akhir titrasi telah terjadi, di mana perubahan pH ini terjadi ketika
adanya penambahan 0,2 ml larutan pentiter NaOH dari volume 10 ml menjadi 10,2 ml.
Lonjakan pH terjadi disebabkan terjadinya titik akhir titrasi dimana ion hidrogen (H+) dari
HCl telah habis bereaksi dengan ion hidronium (OH-) dari NaOH.
Sebelum titrasi dilakukan, larutan titrat bersifat asam yang mengandung banyak ion
hidrogen dalam larutan tersebut. Namun setelah titrasi dilakukan, jumlah ion hidrogen
perlahan-lahan berkurang karena telah bereaksi dengan ion hidronium membentuk air, dan
saat terjadi lonjakan pH secara drastis tersebut ion hidrogen (H+) dari HCl telah habis
bereaksi dengan ion hidronium (OH-) dari NaOH. Dengan demikian, tidak terdapat lagi ion

hidrogen dalam bentuk bebas dalam larutan titrat. Penambahan larutan titrat setelah titik akhir
titrasi terjadi menyebabkan jumlah ion hidronium akan semakin meningkat dan menyebabkan
naiknya pH larutan (pH larutan basa). Tidak adanya ion hidrogen di dalam elektrode gelas
secara tiba-tiba akan membuat arus yang dihasilkan oleh elektrode gelas menjadi meningkat
secara tiba-tiba dan kemudian turun secara tiba-tiba pula. Hal inilah yang memberi sinyal
pada pH meter mengenai adanya peningkatan harga pH secara tiba-tiba dari larutan HCl yang
dititrasi oleh pentiter (larutan NaOH 0,1N).
Berdasarkan hasil praktikum titik akhir titrasi pada percobaan ini adalah saat volume
pentiter 10,2005 ml. Hal ini berarti bahwa volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan
larutan sampel (HCl) tersebut adalah10,2005 ml. Setelah diperoleh titik akhir titrasi
kemudian dilakukan perhitungan kadar sampel dan praktikan memperoleh hasil konsentrasi
larutan HCl sebesar0,1020 M, 0,1020 N dan kadarnya sebesar 0,37 % b/v.

VIII.

KESIMPULAN

1. Dari kurva hubungan antara volume pentiter dan pH terlihat adanya lonjakan pH yang drastis
yaitu dari 3,52 menjadi 5,35ketika terjadi penambahan 0,2 ml larutan NaOH 0,1 N dari
volume NaOH 10 ml menjadi volume NaOH 10,2 ml. Lonjakan pH titrat ini mengindikasikan
tercapainya titik akhir titrasi.
2. Titik akhir titrasi tercapai ketika terjadi penambahan volume ekivalen NaOH
sebanyak 10,2005 ml NaOH pada larutan titrat HCl.
3. Kadar HCl dalam larutan sampel HCl dalam bentuk molaritas, normalitas, dan % b/v
berturut-turut adalah 0,1020
, 0,1020
, dan 0,37 %
.

DAFTAR PUSTAKA
Day, R.A. dan A.L. Underwood. 1981. Analisa Kimia Kuantitatif, Edisi Keempat. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Gandjar, I.G., dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khopkar, S. M.2003.Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rivai Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: Penerbit UI Press.
Skoog, D. A., F. J. Holler and T. A. Nieman.1998. Principles of Instrumental Analysis,5th
edition.USA: Saunders College Publishing.
Underwood, A. L dan R. A. Day.1980. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi Keempat. Jakarta:
Erlangga.
Widjaja, I N.K., K.W. Astuti, N.M.P. Susanti, dan I M.A.G. Wirasuta. 2008.Buku Ajar Analisis
Farmasi Fisiko Kimia. Jimbaran: Jurusan Farmasi FMIPA UNUD.
Widjaja, I N.K. Dan N.P.L. Laksmiani. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia Analisis. Jimbaran:
Jurusan Farmasi FMIPA UNUD.