Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
Banyak metode analisa kuantitatif yang digunakan oleh para ahli kimia, salah
satunya dengan menggunakan warna sebagai bantuan dalam menganalisa dan mengenali
zat-zat kimia. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan
visual, dengan studi lebih mendalam dari absorbsi energi radiasi oleh macam-macam zat
kimia memperkenankan dilakukannya pengukuran ciri-cirin dan kuantitatif dengan
ketelitian yang lebih besar. Dengan menggantikan mata manusia dengan pelacak-pelacak
lain dari radiasi dimungkinkan studi dari absorbsi di luar daerah terlihat spektrum, dan
sering kali percobaan-percobaan spektrofotometrik dapat dilakukan secara otomatik.
Dalam penggunaan dimasa sekarang, istilah spektrofotometrik mengingatkan pengukuran
berapa jauh energi radiasi diserap oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari
radiasi, maupun pengukuran absorbsi terisolasi pada suatu panjang gelombang tertentu.
Agar dapat mengerti spektrofotometrik, kita perlu memeriksa kembali peristilahan yang
dipergunakan dalam menentukan tabiat energi radiasi, memperhatikan secara elementer
interaksi radiasi dengan macam zat kimia, serta melihat secara umum apa yang dikerjakan
oleh alat-alatnya (Underwood, 1994).
Radiasi berinteraksi dengan zat kimia akan diperoleh informasi tentang zat tersebut.
Interaksi ini dapat berupa refleksi, reflaksi, dan defraksi. Cara interaksi dengan suatu
sampel dapat dengan absorbsi, pemendaran, emisi, dan penghaburan, tergantung pada sifat
materi (Underwood, 1994).
Spektrofotometer
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi
dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek
kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan
sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding
dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet. Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya
visibel, UV dan inframerah, sedangkan materi dapat berupa atom dan molekul namun yang
lebih berperan adalah elektron valensi.

II-1

Laboratorium Analisa Instrumen


Spektrofotometer dibagi menjadi dua jenis yaitu spektrofotometer single-beam dan
spektrofotometer double-beam. Perbedaan kedua jenis spektrofotometer tersebut hanya
pada pemberian cahaya, dimana pada single-beam, cahaya hanya melewati satu arah
sehingga nilai yang diperoleh hanya nilai absorbansi dari larutan yang dimasukan. Berbeda
dengan single-beam, pada spektrofotometer double-beam, nilai blanko dapat langsung
diukur bersamaan dengan larutan yang diinginkan dalam satu kali proses yang sama.
Prinsipnya adalah dengan adanya chopper yang akan membagi sinar menjadi dua, dimana
salah satu melewati blanko (disebut juga reference beam) dan yang lainnya melewati
larutan (disebut juga sample beam). Dari kedua jenis spektrofotometer tersebut,
spektrofotometer double-beam memiliki keunggulan lebih dibanding single-beam, karena
nilai absorbansi larutannya telah mengalami pengurangan terhadap nilai absorbansi blanko.
Selain itu, pada single-beam, ditemukan juga beberapa kelemahan seperti perubahan
intensitas cahaya akibat fluktuasi voltase.
Sinar atau cahaya yang berasal dari sumber tertentu disebut juga sebagai radiasi
elektromagnetik. Radiasi elektromagnetik yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari
adalah cahaya matahari.
Dalam interaksi materi dengan cahaya atau aradiasi elektromagnetik, radiasi
elektromagnetik kemungkinanan dihamburkan, diabsorbsi atau dihamburkan sehingga
dikenal adanya spektroskopi hamburan, spektroskopi absorbsi ataupun spektroskopi emisi.
Pengertian spektroskopi dan spektrofotometri pada dasarnya sama yaitu di dasarkan pada
interaksi antara materi dengan radiasi elektromagnetik. Namun pengertian spektrofotometri
lebih spesifik atau pengertiannya lebih sempit karena ditunjukan pada interaksi antara
materi dengan cahaya (baik yang dilihat maupun tidak terlihat). Sedangkan pengertian
spektroskopi lebih luas misalnya cahaya maupun medan magnet termasuk gelombang
elektromagnetik.
Dari segi sumber cahaya terbagi 4 jenis Spektrofotometer (UV, Vis, UV-Vis dan Ir)
memiliki prinsip kerja yang sama yaitu adanya interaksi antara materi dengan cahaya
yang memiliki panjang gelombang tertentu. Perbedaannya terletak pada panjang
gelombang yang digunakan.
Spektrofotometri Visible (Spektro Vis)
Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah
cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat

Tinjauan Pustaka
II-2

Laboratorium Analisa Instrumen


ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380 sampai 750
nm. Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh kita, entah itu putih, merah, biru, hijau,
apapun.. selama ia dapat dilihat oleh mata, maka sinar tersebut termasuk ke dalam sinar
tampak (visible).
Sumber sinar tampak yang umumnya dipakai pada spektro visible adalah lampu Tungsten.
Tungsten yang dikenal juga dengan nama Wolfram merupakan unsur kimia dengan simbol
W dan no atom 74. Tungsten mempunyai titik didih yang tertinggi (3422 C) dibanding
logam lainnya. karena sifat inilah maka ia digunakan sebagai sumber lampu.
Sample yang dapat dianalisa dengan metode ini hanya sample yang memilii warna. Hal ini
menjadi

kelemahan

tersendiri

dari

metode

spektrofotometri

visible.

Oleh karena itu, untuk sample yang tidak memiliki warna harus terlebih dulu dibuat
berwarna dengan menggunakan reagent spesifik yang akan menghasilkan senyawa
berwarna. Reagent yang digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan analat
yang akan dianalisa. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang dihasilkan harus
benar-benar stabil.
Salah satu contohnya adalah pada analisa kadar protein terlarut (soluble protein).
Protein terlarut dalam larutan tidak memiliki warna. Oleh karena itu, larutan ini harus
dibuat berwarna agar dapat dianalisa. Reagent yang biasa digunakan adalah reagent Folin.
Saat protein terlarut direaksikan dengan Folin dalam suasana sedikit basa, ikatan peptide
pada protein akan membentuk senyawa kompleks yang berwarna biru yang dapat dideteksi
pada panjang gelombang sekitar 578 nm. Semakin tinggi intensitas warna biru
menandakan banyaknya senyawa kompleks yang terbentuk yang berarti semakin besar
konsentrasi protein terlarut dalam sample.
2. Spektrofotometri UV (ultraviolet)
Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan
interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm.
Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Deuterium disebut juga heavy
hidrogen. Dia merupakan isotop hidrogen yang stabil yang terdapat berlimpah di laut dan
daratan. Inti atom deuterium mempunyai satu proton dan satu neutron, sementara hidrogen
hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki neutron. Nama deuterium diambil dari
bahasa Yunani, deuteros, yang berarti dua, mengacu pada intinya yang memiliki dua
pertikel. Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat

Tinjauan Pustaka
II-3

Laboratorium Analisa Instrumen


menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna. Bening dan
transparan. Oleh karena itu, sample tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan
penambahan reagent tertentu. Bahkan sample dapat langsung dianalisa meskipun tanpa
preparasi. Namun perlu diingat, sample keruh tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau
centrifugasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sample harus jernih dan larut
sempurna. Tidak ada partikel koloid apalagi suspensi.
Sebagai contoh pada analisa protein terlarut (soluble protein). Jika menggunakan
spektrofotometri visible, sample terlebih dulu dibuat berwarna dengan reagent Folin, maka
bila

menggunakan

spektrofotometri

UV,

sample

dapat

langsung

dianalisa.

Ikatan peptide pada protein terlarut akan menyerap sinar UV pada panjang gelombang
sekitar 280 nm. Sehingga semakin banyak sinar yang diserap sample (Absorbansi tinggi),
maka konsentrasi protein terlarut semakin besar. Spektrofotometri UV memang lebih
simple dan mudah dibanding spektrofotometri visible, terutama pada bagian preparasi
sample. Namun harus hati-hati juga, karena banyak kemungkinan terjadi interferensi dari
senyawa lain selain analat yang juga menyerap pada panjang gelombang UV. Hal ini
berpotensi menimbulkan bias pada hasil analisa.
3. Spektrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible.
Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya
visible. Meskipun untuk alat yang lebih canggih sudah menggunakan hanya satu sumber
sinar sebagai sumber UV dan Vis, yaitu photodiode yang dilengkapi dengan
monokromator. Untuk sistem spektrofotometri, UV-Vis paling banyak tersedia dan paling
populer digunakan. Kemudahan metode ini adalah dapat digunakan baik untuk sample
berwarna juga untuk sample tak berwarna.
4. Spektrofotometri IR (Infra Red)
Dari namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometri ini berdasar pada
penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi menjadi infra
merah dekat, pertengahan, dan jauh. Infra merah pada spektrofotometri adalah infra merah
jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 m. Pada spektro IR
meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun biasanya lebih kepada analisa
kualitatif. Umumnya spektro IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu
senyawa, terutama senyawa organik. Setiap serapan pada panjang gelombang tertentu

Tinjauan Pustaka
II-4

Laboratorium Analisa Instrumen


menggambarkan

adanya

suatu

gugus

fungsi

spesifik.

Tabel 2.1.1 Panjang gelombang berbagai macam sinar

Hasil analisa biasanya berupa signal kromatogram hubungan intensitas IR terhadap


panjang gelombang. Untuk identifikasi, signal sample akan dibandingkan dengan signal
standard. Perlu juga diketahui bahwa sample untuk metode ini harus dalam bentuk murni.
Karena bila tidak, gangguan dari gugus fungsi kontaminan akan mengganggu signal kurva
yang diperoleh.
Terdapat juga satu jenis spektrofotometri IR lainnya yang berdasar pada
penyerapan

sinar

IR

pendek.

Spektrofotometri

ini

di

sebut

Near

Infrared

Spectropgotometry (NIR). Aplikasi NIR banyak digunakan pada industri pakan dan pangan
guna analisa bahan baku yang bersifat rutin dan cepat.
Secara sederhana Instrumen spektrofotometri yang disebut spektrofotometer terdiri
dari :
sumber cahaya monokromator sel 5etect 5etector read out (pembaca).

Tinjauan Pustaka
II-5

Laboratorium Analisa Instrumen

Gambar 2.1.1 Prinsip kerja Spektrofotometer


Fungsi masing-masing bagian:
1.

Sumber sinar polikromatis berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis dengan

berbagai macam rentang panjang gelombang. Untuk sepktrofotometer

UV menggunakan lampu deuterium atau disebut juga heavi hidrogen

VIS menggunakan lampu tungsten yang sering disebut lampu wolfram

UV-VIS menggunan photodiode yang telah dilengkapi monokromator.

Infra merah, lampu pada panjang gelombang IR.

2.

Monokromator berfungsi sebagai penyeleksi panjang gelombang yaitu mengubah

cahaya yang berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi cahaya monaokromatis. Jenis
monokromator yang saat ini banyak digunakan adalan gratting atau lensa prisma dan filter
optik.
Jika digunakan grating maka cahaya akan dirubah menjadi spektrum cahaya. Sedangkan
filter optik berupa lensa berwarna sehingga cahaya yang diteruskan sesuai dengan warnya
lensa yang dikenai cahaya. Ada banyak lensa warna dalam satu alat yang digunakan sesuai
dengan jenis pemeriksaan.
Pada gambar di atas disebut sebagai pendispersi atau penyebar cahaya. Dengan adanya
pendispersi hanya satu jenis cahaya atau cahaya dengan panjang gelombang tunggal yang
mengenai sel sampel. Pada gambar di atas hanya cahaya hijau yang melewati pintu keluar.
Proses 6etector atau penyebaran cahaya seperti yang tertera pada gambar.

Tinjauan Pustaka
II-6

Laboratorium Analisa Instrumen

Gambar 2.1.2 Proses dispersi cahaya


3.

Sel sampel berfungsi sebagai tempat meletakan sampel


UV, VIS dan UV-VIS menggunakan kuvet sebagai tempat sampel. Kuvet biasanya

terbuat dari kuarsa atau gelas, namun kuvet dari kuarsa yang terbuat dari silika memiliki
kualitas yang lebih baik. Hal ini disebabkan yang terbuat dari kaca dan plastik dapat
menyerap UV sehingga penggunaannya hanya pada spektrofotometer sinar tampak (VIS).
Cuvet biasanya berbentuk persegi panjang dengan lebar 1 cm.
IR, untuk sampel cair dan padat (dalam bentuk pasta) biasanya dioleskan pada dua
lempeng natrium klorida. Untuk sampel dalam bentuk larutan dimasukan ke dalam sel
natrium klorida. Sel ini akan dipecahkan untuk mengambil kembali larutan yang dianalisis,
jika sampel yang dimiliki sangat sedikit dan harganya mahal.
4.

Detektor berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan

mengubahnya menjadi arus listrik. Syarat-syarat sebuah 7etector :

Kepekaan yang tinggi

Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi

Respon konstan pada berbagai panjang gelombang.

Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi.

Signal listrik yang dihasilkan harus sebanding dengan tenaga radiasi.

Proses Absorbsi Cahaya pada Spektrofotometri


Ketika cahaya dengan panjang berbagai panjang gelombang (cahaya polikromatis)
mengenai suatu zat, maka cahaya dengan panjang gelombang tertentu saja yang akan
diserap. Di dalam suatu molekul yang memegang peranan penting adalah elektron valensi
dari setiap atom yang ada hingga terbentuk suatu materi. Elektron-elektron yang dimiliki

Tinjauan Pustaka
II-7

Laboratorium Analisa Instrumen


oleh suatu molekul dapat berpindah (eksitasi), berputar (rotasi) dan bergetar (vibrasi) jika
dikenai suatu energi.
Jika zat menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi perpindahan elektron
dari keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron ini disebut transisi
elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya inframerah maka elektron yang ada
dalam atom atau elektron ikatan pada suatu molekul dapat hanya akan bergetar (vibrasi).
Sedangkan gerakan berputar elektron terjadi pada energi yang lebih rendah lagi misalnya
pada gelombang radio.
Atas dasar inilah spektrofotometri dirancang untuk mengukur konsentrasi suatu suatu yang
ada dalam suatu sampel. Dimana zat yang ada dalam sel sampel disinari dengan cahaya
yang memiliki panjang gelombang tertentu. Ketika cahaya mengenai sampel sebagian akan
diserap, sebagian akan dihamburkan dan sebagian lagi akan diteruskan.
Pada spektrofotometri, cahaya datang atau cahaya masuk atau cahaya yang
mengenai permukaan zat dan cahaya setelah melewati zat tidak dapat diukur, yang dapat
diukur adalah It/I0 atau I0/It (perbandingan cahaya datang dengan cahaya setelah melewati
materi (sampel)). Proses penyerapan cahaya oleh suatu zat dapat digambarkan sebagai
berikut:.

Gambar 2.1.3 Proses penyerapan cahaya oleh zat dalam sel sampel
Gambar Proses penyerapan cahaya oleh zat dalam sel sampel. dari gambar terlihat
bahwa zat sebelum melewati sel sampel lebih terang atau lebih banyak di banding cahaya
setelah melewati sel sample.
Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang
hamburkan diukur sebagai transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum lambert-beer atau
Hukum Beer, berbunyi:

Tinjauan Pustaka
II-8

Laboratorium Analisa Instrumen


jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang
diserap atau ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari
konsentrasi zat dan tebal larutan.
Berdasarkan hukum Lambert-Beer, rumus yang digunakan untuk menghitung
banyaknya cahaya yang hamburkan:

dan absorbansi dinyatakan dengan rumus:

dimana I0 merupakan intensitas cahaya datang dan It atau I1 adalah intensitas cahaya
setelah melewati sampel.
Rumus yang diturunkan dari Hukum Beer dapat ditulis sebagai:

A= a . b . c atau A = . b . c
dimana:
A = absorbansi
b atau terkadang digunakan l = tebal larutan (tebal kuvet diperhitungkan juga umumnya 1
cm)
c = konsentrasi larutan yang diukur
= tetapan absorptivitas molar (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam molar)
a = tetapan absorptivitas (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam ppm).
Secara eksperimen hukum Lambert-beer akan terpenuhi apabila peralatan yang digunakan
memenuhi kriteria-kriteria berikut:

Tinjauan Pustaka
II-9

Laboratorium Analisa Instrumen


1. Sinar yang masuk atau sinar yang mengenai sel sampel berupa sinar dengan dengan
panjang gelombang tunggal (monokromatis).
2. Penyerapan sinar oleh suatu molekul yang ada di dalam larutan tidak dipengaruhi
oleh molekul yang lain yang ada bersama dalam satu larutan.
3. Penyerapan terjadi di dalam volume larutan yang luas penampang (tebal kuvet)
yang sama.
4. Penyerapan tidak menghasilkan pemancaran sinar pendafluor. Artinya larutan yang
diukur harus benar-benar jernih agar tidak terjadi hamburan cahaya oleh partikelpartikel koloid atau suspensi yang ada di dalam larutan.
5. Konsentrasi analit rendah. Karena apabila konsentrasi tinggi akan menggangu
kelinearan grafik absorbansi versus konsntrasi.
Penyimpangan hukum Bouguer Beer
Menurut hukum Bouguer Beer, suatu alur absorbans terhadap konsentrasi molar
akan berupa garis lurus dengan kemiringan b. Tetapi sering kali pengukuran terhadap
sistem kimia riil menghasilkan arus hukum Beer yang tidak linier sepanjang seluruh jangka
knsentrasi yang diminati. Kelengkungan semacam itu menyarankan bahwa bukanlah
suatu tetapan, yang tidak bergantung pada konsentrasi, untuk sistem-sistem semacam itu,
namun pemahaman yang lebih mendalam menimbulkan suatu pandangan yang agak lebih
canggih. Nilai diharapkan bergantung pada sifat dasar spesies penyerap dalam larutan
dan pada panjang gelombang radiasi. Kebanyakan penyimpangan dari hukum Beer yang
dijumpai dalam praktek analitis dapat dibebankan pada kegagalan atau ketidak mampuan
mengawasi kedua aspek ini, dan karena itu dapat dikatakan sebagai penyimpangan semu,
karena penyimpangan ini lebih mencerminkan kesukaran eksperimen daripada tidak
memadainya hukum Beer itu sendiri (Underwood, 1993).
Ada penyimpangan lain yang dapat dianggap nyata bukannya semu, namun
agaknya tidak akan dijumpai dalam kimia analisis. Misalnya dibuktikan dalam teori optika
bahwa untuk suatu zat dalam larutan akan berubah dengan perubahan indeks bias larutan
itu. Karena indeks bias berubah dengan perubahan konsentrasi, hukum Beer tidak boleh
berlaku, bahkan secara ideal sekalipun. Tetapi efek ini sangat kecil dan umumnya terbenam
dalam kesalahan-kesalahan eksperimen spektrofotometri. Penyimpangan nyata lain dari
hukum Beer kadang-kadang terjadi apabila radiasi yang relatif kuat melewati suatu

Tinjauan Pustaka
II-10

Laboratorium Analisa Instrumen


medium yang hanya mengandung sedikit molekul penyerap. Pada kondisi ini semua
molekul dapat dinaikkan ke tingkat-tingat energi yang lebih tinggi dengan hanya dengan
suatu fraksi dari foton yang tersedia dan karena itu akan tidak ada kesempatan untuk
absorbsi lebih lanjut tanpa beberapa lebih banyak foton yang tersedia. Keadaan ini ,yang
dikenal sebagai penjenuhan (Underwood, 1993).

Besi
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak digunakan untuk
kehidupan manusia sehari-hari. Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe dan
nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.Besi adalah logam yang
paling banyak dan paling beragam penggunaannya. Hal itu karena beberapa hal,
diantaranya:

Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar

Pengolahannya relatif mudah dan murah dan

Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi

Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan
banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang
menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi
menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk
kebanyakan penggunaan besi
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam contohnya Zink dan
Magnesium dapat melindungi besi dari korosi. Cara-cara pencegahan korosi besi yang
akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat tersebut.

Tinjauan Pustaka
II-11

Laboratorium Analisa Instrumen


1. Pengecatan. Jembatan, pagar, dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan kontak
dengan udara dan air. Cat yang mengandung timbel dan zink (seng) akan lebih
baik, karena keduanya melindungi besi terhadap korosi.
2. Pelumuran dengan Oli atau Gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas
dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak dengan air.
3. Pembalutan dengan Plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan
keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak dengan udara
dan air.
4. Tin Plating (pelapisan dengan timah). Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi
yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut
tin plating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Akan tetapi, lapisan timah
hanya melindungi besi selama lapisan itu utuh (tanpa cacat). Apabila lapisan timah
ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru mendorong/mempercepat
korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi besi lebih negatif daripada
timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan timah akan membentuk suatu sel
elektrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian, timah mendorong
korosi besi. Akan tetapi hal ini justru yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng
bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan Zink). Pipa besi, tiang telepon dan berbagai barang
lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat melindungi besi dari
korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal ini terjadi karena suatu mekanisme
yang disebut perlindungan katode. Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif
daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel
elektrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan demikian besi terlindungi dan
zink yang mengalami oksidasi (berkarat). Badan mobil-mobil baru pada umumnya
telah digalvanisasi, sehingga tahan karat.
6. Cromium Plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat dilapisi
dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya
untuk bumper mobil. Cromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama
seperti zink, kromium dapat memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu
ada yang rusak.

Tinjauan Pustaka
II-12

Laboratorium Analisa Instrumen


7. Sacrificial Protection (pengorbanan anode). Magnesium adalah logam yang jauh
lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam magnesium
dikontakkan dengan besi, maka magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara
ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah atau badan
kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus diganti.
Logam ferro adalah adalah logam besi(Fe). Besi merupakan logam yang penting dalam
bidang teknik, tetapi besi murni terlalu lunak dan rapuh sebagai bahan kerja, bahan
konstruksi dlln. Oleh karena itu besi selalu bercampur dengan unsur lain, terutama zat
arang/karbon (C). Sebutan besi dapat berarti :
1. Besi murni dengan simbol kimia Fe yang hanya dapat diperoleh dengan jalan reaksi
kimia.
2. Besi teknik adalah yang sudah atau selalu bercampur dengan unsur lain.
Besi teknik terbagi atas tiga macam yaitu :
1. Besi mentah atau besi kasar yang kadar karbonnya lebih besar dari 3,7%.
2. Besi tuang yang kadar karbonnya antara 2,3 sampai 3,6 % dan tidak dapat ditempa.
Disebut besi tuang kelabu karena karbon tidak bersenyawa secara kimia dengan
besi melainkan sebagai karbon yang lepas yang memberikan warna abu-abu
kehitaman, dan disebut besi tuang putih karena karbon mampu bersenyawa dengan
besi.
3. Baja atau besi tempa yaitu kadar karbonnya kurang dari 1,7 % dan dapat ditempa.
Logam ferro juga disebut besi karbon atau baja karbon. Bahan dasarnya adalah unsur
besi (Fe) dan karbon ( C) , tetapi sebenarnya juga mengandung unsur lain seperti : silisium,
mangan, fosfor, belerang dan sebagainya yang kadarnya relatif rendah. Unsur-unsur dalam
campuran itulah yang mempengaruhi sifat-sifat besi atau baja pada umumnya, tetapi unsur
zat arang (karbon) yang paling besar pengaruhnya terhadap besi atau baja terutama
kekerasannya.
Pembuatan besi atau baja dilakukan dengan mengolah bijih besi di dalam dapur
tinggi yang akan menghasilkan besi kasar atau besi mentah. Besi kasar belum dapat
digunakan sebagai bahan untuk membuat benda jadi maupun setengah jadi, oleh karena itu,
besi kasar itu masih harus diolah kembali di dalam dapur-dapur baja. Logam yang

Tinjauan Pustaka
II-13

Laboratorium Analisa Instrumen


dihasilkan oleh dapur baja itulah yang dikatakan sebagai besi atau baja karbon, yaitu bahan
untuk membuat benda jadi maupun setengah jadi.
Logam Non Ferro
Logam non ferro atau logam bukan besi adalah logam yang tidak mengandung unsur besi
(Fe). Logam non ferro murni kebanyakan tidak digunakan begitu saja tanpa dipadukan
dengan logam lain, karena biasanya sifat-sifatnya belum memenuhi syarat yang diinginkan.
Kecuali logam non ferro murni, platina, emas dan perak tidak dipadukan karena sudah
memiliki sifat yang baik, misalnya ketahanan kimia dan daya hantar listrik yang baik serta
cukup kuat, sehingga dapat digunakan dalam keadaan murni. Tetapi karena harganya
mahal, ketiga jenis logam ini hanya digunakan untuk keperluan khusus. Misalnya dalam
teknik proses dan laboratorium di samping keperluan tertentu seperti perhiasan dan
sejenisnya.
Logam non fero juga digunakan untuk campuran besi atau baja dengan tujuan
memperbaiki sifat-sifat bajja. Dari jenis logam non ferro berat yang sering digunakan
uintuk paduan baja antara lain, nekel, kromium, molebdenum, wllfram dan sebagainya.
Sedangkan dari logam non ferro ringan antara lain: magnesium, titanium, kalsium dan
sebagainya (http://yefrichan.wordpress.com/2010/10/15/logam-ferro-dan-non-ferro/).
II.2 Aplikasi Industri
TOTAL ANTOSIANIN EKSTRAK BUAH SALAM DAN
KORELASINYA DENGAN KAPASITAS ANTI PEROKSIDASI PADA
SISTEM LINOELAT
(Setyaningrum Ariviani,2010)
Antosianin telah banyak digunakan sebagai pewarna, khususnya minuman
karena banyak pewarna sintetis diketahui bersifat toksik dan karsinogenik, dan
ekstrak yang mengandung antosianin efek toksisitasnya rendah. Selain berperan
sebagai pewarna makanan, antosianin juga dipercaya berperan dalam sistem
biologis, termasuk kemampuan sebgai pengikat radikal bebas. Penelitian ini
bertujuan untuk menentukan kadar toal antosianin ekstrak buah salam yang diekstrak
dengan menggunakan air yang diasamkan dengan 1% HCL pada berbagai proporsi
pelarut. Ekstrak yang dihasilkan ditentukan potensinya dalam enghambat peroksidasi
sistem linoleat dan korelasinya dengan kadar total antosianinnya.
Tinjauan Pustaka
II-14

Laboratorium Analisa Instrumen


Sampel yang digunakan adalah buah salam masak. Alat yang digunakan
adalah spektrofotometer Shimadzu Uv-Vis, vacuum filter miliphore, rotary
evaporator, peralatan gelas, kertas saring, dan oven Memmert. Metode yang pertama
dilakukan adalah persiapan sampel yaitu dengan meremas daging buah dan membuat
rendemen 54,5% untuk sampel basah, dan untuk sampel kering dengan cara
mengeringkan daging buah dan menjadikannya bubuk hingga 30 mesh. Pada tahap
ekstraksi, air + 1% HCL digunakan pada proporsi sampel pelarut 1:1 1:3 dan 1:5
untuk sampel basah, dan untuk sampel kering dengan proporsi 1:3 dan 1:5.
Kemudian dilakukan ekstraksi, dan dilakukan analisis kimia meliputi analisis kadar
total antosianin dengan teknik spektrofotometri.
Dari hasil percobaan, didapatkan hasil antara lain teknik ekstraksi yang
menghasilkan ekstrak dengan kadar antosianin tertinggi adalah ekstraksi sampel
buah basah dengan perbandingan pelarut 1:5 yaitu mencapai 58mg/100gr daging
buah salam. Hasil kapasitas antiperoksidasi sistem linoleat dengan metode ferry
thiocyanate yang menggunakan panjang gelombang 500 nm adalah teknik ekstraksi
menggunakan daging buah basah dengan perbandingan sampel : pelarut 1:3
memperlihatkan aktivitas antiperoksidasi sistem linoleat tinggi yaitu mencapai 1,7
kali aktivitas BHT 200 ppm. Dapat disimpulkan bahwa buah salam memiliki potensi
sebagai sumber antosianin yang memiliki kapasitas antioksidan yang tinggi terlihat
dari kemampuannya sebagai antiperoksidasi pada sistem linoleat.

Tinjauan Pustaka
II-15