Anda di halaman 1dari 9

ASKEP PRE EKLAMPSI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


PRE-EKLAMSIA
2.1
Pengertian
Pre-eklamsia adalah penyakit dengan tanda tanda hipertensi, edema dan proteinuria yang
timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya timbul pada tri wulan ke tiga kehamilan,
tetapi dapat sebelumnya, misalnya karena mola hidatidosa ( Winknjosastro.1977 ; 282 )
Preeklamsia adalah keadaan dimana hipertensia disertai dengan proteinuria,edema atau
kedua- duanya yang terjadi akibat kehamilan setelah minggu kedua puluh, atau kadanf
kadang timbul lebih awal bila terdapat perubahan hidatidiformis yang luas pada vilikoralis
( Cunningham, 1995 : 773 )
2.2 Etiologi dan Faktor resiko
Penyebab pre-eklamsia sampai sekarang belum bisa diketahui . Keaadan ini merupakan
tantangan bagi kita agar kita senantiasa waspada agar dapat menegakkan diagnosa
preeklamsia sedini mungkin .Oleh karena kita harus selalu waspada bila kita menghadapi ibu
hamil yang mengidap faktor berikut yang dapat mempengaruhi terjadinya pre- eklamsia.
Faktor resiko antatara lain;
a. Primigrafida , terutama primigrafida tua dan primigrafida muda
b. Kelompok sosial ekonomi rendah.
c. Hipertensi essensial .
d. Ginjal kronik
e. Diabetes mellitus
f. Multipara
g. Polihidramnion
h. Obesitas
i. Molahidatidosa
j Riwayat pre-eklamsia pada kehamilan yang lalu atau pada keluarga
(Wiknjosastro, 1997 ; 283 )
2.3 Patofisiologi
Pra- eklamsia terjadi spasme pembuluh arterial yang diikuti dengan timbulnya retensi dan air
. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme yang hebat dari arteriola gromorulus. Pada beberapa
kasus lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah
merah . Jadi semua arteriola dalm tubuh meng
alami spasme , maka tekanan darah
dengan sendirinya akan meningkat drastic, sebagai dampak mekanisme pertahanan tubuh
untuk mengatasi kenaikan tahan perifer agar kebutuhan oksigen dalam jaringan dapat
dipenuhi .
Sedangkan kenaikan berat badan dan oedama yang disebabkan penimbunan air yang
berlebihan dalam ruangan interstisial belum diketahui sebabnya , mungkin disebabkan oleh
retensi garam air . Proteinura mungkin disebabkan oleh spasmus arteriola sehingga terjadi
perubahan
pada
glomerulus(
Mochtar
1993;
220)
`

2.4
.
Manitefasi
klinis
Dua gejala yang sangat penting pada per-eklamsia , yaitu hipertensi dan proteinuria
merupakan
yang
biasanya
tidak
disadari
wanita
hamil
a.
Tekanan
darah
Peningkatan tekanan darah ,merupakan tanda peringatan awal yang penting pada preeklamsia
Tekanan diastolik merupakan tanda prognostic yang lebih handal dibandingkan dengan
tekanan sistolik . Tekanan diastolik sebesar 90 mmHg atau lebih yang menetap menunjukan
keadaan abnormal .
b. Kenaikan berat badan
Peningkatan berat badan( BB) yang tiba tiba dapat mendahului serangan pre eklamsia dan
kenaikan berat badan ( BB) yang berlebihan merupakan tanda pertama pre- eklamsia pada
sebagian wanita. Peningkatan BB normal adalah 0,5 kg perminggu. Bila 1 kg dalam
seminggu maka mungkin terjadinya pre- eklamsia harus dicurigai. Peninggkatan BB terutama
disebabkan karena retensi cairan dan selalu dapat ditimbulkan sebelum timbul gejala edema
yang terlihat jelas seperti kelopak mata yang membengkak atau jari tangan yang membesar
c. Proteinuria
Pada pre-eklamsi ringan proteinuria hanya minimal positif satu atau positif dua atau tidak
ada sama sekali. Pada kasus berat proteinuria dapat ditemukan dan dapat mencapai 10 gr/lt.
Proteinuria hamper selalu timbul kemudian, dibandingkan hipertensi dan kenaikan BB yang
berlebihan.
Klasifikasi pre-eklamsia
Pre-eklamsia dibagi dalam 2 golongan yaitu berat dan ringan. Pre-eklamsia dikatakan ringan
apabila ditemukan tanda-tanda dibawah ini : (Mochtar ,1922 :221 )
a. Tekanan darah 140 / 90 mmhg atau lebih atau kenaikan diastolik 15 mmhg atau lebih dan
kenaikan sistolik 30 mmhg atau lebih.
b. Proteinuria kuantitatif 0,3 grlt dalam 24 jam atau pemeriksaan kuantitatif positif satu atau
positif dua
c. Nyeri kepala, gangguan penglihatan, nyeri otot perut bagian atas tidak ada..
d. Oliguria tidak ada.
Sedangkan pre-eklamsia yang dikatakan berat apabila ditemukan satu atau lebih tanda-tanda
dibawah ini: ( Wiknjosastro.1997 :282 )
a. Tekanan sistolik 160 mmhg atau tekanan diastolic 110 mmhg atau lebih.
b. Proteinuria kuantitatif 5 gr atau lebih dalam 24 jam. pemeriksaan kuantitatif positif tiga
atau positif empat
c. Oliguria, urine 400 ml atau kurang dalam 24 jam
d. Keluhan serebral, gangguan penglihatan atau nyeri daerah epigastrium
Gejala-gejala Subjektif
a. Nyeri kepala
Jarang ditemukan pada kasus ringan, tetapi akan sering terjadi pada kasus-kasus yang berat.
Nyeri kepala sering terjadi pada daerah frontal dan oksipital dan tidak sembuh dengan
pemberian analgesic biasa.
b. Nyeri epigastrium
Merupakan keluhan yang sering ditemukan pada pre-eklamsia berat. Keluhan ini disebabkan
karena peregangan kapsula hepar akibat edema atau perdarahan.

c. Gangguan Penglihatan.
Keluhan penglihatan yang terganggu dapat disebabkan oleh spasme anterial, iskemia dan
edema retina dan kasus-kasus yang langka disebabkan oleh ablasio retina. Pada pre-eklamsia
ringan tidak ditemukan tanda-tanda subjektif.(Cunningham,1995:767 )
2.5. Komplikasi
Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada ibu dan janin. Komplikasi yang tersebut
dibawah ini biasanya terjadi pada pre-eklamsia berat dan eklamsia.
a. Pada ibu
Eklamsia
Solutio plasenta
Perdarahan sub kapsula hepar
Kelainan pembekuan darah (DIC:Disseminated Intravaskuler Coagulation)
b. Pada Janin
Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus (IUGR:Intraliterina Growth
Retardation ).
Prematur.
Asphiksia neonatum
Kematian dalam uterus
Peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal
2.6. Asuhan keperawatan
Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan, suatu proses kolaboratif
melibatkan perawat, klien dan tim kesehatan lainnya. Pengkajian dilakukan melalui
wawancara dan pemeriksaan pisik, dalam pengkajian diperlukan kecermatan dan ketelitian
agar data yang terkumpul lebih akurat, sehingga dapat dikelompokkan dan dianalisa untuk
mengetahui masalah dan kebutuhan klien terhadap perawatan.
Pengkajian yang dilakukan kepada klien pre-eklamsia meliputi :
1. Identitas umum klien.
2. Data riwayat kesehatan
A. Riwayat kesehatan dahulu
1. Kemungkinan klien menderita penyakit hipertensi sebelum hamil.
2. Kemungkinan klien mempunyai riwayat pre-eklamsia pada kehamilan terdahulu.
3. Biasanya mudah terjadi pada klien yang obsitas
4. Klien mungkin pernah menderita penyakit ginjal kronis
5. tekanan darah klien sebelum hamil normotensif
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Riwayat kesehatan sekarang


Klien merasa sakit kepala didaerah frontal.
Terasa sakit diulu hari/nyeri epigastrium.
Gangguan virus : Penglihatan kabur, skotoma, diplopia.
Mual dan muntah, tidak ada nafsu makan.
Gangguan serebral lainnya: oyong, reflek tinggi, tidak tenang.
Oedema pada ekstremitas.
Tengkuk terasa berat.
Kenaikan berat badan 1 kg seminggu.

C. Riwayat kesehatan keluarga


Kemungkinan mempunyai riwayat preeklampsia dan eklampsia dalam keluarga.
D. Riwayat perkawinan.
Biasanya terjadi pada wanita yang menikah di bawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun
3. Pemeriksaan fisik / biologis
Keadaan Umum
: Lemah
Kepala
: Sakit kepala, wajah oedema
Mata
: Konjungiva agak anemis oedema pada retina
Leher
: Kuduk terasa berat
Kardiovaskuler
: Hipertensi, mudah terkejut
Pencernaan/abdomen
: Nyeri daerah epigastrium,anoreksia, mual dan muntah
Ekstremitas
: Oedema pada kaki dan tangan serta jari-jari
Sistem persyarafan
: Hiperrefleksi, klonus pada kaki
Genito urinaria
: Oliguria. Proteinuria
Pemeriksaan janin
:Bunyi jantung janin tidak teratur, gerakan janin melemah
4. Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan laboraturium
1. Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan daeah
a) Penurunan haemoglobin (nilai rujukan atau kadar normal haemoglobin untuk wanita
hamil adalah 12-14 gr %)
b) Hematokrit meningkat (nilai rujukan 37-43 vol %)
c) Trombosit menurun (nilai rujukan 150-450 ribu/mm3)
2. Urinalisi
Ditemukan protein dalam urin
3. Pemeriksaan fungsi hati
a) Bilirubin meningkat ( N =<1 mg/dl)
b) LDH ( lactic dehydrogenase) meningkat
c) Aspartate Aminotransferase (AST)> 60 u/l
d) Serum Glutamic Pyruvic Transaminate ( SGPT ) meningkat
( N= 15-45 u/ml)
e) Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase ( SGOT ) meningkat (N = <31 u/l)
f) Total protein serum menurun ( N = 6,7 8,7 g/dl)
g)
4. Tes kimia darah
Asam urat meningkat ( N= 2,4 2,7 mg/dl)
B. Radiologi
1) Ultrasonografi
Ditemukannya retardasi pertumbuhan intra uterin
Pernafasan janin lambat, aktifitas janin lambat, volume cairan ketuban sedikit
Terlihat kehamilan kembar
2) Kardiotografi
Diketahui denyut jantung bayi lemah
C. Data Sosial Ekonomi
Pre-eklampsia berat lebih banyak terjadi pada wanita dari golongn ekonomi rendah dimana

mereka kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung protein dan juga kurang
melakukan perawatan antenatal yang teratur
D. Data Psikologis
Biasanya klien preiklampsia ini berada dalm kondisi yang labil dan mudah marah, klien
merasa khawatir akan keadaan dirinya dan keadaan janin dalam kandungannya, dia takut
anaknya nanti lahir cacat atau meninggal dunia, sehingga ia takut untuk melahirkan.
Setelah data terkumpul dan kemudian dianalisa sehingga diagnosa yang mungkin ditemukan
pada klien preiklampsia berat ini adalah :
1. Kekurangan volume cairan / kegagalan regulasi berhubungan dengan kehilangan protein
plasma, penurunan tekanan osmatik koloid. (Marylin Doenges,2000)
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan terjadinya vasospasme arteriola (prene
M Bobak,1995:835)
3. Protensial Injury pada janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darah plasenta
( Prene M Bobak 1989:718)
4. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
tidak adekuatnya intake makanan yang dimanifestasikan dengan mual dan anoreksia (Sharon
J Reeder,1987:747)
5. Kecemasan tingkat sedang : takut kegagalan kehamilan berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan ( Marylin Doenges,2000)
Perencanaan
Pencernaan keperawatan merupakan tugas lanjut dari perawat setelah mengumpulkan data
yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan klien sesuai dengan pengkajian yang telah
dilakukan.
Pada tahap ini ditetapkan tujuan dan alternative tindakan yang akan dilakukan pada tahap
implementasi dalam upaya memecahkan masalah atau mengurangi masalah klien.
Berikut ini akan diuraikan rencana tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan kemungkinan
diagnosa yang telah dijelaskan sebelumnya.
1) Kekurangan volume cairan / kegagalan regulasi berhubungan dengan kehilangan protein
plasma penurunan tekanan osmotik
Tujuan ; volume cairan dapat kembali seimbang dan regulasi cairan normal.
Rencana Tindakan :
a. Timbang BB klien ;
Rasional : penambahan BB bermakna dan tiba-tiba menunjukan retensi cairan.
b. Bedakan edema kehamilan patologis dan fasiologis. Pantau lokasi dan derajat pitting.
Rasional : adanya edema pitting pada wajah , tangan , kaki, area sakral atau dinding abnomen
, edema yang tidak hilang selama 12 jam tirah baring adalah bermakna.
c. perhatikan tanda edema berlebihan ( nyeri epigastric , gejala gejala serebral, mual,
muntah). Kaji terhadap kemungkinan eklamsia.
Rasional : Edema dalam hepar terselubung dimanifestasikan dengan nyeri epigastrium,
dyspnea menandakan adanya hubungan dengan pulmonal. Edema serebral memungkinkan
mengarah pada kejang, mual dan muntah menandakan edema GI
d. Perhatikan perubahan kadar Ht atau Hb.
Rasional : Mengidentifikasi derajat hemokonsentrsi yang disebabkan oleh perpindahan
cairan.

e. Kaji ulang masukan diit dari protein dan kalori. Berikan informasi sesuai kebutuhan.
Resional : Ketidak adekuatan protein atau kalori meningkatkan resiko pembentukan edema.
f. Pantau masukan dan pengeluaran urine, perhatikan warna urine dan ukur berat jenis
sesuai indikasi.
Rasional : Pengeluaran urine adalah indikator sensitive dari sirkulasi volume darah.
g. Kolaborasi dalam memberikan cairan baik secara oral atau parenteral melalui infuse
sesuai andikasi.
Rasional : Penggantian cairan memperbaiki hypovolemia yang harus diberikan hati-hati
untuk menega kelebihan beban.
2) Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan terjadinya vasospasme arterional
Tujuan : Meningkatkan perfusi jaringan
Rencana tindakan :
a) Monitor intake dan outout setiap hari
Rasional : Dengan memonitor intake dan output maka akan dapt diketahui tingkat toleransi/
fungsi tubuh.
b) Kontrol tetesan infus MgSO4
Rasional : Cairan MgSO4 berguna untuk mengurangi vasospasme, dengan menurunnya
vasospasme akan membantu meningkatkan perfusi ginjal, mobilisasi cairan ekstravaskuler
dan diuresis sehingga oedema dapat dikurangi.
c) Monitor oedema yang tampak
Rasional : Dengan memonitor oedema yang tampak dapat diketahui keadaan oedema
merupakan indicator keadaan cairan tubuh.
d) Anjuran klien untuk istirahat atau tidur dengan posisi berbaring pada salah satu sisi
tubuhnya
Rasional : Dengan istirahat tidur dengan posisi berbaring pada salah satu sisi tubuhnyaakan
memaksimalkan aliran darah dan meningkatkan diuresis.
e) Kontrol Vital Sign secara Berkala
Rasional : dengan mengontrol vital sign dapat diketahui keadaan umum klien dan dapat
menentukan tindakan selanjutnya.
3) Potensial Injury pada janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darah ke
plasma
Tujuan : Injury tidak terjadi pada janin
Rencana tindakan :
a. Istirahatkan klien
Rasional : Dengan mengistirahatkan klien diharapkan metabolisme tubuh menurun dan
peredaran darah keplasenta menjadi adekuat sehingga kebutuhsn oksigen untuk janin dapat
dipenuhi.
b. Anjurkan klien tidur miring kekiri
Rasional : Dengan tidur miring kekiri diharapkan vena cava dibagian kanan tidak tertekan
oleh uterus yang membesar sehingga aliran darh ke palasenta menjadi lancar.

c. Monitor tekanan darah klien


Rasional : Dengan memonitor tekanan darah klien dapat diketahui keadaan aliran darah ke
p;asenta seperti tekanan darah tinggi, aliran darah ke plasenta berkurang sehingga suplay
oksigen ke janin berkurang
d. Monitor bunyi Jantung klien
Rasional : Dengan memonitor bunyi jantung janin dapat diketahui keadaan jantung janin
lemah atau menurun menandakan suplay oksigen keplasenta berkurang sehingga dapat
direncanakan tindakan sebelumnya.
e. Beri obat anti hipertensi akan menurunkan tonus arteri dan menyebabkan penurunan
afterload jantung dengan vasodilatasi pembuluh darah sehingga tekanan darah turun. Dengan
menurunnya tekanan darah sehingga aliran darah keplasenta menjadi adekuat
4) Kelebihan volume cairan intertisial berhubungan dangan penurunan tekanan osmatic,
perubahan permibilitas pembuluh darah, retensi sodium dan air
Tujuan : Volume cairan kembali seimbang
Rencana tindakan :
a) Monitor dan catat intake dan output setiap hari
Rasional : dengan memonitor intake dan output diharapkan dapat diketahui adanya
keseimbangan cairan dan dapat diramalkan keadaan dan kerusakan glomerulus.
b) Monitor vital sign, catatan pengisian kapiler
Rasional : Dengan memonitor vital sign dan pengisian kapiler dapat dijadikan pedoman untuk
pegganti cairan atau menilai respon dari kardiovaskular.
c) Monitor atau timbang berat badab klien
Rasional : Dengan memonitor berat badan klien dapat diketahui berat badan yang merupakan
indicator yang tepat untuk mrnunjukan keseimbangan cairan
d) Observasi keadaan oedema
Rasional : Keadaan oedema merupakan indicator keadaan cairan dalam tubuh
e) Berikan diit rendah garam sesuai dengan kolaborasi dengan ahli gizi
Rasional : Diit rendah garam akan mengurangi terjadinya kelebihan cairan
f) Kaji distensi vena jugularis dan perifer
Rasional : Retensi cairan yang berlebihan bisa dimanifestasikan dengan pelebaran vena
jugularis dan oedema perifer
g) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian diuretika
Rasional : Diuretika dapat meningkatkan filtrasi glomerulus dam menghambat penyerapan
sodium dan air dalam tubulus ginjal.
5) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : Kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
tidak adekuatnya intake makanan yang dimanifestasikan dengan mual dan anoreksia
Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
Rencana tindakan :
a) Kaji asupan makanan yang dikonsumsi klien terhadap kebutuhan klien
Rasional : Dengan mengkaji asupan makanan terhadapklien dapat diketahui
jumlah makanan yang dikonsumsi hingga dapat ditetapkan intervensi selanjutnya

b) Anjurkan klien mengkonsumsi makanan tinggi kalori tinggi protein


Rasional : Makanan yang tinggi kalori dibutukhan untuk sumber energi.Sedangkan makanan
yang tinggi protein berfungsi untuk mengganti sel-sel yang telah rusak.
c) Hindari makanan yang merangsang seperti lemak.
Rasional : makanan yang merangsang dapat menimbulkan peningkatan peristaltic, dan
dengan meningkatnya peristaltic usus dan lambung akan menyebabkan nafsu makan
berkurang.
d) Ciptakan suasana yang menyenangkan waktu makan.
suasana yang menyenangkan waktu makan. dengan suasana yang menyenangkan waktu
makan. Diharapkan klien akan bermotivasi untuk menghabiskan diitnya.
e) Temani klien makan sambil mengajak klien membicarakan hal yang menyenangkan
Rasional : Dengan menemani klien makan dapat memotivasi klien untuk menghabiskan
makanan dan klien tidak bosan untuk menghabiskan diitnya sambil berbincang-bincang.
f) Berikan makanan hangat sedikit tapi sering.
Rasional : Dengan porsi makanan yang sedikit tapi sering dapat menghindari kebosanan klien
dan dapat mengurangi rangsangan muntah sehingga makanan yang tersedia dapat
terkonsumsi.
g) Dorong klien untuk menghabiskan makanannya
Rasional : Dengan dorongan yang diberikan, klien akan termotivasi untuk menghabiskan
diitnya.
h) Berikan makanan klien dalam bentuk bervariasi sesuai dengan program diitnya
diharapkan klien berselera untuk makan sehingga nutrisi klien terpenuhi.
Rasional : Dengan memberikan makanan yang bervariasi sesuai dengan program diitnya
diharapkan klien berselera untuk makan sehingga nurtisi klien terpenuhi.
i) Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan selingan lainnya tapi tidak bertentangan
dengan diitnya dan jangan biarkan perut kosong.
Rasional : Bila lambung dibiarkan kosong akan meningkat produksi asam lambung,
peningkatan asam lambung akan menimbulkan rasa mual.
6) Kecemasan tingkat sedang : takut kegagalan kehamilan berhubung dengan kurangnya
pengetahuan.
Tujuan : kecemasan klien dapat teratasi
Rencana tindakan :
a. Bina hubungan yang menyenangkan dan saling percaya
Rasional : Dengan membina hubungan yang menyenangkan dan saling percaya diharapkan
akan menimbulkan rasa percaya klien terhadap perawat sehingga akan terbentuk suatu
komunikasi yang lancar dan ini akan mempermudah dalam pencapaian tujuan.
b. Berikan perhatian pada klien dan tunjukan sikap yang bersahabat
Rasional : Klien merasa diperhatikan dan mempunyai taman yang akan membantu sehingga
menimbulkan rasa percaya terhadap perawat yang dapat mengurangi kecemasan klien.
c. Kontrol vital sign
Rasional : Dengan mengontrol vital sign akan diketahui perubahan vital yang dapat menjadi
gambaran tingkat kecemasan klien klien sehingga dapat ditetapkan intervensi selanjutnya.

d. Jelaskan pada klien tentang penyebab penyakitnya, hal-hal yang dapat memperburuk
keadaan penyakitnya, Prosedur perawatan dan pengobatan serta hal-hal yang harus dipatuhi
klien selama mengalami perawatan
Rasional : penjelasan yang ringkas dan jelas mengenai penyakitnya, penyebab penyakit dan
prosedur pengobatan, memberikan pengertian pada klien sehingga persepsi yang keliru dan
membingungkan dapat dihindari dengan demikian kecemasan klien dapat berkurang.
e. Motivasi klien agar mau mengekspresikan perasaannya secara verbal.
Rasional : Dengan mengekspresikan perasaan diharapkan klien merasa sedikit lega telah
mengungkapkan masalahnya sehingga akan mengurangi kecemasan klien.
f. Beri therapy sentuhan
Rasional : Dengan terapi sentuhan diharapkan klien merasa masih ada yang
memperhatikannya sehingga klien tidak merasa sendiri dalam menghadapi masalahnya.
Implementasi
Setelah rencana kererawatan tersusun, selanjutnya diterapkan tindakan yang nyata untuk
mencapai hasil yang diharapkan berupa berkurangnya atau hilangnya masalah klien. Pada
tahap implementasi ini terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu validasi rencana keperawatan.
Menuliskan atau mendokumentasikan rencana keperawatan serta melanjutkan pengumpulan
data.
Dalam implementasi keperawatan, tindakan harus cukup mendetil dan jelas supaya semua
tenaga keperawatan dapat menjalankannya dengan baik dalam waktu yang telah ditentukan.
Perawat dapat melaksanakannya langsung atau mendelegasikan pada tenaga pelaksana
lainnya dibawah pengawasan perawat.
Evaluasi
Evaluasi keperawatan merupakan kegiatan akhirdari proses keperawatan, dimana perawat
menilai hasil yang diharapkan terhadap perubahan diri klien dan menilai sejauh mana
masalah klien dapat diatasi. Disamping itu perawat juga memberikan umpan balikatau
pengkaji ulang jika seandainya tujuan yang ditetapkan belum tercapai dan proses keerawatan
dapat dimotifikasi.