Anda di halaman 1dari 6

Aktivasi Permukaan .

Aktivasi permukaan merupakan modifikasi suatu material guna meningkatkan daya rekat
permukaan suatu material dengan material lainnya, seperti antara permukaan parutan karet
dengan aspal atau dengan polipropilena. Cara inivatif ini diharapkan dapat memanfaatkan
serbuk ban bekas sebagai bahan pengisi termodifikasi. Dalam beberapa penggunaan material
termodifikasi, permukaan serbuk ban bekas diaktifkan dengan metode grafting atau
penempelan gugus fungsional yang berfungsi sebagai gugus pengikat, seperti maleic
anhidrida (MA) atau senyawa epoxide seperti glycidyl methacrylate (GMA).
Grafting
diperlukan 3 komponen untuk berlangsungnya grafting lewat transfer rantai : polimer,
monomer, inisiator. Fungsi inisiator adalah untuk mempolimerisasi monomer sehingga
membantu radikal, ion atau kompleks koordinasi polimerik yang kemudian bisa menyerang
polimer asal atau biasa, rasio reaktivitas monomer-monomer juga perlu dipertimbangkan
untuk memastikan grafting akan terjadi. Juga perlu untuk memperhatikan frekuensi transfer
untuk menetapkan jumlah grafting. Biasanya, campuran homopolimer-homopolimer terjadi
bersamaan dengan kopolimer grafting.
Grafting biasanya terjadi pada letak-letak yang bisa menerima reaksi-reaksi transfer, seperti
pada karbon-karbon yang bersebelahan dengan ikatan rangkap dua dalam polidiena atau
karbon-karbon yang bersebelahan dengan gugus karbonil. Radiasi adalah yang paling banyak
dipakai untuk memberikan letakletak aktif untuk kopolimerisasi grafting. Proses ini
dikerjakan dengan radiasi ultraviolet atau cahaya tampak, dengan atau tanpa potosensitizer
tambahan atau dengan radiasi ionisasi. Reaksi-reaksi radikal bebas terlibat dalam semua
kasus.
Kesulitan utama adalah bahwa radiasi menimbulkan grafting. Hal ini sampai batas tertentu
telah dihilangkan dengan pra radiasi polimer sebelum penambahan monomer baru. Salah satu
metode adalah mempra-radiasi polimer tersebut ketika hadir udara atau oksigen untuk
membentuk gugus-gugus hidroperoksida diatas kerangkanya. Penambahan monomer
berikutnya dan pemanasan akan menghasilkan polimerisasi radikal pada letak-letak peroksida
yang disertai dengan beberapa homopolimerisasi dan homopolimerisasi ini di inisiasi oleh
radikal-radikal hidroksi yang terbentuk selama homolisis hidroperoksida. Praradiasi bisa
juga dikerjakan ketika tidak ada udara untuk membentuk radikal-radikal bebas yang
ditangkap dalam matriks polimer yang kental. Kemudian monomer ditambahkan. Metode ini
sangat tidak efisien karena rendahnya konsentrasi radikal yang bisa ditangkap dan

homopolimerisasi masih bisa terjadi melalui reaksi-reaksi transfer rantai. Radiasi langsung
monomer dan polimer sekaligus telah digunakan secara ekstensif. Karena kopolimerisasi
mungkin terjadi. Monomer dan polimer harus dipilih dengan hati-hati. Pada umumnya,
kombinasi terbaik adalah antara polimer yang sangat sensitif terhadap radiasi, yakni polimer
yang membentuk konsentrasi radikal yang tinggi dan monomer yang tidak sangat sensitif.
Homopolimerisasi bisa dikurangi dengan memberikan radiasi yang sekejap sedangkan
monomer dibiarkan berdifusi melewati polimer. Grafting radiasi terhadap emulsi-emulsi
polimer juga merupakan cara efektif untuk meminimumkan homopolimerisasi, karena
medium reaksi tetap fluid bahkan pada tingkat konversi yang tinggi. Metode lain dari
grafting radiasi melibatkan radiasi terhadap campuran homopolimer. Lepas dari fakta bahwa
sebahagian besar polimer bersifat inkompatibel. Teknik ini pemakaiannya terbatas, karena
ikat silang antara rantai-rantai polimer demikian bisa terjadi dengan kemungkinan yang sama
(Steven MP, 2001).

dekomposisi peroksida
O

temperatur

Radical benzoil

abstraksi hidrogen
H

O
C

O
C

OH

reaksi graf ting maleat anhidrat


H

+
O

O
O

PE-g-MA

Setelah proses grafting selesai maka Maleat anhidrat berikatan dengan gugus hidroksil.
Gugus anhidrida pada maleat anhidrat sangat reaktif terhadap gugus hidroksil yang terdapat
pada pati, sehingga berikatan secara kovalen membentuk gugus ester dan membentuk gugus
asam yang kemudian berikatan hidrogen dengan gugus hidroksil lainnya pada pati. semakin
banyak molekul anhidrida maleat yang tercangkok pada PE-MA maka ikatan-ikatan tersebut
diatas semakin banyak sehingga ikatan antara matriks polietilena dengan pati semain kuat.
Sedangkan PE dalam PE-MA larut atau berpadu (miscible) dengan matrik komposit.

Blending adalah suatu metode pencampuran antara dua atau lebih bahan. Proses
berlangsung secara fisik berupa kontak permukaan yakni terjadi interaksi antar molekul
polimer . Yang memegang penting dalam proses ini adalah parameter solubility (kelarutan)
antar polimer yang akan dicampur. Disamping parameter tersebut ,tingkat polaritas polimer
juga penting. Jika suatu bahan bersifat polar sedangkan yang lain bersifat non polar maka
perlu ditambahkan bahan penyerasi atau kompatibiliser. Tujuan blending adalah
menghasilkan suatu bahan dengan spesifikasi sifat yang diinginkan dimana diharapkan
kualitas bahan yang dihasilkan akan lebih baik dari bahan asli. Dalam beberapa tahun
terakhir, pengembangan metode baru menggunakan sistem blending polimer dan curing yakni
penggunaan zat pengikat (compatibilizer) seperti senyawa urethane berkembang pesat
terutama untuk produk sederhana seperti compressing molding. Metode ini bia sa
digunakanuntuk menghasilkan produk berkapasitas tinggi dengan teknologi sederhana seperti
produk alas kaki, tikar, penyeberangan jalan kereta api, bumper mobil dan bumper removal,
dan alas karpet atletik. Pencampuran polimer adalah cara yang paling sesuai untuk
pengembangan material baru karena dapat menghasilkan bahan baru yang mempunyai sifat
yang unggul dibandingkan masing-masing materi pembentuknya. Metode ini biasanya lebih
murah dan hanya memerlukan waktu singkat untuk menghasilkan bahan polimer baru
dibandingkan dengan metode polimerisasi dengan penemuan polimer baru dari monomer
baru Keuntungan lain dari pencampuran polimer adalah sifat-sifat bahan dapat disesuaikan
dengan menggabungkan komponen polimer dengan cara mengubah komposisi campuran.
Untuk meningkatkan daya rekat permukaan bahan pada proses blending dan menstabilkan
kondisi morfologi dalam campuran polimer, berbagai metode telah dikembangkan beberapa
saat yang lalu. metode untuk meningkatkan kompatibilitas immiscible blends diataranya
adalah menambahkan polimer yang sudah difungsionalisasi sehingga mampu meningkatkan
interaksi tertentu dan/atau bereaksi secara kimia. Fungsionalisasi dapat dilakukan sebelum
pencampuran polimer atau sekaligus dalam proses pencampuran dalam mesin pencampur
(extruder) sehingga akan terbentuk blok atau graft-kopolimer, halogenasi, sulfonasi, formasi
hydroperoksida, dan lai-lain. Perkembangan terakhir dalam produksi campuran polimer
menggunakan metode reaktif blending bergantung pada pembentukan langsung kopolimer
atau interaksi polimer. Biasanya polimer reaktif dapat dihasilkan oleh radikal bebas
kopolimerisasi atau disebut reaktif grafting kepada rantai induk polimer. Gugus fungsional,
seperti anhydride, epoxy, oxazoline, yang terikat pada rantai induk polimer sering dipilih
untuk reaktif blending.

Molekul polimer berikatan rangkap sangat peka terhadap inisiator maupun energi radiasi
ataupun kalor., membentuk suatu spesies aktif (pusat aktif). Selanjutnya dengan monomer
lain pusat aktif tersebut akan membentuk polimer adisi dengan memindahkan gugus pusat
aktif pada ujung polimer berantai. Pusat aktif dapat pula bereaksi dengan molekul medium
atau molekul lain dalam sistem membentuk pusat lain sehingga dalam waktu relatif singkat
ribuan molekul monomer dapat terinisiasi oleh suatu inisiator. Mekanisme polimerisasi
melibatkan tahap- tahap inisiasi, propogasi, dan terminasi.
Tahap inisiasi
Tahap pembentukan awal radikal-radikal bebas. Radikal bebas dapat dihasilkan terutama
melaui dekomposisi termal senyawa peroksida dan hiperoksida. Radikal dari senyawa
tersebut beradisi pada ikatan ganda dua karbon dan monomer penyususn molekul.
Propagasi
Setelah terbentuk radikal bebas tersebut akan mengawali sederetan reaksi dimana terbentuk
radikal bebas baru. Secara kolektif, terbentuknya reaksi-reaksi ini disebut tahap propagasi.
Rantai karbon terus tumbuh memanjang sampai terjadi reaksi penghentian rantai. Pada
hakikatnya pembentukan awal beberapa radikal bebas mengakibatkan perkembangbiakan
radikal-radikal bebas baru dalam suatu rekai rantai radikal.
Terminasi
Proses propagasi akan berlangsung sampai molekul monomer habis bereaksi. Bila
konsentrasi monomer sistem menurun, kemungkinan reaksi antara pusat aktif dengan
monomer menjadi kecil. Sebaliknya pusat aktif akan cenderung berinteraksi satu sama lain
dengan spesies lain dalam sistem sampai membentuk polimer yang mantap.