Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PERUBAHAN AKUNTANSI
DAN ANALISIS KESALAHAN

Disusun oleh :
Bayu Siwi

Muhammad Dewantara

Haryu Sukma Utama M. Reza Aditya


Latief Yulianto

Ruki Kurniawati
Tristiarini Kirana Rastri

Jurusan Akuntansi
Universitas Islam Sultan Agung Semarang
2014

ABSTRAC

Accounting Changes include: Changes of Accounting Priciple, Changes of Accounting


Estimate, Changes of Reporting Entity, and Changes of Report Mistakes based on:
Increases in Profit will increase Political Cost, Capital Structure can influence company
accounting policies, Bonus Payment can take effect in profit increase or decreases.

However, Accounting Changes very necessary when: Company need change company
policies because changes in estimate, changes in economy, input from Accountant
Organization, Acquisition, etc, and management plan to increases the profit.

PENDAHULUAN

Ada beberapa alasan dilakukan Perubahan Akuntansi (Harnanto, 2003 : 346 - 347):
1. Berdasar pengalaman atau adanya informasi baru, suatu perusahaan merasa perlu
mengubah estimasi pendapatan dan biayanya, seperti misalnya: estimasi jumlah
piutang tak tertagih, estimasi umur atau masa manfaat aktiva tetap.
2. Karena perubahan kondisi perokonomian, perusahaan merasa perlu untuk mengubah
metoda akuntansinya untuk lebih mencerminkan kondisi perekonomian terkini.
3. Organisasi profesi akuntansi mengharuskan perusahaan untuk menerapkan standar,
prinsip, atau metoda akuntansi yang baru.
4. Akuisisi, peleburan, pemekaran, pemecahan usaha bisa menyebabkan terjadinya
perubahan entitas pelapor.
5. Tuntutan kepada manajemen untuk menghasilkan laba secara berlebihan. Perubahan
akuntansi seringkali bisa membuat laba menjadi lebih besar.
Akuntan harus menentukan apakah perubahan akuntansi memang diperlukan atau tidak
kemudian dampak dari perubahan akuntansi tersebut harus disampaikan kepada pengguna
laporan keuangan agar dapat memahami laporan keuangan setelah perubahan.

ISI
(Kieso, Weygandt dan Warfield, 2002: 306-342)

Perubahan Akuntansi
Sebelum penerbitan APB Opinion No. 20, Perubahan Akuntansi, perusahaan memiliki
fleksibilitas untuk menggunakan perlakuan akuntansi

alternatif terhadap situasi yang

sangat mendasar. Apabila perusahaan baja mengubah metode penyusutan aktiva pabriknya
dari metode penyusutan dipercepat ke metode penyusutan garis lurus, maka pengaruh
perubahan ini dapat disajikan dalam berbagai cara. Perbedaan kumulatif antara beban
penyusutan yang telah dicatat dan yang akan dicatat dapat dilaporkan dalam laporan labarugi pada periode terjadinya perubahan itu. Atau, perubahan itu dapat diabaikan, dan saldo
aktiva yang belum disusutkan akan disusutkan menurut metode garis lurus di masa depan.
Atau, perusahaan dapat menyatakan kembali periode sebelumnya atau dasar bahwa
pendekatan garis lurus selalu digunakan.

Jenis-jenis Perubahan Akuntansi:


1. Perubahan Prinsip Akuntansi
Perubahan dari satu prinsip akuntansi yang berlaku umumke prinsip akuntansi yang
berlaku umum lainnya: sebagai contoh, perubahan metode penyusutan dari saldo
menurun berganda ke penyusutan garis lurus atas aktiva pabrik.
2. Perubahan Estimasi Akuntansi
Perubahan yang terjadi sebagai akibat dari informasi baru atau diperolehnya
pengalaman tambahan. Contohnya adalah perubahan estimasi umur manfaat aktiva
yang dapat disusutkan.
3. Perubahan Entitas Pelaporan
Perubahan dari pelaporan sebagai satu jenis entitas ke jenis entitas lainnya; sebagai
contoh, perubahan anak perusahaan spesifik dalam satu kelompok perusahaan
dimana laporan keuangan konsolidasi disusun. Kategori keempat membutuhkan

perubahan perubahan akuntansi, walaupun hal ini tidak diklasifikasikan sebagai


perubahan akuntansi.
4. Kesalahan Kesalahan dalam Laporan Keuangan
Kesalahan yang terjadi sebagai akibat dari kesalahan matematis, kesalahan
penerapan prinsip akuntansi, atau kelalaian atau penyalahgunaan fakta yang ada
pada saat laporan keuangna disusun. Contohnya adalah penerapan metode
persediaan eceran yang tidak tepat dalam menentukan nilai persediaan akhir.

Perubahan Prinsip Akuntansi


Perubahan prinsip akuntansi melibatkan perubahan dari satu prinsip akuntansi yang
berlaku umum ke yang lainnya. Sebagai contoh, suatu perusahaan dapat mengubah dasar
penetapan harga persediaan dari biaya rata-rata ke LIFO. Atau perusahaan itu dapat
mengubah metode penyusutan aktiva pabrik dari metode dipercepat ke garis lurus atau
sebaliknya.
Pengujian yang seksama harus dilaksanakan dalam setiap situasi ini untuk memastikan
bahwa perubahan prinsip memang telah terjadi. Perubahan prinsip akuntansi tidak
dianggap berasal dari penerapan prinsip baru dalam mengakui kejadian-kejadian
yang telah terjadi untuk pertama kalinya atau yang terjadi sebelumnya tetapi tidak
material. Sebagai contoh, apabila metode penyusutan yang diterapkan atas aktiva pabrik
yang baru diperoleh berbeda dari metode yang digunakan untuk aktiva sejenis yang
sebelumnya telah tercatat, maka perubahan prinsip akuntansi tidak akan terjadi.
Akhirnya, jika prinsip akuntansi yang sebelumnya diikuti tidak dapat diterima, atau jika
prinsip itu diterapkan secara tidak benar, maka perubahan ke prinsip akuntansi yang
berlaku umumdianggap sebagai koreksi kesalahan.

Tiga pendekatan berikut telah disarankan untuk melaporkan perubahan prinsip


akuntansi dalam akun-akun:
Retroaktif, Pengaruh kumulatif dari penggunaan metode baru terhadap laporanm keuangan
pada awal periode harus dihitung. Penyesuaian retroaktif atas laporan keuangan kemudian

dibuat, dengan menyesuaikan kembali laporan keuangan tahun sebelumnya atas dasar yang
konsisten dengan prinsip yang baru diterapkan.
Periode berjalan, pengaruh kumulatif dari penggunaan metode baru terhadap laporan
keuangan pada awal periode harus diperhitungkan. Penyesuaian ini kemudian dilaporkan
dalam laporan laba rugi tahun berjalan sebagai pos khusus dengan judul Pos-pos Luar
Biasa dan Laba Bersih.
Prospektif (dimasa depan), hasil yang telah dilaporkan sebelumnya biasanya tetap, tidak
ada perubahan yang dilakukan. Saldo awal tidak perlu disesuaikan, dan tidak ada upaya
yang dilakukan untuk mengalokasikan beban atau kredit atas peristiwasebelumnya itu.
Sebelum menggunakan APB Opinion No. 20, ketiga pendekatan di atas telah digunakan.
Namun, APB Opinion No. 20 menyelesaikan masalah ini dengan menetapkan pedomanpedoman untuk perubahan yang bergantung pada jenis-jenis perubahan prinsip akuntansi
yang terlibat. Kita telah mengklasifikasikan perubahan-perubahan prinsip akuntansi itu
menjadi tiga kategori:
1. Perubahan akuntansi jenis pengaruh kumulatif
2. Perubahan akuntansi jenis pengaruh retroaktif
3. Perubahan ke metode persediaan LIFO

Perubahan Akuntansi Jenis Pengaruh Kumulatif


Persyaratan umum yang ditetapkan oleh profesi akuntansi adalah bahwa metode periode
berjalan, atau catch-up, harus digunakan untuk memperhitungkan perubahan prinsip
akuntansi. Persyaratan umum tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan periode berjalan atau catch-up harus dijalankan. Pengaruh kumulatif
dari penyesuaian harus dilaporkan dalam laporan laba-rugi diantara pos-pos luar
biasa dan laba bersih
2. Laporan keuangan periode sebelumnya yang dimasukkan untuk tujuan komparatif
tidak perlu dinyatakan kembali
3. Laba sebelum pos-pos luar biasa dan laba bersih, yang dihitung atas dasar proforma (seolah-olah) harus ditampilkan pada laporan laba-rugi untuk semua periode.
Laba tersebut disajikan seolah-olah prinsip yang baru diadopsi telah diterapkan

selama seluruh periode yang terpengaruh. Data laba per saham yang terkait juga
harus dilaporkan. Jadi, para pembaca memiliki pemahaman tentang bagaimana
laporan keuangan yang dinyatakan kembali itu diperoleh.
Perubahan Akuntansi Jenis Pengaruh Retroaktif
Dalam system tertentu, perubahan prinsip akuntansi dapat ditangani secara retroaktif.
Penyesuaian retroaktif atas laporan keuangan yang disajikan dibuat dengan menyusun
kembali laporan keuangan tahun sebelumnya atas dasar yang konsisten dengan prinsip yang
baru diadopsi.setiap bagian dari pengaruh kumjulatif yang berkaitan dengan tahun-tahun
sebelumnya diperlakukan sebagai penyesuaian labba ditahan awal dari tahun paling awal
ditampilkan. Lima situasi yang membutuhkan pelaporan kembali laporan keuangan dari
semua periode sebelumnya adalah:
1. Perubahan dari metode penilaian persediaan LIFO ke metode lainnya
2. Perubahan metode akuntansi untuk kontrak jenis-konstruksi jangka panjang
3. Perubahan dari atau ke metode akuntansi biaya penuh dalam industry ekstraktif
4. Penerbitan laporan keuangan oleh poerusahaan untuk pertama kalinya gun
memperoleh modal ekuitas tambahan, mempengaruhi kombinasi bisnis, atau
pendaftaran sekuritas
5. Pengumuman pofesional

yang merekomendasikan bahwa perubahan prinsip

akuntansi diperlakukan secara retroaktif

Profesi akuntansi memberikan pengecualian karena pelaporan penyesuaian kumulatif dalam


dalam periode perubahan dapat memiliki pengaruh yang besar terhadap laba bersih, di
mana angka laba dapat menyesatkan.

Perubahan ke Metode LIFO


Aturan ini tidak dapat diterapkan apabila perusahaan beralih ke metode penilaian
persediaan LIFO. Dalam situasi ini, persediaan tahun dasar untuk menghitung persediaan
LIFO berikutnya merupakan persediaan awal pada tahun metode ini diadopsi. Tidak ada
pernyataan kembali atas laba tahun-tahun sebelumnya karena dianggap sangat tidak praktis.

Dalam praktek, banyak perusahaan menangguhkan penerapan formal metode LIFO sampai
akhir tahun. Jadi manajemen memiliki kesempatan untuk menilai dampk perubahan ke
LIFO terhadap laporan keuangan dan mengevaluasi perubahan yang diinginkan untuk
keperluan pajak.

Perubahan Estimasi Akuntansi


Penyusunan laporan keuangan memerlukan estimasi dampak dari kondisi-kondisi dan
peristiwa di masa datang. Berikut adalah contooh pos-pos yang memerlukan estimasi:
1. Piutang tak tertagih
2. Keusangan persediaan
3. Umur manfaat dan nilai sisa aktiva
4. Periode yang menerima manfaat dari biaya yang ditangguhkan
5. Kewajiban untuk biaya garansi dan pajak penghasilan
6. Cadangan mineral yang dapat dipulihkan kembali
Estimasi akuntansi akan berubah apabila terjadi peristiwa baru, seperti diperlukannya
pengalaman yang lebih banyak, atau karena diperolehnya informasi tambahan.
Perubahan estimasi harus ditangani secara prospektif. Yaitu, tidak ada perubahan yang
harus dibuat dalam hasil yang dilaporkan sebelumnya. Saldo awal tidak perlu disesuaikan,
dan tidak ada usaha untuk menyusul atau catch-up periode sebelumnya. Laporan
keuangan periode sebelumnya tidak perlu dinyatakan kembali, dan jumlah pro-forma
selama periode sebelumnya tidak perlu dilaporkan. Jadi, pengaruh dari semua perubahan
estimasi diperhitungkan pada:
a. Periode perubahan jika perubahan itu hanya mempengaruhi periode bersangkutan
b. Periode perubahan dan periode di masa datang jika perubahan tersebut
memengaruhi keduanya.
Akibattnya, perubahan estimasi dipandang sebagai koreksi atau penyesuaian normal yang
berulang, hasil alami dari proses akuntansi, dan perlakuan retroaktif dilarang.
Situasi yang berkaitan dengan perubahan estimasi ditangani atas dasar retroaktif, atau atas
dasar pengaruh kumulatif, maka penyesuaian yang terus menerus terhadap laba tahun
sebelumnya akan terjadi. Hal itu dipandang cukup tepat untuk menerima pendpat bahwa

karena munculnya kondisi atau situasi baru, maka revisi yang sesuai harus dilakukan
terhadap situasi baru dan harus ditangani dalam periode berjalan serta di masa depan.

Pelaporan Perubahan dalam Entitas


Suatuperubahanakuntansi yang terjadi pada laporan keuanagn yang sebenarnya merupakan
laporan dari entitas yang berbeda harus dilaporkan dengan menyatakan kembali laporan
keuangan yang disajikan selama periode sebelumnya, guna menunjukan informasi
keuangan bagi entitas pelaporan yang baru selama semua periode.
Contoh perubahan dalam entitas pelaporan adalah:
1. Menyajikan laporan konsolidasi untuk menggantikan laporan perusahaan individual.
2. Mengubah anak perusahaan tertentu yang terdiri dari kemolpok perusahaan dimana
laporan keuangan konsolidasi disajikan.
3. Mengubah perusahaan yang termasuk dalam laporan keuangan gabungan.
4. Akuntansi untuk pooling of interests.
5. Perubahan metode akuntansi biaya, ekuitas, atau konsolidasi untuk anak perusahaan
dan investasi. Perubahan dalam entitas pelaporan bukan berasal dari penciptaan,
pemutusan (cessation), pembelian, atau disposisi anak perusahaan atau unit bisnis
lainnya.
Laporan keuangan dari tahun dimana perubahan dalam entitas pelaporan dilakukan harus
mengungkapkan sifat perubahan itu dan alasannya. Pengaruh perubahan ini terhadap laba
sebelum pos-pos luar biasa, laba bersih dan laba per saham harus dilaporkan untuk semua
periode yang disajikan. Pengungkapan ini tidak perlu diulang pada laporan keuangan
periode berikutnya.

Pelaporan Koreksi Kesalahan


Tidak ada perusahaan, baik yang kecil maupun besar yang kebal dari kesalahan. Akan
tetapi, risiko dari kesalahan yang material dapat dikurangi dengan menyelenggarakan
pengendalian internal yang baikdanaplikasiprosedurakuntansi yang baik.
Beikur ini adalah contoh-contoh dari kesalahan akuntansi:

1. Perubahan dari prinsip akuntansi yang tidak berlaku umum ke prinsip akuntansi
yang berlaku umum. Dasar pemikiran dari hal ini adalah bahwa periode sebelumnya
telah disajikan secara tidak benar karena penerapan prinsip akuntansi yang tidak
benar. Contoh: perubahan dari akuntansi dasar kas atau pajak penghasilan ke dasar
akrual.
2. Kesalahan matematis yang diakibatkan oleh penjumlahan, pengurangan, dan
sebagainya. Contoh: penjumlahan kartu perhitungan persediaan yang salah dalam
menentukan nilai persediaan.
3. Perubahan estimasi yang terjadi karena estimasi-estimasi itu tidak dibuat dengan
jujur. Contoh: penggunaan tariff penyusutan yang secara jelas tidak realistis.
4. Kelalaian, seperti kegagalan untuk mengakrualkan atau menangguhkan beban atau
pendapatan tertentu pada akhir periode.
Segera setelah ditemukan, kesalahan-kesalahan tersebut harus dikoreksi dengan ayat jurnal
yang tepat dalam akun dan dilaporkan dalam laporan keuangan. Profesi akuntansi
mensyaratkan bahwa koreksi kesalahan diperlakukan sebagai penyesuaian periode
sebelumnya, dicatat dalam tahun di mana kesalahan itu ditemukan, dan dilaporkan pada
laporan keuangan sebagai penyesuaian atas saldo awal laba ditahan. Jika laporan
komparatif disajikan, makalaporan period sebelumnya yang terpengaruh harus dinyatakan
kembali untuk mengoreksi kesalahan. Pengungkapan ini tidak perlu diulang dalam laporan
keuangan periode berikutnya.

Ikhtisar Perubahan Akuntansi dan Koreksi Kesalahan


Perubahan prinsip akuntansi akan dianggap tepat hanya apabila perusahaan menunjukan
bahwa prinsip akuntansi alternatif yang berlaku umum yang telah diadopsi lebih disukai
daripada prinsip sebelumnya. Dalam menetapkan pedoman profesi akuntansi, preferensi di
antara prinsip akuntansi harus ditentukan atas dasar apakah prinsip yang baru dapat
memperbaiki pelaporan keuangan, bukan atas dasar dampak pajak penghasilan semata.
Namun tidaklah selalu mudah untuk menentukan perbaikan apa dalam pelaporan keuangan.
Bagaimana seseorang menentukan ukuran atau perbaikan mana yang lebih disukai? Sebagai
contoh, The Quaker Oats Company beragumen bahwa perubahan prinsip akuntansi ke

penilaian persediaan LIFO akan lebih baik menandingkan biaya periode berjalan dengan
pendapatan periode berjalan. Sebaliknya, perusahaan lain mungkin beralih dari LIFO ke
FIFO karena ingin melaporkan persediaan akhir yang lebih realistis. Bagaimana anda
menentukan mana yang terbaik dari kedua argument itu? Auditor harus mempunyai
beberapa standar atau tujuan sebagai dasar untuk menentukan metode yang disukai.
Karena tidak ada standar atau tujuan universal yang diterima umum, maka masalah
penentuan preferensi akan terus menjadi masalah yang sulit.
Pada awalnya SEC berpendapat bahwa auditor harus mengindikasikan apakah perubahan
prinsip akuntansi lebih disukai. SEC telah memodifikasi pendekatan ini, mengingat betapa
besarnya ketergantungan pada pertimbangan manajemen dalam menilai preferensi.
Meskipun criteria dari preferensi sulit diaplikasikan namun pedoman umum yang
ditetapkan telah bertindak sebagai pencegah terhadap perubahan prinsip akuntansi yang
tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jika standar FASB menciptakan prinsip baru atau
menunjukann preferensi atau penolakan atas prinsip akuntansi spesifik, maka perubahan
tersebut secara jelas dianggap dapat diterima. Demikian juga, dokumen otoritatif lainnya,
seperti laporan posisi ACSEC dan pedoman audit industry dari AICPA, dianggap sebagai
akuntansi yang lebih disukai apabila perubahan prinsip akuntansi dipertimbangkan.

Perubahan prinsip akuntansi


Aturan umum:
Menggunakan pendekatan periode berjalan atau catch-up dengan:
a. Melaporkan hasil periode berjalan atas dasar yang baru.
b. Melaporkan pengaruh kumulatif dari penyesuaian dalam laporan keuangan
periode berjalan diantara judul Pos-pos luar biasa dan Laba bersih.
c. Menyajikan laporan

keuangan periode sebelumnya

seperti

dilaporkan

sebelumnya.
d. Menyajikan data pro-forma tentang laba dan laba per saham untuk semua
periode sebelumnya yang disajikan.

Pengecualian
Menggunakan pendekatan retroaktif dengan:

a. Menyatakan kembali laporan keuangan dari semua period sebelumnya yang


disajikan.
b. Mengungkapkan dalam tahun terjadinya perubahan pengaruh terhadap laba
bersih dan laba per saham dari semua periode sebelumnya yang disajikan.
c. Melaporkan penyesuaian atas saldo awal laba ditahan dalam laporan laba
ditahan.
Menggunakan perubahan ke pendekatan LIFO dengan:
a. Tidak menyatakan kembali laba tahun sebelumnya
b. Menggunakan persediaan awal dalam tahun dimana metode baru mulai
digunakan sebagai tahun dasar persediaan untuk semua perhitungan LIFO
berikutnya.
c. Mengungkapkan pengaruh dari perubahan pada tahun berjalan, dan alasanalasan untuk mengabaikan perhitungan pengaruh kumulatif serta jumlah proforma dari tahun sebelumnya.

Perubahan estimasi akuntansi


Menggunakan pendekatan periode berjalan dari prospektif dengan:
a. Melaporkan laporan keuangan periode berjalan dari masa datang atas dasar
baru.
b. Menyajikan laporan

keuangan periode sebelumnya

seperti

dilaporkan

sebelumnya.
c. Tidak melakukan penyesuaian atau saldo awal periode berjalan untuk tujuan
catch-up, dan tidak melakukan penyajian pro-forma

Perubahan dalam entitas pelaporan


Menggunakan pendekatan retroaktif dengan:
a. Menyatakan kembali laporan keuangan untuk semua periode sebelumnya yang
disajikan.
b. Mengungkapkan dalam tahun terjadinya perubahan pengaruh terhadap data laba
bersih dari laba per saham untuk semua periode sebelumnya yang disajikan.

Perubahan karena kesalahan


Menggunakan pendekatan retroaktif dengan:

a. Memperbaiki semua laporan keuangan periode sebelumnya yang disajikan.


Menyatakan kembali saldo awal Laba ditahan untuk periode pertama yang disajikan apabila
pengaruh kesalahan terjadi dalam period sebelumnya.

Motivasi untuk Melakukan Perubahan


Penelitian yang dilakukan telah memberikan masukan tambahan tentang mengapa
perusahaan lebih memilih metode akuntansi tertentu. Beberapa alasannya adalah :
1. Biaya Politik
Semakin besar perusahaan dan terlihat lebih bersifat politis, semakin besar para
politisi serta pembuat peraturan mencurahkan perhatian kepada perusahaan tersebut.
Banyak berpendapat bahwa para politisi dan pembuat peraturan ini dapat membuat
sarang dengan menetapkan peraturan peraturan dalam organisasi tersebut guna
meraih manfaat bagi pemilih mereka. Jadi semakin besar perusahaan, semakin besar
ketergantungan pada peraturan seperti antitrust dan semakin besar kemungkinannya
untuk membayar pajak lebih besar. Oleh karenanya, perusahaan yang terlihat lebih
bersifat politis akan berupaya untuk melaporkan angka laba yang kecil, guna
menghindari pemeriksaan dari para pembuat peraturan.
2. Struktur Modal
Sejumlah studi telah mengindikasikan bahwa struktur modal perusahaan dapat
mempengaruhi pemilihan metode akuntansi. Sebagai contoh, perusahaan dengan
rasio hutang terhadap ekuitas yang tinggi akan sangat tergantung pada perjanjian
hutang.

Yaitu,

perusahaan

mungkin

memiliki

perjanjian

hutang

yang

mengindikasikan bahwa perusahaan tidak dapat membayar deviden jika laba


ditahan berada di bawah tingkat tertentu. Sebagai akibatnya, perusahaan jenis ini
cenderung memilih metode akuntansi yang akan menaikkan laba bersih. Sebagai
contoh, sekelompok penulis mengindikasikan bahwa struktur modal perusahaan
mempengaruhi keputusan apakah membebankan atau mengkapitalisasi bunga. Pihak
lainnya mengindikasikan bahwa akuntansi biaya penuh lebih dipilih dibandingkan
upaya yang berhasil oleh perusahaan yang memiliki rasio hutang terhadap ekuitas
yang tinggi.

3. Pembayaran Bonus
Jika pembayaran bonus dilakukan kepada manajemen berkaitan dengan laba, maka
dapat dikatakan bahwa manajemen akan memilih metode akuntansi yang
memaksimalkan pembayaran bonus mereka. Jadi, dalam memilih metode akuntansi,
manajemen memperhatikan kepentingannya berkaitan dengan dampak perubahan
laba akuntansi terhadap rencana kompensasinya.
4. Memperlancar Laba
Kenaikan laba yang substansial dapat mengundang perhatian dari para politisi,
pembuat peraturan, dan pesaing. Selain itu kenaikan laba yang besar juga dapat
menciptakan masalah bagi manajemen karena hasil yang sama akan sulit dicapai
pada tahun berikutnya. Rencana kompensasi eksekutif akan menggunakan angka
yang tinggi ini sebagai dasar dan hal ini akan menyulitkan manajemen dalam
memperoleh bonus pada tahun berikutnya.

Kesalahan kesalahan dalam neraca


Kesalahan kesalahan ini hanya akan mempengaruhi penyajian akun aktiva, kewajiban, atau
ekuitas pemegang saham. Contoh : klasifikasi piutang jangka pendek sebagai bagian dari
investasi, klasifikasi wesel bayar sebagai hutang usaha, dan klasifikasi aktiva pabrik
sebagai persediaan.

Kesalahan kesalahan dalam laporan laba rugi


Hal ini hanya akan mempengaruhi penyajian akun akun nominal dalam laporan laba rugi.
Kesalahan kesalahan yang melibatkan klasifikasi yang tidak benar atas pendapatan atau
beban, seperti mencatat pendapatan bunga sebagai bagian dari penjualan, pembelian
sebagai beban piutang ragu ragu, dan beban penyusutan sebagai beban bunga. Kesalahan
klasifikasi dalam laporan laba rugi tidak memiliki pengaruh terhadap neraca dan laba
bersih.

Pengaruh neraca dan laporan laba rugi


Dampak dari kesalahan ini adalah beban dinyatakan terlalu rendah, kewajiban dinyatakan
terlalu rendah, dan laba bersih dinyatakan terlalu tinggi selama periode waktu tersebut.
Kesalahan jenis ini mempengaruhi baik neraca maupun laporan laba rugi dan
diklasifikasikan dengan satu dari dua cara saling menyeimbangkan atau tidak saling
menyeimbangkan.
A. Kesalahan yang saling menyeimbangkan
Adalah kesalahan yang akan dioffset atau dikoreksi selama 2 periode.
Dalam hal ini, sejumlah hal perlu diingat, apakah pembukuan telah ditutup atau
belum selama periode dimana kesalahan itu ditemukan.

Jika pembukuan sudah ditutup


-

Jika kesalahan telah saling diseimbangkan, maka tidak ada ayat jurnal
yang diperlukan.

Jika kesalahan belum saling diseimbangkan, maka diperlukan ayat jurnal


untuk menyesuaikan penyajian saldo laba ditahan.

Jika pembukuan belum ditutup


-

Jika kesalahan sudah saling diseimbangkan dan perusahaan telah


memasuki tahun kedua, maka ayat jurnal akan diperlukan untuk
mengkoreksi periode berjalan dan menyesuaikan saldo awal laba
ditahan.

Jika kesalahan belum saling diseimbangkan, maka ayat jurnal akan


diperlukan untuk

menyesuaikan saldo

awal

laba ditahan dan

mengkoreksi saldo periode berjalan.

B. Kesalahan yang tidak saling menyeimbangkan


Adalah kesalahan yang tidak dioffset atau dikoreksi dalam periode akuntansi berikutnya.
Karena suatu kesalahan tidak saling menyeimbangkan setelah lebih dari periode 2 tahun,
maka ayat jurnal untuk kesalahan yang tidak saling menyeimbangkan ini akan menjadi
lebih kompleks dan ayat jurnal koreksi akan diperlukan meskipun pembuktian telah ditutup.

Ilustrasi Komprehensif: Berbagai Kesalahan


Dalam beberapa situasi terjadi kombinasi kesalahan. Oleh sebab itu, kertas kerja atau
neraca lajur harus dibuat untuk mempermudah analisis. Masalah berikut akan
mendemonstrasikan penggunaan kertas kerja. Mekanisme dari pembuatan kertas kerja
harus dengan jelas dilihat dari format solusi.
Laporan laba-rugi Hudson Company untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2000, 2001,
dan 2002 mengindikasikan laba bersih berikut :
2000.

$17.400

2001.

$20.200

2002.

$11.300

Pemeriksaan atas catatan akuntansi Hudson Company untuk tahun-tahun tersebut


mengindikasikan bahwa beberapa kesalahan telah dilakukan dalam mendapatkan jumlah
laba bersih yang dilaporkan. Telah ditemukan kesalahan-kesalahan berikut ini.
1. Upah yang diperoleh para pekerja tetapi belum dibayarkan pada tanggal 31
Desember secara konsisten diabaikan dari catatan. Jumlah yang diabaikan itu
adalah:
31 Desember 2000, $1.000
31 Desember 2001, $1.400
31 Desember 2002, $1.600
Jumlah ini dicatat sebagai beban ketika dibayarkan pada tahun berikutnya, yaitu
ketika upah itu diperolah.
2. Persediaan barang dagang 31 Desember 2000, dinyatakan terlalu tinggi sebesar
$1.900 sebagai akibat dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam penjumlahan
ke samping dan ke bawah pada karu persediaan.
3. Asuransi yang belum jatuh tempo sebesar $1.200, yang berlaku untuk tahun 2002,
telah dibebankan per 31 Desember 2001.
4. Piutang bunga sejumlah $240 belum dicatat per 31 Desember 2001
5. Pada tanggal 2 Januari 2001, seperangkat peralatan dengan biaya $3.900 dijual
seharga $1.800. Pada tanggal penjualan, akumulasi penyusutan peralahan itu adalah
$2.400. Kas yang diterima telah dicatat sebagai Pendapatan Lain-lain pada tahun

2001. Selain itu, penyusutan atas peralatan ini juga telah dicatat untuk tahun 2001
dan 2002 dengan tarif 10% dari biaya atau harga pokok.
Langkah pertama dalam menyiapkan kertas kerja adalah membuat skedul yang
memperlihatkan jumlah laba bersih yang telah dikoreksi untuk tahun yang berakhir 31
Desember 2000, 2001, dan 2002. Setiap koreksi atas jumlah yang dilaporkan sebelumnya
diberi label dengan jelas. Langkah berikutnya adalah mengindikasikan akun neraca yang
terpengaruh per 31 Desember 2002.

Penyusunan Laporan Keuangan dengan Koreksi Kesalahan


Sampai saat ini, pembahasan kita tentang analisis kesalahan lebih ditujukan pada
identifikasi jenis kesalahan yang terlibat dan akuntansi untuk mengkoreksinya dalam
catatan akuntansi. Koreksi kesalahan harus disajikan pada laporan keuangan komparatif.
Selain itu, ikhtisar 5 tahun atau 10 tahun diberikan kepada para pembaca laporan keuangan
yang berkepentingan. Situasi berikut ini mengilustrasikan bagaimana laporan keuangan
tahun-tahun tertentu dinyatakan kembali dengan banyak kesalahan yang berbeda.
Dick & Wally's Outlet adalah sebuah gerai eceran kecil di kota Holiday. Karena kurangnya
keahlian di bidang akuntansi, maka perusahaan itu tidak menyelenggarakan catatan yang
memadai. Sebagai akibatnya, banyak kesalahan yang terjadi dalam pencatatan informasi
akuntansi. Kesalahan-kesalahan itu adalah sebagai berikut:
1. Petugas pembukuan secara tidak sengaja lali mencatat penerimaan kas sebesar
$1.000 atas penjualan barang dagang di tahun 2002.
2. Beban upah akrual pada akhir tahun 2001 adalah $2.500; sementara pada akhir
tahun 2002, $3.200. Perusahaan tidak mengakrualkan beban upah; semua upah
dibebankan ke Beban Administrasi.
3. Tidak ada penyisihan yang ditetapkan untuk mengestimasi piutang tak tertagih.
Dick and Wally memutuskan untuk menetapkan penyisihan guna mengestimasi
kemungkinan kerugian per 31 Desember 2002 atas piutang tahun 2001 sebesar
$700, dan atas piutang tahun 2002 sebesar $1.500. Perusahaan itu juga telah
memutuskan untuk mengkoreksi pembebanan terhadap setiap tahun agar bisa
memperlihatkan kerugian (aktual dan estimasi) yang berkaitan dengan penjualan

tahun berjalan. Piutang usaha yang telah dihapuskan ke beban piutang tak tertagih
(beban penjualan) adalah sebagai berikut:

Piutang tahun 2001.


Piutang tahun 2002.

2001.

2002

$400.

$2.000
$1.600

4. Asuransi yang belum jatuh tempo yang belum dicatat pada akhir tahun 2001 adalah
$600, dan pada akhir tahun 2002 adalah $400. Semua asuransi telah dibebankan ke
Beban Administrasi.
5. Hutang usaha sebesar $6.000 telah menjadi wesel bayar.
6. Selama tahun 2001, sebuah aktiva yang berharga pokok $10.000 dan memiliki nilai
buku $4.000 dijual seharga $7.000. Pada saat penjualan Kas didebet dan Pendapatan
Lain-lain dikredit sebesar $7.000.
7. Sebagai akibat dari transaksi terakhir, perusahaan menyatakan terlalu tinggi beban
penyusutan (beban administrasi) tahun 2001 sebesar $800 dan tahun 2002 sebesar
$1.200
Ayat jurnal koreksi dan dampaknya terhadap laporan keuangan dapat ditentukan dengan
memeriksa kertas kerja itu.

Lampiran 23:
Perubahan dari dan Ke Metode Ekuitas
Seperti dinyatak dalam bab ini, perubahan akuntansi yang terjadi dalam laporan keungan
untuk entitas yang berbeda harus dilaporkan dengan menyatakan kembali laporan keuangan
dari semua periode sebelumnya yang disajikan. Suatu contoh dari perubahan dalam entitas
pelaporan adalah apabila terjadi perubahan tingkat kepemilikan perusahaan atau pengaruh,
yang membuat perusahaan harus beralih dari atau ke metode ekuitas.

Perubahan dari Metode Ekuitas


Jika tingkat pengaruh atau kepemilikan investor jatuh di bawah tingkat yang diperlukan
unntuk meneruskan penggunaan metode ekuitas, maka perubahan harus dilakukan ke
metode nilai wajar. Laba atau kerugian yang sebelumnya diakui oleh investor menurut

metode ekuitas harus tetap sebagai bagian dari jumlah tercatat investasi dengan tidak
menyatakan kembali secara retroaktif ke metode baru.
Ketika perubahan dilakukan dari metode ekuitas ke ketode nilai wajar, dasar biaya untuk
tujuan akuntansi adalah jumlah tercatat investasi pada tanggal perubahan. Selain itu,
pengamortisasian kelebihan harga akuisisi atas nilai buku saham yang sebanding, yang
disebabkan oleh penilaian yang terlalu rendah dari aktiva yang dapat disusutkan dan
goodwill yang belum dicatat, akan berhenti

ketika metode terjadi. Dengan kata lain,

metode baru diaplikasikan dalam keseluruhan periode pada saat metode ekuitas tidak lagi
tepat. Pada tanggal pelaporan berikutnya, investor harus mencatat keuntungan atau
kerugian holding yang belum direalisasi untuk mengakui perbedaan antara jumlah tercata
dan nilai wajar.

Deviden yang Melebihi Laba


Karena deviden yang diterima oleh investor dalam periode berikutnya melebihi bagian laba
investee selama periode tertentu (semua periode setelah perubahan metode), amaka deviden
tersebut harus diperhitungkan sebagai pengurangan jumlah tercatat investasi, bukan sebagai
pendapatan.

Perubahan ke Metode Ekuitas


Ketika beralih ke metode ekuitas, penyesuaian retroaktif akan diperlukan. Perubahan
semacam itu melibatkan penyesuaian secara retroaktif jumlah tercatat investasi, hasil
operasi periode sebelumnya dan periode berjalan, serta laba ditahan investor seandainya
metode ekuitas telah berlaku selama seluruh periode sebelumnya dimana investasi itu
dimiliki. Ketika beralih dari metode nilai wajar ke metode ekuitas, juga penting untuk
menghapus setiap saldo akun Keuntungan atau Kerugian Holding yang Belum Direalisasi
Akun Ekuitas dan akun Penyesuaian Nilai Wajar Sekuritas. Selain itu, klasifikasi investasi
yang tersedia untuk dijual juga dihapuskan, dan investasi dalam saham menurut metode
ekuitas dicatat.
Perubahan ke metode ekuitas dilakukan dengan menempatkan akun yang berhubungan
dengan dan terpengaruh oleh investasi atas dasar yang sama seolah-olah metode ekuitas

selalu menjadi dsar akuntansi untuk investasi itu. Jadi, pengaruh dari perubahan akuntansi
ini dilaporkan dengan menggunakan pendekatan retroaktif.

KESIMPULAN

Perubahan akuntansi yang meliputi: Perubahan Prinsip Akuntansi, Perubahan Estimasi


Akuntansi, Perubahan Entitas Pelaporan, dan Perubahan Kesalahan-kesalahan dalam
Laporan Keuangan, berlandaskan: Biaya politik yang semakin besar ketika laba yang
dihasilkan besar, Struktur modal yang mempengaruhi kebijakan akuntansi suatu
perusahaan, Pembayaran bonus akan berdampak pada perubahan laba, serta Keinginan
untuk menaikkan laba.

Namun perubahan akuntansi memang sangat diperlukan ketika: Perusahaan merasa perlu
merubah kebijakan perusahaannya karena ada perubahan estimasi, Perubahan kondisi
perekonomian, Masukan dari Organisasi Profesi Akuntansi mengharuskan perubahan,
Adanya akuisisi atau sejenisnya, serta Tuntunan manajemen untuk menghasilkan laba yang
lebih besar.