Anda di halaman 1dari 17

Biologi Perikanan

Seksualitas Ikan

Disusun oleh
Adhardiansyah
230110130135
Perikanan B

Universitas Padjadjaran
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Perikanan
Jatinangor

2015

Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Seksualitas
Ikan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Biologi Perikanan.
Penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak lain yang
turut serta membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya dan juga bagi
penulis sendiri khususnya. Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini tidak
luput dari berbagai macam kesalahan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu saran dan kritik membangun dari pembaca sangatlah dibutuhkan agar dalam
pembuatan makalah selanjutnya bias lebih baik lagi.

Jatinangor, 19 Februari 2015

Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar

Daftar Isi

ii

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar belakang


1.2 Tujuan
1.3 Manfaat

1
1
1

BAB II Pembahasan

2.1 Seksualitas

2.2 Hermaprodit

2.2.1 Hermaprodit Sinkroni 2


2.2.2 Hermaprodit Protandri 4
2.2.3 Hermaprodit Protogini 5
2.3 Gonokhorisma

2.4 Sifat Sifat Seksualitas 7


2.4.1 Sifat Seksualitas Primer 7
2.4.2 Sifat Seksualitas Sekunder

BAB III Penutup

13

3.1 Kesimpulan

13

Daftar Pustaka

14

BAB I
Pendahuluan
1.1

Latar belakang
Pada dasarnya alat reproduksi setiap hewan terdiri dari dua jenis yaitu kelamin

jantan dan kelamin betina. Begitu juga dengan ikan, alat reproduksi ikan terdiri dari
jantan dan juga betina. Ikan jantan ialah ikan yang memiliki organ penghasil sperma
dan ikan betina ialah ikan yang memiliki organ penghasil telur. Namun berbeda
halnya dengan hewan lainnya, pada beberapa ikan terdapat sebuah kelainan dengan
ikan-ikan normal lainnya, yaitu terdapatnya hermaprodit atau yang biasa kita kenal
dengan nama lain memiliki dua kelamin yaitu terdapatnya ovarium dan uga testis
dalam satu gonad, dan juga pada ikan terdapat pula kelamin ganda atau disebut juga
dengan gonokharisme.
Dengan mengetahui konsep seksualitas pada ikan, tentunya kita diharapkan
mampu mengembangkan dan juga mengaplikasikan untuk pengelolaan sumber daya
alam khususnya ikan secara optimal dan efektif. Untuk itulah penulis menyusun
makalah ini dengan tujuan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai seksualitas pada
ikan.
1.2

1.3

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
1. Mengetahui seksualitas pada ikan serta cirri-cirinya
2. Mengetahui apa itu hermaprodit, macam-macam hermaprodit, juga jenisjenis ikan yang tergolong ikan hermaprodit
3. Mengetahui apa itu gonokharisme
Manfaat
Manfaat yang dapat kita ambil dari pembuatan makalah ini yaitu kita

mengetahui dan menjelaskan apa itu seksualitas ikan, hermaprodit, dan juga
gonokharisme pada ikan.

BAB II
Pembahasan
2.1

Seksualitas ikan

Pada dasarnya seksualitas hewan terdiri dari dua jenis yaitu jenis jantan dan
betina. Begitu pula seksualitas pada ikan. Ikan jantan ialah ikan yang mempunyai
organ penghasil sperma dan ikan betina ialah ikan yang mempunyai organ penghasil
telur. Apabila dalam suatu populasi terdiri dari ikan-ikan yang berbeda
seksualitasnya, maka populasi ini disebut populasi yang heteroseksual. Ada pula
populasi yang hanya terdiri dari ikan betina saja dan populasi ini disebut populasi
monoseksual (Effendie 2002)
Dalam menentukan seks ikan dari suatu perairan diperlukan kehati-hatian dan
harus berkali-kali karena secara keseluruhan terdapat macam-macam seksualitas ikan
mulai dari hermaprodit sinkroni, protandi, protogini, hingga gonokhorisme yang
berdeferensiasi maupun yang tidak berdeferensiasi (Wahyuningsih dan Barus 2006).
2.2

Hermaproditisme
Satu individu ikan dikatakan hermaprodit apabila dalam tubuhnya terdapat

jaringan ovarium yang dikenal sebahai penentu individu betina dan juga terdapat
jaringan testis sebagai penentu individu jantan. Kedua jaringan tersebut terdapatnya
dalam satu organ dan letaknya seperti letak gonad yang terdapat pada individu normal
(Effendie 2002).
Effendi (2002) juga menjelaskan bahwa berdasarkan perkembangan ovarium
dan atau testis yang terdapat dalam satu individu itu, akan menentukan macam
hermaproditismenya. Adapun jenis hermaprodit yang terbagi menjadi tiga jenis, yaitu
hermaprodit sinkroni, hermaprodit protandri dan hermaprodit protogini.
2.2.1

Hermaproditisme Sinkroni
Hermaprodit sinkroni yaitu apabila di dalam gonad individu terdapat sel seks

betina dan sel seks jantan yang dapat masak bersama-sama. Ikan-ikan dari famili
Serranidae dan testisnya yang mengandung sperma, dimana telur dan spermanya
dapat masak bersama-sama dan masing-masing siap untuk dikeluarkan. Ikan
hermaprodit ini dapat mengadakan pembuahan sendiri dan dapat pula tidak. Ikan
yang mengadakan pembuahan sendiri mengeluarkan telur terlebih dahulu kemudian

dibuahi oleh sperma dari individu yang sama. Ikan yang tidak mengadakan
pembuahan sendiri, dalam satu kali pemijahan ia dapat berlaku sebagai ikan jantan
dan dapat pula sebagai ikan betina (Effendie 2002).
Apabila ikan telah berlaku sebagai ikan jantan dengan mengeluarkan sperma
untuk membuahi telur dari ikan yang lain, kemudian ia sendiri berlaku sebagai ikan
betina dengan mengeluarkan telur yang akan dibuahi sperma individu lain. Serranus
cabrilla dan Hepatus hepatus yang terdapat di daerah Mediteran, gonadnya terpisah
menjadi dua bagian. Demikian juga pada ikan Serranuss subligerius yang terdapat di
Florida. Dalam alam atau dalam akuarium yang berisi dua ekor ikan ini atau lebih,
dapat menjadi pasangan untuk berpijah. Ikan yang berfase betina mempunyai tanda
warna yang bergaris vertikal, sesudah berpijah hilang warnanya dan berubah menjadi
fase jantan (Effendie 2002).

Sumber : Yamamoto 1969 dalam Effendie 2002

Gambar 1.Penampang Melintang Gonad Hermaprodit Sinkroni


Contoh : Serranus cabrilla

2.2.2

Hermaproditisme Protandri
Hermaprodit protandri yaitu ikan yang di dalam tubuhnya mempunyai gonad

yang mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina. Ketika ikan ini
masih muda gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testis, tetapi jaringan
testis tadi mengisi sebagian besar gonad pada bagian lateroventral. Setelah jaringan
testisnya berfungsi dan dapat mengeluarkan sperma, kemudian akan terjadi masa
transisi di mana selama itu jaringan ovariumnya membesar dan testisnya mengkerut.
Pada ikan yang sudah tua umumnya testis tadi sudah tereduksi sekali sehingga
sebagian besar dari gonad tadi diisi oleh jaringan ovarium yang berfungsi. Lama
waktu untuk tiap fase yaitu jantan, transisi dan fase berina belum diketahui dengan
pasti. Ikan-ikan yang termasuk ke dalam golongan ini adalah :
a.
b.
c.
d.

Sparus auratus
Sargus annularis
Pagellus mormymus
Lates calcarifer (ikan kakap)

Sumber : Yamamoto 1969 dalam Effendie 2002

Gambar 2. Penampang Melintang Gonad Hermaprodit Protandri


Contoh : Ikan Kakap (Lates calcarifer), Sparatus auratus

Lates calcarifer

2.2.3

Hermaproditisme Protogini
Hermaprodit protogini merupakan keadaan sebaliknya dengan hermaprodit

protandri. Proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan. Pada
beberapa ikan yang termasuk golongan ini sering terjadi sesudah satu kali pemijahan,
jaringan ovariumnya mengekerut kemudian jaringan testisnya berkembang. Salah
satu spesies ikan di Indonesia yang sudah dikenal termasuk ke dalam golongan
hermaprodit protogini ialah ikan belut sawah (Monopterus albus) dan ikan kerapu
lumpur (Epinephelus tauvina). Ikan ini memulai siklus reproduksinya sebagai ikan
betina yang berfungsi, kemudian berubah menjadi ikan jantan yang berfungsi. Pada
ikan-ikan yang termasuk ke dalam famili Labridae, misalnya Halichieres sp. terdapat
dua macam jantan yang berbeda. Ikan jantan pertama terlihatnya seperti betina tetapi
tetap jantan selama hidupnya. Sedangkan jantan yang kedua ialah jantan yang berasal
dari perubahan ikan betina. Pada ikan-ikan yang mempunyai fase dalam satu siklus
hidupnya, pada tiap-tiap fasenya seiring didapatkan ada perbedaan baik dalam
morfologi maupun warnanya. Keadaan demikian menyebabkan terjadinya kesalahan
dalam mendeterminasi ikan itu menjadi dua nama. Padahal sebenarnya spesies ikan
itu sama. Misalnya pada ikan Larbus ossifagus ada individu yang berwarna merah
dan ada yang berwarna biru. Ternyata ikan yang berwarna merah adalah ikan betina,
sedangkan yang berwarna biru adalah ikan jantan.
Hermaprodit protandri dan hermaprodit protogini sering disebut hermaprodit
beriring. Pada waktu ikan itu masih muda mempunyai gonad yang berorganisasi dua
macam seks, dimana terdapat jaringan testis dan ovarium yang belum berkembang
dengan baik. Proses suksesi kelamin dari satu populasi hermaprodit protandri atau
protogini terjadi pada individu yang berbeda baik menurut ukuran atau umur, tetapi
merupakan suatu proses yang beriring. Pada ikan Gopi didapatkan setelah suksesi itu
satu proses yang kembali kepada keadaan fase yang pertama.
Contoh : Belut sawah (Monopterus albus), Fluta alba, Kerapu lumpur (Epinephelus
tauvina)

Monopterus albus
2.3

Epinephelus tauvina

Gonokhorisme
Menurut Fujaya (2004), sebagian besar spesies ikan adalah gonokristik

(droecious) dimana sepanjang hidupnya memiliki jenis klemin yang sama. Selama
gonokristik juga dikenal dua jenis gonad. Pada ikan juga terdapat juga
Gonokhorisme, yaitu kondisi seksual berganda dimana pada ikan terhadap juvenil
gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan atau betinanya. Gonad
tersebut kemudian berkembang menjadi semacam ovarium. Setelah keadaan ini yaitu
ikan yang mempunyai gonad semacam ovarium, setengah dari individu ikan-ikan itu
gonadnya menjadi ovarium dan setengahnya lagi menjadi testis. Dengan kata lain
setengahnya menjadi jantan dan setengahnya lagi menjadi betina. Gonokhoris yang
demikian dinamakan gonokhoris yang tidak berdiferensiasi, dimana keadaannya tidak
stabil dan dapat terjadi interseks yang spontan. Misalnya Anguilla anguilla dan
Salmo gairdneri irideus adalah gonokhoris yang tidak berdiferensiasi. Tetapi pada
ikan Salmo tersebut pernah terjadi interseks walaupun tidak sering. Sedangkan pada
ikan Clupea harengus gonadnya banyak yang interseks. Interseks terdapat juga pada
Pteriopthalamus vulgaris yang menunjukkan seolah-olah ada dua jenis geografis
dalam spesies yang sama. Akan tetapi ikan tersebut yang terdapat di pantai selatan
Jawa seksnya berdiferensiasi dengan bebas sejak dari permulaan. Spesies yang sama
yang terdapat di pantai utara Jawa, testis ikan yang myda mempunyai bentuk dasar
ovari yang sama dimana hal tersebut menunjukkan ikan jantan melalui fase betina.
Ikan gonokhoris yang berdiferensiasi sejak dari mudanya sudah ada perbedaan
antara jantan dan betina, dan perbedaan itu tetap sejak dari kecil sampai dewasa.

Karena stabilnya pada ikan-ikan yang gonokhoris berdiferensiasi tidak terdapat


spesies yang interseks.
2.4

Sifat-sifat seksualitas ikan

2.4.1

Sifat Seksualitas Primer


Sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara

langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya


pada ikan betina, dan pada ikan jantan testis dengan pembuluhnya. Tanpa melihat
tanda-tanda lain pada ikan, kiranya akan sukar untuk mengetahui organ seksual
primernya. Dengan demikian kita tidak dapat membedakan ikan jantan dengan ikan
betina. Satu cara yang terbaik untuk mengetahui hal tersebut dengan mengadakan
seks. Namaun hasil pembedahan itu belum tentu positif. Lebih-lebih apabila kita
belum mengetahui bahwa ikan itu mempunyai sifat seksual yang lain. Biasanya pada
ikan-ikan muda sifat seksual primernya sukar ditentukan walaupun ikan itu
gonokhoris berdiferensiasi.
Ciri seksual primer merupakan organ yang langsung berhubungan dengan
organ reproduksi. Contohnya testis pada ikan jantan, dan ovarium pada ikan betina.
2.4.2

Sifat Seksualitas Sekunder


Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang berguna untuk

membedakan jenis ikan jantan dan ikan betina berdasarkan tanda tanda luar ikan.
Cirri seksualitas sekunder terdiri dari 2 jenis yaitu:
1. Yang tidak mempunyai hubungan dengan kegiatan reproduksi secara
keseluruhan.
Contoh:
a. bentuk morfologi (sifat dimorfisme seksualitas) pada ceratias sp ikan
jantan lebih kecil.
b. puncak pemijahan (nauptial tubercle) ikan jantan terdapat benjolan pada
ekor tepat sebelum musim pemijahan dan hilang setelah pemijahan pada ikan
minnow ( osmerus).
c. sirip ekor

- sirip ekor bagian bawah memanjang pada ikan jantan cinggir putrid
(Xiphorus helleri)
d. warna (sifat seksualitas dikromatisme) ikan jantan memiliki warna lebih
cemerlang dibandingkan betina, pada ikan Lepomis lumillis jantan terdapat
bintik jingga yang lebih terang dan banyak. Pinggiran sirip ekor ikan mujair
berwarna merah.
Contoh jenis ikan :
a. Lepomis humilis (Jantan memiliki warna lebih cerah dari pada betina)

Jantan

Betina

b. Xipophorus helleri (Jantan memiliki sirip ekor yang lebih panjang dari
pada betina)

Atas : Jantan, Bawah : betina


c. Clarias batrachus (Betina ukurannya lebih besar dari pada jantan)

Jantan dan betina

2. Yang merupakan alat bantu atau organ tambahan waktu pemijahan


a. Gonopodium pada ikan seribu (Labistes reticulates)

b. Modifikasi sirip dada pada jantan untuk memegang gonopodium pada


kedudukannya sehingga memudahkan masuk ke oviduct betina. Misal
pada Xenodexia
c. Myxopterigyum (Clasper) modifikasi sirip perut pada golongan ikan
elasmobranchii.

d. Ovipositor yaitu alat yang digunakan untuk menyalurkan telur ke bivalvia.


Contoh ikan: Rhodes amarus dan Careoroctus betina

Rhodes amarus
e. Tenaculum (semacam clasper yang terdapat pada bagian kepala) Misal
pada ikan Chimera betina

Pada dasarnya sifat seksual sekunder dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a. Sifat Seksual Sekunder Sementara
Sifat seksual sekunder ini bersifat sementara, hanya muncul pada waktu
musim pemijahan saja. Misalnya ovipositor pada ikan Bitterling (Rhodeus amarus),
yaitu alat yang dipakai untuk menyalurkan telur ke bivalvia. Pada ikan Nocomis
biguttatus dan Semotillus atromaculatus jantan terdapat semacam jerawat di atas
kepalanya pada waktu musim pemijahan. Selain dari itu banyaknya jerawat dengan
susunannya yang khas pada spesies tertentu bisa dipakai untuk tanda menetukan
spesies. Jadi penentuan spesies ikan ini hanya dapat dilakukan pada waktu musim
pemijahan saja. Di luar musim pemijahan tanda-tanda tadi tidak ada.
b.

Sifat Seksual Sekunder Tetap


Sifat seksual sekunder yang bersifat permanen atau tetap, yaitu tanda ini tetap

ada sebelum, selama dan sesudah musim pemijahan. Misalnya tanda bulatan hitam

10

pada ekor ikan Amia calva jantan, gonopodium pada Gambusia affinis, clasper pada
golongan ikan Elasmobranchia, warna yang lebih menyala pada ikan Lebistes, Beta
dan ikan-ikan karang, ikan Photocornycus spiniceps yang berparasit pada ikan
betinanya dan sebagainya.
Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja.
Apabila ikan jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi tanda
seksual sekunder menghilang, tetapi pada ikan betina tidak menunjukkan sesuatu.
Sebaliknya tanda bulatan hitam pada ikan Amia betina akan muncul pada bagian
ekornya seperti ikan Amia jantan, bila ovariumnya dihilangkan. Keterangan mengenai
hal tersebut di atas ialah bahwa hormon yang dikeluarkan oleh testis mempunyai
peranan pada tanda seksual sekunder. Tetapi tanda hitam pada ikan Amia
menunjukkan bahwa hormon yang dikeluarkan oleh ikan betina menjadi penghalang
timbulnya tanda bulatan hitam. Sedangkan tanda bulatan hitam tadi terdapat pada
kedua seks ikan Amia muda (Effendie 2002).

Amia calva

Gambia affinis

11

BAB III
Penutup
3.1

Kesimpulan
Pada dasarnya setiap hewan memiliki seksualitas yang sama, begitu juga

dengan ikan. Alat seksualitas pada ikan ada dua yaitu jantan dan betina. Ikan jantan
ialah ikan yang memiliki organ dan saluran penghasil sperma dan ikan betina ialah
ikan yang memiliki organ penghasil telur. Alat seksualitas jantan berupa testis dan
alat seskualitas betina berupa ovarium. Yang membedakan dengan hewan lain
terdapat beberapa perbedaan yang dimiliki oleh ikan yaitu hermaprodit dan
gonokhorisme. Hermaprodit merupakan keaadaan dimana ikan memiliki organ
kelamin betina dan organ kelamin jantan dalam satu gonad. Sedangkan gonokorisme
merupakan kelamin ganda pada ikan.

12

Daftar Pustaka
Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan.Bogor: Yayasan Pustaka Nusatama.
Wahyuningsih, H. dan T, A. Barus. 2006. Ikhtiologi. Medan: USU.
http://www.scribd.com/doc/13450474/REPRODUKSI-IKAN-Oleh-Indra-GumayYudha
(Diakses Hari Jumat, 20 Februari 2015 pukul 14:06)
http://linggars.com/post/ciri-ciri-seksual-ikan-jantan.html
(Diakses Hari Jumat, 20 February 2015 pukul 14:08)
http://budidaya-perairan.blogspot.com/2009/03/seksualitas-ikan.html
(Diakses Hari Jumat, 20 February 2015 pukul 14:08)
http://www.google.com/images
(Diakses Hari Jumat, 20 February 2015 pukul 14:08)

13

14